Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Club


__ADS_3

□■□■


Walles dan Reynald sedang berada di rooftop kantor.


Mereka menikmati secangkir kopi dengan suasana senja di sore hari.


"Dia sudah kembali," gumam Walles dan direspon anggukan oleh Reynald.


"Benar, tapi hubungannya tidak seharmonis tahun lalu. Terlebih kita mempunyai Laura dan Gabriela sebagai penganggu dari keduanya," sahut Reynald terlihat begitu riang.


"Menurutmu plan A kita akan berhasil atau tidak?" tanya Walles pada Reynald.


"Tentu saja memangnya kenapa? Jika kita gagal kita bisa menggunakan plan B," jawab Reynald dengan santainya.


"Aku hanya takut terjebak dengan permainan keluarga Bradsiton," ucapan Walles membuat Reynald menghentikan kegiatannya meminum kopi.


"Maksudmu?" tanya Reynald yang tak mengerti arah pembicaraan Walles.


"Sudah 3 tahun lamanya kita menyelidiki kematian Bradsiton dan istrinya, tapi tidak pernah berhasil dan tidak pernah tahu siapa dalang di balik kebakaran mobil mereka," kata Walles membuat Reynald sedikit berpikir.


Benar ucapan Walles, kematian mereka seakan sebagai misteri.


"Padahal kita baru saja merencanakan belum melakukan tindakan untuk membuat mereka celaka. Lantas siapa dalang dibalik ini semua?" tanya Walles yang dihantui rasa penasaran selama 3 tahun ini.


"Benar, jika itu hanya sebuah kecelakaan biasa rasanya tidak mungkin. Pengawal Bradsiton bahkan terdapat agen FBI bagaimana bisa Bradsiton celaka seceroboh itu," kata Reynald membenarkan rasa penasaran Walles.


"Menurutmu, bukankah ada yang aneh?" tanya Walles yang masih penasaran setengah mati.


"Sebaiknya kita harus hati- hati dengan mereka semua, tidak semudah itu untuk mengalahkan keluarga Bradsiton," peringat Walles pada Reynald.


"Tapi bukankah kita sudah memasukkan dua jebakan untuk Bara?" tanya Reynald membuat Walles tersenyum devil.


"Benar juga," jawab Walles lalu keduanya tertawa bersama.


♡♡♡


Sepulang dari kantor tadi, Sela menyempatkan diri untuk pergi ke makam Bradsiton dan Rose.


Dia bersama Dhea dengan menaiki taksi yang dipesan oleh Sela.


"Pa ma Sela dateng," kata Sela sambil menatap makam keduanya.


"Maafin Sela tidak bisa datang tepat waktu saat kalian pergi," Sela mulai meneteskan air matanya membuat Dhea spontan mengusap punggung Sela.


"Maafin Sela juga karena tidak bisa menemani Bara saat dia sedang membutuhkan seseorang di sampingnya," tangis Sela tak terdengar namun Dhea merasa jika tangisan itu sangat menyakitkan.


"Sel udah jangan nangis," kata Dhea lirih sambil mengusap air mata Sela.


"Kak Sela salah enggak sih kalau ingin memperbaiki hubungan ini dengan Bara?" tanya Sela disela tangisnya.


"Enggak ada yang salah Sel, untuk saat ini mungkin tuan Bara hanya sedang mengalihkan fokusnya darimu dengan melampaiskannya kepada dua perempuan ular itu," kata Dhea sambil merengkuh Sela ke dalam pelukannya.


"Tapi aku tidak kuat untuk melihat itu semua," kata Sela dengan suara serak.


"Jangan pedulikan dua perempuan itu, percayalah jika tuan Bara tak seutuhnya melupakanmu, dia hanya butuh waktu untuk berpikir kembali," kata Dhea sambil menatap mata sembab Sela.


"Ayo pulang udah malem," kata Dhea mengajak Sela untuk pulang mengingat mereka sangatlah lelah karena habis pulang dari kantor.


"Kak aku akan mengantarmu pulang setelahnya aku baru akan pulang," kata Sela pada Dhea sebelum masuk taksi.


"Tidak aku yang akan mengantarmu pulang terlebih dulu," kata Dhea sambil sedikit mendorong Sela untuk masuk ke dalam taksi.


Mau tidak mau Sela menuruti perkataan Dhea.


Selama di perjalanan pun Sela dan Dhea hanya diam dengan pikiran mereka masing- masing.


Dhea sudah mengantar Sela hingga ke rumah dengan selamat.


"Kak terima kasih banyak sudah mengantar," kata Sela merasa sungkan dengan Dhea karena sudah merepotkan.


"Tidak usah merasa sungkan, aku senang bisa menemanimu," kata Dhea sambil tersenyum manis.


"Eh Dhea Sela," kata Reno yang baru saja keluar dari garasi.


"Eh Ren kamu ada waktu luang enggak?" tanya Sela pada Reno.


"Ada kenapa emangnya?"


"Tolong dong anterin kak Dhea pulang kasian kan dia cewek pulang sendirian mana naik taksi lagi," kata Sela membuat Reno melirik taksi yang mereka tumpangi.


"Ehh enggak usah, apaan sih kamu Sel aku bisa pulang...,"


"Ayo gue anter," kata Reno lalu menghampiri sopir taksi.


"Pak ini ongkosnya, biar saya yang anter dia pulang," kata Reno sambil memberikan selembaran uang.


Reno langsung mengambil mobilnya di garasi untuk mengantar Dhea pulang.


"Ayo naik," kata Reno yang sudah siap dengan mobilnya.


"Sel aku pulang dulu ya, makasih," kata Dhea pamit pulang dan pergi bersama Reno.


Sela masuk ke dalam rumah, apa Bara sudah pulang.


Kenapa sepi?


"Eh Sel lo baru balik?" tanya Rendy yang sedang bermain game di lantai 1.


"Ren Bara udah pulang?" tanya Sela karena suasana rumah sepi.


"Belum, gue kira tadi dia pulang sama lo," kata Rendy yang tidak tahu.


"Terus kemana dia sekarang?" tanya Sela yang kini mulai mencemaskan keadaan Bara.


"Bentar enggak usah panik, gue tanya temen- temennya," kata Rendy langsung menghubungi teman- teman Bara.


Sela menunggu Rendy dengan rasa cemas tentang di mana Bara sekarang.


"Halo Vin, lo tahu Bara di mana enggak?" tanya Rendy kala teleponnya tersambung.

__ADS_1


"...."


"Apa lo seriusan?" tanya Rendy kaget membuat Sela mendekat dan menatap Rendy cemas.


"Ok ok gue akan ke sana, jagain dia," pesan Rendy sebelum mematikan panggilannya.


"Ren Bara di mana?" tanya Sela sangat panik.


"Dia sekarang ada di club," jawab Rendy yang langsung menyambar kunci mobil.


"Aku ikut Ren," kata Sela membuat Rendy melihat penampilan Sela.


"Enggak usah deh Sel mending lo di rumah aja, gue bakal bawa Bara pulang kok," tolak Rendy yang tidak mau mengambil resiko.


"Gue ikut," kata Sela dengan tegas membuat Rendy tidak bisa menolak.


"Iyadeh tapi lo ganti baju dulu ya, entar yang ada gue dimarahi sama Bara," kata Rendy namun tidak digubris Sela, dia langsung berlari keluar rumah dan menaiki mobil Rendy.


"Duh sayang banget lo cantik kalau enggak udah gue bantai mungkin," gumam Rendy yang tidak habis pikir dengan sikap keras kepala Sela.


Rendy menjalankan mobilnya menuju club milik Bara dengan Sela yang terus memintanya untuk mempercepat laju mobilnya.


.


.


.


Rendy langsung masuk ke dalam club untuk mencari keberadaan Bara diikuti Sela di belakangnya.


"Vin," teriak Rendy karena suara bising membuat Rendy harus berteriak.


Alvin yang merasa dirinya dipanggil langsung menghampiri Rendy dan Sela.


"Mana Bara?" tanya Rendy.


"Noh di sudut," tunjuk Alvin di mana Bara sedang minum alkohol bersama teman- teman yang lainnya.


"Eh kamu ceweknya Bara kan?" tanya Alvin kala melihat Sela. Sela hanya mengangguk.


"Ren biar aku aja yang samperin," kata Sela membuat Rendy dan Alvin cemas dengan Sela.


"Lo hati- hati ya, gue jaga lo di sana," kata Rendy sambil menunjuk sofa yang tak jauh dari tempat duduk Bara.


Sela hanya mengangguk lalu berjalan berhimpitan untuk menghampiri Bara.


"Tuan," panggil Sela membuat Bara yang tadi asyik bermain kartu mendongak dan terkejut saat mendapati Sela berdiri di depannya.


"Ayo kita pulang," ajak Sela setengah berteriak karena suara musik yang sangat keras.


"Bro disuruh pulang noh sama cewek lo," kata salah satu temannya pada Bara.


"Abaikan aja," jawab Bara sambil memainkan kartunya dan mengabaikan Sela yang masih berdiri.


Sela tidak akan menyerah begitu saja sebelum Bara mau pulang bersamanya, ia memilih duduk semeja dengan mereka berempat.


"Biarin aja kita lanjut main," kata Bara yang terus mengabaikan Sela dan lanjut main.


"Halo sayang," teriak seorang perempuan, Sela mendongak dan menatap dengan jelas wajah perempuan itu karena lampu yang remang- remang.


Laura?


"Hey, duduk sini," kata Bara sambil menepuk sisi sofa yang kosong di sebelahnya.


"Wih cewek lo banyak juga ya bro," kata temannya membuat Bara tersenyum miring sembari merangkul bahu Laura.


"Ngapain lo setia kalau ujung- ujungnya lo yang bakal dapet luka," sindir Bara pada Sela.


Sela memalingkan wajahnya untuk menahan air matanya, andai aja sekarang lampunya terang mungkin terlihat jika mata Sela berkaca- kaca.


Sedangkan Rendy dan Alvin yang melihat dari jarak jauh merasa geram dengan kelakuan Bara.


"Vin tangan gue udah gatel buat gebukin Bara," kata Rendy yang benar- benar terlihat marah pada Bara.


"Tenang bro, Bara tuh cuma sandiwara aja," kata Alvin membuat Rendy menatapnya horor.


"Maksud lo?" tanya Rendy tak mengerti.


"Lo liat aja," kata Alvin sambil menyuruh seseorang untuk menghampiri Sela.


"Eh bro, kalian enggak tahu ada cewek cantik di sini, masak dianggurin sih," kata seorang cowok sambil membawa botol minuman dan berpura- pura mabuk.


Semua yang duduk di samping Bara kecuali Laura mengisyaratkan dengan mata mereka agar tidak menganggu milik Bara.


Namun cowok itu hanya tersenyum miring dan memberanikan diri untuk duduk di samping Sela meski dia tahu sejak tadi aura Bara begitu mencekam.


"Hey cantik sendirian aja," kata cowo itu sambil menyentuh dagu Sela dan langsung ditepis oleh Sela.


"Jangan menyentuhnya," kata Bara dengan tegas dan nada menggeram menahan amarah. Namun hal itu diabaikan oleh cowok tersebut.


"Gimana kalau pulang sama aku aja," katanya masih merayu Sela.


Bugh


Bara memukul rahang cowok itu hingga terjerembab di lantai.


"Gue bilang jangan sentuh dia," bentak Bara dengan mata memerah dan napas yang tak beraturan.


Sela yang mendengar bentakan Bara saja begitu terkejut.


"Anter gue ke kamar mandi," kata Bara pada Laura.


Dengan senang Laura merangkul pinggang Bara dan mengantarnya ke kamar mandi.


Sela tidak mau ketinggalan dia mengikuti Bara dan Laura.


Sesampainya di kamar mandi, Laura dengan sabar menunggu Bara keluar dari kamar mandi.


Sela berdiri tak jauh dari Laura dengan tujuan untuk menunggu Bara.

__ADS_1


Ceklek


Pintu terbuka dan menampilkan Bara dengan rambut sedikit basah.


Tidak disengaja mata Bara dan Sela sempat saling berpapasan.


Namun dengan cepat Bara mengalihkan tatapannya.


Bara sedikit melirik ke arah Sela, dia masih setia menunggunya.


Bara menyudutkan Laura ke dinding dan membelai lembut pipi Laura.


Sela memalingkan wajahnya untuk tidak melihat hal itu.


Sela sudah tidak tahan lagi, dia pergi meninggalkan kamar mandi dan kembali ke tempat di mana tadi Rendy berada.


Bara melirik di mana tadi Sela berdiri, lalu dengan cepat Bara mendorong Laura dan pergi meninggalkan Laura begitu saja.


"Hihh ngeselin banget sih jadi cowok, main ditinggalin aja," gerutu Laura sambil menghentakkan kakinya kesal.


"Ternyata benar ya, jadi pelampiasan itu enggak ada untungnya," gumam Laura seketika ingat dengan perkataan Sela.


Laura menghela napas lalu berjalan kembali untuk menemani Bara.


Sedangkan Sela tiba- tiba saja melepaskan jaketnya dan duduk di samping Rendy.


"Sel apa yang lo lakuin, buruan pakai jaket lo keburu Bara dateng," kata Rendy sambil memakaikan jaket Sela.


Namun Sela melemparkan jaketnya ke sembarang arah dan menatap Rendy.


"Aku enggak peduli," kata Sela sambil meminum jusnya.


"Hey nona, asal kau tahu. Kekasihmu hanya sedang bersandiwara, sebelum mabuk dia berpesan padaku, supaya melarang cewek yang membawanya pulang selain dirimu. Tapi ternyata dirimu sendiri yang menjemputnya," kata Alvin sembari tersenyum manis pada Sela.


"Jangan berusaha menghiburku," kata Sela sambil memainkan jusnya.


"Eh Sel Bara datang buruan pakai jaketmu," kata Rendy yang sudah panik sendiri sambil mencari jaket Sela.


"Hey nona mau gue bantu enggak?" tanya Alvin membuat mata Rendy melotot tidak percaya.


"Boleh," jawab Sela santai tanpa memedulikan ekspresi Rendy saat ini.


Alvin langsung memberikan segelas alkohol pada Sela lalu membagi kartu domino menjadi dua bagian.


"Jangan kau minum nona, atau Bara akan membunuhku," peringat Alvin pada Sela sambil melirik Bara yang sedang menatap tajam keduanya.


"Wah gue bisa gila liat kalian berdua kayak gini," kata Rendy yang panik sendiri saat Bara mulai berjalan menghampiri mereka.


Sela berpura- pura menempelkan bibirnya di ujung gelas dan


Pyarrrrr


Sela terkejut saat Bara membanting gelas yang ia pegang.


"Ayo pulang," kata Bara sambil menarik tangan Sela dengan kasar.


"Hey bro jangan kasar sama cewek," kata Alvin sambil melepaskan tarikan tangan Bara.


Bugh


Bara reflek memukul Alvin yang berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya pada Sela.


"Alvin," teriak Sela terkejut saat sudut bibir Alvin mengeluarkan darah.


"Oh gue tahu, setelah kamu selingkuh dengan cowok London itu, apa kamu juga menyukai temanku?"


Plak


Sela menampar pipi Bara, dia tidak habis pikir dengan pikiran Bara.


Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu.


"Kamu benar- benar keterlaluan," kata Sela lalu pergi begitu saja meninggalkan Bara.


Bara seakan terpaku dan membisu setelah sadar dengan apa yang ia lakukan barusan.


Bara berlari untuk menyusul Sela.


•♡•♡•


Reno menyusuri jalan perumahan Dhea, sangat sepi dan penerangan yang sangat minim.


"Kenapa di sini sangat sepi sekali? Apa di sini ada pengamanan?" tanya Reno sambil menyusuri jalan sempit menuju rumah Dhea.


"Tidak begitu ada, di sini memang rawan sekali pencurian karena penerangan yang minim," jawab Dhea yang memang begitu kenyataannya.


"Sangat tidak aman bagimu," gumam lirih Reno.


"Apa?" tanya Dhea yang tidak mendengar jelas ucapan Reno.


"Kenapa tidak ada banyak lampu," bohong Reno yang tidak sesuai dengan perkataan awalnya.


"Depan itu rumahku," kata Dhea sembari menunjuk rumah berwarna hijau tua.


Reno memberhentikan mobilnya dan melihat lingkungan sekeliling.


Jika diihat- lihat di sini kurang aman untuk Dhea yang karyawan selalu pulang malam.


"Kenapa kamu tidak membeli apartemen saja itu akan lebih aman?" tanya Reno pada Dhea.


"Ayah dan ibu tidak mau meninggalkan rumah ini," kata Dhea sambil mengamati rumah usangnya.


Reno hanya mengangguk pelan lalu kembali menatap Dhea.


"Aku pamit dulu ya, makasih sudah mengantar," kata Dhea pamit pada Reno.


"Dhea," panggil Reno membuat Dhea tidak jadi membuka pintu mobil.


"Mulai sekarang aku yang akan mengantarmu pulang," kata Reno yang mampu membuat berjuta- juta kupu- kupu beterbangan di perut Dhea.

__ADS_1


__ADS_2