Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Mengundurkan Diri


__ADS_3

Warning⚠️


Kalau tahan bacanya habis buka puasa aja ya😄bukannya apa, takut aja puasa kalian batal.


Aku buatnya tadi waktu sahur.


□■□■


Rendy lega jika Sela sudah dengan Bara.


Tapi dia belum lega saat melihat Laura mabuk berat seperti ini.


Mau enggak mau Rendy yang mengantarkan Laura pulang.


Bagaimana tidak, saudaranya yang membawanya kemari.


Otomatis kalau Bara meninggalkan Laura, Rendy yang kena imbasnya.


Dengan mengantarkan Laura pulang.


Selain kasian Rendy juga takut jika terjadi sesuatu dengan Laura.


Rendy menghentikan mobilnya tepat di apartemen Laura.


Rendy keluar dari mobil dan membopong Laura untuk masuk ke dalam apartemen Laura.


Rendy masuk ke dalam lift dengan Laura yang berada di bopongannya.


Kalau dilihat dari deket sih sebenarnya Laura juga cantik.


Sayang ini kelakuan udah kayak mak lampir terlebih kalau udah marah.


Udah kayak nyai badas.


Ting


Rendy keluar dari lift dan menuju kamar apartemen Laura.


Laura sejak dari perjalanan tadi tidak berhenti meracau.


Dia terus memanggil nama Bara Bara dan Bara.


Duh kan panas telinga Rendy.


Rendy mencari kartu masuk di tas milik Laura.


Lalu Rendy membawa masuk Laura ke dalam kamar dan mendudukkan dia di queen sizenya.


"Duh lo berat ama sih," gerutu Rendy merasa linu semua setelah membopong Laura.


"Bara kenapa lo tinggalin gue? Kenapa lo lebih milih Sela ketimbang gue?" tanya Laura sambil menarik kerah Rendy seakan Rendy adalah Bara.


"Kan dia mulai gila kalau menyangkut Bara," dumel Rendy sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan Laura di kerahnya.


"Kenapa lo enggak bisa liat sedikit aja diri gue, gue sayang sama lo gue tulus cinta sama lo," entah setan dari mana hati Rendy seakan merasa iba dengan sikap Laura.


Segitu cintanya kah Laura dengan Bara?


Rendy melepaskan cengkraman tangan Laura lalu mengambil air minum yang berada di atas nakas.


Rendy memercikkan air itu ke wajah Laura agar tersadar dari mabuknya.


Karena setahu Rendy tadi, Laura tidak begitu minum banyak, hanya saja dia tidak mempunyai toleransi yang tinggi akan alkohol.


"Ahhh," teriak Laura saat Rendy terus memercikkan air ke wajahnya.


"Makanya sadar lo," teriak Rendy yang masih saja bercanda.


"Lo?" teriak Laura terkejut saat melihat Rendy berada di kamarnya.


"Ngapain lo di kamar gue hah?" tanya Laura yang seketika panik.


Rendy menyentil dahi Laura karena geram dengan sikapnya.


"Heh asal lo tahu ya, gue tadi yang anter lo pulang, kalau enggak mungkin lo udah dibawa sama om- om ke motel," kata Rendy kesal sambil kembali meletakkan gelas di atas nakas.


Laura menunduk lemah, perlahan air matanya turun begitu saja.


Rendy yang tadinya hendak pulang tidak jadi saat melihat Laura menunduk lesu.


"Hiks hiks," Rendy bisa melihat punggung Laura yang bergetar, itu tandanya dia sedang tidak baik- baik saja.


"Gue enggak pernah mendapatkan cinta yang tulus dari seseorang," jiwa fuckboy Rendy seakan terketuk dengan ucapan Laura.


"Jangankan cinta kasih sayang pun aku tidak pernah merasakannya," Rendy berjalan mendekat ke arah Laura.


"Jangan merasa lo tidak pernah mendapatkan cinta," kata Rendy sembari mengangkat dagu Laura untuk menatapnya.



Laura menatap mata Rendy, saat dekat Rendy begitu tampan bahkan dia sangat mempesona, lalu kenapa Laura baru menyadarinya.


"Masih banyak laki- laki yang suka dan cinta sama lo, enggak harus Bara," kata Rendy sambil menatap lekat mata Laura.


"Termasuk lo?" tanya Laura membuat Rendy terdiam tanpa menjawab pertanyaan Laura.


"Bahkan lo aja enggak bisa jawab...,"


Laura terdiam saat Rendy mencium bibirnya meski hanya menempel tanpa ******* sedikitpun.


Kenapa jantung Laura berdegub sangat kencang sekali, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini.


Rendy melepaskan ciumannya dan terlihat jika ia sudah lancang pada Laura.


"Sorry gue ke bawa perasaan," kata Rendy sambil memalingkan wajahnya.


Laura berdiri lalu dengan beraninya dia mengalungkan tangannya di leher Rendy.


"Kenapa? Apa lo juga jijik ngeliat gue seperti Bara yang jijik saat liat gue?" tanya Laura pada Rendy.


Rendy hanya diam, dia sedang menetralkan jantungnya.


"Kenapa semua cowok natap gue seakan menatap kotoran," gumam Laura lirih sambil menunduk menyandarkan kepalanya di bahu Rendy.


"Lo terlihat cantik di mata seseorang yang tepat," kata Rendy sembari memalingkan wajahnya.


Perlahan Laura mengangkat kepalanya dan melihat mata Rendy untuk mencari kebohongan di matanya.


Tapi, nihil.


Dia memang sedang mengatakan dengan jujur.


Dengan berani Laura mencium bibir Rendy membuat sang empu sangat terkejut dengan sikap Laura yang tiba- tiba.

__ADS_1


Melihat jika Rendy tidak merespon membuat Laura dengan terpaksa menggigit bibir bawah Rendy.


Dengan begitu Rendy membuka mulutnya dan memberikan akses pada Laura.


Seakan terbuai dengan perlakuan Laura, Rendy meraih tengkuk Laura untuk memperdalam ciumannya dan meraih pinggang Laura agar lebih dekat dengannya.


.


.


.


Keesokan paginya Laura terbangun dari tidurnya saat mendengar alarm yang setiap hari ia pasang.


Laura melihat sekitarnya, mencoba untuk menyadarkan dirinya.


Perlahan Laura mengingat kejadian malam tadi.


Rendy.


Ya semalam dia bersama Rendy.


Laura meraba bibirnya, apa itu mimpi.


Kini jantungnya berdetak sangat cepat bagai berdetak abnormal.


Itu mimpi atau nyata?


Tapi kenapa Laura merasakan jantungnya berdetak sangat cepat?


Apa semalam benar- benar terjadi?


"Ahhh rasanya gue mau tenggelam aja dehh, gimana nanti kalau pas ketemu Rendy," teriak Laura yang uring- uringan sendiri mengingat kejadian tadi malam.


♡♡♡


"Sela," teriak Bara karena Sela yang tak berhenti juga kala Bara memanggilnya.


Hap


Bara bisa meraih tangan Sela dan menariknya hingga berhadapan dengannya.


"Sejak kapan kamu berani minum alkohol?" tanya Bara dengan nada yang bisa dibilang cukup keras.


Sela hanya diam dan memalingkan wajahnya enggan untuk menatap mata elang Bara.


"Jawab Sela?" bentak Bara sambil mencengkeram kedua bahu Sela.


"Apa laki- laki itu yang mengajarimu untuk minum?" Sela menatap sengit mata Bara.


"Bukan itu kemauan ku sendiri," jawab Sela setelah sekian menit dia hanya diam.


Bara tersengum miring mendengar jawaban Sela.


"Ini bukanlah dirimu," kata Bara sambil melepaskan cengkramannya.


"Kenapa? Minum alkohol seperti ini juga bukanlah dirimu," kata Sela membalikkan ucapan Bara.


"Itu semua karenamu," bentak Bara hingga Sela memejamkan matanya.


Orang- orang yang lalu lalang menatap mereka berdua.


Sela yang malu karena menjadi pusat perhatian langsung pergi meninggalkan Bara.


"Sela," panggil Bara setengah berlari namun dia kalah cepat dengan Sela yang sudah masuk ke dalam taksi.


Bara menatap kepergian Sela dengan taksi tersebut.


Dia teringat sesuatu lalu kembali masuk ke dalam club.


Bara menjelajahi isi club untuk menemukan seseorang.


Nah ketemu.


"Sini lo," kata Bara sambil menarik Alvin untuk berdiri.


"Apa yang lo rencanain sama cewek gue, hah?" teriak Bara pada Alvin yang sudah mabuk berat bersama teman- temannya yang lain.


"Sabar bro, kontrol emosi lo. Gue cuma kasian sama cewek lo jadi gue bantu dia," kata Alvin mengatakan dengan jujur meski dia sedang mabuk berat.


"Lo bantu dia apa anjing?" teriak Bara yang benar- benar emosi di luar batas.


Brugh


Alvin mendorong Bara hingga terjerembab di lantai lalu Alvin berjongkok di samping Bara.


"Percuma lo bro cari pelampiasan, kalau nyatanya lo masih cinta sama cewek lo. Jadi cowok yang gentle jangan jadi brengsek," kata Alvin mampu memancing emosi Bara.


Bugh


Bara memukul rahang Alvin hingga dia tersungkur di lantai.


Bara merasa tidak terima saat dirinya disebut brengsek oleh Alvin.


"Itu urusan gue, jangan pernah lo ajari cewek gue macem- macem," ancam Bara setelah puas memukuli Alvin.


Sedangkan Alvin masih tergeletak di lantai dan setengah sadar.


"Untung lo cantik Sel, jadi gue rela digebuki demi lo. Andai aja saingan gue bukan Bara, udah gue ambil lo," racaunya sebelum beberapa menit pingsan.


.


.


.


Bara sampai di rumah dengan keadaan yang tidak baik- baik saja.


Pak Asep yang masih berjaga karena Bara, Reno, Rendy bahkan Sela belum juga pulang merasa khawatir.


Mau menjemput tapi tidak tahu kemana mereka semua pergi.


Dan Bara pulang dengan keadaan seperti ini membuat pak Asep khawatir dan cemas.


Kemana Sela pergi?


Lalu apa yang terjadi dengan Bara?


Dengan jalan sempoyongan Bara naik ke lantai atas menggunakan lift.


Bara menuju kamar Sela dan hasilnya kosong.


Bara kembali menaiki lift dan turun ke lantai 2 untuk mencari Sela di kamar satunya.

__ADS_1


Sama hasilnya kosong.


"Sela," teriak Bara dengan sangat keras hingga suaranya terdengar seantero rumah.


Setelahnya Bara tertidur di sofa dengan keadaan yang tidak baik- baik saja.


Keesokan harinya Rendy baru saja bangun tidur dan terkejut saat mendapati Bara tertidur di sofa.


"Ngapain tuh bocah tidur di mari," kata Rendy langsung menghampiri Bara untuk membangunkannya.


"Bar bangun lo," kata Rendy membuat Bara membuka matanya perlahan.


Dia melihat sekeliling, dia tidak berada di kamarnya.


"Ngapain lo tidur di sini? Terus itu bibir kenapa merah gitu? Lo habis berantem?" kata Rendy yang langsung membrondongi Bara dengan segala pertanyaan.


"Sela mana?" tanya Bara balik pada Rendy.


"Kan kemarin pulang sama lo dodol," kesal Rendy dengan sikap Bara.


Bara mengingat kejadian malam kemarin.


Ya dia baru ingat jika Sela pulang menaiki taksi, tapi entah kemana dia pulang.


Bara berdiri dan meninggalkan Rendy begitu saja dengan segudang pertanyaan di otak Rendy.


"Kok gue lama- lama gila tinggal sama Bara. Dia yang bawa pulang gue yang ditanya," gumam Rendy yang tak habis pikir dengan Bara.


"Bentar- bentar sekarang bukan itu yang penting, gue berangkat ke kantor muka gue mau di taruh mana coba kalau ketemu Laura," kata Rendy seketika panik saat mengingat jika dia harus pergi ke kantor.


.


.


.


Sesampainya di kantor Bara pun juga tak fokus untuk bekerja.


Pikirannya hanya terisi oleh pertanyaan, di mana Sela sekarang?


Ceklek


Bara menatap arah pintu lalu mendengus sebal saat bukan Sela yang mengetuk pintunya.


Tapi Gabriela.


"Tuan maaf saya telat," kata Gabriela menghampiri meja kerja Bara namun ia enggan untuk menjawabnya.


"Ya ampun itu bibir tuan berdarah, apa anda selesai bertengkar? Sini biar saya obati," kata Gabriela hendak mendekati Bara dengan mengeluarkan tisu di tangannya.


"Berhenti," teriak Bara membuat Gabriela hingga terkejut dan berhenti di tempat.


"Mulai sekarang saya tidak membutuhkan kamu lagi, jadi pergilah," kata Bara yang mampu membuat hati Gabriela seakan tertimpa batu besar.


Sesak dan sakit.


Gabriela hanya diam di tempat sembari menatap Bara.


"Tunggu apalagi, cepat pergi," bentak Bara membuat Gabriela mendengus sebal lalu keluar dari ruangannya dengan membanting pintu.


Bara beralih ke komputernya untuk memantau rekaman cctv ruangan Dhea.


Apakah Sela sudah datang atau belum?


Hanya ada Dhea.


Kemana dia pergi?


Ceklek


"Bara, ada CEO dari Italia buruan temui," kata Rendy membuat Bara langsung bergegas untuk menemuinya.


"Ehh tapi Sela kan belum dateng Bar, gimana terus?" tanya Rendy karena pertemuan ini membutuhkan 2 sekretaris untuk mencatat hal penting antara dua perusahaan ini.


"Bara," panggil Laura yang baru saja datang dengan senyum merekah.


Rendy mencoba untuk bersikap biasa saja di depan Laura dan sepertinya Laura pun begitu.


"Enggak usah nunggu dia, lo sama Laura aja," kata Bara lalu pergi begitu saja tanpa memikirkan ekspresi Rendy saat ini.


"Loh Bara pergi kemana?" tanya Laura pada Rendy.


"Udah enggak usah banyak ngomong, lo ikut gue," kata Rendy yang langsung menarik tangan Laura menuju ruang pertemuan CEO.


Tapi siapa sangka jika di balik dinding ada Sela yang mendengarkan segalanya.


Sela menghembuskan napasnya pelan lalu berjalan menuju ruangan Dhea.


Dia bisa menerima segalanya, mau bagaimana lagi mungkin ini takdir yang terbaik untuknya.


"Kak Dhea," panggil Sela pada Dhea yang sibuk menata beberapa kain pilihan yang baru saja datang.


"Hey Sel, lo baru dateng?" tanya Dhea yang hanya diangguki oleh Sela.


"Kak aku hari ini mau ngundurin diri," kata Sela pelan namun mampu di dengar oleh Dhea dan membuat Dhea menghentikan aktivitasnya.


"Lo yakin dengan pilihan itu?" tanya Dhea memastikan jika Sela tidak salah dalam memutuskan sesuatu.


"Enggak," jawab Sela sembari membersihkan semua peralatan yang kemarin Dhea tata rapi di rak untuk di masukkan di box.


"Sel," panggil Dhea pelan membuat Sela menoleh.


"Gue pasti bakal rinduin lo," katanya langsung memeluk Sela erat.


"Siapa yang bakal gue ajak lagi buat makan di kantin," gumamnya membuat Sela merasa sedih untuk meninggalkan kantor.


"Kan banyak karyawan yang lainnya kak," kata Sela mencoba untuk mencari alasan lainnya.


"Yaudah deh terserah kamu, selama itu baik untuk dirimu sendiri," kata Dhea lalu membiarkan Sela pergi sembari membawa kotak peralatannya menuju ruangan Bara.


Tok tok tok


Bara menatap ketukan pada pintu.


Ceklek


Hatinya sedang menari- nari sayangnya dia sedang sakit gigi.


Jadi tidak bisa tersenyum, canda senyum.


Inilah ketukan pintu yang sedari tadi Bara tunggu.


"Permisi, maaf menganggu," kata Sela lalu masuk ke dalam ruangan Bara dan meletakkan kotak peralatannya di atas meja kerja Bara.

__ADS_1


"Maaf pak untuk hari ini saya ingin mengundurkan diri, ini surat pengunduran diri saya dan ini semua peralatan saya,"


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2