Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Hadiah Honeymoon


__ADS_3

《♡♡♡》


Pesta pernikahan masih berlanjut, sama halnya seperti pesta Bara, 7 hari 7 malam.


Cuma Bradsiton meminta untuk mereka pulang karena malam juga sudah semakin larut.


Rendy membawa Laura pulang ke apartemen barunya.


Untuk masalah ke mana mereka akan honeymoon, mungkin besok saja mereka akan merencanakannya.


Cittt


Rendy memarkirkan mobilnya tepat di depan apartemen.


Laura mendongak menatap apartemen yang menjulang tinggi ini.


Dia bahkan tidak menyangka jika akan menjadi istri Rendy.


Bahkan tidak pernah terbayangkan sedikitpun untuk sampai di titik ini.


Cup


"Ngelamunin apa sih?" Laura terkejut saat Rendy mencium pipinya.


"Tidak ada, aku hanya tidak menyangka bisa menjadi istrimu," jawab Laura jujur membuat Rendy tersenyum manis.


"Tunggu apalagi, ayo masuk," kata Rendy turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Laura.


"Silahkan tuan putri," kata Rendy saat membukakan pintunya membuat Laura tak bisa menahan senyumnya.


"Iyahhh," kata Rendy saat mengangkat tubuh Laura untuk masuk ke dalam apartemen.


"Rendy aku bisa jalan sendiri," kata Laura sambil menyembunyikan wajahnya di cekuk leher Rendy.


Ceklek



Pintu terbuka terlihat kamar mereka sudah didekorasi meski hanya sederhana.


Rendy lalu menurunkan Laura.


"Siapa yang menghias ini?" gumam Laura bertanya.


"Siapa lagi jika bukan orang suruhan papa," jawab Rendy pelan sambil memeluk erat Laura dari belakang.


"Sekarang kamu mandi dulu gihh, aku siapin air hangatnya," kata Rendy yang langsung bergegas untuk menyiapkan air hangat.


Laura tersipu malu diperlakukan semanis ini.


Biasanya dia yang selalu mengemis cinta dan mencari kasih sayang.


Tapi kini dia sudah mendapatkan suami yang mungkin di luaran sana 1001 wanita yang bisa beruntung untuk mendapatkannya.


"Sayang sudah selesai," teriak Rendy dari dalam kamar mandi.


"Iya," jawab Laura lalu masuk ke dalam mandi dan terlihat bath upnya sudah penuh dengan air hangat juga hiasan bunga mawar.


"Aku akan tunggu di luar," kata Rendy tapi Laura menahan tangannya.


"Apa kamu tidak berniat untuk mandi?" tanya Laura yang membuat Rendy salah paham.


"Ohhh kamu ingin aku mandi bersamamu?" tanya balik Rendy sambil berjalan mendekati Laura.


"Bukan maksudku...,"


"Ahhh aku merasa di sini sangat panas sekali, bagaimana jika kita berbagi bath up?" Laura menatap Rendy yang melonggarkan dasinya juga melepas kancing atasnya.


Ya tuhan Rendy tidak bisakah kamu biasa saja.


Damagemu terlalu sempurna jika hanya ditatap saja.


"Ahh tidak, lebih baik kamu tunggu di luar dulu, aku akan mandi," kata Laura mendorong Rendy untuk tidak terus mendekat.


"Malam ini kamu harus kuat, aku sudah menanti hari ini begitu lama," Rendy lalu keluar meninggalkan Laura yang masih mencerna baik- baik ucapan Rendy.


"Hah tenang Ra tenang, bagaimana bisa dia mengatakan itu dengan mudahnya," kata Laura sambil menutupi wajahnya karena malu.


Rendy tersenyum girang saat membuat Laura tersipu malu.


Ia duduk di sofa lalu meraih ponselnya.


"Kira- kira Reno ngapain ya sekarang?" gumam Rendy yang langsung menelpon Reno.


"Hal...,"


"Lo enggak ada kerjaan lain apa selain gangguin gue?" bentak Reno membuat Rendy menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Galak amat mas," goda Rendy sambil tertawa.


"Lo telpon sekali lagi, gue bunuh lo," ancam Reno yang langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Orang kalau malam pertama kenapa sensitif banget sih ditelepon gitu aja," gumamnya pelan lalu iseng dan kembali menelponnya.


"Rendyyy lo telpon sekali lagi, gue tendang lo," bentak Reno merasa sangat kesal dan frustasi.


Sedangkan Rendy sudah tertawa puas bisa menggoda saudaranya.


Ceklek


Laura sudah selesai mandi dan berjalan menuju walk in closet.


Rendy sempat melihat sekilas Laura yang hanya mengenakan jubah mandi saja.


"Bentar lah gue mandi dulu," kata Rendy yang langsung berlari menuju kamar mandi karena merasa tak tahan.


Laura mengeringkan rambutnya dan berjalan menuju dekat jendela.


Pemandangan di apartemen Rendy sangat indah di saat malam hari.


Laura tersenyum manis menatap wine yang disiapkan di atas meja.


Ia lalu duduk sembari menikmati wine dengan pemandangan kota dari atas sini.


Rendy selesai mandi dan melihat Laura yang sedang duduk manis menikmati wine.



"Kenapa minum wine hah?" Laura terkejut saat Rendy memeluk dirinya dari belakang dengan rambut yang masih basah.


"Tidak ada hanya ingin saja," jawab Laura sambil mengusap lengan Rendy.


Rendy mengambil remote kontrol dan menutup gordennya.


"Rendy aku kan masih pengin lihat," rengek Laura merasa kesal saat Rendy tiba- tiba saja menutup gordennya.


"Sekarang udah minum winenya, udah malem kita tidur," kata Rendy merebut gelas Laura dan membopongnya menuju king size.


Laura mengalungkan kedua tangannya sambil menyembunyikan senyum malunya.


Rendy membaringkan Laura pelan di atas king size bahkan tatapan Rendy tak bisa lepas dari wajah Laura.

__ADS_1


"Ternyata kebahagiaan terindah saat ini adalah bisa memilikimu," gumam Rendy membuat Laura merasa merona.


"Tapi apa kamu tidak menyesal menikah denganku?" tanya Laura membuat Rendy mengangkat sebelah alisnya.


"Secara aku tidak sehebat Sela dan tak sedewasa Dea, juga tak sepandai Jessy," kata Laura membuat Rendy mencium kening Laura.


"Sampai kapan kamu terus membandingkan dirimu dengan orang lain hah?" kesal Rendy sambil menciumi leher jenjang Laura membuat Laura merasa geli.


"Rendy geliii," kata Laura sambil mendorong dada bidang Rendy agar tidak terus menciumi lehernya.


"Mencintai seseorang tak butuh alasan juga kesempurnaan, cukup bisa buat kita nyaman dan menjadi tempat untuk kita pulang," kata Rendy benar- benar membuat Laura bisa merasa jika ia dicintai oleh laki- laki yang tepat.


Laura mencium bibir seksi Rendy dan dengan jahilnya Rendy melepaskan ciuman Laura.


"Kenapa kamu agresif banget hah?" tanya Rendy membuat Laura kesal lalu mendorong dada bidang Rendy.


"Udah minggir gue mau tidur," kata Laura yang langsung bangun dari baringnya.


Happ


Rendy menarik Laura hingga terbaring bersama di king size.


"Kenapa kamu selalu marah hah, kita belum mulai buat dedeknya," kata Rendy yang langsung mematikan lampunya membuat Laura semakin bersemangat.


Sedangkan di tempat lain dua pengantin juga sedang melakukan malam pertamanya.


Ya Reno dan Dea.


.


.


.


.


Jika pengantin tadi sibuk malam pertama beda cerita sama dua pasutri ini.


Bara dan Sela.


Bara sengaja mencuekkan Sela saat ia lebih memilih untuk menginap di rumah mamanya.


Kini Bara sedang menatap Sela dan mamanya sedang asyik menyajikan makan malam.


"Aisss apa memasak begitu menyenangkan hingga ia melupakan suaminya," gerutu Bara sambil menatap Sela yang terus tertawa saat memasak bersama mamanya.


"Hei son, sedang apa?" tanya Bradsiton yang baru saja keluar dari kamar.


"Menjadi intel," jawab Bara ketus membuat Bradsiton terkekeh.


"Kenapa kamu begitu kesal, ohh papa tahu, kau sedang diabaikan oleh istrimu?" tanya Bradsiton membuat Bara menatap papanya.


"Bisakah tuan memberitahu istri anda untuk tidak mengajak istri saya memasak," seketika tawa Bradsiton pecah membuat dua perempuan di dapur menoleh.


"Saya mau malam pertama jadi gagal kan berkat istri anda mengajak istri saya masak," kesal Bara yang berbicara formal pada papanya.


"Hei nak apa kau tahu, wanita tua itu sangat garang, jika kau menolak permintaannya, aku akan tidur di luar," kata Bradsiton yang juga membalas Bara dengan formal.


"Pa Bara, ayo kita makan malam," kata Rose pada dua laki-laki yang sejak tadi sibuk bertengkar.


"Ma kata Bara mama tua," teriak Bradsiton lalu berlari menuju meja makan sedangkan Bara melebarkan kedua matanya.


"Enggak ma papa bohong, papa tadi yang bilang," kata Bara membela diri sambil berlari untuk menangkap papanya.


"Yaaa tuan Bradsiton, kenapa anda membuat saya harus tidur di luar hah?" kata Bara kesal sambil berlari berusaha menangkap papanya.


"Dasar bapak sama anak sama aja, malem ini kalian berdua tidur di luar," kata Rose membuat Bradsiton dan Bara berhenti berlarian saat mendengar kata 'tidur di luar'.


"Duduk," bentak Rose pada dua laki- laki ini.


Bara dan Bradsiton langsung duduk di kursi dengan wajah sedikit memelas agar Rose sedikit luluh.


"Udah ma ayo kita makan," kata Sela mencairkan suasananya. Rose seketika berubah jadi manis saat Sela yang berbicara.


"Sayang kamu mau makan apa hah? Daging, ayam atau brokoli yang mana?" tanya Rose yang sangat memperhatikan Sela dibanding suami dan putranya.


Bara dan Bradsiton saling menatap.


"Ma kita juga mau daging," rengek Bara.


"Papa juga ma," kini suaminya yang merengek.


"Ambil sendiri," kata Rose ketus lalu langsung makan dengan Sela yang menahan tawanya.


Bara dan Bradsiton terpaksa makan malam dengan suasana saling tatap dan mencari cara untuk bisa buat istri mereka luluh.


Tiba- tiba Bara terpikirkan ide yang cemerlang.


"Aduhh sayang, kenapa perutku terasa sakit?" rintih Bara membuat Sela langsung berdiri dan menghampiri Bara.


"Hah kenapa bisa?" kata Sela yang panik saat Bara terus memegangi perutnya dan sesekali melirik Bradsiton.


"Sayang kamu ajak dia ke kamar saja," kata Rose yang juga khawatir.


Sela langsung memapah Bara menaiki lift untuk ke kamar atas.


"Dasar anak nakal," gumam Bradsiton yang tahu ide jahil Bara.


"Yaa Bradsiton, cucilah piringnya jika tuan ingin tidur di kamar," kata Rose dengan galaknya.


Lalu dengan cepat Bradsiton langsung mengambil piring- piring kotor di atas meja begitu juga piring Rose.


"Yaaa Bradsiton, aku masih makan," teriak Rose kesal saat dia masih makan piringnya sudah diangkat saja sama Bradsiton.


Sedangkan Bara dan Sela sudah sampai di lantai atas.


"Iyahh,"


"Baraaa," teriak Sela saat Bara mengangkat dirinya ketika pintu lift terbuka.


"Bukannya kamu tadi bilang sakit perut," tanya Sela kesal saat Bara membawanya ke balkon.


Bara menurunkan Sela dan seketika istrinya diam saat melihat pemandangan balkon.



"Wahh indah sekali," kagum Sela membuat Bara tersenyum geli saat istrinya tidak lagi marah.


"Kenapa moodmu bisa secepat itu berubahnya hah?"kata Bara sambil mencubit pipi Sela yang kini bertambah chubby.


Bara lalu menarik Sela untuk duduk di pangkuannya dan memeluknya dari belakang.


"Wahhh daebak," gumam Sela membuat Bara terkikik.


Entah kenapa belakangan ini istrinya suka berbicara ala Korea.


"Sayang, besok kamu ingin liburan kemana hmm?" tanya Bara lembut pada Sela.


"Jangan terus liburan, bagaimana dengan perusahaanmu hah? Dia pasti iri denganku, karena kamu terus bersamaku sepanjang waktu," tanya Sela yang kasian pada Bara.


Ia tahu jika pekerjaan Bara sedang menumpuk jadi ia ingin Bara istirahat di rumah dibanding liburan.

__ADS_1


Pasti kerjaannya akan semakin numpuk.


"Yaaa mana mungkin perusahaanku cemburu denganmu?" kata Bara membuat Sela menghela napas.


Sela berbalik untuk menatap wajah tampan suaminya.


Sela menangkup kedua pipi Bara lalu mencium bibir seksinya.


Cup


"Besok aku akan membantumu untuk menyelesaikan beberapa proposal untuk disusun kembali," kata Sela membuat hati Bara seakan terasa meletup- letup.


"Yaaa kamu sudah berani menggodaku?" tanya Bara sambil membopong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar.


Cup


Cup


Cup


Sela memang sengaja menggoda Bara dengan menciumi leher dan rahangnya.


"Sayang jangan terus menggodaku jika kamu tidak ingin kujatuhkan," intruksi Bara agar Sela berhenti menciumi rahangnya.


Sela tertawa pelan lalu menyembunyikan wajahnya di leher Bara.


"Sayang aku ingin makan apel ,spartan" kata Sela saat Bara membaringkannya di king size.


"Sayang ini sudah malam, kamu juga baru makan, kenapa tiba- tiba ingin makan apel?" kata Bara sambil memeluk tubuh istrinya dan menyelimutinya.


"Enggak tahu tiba- tiba aja pengin," rengek Sela lalu Bara langsung menelpon pak Asep untuk membelikannya meski ia tahu ini sudah malam.


"Halo, pak Asep bisa tolong belikan apel spartan?"


"Baik den,"


"Terima kasih pak...,"


Bara menunduk melihat wajah Sela, bagaimana bisa ia sudah tertidur sedangkan beberapa menit tadi ia meminta apel.


"Den Bara?"


"Pak Asep maaf enggak jadi besok saya saja yang akan beli, Sela sudah tertidur," kata Bara lalu mengakhiri teleponnya.


Bara lalu mengubah ruangan menjadi sedikit temaram agar Sela bisa lebih tenang tidurnya.


Cup


"Kenapa akhir- akhir ini moodmu selalu berubah hah?" bisiknya pelan sambil menatap wajah cantik istrinya.


Bara lalu memeluk erat tubuh Sela dan berkali- kali menciumi seluruh wajah Sela.


.


.


.


.


*Darr


Darr


Darr*


Rendy membuka matanya saat mendengar suara petasan di atas balkonnya.


"Siapa sih yang mainan petasan, ganggu orang aja," gerutu Rendy sambil membuka jendelanya.


"Baaaaa," teriak Reno Bara dan juga Reynald dengan wajah tak berdosanya.


"Kaget kunyuk," kata Rendy terkejut saat mereka berteriak.


Ia melihat ada helikopter di balkonnya.


Astaga, tidak bisakah saudaranya ini sehari saja tidak menganggunya.


"Untung enggak gue tendang lo dari sini," kesal Rendy yang benar- benar kesal.


"Buruan mandi udah ditunggu papa noh," kata Bara sambil mendorong Rendy masuk ke dalam kamar.


"Astaga rasa pengin dicabut sama malaikat saat melihat mereka selalu berulah," gerutunya sambil masuk ke dalam kamar mandi.


.


.


.


Helikopter milik Bara mendarat di pantai Stella.


Bara sendiri juga tidak tahu kenapa papanya meminta untuk semua datang kemari.


"Kita mau ngapain ke sini lagi?" tanya Rendy saat turun dari helikopter.


"Gue juga enggak tahu, pokok papa yang suruh," jawab Bara sambil membantu Sela untuk turun dari tangga.


"Yaudah tunggu apalagi ayo temui papa," ajak Dea yang diangguki oleh kaum adam.


"Papa," teriak Bara saat melihat papanya sedang berbicara dengan seseorang.


"Nah itu semua putraku," kata Bradsiton mengatakan pada seorang laki- laki tinggi berbadan kekar.


"Ada apa papa suruh kemari?" tanya Reynald penasaran.


"Ini kuncinya," kata Bradsiton memberikan satu kunci pada Bara membuat mereka saling tatap bingung.


"Untuk apa pa?" tanya Rendy tak paham dengan maksud Bradsiton.


Bradsiton terkekeh begitu juga laki- laki tinggi itu.


"Rumah ini adalah milik kalian semua, anggap saja ini hadiah ulang tahun dari papa," kata Bradsiton sembari menunjukkan sebuah rumah mewah yang berada di pulau Stella, yang warga sini yakini jika rumah ini adalah surga yang indah di bumi.



"Bentar- bentar, maksud papa, papa beli pulau ini buat hadiah pernikahan kita?" tanya Rendy memastikan sebelum ia kepedean.


"Iya papa hanya membeli rumahnya tapi tidak dengan pulaunya, karena aturan di sini, kita tidak bisa memperjualbelikan pulau,"


"Jadi, maaf jika suatu saat kalian terganggu dengan pengunjung yang datang kemari, karena mereka hanya mengizinkan untuk membeli rumahnya saja," kata Bradsiton merasa putus asa saat tidak bisa memberikan hal yang sempurna untuk putranya.


Seketika semua memeluk Bradsiton.


"Pa ini udah sangat berlebihan dan lebih dari cukup," kata Bara membuat Bradsiton menepuk punggung putranya.


"Papa cuma minta sama kalian, tinggalah bersama, kalian harus saling tolong menolong dan saling membantu, kalian semua adalah saudara dan juga putraku," kata Bradsiton sambil menatap satu persatu laki- laki dihadapannya ini yang kini sudah berubah status menjadi seorang suami.


"Dan papa juga minta, jangan lupa untuk sering berkunjung ke rumah papa," katanya dengan nada lirih membuat para wanita menahan air matanya.


"Memang tempat kami pulang kemana lagi selain rumah papa dan mama?" kata Bara membuat Bradsiton menganggukkan kepalanya bangga.

__ADS_1


__ADS_2