
《♡♡♡》
Pukul 06.00, LONDON
Sandra terbangun saat ponsel Dewa berbunyi.
Ternyata sekretarisnya, Dinda.
Sandra hendak meraih ponselnya yang berada di atas nakas namun Dewa malah menariknya hingga Sandra terbentur dada bidang Dewa yang polos tanpa baju.
"Kamu mau kemana hmm?" tanya Dewa sambil menghirup aroma tubuh Sandra.
"Dewa lepasin, Dinda telpon itu," kata Sandra sambil menahan agar tidak mendesah karena Dewa sengaja menggoda dengan bernapas di leher jenjangnya.
Dewa meraih ponselnya lalu dengan santainya ia mematikan ponsel itu dan melemparnya ke sembarang arah.
"Masih pagi juga, ganggu banget," gerutu Dewa yang kini kembali memeluk Sandra.
"Kenapa kamu matiin, siapa tahu itu penting," kata Sandra sambil memukul punggung kekar Dewa.
"Entar diangkat ada yang cemburu lagi," sindir Dewa membuat Sandra menahan senyumnya.
"Siapa?"
Dewa mendongak dan menatap wajah cantik Sandra.
"Wanita yang selalu di deketku, dia cemburuan banget kalau aku deket sama Dinda, jadi harus jaga jarak," Dewa mengatakannya dengan muka imut membuat Sandra tidak bisa menahan senyumnya.
"Kamu sayang enggak sama wanita itu?" tanya Sandra sambil membelai pipi Dewa.
"Enggak," kata Dewa membuat Sandra melotot lalu dengan kasar Sandra mendorong Dewa hingga terbaring di sampingnya.
"Sana gih sama Dinda," ketus Sandra sambil berusaha meraih jubah mandinya yang berada di lantai karena ulah Dewa.
Dewa tertawa melihat wajah kesal Sandra yang semakin terlihat imut.
Hap
Dewa berada di atas tubuh Sandra membuat Sandra dengan susah payah menelan salivanya.
"Udah nikah juga masak masih cemburu sama Dinda?" tanya Dewa membuat Sandra tak bisa berkata.
Alarm berbahaya berbunyi, posisi mereka benar- benar meresahkan.
"Wa bisakah kamu turun dari atas tubuhku?" tanya Sandra pada Dewa dan dengan santainya Dewa menggelengkan kepalanya.
"Memang kenapa?" tanya Dewa yang kini semakin mendekatkan wajahnya pada Sandra.
Jarak mereka kini semakin dekat bahkan Sandra bisa merasakan hembusan nafas Dewa.
Cup
Dewa mencium pipi Sandra dengan lembut.
"Kenapa pipimu merah? Apa kamu sakit?" tanya Dewa menggoda Sandra.
"Dewaaaa minggir enggak?" kesal Sandra karena Dewa terus menggodanya dan membuatnya tersipu malu.
"Enggak, kamu harus diberi pelajaran dulu," kata Dewa lalu menarik selimut untuk menutupi mereka berdua dan Dewa menggelitiki Sandra sampai puas.
□■■□
Pukul 10.00, Pulau Stella
Rendy dan Reno memulai masak daging untuk istri mereka.
Empat bodyguard yang selesai lari pagi hendak istirahat di dapur, terkejut saat melihat dua tuannya yang kocak sedang masak di dapur.
"Eh eh itu tuan Rendy sama tuan Reno kan?" tanya bodyguard pada temannya.
"Wah gawat, kata tuan Bara jangan satukan mereka di dapur, bisa- bisa satu rumah dibakar sama mereka berdua," kata bodyguard satunya.
"Tunggu apalagi, ayo buruan cegah mereka berdua," kata bodyguard itu yang langsung berlari ke dapur untuk menggantikan Rendy dan Reno masak.
Dua- duanya emang bisa masak dan jago masak.
Cuma kalau udah disatuin berdua tanpa pengawasan gitu, udahlah lo tinggal berdoa aja agar rumah dan seisinya enggak ke bakar.
"Tuan Rendy sini biar saya yang masakin tuan tunggu aja di sana," kata bodyguard itu yang dengan cepat memasang celemek untuk mengambil alih di dapur.
"Enggak kita bisa sendiri, lagian ini juga permintaan istriku," kata Reno yang kini sedang berkacak pinggang menghalangi bodyuard itu untuk mengambil alih masakannya.
"Tapi tuan...,"
"Sstt diem, lo gue bolehin cuma liat dari situ doang biar gue yang masak," kata Rendy sambil mencuci daging yang seharusnya tidak perlu dicuci karena itu sudah bersih.
"Mana tadi tutorialnya Ren?" tanya Rendy saat ingin membuat steak agar lebih empuk saat dipanggang nanti.
"Bentar," para bodyguard yang mengawasi aja gemas banget liat mereka berdua masak.
"Nih," kata Reno sambil menyenderkan ponselnya di dekat kompor.
Mereka berdua lalu dengan kompak memijat daging tersebut persis seperti yang ada di vidio.
"Enak banget ini daging, udah mati aja masih dipijet apalagi pas hidup," omel Rendy saat vidio itu memperlihatkan tata cara memijat daging agar semua bumbu yang ada bisa meresap hingga ke dalam saat dipanggang nanti.
"Ini mijetnya sampai kapan, lama amat," gerutu Reno saat vidio itu terus menunjukkan cara memijatnya.
"Yaudah dicepetin aja vidionya," kata Rendy dengan tangan kotornya ia mempercepat vidionya.
"Nah kalau ginikan kita cepet selesai mijet dagingnya," para bodyguard itu mengusap gusar wajah mereka saat melihat tingkah dua tuannya.
Selesai itu mereka langsung memanggangnya.
Sembari menunggu, mereka akan memasak menu lainnya.
Rendy masak rendang khas Indonesia dan Reno semur daging khas Indonesia juga.
Entah kenapa istri mereka teracuni oleh Bara yang suka dengan makanan Indonesia.
"Ren kalau masak rendang dagingnya dipotong enggak?" tanya Rendy karena dia baru kali ini masak rendang.
"Enggak usah langsung masukin aja, ya dipotonglah," kata Reno yang sewot karena Rendy yang kelewat tololnya.
"Yee biasa aja kali," kata Rendy sembari mengambil lagi daging yang ada di kulkas.
Rendy ingat, waktu itu Sela pernah masak rendang dengan dagingnya yang dipotong dadu.
"Eh kalian," kata Rendy pada empat bodyguardnya.
"Kalau motong daging bentuk dadu pakai apaan?" tanya Rendy sembari sok menahan malu.
__ADS_1
"Langsung dipotong aja tuan, dengan bentuk kotak- kotak gitu tapi jangan terlalu tebal biar cepat matang," kata bodyguard itu menjelaskan.
"Emang kalau bentuk segitiga enggak bisa?" dengan sekuat tenaga para bodyguard menahan tawanya mendengar ucapan Rendy.
Plak
"Bentuk kotak aja lo enggak bisa pakai nawar bentuk segitiga," kata Reno yang memukul kepala Rendy dengan spatula bekas semur.
"Sakit bego," kata Rendy sambil mengusap kepalanya. Reno lalu mengambil alih daging Rendy untuk memotongkannya.
"Lo gantiin bentar semur daging gue," kata Reno meminta tolong untuk memasak semur dagingnya.
Beberapa menit Reno sudah selesai memotongkan daging untuk Rendy.
"Nih daging lo," kata Reno yang langsung mengangkat semur dagingnya.
"Wih bagus juga bentukannya ya," kata Rendy lalu langsung memasak dagingnya sesuai intruksi di vidio.
Reno sudah menyelesaikan masakannya kini tinggal menghias dengan sempurna masakannya.
"Ren yang ditaburkan di steaknya itu apa?" tanya Reno saat di vidio menaburkan sedikit lada hitam dan wijen pada steak mereka.
"Pasir, ya garamlah, gitu aja masih nanya," ketus Rendy yang kesal saat Reno terus bertanya.
"Tapi sejak kapan itu garem bentukannya kayak gitu?" kata Reno sambil menunjuk pada vidio.
Rendy juga ikut memperlihatkan di vidio tersebut.
"Oh itu namanya wijen kalau orang Indonesia bilang," kata Rendy yang tahu sedikit saat Sela memasak dulu untuk Bara.
Lalu mereka berdua memberikan sedikit taburan wijen di atas steaknya.
"Ren bukannya kebalik ya, harusnya garemnya dulu baru wijennya," kata Reno membuat Rendy menatap steaknya.
"Iyadeh kayaknya salah, terus gimana ini?" tanya Rendy saat ia sudah terlanjur menaburkan wijen ke atas steak.
Rendy lalu menoleh melihat Reno mengambili satu demi satu wijennya.
"Terkadang orang pinter caranya emang beda," gumam Rendy yang kemudian mengikuti cara Reno.
Setelah wijennya habis, kini mereka mengambil garam untuk ditaburkan di atas steak.
"Kurang banyak enggak ini garemnya?" tanya Rendy pada bodyguard.
"Lah emang kenapa steaknya dikasih garem?" tanya bodyguard itu yang bingung.
"Noh contohnya," jawab Reno dengan polosnya sambil menunjuk ponselnya.
"Astaga tuan itu bukan garammm itu lada hitamm," kata bodyguard sambil mengusap putus asa wajahnya.
"Masak sih?" tanya Rendy tak percaya lalu mendekatkan ponselnya untuk memperjelasnya.
"Oh iya lada hitam, hehe," lalu mereka berdua langsung menaburkan lada hitamnya.
"Kok keluarnya dikit amat sih," gerutu Rendy saat lada hitamnya sulit untuk ditaburkan.
"Kayaknya kurang banyak deh Ren," gumam Reno sambil menatap steak mereka.
Byurrr
"Mampus,"
Mereka mengumpat saat menaburkan lada hitamnya terlalu banyak.
"Ren gimana ini?" tanya Reno yang udah panik, pasalnya mereka berdua sudah sangat lama berkutat di dalam dapur.
"Jangan panik, jangan panik," gumamnya sambil berpikir untuk bisa menyelesaikan masalah ini.
"Gue punya ide," teriak Rendy membuat bodyguardnya terkejut.
Rendy langsung berlari meninggalkan Reno.
"Dia punya ide gila apalagi?" gumamnya lalu mengikuti Rendy.
"Astaga, apalagi yang bakal mereka berdua lakuin. Mana steaknya udah kebanyakan lagi ngasih lada hitamnya," gumam bodyguard itu yang merasa frustasi karena kelakuan mereka berdua.
"Cepetan Ren," keempat bodyguard ini langsung menoleh saat mendengar suara mereka.
Penyedot debu dan hair dryer.
"Bang gue nyerah deh kali ini," gumam bodyguard itu saat melihat mereka kembali dengan membawa dua barang yang aneh.
"Saya ikhlas deh kali ini mereka mau ngapain, yang penting enggak bakar dapur ini masih untung," mereka sepertinya sudah benar- benar pasrah.
"Ren coba lo dulu yang nyoba," pinta Rendy pada Reno.
Dengan cepat Reno langsung menyedot lada hitam yang tadi ditaburkan di atas steak dengan hair dryer milik anjing Sela.
Dan berhasil dong.
"Wih hebat lo Ren, sekarang giliran gue ya," kata Rendy yang bersemangat saat melihat Reno berhasil.
Rendy menyalakan penyedot debunya dan langsung mengarahkan pada steaknya.
Sruttt
"Ren Ren gimana ini, dagingnya ikut ketarik," teriak Rendy membuat semua orang heboh.
Dan dengan hebohnya mereka bukannya mematikan mesinnya malah menarik tubuh Rendy.
"Lo semua ngapain bego narik gue, ini dagingnya yang ketarik bukan gue," teriak Rendy yang tidak habis pikir dengan mereka semua.
"Oh iya ya," lalu mereka mematikan tombol offnya.
"Huaaa daging gueee," teriak Rendy sambil meratapi dagingnya yang sudah berada di dalam penyedot debu.
"Sudah tuan ikhlaskan saja," kata bodyguard itu sembari menepuk bahu Rendy.
"Lo enak tinggal bilang ikhlasin, gue masaknya 2 jam lebih," ketus Rendy kesal karena semua usahanya sia- sia.
"Rendyyyy Rendyyyyy," teriak Rose dengan sangat panik sambil lari- lari kecil.
"Ma jangan lari- lari," teriak Rendy yang langsung menghampiri Rose.
"Laura sayang Laura," kata Rose sambil mengatur napasnya agar stabil.
"Iya Laura kenapa ma?" tanya Rendy yang ikut panik karena Rose mengucapkannya dengan napas tersengal- sengal.
《♡♡♡》
__ADS_1
Mereka semua kini sedang menunggu persalinan Laura.
Ya tadi, Laura merasakan jika perutnya kontraksi, jadi mereka memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.
Pastinya rumah sakit di Kanada milik Bara.
Entah kenapa dengan rumah sakit lainnya yang pasti Rendy ingin Laura melakukan persalinannya di rumah sakit saudarinya ini.
Semua orang merasa cemas dan terus merapalkan doa.
Bara tadi melarang keras Sela saat ingin menemani Laura.
Dan dengan sangat kebetulan sekali Jessy dan Reynald juga pengantin baru yaitu Dewa dan Sandra datang ke pulau Stella untuk berkunjung.
Alhasil Bara meminta Jessy dan Sandra untuk menemani Sela karena ia baru saja melahirkan jadi Bara melarang keras Sela dan ketiga babynya untuk naik helikopter.
Bara lalu berjalan untuk melihat Rendy dan Laura.
Ketika melihat Rendy di saat seperti ini, ia begitu terlihat sebagai laki- laki sejati yang sangat bertanggung jawab.
Bara terharu melihat momen di mana Rendy benar- benar serius diwaktu seperti ini.
Biasanya dia selalu paling receh dan kocak saat bersama Reno.
"Aduh ma," Bara langsung menoleh saat Dea merintih kesakitan dan langsung menghampirinya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Rose panik sambil memegangi tubuh Dea.
"Ma perut Dea sakit," adunya sambil memegangi perutnya. Reno yang baru saja dari toilet langsung berlari saat orang- orang mengelilingi Dea.
"Ma Dea kenapa?" tanya Reno panik.
"Enggak tahu sayang, dia bilang perutnya sakit. Kandungan Dea kan baru 8 bulan beranjak ke sembilan," kata Rose membuat Reno langsung membopong Dea untuk diperiksa doker.
Reno membawa Dea ke dalam ruangan di sebelah ruangan Laura dan Rendy.
Dan bener dong kalau Dea emang mengalami kontraksi.
Semua panik juga takut akan kondisi Dea, pasalnya kandungan dia baru 8 bulan menginjak kesembilan jika benar melahirkan bukankah itu belum waktunya.
Bara berjalan mondar- mandir di depan dua ruangan ini.
Orang- orang yang ia sayang sedang berjuang di dalam sana.
Bara melihat ruangan Dea dan Rendy.
Terlihat jika Reno begitu mencemaskan keadaan Dea.
Ia terlihat begitu takut akan keselamatan keduanya.
"Son duduklah dengan tenang, dua adikmu pasti bisa melewati rintangan ini," kata Bradsiton berusaha menenangkan Bara yang terlihat mencemaskan kedua adiknya.
"Pa mereka pasti bisa kan?" tanya Bara dan Bradsiton hanya menganggukkan kepalanya.
Bradsiton lalu melihat ada segerombol orang tak dikenal dan dua orang berbaju serba hitam seperti pengawal.
"Permisi tuan, apa anda orang tua tuan Rendy?" tanya orang paruh baya itu.
"Benar, ada yang bisa saya bantu?" tanya Bradsiton sopan dan ramah meski ia orang yang terpandang.
"Saya melihat berita jika istri tuan Rendy sedang melahirkan, apa benar tuan? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya bapak paruh baya itu yang terlihat mengkhawatirkan istri Rendy.
"Mereka masih berada di dalam pak, persalinannya baru saja dimulai," kata Bradsiton membuat bapak paruh baya itu menghela napas pelan.
"Kalau boleh tahu, siapa kalian ini?" tanya Bradsiton karena ia tidak mengenalnya.
"Saya penjual kue mochi yang pernah nak Rendy tolong ketika dihadang preman,"
"Sedangkan kami berdua dulunya menjadi preman untuk melunasi hutang lalu tuan Rendy melunasi semua hutang kami dengan syarat kami sebagai bodyguard tuan Rendy,"
"Dan saya sopir bus yang nak Rendy tolong ketika bus saya mengalami kecelakaan,"
Bradsiton dan Bara tersenyum lebar mendengar cerita masing- masing mereka.
Cerita yang sangat mengharukan sekali.
"Tuan apa anda berkenan jika kami menunggu di sini hingga persalinannya selesai?" tanya penjual mochi itu.
"Tentu boleh. Dan saya ingin mengucapkan terima kasih banyak pada kalian semua, meski kami bukan keluarga kalian tapi kalian datang kemari meski hanya untuk menunggu calon cucu saya lahir," kata Bradsiton sungguh membuat mereka semua tersenyum.
"Kami hanya ingin membalas kebaikan nak Rendy, hanya saja kami tidak bisa membalas kebaikannya jadi kami hanya bisa berdoa dan menunggunya di sini," kata sopir bus itu membuat Bara dan Bradsiton tersenyum.
Rose yang sedang duduk di ruang tunggu melihat hal itu merasa hatinya begitu tentram dan damai.
Ia memiliki seorang putra yang berhati mulia.
Meski ia tidak lahir dari dalam rahimnya, kasih sayang Rose untuk mereka berdua akan tetap sama.
Lalu mereka semua menunggu persalinan Laura dan Dea.
Hampir 1 jam lamanya mereka menunggu hingga suara pintu dibuka membuat mereka menoleh.
Ceklek
Ceklek
Dua ruangan yang saling bersebelahan terbuka bersamaan.
Menampilkan Rendy dan Reno yang keluar dari ruangan dengan wajah murung.
Rendy terkejut saat Reno keluar dari ruangan.
"Lo ngapain keluar dari ruangan sana?" tanya Rendy pada Reno.
"Dea tadi kontraksi, terus dia melakukan sesar karena kandungannya terlalu lemah dan juga bayinya prematur ," jawab Reno membuat Rendy merubah ekspresinya.
"Jadi Dea lahiran?" Reno mengangguk lalu mereka saling menatap satu sama lain hingga membuat semua orang terheran dengan sikap mereka.
"Berarti kita..," kata Rendy dan Reno bersamaan sambil menahan senyumnya.
"Jadi seorang ayah dong," teriak mereka kompak lalu saling berpelukan dan melompat kegirangan.
Semua orang menutup mulutnya tak percaya dan bahagia.
Bahkan banyak dari mereka yang meneteskan air matanya melihat dua saudara ini bersamaan menjadi seorang ayah hari ini.
Ya, Minggu, 11 Juli 2021 Rendy dan Reno telah resmi jadi seorang ayah.
__ADS_1