Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Ketakutan Sela


__ADS_3

○○○



Clay sedang mengadakan rapat besar untuk hari ini.


Karena minggu depan proyek AS akan resmi dibuka.


Dan tentu semua CEO setiap perusahaan akan datang untuk mengajukan proposalnya.


Clay baru saja datang bersama dua sekretarisnya.


Terlihat semua karyawannya dan pejabat- pejabat tinggi sudah datang sejak tadi.


"Selamat pagi semuanya," sapa Clay pada mereka semua.


"Anda semua pasti sudah tahu bukan, saya mengumpulkan kalian semua di sini untuk membahas proyek besar kita tahun ini," kata Clay memulai inti dari rapat pagi ini.


"Mari kita bahas satu- persatu," kata Clay memulai apa yang ingin didiskusikan.


"Di depan kalian sudah terdapat referensi untuk dekorasi panggung, coba kalian pilih satu dan jelaskan alasan kalian," mereka mulai melihat referensi dari tahun lalu tentang dekorasi panggung di laptop yang sudah berada di depan mereka satu- persatu.


"Tuan boleh saya berpendapat?" tanya karyawan Clay selaku ketua dari pelaksanaan acara ini. Clay hanya mengangguk mempersilahkan.



"Bagaimana jika kita memakai konsep yang sama seperti tahun lalu, dengan perubahan sedikit pada tata letak atau background dari panggung ini," usulnya membuat Clay menatap gambar yang diusulkan oleh karyawannya.


"Jangan, kalau bisa kita harus lebih kreatif, membuat setiap tahun dengan dekorasi yang berbeda dan terkesan sangat elegan," kata Clay memberi sedikit gambaran pada karyawannya.


"Saya ingin berpendapat tuan?" izin karyawan selaku penanggung jawab tata panggung.


"Bagaimana jika tahun ini kita buat dekorasi panggungnya outdoor, itu akan semakin luas dan kita juga bisa leluasa membuat beberapa stage pada panggung yang berbeda- beda untuk setiap 3 model," usulnya membuat para karyawan lainnya mengangguk setuju.


"Tidak jangan mengambil resiko yang besar, jika kita membuat dekorasi panggung outdoor, keselamatan para model juga tanggung jawab kita dan poin yang terpenting bukan hanya itu, tapi juga Presiden Kanada dan AS juga datang, keselamatan mereka berdua jauh lebih penting," tolak Clay dengan usulan karyawannya.


"Saya hanya ingin dekorasi panggung tahun ini lebih berbeda dari tahun lalu, lantas membuat antara tamu dan para wartawan yang datang tidak saling bertabrakan, apa maksudnya,"


"Kita harus bisa membuat para tamu duduk dengan tenang menikmati peragaan busana dengan baik tanpa ada gangguan dari wartawan yang sibuk memotret, seperti gambar pada slide ketiga," Clay menunjukkan dekorasi untuk 2 tahun ke belakang.



"Selain terlihat sangat simpel dan biasa, keamanan juga kurang diperketat, terlebih para tamu yang kurang tenang untuk menikmati peragaan busana ini," kata Clay mengevaluasi untuk dekorasi panggung tahun lalu.


"Maaf saya menyela, bagaimana jika kita membuat dekorasi panggung dengan referensi seperti konser," usul kepala direksi membuat Clay dan para karyawan lain mengernyit bingung.


"Bagaimana?" tanya Clay penasaran yang dimaksud karyawannya ini.



"Anda semua bisa melihat pada gambar ini, memiliki dua sisi kanan dan kiri dengan adanya tangga untuk turun, akan lebih aestetic jika satu model turun dari sisi kanan dan naik kembali pada sisi kiri,"


"Tidak hanya itu, para tamu akan duduk dengan posisi agak lebih tinggi, layaknya mereka sedang menonton konser, sedangkan para wartawan akan berada di bawah jadi standar penglihatan para tamu tidak akan terganggu dengan adanya wartawan dan kita juga bisa memasang pagar pembatas antara tamu dan wartawan," jelas kepala direksi membuat senyum sumringah tercipta di bibir Clay.


"Luar biasa, ide kamu memang luar biasa," puji Clay pada Han, selaku kepala direksi.


"Bagaimana menurut anda semua, apakah kalian setuju dengan ide ini?" semua saling menatap satu sama lain hingga mereka semua mengangguk setuju.


"Baiklah jika anda semua setuju, mari kita siapkan rancangan dekorasi seperti yang Han katakan," perintah Clay agar mereka mempersiapkan semua persiapan untuk acara besar ini.


"Ohh ya, saya ingin, kalian mengundang 10 wartawan terbesar, 10 surat kabar terbesar, dan 5 majalah dunia," kata Clay memerintah agar mereka menyiapkan beberapa awak media.


"Baik tuan, lantas anda ingin mengerahkan berapa bodyguard untuk acara ini?" tanya Han pada Clay.


Clay tertawa pelan mendengar pertanyaan Han.


"Tenang, saya mempunyai orang yang bisa membantu saya untuk mengatasi hal ini," kata Clay membuat Han heran.


"Siapa tuan?" tanya Han yang hanya disenyumi oleh Clay.


●●●


Sela yang baru saja datang dan bercengkrama dengan Jenifer dan Sandra melihat Laura baru saja datang.


Tatapan yang tajam dan sinis pada Sela membuat Jenifer dan Sandra melirik sinis.


Di belakang Laura diikuti Gabriela yang juga baru saja datang.


"Sela," panggil Gabriela sedikit berlari menghampiri Sela.


"Bagaimana, apa aku boleh menginap denganmu?" tanya Gabriela terlihat sangat bersemangat.


Ya tuhan Sela benar- benar lupa dengan hal itu, bagaimana ini.


"Emmm, Ela maaf ya aku lupa bilang, tapi nanti sepulang kuliah ini aku langsung tanya," kata Sela takut membuat Gabriela kecewa.


Gabriela tersenyum kecut mendengar jawaban dari Sela.


"Iya deh gapapa," jawab Gabriela lemas membuat Sela merasa bersalah.


"Sel, ada apa sih emangnya, kalian mau kemana, ngapain nginep segala?" tanya Sandra memburu Sela dengan banyaknya pertanyaan.


"Hah, enggak papa kok. Eh dosen udah dateng tuh," kata Sela memberitahu Sandra dan Jenifer agar kembali ke bangku mereka.


Dosen memulai materinya seperti biasa mereka semua dengan cermat dan teliti mendengarkan penjelasan dosen.


Sela melirik bangku di depannya, kosong lagi, kemana sebenarnya pemilik bangku ini.


Tidak terasa 45 menit sudah berlalu, dosen sudah keluar dari kelas 1 menit yang lalu.


"Sandra Jenifer, kalian langsung pulang?" tanya Sela pada mereka berdua.


Sontak secara bersamaan mereka berbalik dan menatap Sela.


"Iya kita berdua ada acara," jawab Jenifer sambil menutup tasnya dan berjalan menghampiri Sela.


"Kalian udah kayak adik kakak ya, kemana-mana berdua, pengin banget kayak kalian," kata Sela merasa iri dengan persahabatan mereka.


"Iya dong, kita kan udah kayak saudara," kata Sandra merasa bangga dengan persahabatan mereka yang sudah lama terjalin.


"Yaudah Sel, kita balik duluan ya, bye sayang," kata Sandra sambil menatap Sela sayang.


"Dahhh," balas Sela lalu membereskan bukunya dan hendak keluar kelas.


Tapi Laura berjalan ke belakang menghadang Sela.


Kini tinggal mereka berdua di kelas, Gabriela sudah keluar sejak awal tadi.

__ADS_1


"Apa lutut lo udah sembuh?" tanya Laura berjalan dengan perlahan mendekati Sela, membuat Sela terus berjalan mundur.


"Kenapa?" tanya balik Sela berusaha berani agar Laura tidak macam- macam dengannya.


"Apa permainan kemarin di pesta luar biasa? Jatuh di kolam?" mata Sela melotot ketika mendengar ucapan Laura.


"Kenapa, lo kaget kalau gue yang sengaja dorong lo ke kolam, apa Bara tidak memberitahumu?" Laura tersenyum licik.


"Itu enggak seberapa, masih ada banyak permainan yang belum gue kasih ke lo," kata Laura maju selangkah demi selangkah hingga


"Awww," teriak Sela kesakitan saat ujung high heels Laura menginjak jari kaki Sela dengan sangat kuat.


Laura tidak beranjak dari kaki Sela, rasanya sangat sakit sekali karena ujung high heelsnya sangat tajam.


"Kenapa apa sakit?" tanya Laura dengan memajukan wajahnya lebih dekat pada Sela.


"Itu enggak seberapa sama apa yang Bara lakuin ke gue," Sela mendongak dan menatap mata Laura yang seakan berkaca- kaca, apa dia menangis.


"Kalau gue enggak bisa dapetin Bara, begitu juga dengan lo," Laura pergi begitu saja meninggalkan Sela yang kesakitan.


Sela berjongkok untuk melihat jarinya, perlahan dia melepas sepatunya, benar jari kakinya sedikit terluka.


Sela menatap kepergian Laura, mencerna baik- baik perkataannya, apa benar jika Bara menyakiti Laura hanya demi dia.


Bukan, itu tidak mungkin terjadi.


Sela bergegas berdiri dan turun ke bawah, karena mungkin saja Bara sudah datang menjemputnya.


Benar saja Bara sudah datang terlihat dia sedang bersandar dimobil.


Sela berjalan menghampiri Bara dengan menahan rasa sakit pada jari kakinya.


"Apa anda sudah menunggu lama?" tanya Sela merasa tidak nyaman dengan Bara.


"Tidak, pulang sekarang?" tanya Bara pada Sela, Sela hanya mengangguk pelan.


"Emm, saya ingin mengatakan sesuatu," kata Bara membuat Sela menatapnya.


"Nanti malam saya tidak pulang, karena lembur untuk persiapan kantor, apa kamu berani di rumah sendiri?" tanya Bara memastikan jika Sela tidak takut di rumah meski banyak bodyguard tapi Bara merasa gelisah meninggalkan Sela sendiri.


"Apa saya boleh ikut?" tanya Sela menawarkan dirinya untuk ikut.


"Tapi saya tidak pulang, kemungkinan akan menginap di kantor, apa kamu mau?" tanya Bara sekali lagi.


"Kenapa enggak," jawab Sela lalu masuk ke dalam mobil tanpa melihat ekspresi Bara saat ini.


"Yesssss, akhirnya si dia peka juga, kalau gue butuh dia," gumam Bara kesenangan lalu memutari mobilnya.


.


.


.


.


.


.


Bara dan Sela tiba di kantor, Sela kali ini tidak membawa masker jadi mereka para karyawan dan staf juga OB bisa melihat wajah Sela.


Bara yang menyadari Sela berjalan dengan terus menunduk tersenyum samar.


Membuat para staf dan karyawan lainnya merasa beruntung bisa melihat senyuman Bara itu.


Sangat manis dan bagai candu.


"Apa lantainya lebih indah untuk dilihat dibanding lihat ke depan?" goda Bara pada Sela.


Sela sedikit mendongak dan memelototi Bara yang tertawa pelan.


"Dengarlah, saya hanya ingin aman tanpa diganggu fans anda," kata Sela, baru sampai di dalam lift Sela mengangkat kepalanya, karena hanya ada para bodyguard rumah yang juga sudah tahu wajah Sela.


Bara masuk ke dalam ruangannya dan sudah ada desainer juga fotografer yang menunggu Bara.


"Tuan," panggil Dea, desainer andalan Bara.


"Apa kalian sudah lama?" tanya Bara pada mereka berdua.


"Tidak tuan," jawab mereka sopan dan ramah.


"Kebetulan banget tuan kalau Sela ada di sini, saya ingin mencoba beberapa model gaun yang sama untuk fashion show, apa boleh Sela fashion show dengan tetap memakai gaun," Sela menatap Bara menunggu jawaban Bara.


"Apa kakimu sudah sembuh?" tanya Bara pada Sela, Sela mengangguk dengan sangat semangat menutupi luka pada jari kakinya.


"Tapi latihan fashion shownya dengan sepatu saja, jangan high heels," peringat Bara pada Dea mengingat Sela saat kesakitan memakai high heels.


"Saya permisi tuan," pamit Dea membawa Sela ke studio foto untuk mencoba gaun dan pemotretan juga latian fashion show.


"Cepatlah kembali," kata Bara sebelum Sela keluar dari ruangannya.


Bara duduk di sofa sambil menunggu Sela kembali, mungkin tidur sebentar akan membuat Bara rileks.


Hampir 1 jam lamanya Sela baru saja selesai dari studio foto dan kembali ke ruangan Bara seperti pesan Bara tadi.


Sela membuka ruangan Bara, sepi tidak ada suara, ternyata Bara tertidur di sofa.



Ya tuhan, dia nyata bukan sihh. Kenapa saat tidur begini dia lebih tampan.


Sela berjalan dengan perlahan agar tidak menganggu tidur Bara.


Sela mengambil selimut di kamar yang terdapat di ruangan Bara lalu menyelimuti Bara dengan pelan.


"Permisi," kata Dea yang mengetuk pintu ruangan Bara.


Dengan cepat Sela berjalan untuk membuka pintu agar tidak menganggu tidur Bara.


"Sela, dimana tuan?" tanya Dea


"Sedang tidur, ada apa kak, apa ada yang bisa Sela bantu?" tanya Sela sambil menatap beberap berkas ditangan Dea.


"Sela bisakah kakak minta tolong padamu?" tanya Dea ragu.


"Iya tentu saja," jawab Sela tanpa ada keraguan.

__ADS_1


"Tolong antarkan foto- foto kain ini untuk dipesankan oleh pemilik kain," kata Dea sambil menyerahkan berkas yang berisi foto- foto kain.


"Kemana?" tanya Sela.


"Kamu tahu bukan di depan tepat gedung ini, ada gedung kecil, nah itu gudang kain, kamu berikan aja sama orang yang berjaga di sana, mereka pasti mengerti," kata Dea menjelaskan pada Sela.


"Ok kak," jawab Sela dengan semangat.


"Sela maafin kakak ya, ngrepotin kamu, kakak masih harus selesain jahitan kakak," kata Dea merasa tidak enak dengan Sela.


"Tenang aja kak, lagian aku enggak ada kerjaan," kata Sela lalu langsung bergegas untuk mengantarkan berkas yang Dea perintahkan.


"Ya ampun, baik banget itu gadisnya tuan," gumam Dea lalu pergi kembali ke ruangannya.


.


.


.


Bara perlahan membuka matanya dan melihat selimut kamar menutupi tubuhnya.


Apa Sela yang menyelimutinya?


Bara melihat jam tangannya sudah pukul 5 sore, ya tuhan dia tidur sudah terlalu lama.


Lalu kemana Sela? Apa dia belum selesai sejak tadi!


Bara berniat untuk mencuci mukanya lalu bergegas pergi ke studio foto untuk menemui Sela.


Bara sampai di studio foto, ternyata kosong. Bara masuk ke dalam ruangan Dea.


"Dea, kemana Sela, apa pemotretannya belum selesai?" tanya Bara pada Dea yang sibuk menjahit.


"Maaf tuan, tadi saya minta tolong sama Sela buat nganterin berkas foto kain ke gudang, saya pikir dia sudah kembali," kata Dea takut karena dia sibuk menjahit sampai lupa Sela sudah kembali apa belum.


Bara berlari meninggalkan ruangan Dea, bagaimana bisa desainernya itu menyuruh Sela.


Bara dengan emosi memencet tombol lift untuk turun ke bawah.


Ting


Bersamaa dengan itu, terdapat Sela di dalam lift dengan baju yang sedikit basah dan juga rambut yang sedikit lepek.


Bara melotot marah pada Sela, karena dia kehujanan dan mau- maunya disuruh Dea.


"Tuan, anda sudah bangun?" tanya Sela takut jika Bara marah.


Tanpa menjawab Bara menarik tangan Sela keluar dari lift menuju ruangannya.


Bara mendudukkan Sela di sofa lalu pergi mengambil handuk.


Bara membantu Sela mengeringkan bajunya yang basah.


"Kenapa kamu pergi tanpa pamit sama saya," marah Bara pada Sela karena pergi tanpa seizinnya.


"Maaf, saya salah," kata Sela pelan sambil merebut handuk di tangan Bara.


"Biar saya yang mengeringkannya," kata Sela merasa bersalah pada Bara karena pergi tanpa pamit dengannya.


"Hachim," Sela bersin membuat Bara khawatir.


Tanpa perlu lagi menunggu Bara pergi keluar dari ruangannya.


Bara mengunci ruangannya agar Sela tidak lagi keluar.


"Tolong jaga dia, saya akan ke bawah," pamit Bara pada bodyguardnya.


"Baik tuan," jawab mereka.


Sedangkan Sela di dalam ruangan Bara merasa gelisah.


"Apa iya dia marah, kenapa dia pergi begitu saja tanpa pamit," gumam Sela yang takut jika Bara marah.


"Apa dia semarah itu?" tanya Sela pada dirinya sendiri. Tiba- tiba


Lappp


Semua lampu padam, tidak ada cahaya sedikitpun.


Keringat dingin mulai mengalir di pelipis dan tubuh Sela.


Sela berusaha untuk mencari pegangan, agar dia bisa pergi keluar.


Bruk


Sela terjatuh, kecemasan dan juga ketakutan mulai muncul dalam diri Sela.


Entah kenapa setiap Sela berada di kegelapan, mulai muncul kecemasan dan rasa takut yang menjalar di tubuhnya.


"Tuan," panggil Sela dengan suara parau dan menahan rasa gugup dan gemetar ketakutan.


"Apa ada orang di luar?" tanya Sela siapa tahu bodyguard di luar bisa mendengarnya.


Tiba- tiba kenangan buruk yang selalu muncul disetiap mimpi malamnya mulai terputar kembali di kepala Sela.


Suara tembakan dan juga suara jeritan kesakitan mulai memenuhi kepala Sela.


"Aaaaaaa," teriak Sela karena dia merasa sangat takut juga rasa sesak mulai menyerangnya.


Kemana perginya Bara?


Sela meringkuk di lantai dengan air mata yang tidak bisa dia tahan lagi.


"Bara," panggil Sela pelan ditengah isak tangisnya.


Sela benar- benar takut, cepatlah kembali.


Kemana semua perginya orang- orang tadi.


Kenapa mereka meninggalkan Sela sendirian.


Sela benci di tinggal pergi tanpa dipamiti.


Sama halnya seperti Bara marah tadi, dia benci orang yang pergi tanpa pamit padanya.


Hiks hiks hiks

__ADS_1


Hanya suara tangis Sela yang terdengar ditengah kegelapan ini.


--------☆☆☆----------


__ADS_2