
□■■□
"Sayang, ngapain kalian berdua berdiri di situ, sini," kata Laura pada Rendy yang hanya diam saja.
"Ayo Ren," kata Rendy sembari menarik baju Reno untuk melihat ketiga bayi kembar Bara.
"Sayang lihat deh anaknya Sela, lucu banget kan. Aku nanti juga mau punya anak tiga gini," seketika Rendy melotot mendengar ucapan Laura.
"Kamu kira bikin anak kayak bikin nasi goreng apa? Satu aja udah ribet mau tiga," kata Rendy menolak anak kembar.
"Ya kan enggak papa, biar rumah kita nanti tambah rame kalau ada mereka," kata Laura sambil menggendong bayi Sela.
"Kalau pengen rame bakar aja rumahnya, pasti bakal rame entar," ketus Rendy lalu beralih menatap bayi yang berada di dalam kotak kaca ini.
"Bar lo udah kasih nama?" tanya Reno pada Bara.
"Belum, ini kita lagi diskusi," kata Bara sambil menatap Sela.
Tok tok tok
Semua orang menoleh saat pintu di ketuk.
Seketika semua melebarkan kedua matanya saat tahu yang datang adalah
Presiden AS, Davidson.
"Tuan Bara selamat ya, anda resmi menjadi seorang ayah," kata beliau sembari memeluk Bara.
"Suatu kebanggaan bagi saya akan kedatangan anda, bagaimana anda tahu istri saya melahirkan?" tanya Bara penasaran pasalnya ia tidak melakukan konferensi pers di kantornya.
"Tuan Bradsiton dan nyonya Rose yang memberitahunya, lantas saya langsung kemari saat mendengar berita bahagian ini," semua saling menatap.
Pantesan sejak tadi pagi mereka berdua enggak muncul.
Ternyata lagi ke AS buat jemput presiden.
Wah, amazing.
"Oh ya apa saya boleh melihat bayi anda?" tanya tuan Davidson meminta izin sembari sekilas menatap Sela.
"Tentu," kata Bara dan mempersilahkannya untuk melihat ketiga putranya.
"Tuan apa anda sudah memberinya nama?" tanya tuan Davidson pada Bara.
Bara dan Sela menggelengkan kepalanya bersamaan.
"Apa anda berkenan jika saya memberinya satu nama?" Bara dan Sela saling menatap lalu tersenyum lebar.
"Suatu kebanggaan buat saya dan istri saya, silahkan tuan," kata Bara mempersilahkan.
"Yang mana yang pertama?" tanya tuan Davidson.
"Ini tuan," kata Bara sambil menunjuk bayi pertamanya.
"Al- Grey Bradsiton Arganta, apa itu berlebihan?" Bara tersenyum lebar.
"Itu nama yang sangat indah tuan, terima kasih panjang atas nama dan doa yang anda berikan," tuan Davidson langsung memeluk Bara.
"Didik putramu agar bisa hebat sepertimu nak, kelak jadikan ia seorang pemimpin yang adil," kata tuan Davidson pada Bara layaknya ayah dan anak.
Bara meneteskan air mata bahagianya, semua terlihat haru dengan pemandangan langka ini.
Benar- benar suatu pemandangan yang sangat amat patut diabadikan.
"Oh ya nyonya Sela, saya ada sedikit pertunjukkan untuk menyambut kedatangan bayi anda," kata tuan Davidson membuat Sela menatap Dea dan Laura lalu tersenyum lebar.
Tuan Davidson memberi kode pada pengawalnya.
"Lihatlah di sana," kata tuan Davidson sembari menunjuk keluar jendela.
Semua orang takjub akan pertunjukkan jet tempur itu.
Benar- benar sangat menakjubkan sekali.
Semua tepuk tangan atas pertunjukkan keren yang dipersembahkan oleh AU Amerika Serikat.
"Hanya itu yang bisa saya berikan, tadi tidak ada persiapan apapun jadi saya hanya memberikan sedikit pertunjukkan," kata tuan Davidson pada Bara dan Sela.
"Tuan kedatangan anda kemari adalah suatu kehormatan terlebih nama yang anda berikan, semua begitu berharga buat kami," kata Bara membuat Davidson tersenyum manis.
Davidson kembali memeluk Bara layaknya putranya sendiri.
"Tolong didik mereka dengan baik, aku akan menunggu putra- putramu dan juga putra kalian," kata tuan Davidson sembari menatap Rendy dan Reno.
Mereka lalu saling berpelukan dan sebagai salam perpisahan karena tuan Davidson juga tidak bisa berlama- lama untuk urusan ini.
"Saya pamit dulu ya, sampai bertemu lain waktu lagi," pamit tuan Davidson lalu Rendy dan Reno yang mengantarnya ke lantai bawah.
"Al- Grey," gumam Bara sembari menatap bayi laki pertamanya.
"Oh ya baby pertama udah ada namanya, yang kedua sama ketiga kalian mau kasih nama apa?" tanya Laura penasaran.
"Kalian mau kasih nama?" tanya Sela pada mereka berdua, dengan kompak Laura dan Dea mengangguk.
"Silahkan aja," kata Sela membuat Laura dan Dea langsung memeluknya erat.
"El- Nino," kata Dea dan Laura bersamaan.
"Wih bagus dong, Al Grey dan El Nino," kata Sela sambil memandang bayinya.
"Terus yang terakhir?" tanya Bara dan mereka saling menatap.
"Dante," kata Rendy dan Reno bersamaan yang baru saja datang.
"Yeayyy bagus dong namanya, Al El Dante," kata Laura bersorak senang.
"Gimana lo mau enggak kita kasih nama Dante?" tanya Rendy pada Bara.
__ADS_1
"Makasih," hanya kata itu yang Bara ucapkan sembari memeluk kedua saudaranya.
Hari sudah malam dan Bradsiton juga Rose belum kunjung datang juga.
"Papa sama mama kemana sih Ren?" tanya Bara pada mereka berdua.
"Enggak tahu, katanya ada urusan gitu," jawab Rendy sambil makan malam bersama istrinya juga yang lainnya.
"Oh ya, staf dan karyawan yang tadi nunggu depan ruang operasi kemana? Apa mereka sudah pulang?" tanya Bara mengkhawatirkan para stafnya.
Kring kring kring
Nama resepsionis kantor tertera dalam ponsel Bara.
"Halo,"
"Tuan maaf menganggu waktu anda sebentar,"
"Kalian semua ada di mana? Apa kalian sudah pulang?" lihatlah betapa perhatiannya Bara pada semua staf juga karyawannya.
"Kami baik- baik saja tuan, kami semua ada sesuatu untuk anda,"
"Apa?"
"Tolong lihatlah dari jendela," seketika Bara dan yang lainnya ikut melihat ke dekat jendela kecuali Sela.
"Wih keren," kata Rendy saat melihat betapa kompaknya staf dan karyawan kantor juga tenaga medis rumah sakit ikut memberikan pertunjukkan untuk menyambut Bara junior.
"Sayang kamu ingin lihat enggak?" tanya Bara pada Sela.
Sela hanya mengangguk dan berusaha untuk turun dari brankarnya.
Dengan tanggap Bara langsung membopong Sela dan membawanya ke dekat jendela.
"Turunin aku, berat tahu," kata Sela membuat Bara tersenyum manis lalu mencium kening istrinya.
"Lebih berat dosanya Rendy dibanding bopong kamu," kata Bara membuat Rendy melebarkan kedua matanya.
"Hekmmm dunia serasa milik berdua yang lainnya ngontrak," sindir Rendy membuat Sela terkekeh.
●○○●
Keesokan paginya Sela sudah diperbolehkan untuk pulang.
Bukan dokter yang memintanya melainkan Sela sendiri.
Dia bilang jenuh terus berada di rumah sakit dan ingin segera di rumah.
"Sayang, beradalah di rumah sakit sampai kamu sembuh total dulu, baru nanti kita pulang," kata Bara yang bersikeras melarang Sela untuk pulang.
"Aku enggak papa sayang, aku pengin pulang," kata Sela sambil menyusui baby Al.
"Tolong gendong dia, aku mau ke toilet bentar," kata Sela pada Bara.
Bara meletakkan baby Al di kotak kacanya kembali lalu dengan cepat menyusul Sela ke dalam kamar mandi.
"Ish ish dia itu bucin atau gimana, sampai ke kamar mandi aja ikut?" gumam Rendy yang melihat sikap siaga Bara.
"Kan mereka udah jadi suami istri, emang kenapa? Itu namanya suami yang siaga," kata Laura menyindir Rendy.
"Aku juga bakal jadi suami siaga kok tenang aja," kata Rendy sambil tersenyum manis pada Laura.
"Udah semua?" tanya Bara saat ia baru saja keluar dari kamar mandi bersama Sela.
"Udah," jawab mereka kompak.
"Ra Dea, gue minta tolong ya tolong gendong mereka, tangan Sela kebas karna kelamaan nyusui mereka," kata Bara pada Laura dan Dea.
"Enggak usah enggak papa, sini biar aku yang gendong," kata Sela hendak membopong bayinya.
"Udah nurut," kata Bara sembari menahan Sela untuk tidak membopong bayinya.
"Enggak papa Sel tenang aja, aku gendong baby Al," teriak Laura yang terlihat begitu gemas sekali.
"Aku baby El," teriak Dea yang langsung mengangkat baby El.
Rendy dan Reno saling menatap satu sama lain.
"Kenapa lo liat gue?" tanya Rendy pada Reno.
"Tadi yang punya usulan nama kan lo, coba gih lo bopong baby Dante," kata Reno pada Rendy.
"Kan kita berdua yang punya usulan, kenapa cuma gue yang harus gendong?" tanya Rendy sinis pada Reno.
"Udah jangan ribut, buruan gendong enggak?" ancam Laura pada mereka berdua.
"Yaudah biar adil kita gendong berdua," kata Rendy sembari berjalan untuk mengambil baby Dante.
Alhasil baby Dante digendong sama Rendy dulu lalu ganti Reno.
Helikopter sudah datang dan berada di rooftop rumah sakit.
Mereka lalu bergegas pulang dengan naik helikopter Bara.
Di dalam helikopter, Rendy dan Reno sibuk bermain mata.
"Pegangin bentar, gue haus pengin minum," kata Reno menyerahkan baby Dante pada Rendy.
"Ngeles mulu kelakuan lo," kata Rendy yang kesal dengan Reno.
Reno hanya diam lalu minum sebotol air mineral.
"Ren, kok paha gue basah ya?" tanya Rendy pada Reno.
"Lo minum apa nyiram paha gue?" tanya Rendy membuat Reno mengernyit bingung.
"Gue masih waras ya, ngapain gue nyiram paha lo enggak ada kerjaan amat," kata Reno sembari meletakkan botol minumnya.
"Coba lo lihat," suruh Rendy pada Reno.
Dengan patuhnya Reno meraba paha Rendy lalu menciumnya.
"Ini kencing bego, kenapa lo suruh gue nyium," kata Reno yang langsung pergi ke belakang untuk cuci tangan.
__ADS_1
"Kan apa gue bilang, baru juga lahir tapi nih bayi udah buat darah gue naik," gerutunya sambil menahan bau kencing baby Dante.
Untungnya helikopter perlahan sudah mendarat di pulau Stella tepatnya di balkon rumah mereka.
"Baraaaa, anak lo kencing nihh," teriak Rendy membuat semua orang tertawa.
Bara dengan cepat mengambil alih untuk mengganti popok baby Dante.
"Sayang kamu turunnya hati- hati ya," kata Bara pada Sela.
"Selaaaa sayanggg," teriak Rose yang menyambut kedatangan mereka semua.
"Papa sama mama kemana aja?" tanya Bara lalu ia teringat jika harus mengganti popok baby Dante.
"Sayang hati- hati jalannya, mana yang sakit hmm?" tanya Rose sambil memeriksa semua tubuh Sela.
"Hehe enggak ada ma, Sela udah baik- baik aja kok. Mama kemana aja? Kenapa kemarin enggak ada di rumah sakit?" tanya Sela membuat Rose tersenyum manis.
"Nanti mama kasih tahu ayo masuk. Laura Dea, ayo sayang masuk," teriak Rose pada kedua menantunya.
"Iya ma," jawab Laura dan Dea serempak.
"Wahh cantik banget," puji Laura saat memasuki rumah dan sudah penuh dengan dekorasi.
"Ini mama yang nyiapin semuanya?" tanya Sela pada Rose.
"Hehe," kata Rose senyum malu- malu.
"Makasih ya ma," kata Sela langsung memeluk Rose erat.
"Kalian semua sekarang mandi dulu gih semuanya, biar papa sama mama yang jagain baby," kata Rose yang bersemangat sekali.
"Iya bener sayang, sini biar papa gantiin. Utututu cucunya Bradsiton yah?" kata Bradsiton sambil menciumi gemas baby Al.
Semua tertawa mendengar ocehan Bradsiton.
Sela dan yang lainnya berniat untuk membersihkan diri dulu karena dari kemarin mereka malas mandi di rumah sakit.
.
.
.
Di sinilah mereka sekarang, di belakang rumah untuk merayakan kedatangan baby pertama mereka.
Jelas tahulah ya ini ulah siapa.
Ya siapa lagi kalau bukan Bradsiton dan Rose.
"Mama sama papa kemana aja sih, kita nungguin juga," kesal Bara saat mereka tak datang ke rumah sakit.
"Papa sama mama ke Amerika buat minta tuan David datang ke rumah sakit, makanya itu lama. Habis itu kita pulang dan nyiapin ini semua deh," jawab Bradsiton dengan santainya.
"Oh ya gimana, apa tuan David juga memberikan nama pada cucuku?" tanya Bradsiton penasaran.
Bara memicingkan matanya pada Bradsiton.
"Jangan bilang kalau papa juga maksa tuan David buat kasih nama bayi kita?" tebak Bara membuat Bradsiton bingung dan menggaruk kepalanya.
"Ya habis kan biar spesial gitu namanya kalau presiden sendiri yang beri," kata Bradsiton mencari alasan.
"Jadi, gimana siapa namanya cucu ku ini?" tanya Bradsiton sembari menciumi hidung cucunya.
"Itu baby Al Grey pa, ini baby El Nino dan itu baby Dante," kata Sela memberitahukan pada Bradsiton.
"Wahh keren dong, Al El Dante," kata Bradsiton begitu senang.
"Oh ya Laura sama Dea, jangan lupa ya jaga kesehatan juga pola makan kalian biar persalinannya nanti lancar," kata Rose pada Laura dan Dea.
"Iya mama sayang," jawab mereka kompak karena sibuk bermain dengan babynya Sela.
Sedangkan 2R entah pergi kemana, yang jelas mereka sedang menghindari masalah dari baby twin ini.
□■■□
Sedangkan di tempat lain tepatnya di Palestina.
Ada sekretaris Bradsiton yang sedang meresmikan sebuah rumah sakit baru yang sengaja Bradsiton bangun 1 tahun yang lalu.
Hal ini merupakan bentuk bantuan Bradsiton pada Palestina dengan membangun sebuah rumah sakit setelah insiden bom yang dijatuhkan oleh Israel.
Bradsiton berharap Palestina bisa bangkt kembali untuk menjadi negara yang berkembang.
Karena itu Bradsiton sengaja membangun rumah sakit besar sebagai awal mula majunya negara Palestina.
"Saya mewakili tuan Bradsiton Arganta, hari ini telah meresmikan rumah sakit Al Grey ini sebagai milik Palestina,"
Semua bertepuk tangan ria saat sekretaris pribadi Bradsiton menggunting pita dan meresmikan rumah sakit ini.
Sedangkan di tempat lain, sekretaris Bara juga sedang meresmikan sebuah sekolah gratis yang dibangun oleh Bradsiton selama akhir tahun lalu bersamaan dengan dibangunnya rumah sakit.
"Dengan ini saya mewakili tuan Bradsiton meresmikan sekolah dari berbagai tingkat mulai dari SD hingga kuliah yang diberi nama El Nino, resmi dibuka,"
Sorak sorai terdengar dari semua masyarakat yang menyaksikan peresmian sekolah gratis ini.
Dan satu lagi, selain ada rumah sakit juga sekolah gratis Bradsiton juga membangun supermarket untuk mempermudah masyarakat Palestina dalam membeli bahan pokok dan kebutuhan sehari- hari.
Supermarket kecil ini diberi nama Dante Mall.
Jadi lengkap sudah, nama semua cucunya Bradsiton telah gunakan di negara Palestina ini.
Kelak Bradsiton juga akan memberikan beberapa bantuan untuk negara Palestina jika ia masih diberi kesempatan umur panjang.
Dan pastinya nama putra Rendy dan Reno yang akan ia gunakan selanjutnya.
__ADS_1