Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Kesalahpahaman


__ADS_3

□□□


Gabriela sedang menunggu ayahnya siuman.


Sudah 2 hari ini ayahnya selesai dari operasi tidak kunjung sadar juga.


"Yah maafin Gabriela," gumam Gabriela pelan sambil menggenggam tangan ayahnya.


Gabriela menatap sendu dan sedih ayahnya yang terkapar tak berdaya seperti ini.


Rasanya Gabriela begitu menyesal meninggalkan ayahnya setelah pertengkaran malam itu.


Gabriela mengusap air matanya dan teringat sesuatu.


"Ayah Gabriela pergi bentar yaa," pamit Gabriela lalu bergegas pergi keluar dari ruangan ayahnya.


Gabriela mencari taksi dan menuju rumah.


Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


"Pak buruan," kata Gabriela pada sopir taksi.


Mobil melaju dengan sangat cepat untuk sampai ke rumah Gabriela.


Beberapa menit Gabriela sudah sampai di depan rumahnya.


Lalu buru- buru pergi ke pos rekaman cctv dekat rumahnya.


"Permisi pak, apa boleh saya melihat rekaman cctv di rumah saya?" tanya Gabriela pada petugas keamanan komplek rumahnya.


"Silahkan untuk rumah nomor berapa?" tanya petugas rekaman.


"23,"


Petugas keamanan langsung memeriksa untuk rekaman cctv rumah nomor 23.


"Ini," kata petugas keamanan memperlihatkan rekaman rumah Gabriela.


Gabriela mengamati rekaman cctv di rumahnya.


Apa Sela?


Gabriela melihat riwayat rekaman untuk satu minggu ke belakang.


Ternyata selama ini yang selalu datang untuk memberi makanan dan juga obat adalah Sela.


Dan terakhir kali Sela mengantarkan makanan pada dua hari yang lalu.


Setelah pertengkaran Gabriela dengan ayahnya.


"Makasih pak," kata Gabriela lalu berjalan menuju rumahnya.


Gabriela masuk ke dalam kamar ayahnya.


Dan memeriksa makanan yang begitu banyak Sela kirimkan untuk ayahnya.


Gabriela melihat beberapa bungkus obat lalu membawanya beberapa lembar dan memasukkan ke dalam jaket.


Gabriela akan membawanya ke rumah sakit, agar obat- obatan ini diperiksa oleh dokter.


"Pak kita balik lagi ke rumah sakit," kata Gabriela yang kembali naik taksi.


Taksi bergegas pergi menuju rumah sakit.


Gabriela melihat ke luar jendela, ada rasa senang dan juga dendam pada Sela.


Senang karena tahu jika ia masih peduli dengan ayahnya.


Dendam saat tahu ayahnya keracunan akibat ulahnya atau bukan.


Gabriela belum bisa memastikan sebelum tahu obat apa yang Sela berikan pada ayahnya setiap hari.


"Sudah sampai non," kata sopir taksi membuat Gabriela tersadar dari lamunannya.


Gabriela memberikan ongkos lalu buru- buru masuk ke dalam rumah sakit untuk memberikan obat ini agar diteliti oleh dokter.


Gabriela langsung menuju lab untuk memberikan obat tersebut pada dokter yang memeriksa ayahnya.


"Dok saya menemukan obat ini, tolong periksa apakah ini yang menyebabkan ayah saya keracunan?" kata Gabriela memberikan selembaran obat yang tadi dia ambil.


"Bentar ya akan saya teliti terlebih dahulu," Gabriela duduk di depan lab sambil menunggu hasil pemeriksaan obat ayahnya.


"Awas aja lo Sel, sampai obat ini terbukti yang telah meracuni ayah, gue enggak bakal maafin lo," gumam lirih Gabriela.


Ceklek


Pintu Lab terbuka menampilkan dokter yang telah selesai meneliti obat yang Gabriela berikan.


"Bagaimana dok, apa obat itu berbahaya?" tanya Gabriela merasa sangat penasaran.


"Darimana kamu dapat obat- obatan ini?" tanya dokter itu sambil membuka maskernya. Gabriela sedikit kelagapan.


"Emm ini saya beli di apotek," bohong Gabriela karena bingung dan juga sedikit panik.


"Obat ini bernama Opiate, biasanya para dokter yang menggunakannya untuk treatment luka, dan enggak sembarang apotek bisa menjual sembarang obat ini,"


"Selain dia bisa membuat kecanduan yang tinggi jika mengonsumsi berlebihan akan membuat sang pengguna bisa mati mendadak dan terlebih ayahmu menderita tumor yang sudah semakin parah,"


pernyataan dari dokter membuat jantung Gabriela seakan berdetak sangat lambat.


"Mulai sekarang kamu harus waspada dalam membeli obat dan jaga ayahmu," kata dokter itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Gabriela yang masih syok dengan pernyataan barusan.


"Lihat aja gue bakal buat perhitungan dan lo bakal membayar semua yang lo lakuin sama gue," Gabriela beranjak dari tempat duduknya dan pergi entah kemana.


♡♡♡


Hari ini Sela dan Bara sudah pulang dari liburan.


Lantaran karena satu hari sebelum ke London, Sela harus masuk ke kampus untuk terakhir.


Selain untuk pamitan dengan semua teman kelas juga untuk mengurus beberapa berkas untuk keperluan kuliah di sana.


Kesal, marah dan jengkel.


Udah pasti Bara rasakan seperti sekarang ini.

__ADS_1


Sejak pulang dari Korea dia tidak henti- hentinya memaki Mr. John dan terus menggerutu.


Seperti saat ini Bara sedang mengantarkan Sela ke kampus.


Tapi oh tapi reader


Bara sejak tadi terus saja memegang tangan Sela supaya tidak turun dari mobil.


"Tuan ayolah 5 menit lagi kelas udah mau masuk, bisa- bisa saya telat nanti," kata Sela merengek agar Bara melepaskan tangannya.


"Sayang mending enggak usah kuliah ya, ayo kita pulang aja," kata Bara yang kini beralih menempelkan kepalanya di lengan Sela.


"Ini kan udah nyampek kampus, masak iya mau balik lagi sih. Ayo dong tuan kurang 4 menit lagi udah masuk, entar kan juga pulang sih," kata Sela yang mulai kesal dengan Bara.


"Cium dulu," kata Bara mendongak menatap Sela dengan tatapan yang sangat menggemaskan.


"Kan mulai deh, ayo dong tuan," kata Sela sambil mencoba melepaskan tangan Bara yang terus saja bergelayutan di lengannya.


"Cium," kata Bara membuat Sela menghela napas pelan dan menatap sekitar.


"Enggak ada orang kok udah....,"


Cup


"Udah ah saya mau masuk dulu," kata Sela yang buru- buru turun dari mobil setelah mencium pipi kanan Bara.


Sedangkan Bara tertegun hingga dia tidak sadar jika mangsanya udah pergi.


"Astaga rasanya kayak disengat listrik," kata Bara lalu berjingkrak- jingkrak di dalam mobil hingga bergoyang.


"Mimpi apa gue semalem ya tuhan," kata Bara yang masih tidak percaya sama yang Sela lakukan barusan.


"Ok gue enggak bakal cuci muka kalau Sela yang nyium," kata Bara sambil ketawa- ketiwi sendiri.


Setelah puas berbicara sendiri Bara melajukan mobilnya menuju kantor.


Rasanya dia tidak puas dengan liburan kemarin malam.


Tapi seenggaknya Bara puas saat dia bisa menghabiskan banyak waktu dengan Sela.


Terlebih saat malam itu, Sela yang begitu cantik hingga membuat dirinya hampir saja tidak bisa menahan diri.


"Arghhhh kenapa gue harus menahan diri sampek 2 tahun coba. Untung aja gue masih bisa tahan kemarin malem kalau enggak," kata Bara tak lagi sanggup mengatakannya.


"Baru kali ini gue gila sama cewek," gumam lirih Bara.


Sedangkan di dalam kelas Sela sedang memperhatikan dengan seksama penjelasan Mr. John tentang kuliah di Hardvard.


Kelas hanya diisi oleh tiga orang mahasiswa yang besok akan berangkat ke Hardvard.


Jadi, untuk lebih detail dan jelasnya Mr.John memberikan perincian dengan sangat jelas.


Mulai dari perkuliahan di sana, kehidupannya, asrama dan peraturan- peraturan yang harus ditaati saat kuliah di sana.


Sela begitu terheran saat Mr. John menyebutkan bahwa ada peraturan yang sangat membagongkan.


Yaitu sekolah ataupun kuliah, mereka tidak diperbolehkan untuk mempunyai sahabat.


Mereka harus mandiri dalam segala keseluruhan dalam sekolah ataupun kuliah.


Awalnya Sandra menentang penjelasan Mr. John jika mereka tidak boleh memiliki sahabat dalam sekolah ataupun kuliah.


Sebab anak- anak yang mendapatkan beasiswa akan tinggal di asrama.


"Jadi, apa kalian sudah paham dengan semua penjelasan saya?" tanya Mr.John kepada ketiga orang ini.


"Mister selama kita kuliah di sana apa kita bisa untuk pulang ke sini hanya beberapa waktu?" tanya Dico satu- satunya cowok yang mendapatkan beasiswa Hardvard.


"Maaf Dico itu tidak bisa, sudah ketentuan jika mahasiswa yang mendapatkan beasiswa luar negeri tidak diperbolehkan untuk pulang ke negaranya sebelum menyelesaikan pendidikannya dan kamu sudah tahu pastinya Hardvard kampus yang sangat ketat," kata Mr.John yang membuat ketiga mahasiswanya menghela napas pelan.


"Jika semua sudah jelas kita akhiri hari ini, dan ingat satu hal jam 11 besok kalian sudah harus berada di bandara, saya akan menunggu kalian dan mengantar sampai sana,"


"Paspor, kunci asrama dan juga kertas beasiswa kalian jangan lupa untuk dibawa, sudah itu saja jangan lupa untuk istirahat dan tetap semangat untuk besok," kata Mr. John lalu keluar kelas setelah selesai menjelaskan segalanya tentang perkuliahan di Hardvard.


"Huaaa Sela, gimana dong kalau kita enggak bisa temenan waktu di kampus," kata Sandra yang merengek pada Sela.


"Enggak papa yang penting kan kita bisa satu asrama," kata Sela yang membuat Sandra semakin uring- uringan.


"Tau lo San, gitu aja lebay. Dah ya gue cabut dulu mau siapin semua perlengkapan," kata Dico yang pamit untuk pulang lebih dulu.


"Iya," jawab Sela.


"Udah selesai?" tanya seseorang di ambang pintu.


Sela dan Sandra menoleh mendengar suara serak tersebut.


Dewa


"Dewa?" kata Sela yang sedikit bingung.


Ini cowok ngapain coba di sini, apa dia menjemput Sandra.


Dewa berjalan masuk menghampiri dua perempuan yang masih saja diam.


"Ayo pulang gue anter," Sela mengerjapkan matanya beberapa kali mendengar ucapan Dewa.


"Tunggu- tunggu, aku enggak salah denger kan, barusan kamu ngajakin Sandra pulang?" tanya Sela yang masih bingung sama ini semua.


Tak


Dewa menyentil kening Sela dan tersenyum puas.


"Sakit tauk," Sandra tertawa melihat wajah kesal Sela.


"Sandra kamu jadian sama Dewa kok enggak bilang- bilang sih," kata Sela pada Sandra.


"Emang siapa sih yang jadian, rumah kita emang searah jadi sekalian deh nebeng," kata Sandra yang terdengar hanya sebuah kebohongan.


"Udah ayo pulang," kata Dewa yang sudah bosan menunggu kaum hawa ini berdebat.


"Sel kamu pulang sama siapa? Dijemput tuan Bara kan?" tanya Sandra yang dijawab gelengan kepala.


"Aku sama pak Asep, tuan Bara lagi ada urusan di kantor," kata Sela sambil menyambar tasnya.


"Yaudah gue duluan ya," Sela hanya mengangguk dan berjalan menyusul Sandra dan Dewa menuju parkiran.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


Bara sedang memimpin jalannya rapat yang ia adakan dadakan pagi ini.


Rapat ini hanya sebentar karena hanya meninjau beberapa proyek yang dua bulan ke depan akan mereka kerjakan.


"Kalau begitu rapat pagi ini sampai di sini saja, terima kasih buat waktunya," kata Bara mengakhiri jalannya rapat.


"Tuan Bara," panggil Rendy karena masih banyak beberapa orang di dalam ruangan meeting.


"Ehh dicari noh ama musuh bini lo," kata Rendy membuat Bara mengernyit bingung.


"Siapa?" tanya Bara yang memang tidak mengerti dengan ucapan Rendy.


"Gabriela siapa lagi masak gue, gue kan calon suaminya," kata Rendy yang langsung ngibrit keluar sebelum kena tendang keluar sama Bara.


Bara langsung bergegas menuju ruangan tamu.


Dan benar saja terlihat Gabriela sedang duduk menunggunya.


"Ada apa lo kesini?" tanya ketus Bara sambil duduk di hadapan Gabriela.


Gabriela mengeluarkan kertas hasil penelitian dokter tentang obat itu dan menyodorkannya ke hadapan Bara.


Bara menatap kertas di depannya lalu membaca keseluruhannya.


"Apa maksud lo?" tanya Bara sambil melemparkan ke meja kertas yang tadi Gabriela berikan.


"Itu semua ulah gadismu hingga membuat ayahku masuk rumah sakit dan sampai sekarang belum juga sadarkan diri," kata Gabriela yang juga terpancing emosinya.


Gabriela merogoh ponselnya lalu menunjukkan rekaman cctv di rumahnya yang ia salin ke ponselnya.


"Lo liat aja sendiri," kata Gabriela yang mengirimkan rekaman cctv ke ponsel Bara.


Bara melihat dalam rekaman itu Sela terus berkunjung tiap hari dengan kantong plastik di tangannya.


"Enggak mungkin," kata Bara tidak melanjutkan vidio yang merekam Sela. Gabriela hanya tersenyum miring.


Sudah ia duga, pasti Bara tidak akan percaya dengannya.


Bara sedikit berpikir, memang dua minggu belakangan Sela meminta agar pulangnya dijemput pak Asep.


Apa mungkin?


Tanpa mengatakan apapun pada Gabriela Bara langsung pergi begitu saja sambil menyambar kertas yang tergeletak di atas meja.


"Lo liat aja Sela, kali ini gue enggak akan main- main," gumam lirih Gabriela yang kemudian juga beranjak dari kantor Bara menuju rumah sakit.


Bara sudah sampai di rumah dan terlihat pak Asep sudah pulang.


Buru- buru Bara masuk ke dalam rumah dan menemui Sela.


Di lantai 3 tidak terlihat ada Sela, apa mungkin ia sedang berada di kamarnya.


Ceklek


Bara membuka pintu kamar Sela dan lupa untuk mengetuknya.


"Maaf saya lupa mengetuk pintu," kata Bara saat melihat Sela sedang berbaring di queen sizenya dengan beberapa baju yang sudah tertata rapi di dalam koper.


"Ada apa tuan?" tanya Sela bingung saat melihat wajah Bara.


Bara hanya memberikan Sela selembaran kertas yang tadi Gabriela berikan.


Sela membaca dengan seksama isi dari kertas itu.


"Apa maksud ini semua tuan?" tanya Sela yang tidak mengerti dengan penjelasan obat dan juga keterangan penyakit ayah Gabriela.


"Sela apa kamu selalu berkunjung ke rumah Gabriela?" tanya Bara membuat Sela terdiam.


"Obat apa yang kamu berikan pada ayahnya? Bukankah kamu sudah menganggapnya seperti ayah kamu sendiri?" Sela mengangkat kedua alisnya tidak mengerti.


"Maksud tuan?" tanya Sela membuat Bara mengusap gusar wajahnya.


"Ayah Gabriela masuk rumah sakit dan Gabriela menganggap jika kamu yang membuat ayahnya keracunan," Sela menjatuhkan kertasnya dan menutup mulutnya terkejut.


"Lalu bagaimana keadaan ayah sekarang?" tanya Sela membuat Bara menghela napas.


"Sekarang jawab, obat apa yang kamu berikan pada ayah Gabriela? Lantas kenapa kamu tidak pernah izin sama saya jika selalu berkunjung ke rumah Gabriela?" Bara mulai emosi pada Sela.


"Tuan nanti akan saya jelaskan tolong antarkan saya ke rumah sakit," kata Sela yang panik sambil menyambar tasnya.


"Sela jawab dulu pertanyaan saya, apa obat yang kamu berikan? Kenapa ayahnya Gabriela bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya Bara sambil memegang kedua bahu Sela.


"Tuan apa anda tidak percaya sama saya, mana mungkin saya melakukan hal itu," kata Sela yang kini matanya mulai berkaca- kaca.


"Bukan saya enggak percaya cuma rekaman cctv di rumah Gabriela merekam setiap hari hanya kamu yang berkunjung ke rumahnya dengan kantong plastik yang berisi makanan," kata Bara membuat Sela menurunkan bahunya pasrah.


□□□


Walles dan Reynald sedang bersantai di rooftop kantor dengan kopi panas yang menemani mereka.


"Sela besok akan pergi ke London lantas kapan rencanamu dijalankan," kata Reynald membuka obrolan mereka.


"Mudah saja, kita tunggu hingga dia kembali," kata Walles menjawab dengan santai.


"Apa kau gila, itu sangat lama, 2 tahun," kata Reynald kesal.


"Kenapa, kita bisa fokus saja untuk menghancurkan Bara, baru memanfaatkan Sela," kata Walles membuat Reynald mengangguk paham.


"Memang apa yang kau rencanakan dengan memanfaatkan Sela?" tanya Reynald penasaran karena Walles jarang sekali memberitahukan rencananya.


"Kau akan tahu nanti," kata Walles sambil tersenyum samar dan menyesap kopi panasnya.


"Bagaimana dengan plan b, apa kau sudah membersihkan semua jejakmu?" tanya Reynald membuat Walles menatapnya.

__ADS_1


"Tentu aku sudah menghilangkan semua jejakku, termasuk rekaman cctv itu," jawab Walles santai dan diiringi dengan senyumannya.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2