
□□□
Gabriela merasa puas dengan apa yang dia dapatkan.
Foto Sela bersama Reynald juga kemarahan Bara pada Sela.
Ok, kita mainkan pertunjukkan ini sekali lagi di kampus.
Reynald menghampiri Gabriela yang sedang memainkan ponselnya.
"Apa menurutmu Bara begitu marah saat tahu gadisnya di club?" tanya Reynald sambil meminum alkoholnya.
"Tentu, tuan juga pasti sudah melihatnya," kata Gabriela tersenyum sumbang.
"Lain kali kita buat yang lebih baik dari ini," kata Reynald lalu pergi meninggalkan Gabriela.
Gabriela meraih tasnya lalu menyusul Reynald yang keluar dari club.
Sepertinya Reynald sudah mabuk berat.
Gabriela akan membantunya membawa ke hotel.
"Tuan mari saya antar pulang," kata Gabriela sambil membantu memapah Reynald.
"Tidak perlu menjauhlah," kata Reynald sambil mendorong Gabriela untuk tidak memapahnya.
"Tapi anda sudah mabuk, bagaimana anda akan menyetir?" kata Gabriela kembali memapah Reynald.
"Pergilah, sebelum aku marah," usir Reynald sambil berjalan sempoyongan.
Bukan Gabriela namanya kalau menyerah begitu saja dan pergi.
Dia kembali memapah Reynald menuju mobilnya.
"Biar saya aja yang mengantarnya pulang," kata Jessy lalu mengambil alih Reynald dan memapahnya menuju mobil Jessy.
"Ish siapa sih itu cewek, ngeselin banget jadi orang," gerutu Gabriela saat Jessy selalu menggagalkan semua rencananya untuk mendekati Reynald.
Jessy membawa Reynald menuju rumahnya dengan mobilnya, biarlah mobil Reynald diambil bodyguardnya.
Jessy meletakkan Reynald di kemudi belakang lalu kembali memutari mobilnya untuk mengemudi.
Malam sudah begitu larut, untungnya tadi Jessy melihat Reynald dengan perempuan penggoda itu.
Jessy sedang ada keperluan di dekat club dan tidak sengaja melihat Reynald dengan wanita itu.
Cittttt
Mobil Jessy sudah sampai di depan rumah Reynald.
"Pak tolong bawa Rey masuk," kata Jessy turun dari mobil dan menghampiri bodyguard yang berjaga.
"Baik non," para bodyguard langsung membawa Reynald masuk ke dalam kamarnya.
"Terima kasih pak," kata Jessy setelah mengantarkan Reynald ke kamarnya. Mereka semua kembali berjaga.
Jessy menatap Reynald yang meracau tidak jelas.
Jessy membantu melepaskan sepatunya dan ikat pinggang Reynald.
Tidur begini pasti tidak nyaman bukan.
Jessy beralih untuk melepaskan dasi Reynald.
Reynald membuka matanya, dia masih bisa melihat dengan jelas jika ini adalah Jessy.
Reynald menarik Jessy ke king size hingga dia sedikit terkejut.
Reynald menatap mata indah milik Jessy, meski dia sedikit mabuk, untuk melihat Jessy masih tetap jelas.
"Jessy apa kau tahu, perasaanku masih tetap sama padamu," kata Reynald sambil mengunci kedua tangan Jessy membuat Jessy sulit untuk bergerak.
"Rey sadarlah kamu sedang mabuk," kata Jessy mencoba memberontak untuk melepaskan genggaman tangan Reynald yang mengunci tangannya.
"Kenapa kamu selalu menghindariku bahkan pergi dari hidupku?" kata Reynald sambil menatap mata hazel Jessy.
Tes
Air mata Jessy turun begitu saja tanpa aba- aba.
Reynald juga masih bisa melihat air mata Jessy turun.
Perlahan genggaman tangan Reynald memudar dari tangan Jessy.
Reynald mencium kening Jessy dengan sangat lama dan lembut.
Reynald beralih berbaring di samping Jessy dan memeluknya erat.
"Untuk kali ini jangan pergi lagi, aku merasa tidak ada harapan hidup lagi," bisik Reynald tepat di dekat telinga Jessy.
Jessy berusaha untuk bangun namun Reynald menarik tangan Jessy hingga kembali berbaring di sampingnya.
"Aku mohon jangan terus menghindariku," gumam Reynald lirih di dekat telinga Jessy.
Jessy hanya diam tidak merespon.
Nafas yang tenang dan teratur mulai terdengar.
Itu tandanya Reynlad sudah tertidur dengan tangan yang memeluk erat perutnya.
Jessy memandang langit- langit kamar, mengingat setiap perkataan Reynald barusan.
Memang benar, saat kita mabuk, mereka akan mengatakan segala kekesalannya.
Apa hati Reynald begitu sakit setelah dia meninggalkannya beberapa tahun lalu.
Ah rasanya Jessy tidak lagi ingin mengingat hal itu.
Tit tit tit
Perlahan mata Reynald terbuka, dengan setengah kesal dia bangun untuk mematikan alarm.
__ADS_1
Dia tidak pernah menyalakan alarm, siapa yang berani- beraninya memasang alarm.
Reynald teringat sesuatu, Jessy ya tadi malam Reynald pulang bersama Jessy.
Dan dia juga tidur di samping Reynald, lalu di mana dia.
Pasti yang memasang alarm juga Jessy, siapa lagi kan.
Reynald bergegas turun ke bawah siapa tahu Jessy masih berada di sini.
Reynald melihat meja makan sudah penuh dengan sarapan pagi.
Apa Jessy yang memasak?
Reynald keluar untuk mencari bodyguardnya.
"Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya bodyguardnya saat tahu Reynald sudah bangun.
"Hm pak kemarin malam siapa yang mengantar saya pulang?" tanya Reynald sambil memegangi kepalanya karena masih terasa pengar.
"Nona Jessy tuan," jawab bodyguard itu. Reynald hanya mengangguk lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Reynald menuju meja makan dan mendapati ada sop panas untuk menghilangkan rasa pengarnya.
Reynald tersenyum sekilas, beruntung yang membawanya pulang Jessy bukan Gabriela.
Reynald cepat- cepat sarapan dan pergi ke kantor untuk menemui Jessy.
□□□
Pagi- pagi buta tadi Rose memaksa suaminya untuk mengantarnya ke rumah putranya, Bara.
Rose langsung masuk ke dalam rumah, kenapa sepi di mana Bara.
"Apa dia belum bangun?" tanya Rose pada suaminya karena sangat sepi.
"Coba di lantai atas ma," kata Bradsiton lalu diangguki Rose dan langsung menaiki lift menuju lantai atas.
Rose langsung menuju kamar Bara berniat untuk membangunkannya.
Ceklek
Rose dan Bradsiton saling memandang saat Bara dan Sela tidur di sofa bersama dengan Bara memeluk Sela dari belakang.
Bradsiton yang tahu apa yang akan terjadi langsung menutup telinganya.
"Baraaaaaa," teriak Rose membuat Bara dan Sela yang tadinya masih tidur seketika terbangun.
"Mama,"
"Tante,"
kata mereka bersamaan karena terkejut dengan teriakan Rose.
"Tante, Sela bisa jelaskan, ini semua tidak seperti yang tante lihat," kata Sela yang langsung berdiri dari sofa dan takut jika Rose salah paham.
Rose berjalan mendekati mereka berdua lalu menjewer telinga Bara.
"Aduh mama sakit, papa kemarin bilang suruh cepet bikin cucu, giliran mau dibuatin, sekarang di marahin," Rose malah semakin menarik telinga Bara.
"Kamu ya bener- bener, enggak papanya enggak anaknya, sama aja," kata Rose membuat Bradsiton mengernyit bingung.
"Lah kok papa sih ma," protes Bradsiton pada istrinya.
"Oh jadi dia bukan putranya papa?" tanya Rose membuat Bradsiton serba salah.
"Terus Bara anak siapa dong?" tanya Bara masih sempat- sempatnya bercanda.
"Pak Asep," jawab Rose dan Bradsiton bersamaan, membuat Sela menahan tawanya.
Rose beralih menatap Sela, mengangkat dagu Sela meneliti jika ada yang terluka pada tubuh Sela.
"Sayang kamu enggak papa kan, apa Bara macam- macam sama kamu?" tanya Rose pada Sela dengan pelan dan lemah lembut sambil membelai rambut panjang Sela.
"Enggak tan," jawab Sela ragu sambil melirik Bara seakan menutupi kebohongan yang terjadi malam tadi.
"Sebenarnya anak mama Sela apa Bara sih?" tanya Bara yang kesal melihat mamanya saat bersikap lemah lembut pada Sela tapi tidak padanya.
"Kamu anak papa, ayo udah kita keluar sebelum ada high heels yang melayang," kata Bradsiton menarik tangan Bara keluar dari kamarnya membiarkan kedua wanita kesayangan mereka mengusai dunianya.
Bradsiton menutup pintu kamar Bara, Rose beralih menatap Sela sayang.
Rose menarik tangan Sela pelan untuk duduk di tepi king size Bara.
"Sayang, apa hari ini kabar kamu baik- baik saja?" tanya Rose sambil mengelus kepala Sela sayang.
"Iya tante, bagaimana kabar tante?" tanya balik Sela pelan dan juga sopan.
"Mama bukan tante," kata Rose membuat Sela tersenyum kikuk, rasanya begitu canggung saat memanggil Rose mama.
"Coba panggil mama," kata Rose meminta pada Sela untuk memanggilnya mama.
"Mama," panggil Sela sedikit canggung dan juga sungkan, Rose tersenyum melihat Sela yang merasa sungkan.
"Sayang, kemarin sore Bara datang ke rumah mama, dia bilang kamu daftar beasiswa di Universitas Hardvard dan kamu salah satu mahasiswa yang lolos," Sela menatap sendu mata Rose.
"Mama tahu, mungkin kamu merasa terbebani dengan semua pemberian Bara. Tapi sayang, semua Bara lakukan karena dia sayang dan tulus sama kamu," seakan hati Sela berdesir mendengar perkataan Rose.
Bara memang laki- laki yang gentleman dan juga bertanggung jawab.
Selama mereka tinggal satu atap, Bara juga tidak bertindak macam- macam padanya.
Hanya tadi malam Bara sedikit minum juga emosi jadi bersikap kurang sopan pada Sela.
"Seumur mama sampai di usia setua ini, mama belum pernah sayang melihat Bara menangis hanya karena perempuan, kecuali mama," lagi- lagi rasa bersalah dan juga detak jantung yang berirama tak beraturan bersamaan Sela rasakan.
"Mama tahu, kamu bukanlah seperti wanita di luar sana, kamu selalu merasa sungkan untuk menerima pemberian dari orang lain dan tidak mau merepotkan orang lain," puji Rose akan sikap Sela yang baik.
"Andai tuhan nanti berkehendak untuk menakdirkan kamu menjadi menantu mama, mama enggak akan menuntut kamu sayang untuk menjadi wanita yang sebanding dengan Bara,"
"Banyak wanita karier yang sukses di luar sana, kaya, cantik hidupnya tidak kekurangan apapun mendekati kata sempurna, tapi apa itu semua tidak berarti jika mereka tidak memiliki hati yang tulus sepertimu," kata Rose sambil menunjuk hati Sela.
__ADS_1
"Semua itu tidak ada artinya sayang saat mereka tidak memiliki atitude yang baik," kata Rose sambil merengkuh tubuh Sela dan memeluknya sayang.
"Udah mandi sana dulu, mama tunggu di bawah ya," kata Rose hendak keluar dari kamar Bara.
Namun, Rose teringat sesuatu sebelum menutup pintunya Rose menggoda Sela.
"Sayang, jangan kuliah dulu ya hari ini," kata Rose membuat Sela mengernyit bingung.
"Entar seantero kampus geger lagi liat tanda merah di leher kamu," kata Rose sambil menahan senyum lalu menutup pintunya.
Spontan Sela menutupi bagian lehernya dan bercermin.
"Ahhh dasar buaya," gerutu Sela karena ulah Bara dia malu di depan Rose.
Bagaimana bisa Rose baru memberitahunya padahal mereka berdua mengobrol sejak tadi.
.
.
.
.
.
Bara dan Bradsiton sedang duduk di balkon lantai 2 sambil menikmati secangkir kopi panas.
"Son, kapan kamu akan melamar Sela?" pertanyaan Bradsiton yang mendadak membuat Bara sedikit tersedak.
"Pa, ya jangan buru- buru juga kali," protes Bara pada papanya.
Bradsiton menyesap kopi panasnya sambil tersenyum samar.
"Entar diambil orang baru tahu rasa kamu," ejek Bradsiton.
"Haha enggak bakalan, Sela orangnya dingin banget sama cowok, Bara aja susah banget luluhin hatinya apalagi cowok lain," kata Bara percaya diri.
"Tapi itu buktinya kamu bisa buat tanda merah di lehernya," goda Bradsiton membuat Bara mengalihkan tatapannya karena malu.
"Son, kalau emang kamu serius sama Sela, buruan nyatain perasaan kamu, cewek enggak bisa menunggu terlalu lama tanpa kepastian," ok sekarang wejangan untuk Bara mulai terdengar.
"Tapi Bara takut pa, setelah Bara nyatain perasaan yang selama ini Bara pendam, Sela akan menjauhi Bara," kata Bara sambil menunduk lesu.
"Bara enggak bisa jika harus jauh apalagi terhalang jarak dengan Sela," gumam lirih Bara membuat Bradsiton menepuk pelan bahu Bara.
"Son masalah diterima atau enggak itu urusan belakang, mau nanti Sela menjauh atau enggak itu urusan nanti, kalau kamu masih tetep stuck di sini aja, kapan ada kemajuannya son," kata Bradsiton memberikan pencerahan pada putranya ini.
"Mama bilang Sela lolos pengajuan beasiswa di Hardvard kan? Sebelum kamu ditinggal Sela, buruan nyatain perasaan kamu," kata Bradsiton terus mendorong agar Bara cepat nyatain perasaannya.
"Pa kalau Bara enggak izinin Sela buat nerima beasiswa itu gimana menurut papa? Boleh enggak?" tanya Bara meminta pendapat pada papanya.
"Son kalau kamu emang sayang sama Sela, jangan halangi dia untuk menggapai cita- citanya, entar dia udah sukses siapa yang seneng punya istri cantik, berpendidikan tinggi lagi, kamu juga kan," kata Bradsiton memberikan gambaran pada Bara.
"Tapi pa 2 tahun itu bukan waktu yang sebentar, Bara mana kuat ditinggal lama gitu," gerutu Bara membuat Bradsiton tertawa melihat ekpresi Bara.
"Kamu emang ya, enggak pernah deket sama cewek sekalinya deket sayangnya serasa dunia milik kita berdua," goda Bradsiton membuat Bara menatap kesal papanya.
"Enggak papa enggak mama, seneng banget godain Bara," kata Bara sambil menyesap kopinya.
"Udahlah Bara mau ke kamar dulu," pamit Bara meninggalkan papanya di balkon.
"Papa sama mama belum pulang, jangan berniat untuk membuat cucu saat kami di sini," goda Bradsiton setengah berteriak.
Rose keluar dari lift dan berpapasan dengan Bara yang akan naik ke lift untuk ke kamarnya.
"Kemana kamu?" tanya mamanya ketus pada Bara.
"Ke kamar lah ma buat cucu," teriak Bradsiton yang mendengar perkataan istrinya. Bara berdecak kesal pada papanya.
"Awas ya sampai kamu macem- macem sama anak mama Sela, mama coret kamu dari kartu keluarga," ancam Rose lalu melenggang pergi ke dapur.
"Ya tuhan sebenarnya siapa di sini yang menjadi anaknya," gumam lirih Bara sambil menaiki lift.
Bara menuju kamarnya, semoga aja Sela masih di kamarnya.
Bara membuka pintu kamarnya bersamaan dengan Sela yang hendak keluar.
"Mau kemana?" tanya Bara masuk ke dalam kamar sambil menghalangi pintunya agar Sela tidak pergi keluar.
"Emm saya mau ke kamar," jawab Sela yang entah kenapa dia mendadak gugup saat Bara menatapnya.
"Boleh aja sih keluar, tapi ada syaratnya," kata Bara sambil tersenyum devil.
Sela menatap mata Bara sekilas, terlihat sangat ketus.
Bara berjalan maju mendekati Sela, lalu sedikit merunduk untuk mensejajarkan tingginya dengan Sela.
Bara menunjuk lesung pipinya membuat Sela tidak mengerti.
"Kiss morning dulu baru boleh keluar," kata Bara membuat Sela melotot tak percaya.
Sela melihat pintu yang sejak tadi tertutup lalu beralih menatap Bara.
"Tapi tuan harus tutup mata terlebih dahulu," Bara tersenyum senang dan langsung memejamkan matanya menunggu ciuman dari Sela.
Sela berlari menuju pintu dan langsung pergi ke kamarnya membuat Bara baru menyadari jika dirinya kini ditipu oleh Sela.
"Ya tuhan susah banget dapetin makhlukmu yang satu ini," kata Bara lalu meloncat ke king sizenya dan berguling- guling kesal karena ditipu oleh Sela.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
**Maaf ya untuk hari ini enggak bisa up 2 eps seperti kemarin🙏
Maaf juga kalau saya upnya lama dan buat kalian menunggu🙏
Jangan lupa ya buat kasih like komen dan hadiah.
Oh ya, kalau novel ini menurut kalian bagus, tolong dong rekomin ke sahabat kalian, biar mereka juga bisa tertawa kayak kalian saat baca novel ini.
Terima kasih**
__ADS_1