
●●●
Laura baru selesai mengerjakan tugas kuliahnya.
Laura meraih ponselnya yang tergeletak di queen sizenya.
Laura membuka weibo untuk melihat kabar terbaru dan terupdate.
Seketika mata Laura melotot kala ada foto Bara dan Sela berdampingan menjadi trending nomor 1 di weibo dan mendapat cuitan dari para penggemar.
Laura membaca isi dari apa yang disampaikan oleh mereka.
Pasangan serasi?
Oh tidak mungkin, bagaimana bisa mereka jadi pasangan serasi.
Laura melihat isi dari komentar yang hampir mencapai 2 juta lebih.
Banyak dari mereka yang memberi dukungan juga memuji keserasian mereka berdua.
"Apa mereka gila? Kenapa mata mereka bisa buta kala melihat Sela?" gerutu Laura sambil menatap foto Bara dan Sela.
"Cewek satu ini enggak bisa dibiarin, bahkan dia juga berani sama gue," gumam Laura mengingat kala Sela berani melawannya.
"Semakin lo dekat sama Bara, gue bakal semakin gencar buat lo jauh sama Bara," kata Laura lalu kembali menatap komentar para penggemar mereka berdua.
○○○
Clay mengadakan rapat pagi ini karena itu dia mengumpulkan seluruh karyawannya.
"Baik semuanya pasti kalian semua tahu pagi ini saya mengadakan rapat dadakan untuk membahas agenda besok," kata Clay langsung membuka rapat pagi ini.
"Besok semua CEO akan menyerahkan proposal mereka, karena itu saya ingin mendengarkan pendapat dari kalian semua,"
"Menurut kalian, bagaimana jika kita besok langsung saja memberitahukan prosedur penilaian kita nanti pada karya mereka?" tanya Clay meminta pendapat.
"Boleh juga tuan jadi mereka bisa memperkirakan dan juga menyiapkan rancangan mereka sebaik mungkin," setuju manajer pada usulan Clay.
"Apa saja daftar yang telah kamu buat untuk disampaikan pada presentasi besok?" tanya Clay pada Han sekretarisnya.
"Ada sekitar 5 daftar tuan yaitu tentang peragaan busana, talk show, seminar, persyaratan rancangan busana dan terakhir baru saja ditambahkan tentang penilaian karya," kata Han menjelaskan pada Clay.
"Bagus, saya kira itu sudah cukup," kata Clay mengangguk tenang.
"Tapi tuan ada satu yang belum, yaitu tentang seleksi untuk busana nanti sebelum melakukan fashion show di atas panggung, apa anda akan menyeleksi bersamaan pada waktu itu juga?" tanya Han membuat Clay melupakan hal terpenting ini.
"Kamu benar, ada 3 acara mungkin akan memakan waktu sedikit lama, jika kita melakukan seleksi untuk setiap busana sebelum acara dimulai itu akan memakan waktu lebih banyak dan rumit," kata Clay menganalisa.
"Lalu bagaimana anda akan melakukan penyeleksian ini tuan?" tanya kepala direksi.
"Apa susahnya, setelah kita melakukan acc pada proposal yang pantas untuk mengikuti proyek ini, kita lakukan seleksi kembali dengan syarat setiap negara maksimal 5 perusahaan yang lolos, dengan begitu 5 hari sebelum acara pada puncaknya kita akan mengunjungi perusahaan yang lolos pada tahap awal," jelas Clay.
"Apa itu tidak memakan waktu banyak tuan?" tanya Han pada Clay.
"Tidak perlu cemas, kita melakukan penilaian tidak perlu lama setidaknya satu hari kita bisa mengunjungi satu negara untuk melakukan penilaian pada 5 perusahaan yang lolos tahap awal," kata Clay membuat Han mengangguk paham.
"Baik saya kira semua sudah jelas, semangat untuk dimulainya acara besar ini, jaga kesehatan kalian terus kerja keras dan jangan lupa istirahat," kata Clay mengingatkan pada semua karyawan agar tidak terlalu keras dalam bekerja.
Inilah sisi baik dari Clay, seorang pemimpin yang selalu memberikan perhatian kecil pada karyawannya.
"Baik tuan," jawab mereka lalu satu persatu meninggalkan ruangan rapat.
♡♡♡
Bara mengantarkan Sela dan Gabriela ke kampus.
Hari ini tepatnya 3 hari Gabriela menginap di rumah Bara.
Di sisi lain Sela merasa tidak enak hati pada Bara, di satu sisi Bara ingin sekali mengusir Gabriela tapi tidak enak pada Sela.
Sedangkan si pelaku seperti tidak merasa ada rasa sungkan atau tidak enak pada tuan rumah.
Biasa aja.
"Kita kuliah dulu," pamit Sela pada Bara sambil menggandeng lengan Gabriela.
"Tunggu," kata Bara membuat Sela dan Gabriela berhenti dan menatap Bara.
"Besok saya akan ke Amerika, kamu ikut saya," kata Bara membuat Sela sedikit terkejut. Sela melirik ke arah Gabriela merasa tidak enak.
"Hanya kamu yang ikut, karena kamu modelnya," kata Bara sebelum Sela menanyakan bagaimana dengan Gabriela.
Bara menatap wajah Gabriela yang terlihat kesal kala mendengar ucapan Bara.
"Baiklah nanti kita bicarakan di rumah, kita masuk dulu," kata Sela lalu menarik pelan tangan Gabriela meninggalkan Bara.
Sela dan Gabriela berjalan menuju kelasnya dengan Sela yang hanya diam dan menggandeng tangan Gabriela.
"Sel, lo sekarang jadi model?" tanya Gabriela ketika mereka masuk ke dalam lift.
Sela bingung harus jawab bagaimana antara dia tidak ingin mengatakannya juga tidak enak pada Gabriela.
"Emm, iya," jawab Sela ragu, Gabriela menatap ke arah lain dan tersenyum tidak percaya sama apa yang dia dengar.
"Yaudah lo sukses terus ya jadi modelnya, gue dukung lo kok," kata Gabriela mendukung Sela yang kini menjadi model.
Sela menatap Gabriela tidak percaya, jadi Gabriela tidak marah dengannya.
"Kamu enggak marah sama aku?" tanya Sela pada Gabriela. Gabriela mengangguk sambil menatap Sela tersenyum. Sela memeluk erat Gabriela.
"Makasih ya La, lo emang sahabat aku yang paling baik," kata Sela lalu melepaskan pelukan mereka karena pintu lift sudah terbuka.
"Yaudah Sel, lo duluan aja ke kelas gue mau ke toilet," kata Gabriela.
"Aku anter ayo," kata Sela hendak mengantar Gabriela.
"Enggak perlu, lo ke kelas aja," Gabriela langsung berlari menuju toilet sebelum Sela mengikutinya.
Sela lalu berjalan menuju kelas tanpa Gabriela, terlihat kelas sudah penuh namun dosen belum juga datang.
"Sela," panggil Jenifer ketika Sela baru saja memasuki kelas. Sela langsung bergegas menghampiri bangku Jenifer tapi
__ADS_1
Bugh
Sela terjatuh ketika Laura dengan sengaja menghalangi kaki Sela ketika melewati bangkunya.
Semua terkejut dan menatap Sela yang masih terduduk di lantai.
"Sela," teriak Gabriela di ambang pintu dan langsung menghampiri Sela membantunya berdiri.
"Lo enggak papa?" tanya Gabriela pada Sela lalu menatap tajam ke arah Laura.
"Lo ada masalah apa sih sama Sela?" bentak Gabriela pada Laura membuat semua menatap Gabriela.
"Minggir gue enggak ada urusan sama lo," kata Laura sambil mendorong bahu Gabriela menjauh dari Sela.
"Kenapa kaki lo sakit?" tanya Laura sambil menatap lutut Sela. Dewa yang tadinya tidur terbangun kala mendengar keributan yang terjadi dan melihat siapa biang keroknya.
Laura lagi.
Dewa merasa hidupnya tidak tenang jika berdekatan dengan Laura, cewek yang selalu mencari masalah sama orang lain.
"Sebenarnya kamu maunya apa sih?" tanya Sela dengan berani pada Laura. Laura duduk di bangkunya sambil menatap Sela dari ujung kepala sampai kaki.
"Jauhi Bara, lo bukan seleranya," kata Laura membuat Sela tersenyum miring.
"Dan jangan selalu mencari muka di depan wartawan mentang- mentang lo sekarang jadi model atau hanya sekedar dekat dengan Bara," kata Laura membuat Sela menghembuskan napasnya pelan.
"Lo cuma orang biasa yang enggak pantes buat dijadikan perbincangan publik apalagi deket sama Bara, semua orang juga tahu kalau lo cuma numpang popularitas sama Bara," kata Laura membuat beberapa orang greget melihatnya.
"Tunjukkan bakatmu untuk menghinaku, jangan tunjukkan kebodohanmu dengan menghinaku," kata Sela membuat beberapa orang bertepuk tangan mendengar ucapan Sela yang sangat cocok untuk Laura.
Sela berjalan menuju bangkunya ketika melihat dosen memasuki kelas begitu juga dengan mahasiswa lainnya langsung kembali ke bangku mereka masing- masing.
Dewa berbalik dan menatap Sela, membuat Sela mengernyit bingung.
"Lo emang hebat buat ngelawan Laura," kata Dewa memuji keberanian Sela pada Laura. Sela hanya menanggapi dengan senyuman sambil meraba lututnya, terasa sakit.
"Selamat siang anak- anak, saya di sini ingin menyampaikan tentang perkemahan besok," seketika semua langsung riuh dan juga sedikit terkejut, kenapa begitu tiba- tiba.
"Tenang akan saya jelaskan, perkemahan ini hanya berlangsung selama dua hari, maksud dari tujuan kemah ini sendiri yaitu kita akan melakukan pembelajaran di luar untuk menyegarkan otak kita agar kalian juga tidak merasa jenuh,"
"Selanjutnya dari kemah ini sendiri, bukan hanya sekedar bermalam di hutan tapi juga nanti ada tugas yang menanti kalian," spontan mereka menghembuskan napas dengan kasar.
"Jadi hari ini kalian bisa segera pulang untuk menyiapkan segala kebutuhan kemah besok, bawa barang secukupnya yang diperlukan saja jangan begitu banyak, bawa buku utama kalian yaitu materi manajemen dan keperluan lain yang kalian butuhkan nantinya," jelas dosen membuat mahasiswa terlihat lesu seketika.
Dosen lalu keluar begitu saja meninggalkan kelas dan tidak ada jam kuliah untuk hari ini.
Mereka sekelas sibuk mengeluh dan mendumel karena acara dadakan ini, sedangkan Sela sedang diam menunduk di bangkunya sambil menggenggam erat celananya.
Bagaimana bisa Sela melewati satu hal ini.
Kemah?
Yang benar saja, kemah tempatnya di hutan, mereka akan bermalam 2 hari di sana dan tentu saja di hutan sangat gelap.
Sela sendiri mengidap pobia kegelapan bagaimana bisa dia melewati satu hal ini.
Keringat dingin mulai membasahi punggung Sela yang terbalut baju tebalnya.
Sela hanya diam dan menunduk tidak bicara sama sekali pada Gabriela hingga mereka tiba di parkiran dan terlihat Bara sudah menunggu.
Bara melihat wajah Sela yang terlihat murung dan sedang memikirkan sesuatu.
"Pulang sekarang?" tanya Bara pada Sela namun Sela tidak mendengarnya karena melamun.
"Sel," panggil Gabriela menyadarkan Sela.
"Hah?" tanya Sela pada Gabriela dan Sela baru menyadari jika mereka sudah di parkiran.
"Ayo kita pulang," kata Sela terdengar sangat lemah dan memasuki mobil tanpa menunggu mereka berdua.
Bara langsung memutari mobilnya begitu juga Gabriela langsung masuk ke dalam mobil.
Bara menatap sekilas Sela, dia hanya diam dan menunduk sambil memainkan jarinya. Bara melajukan mobilnya, sebaiknya dia bertanya nanti saja saat di rumah.
.
.
.
.
.
.
Sela sedang berbaring di queen sizenya sambil menatap langit- langit kamar.
Sela masih memikirkan tentang perkemahan besok, bagaimana cara Sela mengatakannya pada Bara.
Tapi sekarang yang terpenting bukanlah itu melainkan bagaimana cara Sela bisa melewati rintangan ini.
Sela benar- benar merasa takut juga rasa cemas tiba- tiba muncul kala dia mengingat kejadian mati lampu di perusahaan Bara.
Rasa itu seakan terus berputar di otaknya seperti sebuah memori yang dulunya hilang kini perlahan mulai kembali teringat pada Sela.
Tapi apa? Sela sendiri juga tidak tahu.
Tok tok tok
Sela tersadar dari lamunannya dan menatap pintu.
"Apa saya boleh masuk?" tanya Bara yang diangguki oleh Sela. Mungkin ini saatnya bicara sama Bara.
Bara berjalan menghampiri Sela dan menarik kursi belajar Sela untuk duduk di hadapan Sela.
"Bagaimana, apa kamu sudah berkemas untuk pergi besok?" tanya Bara pada Sela. Sela hanya menggelengkan kepalanya lemah.
"Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanya Bara melihat Sela yang tidak seperti biasanya.
"Tuan," panggil Sela lemah membuat Bara memajukan kursinya agar lebih dekat dengan Sela.
"Saya besok tidak bisa ikut dengan anda," kata Sela membuat alis Bara terangkat sebelah.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Bara dingin.
Sela terdiam cukup lama, dia bingung bagaimana cara menjelaskannya.
"Kampus besok mengadakan kemah di hutan selama 2 hari," terlihat wajah Bara berubah menjadi sangat dingin dan marah.
"Tidak, kamu tidak boleh ikut acara kemah itu," kata Bara langsung melarang Sela untuk tidak mengikuti acara kemah besok.
"Tapi......,"
"Saya bilang tidak, apa kamu lupa dengan pobia kamu? Apa kamu bisa mengatasinya?" tanya Bara terdengar dia sangat marah pada Sela.
"Saya yakin saya bisa melewati ini semua, hanya 2 hari," paksa Sela pada Bara agar mengizinkannya mengikuti acara besok.
"Saya tidak ada untuk menjagamu, siapa yang akan melindungimu?" tanya Bara membuat Sela terdiam mendengar ucapan Bara yang spontan terlontar begitu saja.
Sela mencoba menetralisirkan hatinya lalu bersikap biasa di depan Bara.
"Ada Gabriela juga teman- teman yang lain," bujuk Sela pada Bara. Bara mengalihkan tatapannya untuk tidak menatap mata Sela yang terlihat sendu dan memohon padanya.
Bara lalu pergi keluar dari kamar Sela tanpa mengatakan sepatah katapun pada Sela.
Sela hanya bisa menatap punggung kekar Bara keluar dari kamarnya.
.
.
.
Pukul 7.00 (GMT- 5)
Semua orang sedang duduk di ruang keluarga di lantai 1 kecuali Bara yang masih di lantai atas.
Gabriela sedang sibuk bermain ponsel sedangkan Rendy juga sedang asyik bermain ponsel.
Beda dengan Sela yang hanya diam dan menunduk memainkan jarinya sambil terus memikirkan tentang nanti malam.
Bara keluar dari lift dengan menarik koper di tangannya.
Bara menatap Sela yang duduk termenung dan terus menunduk sambil memainkan jarinya.
Bara merasa tidak tega untuk pergi meninggalkan Sela sendiri.
Meksi Bara sendiri pergi hanya 1 hari rasanya begitu lama kala dia tidak bisa bertemu Sela.
Bara mengerti akan perasaan dan ketakutan Sela, tapi rasa berani dan tidak putus asa Sela membuat Bara semakin takut untuk meninggalkan Sela.
Bagaimana tidak, Sela memaksakan dirinya untuk berani menghadapi ketakutan yang dia alami demi menyelesaikan pekerjaannya.
"Ayo kita berangkat," kata Bara menyadarkan mereka bertiga.
Sela menatap Bara yang sudah jalan terlebih dulu sambil menarik kopernya.
Sela berjalan dengan langkah sangat lemas menuju mobil.
Sebelum pergi ke bandara, Bara akan mengantarkan Sela pergi ke perkemahannya.
Rendy langsung mengambil alih kemudinya lalu Gabriela duduk di samping Rendy.
Bara dan Sela duduk berdua di kemudi belakang.
Selama perjalanan Sela hanya diam tak berbicara apapun atau sekedar menatap Bara.
Bara menatap sekilas Sela terlihat sendu dan rasa takut yang tergurat di wajahnya begitu jelas.
Sela terus menatap ke arah luar jendela dan hanya diam.
Bara mengambil ponsel yang berada di tas hitamnya dan memberikan pada Sela.
"Apa?" tanya Sela sambil menatap ponsel di depannya.
"Ini ponselmu," kata Bara, Sela mengambil perlahan ponsel di tangan Bara sambil mengamati ponsel mahal itu.
Gabriela melirik dari kaca depan, Gabriela terkejut ketika melihat Bara memberikan Sela ponsel keluaran terbaru dengan harga selangit itu.
"Saya pakai ponsel saya aja," kata Sela menolak ponsel pemberian Bara.
Bara menatap Sela dengan tatapan mautnya membuat Sela mau tidak mau harus menerima ponsel pemberiannya.
"Apa ini tidak terlalu mahal untuk saya?" tanya Sela sambil mengamati detail ponsel barunya.
"Kenapa?" tanya Bara heran pada Sela, kenapa dia lebih suka ponsel jadulnya ketimbang ponsel yang diberikannya.
"Saya merasa tidak enak untuk memakainya," jawab Sela membuat Bara menoleh dan menatap Sela yang masih mengamati setiap inci ponsel pemberiannya.
Bara tersenyum samar melihat Sela yang selalu merasa dirinya merepotkan orang lain, padahal Bara sangat tulus melakukannya.
Perjalanan menuju hutan untuk perkemahan cukup memakan waktu lama, sekitar 1 jam.
Mereka telah tiba di hutan tujuan mereka, terlihat di depan ada bus rombongan kelas Sela yang sedang menunggu kedatangan mahasiswa lainnya.
Bara menatap ke samping, melihat Sela yang menatap sendu hutan di sekeliling.
"Apa kamu yakin akan ikut kemah ini?" tanya Bara pada Sela sekali lagi.
Bara seakan berharap Sela menjawab tidak dan membatalkan ucapannya untuk mengikuti perkemahan ini.
Sela mengangguk sambil menyampirkan tasnya dipundak bersiap untuk turun dari mobil.
Bara memegang tangan Sela membuat Sela menoleh dan menatap wajah Bara yang terlihat sangat mencemaskannya.
"Jangan lupa untuk menghubungi saya," kata Bara sambil menatap lekat wajah Sela.
Sela hanya mengangguk dan turun dari mobil. Sela dan Gabriela berjalan untuk menghampiri rombongan kelasnya berkumpul menjadi satu.
Bara menatap Sela dari dalam mobil, rasanya ada sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang dan terus merasa gelisah cemas memikirkan Sela.
Bara berharap Sela akan baik- baik saja dan dua hari selama berkemah semoga cepat berlalu.
Dengan berat hati Bara meninggalkan tempat perkemahan dengan hati yang terus mengkhawatirkan Sela.
--------▪︎▪︎▪︎▪︎-----------
__ADS_1