Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Ingatan Sela


__ADS_3

♡♡♡


Bara berjalan menuju kursi penonton menghampiri seseorang yang sejak tadi terus saja menunduk.


Ternyata Sela


Bara berjongkok di depan Sela, terdengar suara isak tangis.


"Hey," kata Bara sambil mengenggam tangan Sela yang sangat gemetar.


Sela mendongak menatap wajah Bara dengan air mata yang sudah membasahi pipinya sejak tadi.


Mata sembab juga hidung merah untungnya tertutup oleh topi hitam milik Bara.


"Apa kamu tidak tahu betapa takutnya aku kehilanganmu," kata Sela dengan bergetar dan sangat pelan.


Sedangkan Bara merasa bersalah juga merasa senang saat Sela mengkhawatirkan dirinya.


"Ayo kita pulang," ajak Bara yang masih mengenggam tangan Sela.


"Aku ingat semua Bara," gumam Sela yang kembali menangis membuat Bara merasa kasihan dan tidak tega.


Bara langsung saja membopong Sela pergi dari sana agar bisa lebih tenang.


Peter yang melihat itu semua tersenyum senang.


"Semoga wanita lo cepet sembuh son," gumam Peter lalu pergi dari sana dengan pakaian serba hitam.


Bara mengendarai mobilnya begitu cepat agar sampai ke rumah.


Buru- buru Bara membopong Sela menuju lantai atas.


Bara membawa Sela menuju kamarnya dan meletakkan Sela di tepi king size dengan sangat pelan.


Bara lalu duduk di depan Sela sambil memegangi kedua tangan Sela.


"Sayang, sekarang katakan apa yang kamu ingat?" tanya Bara pelan pada Sela.


Sela kembali menangis saat mengingat memori yang pernah hilang dalam ingatannya.


"Aku ingat, ayah meninggal karena dibantai oleh banyak orang," Bara langsung merengkuh Sela dalam pelukannya agar lebih tenang.


Bara hanya diam sambil menunggu sampai Sela kembali bercerita.


"Malam itu banyak orang datang ke rumah, ayah menyembunyikan aku dan ibu di lemari baju," Sela tidak kuat untuk bercerita dan kembali menangis.


Bara menepuk pelan punggung Sela dan berkali- kali menciumi puncak kepalanya.


"Ayah meninggal karena ditembaki oleh orang- orang itu," Sela menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bara dan terus terisak.


"Memang apa yang mereka cari pada ayah?" tanya Bara pelan untuk membantu Sela kembali mengingat traumanya.


"Entah mereka hanya bilang untuk menyerahkan sesuatu pada ayah," kata Sela dengan suara serak dan sedikit parau.


Bara berpikir sejenak kira- kira apa yang mereka cari dari ayah Sela.


"Lantas apa kamu ingat orang- orang yang membantai ayah?" tanya Bara dengan sangat pelan sambil membelai pipi Sela.


"Aku tidak bisa melihat dengan jelas," jawab Sela sambil berusaha untuk mengingat kejadian 10 tahun yang lalu.


Bara mencium puncak kepala Sela lalu melepaskan pelukannya untuk melihat wajah cantik gadisnya.


Bara menghapus air mata Sela dan mengangkat dagu Sela untuk menatap dirinya.


"Aku bakal berusaha untuk mencari siapa pembunuh ayah, agar kita tahu apa yang membuat mereka membantai ayah," kata Bara pada Sela.


Perlahan Sela mengangguk sambil menatap sendu Bara.


"Sayang, kayaknya kita udah cocok deh jadi suami istri,"


Plak


"Awwww," teriak Bara kesakitan saat lengannya dipukul oleh Sela.


"Mana yang sakit?" tanya Sela khawatir sambil sedikit menyingkap baju Bara untuk melihat lengannya.


Memar dan memerah.


Sela langsung menatap Bara tajam dan sinis sedangkan Bara hanya bisa pasrah dan diam saja.


"Cepet lepas bajunya," perintah Sela dengan sangat ketus sambil turun dari king size untuk mengambil kotak P3K.


"Emang mau buat anak sekarang sayang, kita kan belum nikah,"


Bugh


Sela melempar bantal sofa ke arah Bara agar berhenti bicara sembarangan.


Bara hanya bisa tertawa melihat sikap Sela yang marah semakin menggemaskan.


Sela kembali naik ke king size lalu membuka kotak P3K untuk mengobati luka di lengan Bara.


Bara terus saja menatap wajah cantik Sela tanpa beralih sedikitpun.


Sangat cantik membuat dirinya semakin ingin sekali menerkam dirinya.


Sela menempelkan perban tapi seperti koyo yang memiliki tekstur panas untuk mengobati luka memar.


Bara tidak bisa dicuekkan Sela seperti ini.


Bara menempelkan kepalanya di bahu Sela sambil memeluk pinggang Sela.



"Sayang kamu jangan marah lagi dong, kan aku udah menang lawan Reynald," gumam Bara di sandaran bahu Sela.


Sela masih saja diam tidak menjawab dan terus mengobati luka lain Bara.


Bara membuka matanya senyum devil terbit di bibirnya.


Bara sengaja bernapas di dekat leher jenjang Sela membuat Sela mencubit lengan Bara.


Tapi hal itu tidak membuat niat jahil Bara terhenti.


Cup


"Baraaaa," teriak Sela saat Bara mencium sekilas leher jenjangnya.


Bara tersenyum senang saat bisa memanfaatkan kesempatan ini.


Sela mengusap leher bekas ciuman Bara sambil menatap sinis Bara.


Karena malam ini begitu dingin Sela memakai sweaternya dan mengemasi kotak P3K nya.


"Udah," kata Sela hendak turun untuk mengembalikan kotak P3K tapi Bara menarik Sela hingga keduanya terbaring bersamaan di king size.


Bara menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua dan memeluk erat Sela.

__ADS_1


"Tuan saya pengin ke kamar mandi," alibi Sela yang membuat Bara terkekeh.


"Emang enggak ada apa alasan lainnya selain ke kamar mandi," Sela memukul dada bidang Bara.


"Tuan, gimana sama beasiswa saya?" gumam Sela membuat suasana Bara mendadak sendu dan mencoba mengalihkan suasananya.


"Tadi pas ribut aku kamu, sekarang giliran udah baikan saya tuan, kita ini belum nikah tapi udah kayak pasangan suami istri, marahan mulu" celetuk Bara menggoda Sela.


"Aww," Sela mencubit perut Bara gemas.


"Ya tuhan belum rumah tangga aja tiap hari udah ngerasain kdrt," goda Bara membuat Sela hendak mencubit kembali perut Bara namun dengan cepat Bara bangun dan mengunci kedua tangan Sela.


"Kamu enggak bisa apa lembut gitu sama aku, pasangan di luar sana lho semua pada romantis," keluh Bara dan Sela hanya diam saja.


"Yaudah lepasin dulu," kata Sela pada Bara.


"Emang kamu mau apa?" tanya Bara menggoda Sela.


Sela tampak berpikir sesuatu sedangkan Bara tak hentinya menatap wajah cantik Sela.


"Sini peluk," kata Sela membuat Bara melepaskan genggamannya.


Sela bangun dan bersandar di sandaran king size.


Sedangkan Bara hanya diam saja sambil menatap Sela.


"Sini," kata Sela merentangkan kedua tangannya.


Bara tersenyum kesenangan dan langsung memeluk Sela.



Bara memejamkan matanya merasa sangat nyaman di pelukan Sela.


Dan juga sangat hangat.


Sela menghirup aroma maskulin yang sangat kuat pada rambut Bara.


Sangat memabukkan.


"Ternyata berada di pelukanmu terasa begitu nyaman, bahkan tidak ada orang yang bisa memberikan kehangatan seperti ini," gumam Bara sambil memejamkan matanya dan menghirupi aroma harum Sela.


Tidak ada respon dari Sela, terdengar suara napas yang tenang.


Bara mendongak untuk melihat Sela, ternyata dia sudah tidur.


Bara menyingkirkan rambut Sela agar bisa melihat jelas wajah cantiknya.


"Belum jadi istri aja udah perhatian banget dan selalu bikin nyaman, apalagi kalau udah jadi istri," gumam Bara sambil memandangi wajah tidur Sela.


Bara mengeratkan pelukannya agar lebih hangat.


Bara tertidur dengan posisi memeluk Sela seperti itu.


Nyatanya posisi itu sangatlah nyaman dan juga hangat.


.


.


.


.


.


.


.


Sela begitu gugup, apa mungkin dia akan mendapat teguran.


Karena sudah hampir satu minggu ini dirinya tidak mengikuti kuliah.


Sela sedang duduk di ruangan kepala senat sambil menunggu kedatangannya.


Ceklek


"Sela," sapa kepala senat yang baru saja datang dengan beberapa berkas yang dibawanya.


"Apa kamu sudah lama menunggu?"


"Tidak pak," jawab Sela gugup dan juga takut.


"Emm saya hanya ingin membicarakan tentang beasiswa Hardvard. Sudah saya pertimbangkan sekali lagi, jika kamu masih bisa mengikuti beasiswa Hardvard tahun ini," sontak mata Sela berbinar dan wajahnya begitu sumringah.


"Beneran pak?" tanya Sela tidak percaya sama apa yang dia dengar.


Kepala senat hanya mengangguk.


"Ini paspor dan juga surat penerimaan beasiswa Hardvard, kamu simpan baik- baik sampai pemberangkatan nanti," kata kepala senat pada Sela.


"Baik pak, saya akan menyimpannya baik- baik," kata Sela sangat berantusias dan semangat.


"Oh ya satu lagi, ini kunci asrama kamu saat di sana, Sandra dan juga Dico sudah saya beri, jadi nanti kemungkinan besar kalian satu asrama jadi saling menjagalah satu sama lain," pesan kepala senat pada Sela sambil menyodorkan kunci kecil pada Sela.


Kepala senat merasa bangga akan mahasiswa seperti Sela, bisa membawa nama baik kampus Alberta meski kampus ini namanya kini sudah mendunia.


"Kalau boleh saya tahu pak, kenapa semua diberikan sekarang? Kenapa tidak saat kita sudah sampai sana?" tanya Sela karena semua fasilitas dan juga kebutuhan keberangkatan ke Hardvard sudah siap.


"Apa kamu lupa, 5 hari lagi kamu akan kuliah di Hardvard, sebagai mahasiswi penerima beasiswa di sana," Sela mendadak sendu.


Apa 5 hari lagi dia akan ke Hardvard dan jauh dari Bara.


Ya tuhan kenapa cepat sekali rasanya, perasaan dia kemarin nunggu masih satu bulan.


"Semua sudah saya berikan sama kamu, tinggal kita menunggu hari untuk berangkat ke sana," kata kepala senat yang hanya ditanggapi dengan senyuman.


"Kalau begitu saya pamit pak, terima kasih banyak sudah percaya sama saya," kata Sela pamit untuk kembali ke kelas.


Sela keluar dari ruangan kepala senat dengan wajah murung.


Happ


Sela terkejut saat seseorang merebut semua keperluan keberangkatan menuju Hardvard dengan tiba- tiba.


Gabriela


"Gabriela," kata Sela sambil menatap wajah Gabriela yang kini sedang tersenyum smirk ke arahnya.


"Wah nyonya Aldebaran dapet beasiswa nih," ejek Gabriela sambil meliaht satu persatu yang tadi diberikan kepala senat.


"Gabriela sini balikin," kata Sela hendak merebut semua barangnya di tangan Gabriela namun dengan cepat Gabriela menyembunyikannya di balik badannya.


"Eitts jangan buru- buru dong, aku kan juga pengin lihat," kata Gabriela yang memancing kesabaran Sela.


"Gabriela itu penting buat aku, sini balikin," kata Sela terus merebut barangnya yang ada di tangan Gabriela.

__ADS_1


"Ok gue kasih, tapi ada syaratnya," kata Gabriela membuat Sela berhenti merebut barangnya.


"Gimana lo mau enggak? Kalau enggak ya enggak papa, gue bawa korek kok," kata Gabriela sambil merogoh korek di sakunya.


"Gabriela jangan," teriak histeris Sela saat Gabriela sedang bermain- main dengan korek apinya.


Gabriela tersenyum kesenangan saat mendengar jeritan Sela yang memohon.


"Iya aku turuti syaratmu, apa?" tanya Sela pasrah karena barang- barang buat berangkat ke Hardvard sangatlah penting baginya.


Gabriela tersenyum kesenangan mendengar Sela setuju dengan syaratnya.


"Kita balap motor," kata Gabriela membuat Sela melotot tidak percaya.


"Tidak aku tidak mau, itu bahaya La," tolak Sela keras membuat Gabriela kembali mengeluarkan korek apinya.


"Yaudah katakan good bye sama barang tercinta lo ini," kata Gabriela sambil menyalakan korek apinya.


"Iya- iya aku terima syaratmu, tapi tolong jangan bakar barangku," kata Sela menyetujui syarat Gabriela.


"Ok, kalau gitu gue tunggu malem nanti di sirkuit balapan," kata Gabriela berjalan mendekat ke arah Sela.


"Kalau lo menang lo bisa ambil semua barang lo tanpa terkecuali, tapi kalau gue yang menang," Gabriela tidak melanjutkan ucapannya sambil menatap tajam mata Sela.


"Bara jadi milik gue, gimana?" tanya Gabriela yang memberikan pilihan sulit untuk Sela.


Gabriela tahu jika Bara sudah melamar Sela.


Karena malam itu Gabriela tidaklah langsung pulang melainkan mengikuti keduanya hingga pada saat Bara melamar Sela, itu semua Gabriela sudah mengetahuinya.


"La kenapa kamu begitu jahat?" tanya Sela memberanikan diri menatap tajam Gabriela sambil terus berjalan mendekati Gabriela.


Gabriela terkejut dengan sikap berani Sela padanya.


"Jangan iri sama apa yang orang lain punya, terlebih iri dengan kebahagiaan orang lain itu tidak baik," kata Sela pelan namun penuh penekanan.


Gabriela merasa jika Sela makin kesini makin berani padanya.


"Inget, sampai kapan pun Bara enggak bakal berpaling dariku terlebih melirikmu, tidak akan pernah, inget baik- baik" bersamaan dengan itu Sela langsung merebut barangnya dari tangan Gabriela.


Sela pergi begitu saja meninggalkan Gabriela di depan ruangan kepala senat.


Gabriela mendengus sebal saat Sela berhasil merebut barangnya dari tangannya.


"Awas aja kali ini lo mungkin lolos, tapi enggak buat besok," ancam Gabriela sambil menatap tajam Sela yang sudah pergi untuk kembali ke kelas.


Sela merasa bersyukur karena dirinya bisa merebut kembali barangnya dari Gabriela.


Sela akan menjaga baik- baik dari tangan jahil Gabriela.


Orang seperti Gabriela tidak mungkin akan menyerah begitu saja, percayalah.


Ting


Ponsel Sela berbunyi, terlihat ada satu pesan dari Bara.


Sayang, nanti pulang jemput pak Asep ya, aku ada urusan bentar. Be careful, my wife


Sela tersenyum samar mendapat pesan dari Bara.


Sela memasukkan ponselnya dan mempercepat langkahnya menuju kelas.


□□□


Bara sedang duduk di ruangan papanya.


Bradsiton sedang melakukan rapat dengan para investor.


Ceklek


"Udah selesai pa?" tanya Bara saat melihat papanya masuk ke dalam ruangannya.


"Hey son, udah cuma persiapan buat proyek minggu ini," jawab Bradsiton lalu mengambil dua cangkir kopi setelah itu membawanya ke Bara.


"Ada apa kamu ke sini? Tumben, biasanya jam segini udah on time jemput Sela," kata Bradsiton yang mengetahui segala kegiatan putranya itu yang kini semakin bucin sama Sela.


"Bara butuh bantuan papa," kata Bara membuat Bradsiton mengangguk sambil menyesap kopinya.


"Sela bentar lagi akan berangkat ke London," gumam Bara yang tidak dilanjutkan.


"Terus? Kamu mau ikut juga ke London?" goda papanya.


"Sela mengalami trauma besar pa, jadi Bara khawatir jika terjadi sesuatu pada Sela saat di London," kata Bara mulai serius.


"Maksud kamu trauma?"


"Sela mengalami pobia kegelapan karena traumatis masa kecilnya. Ayahnya dibantai habis- habisan oleh seseorang di depan matanya sendiri," kata Bara menjelaskan pada Bradsiton.


"Astaga, memang apa masalahnya?"


"Entah Sela sendiri juga tidak tahu, mereka hanya meminta sesuatu dari ayahnya. Bara takut jika orang- orang itu masih berkeliaran untuk mencari Sela dan juga ibunya," Bradsiton mengangguk paham.


"Lantas apa yang harus papa bantu?"


"Pa, suruh 10 bodyguard kepercayaan papa buat jaga Sela selama di London," mohon Bara karena bodyguard papanya lebih terlatih dan teliti dibanding bodyguardnya.


"Son, kalau 10 kebanyakan, nanti di sini siapa yang bakal bantu papa?" tanya Bradsiton keberatan.


"Papa pengin enggak punya menantu Sela?" tanya Bara mengeluarkan jurus andalannya.


"Ya penginlah,"


"Makanya jagain calon istrinya Bara kalau pengin punya menantu Sela," kata Bara membuat Bradsiton menahan tawanya.


"Entar Bara buatin cucu dari Sela, gimana?"


"Dasar kamu, nikah aja belum diambil orang baru tahu rasa kamu," ejek papanya membuat Bara terkekeh.


"Yeee enak aja, enggak akan ada yang bisa ambil Sela dari Bara. Karena Bara udah ngelamar Sela," Bradsiton tersedak mendengar ucapan Bara.


"Apa kamu bilang? Melamar?" Bara mengangguk sambil menahan tawanya melihat ekspresi papanya.


"Makanya biarin Bara nikah sama Sela biar cepet punya cucu," kata Bara terus membujuk papanya.


"Yaudah kamu kapan mau nikahnya?"


"3 tahun kemudian,"


Apa yang bakal terjadi sama 3 tahun kemudian?


Bara menikah sama Sela kah?


Atau keduanya bisa terus bersama meski terpisah oleh jarak?


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


**Di chapter ini udah mulai ada petunjuk- petunjuk kecil buat ke depannya.

__ADS_1


Jadi, bacanya yang teliti dan dipahami ya, biar ngerti sama alurnya dan kode disetiap percakapan tokoh.


Maaf ya buat kemarin saya enggak up🙏dan malam ini saya up nya kemalaman🙏**


__ADS_2