
□■□■
Bara baru saja tiba dari kantor Reynald dan langsung kembali ke rumah sakit.
Bara membawa baju Sela dan dirinya.
Terlihat suster sedang mengganti infus Sela dan makan malamnya.
Bara duduk di kursi samping brankar.
Tatapannya tak bisa lepas dari wajah cantiknya.
Bara membelai rambut panjang Sela membuat Sela membuka matanya.
"Bara," panggil Sela pelan karena perutnya yang selesai dijahit masih terasa sangat sakit.
"Mana yang sakit?" tanya Bara sambil melihat memar di pipinya dan sudut bibir yang bengkak karena tamparan Walles kemarin.
"Rendy bagaimana?" tanya Sela menanyakan keadaan Rendy.
"Rendy selesai menjalani operasinya, noh sekarang ditemani Laura," kata Bara sambil menggenggam erat tangan Sela.
"Syukurlah, aku takut dia kenapa- napa," kata Sela membuat Bara merubah ekspresinya.
"Jangan pikirkan orang lain pikirkanlah dirimu sendiri, apa kamu tidak memikirkan aku, beberapa jam tadi aku sempat berpikir jika aku akan menjadi bujang tua," kata Bara yang marah layaknya seorang rapper.
"Jika aku meninggal, siapa yang akan kamu pilih menjadi seorang istri?" tanya Sela penasaran dengan menahan tawanya.
"Gue percaya kalau ini adalah jebakan batman," gumam lirih Bara yang masih tidak menjawab pertanyaan Sela.
"Ya enggak usah nikah, kan beres," jawab Bara dengan santainya membuat Sela mengerucutkan bibirnya tak percaya.
"Emang kamu tidak mempunyai mantan?" tanya Sela membuat Bara seakan tidak percaya jika Sela akan menanyakannya.
Bara terdiam karena pertanyaan Sela, antara bingung dan tidak tahu cara mulai menjawabnya.
"Katakan yang sebenarnya, kau mengencani banyak wanita kan?" tanya Sela membuat Bara melepaskan genggaman di tangan Sela dan mengusap gusar rambutnya.
"Kenapa wanita selalu menanyakan hal ini dan mengintrogasi para lelaki," kata Bara terlihat sangat kesal.
"Dan mereka akan kesal saat aku menjawab iya dan tidak percaya saat aku mengatakan tidak," Sela terus menatap Bara yang berbicara sambil memalingkan wajahnya.
"Siapa yang menjadi kesal dan tidak mempercayaimu?" tanya ketus Sela saat Bara menjawab pertanyaannya.
"Tidak ada, aku hanya mencintaimu seorang saja," kata Bara mengalihkan pembicaraan.
Andai di ruangan ini ada Rendy pasti dia sudah di ejek habis- habisan.
"Papa sama mama kemana?" tanya Sela saat tidak melihat keduanya.
"Papa dipanggil untuk menjadi saksi di pengadilan nanti dan akan mendapat apresiasi dari presiden atas tertangkapnya buronan negara," kata Bara merasa sangat bangga.
"Oh ya, wahh papa keren sekali," puji Sela yang sekaligus kagum.
"Itu semua tidak akan berjalan lancar tanpa rencana cantikmu," kata Bara sambil menoel hidung mancung Sela.
Bara menarik kursinya agar lebih dekat dengan Sela.
"Kenapa kamu menyelidikinya? Dan berusaha memberitahu Reynald jika bukan aku pembunuhnya," kata Bara menanyakan soal pembunuhan kedua orang tua Reynald.
"Aku tidak suka saat kamu dituduh sebagai pembunuh," wah rasanya Bara sedang terbang ke luar angkasa.
Bara berusaha menahan agar tidak tersenyum.
"Aku tidak menyangka jika kamu lebih cerdas dari sebelumnya, bahkan kamu menguasai bela diri taekwondo sabuk hitam dan jago dalam hal memanipulasi, siapa yang mengajarimu, hah?" tanya Bara sangat kagum akan kemampuan Sela.
Sela tertawa pelan mendengar ucapan Bara.
"Papa dong," jawab Sela dengan senyum manisnya.
"Pantes papa mertuanya," kata Bara sambil menciumi tangan Sela.
"Bagaimana jika kamu sembuh kita segera menikah?" tanya Bara yang sangat mendadak membuat mulut Sela menjadi sangat berat.
"Kenapa kamu begitu mudah mengucapkan kata nikah, apa jangan- jangan semua mantamu kamu ajak nikah?" kata Sela dengan nada sedikit kesal.
"Ya tuhan mantan yang mana lagi coba, deket aja enggak pernah. Aku punya kekasih kali pertama cuma sama kamu, tidur bareng juga kali pertama sama kamu, dan," Bara tidak melanjutkan ucapannya.
"Dan?" tanya Sela ingin tahu kelanjutannya.
Bara hanya diam sembari menatap wajah Sela. Bara berdiri lalu mencium bibir pucat Sela dengan sangat pelan.
Sela hanya diam tak berkutik saat bibir Bara memangut dengan manis bibirnya. Bara melepaskan pangutannya dan menatap Sela.
"Dan kaulah yang membuatku selalu merasa candu dengan bibirmu," gumam Bara pelan dengan suara yang bisa dibilang begitu seksi di telinga Sela.
Sela memalingkan wajahnya untuk menutupi rona merah di pipinya. Bara tertawa pelan melihat tingkah Sela.
Cup
Bara mencium kening Sela lalu kembali duduk di kursinya.
"Sekarang makanlah aku akan menyuapimu," kata Bara mengambil meja kecil yang sudah berisi makanan untuk makan malam.
Bara memberikan suapan pertama yaitu dengan bubur andalan ciri khas rumah sakit.
"Pahit," adu Sela saat merasakan bubur itu masuk ke dalam mulutnya.
"Bagaimana jika aku menyuapinya dengan bibirku?" tanya Bara yang langsung mendapat pelototan dari Sela.
Bara tertawa keras melihat wajah marah Sela, bukannya takut tapi Bara semakin gemas dengannya.
Bara dengan telaten menyuapi Sela dan terus memaksa agar Sela mau memakan buburnya.
"Sudah aku kenyang," kata Sela menolak untuk suapan terakhirnya.
"Baiklah, sekarang kamu minum obatnya," kata Bara lalu membukakan obat untuk Sela.
Sela menatap dua kapsul di tangan Bara rasanya ia ingin sekali membuang dua butir yang paling ia benci ini.
"Nih," kata Bara memberikan obatnya, Sela enggan menerima dua butir itu dan hanya menatapnya.
"Minumlah nanti kamu akan mendapatkan bonus ciuman dariku," kata Bara menggoda Sela. Sela hanya memicingkan mata pada Bara.
Dengan terpaksa Sela meminum dua butir kapsul yang diberikan Bara.
"Udah, makasih," kata Sela sambil memberikan segelas air minumnya pada Bara.
Bara meletakkan meja yang berisi piring itu dibawah lalu menatap gemas kearah Sela.
"Sekarang ayo kita tidur," ajak Bara membuat Sela menaikkan sebelah alisnya.
"Kita?" tanya Sela tak paham.
"Iya, aku akan menemanimu tidur di sini," kata Bara yang langsung naik ke atas brankar dengan semangat 45.
__ADS_1
"Eh eh eh enggak, kamu tidur di sofa aja sana, entar kalau brankarnya roboh gimana, udah tidur di sana aja," usir Sela membuat Bara mendengus sebal lalu menatap wajah Sela.
"Mana mungkin brankar semahal ini bisa roboh hanya karena kita berdua tidur. Rendy sama Laura aja tidur berdua masak aku tidur di sofa," kata Bara kesal dengan penolakan Sela.
"Yaudah kamu tidur aja sama mereka," kata Sela yang tak mau kalah debat dengan Bara.
"Ayolah sayang hanya sekali saja aku tidur di sini bersamamu, kapan lagi kan kita bisa tidur berdua di brankar rumah sakit gini," kata Bara yang masih mencari cara agar bisa tidur bersama Sela.
"Enggak," jawab Sela penuh penekanan lalu tidur membelakangi Bara yang terus saja menggerutu.
Dengan terpaksa Bara berjalan menuju sofa besar di sudut ruangan dan sesekali melihat jika saja Sela berubah pikiran, ternyata tidak.
"Setelah nikah gue bakal jual semua sofa gue, kalau perlu gue bakal beli rumah tanpa sofa dan hanya satu kamar," gerutu Bara yang membuat Sela tersenyum mendengarnya.
Bara berbaring di sofa sembari menatap Sela yang masih memunggunginya.
"Ya tuhan bagaimana bisa ada perempuan seperti dia, mana mungkin brankar semahal itu bisa roboh hanya ditiduri dua orang, terus apa gunanya papa beli brankar semahal itu coba," gerutu Bara yang terus saja berbicara.
Sela hanya tersenyum mendengar gerutuan Bara, beberapa menit kemudian ruangan sangat hening.
Tidak ada lagi suara ocehan Bara, apa dia sudah tidur.
Dengan pelan Sela berbalik untuk melihat Bara.
Benar saja dia sudah tidur, Sela merubah posisinya menjadi duduk.
Kasihan sekali, dia tidak memakai selimut dan tidur dengan keadaan tidak nyaman.
Sela beranjak turun dari brankar, dengan susah payah ia membawa bantal juga selimut dan tak lupa dengan infusnya.
Sela memberi bantal pada kepala Bara dengan sangat pelan lalu menyelimutinya.
Sela duduk di tepi sofa sembari menatap wajah tampan Bara.
"Bagaimana bisa aku jatuh cinta dengan laki- laki seperti dirinya," gumam Sela pelan sambil mengamati setiap inci bagian tubuh ciptaan tuhan yang paling sempurna.
Dengan sangat pelan sekali Sela mencium kening Bara.
Lalu kembali menatap wajahnya, auranya benar- benar sangat mempesona.
Sela memutuskan untuk tidur di samping Bara. Dengan pelan ia berbaring tepat di dekat Bara.
Sela mendongak ke atas untuk memastikan jika ia tidak menganggu tidur Bara.
Ia ingin memeluk Bara namun ragu dan takut jika Bara merasa risih dengannya.
Sedangkan Bara yang jahilnya minta ampun sedang menahan tawanya saat melihat Sela yang beberapa kali menarik tangannya saat ingin memeluk dirinya.
Siapa yang tahu jika ternyata sejak tadi dia tidak tidur hanya memejamkan matanya.
Bara yang sudah tidak tahan dengan Sela yang terus mengurungkan niatnya saat ingin memeluk dirinya langsung mendekap erat ke dalam pelukannya.
Sela sempat terkejut, ia mendongak ke atas, Bara masih tertidur pulas.
Dengan senang hati Sela juga memeluk erat tubuh manly Bara.
Dalam hati Bara sedang tertawa keras dan bersorak sorai saat melihat tingkah gemas Sela.
♡♡♡
Reynald berangkat pagi sekali ke kantor. Dia ingin segera menyelesaikan urusan kantornya lalu terbang ke Jerman untuk menghadiri wisuda Jessy.
Setelah menyelesaikan beberapa proposal kini tinggal mengevaluasi dokumen untuk presentasi besok.
Detik kemudian Reynald berpikir sejenak.
"Gue harus bawa apa coba," kata Reynald bingung lalu pikirannya tertuju pada seseorang yang bisa menolongnya.
Dengan cepat Reynald langsung meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
.
.
Di satu sisi Bara dan Sela belum juga bangun padahal sekarang waktu sudah pukul 8 pagi.
Kring kring kring
Dengan mata masih terpejam Bara meraba ponselnya sebelum Sela terbangun.
"Halo,"
"Halo Bar, lo di mana?"
"Kenapa?"
"Bar lo bisa tolongin gue enggak?"
"Apa?" kata Bara sedikit malas karena dia masih ingin tidur bersama Sela, tapi satu manusia ini terus menganggunya.
"Udah lo kesini aja, penting banget, gue tunggu," Reynald mematikan sambungan teleponnya.
"Dasar penganggu," gerutunya lalu menunduk untuk melihat Sela yang masih tertidur pulas.
Dengan sangat pelan Bara bangun lalu memindahkan Sela kembali ke brankarnya.
Tidak lupa ia juga menyelimutinya.
Bara mencium kening Sela sebelum pergi lalu memberitahu pada suster untuk memberikan sarapan pagi padanya.
.
.
.
Bara menatap jengah dan sebal pada sosok di depannya.
"Lo telpon gue cuma mau ngajak ke mal?" tanya Bara ketus pada Reynald. Reynald hanya menampilkan gigi putihnya.
"Bar bantuin gue pilih kado yok, hari ini Jessy wisuda gue mau kasih kejutan sama dia," kata Reynald dengan wajah memelas agar Bara bisa luluh.
"Emang enggak ada apa orang selain gue yang lo ajak ke mal?" tanya Bara yang dijawab gelengan kepala oleh Reynald.
"Udah ayok," kata Reynald langsung menarik Bara ke dalam untuk mencarikan kado Jessy.
Reynald dan Bara sudah berada di lantai 4 di mana di sini khusus untuk tempat kado.
"Bar kita beliin Jessy apa ya?" tanya Reynald sembari melihat kanan kiri stand yang menjual berbagai macam kado.
"Enggak tahu," jawab Bara cuek sembari memakan es krimnya.
"Terus apa gunanya gue ngajak lo kemari," gerutu Reynald kesal dengan sikap Bara.
__ADS_1
"Noh ada toko bunga," tunjuk Bara asal namun Reynald langsung pergi untuk menghampirinya.
"Wih bagus banget," kagum Reynald saat melihat rangkaian bunga yang sangat indah.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya pelayan saat Bara memasuki standnya.
"Mbak tolong buatkan sebuket bunga warna- warni ya sama ucapan Happy Gradution," kata Reynald pada pelayan itu.
Beberapa menit mereka telah selesai membeli bunga dan kini kembali berjalan untuk mencari kado lainnya.
"Tambah apalagi?" tanya Bara pada Reynald yang kelihatan bingung.
"Gimana kalau boneka aja," kata Reynald yang diangguki oleh Bara.
Mereka menuju stand yang menjual berbagai macam boneka.
"Bar beli boneka apa ya?" tanya Reynald lagi karena dia tidak pernah ribet membelikan ini itu pada cewek.
"Boneka babi," jawab Bara asal sambil melihat- lihat boneka yang lucu.
"Ya kali gue kasih boneka babi yang ada ditendang gue sama Jessy," kata Reynald membuat Bara terkekeh.
"Eh Rey lihat deh itu bagus kayaknya," tunjuk Bara pada dua boneka imut pada sofa.
"Eh bener cantik banget bonekanya, gue beli semua deh," kata Reynald sangat menyukai boneka yang dipilih Bara.
"Enak aja lo beli semua, gue satu," kata Bara sambil memukul bahu Reynald.
"Iyadeh," kata Reynald mengalah lalu mengambil milik mereka satu persatu.
"Mbak saya beli dua boneka ini," kata Reynald pada pelayan.
"Udah enggak usah bayar, itu gratis buat lo," kata Bara lalu pergi meninggalkan Reynald.
Reynald bersorak senang, ini ide yang cerdas.
Ngajak Bara belanja ke malnya sendiri, alhasil semua gratis deh tinggal ambil.
Duh enaknya punya temen miliader.
Mereka sampai di parkiran dengan Reynald yang terus membayangkan wajah bahagia Jessy nanti.
"Bar anterin gue langsung ke bandara aja deh bodyguard gue udah nunggu di sana," kata Reynald saat Bara mulai melajukan mobilnya.
"Ngapain?"
"Ya terbang ngab ke Jerman, masak mau nyuci pesawat," jawab Reynald kesal.
"Enggak perlu, naik helikopter gue aja," kata Bara sambil melajukan mobilnya ke rumah.
"Lo seriusan?" tanya Reynald tak percaya lalu diangguki oleh Bara.
Reynald bersorak senang membuat Bara merasa aneh di dekat Reynald.
□■□■
Reynald telah sampai di gedung di mana Jessy mengadakannya wisudanya.
Terlihat mereka begitu bahagia saat tahu telah wisuda.
Rasanya Reynald seakan mengingat masa kuliahnya dulu bersama Bara.
Sial, dia lagi yang muncul dalam otak Reynald.
Terlihat mereka berpelukan tertawa dan menangis satu sama lain.
Dan yang menjadi momen paling berharga adalah saat mereka melempar topi boga ke atas setinggi mimpi mereka.
Rasanya beban sudah berkurang, tinggal menyesuaikan kehidupan selanjutnya.
Setelah mereka bergulat dengan buku selama bertahun- tahun.
Reynald dapat melihat Jessy yang tersenyum bahagia bersama teman- temannya.
Tanpa disadari Reynald ikut tersenyum melihat kekasihnya itu begitu bahagia.
"Jessy cobalah lihat, bukankah dia kekasihmu?" tanya temannya saat melihat Reynal membawa boneka beruang dan sebuket bunga.
Jessy tersenyum senang ke arah Reynald.
"Aku ke sana dulu ya," pamit Jessy pada teman- temannya.
Jessy berlari ke arah Reynald dengan topi boga di tangannya.
Hap
Jessy memeluk erat Reynald dia begitu bahagia hari ini.
"Aku telah lulus," gumam Jessy masih dalam memeluk Reynald.
Reynald membelai rambut Jessy sayang dan mencium keningnya.
"Happy gradution baby," kata Reynald membuat Jessy merasa hatinya sangat berdebar dan pipinya bersemu merah.
"Ini buat kamu," kata Reynald sembari memberikan boneka beruangnya dan sebuket bunga.
"Wah cantik banget, makasih," kata Jessy sangat menyukai pemberian dari Reynald.
Reynald tiba- tiba bersimpuh di depan Jessy dengan cincin di tangannya membuat mereka berdua mendadak menjadi pusat perhatian.
Jessy sampai terkejut dengan sikap Reynald dan melihat sekeliling jika dirinya menjadi pusat perhatian.
"Sekarang kamu sudah lulus tidak ada alasan lagi untuk menolaknya, jadi," kata Reynald tidak melanjutkan ucapannya.
"Will you marry me?" tanya Reynald sembari menatap wajah cantik Jessy yang begitu terkejut dan hampir meneteskan air mata.
"Terima,"
"Terima,"
"Terima," sorak sorai dari mereka semua membuat Jessy tidak lagi bisa menahan air matanya.
Jessy menganggukkan kepalanya bersamaan dengan air matanya yang turun.
Reynald sangat senang saat lamarannya diterima, dia langsung memakaikan cincin itu di jari manis Jessy.
Lalu memeluk erat Jessy yang tidak bisa berhenti menangis.
"Kau tahu, kaulah anugerah tuhan paling indah yang pernah diberikan padaku," bisik Reynald di sela pelukan mereka.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1