Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Sultan Liburan


__ADS_3

●●●


Sudah dua hari ini Gabriela tidak pulang ke rumah sejak pertengkaran malam itu dengan ayahnya.


Pagi ini Gabriela pulang ke rumah dengan mengendap- endap takut jika ayahnya sudah bangun.


Gabriela merasa curiga kenapa barang- barang rumah berantakan semua.


Buru- buru Gabriela berlari ke kamar ayahnya.


Ayahnya tergeletak di lantai.


"Ayah," teriak Gabriela pada ayahnya.


Gabriela menepuk pipi ayahnya agar bangun tapi tidak juga ada respon.


Gabriela berlari keluar untuk mencari bantuan tetangga.


Setelah berhasil mendapat bantuan tetangga, Gabriela mencari taksi untuk membawanya ke rumah sakit.


"Pak cepetan ke rumah sakit Gwancheo," kata Gabriela pada sopir taksi.


"Baik non," katanya lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Gabriela tidak hentinya menangis sambil menatap wajah ayahnya.


"Ayah harus kuat," kata Gabriela sambil memeluk kepala ayahnya.


Beberapa saat mereka telah tiba di rumah sakit.


Buru- buru para suster membawa ayahnya menuju ruang UGD karena melihat kondisinya yang sudah parah.


Gabriela berlari sambil ikut mendorong brankar ayahnya menuju ruang UGD.


"Tunggu sebentar nona kami akan memeriksa pasien," kata suster menahan agar Gabriela tidak masuk ke dalam ruangan.


Gabriela terduduk di ruang tunggu sambil menunduk lesu.


"Apa yang terjadi dengan ayah?" tanya Gabriela sambil menangis tersedu- sedu.


Ceklek


Pintu terbuka dan menampilkan suster cantik yang membawa papan kertas.


"Maaf nona, ayah anda harus segera dioperasi, karena tumor dalam tubuhnya dan racun yang ada pada makanannya," Gabriela terkejut bukan main.


Racun dalam makanan


"Racun sus?" tanya Gabriela tidak percaya lalu diangguki oleh suster cantik itu.


"Anda harus membayar administrasinya terlebih dulu, agar kami bisa bertindak lebih lanjut," kata suster itu lalu kembali masuk ke dalam ruangan.


Gabriela berlari menuju administrasi agar ayahnya bisa segera dioperasi.


"Sus pasien atas nama Tama berapa biaya operasinya?" tanya Gabriela pada suster bagian administrasi.


"Sebentar saya cek terlebih dahulu,"


"Semuanya 150 dolar," kata suster itu membuat Gabriela menganga tidak percaya.


Sebanyak itu


"150 dolar sus?" tanya Gabriela tidak percaya, suster itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Sus apa enggak bisa dicicil?" tanya Gabriela mencoba mencari keringanan.


"Maaf nona tidak bisa," Gabriela menghela napasnya pelan.


"Pakai kartu saya aja," Gabriela mendongak saat seseorang di belakangnya menyodorkan kartu atm.


"Tuan?"


♡♡♡


Sela membuka matanya pinggangnya terasa berat dan queen sizenya mendadak sempit.


Sela melihat ke belakang ada Bara yang sedang tertidur pulas dengan tangan yang memeluknya erat.


"Tuan bangun," kata Sela sambil mencoba melepaskan tangan Bara dari pinggangnya.


Sela menyandarkan punggungnya di sandaran queen size sambil menunggu Bara bangun.


"Tuan bangun," kata Sela merasa kesal pada Bara.


Bara menyipitkan matanya dan mendongak menatap Sela yang kini sedang menatapnya kesal.


"Sayang kamu udah bangun?" tanya Bara yang tak kunjung bangun dan malah tidur di pangkuan Sela.


"Tuan, kenapa anda bisa tidur di kamar saya, kan tuan punya kamar sendiri sihh," kesal Sela pada kelakuan Bara yang selalu tiba- tiba tidur di kamarnya.


Bener sih emang Bara tahu batasannya.


Paling melanggarnya meluk Sela saat tertidur tidak lebih dari itu.


Tapi kan risih gitu menurut Sela karena mereka belum suami istri.


"Sayang kamu pagi- pagi kok udah marah- marah sihh," gumam Bara dengan suara serak khas bangun tidur.


"Ya lagian tuan kan punya kamar sendiri, kenapa harus tidur di sini coba, nanti kalau terjadi sesuatu yang enggak diinginkan gimana?" kata Sela memarahi Bara namun hanya ditanggapi oleh senyuman.


"Kan aku yang bakal tanggung jawab sayang," perkataan Bara sontak membuat Sela terdiam membisu.


Sela baru menyadari jika di dekat sofa ada 3 koper warna pink.


"Tuan, kenapa ada koper?" tanya Sela sambil menguncir rambutnya.


Bara bangun dari pangkuan Sela dan menatap wajah cantik Sela yang tanpa make up.


"Hari ini kita akan liburan khusus untuk kita berdua," kata Bara membuat Sela lagi- lagi melotot.


"Liburan? Kan saya hari ini ada jadwal kuliah," kata Sela membuat Bara tersenyum manis.


"Kamu kan pinter sayang, meski enggak kuliah sehari enggak bakalan bodoh enggak, percaya sama aku. Pokok 2 hari ini aku pengin memanfaatkan waktumu," kata Bara sambil membelai pipi Sela sayang.


"Tuan tapi kan...,"


"Enggak ada penolakan," kata Bara dengan tegas membuat Sela kalah debat.


"Kamu mau liburan kemana?" tanya Bara sambil menatap lekat wajah Sela dan terus membelai pipi tirus Sela.


"Emm kemana ya enaknya? Gimana kalau kita ajak semua bodyguard tuan, itung- itu kan mereka bisa cuti," kata Sela membuat Bara menghela napas pelan.


"Kenapa kamu selalu sibuk mikirin kebahagiaan orang lain, kapan kamu mikirin hubungan kita," kata Bara pelan membuat Sela merasa bersalah.

__ADS_1


Sela menangkup kedua pipi Bara dan memberanikan diri untuk menatap lekat mata elang Bara.


"Selalu berada di samping tuan adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya, lantas bagaimana dengan mereka yang selalu kerja tanpa henti untuk tuan?" kata Sela yang membuat Bara tersadar akan sesuatu.


"Terkadang aku merasa Tuhan terlalu berlebihan, telah memberikan wanita mengagumkan sepertimu," kata Bara sambil menciumi tangan Sela.


Cup


Sela mencium pipi kanan Bara membuat sang empu girang kesenangan.


"Pagi- pagi gini enggak usah mancing deh, tempatnya lagi pas banget sekarang," kata Bara yang memperingati Sela jika dia sedang melewati batas.


Buru-buru Sela turun dari queen size dan menuju kamar mandi.


"Sayang gimana kalau kita mandi berdua?" teriak Bara pada Sela yang sudah masuk ke dalam kamar mandi kembali keluar.


"Tuan keluarlah saya ingin mandi," kata Sela sambil menarik Bara agar keluar dari kamar mandi.


"Emang kenapa, lagian saya bisa juga cuma duduk di kamar," kata Bara menggoda Sela.


"Bukan cuma duduk tapi ganggu iya," ketus Sela lalu mendorong Bara keluar dari kamar dan menguncinya.


"Ya tuhan lagian siapa juga yang mau ganggu dia mandi, tapi kalau dibolehin sih enggak papa," gumam lirih Bara lalu turun ke bawah untuk mengabari para bodyguardnya.


Bara keluar ke halaman dan memerintahkan pak Asep untuk mengumpulkan semua bodyguardnya.


Semua kini sudah berbaris rapi di depan Bara.


"Hari ini saya ingin memberitahukan sesuatu hal buat kalian dan ini juga permintaan dari calon istri saya," ucapan Bara mengundang gelak tawa bagi para bodyguard.


Namun, dengan sangat keras mereka berusaha untuk menahan agar tidak ketawa.


"Hari ini saya akan pergi berlibur bersama Sela, begitu juga dengan kalian. Saya akan berlibur ke Korea dan kalian terserah mau memilih berlibur kemana, saya yang akan membayar semuanya,"


Sorak sorai terdengar dari mereka semua.


Bara juga tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat para bodyguardnya bersorak sorai.


Apa sebahagia itu mereka?


"Baik tuan," jawab mereka serentak dan kompak.


"Oh ya jangan lupa kabari Rendy dan Reno untuk ikut, mereka yang akan memimpin kalian nanti" kata Bara tak lupa dengan kedua saudaranya itu.


"Baik tuan," kata pak Asep yang langsung menghubungi Rendy.


Bara kembali masuk ke dalam rumah dengan senyum di bibirnya.


Mendengar para bodyguard begitu girang membuat dirinya makin terpesona dengan Sela.


Istri idaman


Bara kembali ke lantai atas untuk mandi dan bersiap.


Karena semua keperluan tadi malam sudah ia siapkan.


Jadi, pagi ini dia tinggal mandi dan bersiap- siap untuk pergi liburan bersama gadisnya.


Sela keluar kamar dengan menarik dua koper pink yang berisi pakaiannya.


Bersamaan dengan Bara yang juga keluar dari kamar melihat Sela yang kesusahan membawa kopernya.


"Siapa yang suruh kamu tarik- tarik koper, kan ada aku ada bodyguard," kata Bara ketus lalu mengambil alih koper di tangan Sela.


Setelah sampai di lantai 1 Sela melihat sekeliling.


"Di mana para bodyguard? Apa mereka sudah bersiap?" tanya Sela membuat Bara meletakkan kopernya dan berjalan mendekati Sela.


"Sayang untuk kali ini nurut ya sama ucapanku," kata Bara sambil meraih pinggang Sela agar lebih dekat dengannya.


"Aku udah kasih mereka tiket untuk liburan, tapi enggak sama kita, mereka akan liburan sendiri di pimpin Rendy sama Reno,"


"Aku pengin 2 hari ini, khusus buat kita berdua tanpa gangguan yang lain," kata Bara sambil membelai pipi Sela sayang.


"Baiklah," jawab Sela menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.


"Ok kita berangkat sekarang ya?" tanya Bara yang diangguki oleh Sela.


Mereka berangkat ke bandara dan menaiki pesawat pribadi milik Bara.



Sedangkan para bodyguard nanti akan menaiki helikopter milik Bara.


.


.


.


.


.


Korea, Seoul


Mereka telah tiba di Korea 30 menit yang lalu tepat pukul 7 malam.


Kini Sela dan Bara sedang berada di hotel setelah beberapa menit yang lalu mereka berdebat.


Sela yang ingin punya kamar sendiri dan Bara yang ngotot untuk sekamar sama Sela.


Tapi Sela mengalah saat lagi- lagi Bara mengingatkannya tentang London.


Bara sangat cerdas, ia bisa mencari hotel yang sangat strategis.


Di mana letak balkon kamar hotel mereka bisa menatap langsung Namsan Tower di Seoul.



Dan pemandangan Seoul ketika di malam hari.


Begitu indah


Bara yang selesai mandi mencari keberadaan gadisnya.


Ternyata sedang berada di balkon menatap sesuatu yang menarik perhatiannya.


Bara memakain kaos hitamnya lalu menyambar selimut tebal dan berjalan menghampiri Sela.


Hap


Bara menutupi tubuh Sela dengan selimut tebal lalu memeluknya erat dari belakang agar Sela tidak merasa kedinginan.

__ADS_1


"Apa itu sangat indah hmm?" tanya Bara yang hanya diangguki oleh Sela.


"Tuan,"


"Apa?"


"Makasih banyak," Bara tersenyum manis dan mempererat pelukannya.


"Kamu harus janji, saat di London nanti jangan pernah melirik cowok manapun, hatimu hanya untukku," kata Bara yang mulai mengeluarkan sikap possesivenya.


"Dan kamu harus ingat kamu hanya milik....,"


"Aldebaran Arganta Bradsiton," sahut Sela yang sudah tahu kebiasaan Bara.


Bara tidak bisa menyembunyikan kegirangannya mendengar ucapan Sela.


Bara semakin menggoda Sela dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sela dan sengaja bernapas di dekat lehernya.


"Enggak usah mulai deh," kata Sela yang risih dengan sikap Bara.


"Sayang nanti kalau kita liburan terus kita terlanjur buat anak gimana?" tanya Bara yang membuat Sela mendelik kesal.


"Tuh kan mulai deh, makanya jangan sekamar," kesal Sela disaat Bara terus menggodanya.


"Lagian kamu jual mahal banget sama aku, selama kita menjalin hubungan belum pernah kamu kiss morning ke aku," gumam lirih Bara yang masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sela.


Sela hanya diam tak merespon ucapan Bara.


Tatapannya memang ke Namsan Tower tapi pikirannya sedang mencerna ucapan Bara.


"Ayo tidur udah malem, besok kita bakal jalan- jalan seharian penuh," kata Bara yang mengangkat kepalanya lalu melepaskan pelukannya dan hendak masuk ke dalam kamar.


Sedangkan Sela berbalik dan menarik tangan Bara membuat Bara menatap Sela bingung.


"Apa?" tanya Bara karena Sela hanya diam saja.


Sela berjalan mendekati Bara, dengan ragu dan rasa takut Sela berjinjit dan mencium bibir Bara.


Bara menikmati manisnya bibir ranum Sela yang hanya menempel di bibirnya.


Sela hendak menyudahi ciumannya, namun Bara meraih pinggang Sela dan kembali mencium bibir ranum miliknya.


Keduanya saling menikmati satu sama lain dengan cuaca di malam hari seperti ini.


Bara melepaskan pangutannya untuk memberi jeda agar Sela bisa bernafas.


Mereka saling menatap satu sama lain, namun yang membuat Bara semakin tergoda adalah


Tatapan Sela padanya.


Bara membopong Sela untuk masuk ke dalam kamar karena udaranya yang semakin dingin.


Bara merebahkan tubuh Sela di king size dengan pelan.


Sela merasa jantungnya berdebar sangat kuat saat Bara berada di atasnya.


"Kenapa kamu selalu terlihat cantik?" kata Bara pelan sambil membelai rambut Sela dan pipi tirusnya.


"Bahkan ini selalu menjadi candu bagiku," kata Bara sambil membelai bibir merah Sela.


Perlahan Bara mendekatkan kembali wajahnya dan mencium bibir ranum Sela yang seakan menjadi candu baginya.


Tangan Bara beralih untuk membuka kancing baju Sela membuat Sela melepaskan ciumannya.


Bara tersadar jika ia sudah terlalu lancang padanya.


"Maafkan aku, entah malam ini kamu terlihat begitu cantik hingga aku tidak bisa menahan diri," kata Bara sambil menempelkan keningnya dengan kening Sela.


"Ayo kita tidur," kata Bara beralih tidur di samping Sela lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


Bara memeluk Sela dari belakang dan menghirup aroma rambut Sela yang selalu jadi candu baginya.


"Maaf aku sudah lancang padamu," bisik Bara tepat di telinga Sela membuat Sela yang belum tertidur tersenyum manis.


Sela menggenggam erat tangan Bara yang melingkar di perutnya dan tidurlah mereka berdua.


□□□


"Kamu tahu kan langkah ini awal mula dari kehancuran Bara?" tanya Walles pada Reynald yang sedang memainkan bolpoin di tangannya.


"Lantas apa tugasku sekarang?" tanya Reynald setelah sekian lama diam.


"Gampang, bawa gadis Bara gimanapun caranya biar bisa kerja sama kita di kantormu," kata Walles dengan senyuman aneh di bibirnya.


"Gampang bisa gue atur," kata Reynald sambil memainkan kursi kerjanya.


"Rey kali ini aku enggak mau lagi gagal atau bahkan ditipu sama mereka semua, udah cukup tipuan mereka beberapa kali," kata Walles yang sudah sangat kesal saat tahu mereka terus saja ditipu.


"Ok enggak masalah selagi lo kerjanya bener, pasti enggak kenak tipu," kata Reynald sambil melemparkan bolpoin itu ke meja dan keluar dari ruangan begitu saja.


"Dasar enggak punya sopan santun," gerutu Walles pada sikap Reynald padanya.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


**Tinggal 1 Eps lagi Sela akan ke London.


Sabar ya, jangan buru- buru🤣


Nikmati prosesnya.


Oh ya maunya nanti Rendy bakal bucin ke siapa?



Laura


Gabriela


Sandra


Jenifer


Dea


Jessy



Yok pilih yok


Kalian mau berlayar di kapal yang mana??😆


Boleh enggak aku jujur? Aku yang nulis ini aja baper, kalau kalian gimana?🤣**

__ADS_1


__ADS_2