
》♡》♡
Bara merasa sangat cemas saat beberapa menit yang lalu Sela tak sadarkan diri.
Karena banyaknya darah yang keluar membuat Sela jatuh pingsan.
Bara merasa ngilu melihat luka di lengan Sela, yaitu bekas goresan pisau.
Belum lagi dengan luka kemarin yang masih basah.
Pasti wanita keparat itu, batin Bara yang langsung tertuju pada Gabriela.
Bara memutuskan untuk membawa Sela ke rumah saja dan memanggil dokter Lia.
Karena demi keselamatan Sela dari pantauan Walles.
Bara tidak mau mengambil resiko besar.
"Sudah tuan," kata dokter Lia ketika selesai mengobati luka Sela.
"Kapan dia akan sadar?" tanya Bara dengan sangat dinginnya.
"Sebentar lagi juga akan sadar tuan, saya sudah mengobati lukanya untuk menghambat darah yang terus keluar," kata dokter Lia menjelaskan akan kondisi Sela.
"Kalau begitu saya pamit dulu, permisi," kata dokter Lia dan diangguki oleh Bara.
Bara lalu duduk di tepi king size sembari menatap wajah cantik Sela.
"Kenapa kamu selalu membuatku merasa cemas?" gumam Bara sembari menggenggam erat tangan Sela dan berkali- kali menciuminya.
"Bukan Sela namanya kalau enggak cari tantangan," gerutu Bara jika mengingat betapa keras kepalanya Sela saat Bara melarang sesuatu padanya.
Perlahan Sela mulai sadar dan melihat Bara yang berada di dekatnya.
"Bara," panggil Sela lirih membuat Bara mendekatkan dirinya ke arah Sela.
"Iya sayang, apa ada yang sakit?" tanya Bara sembari membelai pipi tirus gadisnya. Sela menggelengkan kepalanya.
Lalu berusaha bangun untuk menyandarkan punggungnya di sandaran king size.
"Kamu tidak melukai Gabriela kan?" Bara menatap kedua mata Sela.
"Bisakah kamu tanyakan hal lain?" kata Bara kini dengan nada pelan namun penuh penekanan.
"Bara aku serius, kamu enggak ngelukai dia kan?" tanya Sela ingin tahu tentang Gabriela.
Bara melepaskan genggaman tangan Sela lalu keluar kamar begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Loh kok pergi sih?" kesal Sela dengan sikap Bara yang sangat menyebalkan.
Sela melihat goresan pisau di lengannya.
Ternyata benar papa Bradsiton, jika Gabriela benar- benar menjadi seorang psikopat.
Bahkan ia sudah ahli dalam menggunakan pisau untuk melukai seseorang.
"Lalu apa kelemahan dari seorang psikopat?" gumam Sela bertanya pada dirinya sendiri.
"Ayo Sela berpikir, kamu harus tahu, ayo berpikir," kata Sela sembari memejamkan matanya berharap bisa mengerti dari kelemahan Gabriela setelah bertarung tadi.
"Oh ya sebelumnya aku harus kasih tahu juga Laura, tapi gimana?" gumam Sela yang panik sekaligus bingung untuk bisa menghubungi Laura.
Sedangkan Bara meninggalkan dirinya begitu saja dan pergi entah kemana setelah Sela bertanya tentang Gabriela.
Sela melirik kertas dan bolpoin di atas nakas, dengan cepat ia mengambilnya untuk menuliskan sesuatu.
.
.
.
.
Sedangkan di tempat lain Bara dan Rendy sedang berada di depan pintu rumah Gabriela.
"Tunggu apalagi yuk masuk," ajak Rendy yang langsung menendang pintu rumah Gabriela.
Brakk
Gabriela yang sedang duduk manis sembari menonton TV terkejut atas kedatangan dua laki- laki ini.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Gabriela dengan nada sedikit gemetar.
Rendy mengeluarkan senyum smirknya lalu membuang semua benda yang ada di atas meja dan duduk di depan Gabriela.
"Lo nih cantik tapi sayang psikopat," ejek Rendy lalu tertawa andalannya.
Rendy mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan memperlihatkan sebuah rekaman cctv yang ia ambil dari parkiran kantor Bara.
"Lo kan?" tanya Rendy singkat dan direspon Gabriela dengan senyuman miring.
"Kalau iya emang kenapa?" tanya balik Gabriela yang membuat Bara yang sejak tadi berdiri merasa geram sekali.
Bara berjalan untuk menghampiri Gabriela dan
Plakk
"Apa itu sakit?" tanya Bara dengan nada sangat keras.
Bahkan Rendy yang tadinya stay cool aja bisa kaget waktu Bara nampar Gabriela.
Semengerikan itukah damage Bara?
"Kenapa lo bisa semudah itu nyakiti perasaan orang lain terlebih kalian sama- sama perempuannya. Di mana hati nurani lo hah?" bentak Bara yang benar- benar sudah sangat emosi.
"Lo tanya hati nurani? Gue enggak punya lo tahu itu?" Gabriela ganti berteriak karena tersulut dengan emosi Bara.
"Lo enggak ada bedanya sama binatang, sama- sama enggak punya hati nurani," kata Bara dengan sangat sarkas.
Rendy baru kali ini melihat kemarahan Bara yang di luar kendali.
Begitu emosional dan kasar.
Bagaimana tidak, Rendy juga akan bersikap seperti Bara kala gadisnya disakiti.
Apalagi Gabriela hampir membuat Laura celaka, tapi untungnya ada Sela.
Ngomong- ngomong bagaimana bisa mereka akur satu sama lain begitu?
Bukankah Laura sangat membenci Bara?
Ah sudahlah sekarang kembali lagi ke pertengkaran Bara dan Gabriela.
"Kenapa kalau gue enggak ada bedanya sama binatang, itu lebih bagus dibanding gue jadi manusia tapi seorang pembunuh seperti mu,"
__ADS_1
Plakk
Lagi dan lagi Bara menampar Gabriela tanpa ragu dan rasa kasihan.
"Kenapa, apa omongan gue bener? Kalau lo yang udah bunuh ayah Reynald?" tanya Gabriela yang semakin memancing emosi Bara.
Bara hendak menampar kembali Gabriela namun terhentikan oleh teriakan Sela.
"Bara cukup," teriak Sela dari ambang pintu membuat ketiga orang itu sontak menoleh dengan kompak.
Sela menghampiri Bara dan melirik sekilas Gabriela.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Bara sembari menarik Sela untuk sedikit jauh dari Gabriela.
"Sudah ayo pulang. CEO Spanyol sedang menunggu di kantor," kata Sela sembari menatap lekat mata Bara yang terlihat begitu memerah kala marah.
"Bukankah kamu bisa menelponku? Kenapa bisa kamu datang kemari?" tanya Bara kini beralih marah pada Sela.
"Sudah jangan buang waktu lagi, kita ke kantor sekarang," ajak Sela agar Bara cepat pergi dari rumah Gabriela.
Gabriela berjalan untuk mendekati Sela, tapi dengan cepat Bara menarik Sela ke belakang punggungnya.
"Apa lo takut gue rebut dia dari tanganmu?" tanya Gabriela sembari menatap Sela menggoda.
"Tidak, jika mampu rebutlah," jawaban Sela membuat Rendy terkekeh dan Bara yang tak percaya dengan jawaban Sela.
"Karena kuyakin kau tak akan bisa merebutnya," balas Sela lalu menarik tangan Bara untuk keluar dari rumah Gabriela.
Namun, baru saja dari ambang pintu, langkah Sela terhenti saat Gabriela kembali membuka suara.
"Tunggu saja permainan besok, hingga kau akan menyesal seumur hidupmu," Sela hanya tersenyum miring mendengar ucapan Gabriela.
Hingga Bara dan Rendy yang melihat senyuman khas itu, terheran dan penasaran.
Ada apa dibalik senyuman itu?
Ketiganya lalu pergi menuju kantor meninggalkan Gabriela yang terus mengumpat.
Di dalam mobil Sela hanya diam karena sedang memikirkan sesuatu.
Sedangkan Bara tidak henti- hentinya menatap Sela dan menunggu Sela berbicara.
"Apa kamu tidak bisa diam di rumah saja?" Sela menoleh saat mendengar ucapan Bara.
"Aku hanya khawatir jika kamu melakukan hal di luar batas, lagian aku ke sana juga ada kepentingan untuk memberitahukan tentang kehadiran CEO Spanyol," alasan Sela agar Bara tak lagi marah padanya.
Bara merengkuh Sela dalam pelukannya dan mencium puncak kepalanya.
"Ku mohon jangan selalu membuatku khawatir akan dirimu, aku tidak ingin kamu terluka dan meninggalkanku," gumam Bara pelan sembari mempererat pelukannya.
Sela terdiam mendengar pernyataan Bara.
Segitu takutnya kah Bara jika Sela meninggalkannya?
Aku berjanji setelah ini selesai, aku tidak akan lagi membuatmu cemas, batin Sela sembari menidurkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Bara.
Bara menunduk untuk melihat Sela, ternyata ia tertidur.
Bara tersenyum manis saat melihat wajah cantik Sela.
Mereka sudah sampai di kantor, ternyata benar ada jajaran mobil Mercy dengan bendera Spanyol.
Kenapa bisa mereka datang begitu cepat, padahal jadwal pertemuan mereka dua hari lagi.
Rendy turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Bara.
"Pelan- pelan lo bawa istri gue," ancam Rendy yang menggerutu di belakang Bara.
"Gue aduin Laura tahu rasa lo," perkataan Bara membuat Rendy melotot karena terkejut.
Apa Bara tahu hubungan Rendy dan Laura.
"Apaan sih, enggak jelas lo," kata Rendy mencoba menolak asumsi Bara. Bara diam- diam tersenyum.
Perlakuan Bara membopong Sela yang tertidur pulas, membuat para karyawan memandang Sela dengan iri.
Bahkan karyawan wanita tanpa rasa sungkan melompat- lompat karena perlakuan manis Bara.
Mereka ingin sekali berada di posisi Sela saat ini.
Perlakuan Bara sangatlah manis bagi perempuan seperti mereka.
Rendy menekan tombol lift, ketiganya langsung naik ke lantai atas.
Itupun Bara masih bisa mendengar para karyawan wanitanya berteriak histeris saat melihat dirinya membopong Sela.
Ting
Rendy dengan cepat membukakan pintu ruangan Bara lalu berjalan cepat membukakan pintu kamar Bara yang berada di ruangannya.
"Gue temui mereka dulu ya," kata Rendy pamit pada Bara.
"Ok," jawab Bara sembari membaringkan Sela dengan pelan di king sizenya.
Bara menyelimuti tubuh Sela lalu mengatur suhu ruangan.
"Bara," panggil Sela pelan sembari menggenggam tangan Bara.
"Iya sayang," kata Bara tidak jadi pergi dan kembali duduk di tepi king sizenya.
Sela menatap wajah tampan Bara dengan lekat, biasanya Sela tidak pernah melakukan hal ini, tapi entah kenapa dia memberanikan diri untuk melakukannya.
"Kiss," kata Sela dengan manja sembari menunjuk bibir merahnya. Bahkan Bara tidak menyangka jika Sela akan berkata demikian.
Bara memalingkan wajahnya karena senang campur malu dan tersenyum senang karena ucapan Sela.
"Bagaimana jika aku membatalkan pertemuannya dan menemanimu di sini?" goda Bara yang langsung mendapat pelototan dari Sela.
"Aku menyesal mengatakannya, sekarang pergilah," kini Sela mengusir Bara karena menyesal dengan perkataannya barusan.
Bara dengan cepat langsung mencium bibir ranum Sela dan memangutnya pelan.
Bahkan tidak seperti biasanya, kali ini Sela sedikit agresif saat berciuman pada Bara.
Sela mengalungkan kedua tangannya di leher Bara dan menikmati permainan yang dilakukan Bara.
Bara sengaja beralih menuruni leher jenjang Sela dan memberikan kepemilikannya di sana.
Bara melepaskan ciumannya untuk memberi jeda Sela agar bisa bernapas.
"Tidak biasanya kamu begini, ada apa hmm?" tanya Bara karena heran dengan sikap tidak biasa Sela.
"Tidak ada, aku hanya merindukanmu," jawab Sela asal namun mampu membuat Bara seakan terbang melayang.
"Aku tidak percaya," kata Bara dengan senyum devilnya. Sela yang geram dengan Bara menarik kemeja Bara dan kembali mencium bibirnya.
Bara tersenyum di sela- sela ciuman mereka kala dia berhasil memancing Sela.
__ADS_1
Sela melepaskan ciumannya dan menatap tajam Bara.
"Sudah sekarang temui CEO itu aku ingin tidur," kata Sela sembari memalingkan wajah karena malu.
"Tunggu aku selesai, nanti kita lanjutkan di rumah..,"
Bugh
"Udah sana pergi," kata Sela mengusir Bara agar menemui CEO Spanyol. Bara hanya terkekeh melihat rona merah di wajah Sela dan merasa senang saat leher Sela ada tanda kepemilikannya.
"Yaudah tidurlah sekarang, aku akan menemui mereka," kata Bara sembari mengusap kepala Sela.
Sela menatap kepergian Bara dengan tatapan nanar.
"Maaf aku harus berbohong soal ini," gumam Sela pelan lalu turun dari king size untuk menemui Laura dan memberikan surat yang ia tulis kemarin.
Baru setelah itu Sela akan pergi ke bandara.
Sedangkan Bara dengan hati bahagia menuju ruang rapat.
Ting
Bara memeriksa ponselnya, ternyata ada pesan dari papanya.
Pawangnya Mama😎
-Papa sama mama akan terbang ke Jerman, tolong jaga menantuku😉
Bara tersenyum membaca isi pesan dari papanya, tanpa menunggu nanti Bara langsung membalas pesan papanya.
Siap komandan, laporan di terima👨✈️
Bara masuk ke dalam ruangan dan benar saja tamunya sudah menunggu.
"Tuan Bara," sapa CEO dari Spanyol sembari berpelukan ala pria.
"Maaf membuat anda harus menunggu lama," kata Bara pada mereka.
"Tidak papa tuan, kami juga sedang mengobrol dengan sekretaris anda," kata CEO Spanyol itu sembari menatap Laura dan Rendy.
"Tunggu apalagi, mari saya antar ke gudang kainnya," kata Bara mengajak mereka untuk memeriksa kain di gudang.
Rendy yang tadinya ingin menyusul Bara berhenti saat Laura memanggilnya.
"Rendy," panggil Laura membuat Rendy menoleh.
"Apa?"
"Aku boleh enggak izin pulang sebentar?" tanya Laura pada Rendy untuk meminta izin.
"Kenapa, apa kamu sakit?" tanya Rendy mulai panik, Laura menggelengkan kepalanya.
"Tidak tapi aku hanya merasa sedikit tidak enak badan, jadi apa boleh aku izin pulang dan nanti malam kemari lagi?" tanya Laura membuat Rendy merengkuh Laura dalam pelukannya.
"Tidak usah kemari lagi, istirahatlah nanti malam aku akan kesana menemanimu," gumam Rendy pelan membuat Laura mendadak sedih.
Rasanya Laura tak mampu untuk berbohong pada Rendy.
Tapi keadaan yang memaksanya seperti ini.
Rendy menatap kedua mata Laura dan membelai pipinya sayang.
"Maaf aku tidak bisa mengantar, bagaimana jika pak Asep yang mengantarmu pulang?" tanya Rendy menawarkan bantuan pada Laura.
"Tidak perlu aku akan memanggil sopirku saja," kata Laura langsung menolak tawaran Rendy.
"Ren," panggil Laura pelan.
"Hmm,"
Laura langsung berjinjit dan mencium bibir seksi Rendy.
Rendy sedikit terbuai dengan ciuman Laura yang memabukkan ini.
Begitupun Laura, tapi sayang Laura langsung menghentikannya.
"Dah aku pulang dulu," pamit Laura sedikit berlari dan langsung cepat- cepat pergi meninggalkan Rendy yang kini sedang senyam- senyum sendiri karena ulah Laura.
"Astaga, bagaimana bisa gue jatuh cinta secepat ini, gue nyicipi mochi aja 2 bulan baru suka, lah ini," gumam Rendy sembari senyam- senyum dan mondar- mandir ke sana sini.
Laura dengan berat hati harus meninggalkan kantor Bara untuk menuju bandara setelah membaca surat dari Sela yang diselipkan di proposal tadi.
.
.
.
Sela sudah sampai di bandara dan sedang menunggu seseorang datang.
Sela terpaksa harus memakai syal karena ulah Bara.
Untung Sela tadi melihatnya, jika tidak mungkin dia akan merasa malu.
Tidak lama Laura juga baru saja sampai di bandara dengan pakaian yang berbeda.
Laura merasa dirinya tidak nyaman karena telah berbohong pada Rendy.
Tapi bagaimana dia harus melakukan ini semua.
Sedangkan di sisi lain, ada Jessy yang baru saja tiba di bandara.
Apa yang kalian pikirkan tentang sebuah kebetulan ini?
Clue:
• Gabriela mengatakan "Tunggu permainan besok"
• Sela yang pergi ke bandara tanpa sepengetahuan Bara.
• Dengan bersamaan Laura pun juga pergi ke bandara.
• Dan Jessy yang tiba- tiba saja pulang.
Apa kalian tahu apa isi dari surat yang ditulis Sela untuk Laura, ini isinya:
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Jika kalian bisa pecahkan cluenya kalian akan tahu cerita selanjutnya😁
Hehe buat seru- seruan aja yaa, jangan tegang.
__ADS_1