Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Kecelakaan


__ADS_3

●●●


Gabriela sedang menunggu ayahnya di rumah sakit.


Sudah 2 bulan lamanya ayahnya tak kunjung sadarkan diri.


Gabriela merasa sangat bersalah ketika meninggalkan ayahnya saat malam itu.


Andai saja dia tidak bertengkar dengan ayahnya.


Mungkin hal ini tidak akan terjadi.


"Ayah maafin Gabriela," gumamnya pelan sembari mencium tangan ayahnya yang kini tinggal tulang tidak seperti dulu yang masih kekar dan kuat.


"Saat ayah bangun nanti, tolong ayah jangan marah sama Gabriela,"


"Gabriela hanya ingin membalaskan dendam ini karena telah membuat ayah menderita," kata Gabriela sambil mengusap ujung matanya agar air matanya tak turun.


"Meski dia ayah anggap sebagai putri ayah, tapi tidak dengan Gabriela yah," lanjut Gabriela sambil memandangi wajah ayahnya.


"Gabriela tidak bisa menerima semua perlakuan ini,"


"Dan sampai kapanpun, Gabriela akan tetap membencinya,"


□♧□♧


Bara sedang berada di balkon menikmati udara di pagi hari.


Baru juga 1 bulan ditinggal Sela tapi rasanya begitu lama.


Apa Bara kuat menjalani 2 tahun ini.


Banyak hal yang berubah dari kehidupan Bara saat Sela tidak lagi di sampingnya.


Bara yang kini selalu malas untuk pergi ke kantor, Bara yang jarang sekali mandi dan lebih memilih untuk berada di kamar seharian.


Bara yang lebih menutup diri di berbagai media sosial dan menutup semua akun sosial medianya demi menjaga perasaan Sela.


Segitu berubahnya Bara hanya untuk satu wanita.


Yaitu Sela.


Wanita mana yang tidak iri melihat sikap Bara yang benar- benar menjaga hatinya hanya untuk Sela.


Karena Bara tidak pernah main- main akan perasaannya pada Sela.


Kring kring kring


Ponsel Bara berbunyi, namun sang empu hanya mengabaikan begitu saja.


Menurutnya telpon selain dari Sela dan papa mamanya tidaklah penting untuk dijawab.


Kring kring kring


Ponsel terus berbunyi membuat Bara mendengus sebal.


Dengan malas Bara masuk ke dalam kamar untuk melihat siapa yang sedang menelponnya.


Calon Istri❤


Buru- buru Bara menuju balkon lalu mengangkat panggilan dari Sela.


"Ya kenapa tuan lama sekali mengangkatnya," Sela langsung menyembur Bara kala panggilan tersambung.


Bara tertawa melihat wajah kesal gadisnya.


"Iya- iya maaf sayangku," kata Bara sambil senyum lebar memandangi wajah Sela yang terlihat sangat cantik.


"Apa anda sedang bersama wanita lain?" tanya Sela dengan wajah galaknya.


"Tidak, aku sedang bersama anak kita," Sela melotot mendengar ucapan Bara.


"Kenapa, apa kamu tidak percaya. Lihatlah," kata Bara sambil mengubah kameranya menjadi kamera belakang dan memperlihatkan mike yang sedang duduk santai di balkon.



"Wah mike sayang, ahhh aku sangat merindukanmu," Bara mendengus sebal kala Sela berubah manis saat bertemu mike.


Dengan jahilnya Bara langsung mengubah kameranya dan memperlihatkan dia.


"Tuan saya kan masih pengin lihat mike," rengek Sela karena Bara hanya memperlihatkan mike sekilas.


"Anjing aja disayang masak aku enggak?" ketus Bara membuat Sela menganga tidak percaya.


"Astaga apa anda kini sedang cemburu dengan anjing?" tanya Sela lalu tertawa melihat wajah kesal Bara.


"Harusnya tuan tahu, anjing aja disayang apalagi tuan," oh tidak Sela kenapa kamu mengatakan hal- hal yang membuat jantung Bara berdetak tak karuang.


Bara memalingkan wajahnya agar Sela tak tahu jika kini dia sedang tersenyum malu.


Oh good Sela.


"Apa anda tidak berangkat ke kantor?" tanya Sela sambil memakan salad yang bisa Bara lihat dari layar ponsel.


"Males, kamunya aja enggak ada, entar kalau aku diculik tante- tante gimana?" kata Bara dengan nada manjanya dan menatap gemas Sela yang mulutnya penuh dengan salad.


"Percayalah enggak akan ada tante- tante yang mau sama anda," ejek Sela membuat Bara tersenyum manis.


"Oh ya kukira usiaku dengan Jessy terpaut 2 tahun, karena dia lebih tua dariku,bukankah dia termasuk tante- tante" Sela menusuk buah dalam mangkuk layaknya psikopat.


"Oh ya, bagus kalau gitu, berarti anda laku. Saya juga begitu di sini, banyak pemuda tampan yang mendekatiku," kata Sela ganti menggoda Bara.


"Hei jangan macam- macam atau aku bawa pendeta untuk menikahkan kita," Sela tertawa melihat wajah kesal Bara.


"Ya sudah saya akan berangkat ke kampus, oh ya jangan lupa sarapan sebelum berangkat ke kantor," pesan Sela membuat Bara tidak ingin panggilannya terputus.


"Ehh tunggu- tunggu 5 menit lagi please, aku mohon sayang, aku sangat merindukanmu," rengek Bara membuat Sela memanyunkan bibirnya.


"Nanti malam kan bisa tuan, sekarang saya ingin pergi ke kampus dan tuan juga harus pergi ke kantor kan," kata Sela dengan mengunyah saladnya.


"Tapi aku masih merindukanmu," gumam Bara membuat Sela berhenti mengunyah dan menatap sendu Bara.


Lalu dengan cepat Sela mengubah ekspresinya menjadi tersenyum manis.


"Nanti malam akan saya telpon lagi jadi sekarang ayo kita menjalankan rutinitas masing- masing," ajak Sela agar Bara mau pergi ke kantor.


"Bisakah kamu cepat pulang, aku benar- benar merindukanmu," kata Bara membuat hati Sela seakan mencelos.


"Sudah saya akan pergi ke kampus," kata Sela mengalihkan pembicaraan karena Sela tidak bisa melihat Bara seperti ini.


"Bolehkah aku menatap dirimu sebentar saja?" tanya Bara membuat Sela juga menatap Bara.

__ADS_1


Keduanya saling diam dan saling menatap satu sama lain.


Seakan menyalurkan rindu satu sama lain.


"Udah, saya berangkat dulu ya ke kampus, sampai nanti malam," pamit Sela membuat Bara tersenyum samar.


"Tunggu," kata Sela membuat Bara yang tadinya hendak mematikan sambungan telepon kembali menatap Sela.


"I love you,"


Tit


Sela langsung mematikan sambungan teleponnya setelah mengatakan kata keramat tersebut.


"Hah apa dia bilang i love you, astaga kenapa rasanya begitu panas di sini," kata Bara sambil menggenggam erat ponselnya dan berjalan mondar- mandir.


"Ya tuhan gue enggak mimpi kan, mike lo juga denger kan tadi mama mu bilang apa?" tanya Bara pada mike yang sedari tadi menatapnya.


"Astaga ternyata galau begitu mengerikan, masak anjing diajak ngomong ditambah senyum- senyum sendiri lagi," gumam pelan Rendy yang hendak membangunkan Bara dan ternyata dia sudah bangun.


Dan melihat Bara sedang berbicara dengan mike.


.


.


.


.


.


Setelah mendapatkan energinya kembali dengan mendapat telepon dari Sela membuat Bara bersemangat untuk ke kantor.


Percaya atau tidak Bara merasa jika kini energinya begitu penuh setelah mendapat banyak cinta dari Sela.


Dasar Aldebaran bucin.


Pagi ini Bara melakukan review tentang proyek mereka yang kini sedang bekerja sama dengan perusahaan Clay.


Bara berusaha dengan sangat keras agar proyeknya bisa membawa kemajuan setelah bekerja sama dengan perusahaan besar Clay.


Jadi karena itu Bara mengumpulkan kepala departemen untuk membahas beberapa hal untuk dievaluasi.


"Bagaimana menurut kalian apa perlu kita membuat beberapa rancangan lagi?" tanya Bara kepada kepala departemen.


"Menurut saya sebaiknya kita tambah beberapa rancangan lagi tuan, tapi berbeda dari sebelumnya," usul kepala divisi.


"Baiklah lalu rancangan seperti apa yang akan kita serahkan?" tanya Bara dan Dhea langsung menyodorkan beberapa lembar contoh rancangan yang sudah ia buat.


"Tolong perbaiki sedikit lagi dan tambahkan beberapa style kekinian tentang anak muda," kata Bara mengomentari rancangan Dhea.


"Baik tuan nanti akan saya perbaiki lagi," kata Dhea langsung menyatat apa yang Bara katakan.


Brak


"Bara," teriak Rendy membuat semua orang dalam ruangan terkejut dan menatap Rendy yang berada di ambang pintu.


"Bar ayo buruan ikut gue," kata Rendy sambil menarik tangan Bara keluar dari ruangannya meninggalkan semua orang.


"Ada apa sih?" tanya Bara sembari menghempaskan genggaman tangan Rendy.


Deg


Rasanya seperti ada petir yang menyambar diri Bara.


Tanpa mengucapkan apapun Bara berlari sekuat mungkin dan meninggalkan Rendy.


"Maafin gue Bar," Rendy langsung menyusul Bara untuk mengambil alih kemudinya.


Sangat mengkhawatirkan jika Bara mengendarai di saat kondisi seperti ini.


Rumah Sakit


"Ren di mana papa sama mama dirawat?" tanya Bara sambil melihat satu persatu kamar pasien dengan acak.


Rendy berhenti dan hanya diam tak menjawab pertanyaan Bara.


Bara berbalik ke belakang dan melihat Rendy menunduk lesu.


Bara berlari dan menghampiri Rendy untuk kembali bertanya.


"Ren gue tanya sama lo, di mana papa sama mama dirawat?" tanya Bara berusaha untuk menahan emosinya.


"Mereka berada di ruang otopsi," Bara langsung menarik kerah Rendy dan menatapnya tajam dengan mata yang sedikit berkaca- kaca.


"Apa maksud lo?"


"Mobil yang mereka kendarai tiba- tiba meledak begitu saja,"


Bugh


Bara terjerembab di lantai, kakinya terasa begitu lemas bahkan hanya sekedar untuk berdiri rasanya begitu tak mampu.


"Enggak mungkin," Bara langsung berlari menuju ruang otopsi untuk melihat kebenarannya.


Dia berharap Rendy sedang bercanda dengannya.


Brak


Bara membuka pintu ruang otopsi, terdapat 2 polisi juga 2 dokter sahabat papanya.


"Apa anda putranya?" tanya polisi itu namun tidak dijawab oleh Bara.


Tidak berapa lama Rendy datang menyusul lalu mengisyaratkan pada polisi itu untuk diam.


"Ren ini enggak mungkin papa sama mama kan?" tanya Bara masih tidak percaya akan semua ini.


"Ini benda milik mereka berdua," kata polisi itu sambil menyerahkan kantong plastik yang berisi jam tangan mahal milik Bradsiton dan kalung mutiara Rose.


"Enggak enggak mungkin ini pasti bukan papa sama mama," kata Bara sambil berjalan mundur menjauhi brankar dan duduk meringkuk di sudut dinding.


"Bara lo harus kuat," kata Rendy yang berjongkok di depan Bara.


"Lo pikir semudah itu apa, hah?" teriak Bara sambil menarik kerah Rendy.


"Bukan cuma lo yang merasa kehilangan, tapi gue juga," kata Rendy sambil menghempaskan cengkraman Bara.


"Meski mereka bukan bokap nyokap gue, tapi gue udah anggap mereka sebagai orang tua gue," kata Rendy yang kini juga tersulut emosinya.


"Untuk memastikan semuanya, mari kita lakukan tes DNA," kata dokter Bram membuat semuanya terdiam.

__ADS_1


Tapi tidak dengan Bara yang kini sudah tak lagi bisa menahan air matanya.


Dunianya telah hilang untuk selamanya.


.


.


.


.


.


Bara terduduk lemas di kamarnya, rasanya dia tidak lagi bisa berdiri.


Setelah 1 jam yang lalu, papa dan mamanya dinyatakan meninggal, Bara hanya diam tak membuka suara sejak dari rumah sakit.


Rasanya baru kemarin dia bercanda dengan papanya, tapi sekarang kini semua menghilang selamanya.


Dan tak akan pernah kembali.


Bara menghapus air matanya, dia berusaha untuk menguatkan dirinya.


Kasihan Rendy mungkin kini sedang menemui semua para tamu.


Dengan sangat berat Bara berusaha untuk melangkahkan kakinya keluar kamar.


Dia harus kuat.


Bara keluar dari lift dan benar saja di kediaman Bradsiton kini sudah dipenuhi oleh banyak karangan bunga.


Juga pejabat- pejabat tinggi yang berbaju hitam.


Bara tidak kuat untuk menyaksikan ini semua, dia hendak kembali masuk ke dalam lift namun Rendy menahannya.


"Ayo gue temani lo," kata Rendy berusaha untuk menguatkan Bara meski dirinya sendiri juga tak mampu untuk menerima kenyataan pedih ini.


Bara menatap Walles dan juga Reynald yang baru saja datang dengan senyum andalannya.


"Lo harus bisa tahan emosi lo," bisik Rendy kala melihat kilatan dari tatapan Bara pada Walles dan Reynald yang baru saja datang.


"Tuan Aldebaran, kita berdua turut berduka cita atas meninggalnya papa dan mama kamu," kata Walles sambil memeluk Bara dan menepuk pelan punggungnya.


"Gue enggak nyangka kalau mereka bakal pergi secepet ini," kata Reynald mendramatisir agar terlihat begitu menyedihkan.


"Gue enggak butuh kedatangan kalian, jadi silahkan kembali, rumah ini tidak menerima kedatangan orang seperti kalian berdua," kata Bara dengan penuh penekanan.


"Astaga tuan Bara kami ke sini berniat baik dan ikut belasungkawa atas kematian kedua orang tua kamu," perkataan Walles mampu memancing emosi Bara.


Bara meraih kerah Walles dan menatap tajam dan nyalang orang tua itu.


"Dengerin baik- baik, meski ke ujung dunia manapun, gue bakal hancurin anak keturunan lo sampai kapanpun,"


Bugh


Walles memukul Bara membuat dia sedikit terhuyung ke belakang.


Rendy membantu membangunkan Bara dan menatap kesal pada kedua orang pembuat onar ini.


"Lebih baik jika kalian tadi tidak datang, kedatangan kalian hanya membuat suasana menjadi kacau," kata Rendy sambil menatap Walles juga Reynald.


"Anak pungut kayak lo enggak punya hak buat ikut campur," kata Reynald sukses membuat Bara maju dan memukul Reynald hingga jatuh.


Bara membabi buta menghajar Reynald tanpa ampun.


Bahkan Walles juga Rendy kewalahan untuk menjauhkan Bara dari Reynald.


"Pengawal," teriak Rendy membuat beberapa pengawal berbaju hitam langsung datang lalu memisahkan Bara dari Reynald.


"Tolong bawa mereka keluar," kata Rendy pada pengawal.


"Bar tenangin diri lo, ini hari duka papa dan mama," kata Rendy sambil menepuk pipi Bara agar tersadar dari emosinya.


"Kita mulai sekarang ya upacaranya?" tanya Rendy sambil membantu Bara berdiri.


□■□■


Setelah upacara selesai dan pemakaman juga selesai.


Bara langsung mengendarai mobilnya meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan Rendy.


Dengan kecepatan di atas rata- rata Bara mengendarai mobilnya dan entah kemana dia akan pergi.


Cittt


Bara menghentikan mobilnya di dekat sungai lalu keluar dan berteriak dengan sangat keras.


"Aaaaarghhhhhhhh,"



"Tuhan kenapa kau begitu tak adil, kenapa harus papa dan mama," teriak Bara dengan sangat keras.


Karena sangat sepi jadi tidak akan ada orang yang akan terganggu.


"Kenapa harus mereka berdua yang kau ambil," gumamnya pelan lalu meringsut dan terduduk di tanah.


Bara menangis dalam diam, dan itu adalah tangisan paling menyedihkan.


"Apa kau tidak tahu betapa hancurnya hidupku tanpa mereka berdua?" tanyanya entah pada siapa.


"Kenapa harus secepat ini mereka pergi," kata Bara dengan nada yang parau karena isak tangisnya.


Bara meraba ponselnya dalam saku, seketika dia teringat akan seseorang.


Sela


Bara langsung menelpon Sela, panggilan pertama tidak ada jawaban.


Kemana dia pergi?


Apa dia masih kuliah?


Sepertinya tidak mungkin, apa mungkin saja Sela tertidur.


Hingga 20 panggilan tidak ada jawaban dari Sela.


Kemana dia pergi?


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


__ADS_2