
《■■■》
Sandra sedang menghadiri pengumuman untuk perancangan busana beberapa bulan lalu.
Perusahaan Sela kini diambil alih oleh Sandra selama Sela kembali ke Kanada.
Jadi hari ini Sandra sedang menunggu hasil pengumuman baju rancangan yang diikutsertakan dalam perlombaan tingkat internasional.
Sandra tidak sendiri selama mengambil alih perusahaan BS.
Ia ditemani oleh Dewa, tapi entah kenapa dia belum juga datang.
Padahal Sandra begitu gugup untuk menunggu hasil pengumuman ini.
Sandra ingin memberikan hadiah ini untuk pernikahan Sela.
Ia sudah tidak bisa datang di pernikahan Sela, setidaknya ia bisa membawa hasil yang bisa diberikan pada sahabatnya itu.
Sudah banyak Sela membantu Sandra dalam segala hal.
Kini saatnya ia memberikan sebuah hadiah manis dari seorang sahabat.
"Baik semuanya, pasti kalian sudah tidak sabar menunggu hasil dari pengumuman pemenang dari perlombaan ini," kata mc setelah beberapa menit tadi menunggu hasil dari dewan juri.
Ting
Sandra melihat ponselnya ada pesan masuk dari Dewa.
Maaf aku tidak bisa menemani, ada proposal yang harus aku susun kembali
Sandra menghela napas pelan.
Baiklah Sandra mengerti jika Dewa sedang sibuk.
"Tunggu apalagi, saya akan bacakan tiga pemenang dari perlombaan ini. Juara ketiga berhasil diraih oleh Meksiko, dengan gaun yang dibawakan oleh nona Angela," desainer dari Meksiko maju ke depan untuk menerima penghargaannya.
"Kita lanjut, untuk pemenang kedua, diraih oleh Britania, dengan gaun yang dibawakan oleh nona Cristine," desainer Britania maju ke depan dengan senyum yang manis.
"Ok kini saatnya yang kita tunggu- tunggu, langsung saja untuk pemenang pertama perlombaan gaun tahun ini adalah," Sandra memejamkan matanya.
Ya tuhan setidaknya kasih sedikit harapan untuk Sandra.
"Kanadaaaa, dengan gaun yang dibawakan oleh Sela," Sandra menganga tidak percaya, ia membungkam mulutnya.
Ini bukan mimpikan?
Semua staf dan karyawan menatap Sandra dengan senyum bangga dan senang.
Sandra lalu berjalan naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan.
"Selamat ya," kata mc saat memberikan bunga dan juga piala pada Sandra.
Sandra mengangkat bunga juga pialanya sambil menatap staf juga karyawan kantor yang menemaninya.
Sela, ini untukmu.
Setelah memberikan sambutan juga ucapan terima kasih, Sandra turun dari panggung dan langsung mendapat pelukan dari stafnya.
Ia merasa senang dan juga sayang pada staf Sela.
Mereka tetap menghargai juga menghormati Sandra seperti mereka menghargai Sela.
"Nona Sandra, bagaimana jika kita pesta untuk malam ini?" tanya mereka menawari Sandra.
"Aku ingin sekali berpesta dengan kalian, tapi sayangnya saya sudah ada janji," kata Sandra merasa tidak enak hati.
"Yaahhh apa itu bersama tuan Dewa?" tanya salah satu staf menggoda Sandra.
Sandra tidak menjawab ia hanya tersenyum malu.
"Ini pakailah kartuku untuk berpesta, lain waktu kita akan berpesta bersama," kata Sandra lalu meninggalkan mereka setelah acara selesai.
Ia akan menemui Dewa untuk memberitahu kemenangan ini.
Sandra mengendarai mobilnya dan menuju kantor Dewa.
Sandra telah sampai di kantor Dewa.
Dengan semangat 45 Sandra langsung naik ke lantai atas untuk memberikan kejutan pada Dewa.
Ting
Pintu lift terbuka dengan cepat Sandra langsung menuju ruangan Dewa.
Ceklek
"Sur.. maaf saya akan kembali nanti," kata Sandra saat melihat Dinda dan Dewa.
"Masuklah aku sudah selesai," kata Dewa yang langsung menghampiri Sandra.
Dewa memeluk posesif pinggang ramping Sandra membuat Dinda memalingkan wajahnya.
"Dinda kamu bisa keluar, sisanya biar saya yang kerjakan," kata Dewa sambil menggiring Sandra menuju sofa.
"Baik tuan," sebelum pergi Dinda melirik sinis Sandra yang masih dipeluk erat oleh Dewa.
"Gimana pengumumannya?" tanya Dewa sembari memangku Sandra.
"Apa Dinda selalu datang ke ruanganmu?" tanya Sandra yang Dewa tebak sedang cemburu.
Dewa meraih tengkuk Sandra dan mencium bibir tipisnya.
Ia ******* dan mengulum bibir tipis Sandra.
"Sebentar lagi kau akan jadi istriku, lantas kenapa kau selalu cemburu dengan Dinda," kata Dewa membuat Sandra memalingkan wajahnya.
"Tapi dia terlihat sangat menyukaimu," kata Sandra sambil merapikan rambut Dewa.
"Tapi aku sukanya kamu," jawaban Dewa membuat Sandra menahan senyumnya membuat pipinya memerah.
"Kenapa pipimu memerah?" goda Dewa membuat Sandra mencium kening Dewa.
"Oh ya, bagaimana dengan pengumumannya? Apa kamu memenangkannya?" tanya Dewa sambil mempererat pelukannya di pinggang Sandra.
"Surpriseee," teriak Sandra sambil menunjukkan sertifikat pemenang dari perlombaan tadi.
"Wow selamat sayang," kata Dewa ikut bangga dengan usaha Sandra.
"Bagaimana jika malam ini kita dinner sebelum kembali ke Kanada?" tanya Dewa membuat Sandra menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias.
"Astaga kenapa kamu begitu bahagia," gumam Dewa saat Sandra memeluk erat lehernya.
.
__ADS_1
.
Dewa sedang menunggu kedatangan Sandra sembari menyiapkan sentuhan terakhir untuk dinner malam ini.
Yaitu wine yang ia beli dari Britania kemarin malam.
Tok tok tok
Dewa bergegas membukakan pintu dan terlihat Sandra yang begitu cantik sekali malam ini.
"Kenapa?" tanya Sandra saat Dewa hanya diam saja dan menatap dirinya.
Dewa langsung menarik Sandra dan menutup pintunya.
Tanpa aba- aba Dewa langsung menempelkan tubuh Sandra ke dinding dan mencium bibirnya.
Sandra hanya diam tanpa membalas saat Dewa tiba- tiba saja menciumnya.
Dewa melepaskan ciumannya dan menatap wajah cantik Sandra.
"Maaf tapi malam ini kamu begitu cantik, hingga membuat aku tidak bisa menahan diri," kata Dewa merasa jika ia membuat Sandra tidak nyaman.
Sandra tersenyum manis melihat sikap Dewa.
Dengan sedikit keberanian ia berjinjit dan mencium sekilas bibir seksi Dewa.
Dewa menahan pinggang Sandra saat ia akan melepaskan ciumannya.
"Aku rasa malam ini tidak ada dinner," gumam Dewa di sela ciumannya membuat Sandra tertawa pelan.
《♡♡♡》
Bara terbangun dari tidurnya, ia melihat ke samping.
Istrinya masih tertidur pulas dengan wajah yang masih tetap cantik.
Cup
Bara menopang kepalanya dengan tangan dan menatap wajah Sela.
"Tidur aja cantiknya kayak gini, apalagi bangun," gumam Bara sambil mengusap lembut pipi Sela.
"Kenapa akhir- akhir ini moodmu selalu berubah- ubah sayang," gumam Bara lalu turun dari king size.
Hari ini ia akan pergi ke kantor karena sudah beberapa bulan ini semua urusan kantor ia serahkan pada kepala Direksi.
Bara sudah selesai mandi dan kini juga sudah rapi dengan penampilan kantornya.
Bara berjalan menuju king size lalu kembali menyelimuti Sela.
Cup
"Aku berangkat ke kantor dulu ya sayang, nanti sepulang dari kantor akan kubelikan buah apel," bisik Bara sebelum meninggalkan Sela ke kantor.
Bara turun ke lantai satu, terdapat Reno dan Rendy yang sedang sarapan.
"Bar sarapanlah dulu," kata Reno saat melihat Bara.
Mereka juga sudah siap dan rapi dengan penampilannya ke kantor.
"Iya, gue masih harus serahin proposal buat proyek minggu depan," jawab Rendy sambil memakan roti isinya.
"Nih roti isimu," kata Laura yang menyiapkan roti isi untuk Bara.
"Makasih," kata Bara langsung melahap roti isinya.
"Yaudah kita bareng aja berangkatnya pakai helikopter gue," kata Bara yang diangguki oleh Rendy dan Reno.
"Sela belum bangun Bar?" tanya Dea saat ia tidak melihat Sela.
"Iya dia masih tidur, entah kenapa moodnya akhir- akhir ini selalu berubah- ubah," kata Bara yang juga heran dengan sikap Sela akhir- akhir ini.
"Biasalah mungkin Sela sedang datang bulan jadi hormonnya mempengaruhi moodnya," kata Dea memberi paham pada Bara.
"Oh ya Ren entar ingetin gue buat beli apel spartan, kemarin malam Sela pengin makan tapi udah keburu tidur," katanya pada Rendy dan Reno.
"Ok. Udah yuk berangkat," ajak Rendy setelah selesai sarapan.
"Sayang aku berangkat dulu ya," pamit Rendy sambil mencium kening Laura.
"Aku juga sayang," kata Reno yang juga mencium kening Dea.
"Kalian hati- hati ya," kata Laura dan Dea bersamaan.
Mereka lalu naik helikopter untuk ke Kanada mengurus semua pekerjaan yang sudah menimbun selama beberapa bulan ini.
Meski sudah diatasi oleh sekretaris juga kepala direksi tetap saja kita tidak bisa membebani mereka dengan pekerjaan sebanyak itu.
"Ra menurutmu kenapa Sela bersikap seperti itu?" tanya Dea saat para suami mereka sudah pergi.
"Apa kamu memikirkan sesuatu?" tanya Laura menebak isi pikiran Dea.
Dea mengangguk lalu keduanya tersenyum dan langsung berlari menuju kamar Sela.
.
.
.
Bara sudah sampai di kantornya dan benar saja, baru ia datang sudah ada 10 berkas yang harus ia tanda tangani.
"Maaf tuan tadinya berkas- berkas ini mau saya antarkan ke rumah anda tapi saya takut mengganggu cuti anda," kata kepapa direksi merasa tak enak hati.
"Tidak papa, saya mengerti. Ini sudah semua, apa ada lagi?" tanya Bara saat sudah selesai menandatangani semuanya.
"Nanti jam 10 ada rapat tuan untuk membahas proposal yang kemarin telah direvisi, juga rapat untuk pendatangan kain dari Italia," jelas kepala direksi membuat Bara mengangguk.
"Baiklah sekarang sudah pukul 9, makan dan rehatlah sejenak sembari menunggu waktu rapat, nanti kita kumpul di ruang meeting," kata Bara pada kepala direksi.
"Baik tuan terima kasih banyak, saya permisi dulu," kata kepala direksi undur diri untuk kembali ke ruangannya.
Bara meraih ponselnya, pertama kali yang ia lihat adalah foto pernikahannya.
Bara tersenyum manis, istrinya begitu cantik sekali.
Di atas meja juga ada foto pernikahannya.
Rasanya dunia Bara begitu berwarna- warni kala Sela datang ke kehidupannya.
__ADS_1
.
.
.
Bara dan kedua adiknya menuju perjalanan pulang ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Gimana kerjaan lo Bar? Udah kelar?" tanya Rendy mengkhawatirkan kakaknya.
"Udah semua meski otak gue rasanya udah ngebul banget," kata Bara sembari memijit pelipisnya.
"Katanya mau beli apel spartan," kata Reno mengingatkan pada Bara.
"Gue udah pesen, tuh," kata Bara sembari menunjuk kursi penumpang di sebelahnya.
"Kok tumben Sela pengin makan buah- buahan, biasanya dia paling suka makan salad," kata Rendy yang sudah tahu kebiasaan Sela.
"Enggak tahu, akhir- akhir ini moodnya selalu berubah- ubah, kadang juga suka minta sesuatu yang aneh kalau enggak gitu nafsu makannya sedikit bertambah," jelas Bara pada sikap Sela akhir- akhir ini.
"Ya mungkin karena hormon yang seperti dikatakan Dea tadi jadi buat Sela kayak gitu," kata Rendy agar Bara tidak mengkhawatirkan istrinya.
"Ya mungkin begitu," kata Bara yang terdengar sangat lelah.
Helikopter sudah mendarat dengan baik.
Mereka langsung bergegas turun dan hendak istirahat.
Wush
Wush
Wush
Mereka bertiga mendongak saat ada helikopter yang juga mendarat tepat di samping helikopternya.
Bradsiton dan Rose.
"Papa mama," kata Bara saat mereka berdu baru saja turun dari helikopter.
"Bara kenapa kamu masih di sini?" tanya Bradsiton dengan nada baritonnya.
"Memang kenapa pa?" tanya Bara yang tak paham dengan maksud papanya.
"Apa kamu tidak tahu, Laura bilang kalau Sela jatuh dari tangga?" Bara melebarkan kedua matanya dan langsung berlari ke dalam rumah.
Mereka semua mengikuti Bara untuk melihat keadaan Sela.
Ceklek
Bara tidak menemukan Sela di kamarnya.
"Sayang Selaaa," teriak Bara yang terdengar hingga ke segala penjuru rumah.
"Bara di mana Sela?" tanya Bradsiton yang terdengar sangat marah sedangkan Rose sejak tadi sudah menangis.
"Bara juga enggak tahu pa, Bara baru saja pulang dari kantor," kata Bara sembari mencari ke semua kamar.
Kringggg
Ponsel Rendy berbunyi dan menampilkan nama Laura.
"Halo sayang, kamu di mana?" tanya Rendy membuat semua orang menatapnya.
"..."
"Apa? Ok kita akan ke sana sekarang," kata Rendy sambil menatap mereka semua.
"Ren di mana Sela?" tanya Bara pada Rendy.
"Laura bilang jika Sela pingsan di belakang rumah dekat taman," Bara tidak memedulikan apapun ia berlari menuju belakang rumah.
Lalu diikuti semuanya menuju belakang rumah.
Bara berhenti saat belakang rumah gelap sekali.
"Bara kenapa belakang rumah gelap?" tanya Bradsiton saat sampai di belakang rumah.
Klik
"Happy birthday," teriak ketiga perempuan ini saat lampu telah menyala.
Bara menatap Sela yang tersenyum ke arahnya sembari memegang kue tart.
"Astaga sayang papa begitu mengkhawatirkanmu," kata Bradsiton saat melihat Sela baik- baik saja.
Bara langsung menghampiri Sela dan memeluknya erat.
"Jangan membuatku khawatir, aku begitu takut kehilanganmu," gumam Bara sambil mengatur napasnya saat memeluk Sela.
"Maaf aku telah membuatmu khawatir. Sekarang make a wish dulu," kata Sela membuat Bara melepaskan pelukannya dan menatap kue tart di tangan Sela.
Bara lalu berdoa dan meniup lilinya.
"Aku punya sesuatu buatmu," kata Sela sambil meletakkan kue tartnya di meja.
"Apa?" tanya Bara penasaran.
"Nih," kata Sela memberikan sebuah box coklat pada Bara.
Bara mengernyitkan keningnya bingung dan masih tidak mengerti.
"Sayang apa ini?" tanya Bara membuat Bradsiton dan Rose mendekat karena merasa penasaran.
"Coba buka," kata Sela membuat Bara langsung membukanya.
Bara menganga tidak percaya sama apa yang ia lihat dan baca.
Begitu juga Bradsiton dan Rose yang langsung membungkam mulutnya tak percaya.
"Sayang ini serius?" tanya Bara tak percaya dan diangguki oleh Sela.
Bara langsung memeluk Sela dan membopongnya.
"Ma kamu bisa baca kan?" tanya Bradsiton saat memegang box yang berisi hadiah untuk Bara tadi.
"Iya pa," kata Rose yang masih menatap lekat testpack di dalam box itu.
"Semesta apa kau tahu, sebentar lagi aku akan jadi seorang kakek, apa kau dengar," teriak Bradsiton sangat keras membuat semua orang tertawa.
__ADS_1