Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
See You Again


__ADS_3

□■□■


Dewa dan Sandra sedang duduk berdua di balkon asrama mengobrol sembari menikmati langit malam yang indah.


"Kenapa Bara jadi berubah?" tanya Sandra kala mendengar cerita dari Dewa.


"Entahlah mungkin karena dia jauh dari Sela," jawab Dewa sembari mengeratkan pelukannya.


"Kasihan Sela, aku takut dia kecewa," gumam lirih Sandra sambil mendongak menatap wajah Dewa.


Cup


"Aku jauh- jauh datang kesini untuk bertemu denganmu, jangan membicarakan orang lain," kata Dewa sambil mencium pipi chubby Sandra.


"Apa kak Reynald tahu kamu datang kesini?" tanya Sandra khawatir.


"Dia sibuk dengan kak Jessy," jawab Dewa sembari menciumi puncak kepala Sandra.


"Aku kira selama 3 tahun ini aku tidak akan lagi punya kesempatan untuk bertemu denganmu," kata Sandra sambil menunduk ke bawah.


"Kenapa bisa?" tanya Dewa penasaran dengan perkataan Sandra.


"Siapa yang tahu jika 3 tahun ini kamu sudah mempunyai pendamping atau sedang merencanakan pernikahan," Dewa tersenyum sangat manis sekali.


"Ya aku memang sedang merencanakan pernikahan dan itu sudah kusiapkan jauh hari," kata Dewa membuat Sandra merasa hatinya mencelos.


Tapi siapa yang tahu jika Dewa diam- diam tersenyum melihat perubahan ekspresi Sandra.


"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu," kata Sandra sambil kembali mendongak menatap Dewa.


"Itu pasti karena aku begitu mengenalnya," sahut Dewa sembari menggosokkan kedua telapak tangannya lalu menempelkannya pada kedua pipi Sandra.


"Tidur gih udah malem, besok kamu juga kuliah kan," suruh Dewa sambil menatap gemas mata cantik Sandra.


"Malam ini kamu akan tidur di mana?" tanya Sandra karena asramanya begitu ketat sekali, ini aja ngobrol 2 jam udah berkali- kali dipanggil satpam disuruh pulang.


"Kan banyak motel di sini," jawab Dewa santai membuat Sandra melotot lalu mencubit perutnya.


"Awww kok dicubit sih," kata Dewa merintih kesakitan.


"Lagian nginep di motel kalau calon istrimu tahu bisa habis kamu," kata Sandra menakut- nakuti Dewa.


"Calon istriku memang posesif dan pemarah tapi enggak segalak kamu tahu enggak," kata Dewa yang diam- diam membuat hati Sandra seperti tersayat.


Sakit dan perih.


"Udah aku mau tidur," kata Sandra yang sudah beranjak dari duduknya hendak masuk ke dalam kamar.


"Sandra," langkah Sandra terhenti lalu berbalik menatap Dewa.


"Besok malem aku mau ajak kamu keluar jadi," Dewa tidak melanjutkan ucapannya lalu berjalan menghampiri Sandra.


"Dandan yang cantik ya," bisiknya tepat di telinga Sandra lalu pergi dari kamar Sandra begitu saja.


Sandra menghembuskan napasnya, beberapa detik yang lalu rasanya oksigen habis dihirup Dewa semuanya tanpa tersisa.


"Dasar fuckboy, udah punya istri juga," geurutu Sandra sambil menutup gordennya dan pergi tidur.


Sandra membaringkan tubuhnya di ranjang sambil menatap foto mereka bertiga.


Dewa Sandra dan Sela.


Sela sudah mempunyai Bara dan Dewa sebentar lagi akan menikah.


Lalu kapan dia juga akan merasakan hal yang sama seperti mereka berdua.


Kira- kira siapa ya istri dari Dewa?


Ah kenapa Sandra jadi memikirkan hal itu, mau siapapun itu dia semoga Dewa bisa bahagia.


.


.


.


Sandra sedang menunggu Dewa datang, entah apa yang direncanakan oleh Dewa.


Tadi siang sepulang dari kampus, sudah ada gaun di kamarnya dan itu dari Dewa.


Sandra terpaksa memakai gaun yang telah Dewa berikan.


Awas aja kalau sampai Dewa bohongi Sandra, gue bakal gantung tuh calon istrinya.


Cit


Mobil lamborgini putih terparkir di depan lobi asrama.


Dewa turun dari mobilnya, Sandra bahkan dibuat kagum beberapa detik oleh Dewa.



Damagenya bund, bukan main.


Begitu juga Dewa, ia juga sempat terpesona akan kecantikan Sandra malam ini dengan gaun yang ia pilihkan.



Bahkan Dewa menyesal karena telah membelikan gaun enggak ada akhlak tersebut.


"Hey," sapa Dewa membuat Sandra merasa sedikit canggung.


"Kita mau kemana sih?" tanya Sandra untuk menghilangkan rasa canggung di antara keduanya.


"Udah ikut nanti juga tahu, tapi sebelum itu aku mau tutup mata kamu dulu," kata Dewa sambil mengeluarkan kain hitam sebagai penutup mata.


Setelahnya Dewa menuntun Sandra untuk masuk ke dalam mobil.


Dewa melajukan mobil menuju tempat yang sudah ia siapkan sejak tadi sore.


Dan itu tanpa sepengetahuan Sandra.


Tidak membutuhkan waktu banyak mereka telah tiba di tempat tujuan.


Dewa memutari mobilnya lalu memegang erat tangan Sandra menuju tempat yang sudah ia siapkan.


"Kita mau kemana sih?" tanya Sandra yang sudah tidak sabaran.


"Entar juga tahu," jawab Dewa masih berjalan menuju tempat spesial untuk malam ini.


"Udah sampai," kata Dewa berhenti berjalan sambil memandangi tempat yang sudah ia siapkan sejak sore tadi.


"Udah boleh dibuka belum?" tanya Sandra yang juga sangat penasaran.

__ADS_1


Dewa melepaskan genggamannya lalu beralih untuk melepaskan ikatan di kepala Sandra.


Sandra menganga melihat semua dekorasi indah ini.


Wow begitu keren.


"Suka enggak?" tanya Dewa pada Sandra. Sandra mengangguk lalu beberapa saat tersadar.


"Kamu ngapain ajak aku kemari? Oh aku tahu kamu mau kasih kejutan ke istri kamu?" tanya Sandra dengan polosnya membuat Dewa tertawa renyah.


"Iya, ini dekorasi udah aku siapin sejak sore tadi cuma buat dia, sekarang aku udah bawa dia kesini," kata Dewa membuat Sandra tidak paham.


"Maksud kamu?" tanya Sandra membuat Dewa berjalan untuk menunjukkan sesuatu pada Sandra.


Dewa berjongkok lalu menyalakan korek api dan membentuk tulisan.


Will You Marry Me?



Sandra membungkam mulutnya tak percaya, apa dia sedang mimpi?


Sepertinya tidak mungkin jika ini mimpi.


Bagaimana bisa dua orang mimpi bersamaan dengan waktu yang sama.


Dewa berjalan menghampiri Sandra lalu berjongkok di depannya.


"Bagaimana? Will you marry me?" tanya Dewa sembari membuka berudu merah berisi cincin berlian di depan Sandra.


"Bukankah kamu bilang sudah memiliki calon istri dan akan menikah?" tanya Sandra dengan polosnya membuat Dewa tertawa mendengarnya.


"Tunggulah sebentar aku sekarang sedang melamarnya, jika dia menerimaku berarti dia calon istriku tapi jika dia menolakku, entahlah mungkin aku akan melajang hingga tua nanti," mata Sandra berkaca- kaca mendengar ungkapan isi hati Dewa.


"Will you marry me?" tanyanya sekali lagi tanpa ragu Sandra mengangguk membuat Dewa sontak berdiri dan melompat bahagia.


Dewa langsung memasangkan cincin berlian itu pada Sandra lalu memeluknya erat menciumi puncak kepalanya yang begitu harum.


"Terima kasih sudah mau menerimaku," bisik Dewa dalam pelukannya.


"Apa ini serius?" tanya Sandra yang entah untuk berapa kalinya.


"Liatlah ke atas," pinta Dewa pada Sandra.


Dalam hitungan detik kembang api yang sangat cantik menyala di atas langit malam.



"Wahh cantik banget," kata Sandra tersenyum lebar melihat kembang api yang menyala di langit malam.


Dewa menatap Sandra dari samping, terlihat begitu cantik dan mempesona.


Dewa meraih tengkuk Sandra dan mencium bibir merah yang kini akan menjadi miliknya seorang.


Sandra hanya diam sembari memejamkan matanya.


Dewa memangut pelan bibir manis Sandra sambil meraih pinggang Sandra agar lebih dekat dengannya.


Malam ini Sandra begitu bahagia mendapatkan kejutan ini semua.


Ya tuhan andai papa dan mama masih hidup pasti mereka akan bahagia melihat putri mereka kini telah menemukan sosok yang akan menjadi pendampingnya.


♡♡♡♡


Bukan untuk kerja melainkan memandangi foto seseorang yang terdapat di layar monitor.


Urusan kerja selalu Rendy yang menjalankan meski dia bosnya.


Mau bagaimana lagi daripada mood dia hancur karena kerjaan mending natap wajah cantik gadisnya bisa mencuci mata juga otaknya.


Tok tok tok


Bara melirik pintu dan kembali menatap layar monitor kala tahu siapa yang datang.


Laura


Dia terlalu malas menanggapi perempuan ular ini.


Sudah selama 3 tahun ini Laura dengan gencarnya terus mendekati Bara.


Tapi tak sedikitpun terbesit perasaan apapun di hati Bara.


Hanya Sela.


"Bara ini aku bawain kamu makan siang," kata Laura sambil menaruh rantang makanan yang selalu ia bawakan setiap hari.


"Hmm," jawab Bara sambil memandangi foto- foto Sela lalu beralih ke game dan mengabaikan Laura.


"Kamu enggak mau makan?" tanya Laura karena Bara tak kunjung membuka rantang makanan yang ia bawakan.


"Gue enggak laper," kata Bara lalu mematikan laptopnya dan pergi keluar mencari udara segar dibanding harus bersama Laura.


Bara keluar dari ruangannya dan seketika kakinya terasa kaku.


Deg


Hatinya merasa sangat bergetar, mulutnya terasa ngilu dan matanya seakan mendadak blur.


Sela



Bara terpesona akan karisma Sela untuk 3 tahun ini.


Lihatlah dia sekarang, terlihat dewasa dan juga begitu elegan.


Wajahnya berkali- kali lipat cantiknya.


Keduanya saling menatap satu sama lain tanpa mengucapkan apapun hingga seseorang merusak suasananya.


"Bara....," panggil Laura yang baru saja keluar dari ruangan Bara.


Laura menatap terkejut akan kedatangan Sela.


Laura akui jika Sela mengalami perubahan yang sangat pesat.


Lihatlah dia, kini menjadi seorang perempuan berkelas dan elegan.


Tidak seperti Sela yang dulu ia selalu hina.


"Oh ada kamu," kata Laura sambil berdiri di samping Bara dan tersenyum miring.


"Aku mau bicara sama kamu," kata Sela yang sejak tadi mengumpulkan niatnya untuk mengatakan pada Bara.

__ADS_1


Bara hanya diam tak menjawab lalu memalingkan wajahnya.


"Sorry Bara enggak mau diganggu," Sela melirik tajam Laura.


Di luar dugaan Bara malah meraih tangan Laura sambil menatap Sela sekilas.


"Sorry gue sibuk," lalu berjalan melewati Sela begitu saja.


Sela berbalik untuk memastikan, apa yang dia lihat tidak benar.


Laura tersenyum licik ke arah Sela kala Bara mengabaikannya.


Kamu harus kuat Sel, emang enggak segampang itu buat minta maaf, batin Sela menguatkan dirinya sendiri.


Sampainya di lobi, Bara menghempaskan tangan Laura lalu masuk ke dalam mobil meninggalkan Laura begitu saja.


"Ihh kok gue ditinggalin sih," gerutu Laura kala Bara tidak mengatakan apapun padanya dan pergi begitu saja.


Tap


Tap


Tap


Laura berbalik dan melihat sosok Sela yang berjalan begitu anggun.


"Duh kasian banget ya, udah jauh- jauh dateng kesini, eh malah dicuekin," ejek Laura sambil tertawa sumbang, sedangkan Sela tersenyum smirk.


"Jadi pelampiasan aja bangga," sahut Sela membuat Laura berkacak pinggang dan melotot ke arah Sela.


"Apa lo bilang? Emang lo sendiri enggak ngaca, Bara udah muak sama lo dan lo masih mau dekati dia," kata Laura sambil menatap sinis Sela.


"Wanita yang berkelas enggak bakal ngemis buat dapetin cinta seseorang, apalagi ngejar- ngejar," kata Sela seakan membekas di hati Laura.


Siapa yang tahu jika diam- diam Bara masih memantau keduanya meski jaraknya dekat tapi keduanya tak mengetahui.


Bara salut akan perubahan sikap Sela yang semakin dewasa dan lebih berani.


"Lo ya bener- bener," kata Laura hampir menampar wajah cantik Sela namun terhenti kala Sela memegang tangannya.


"Kita sama- sama perempuan harusnya kamu tahu bagaimana perasaan mereka saat kebahagiaannya direbut perempuan lain," kata Sela lalu menghempaskan tangan Laura dan masuk ke dalam mobil taksi.


Laura menatap kepergian mobil taksi tersebut, rasanya benar- benar membekas dalam hati Laura.


"Perempuan ini benar- benar menyebalkan," dumel Laura lalu masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya pergi.


Mobil Bara perlahan juga pergi untuk melihat kemana Sela pergi.


.


.


.


.


.


Pak Asep sedang memandangi dua laki- laki yang kini sedang bergelut di dapur.


Sudah 1 jam mereka tak kunjung kelar di dapur.


Entah mereka sedang memasak atau baku hantam.


Yang pasti sejak tadi mereka tak henti- hentinya menyalahkan satu sama lain.


Pak Asep di sini hanya memastikan jika dapurnya tidak sampai terbakar karena ulah mereka.


Karena ini sudah ketiga kalinya dapur direnovasi karena ulah keduanya.


Bagaimana tidak, mereka selalu berantem dan menyalahkan.


"Ren buruan goreng ikannya," suruh Rendy yang sibuk memotong sayuran.


"Sekarang," tanya Rendy sambil memasang tlefon di atas kompor.


"Enggak taun depan," jawab Reno sadis.


Rendy langsung memasukkan ikannya lalu menunggu hingga berubah warna.


"Udah gorengnya?" tanya Reno setelah mencuci semua sayuran yang ia potong.


"Udah," jawab Rendy lalu Reno yang penasaran datang untuk memeriksa.


"Astaga Rendyyyy, lo goreng ikan mana minyaknya, mana siripnya enggak lo bersihiin lagi," kata Reno yang langsung mematikan kompornya dan mengangkat ikannya untuk dibersihkan siripnya.


"Lo tuangin tuh minyaknya gue bersihiin bentar ikannya," pinta Reno dan Rendy hanya menurut saja karena dia tidak mengerti.


"Nih udah gue tuangin," kata Rendy lalu Reno selesai mencuci ikannya langsung memasukkannya ke dalam tlefon.


"Lo udah nyalain kompornya belum?" tanya Reno karena sejak tadi kenapa minyaknya belum juga panas.


"Udah,"


"Tapi kok belum panas minyaknya. Lo kasih minyak di botol mana?" tanya Reno curiga.


"Noh," tunjuk Rendy pada botol warna kuning. Reno langsung mengambil untuk memeriksanya.


"Ini kan madu bego bukan minyak," kata Reno yang marah pada Rendy.


"Ya mana gue tahu," jawab Rendy tanpa rasa bersalah.


"Lo tuh lulusan universitas mana sih, masak lo enggak tahu bedanya madu sama minyak," kesal Reno pada Rendy.


"Siapa yang tahu kalau madu sama minyak sama- sama kuningnya," jawab Rendy yang sedang membela diri.


"Ya kan lo bisa liat sih Rendy, kental apa cair," kata Reno yang merasa tertekan saat memasak dengan Rendy.


"Gue enggak bisa bayangin gimana nanti kalau lo punya istri, yang ada lo yang digoreng sama istri lo," kata Reno sambil mengganti tlefon untuk menggoreng.


"Ya enggak usah punya istri," jawab Rendy sekenanya membuat Reno hanya menghembuskan napas.


Pak Asep menghela napas, hanya perkara menggoreng ikan aja hampir 2 jam di dapur.


Ya tuhan lebih baik enggak makan ikan daripada dapurnya terbakar.


"Ehhh nona Sela dateng," teriak bodyguard di lantai satu membuat Rendy dan Reno saling tatap dan melotot karena terkejut.


"Panik enggak?" tanya pak Asep yang langsung menuruni tangga.


"Panik enggak?" tanya Reno sambil melepas celemeknya.


"Paniklah masa enggak," jawab Rendy yang berlari masuk ke dalam lift untuk bertemu Sela.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2