Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Tingkah Suami


__ADS_3

Laura begitu bahagia malam ini, apalagi melihat wajah tampan Rendy yang tidak hentinya tersenyum.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Rendy yang baru saja mandi.


Oh my good.


Lihatlah kelakuan suaminya Laura, apa dia sengaja berbuat seperti itu.


Tidak memakai baju, rambut panjang yang basah dan hanya mengenakan celana pendek.


"Ahh kenapa pipiku panas," gumam Laura sambil menepuk- nepuk pelan pipinya agar tidak terasa panas.


"Sayang bajuku warna putih mana? Yang beli di Bahama?" teriak Rendy dari walk in closet.


"Ada di situ," kata Laura tidak ingin dulu menemui Rendy dengan berpenampilan seperti itu.


"Enggak adaaa, kesini deh cariin," teriak Rendy kesal karena tidak juga menemukan baju yang ia cari.


"Tenang Ra, fokus," gumannya sembari menarik napas pelan. Laura berjalan menghampiri Rendy di walk in closet.


"Makanya cari yang bener," kata Laura sambil mencarikan baju yang Rendy minta.


"Tuh di atas," kata Laura sambil menunjuk baju warna putih paling atas.


"Ambilin," kata Rendy dengan manjanya membuat Laura melebarkan kedua matanya.


Dengan terpaksa Laura berjinjit untuk bisa meraih baju putih itu tapi


"Makanya cepet tinggi," kata Rendy sambil mengangkat tubuh Laura agar bisa sampai untuk mengambil baju.


Laura benar- benar terkejut, hingga mencoba menetralkan detak jantungnya.


Ya tuhan, mana dada bidang Rendy dingin banget lagi, fokus Ra fokus, batin Laura sambil menggelengkan kepalanya.


"Sayang buruan ambiliin," kata Rendy yang sudah capek untuk mengangkat tubuh Laura.


"Ah iya ini," kata Laura yang tersadar dari lamunannya.


Rendy perlahan menurunkan Laura lalu memakai bajunya.


"Rendyyy," teriak Laura terkejut karena Rendy tiba- tiba saja mengangkat dirinya menuju king size.


"Ayo kita tidur, dedek bayi pasti ngantuk," kata Rendy sambil menyelimuti Laura dan memeluknya erat.


Laura memeluk Rendy lalu sedikit mendongak untuk melihat wajah suaminya.


"Rendy," rengek Laura saat Rendy sudah tidur.


"Apa sayang?" tanya Rendy dengan suara serak basah.


"Aku enggak bisa tidur," adunya manja pada Rendy.


Rendy membuka matanya dan melihat wajah cantik Laura yang juga menatapnya.


"Mau aku bacain cerita?" tawar Rendy dan Laura menggelengkan kepalanya.


"Terus?" tanyanya bingung karena Laura sudah terlanjur ngambek.


"Itungin domba," kata Laura membuat Rendy mengangkat sebelah alisnya.


"Ayo Rendy itungin," kata Laura memaksa Rendy agar mau menghitung domba dan Laura cepat tidur.


"Iya- iya ini aku itungin," kata Rendy sambil merapatkan selimutnya dan memeluk erat Laura.


"Satu domba,"


"Dua domba," Rendy terus menghitung agar Laura cepat tidur.


Ya tuhan, gini amat gue punya bini. Gue kira cukup Sela ngidam yang aneh- aneh, enggak tahunya istri gue ikutan, batin Rendy sambil bergantian melihat jam dinding lalu Laura.


"100 domba," kata Rendy lemah karena ia sudah sangat capek untuk berhitung.


Rendy sedikit menunduk untuk melihat apakah Laura sudah tidur?


"101 domba," kata Rendy lalu ikut tertidur bersama Laura.


.


.


.


.


Hari sudah pagi dan matahari bersinar begitu terang membuat bumil satu ini begitu bersemangat.


Ya Sela dan Bara semalam baru saja pulang dari Prancis setelah mendengar kabar jika Laura hamil.


"Sayang kamu duduk aja di sana, biar mama yang masak," kata Rose yang sudah lelah memarahi Sela untuk berhenti ikut memasak.


"Enggak papa ma, biar Sela bantuin," kata Sela sambil membawa dua piring berisi nasgor seafood ke meja makan.


"Sayang siapa yang suruh kamu masak," teriak Bara yang baru saja keluar dari kamar.


"Emang kenapa sih, baru bangun teriak- teriak," kesal Sela karena sikap Bara yang kini semakin posesif terhadapnya.


Bara tidak menjawab ucapan Sela dan langsung merebut piring yang berada di tangan istrinya itu.


Rose dan Bradsiton tersenyum melihat kedua pasutri ini.


"Selamat pagi dunia penuh tipu- tipu," teriak Rendy saat keluar dari lift bersama Laura.


Semua menoleh dan menatap Rendy dengan wajah yang begitu sumringah.


"Pagi pa ma," kata Rendy menyapa Rose dan Bradsiton.


"Pagi sayang," balas Rose lalu beralih menatap Laura yang berjalan menghampirinya.


"Uhhh putriku sayang, perutmu sekarang sudah berisi," goda Rose membuat Laura tersenyum malu- malu.


"Mama aku pengin makan nasi goreng seafood," rengeknya manja pada Rose.


"Udah mama masakin sayang, itu di sana," kata Rose sambil menggiring Laura menuju meja makan.


"Bumil cantikkk," teriak Laura saat mendapati Sela yang duduk di pangkuan Bara.


"Lauraaaa," teriak Sela sedikit berlari untuk memeluk Laura.


"Jangan lari- lari," kata Bara memperingati Sela yang lupa jika perutnya kini sudah sedikit membesar.

__ADS_1


"Laura akhirnya kita bisa hamil barengan," kata Sela senang.


"Bener banget Sel, kita tinggal nunggu Dea," Sela mencari keberadaan Dea dan Reno yang tidak terlihat sejak tadi.


"Oh iya mereka berdua kemana?" tanya Sela pada Laura.


"Dea ikut Reno ke Kanada sayang buat hadiri ajang perlombaan gaun sutra," sahut Rose menjawab pertanyaan Sela.


"Sayang ayo sini makan," panggil Bara pada Sela.


"Iya bentar. Ayo kita sarapan," ajak Sela sambil menggandeng tangan Laura.


Laura aja di deket Sela bahagia banget gimana sama Bara, pasti berkali- kali lipat bahagianya.


Mereka lalu sarapan dengan suasana pagi yang begitu mencerahkan dan begitu nyaman.


Sarapan sudah selesai dan mereka melanjutkan aktivitasnya masing- masing.


Karena hari ini semua sedang libur.


Rendy dan Bara sedang berada di taman untuk bersantai setelah sarapan.


"Gue enggak nyangka ya, bentar lagi kita udah jadi seorang ayah," gumam Rendy yang tidak bisa mencurahkan kesenangannya.


"Iya gue juga enggak nyangka," kata Bara sambil tersenyum lebar.


"Dan lebih bahagianya, kita punya pasangan masing- masing yang tepat," kata Bara membuat Rendy tersenyum dan mengangguk .


"Gue berhutang budi sama lo begitu banyak," kata Rendy membuat suasana menjadi serius.


Bara hanya tersenyum samar lalu kenangan indah dulu mulai teringat di otak Bara.


"Lo sama Reno emang pantes buat dapet itu semua," kata Bara sambil menepuk bahu Rendy.


Sedangkan di tempat lain, di lantai satu ada Laura dan Sela yang sedang asyik mengobrol.


"Gue seneng banget Sel bisa hamil barengan sama lo," kata Laura yang terlihat begitu bahagia.


"Aku juga Ra, apalagi kalau kak Dea juga hamilnya barengan sama kita, pasti bakal seru enggak sih?" Laura mengangguk dengan sangat antusias.


"Ohh ya rencananya kapan kita ke Jerman buat lihat anaknya Jessy sama Reynald?" tanya Laura karena mereka belum datang saat Jessy lahiran.


"Tunggu papa sama mama dulu selesai konferens pers baru kita ke sana sekalian sama liburan," kata Sela membuat senyum lebar di bibir Laura.


Tok tok tok


"Paket," Sela dan Laura menoleh, terlihat ada kurir yang sedang membawa kotak.


"Sel lo pesen sesuatu?" tanya Laura pada Sela. Sela menggelengkan kepalanya.


"Mama pesen sesuatu?" tanya Sela saat Rose keluar dari lift.


"Enggak sayang," kata Rose sambil menghampiri kurir itu dengan bingung.


"Maaf, apa benar ini dengan kediaman tuan Aldebaran?" tanya kurir itu pada Rose.


"Iya benar,"


"Ini ada paket buat tuan Bara juga tuan Rendy," Sela dan Laura saling menatap bingung.


Tanpa menunggu lama Rose tanda tangan lalu mengambil paketnya.


"Emang apa yang mereka berdua pesen?" gumam Rose sambil meletakkan box paket di atas meja.



Tamatlah kalian berdua, batin Rose sambil melirik wajah garang dua istri di depannya ini.


"Ma Bara di mana?" tanya Sela membuat Rose kelimpungan dan melihat kanan kiri.


"Rendy juga kemana ma?" tanya Laura ketika tidak melihat suaminya itu.


"Wih siapa nih ulang tahun?" tanya Bradsiton yang baru saja keluar dari lift.


"Pa lihat Bara sama Rendy enggak?" tanya Rose pada suaminya.


"Ada di taman kenapa?" tanya balik Bradsiton sedangkan Rose sejak tadi memberi kode pada Bradsiton untuk tidak mendekati box paket itu.


Bradsiton yang baru paham kode Rose melebarkan kedua matanya saat membaca nama pengirimnya.


Sofia.


"Rendyyyyy,"


"Baraaaa,"


"Ada paket dari Sofiaaaa," teriak mereka berdua yang mampu membuat dua laki- laki ini saling menatap dan melebarkan kedua matanya.


"Ren,"


"Bar,"


"Paket dari Sofia," kata Rendy membuat Bara menggampar kepala Rendy.


"Kenapa lo cuma diem aja begoo," kata Bara yang sudah berlari masuk ke dalam rumah.


Rendy yang tidak mau ketinggalan langsung berlari sekuat tenaga.


Sedangkan Sela dan Laura sudah unboxing isi dalam paket itu.


Ting


Lift terbuka terlihat Rendy dan Bara berlari dengan napas ngos- ngosan.


Sela dan Laura menatap tajam suaminya.


"Sayang ada apa?" tanya Bara basa- basi sambil melirik papanya yang memberikan kode isi dari paket tersebut.



Bara meremas tangan Rendy saat Sela sudah membuka isi dari box itu.


"Tuh dapet paket dari Sofia," kata Sela ketus sambil menunjuk dengan dagunya hadiah yang dikirimkan perempuan bernama Sofia.


"Isinya jam tangan kayaknya mahal banget," tambah Laura sambil menatap sinis Rendy.


"Hehe ini pasti temen SMA, jadi enggak perlu diributin ya kan Ren?" kata Bara sambil membereskan isi hadiah dari Sofia dan dibantu Rendy.


"Ohh temen SMA? Tapi kenapa harus panik gitu? Sampai lari- lari waktu denger paket dari Sofia?" tanya Sela yang mulai mengintrogasi Bara dan juga Rendy.


"Sofia bilang, jika kalian awal bertemu waktu kuliah semester 2 dan juga kencan buta waktu malam minggu, lantas ini Sofia mana yang mengirimkan hadiah mahal untuk Bara dan Rendy tersayang?" tanya Laura membuat Bara dan Rendy saling melirik.

__ADS_1


"Sayang, dia cuma temen kuliah kok, enggak lebih. Kan sekarang aku udah jadi suami kamu," kata Bara mencoba menjelaskan agar tidak berlanjut lebih jauh.


"Iya Ra, dia cuma mantannya Bara...,"


Plak


"Kok lo mukul gue," kata Rendy tak terima saat Bara memukul kepalanya.


"Dia kan juga mantan lo bukan cuma gue," kata Bara tidak ingin disudutkan.


"Ohh jadi kalian tidak hanya kencan buta?" tanya Laura membuat keduanya kembali diam.


"Tapi juga menjadi pasangan," tambah Sela membuat Bara melirik papanya untuk meminta tolong.


"Hari ini jangan ada di rumah sebelum aku yang memintanya," kata Sela pada Bara.


"Tapi sayang aku harus kemana?" tanya Bara yang langsung panik.


"Kamu juga, hari ini jangan sampai terlihat olehku, pergilah keluar," kata Laura yang langsung menarik tangan Sela untuk ke lantai atas.


"Bar kita mau kemana,?" tanya Rendy saat istri mereka memberikan hukuman.


"Wahhh boy, kenapa kalian berdua begitu senang tidur di luar daripada tidur bersama istri kalian," kata Bradsiton mengejek dua putranya.


"Yaaa Bradsiton, bukankah kamu yang ngenalin mereka dengan Sofia? Jadi, malam ini jangan harap bisa tidur di kamar," kata Rose yang langsung menyusul dua menantunya ke lantai atas.


"Wahhh sepertinya papa akan bernasib sama dengan kita berdua," kata Bara yang balik mengejek papanya dan tertawa cekikikan.


.


.


.


Mereka bertiga sedang berada di halaman.


Mereka bingung ingin melakukan apa agar tidak berada di dalam rumah.


"Gimana kalau kita bersepeda aja?" usul Rendy dan diangguki oleh Bradsiton.


"Sepedanya kan dibuat sama bodyguard buat jaga," kata Bara membuat Rendy masuk ke dalam garasi.



"Kita naik ini aja gimana?" tanya Rendy membuat Bara berbinar dan menghampirinya.


"Loh ini kan cuma 2 papa juga pengin ikut dong," kata Bradsiton yang ingin ikut bersepeda.


"Emang papa kuat sepedaan?" tanya Bara yang meremehkan kemampuan papanya.


"Enak aja kamu, gini- gini dulu mantan atlet lari tahu," jawab Bradsiton dengan bangganya.


"Terus apa hubungannya sama bersepeda?" tanya Bara membuat Bradsiton bingung.


"Udah tunggu apalagi, yuk naik," kata Rendy yang sudah mengganti sepedanya yang berisi tiga orang.


Mereka lalu naik sepeda dengan posisi di pimpin oleh Bradsiton paling depan, Rendy nomor dua dan terakhir Bara.


Mereka sudah keluar dari halaman rumah dan berkeliling komplek pulau Stella.


"Wahh jarang- jarang ya kita sepedaan gini," kata Bradsiton merasa senang.


"Iya pa, ditambah suasana pulau Stella ini adem banget," kata Rendy begitu menikmati pagi hari ini.


"Wihhh ternyata di sini ada cewek cantik juga ya," kata Bradsiton melihat perempuan bule yang jogging di tepi jalan.


"Inget mama di rumah pa," teriak Bara pada papanya.


"Hati- hati jaga mata," teriak Rendy saat Bradsiton tidak memperhatikan jalannya.


"Pa hati- hati," teriak Bara panik saat mereka hendak menabrak bangku taman.


Brak


"Aduhh pinggang papa," rintih Bradsiton saat ia terjatuh dari sepeda.


"Kan Rendy udah bilang, jaga mata," kata Rendy sambil mendirikan sepedanya.


"Makanya inget umur, udah mau punya cucu juga masih lirik- lirik bule. Sini biar Bara yang pimpin di depan," kata Bara mengambil posisi di depan.


Mereka kembali lagi melanjutkan bersepedanya.


"Wihh itu cewek cakep bener pa Ren, lihat deh," kata Bara kala melihat turis yang jalan- jalan.


"Inget Sela Bar," teriak Rendy yang berada di belakang papanya.


"Bar liat jalannya," teriak Bradsiton saat Bara mengayuh sepedanya mengarah pada jembatan.


"Bar jangan terjunnnn, jangan terjunnn," teriak Rendy panik, Bara langsung mengerem sepedanya sekuat tenaga sebelum


Brakk


"Aduhhhh," rintih Rendy kesakitan saat pantatnya sudah jatuh beberapa kalinya.


"Bar kamu ini pengen papa encok atau gimana, ini pinggang udah tua Bar, enggak sekuat muda dulu," keluh Bradsiton pada Bara.


"Ya maaf," kata Bara memelas membuat Rendy geram.


"Gue kan udah bilang, cewek itu bawa sial. Udah punya istri juga masih lirik yang lain," kata Rendy memarahi Bara.


"Sini biar gue yang di depan," kata Rendy mengambil alih posisi di depan untuk memimpin.


Mereka kembali melanjutkan bersepedanya untuk keliling pulau Stella.


Rendy melihat ada dua turis cantik yang sedang berada di tepi jalan hendak menyebrang.


"Ren ada cewek, iman lo kuat kan?" tanya Bara di belakangnya.


"Buang mukaaaaa," teriak Rendy sambil memalingkan wajahnya saat melewati dua turis yang berdiri di tepi jalan tadi.


"Buang mukaaaa," teriak Bara mengikuti Rendy.


"Buang mukaaaaa," begitu juga Bradsiton.


Brakkkk


"Aduhhh Bar," rintih Bradsiton merasa badannya benar- benar ingin patah.


"Ini tulang udah tua, kenapa kalian ajak main jatuh- jatuhan gini," keluh Bradsiton pada dua putranya.


"Lo gimana sih Ren, lihat cewek lo ogah, giliran lihat gerobak mochi lo sikat," ketus Bara yang kesal pada Rendy.

__ADS_1


"Ya mana gue tahu kalau di depan tadi ada gerobak mochi," kata Rendy sambil melihat mochi yang sudah berserakan di jalanan dengan penjualnya yang entah pergi kemana.


__ADS_2