
○○○
Rendy pulang ke rumah untuk mengambil pakaian Bara dan Sela.
"Gue heran deh, dulu gue diangkat jadi sekretaris, udah beberapa tahun tinggal bareng, perasaan profesi gue malah bertambah,"
"Mulai dari tukang kayu, asisten,bodyguard, tukang masak, tempat curhat, perasaan hampir semua profesi gue jalani selama kerja sama dia," dumel Rendy sambil memasukkan beberapa baju milik Bara.
"Gue berharap Sela cepetan wisuda biar ada yang gantiin gue jadi asisten atau sekretaris, capek gue semua profesi gue lakuin," keluh Rendy sambil memilih beberapa baju di walk in closet.
Rendy menatap koper yang sudah penuh dengan baju Bara.
"Cukuplah ya segini, sekarang waktunya buat ambilin baju calon istri gue," gumam Rendy bersemangat untuk pergi ke kamar Sela.
Beberapa menit setelah selesai berkemas Rendy turun ke bawah dengan menarik dua koper.
"Pak Asep, mana Reno?" tanya Rendy ketika tidak melihat Reno yang dia suruh untuk menyiapkan mobil.
"Itu tuan," kata pak Asep menunjuk Reno yang sedang mengendarai motor baru berkeliling halaman.
"Apa itu motor baru?" tanya Rendy sambil membuang begitu saja koper di tangannya dan menghampiri Reno.
"Reno," teriak Rendy memanggil Reno yang asyik mencoba motor baru para bodyguard.
Bara membeli 3 motor Can Am keluaran terbaru untuk para bodyguardnya dan juga untuk dirinya sendiri.
Bara hanya ingin membeli untuk memudahkan para bodyguard bekerja dan lebih tepatnya agar mobilnya tidak lagi ditinggal di toko hewan oleh Rendy.
Bisa- bisa mobil koleksinya habis ditinggal satu- persatu saat Rendy memakainnya.
Reno melajukan motornya menghampiri Rendy yang kini tersenyum menatap mainan baru di depannya.
"Apa tuan?" tanya Reno sambil melepaskan helmnya.
"Gue ingin coba," kata Rendy yang langsung menaiki motornya.
"Yaudah tuan, gimana kalau kita ke rumah sakitnya naik motor aja?" tanya Reno membuat Rendy mengangguk antusias senang.
"Tunggu apalagi, buruan naik," kata Rendy yang mengambil alih kemudinya.
"Apa tuan tidak memakai helm?" tanya Reno karena merasa aneh rasanya penumpang belakang pakai helm yang depan enggak.
"Enggak perlu, yuk buruan," kata Rendy yang sudah bersiap untuk meluncur.
"Pak Asep tolong anterin kopernya ke rumah sakit, nanti taruh aja di lobi biar saya yang bawa," teriak Rendy pada pak Asep.
Pak Asep hanya mengacungkan jempolnya karena Rendy sudah melajukan motornya.
Rendy keluar dari halaman rumah turun ke jalanan menggunakan motor baru Bara.
Kira- kira Reno sudah melihat jam tangannya 10 kali.
Dan mereka belum juga sampai setengah jalan masih dekat perumahan Bara.
"Tuan, berapa kecepatan anda mengendarai, ini sangat pelan sekali?" tanya Reno yang di belakang.
Rendy menatap spedometer lalu kembali menatap ke depan.
"20 km,"jawab Rendy santai tapi tidak dengan Reno yang di belakang.
"Tuan, bisa- bisa kita baru sampai rumah sakit nanti malam," protes Reno yang tidak sabar rasanya ingin sekali mengambil alih kemudinya.
"Udah lo nikmatin aja, kapan lagi lo bisa jalan- jalan nikmati udara kayak gini," kata Rendy sambil menatap kanan kiri sangat menikmati pemandangan pagi ini.
Reno lalu hanya bisa diam mengikuti apa maunya Rendy.
Tapi jujur naik motor dengan kecepatan kayak emak- emak lagi bocengin anaknya gini, rasanya tuh
Wah bosen banget.
Ingin sekali rasanya Reno lompat sekarang juga dan naik bus kota agar cepat sampai ke rumah sakit.
Reno hanya bisa berdoa semoga nanti Bara tidak akan marah.
"Reno, tolong dong lo beliin gue air minum di minimarket depan, gue haus banget," kata Rendy sedikit menoleh ke belakang agar Reno mendengarnya.
"Ya," jawab Reno pasrah lalu Rendy memberhentikan motornya di depan minimarket dan menunggu Reno yang sedang membeli air minum.
Reno keluar dari minimarket dengan kantong plastik yang berisi sebotol air dingin.
Reno memberikannya pada Rendy, dengan cepat Rendy membukanya dan meminum sampai tandas.
"Ahhh segarnya," kata Rendy lalu menyalakan motornya tapi
"Reno, kok motornya mati?" tanya Rendy mulai panik.
Reno yang tadinya masih minum langsung menutup botolnya dan memeriksa motornya.
"Waduh ini kenapa tuan motornya?" kata Reno juga ikutan panik.
"Mana gue tahu," kata Rendy sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Wah bisa- bisa tuan Bara marah kalau tahu motor barunya sudah rusak," gumam Reno sambil berkali- kali menstater motornya.
"Tuan kita harus bagaimana?" tanya Reno terlihat sangat putus asa.
"Gimana lagi, ayo kita dorong bawa ke bengkel," kata Rendy yang sudah bersiap untuk mendorong lalu Reno turun untuk membantu Rendy mendorong.
Rendy beberapa kali mengusap keringatnya yang mengalir bebas di pelipisnya.
Sedangkan Reno beberapa kali mengeluh karena tidak menemukan bengkel.
"Nah itu Reno bengkelnya," teriak Rendy senang saat tahu di depan ada bengkel.
"Buruan tuan dorong," teriak Reno bersemangat untuk mendorong motornya agar cepat sampai di bengkel.
Mereka telah tiba di bengkel, Rendy langsung menghampiri montir yang sibuk memperbaiki mobil pelanggan.
"Bang mau benerin motor bisa?" tanya Rendy membuat montir itu berhenti dari aktivitasnya.
"Bisa," kata montir lalu beralih untuk memeriksa kerusakan pada motor Rendy.
"Emang apanya tuan yang rusak?"
"Enggak tahu tiba- tiba aja enggak bisa nyala,"
Montir itu langsung memeriksa motor Rendy.
Seketika motor langsung menyala membuat Rendy dan Reno berteriak heboh dan saling berpelukan.
"Wihh abang pinter banget merbaiki motornya," puji Rendy pada montir.
"Orang sama tuan motornya enggak dikontak gimana mau nyala," kata montir itu lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua yang kini sedang menahan malu.
Rendy dan Reno membawa pergi motornya dari bengkel dengan perasaan sedikit malu.
Rendy menatap wajah Reno yang terlihat sangat kesal.
"Sorry ya Ren," kata Rendy pada Reno.
"Bisa- bisanya saya ikut dorong motor sampai ke bengkel," dumel Reno.
"Dan begonya lagi, kenapa dari tadi enggak saya kontak motornya kalau tahu enggak bisa nyala karena belum dikontak,"
"Ya lagian kan lo udah ahli dalam naik motor kenapa tadi enggak lo cek dulu motornya," kini Rendy ganti menyalahkan Reno.
__ADS_1
"Ya tuhan padahal kerjaan saya banyak, bisa- bisanya saya olahraga dorong motor sampai ke bengkel," kata Reno sambil membuka jok untuk mengambil helm.
"Ini tuan pakai biar saya aja yang ngemudi motornya," kata Reno langsung naik mengambil alih kemudinya.
Rendy memakai helmnya dan menurut saja pada Reno untuk duduk di belakang.
Reno melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Tuan sekarang sudah pukul berapa?" tanya Reno karena Bara meminta jam 8 sudah sampai di rumah sakit.
"Hah?"
"Sekarang pukul berapa?"
"Kenapa sama papa?"
"Wah bermasalah ini telinganya," gumam Reno karena Rendy yang tidak bisa mendengar jelas perkataan Reno.
"Sekarang pukul berapa?" ulangi Reno dengan suara sangat keras hampir semua orang menatap mereka aneh karena saling teriak satu sama lain.
"Oh ya enggak papa," jawab Rendy sambil melihat pemandangan kanan kiri jalan.
Sedangkan Reno yang di depan sudah merasa gemas sendiri dengan Rendy.
Reno berusaha mengambil ponselnya yang berada di saku untuk melihat jam.
Pukul 9, artinya mereka sudah telat 1 jam, Reno kembali memasukkan ponselnya dan kembali berbicara pada Rendy.
"Tuan anda pegangan saya akan ngebut," teriak Reno dengan sangat keras.
"Hah, siapa yang ribut,"
"Ngebut bukan ribut,"
"Apa?"
"Wah bisa gila kalau gini caranya," gumam Reno merasa putus asa berbicara dengan Rendy.
"Ya tuhan mau dimarahi tapi dia tuan saya, enggak dimarahi saya merasa kayak orang gila," keluh Reno.
"Bukan tunarungu tapi kenapa telinganya bisa bermasalah gitu," gumam Reno sambil menambah kecepatan motonya.
"Reno lo nyanyi apaan sih, enggak jelas banget," teriak Rendy di belakang tepat di samping telinga Reno.
"Astaga, saya padahal ngomelin dia malah dikira nyanyi," kata Reno sudah tidak lagi bisa berkata apa- apa pada Rendy.
.
.
.
.
.
.
.
Reynald sedang melihat semua karyawannya yang sedang mulai menjahit untuk mengawali proyek besar ini.
Reynald sangat senang saat proposalnya dikabarkan telah di acc oleh Clay.
Reynald berniat untuk membuat 3 rancangan busana sekaligus seperti Bara yang juga melakukan hal yang sama.
Katakanlah Reynald gila, dalam 2 minggu ini proyek harus segera selesai dan dia ngotot untuk membuat 3 rancangan busana sekaligus.
Karyawan?
Reynald telah meminta Walles untuk merekrut semua desainer perusahaan kecil untuk bekerja sama dengan Reynald.
"Rey," panggil Walles dengan langkah terburu- buru.
"Kemarilah akan kutunjukkan sesuatu," kata Walles menarik Reynald entah pergi kemana.
"Lihatlah," kata Walles menunjukkan kain yang baru saja datang.
"Walles kain apa ini?" tanya Reynald yang nyatanya dia tidak tahu.
"Apa kamu tidak tahu, ini adalah kain linen, asli dari italia,"kata Walles sambil memegang kain yang baru saja datang.
"Apa kau tidak pernah mendengarnya?" Reynald menggeleng.
"Kain linen adalah kain terbaik sepanjang sejarah dan Italia adalah negara terbesar penghasil kain linen," jelas Walles membuat Reynald mengangguk paham.
"Lantas apa yang akan kau lakukan pada kain ini?" tanya Reynald sambil memegang kain linen yang Walles maksud.
"Kita akan membuat busana kita menggunakan kain linen ini, dengan begitu busana kita akan terjual dengan lelangan yang sangat tinggi," tawa Walles memenuhi gudang kain.
"Apa kau gila, para desainer sudah hampir menyelesaikan satu busana dan kau meminta untuk mengganti dengan kain ini," marah Reynald pada Walles.
"Apa kau sedang bercanda, kita akan kalah jika kembali mengulang dari awal dengan menggunakan kain yang kau pesan," kata Reynald membuat Walles kembali menyakinkannya.
"Dengarkan, jika kita menggunakan kain linen untuk proyek besar ini kemungkinan kita menang dari Bara akan semakin besar," kata Walles membuat Reynald menatap Walles tidak percaya.
"Kenapa kau begitu yakin?" tanya Reynald pada Walles.
Walles membisiki sesuatu pada Reynald membuat Reynald bersorak kesenangan.
"Kau memang sangat pandai Walles," puji Reynald membuat Walles tersenyum.
"Baiklah akan kulakukan yang kau pinta," kata Reynald langsung menemui para desainer untuk mengubah busana mereka dengan kain linen.
"Semuanya dengarkan saya sebentar!" kata Reynald pada para desainer.
"Tolong kalian ubah rancangan busana yang semula menggunakan kain katun dengan kain linen yang baru," kata Reynald membuat beberapa saling berbisik.
"Tuan apa kita tidak salah dengar, busana kita sudah hampir selesai kenapa kita mengubahnya dengan kain linen?" tanya salah satu desainer.
"Turuti saja perintah saya," teriak Reynald membuat mereka menunduk dan diam.
"Sekarang buang semua kain katun itu dan ganti dengan kain linen!" perintah Reynald dengan cepat para desainer membersihkan kain katun yang berserakan dan menggantinya dengan kain linen.
Reynald keluar dari ruangan membuat beberapa dari mereka langsung berbisik, mengeluh, menggerutu dan merasa capek.
"Ya tuhan apa dia gila, bagaimana mungkin kita menyelesaikan 3 busana dalam 2 minggu,"
"Apa dia kira kita robot,"
"Ya tuhan diriku sangat lelah,"
"Bagaimana kita bisa menyelesaikan ini dengan cepat?"
"Aku ingin cepat kembali ke perusahaan ku, meski perusahaan ku kecil setidaknya aku tidak bekerja seperti mesin tanpa henti begini,"
"Bagaimana nasib desainer yang diterima di perusahaan ATF?"
"Pasti mereka kerja dengan sangat nyaman dan profesional,"
Kira- kira itulah ucapan yang keluar dari mulut para desainer saat diberitahukan jika mereka harus membuat kembali busana dengan kain linen.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Bara membopong Sela dari lantai bawah hingga naik ke lantai atas, ke ruangannya.
Ya mereka kini sedang berada di perusahaan.
Bara ingin melihat kainnya yang kemarin lusa sudah datang.
Tapi sebelum mereka sampai di perusahaan ada pertengkaran hebat antara Sela dan Bara.
Entah kenapa Bara memaksa Sela untuk ikut dengannya pergi ke perusahaan.
Bara tidak mengizinkan Sela untuk di rumah sendirian tanpanya.
Padahal Sela ingin sekali bertemu dengan Gabriela.
Dia sangat merindukannya.
Bara membawa Sela ke dalam kamarnya yang berada di ruangan kerjanya.
"Istirahatlah di sini, saya akan segera kembali," kata Bara sambil menyalakan penghangat ruangan.
"Tuan, saya ingin pulang, panggilkan Rendy atau Reno untuk menjemput, saya merindukan Gabriela," kata Sela memohon pada Bara.
Bara terdiam saat melihat wajah gemas Sela yang sedang memohon padanya.
Tapi Bara tidak akan membiarkan Sela sendiri di rumah dengan wanita iblis itu.
"Tidak, kamu akan pulang dengan saya," tolak Bara lalu mengambil laptop yang berada di atas meja.
"Pakailah agar kamu tidak bosan," kata Bara sambil menyerahkan laptop pribadinya pada Sela.
"Saya akan kembali," kata Bara lalu meninggalkan Sela sendiri di kamar.
Bara bergegas menuju ruangan Dea untuk menanyakan kain linennya.
"Dea," panggil Bara ketika baru saja masuk ke dalam ruangan Dea.
"Bagaimana dengan kainnya? Apa sudah datang?" tanya Bara terlihat sangat antusias dengan kainnya.
"Sudah tuan dan semua kini sudah di tata rapi oleh penjaga gudang," lapor Dea pada Bara.
"Mari saya tunjukkan,"kata Dea berjalan menuju gudang kain untuk memperlihatkan pada Bara.
"Saat kain pertama datang semua sudah melewati tahap pembersihan seperti yang anda minta," jelas Dea sambil memperlihatkan sisa kain yang masih digantung setelah dibersihkan.
"Dan ini adalah semua kain yang sudah bersih dan steril dari bau dan juga debu dari box kemarin saat pertama datang," Bara melihat semua kainnya kini sudah tertata rapi dan bersih.
"Baik kerja bagus, mulai hari ini kita akan mengawali proses pembuatan busana langsung dengan kain linen," perintah Bara pada Dea.
"Baik tuan akan saya beritahukan pada seluruh desainer," kata Dea.
"Lalu apa ada sisa kain linen tahun lalu?" tanya Bara pada Dea.
"Masih tuan, sebelah sini," kata Dea menunjukkan tempat dia menyimpan sisa kain linen tahun lalu.
"Ini tuan," kata Dea, Bara menatap beberapa sisa dari kain linen tahun lalu.
Masih sangat bagus sekali.
"Saya minta sama kamu, setelah selesai proyek ini," Bara tidak melanjutkan ucapannya membuat Dea menunggu.
"Tolong buatkan saya satu gaun yang sangat indah," kata Bara sedikit malu mengatakannya pada Dea.
Dea yang mengerti ucapan Bara tersenyum samar.
"Baik tuan akan saya buatkan gaun yang sangat istimewa," kata Dea membuat Bara menatapnya.
"Saya pergi, kerjakan pekerjaanmu," kata Bara keluar dari gudang membuat Dea tidak lagi bisa menahan senyumnya.
"Ya tuhan, kini bosku sedang jatuh cinta," gumam Dea lalu keluar dari gudang kain menuju tempat para desainer untuk memulai proyek mereka.
●●●
Rendy dan Reno baru saja sampai di rumah sakit.
"Buruan Reno," teriak Rendy yang sudah berlari meninggalkan Reno yang masih memarkirkan motornya.
"Tuan tunggu," teriak Reno lalu berlari menyusul Rendy.
Rendy lalu mengambil dua koper yang pak Asep titipkan di lobi dan membawanya naik ke lantai atas.
"Ya ampun tuan, saya capek banget," kata Reno yang langsung duduk di dalam lift ketika dia berhasil menyusul Rendy masuk ke dalam lift.
"Semoga aja tuan Bara tidak marah," kata Reno membuat Rendy mengangguk.
Untungnya saat ini di dalam lift hanya ada mereka berdua jadinya mereka bisa duduk sejenak untuk beristirahat.
"Kenapa rasanya kepala gue berat banget ya," kata Rendy sambil mengibaskan tangannya di depan mukanya.
"Sama tuan saya juga," kata Reno.
Ting
Pintu lift terbuka, buru- buru mereka berlari menuju ruangan Sela.
"Bar maafin gue.....,"
Rendy dan Reno menatap sekeliling, tidak ada siapa- siapa.
Kosong.
"Kemana perginya mereka berdua ?" tanya Rendy kembali menutup ruangan Sela.
"Sus pasien di ruangan ini kemana ya?"
"Oh pasien ini baru saja pulang tuan,"
seketika Rendy dan Reno langsung terduduk di lantai membuat suster itu sedikit terkejut dengan tingkah mereka.
"Malangnya nasibku," kata Rendy sambil duduk bersimpuh di lantai terlihat seperti gembel.
"Kita emang orang yang gabut banget atau gimana sih, padahal kerjaan banyak tapi bisa- bisanya kita,"
"Dorong motor sampai bengkel dikira motornya rusak enggak tahunya itu motor belum dikontak makanya enggak bisa nyala,"
"Kebut- kebutan biar cepet sampek di rumah sakit, enggak tahunya di jalan kena siram orang gara- gara klakson motor kita suaranya keras banget," dumel Reno menceritakan kejadian sebelum mereka sampai di rumah sakit.
"Beruntung banget nasib kita hari ini," kata Rendy sambil menggaruk kepalanya tapi rasanya sangat aneh.
"Ren gue garuk kepala tapi kenapa kepala gue enggak ada rambutnya ya,"
Rendy dan Reno saling menatap lalu tertawa terbahak- bahak karena melihat mereka masih memakai helm hingga masuk ke dalam rumah sakit.
Mereka yang sedang lalu lalang menatap ngeri pada mereka berdua yang tertawa terbahak- bahak dengan helm yang masih melekat di kepala mereka.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎