Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Tindakan Bara


__ADS_3

○○○


Hari ini Laura akan pergi ke rumah Bradsiton.


Rose memintanya untuk datang, entah apa yang Rose inginkan.


Buru- buru Laura bersiap dan berganti pakaian.


Setelah selesai Laura menatap dirinya di pantulan kaca.



Mungkin dia akan memakai baju ini saja, agar terlihat elegan.


Laura bergegas menuju rumah Bradsiton, dia tidak ingin mereka menunggu lama.


Beberapa menit kemudian Laura sudah berada di halaman rumah Bradsiton.


Laura langsung saja masuk ke dalam untuk menemui Rose.


"Laura sayang," panggil Rose yang sedang berada di dapur.


"Tante ngapain?" tanya Laura berjalan menghampiri Rose yang sedang bergelut di dapurnya.


"Tante lagi masak buat Bara sayang, dia bilang kangen masakan tante," kata Rose sambil mencuci sayuran.


"Laura bantu ya tan?" tanya Laura berniat untuk membantu Rose.


"Udah enggak perlu, kamu duduk aja," suruh Rose pada Laura.


"Masak iya Laura duduk aja, Laura bantuin ya tan?" Laura memaksa Rose agar memperbolehkan dirinya membantu memasak.


"Udah sayang kamu duduk aja biar tante yang masak, tante suruh kamu ke sini buat minta tolong, nanti antarkan ini ke rumah Bara ya?" seketika mata Laura berbinar mendengar perkataan Rose.


"Tentu tan," jawab Laura bersemangat membuat Rose terkekeh.


"Oh iya Laura, apa kamu sekelas dengan Sela?" mendadak raut wajah Laura berubah.


"Emm iya tan," jawab Laura pelan.


"Sayang, apa kamu tahu rumah Sela?" tanya Rose dengan bersemangat jika itu menyangkut tentang Sela.


"Laura tidak tahu tan," jawab Laura karena memang dia enggak tahu meski rumahnya hampir berdekatan dan berada pada kawasan yang sama, perumahan dekat restoran Gwancheong.


"Padahal tante pengin banget ngajak dia ke sini," kata Rose bersedih hati karena dia ingin sekali mengajak Sela untuk masak bersama.


Laura menatap Rose yang kini raut wajahnya berubah kecewa.


Apa dia sesayang itu sama Sela?


Terus apa gunanya dia di sini kalau hanya menanyakan tentang Sela.


Dasar cewek miskin, emang apa sih yang hebat darinya.


♡♡♡



Sejak tadi Bara tidak henti- hentinya menatap wajah cantik Sela yang sedang tertidur.


Mungkin kemarin dia sangat kelelahan setelah bermain dengan Dewa.


Hingga dia tertidur di sofa saat menunggu Bara sedang menerima telpon dari ayahnya.


Kapan lagi kan bisa natap wajah cantiknya gini dengan jarak dekat.


Yaudah daripada bopong dia ke kamarnya, Bara pindahin aja Sela ke king sizenya.


Dan Bara tidur di sofa panjang yang berada di kamarnya.


Saat melihat Sela belum bangun, terbesit ide pada Bara, untuk menatap wajah cantik Sela yang masih tertidur.


Dan naiklah Bara dan berbaring di samping Sela, menatap wajah cantiknya.


Sela perlahan membuka matanya dan melihat Bara sedang menatapnya dan tersenyum sangat manis.


"Aaaaaaa," teriak Sela keras.


Dugh


Bugh


"Awww Sela, kenapa kamu tendang saya," kata Bara yang sudah jatuh hingga ke lantai bawah dan meringis kesakitan sambil memegangi pantatnya.


Sedangkan Sela langsung bangun dan menutup tubuhnya dengan selimut lalu memeriksa pakaiannya.


Wiuhhh aman.


"Kenapa anda masuk ke kamar saya?" tanya Sela belum sadar jika dia yang sedang berada di kamar Bara.


Bara melotot tidak percaya mendengar ucapan Sela.


Bara berdiri lalu naik ke king sizenya menatap Sela lekat.


"Apa kamu lupa, kemarin malam kamu tidur di kamar saya," Sela langsung menatap sekeliling.


Benar, ini kamar Bara, mampus dah malu banget Sela sudah bentak- bentak Bara, apalagi nendang dia lagi sampai jatuh.


Sela melirik Bara yang kini menatapnya sebal, Sela cepat- cepat turun dari king size Bara untuk kembali ke kamarnya.


Tapi dengan cepat Bara menarik Sela hingga kembali terbaring di king size.


Bara menjadikan lengannya sebagai bantal kepala Sela.


"Tuan jika ada yang melihat mereka akan salah paham," kata Sela berusaha bangun dan terus memberontak namun dengan kuat Bara mengunci tubuh Sela.


"Pintunya dikunci," kata Bara membuat Sela tidak kembali memberontak.


Bara yang di belakang Sela tersenyum manis, Bara menghirup aroma blueberry pada rambut Sela.


Sangat wangi.


"Kenapa kamu cemburu saat saya dengan Jessy?" tanya Bara pelan.


"Saya tidak cemburu,"


"Lalu kenapa kamu jalan sama cowok lain, apa kamu berniat untuk membalas agar saya cemburu?"


"Kenapa anda sangat percaya diri sekali, saya kemarin benar- benar menjenguk ibu, tanya aja sama pak Asep, lantas Dewa kebetulan sedang mengambil obat untuk kakaknya,"


Bara terdiam dan mencerna ucapan Sela.


Memang Reynald sakit apa, hingga Dewa mengambil obat di rumah sakitnya.


"Lalu Dewa mengajak untuk ke time zone, yaudah saya ikut, kan dengan begitu saya tidak akan menganggu waktu anda dengan Gabriela,"


Bara mengeratkan pelukannya pada pinggang Sela membuat Sela beberapa detik menahan napasnya.


"Oh jadi kamu sengaja keluar dengan Dewa dan meninggalkan saya dengan Gabriela,"


Dengan polosnya Sela mengangguk semakin membuat Bara gemas sekaligus sebal.


"Kenapa kamu tidak marah sama Gabriela saat dia mencium saya?"


Sela terdiam tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Bara.


Sela tahu jika Gabriela menyukai Bara.


Tapi apa boleh buat, status Sela dengan Bara pun juga tak jelas.


Lalu apa hak Sela untuk cemburu dengannya atau marah pada Gabriela.


"Apa kamu tidak tahu jika Gabriela mengambil pakaianmu?"


Sela mengernyit bingung, pakaian mana, perasaan pakaiannya tidak ada yang dipakai olehnya.


"Pakaian mana?"


"Pakaian yang saya belikan untukmu, di kamar baru,"


"Saya tidak tahu,"


"Apa kamu tidak pernah membuka walk in closetnya?"

__ADS_1


"Saya hanya 2 kali memakai baju yang anda belikan, selebihnya saya tidak tahu jika itu baju saya yang dipakai Gabriela,"


Bara memejamkan matanya, pantes aja Sela diem aja waktu Gabriela memakai gaun- gaun yang dibelikan Bara.


Nyatanya dia tidak pernah membuka walk in closet atau memakai baju yang ia belikan.


"Apa kamu tahu, Gabriela sudah berkali- kali menggoda saya," kata Bara terus terang pada Sela.


Rasanya dia tidak bisa berbohong atau menyembunyikan sesuatu dari Sela.


Sela terdiam dia merasa bersalah karena dia yang membawa Gabriela ke sini.


"Dan kemarin dia mencium saya dengan tiba- tiba," lanjut Bara.


"Jika saya mau saya sudah mengusirnya sejak kemarin, tapi saya menghormatimu karena dia sahabatmu,"


"Maafkan saya," kata Sela pelan membuat Bara tersenyum manis dan mempererat pelukannya.


"Jadi, kamu ingin saya atau kamu sendiri yang menyuruhnya pulang,"


Sela berpikir sejenak, rasanya dia tidak tega jika meminta Gabriela untuk pergi.


Sela tahu jika Gabriela kini tinggal sendiri di rumah karena ayahnya kini tinggal di rumah bibinya untuk dirawat.


Tapi Sela juga tahu diri, jika Gabriela terus di sini, dia juga tidak enak pada Bara.


Dirinya saja numpang sama Bara tanpa membayar sepeser pun, bahkan dia membiayai perawatan ibunya dan juga kuliahnya.


Sela saja belum bisa mengganti semua biaya itu.


"Kenapa kamu diam?" tanya Bara


"Nanti saya yang akan bicara," Bara tersenyum kesenangan mendengar ucapan Sela.


"Apa kamu tahu apa yang kemarin saya katakan pada Gabriela?"


"Apa?"


"Saya meminta bantuannya, untuk membuatmu cemburu dengan," Bara tidak melanjutkan ucapannya.


Sela terdiam sambil menunggu ucapan Bara.


Bara sedikit bangkit dari baringnya dan sedikit maju ke depan untuk menatap wajah Sela lekat.


Sela sampai terkejut dengan sikap Bara yang tiba- tiba.


"Memintanya mencium saya di depan kamu," kata Bara sambil menahan senyumnya sedangkan Sela melotot kesal.


Bugh


"Apa anda gila?" tanya Sela sambil memukul dada Bara.


"Kenapa kamu suka sekali memukul saya?" kata Bara tidak menghiraukan ucapan Sela.


"Apa anda serius mengatakan itu pada Gabriela?" Bara mengangguk sambil menahan tawanya.


Sela mendorong Bara lalu bangun dari baringnya dan bergegas menemui Gabriela.


"Aishhh, anda benar- benar gila," gumam Sela pelan membuat Bara tertawa melihat sikap Sela.


"Padahal itu cuma buat wanita iblis itu sadar diri, enggak lebih dari itu. Emang siapa yang mau dicium oleh dia," gumam Bara pada dirinya sendiri.


Sela berada di lantai 2 dan mengetuk pintu Gabriela untuk berbicara padanya.


"Sela," kata Gabriela membuka pintunya.


"Ela, aku ganggu enggak?" Gabriela menggelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar diikuti Sela.


"Ada apa?" tanya Gabriela yang duduk di atas queen sizenya dan menatap lekat Sela.


"Emm, La aku cuma pengin nanya sama kamu, kamu jangan marah ya," kata Sela pelan takut menyinggung perasaan Gabriela.


"Apa kamu takut jika tinggal sendiri di rumah?" tanya Sela pelan- pelan.


"Kenapa, apa kamu mengusirku?" tanya Gabriela yang terlihat mulai sewot.


"Bukan begitu, aku hanya bertanya, aku juga tidak enak sama tuan Bara, di sini aku sendiri juga numpang,"


"Bagaimana jika kamu di rumah aku, biar bibi Salma yang menemanimu?" tanya Sela takut Gabriela marah.


"Oh jadi lo ngusir gue,"


"Bukan La, dengerin aku dulu,"


"Enggak perlu, gue bakal pergi dari sini, bilang aja kalau lo cemburu kan Bara suka sama gue,"


"Bukan La, dengerin aku. Kamu jangan marah dulu...,"


"Biarin aja dia pergi, toh kemarin dia bilang cuma 2 hari nginepnya," kata Bara yang berdiri di ambang pintu.


Gabriela menatap tajam dan nyalang ke arah Bara.


Gabriela berjalan menghampiri Bara dan menatap lekat mata Bara.


"Bukankah lo minta bantuan gue?" tanya Gabriela pada Bara.


Gabriela berjinjit lalu mencium bibir Bara di depan mata Sela.


Plak


Bukan Sela yang menampar melainkan Bara, Sela menutup mulutnya tidak percaya.


Bara menampar pipi Gabriela hingga sedikit terhuyung ke belakang.


Gabriela memegangi pipinya dan tersenyum kecut.


Sela menghampiri Gabriela untuk melihat kondisinya, namun Gabriela mendorong Sela kasar.


"Bukankah lo yang minta?"


"Apa kau bodoh? Kau tidak mengerti apa yang aku katakan. Aku mengatakan untuk membuatmu menjauh dariku dan aku tidak suka denganmu,


"Jangan bersikap seolah kamu seperti jalang, aku selalu diam saat kamu menggodaku bukan berarti aku suka denganmu, tapi aku menghormati dia," Bara menatap Sela yang berdiri di belakang Gabriela.


"Seseorang yang selalu mengkhawatirkanmu meski dia sendiri dalam bahaya, kamu selalu mengambil bajunya dan membawanya pulang, dia tidak pernah mencurigaimu bukan?"


"Dia yang membawamu ke sini, apa kau lupa?" Gabriela tersenyum miring sambil menatap kearah lain.


"Ok gue akan pergi dan ingat Sela," kata Gabriela mengancam Sela.


Namun, Bara menarik tangan Gabriela hingga menatap dada Bara.


Mata mereka saling beradu satu sama lain.


"Jangan pernah kau mengancamnya," kata Bara memperingati Gabriela.


Bara menghempaskan tangan Gabriela dengan kasar lalu mengambil tas milik Gabriela di atas queen size dan melemparkannya di depan Gabriela.


"Cepatlah kembali, kasihan ayahmu kini sedang sendiri," kata Bara yang mampu membuat Sela terkejut.


Bagaimana mungkin bukankah ayahnya sedang dirawat di rumah bibinya.


Gabriela mengambil tasnya lalu pergi begitu saja dari rumah Bara tanpa pamit dan berterima kasih.


Bara menoleh ke belakang melihat Sela yang duduk di tepi queen size sambil menunduk.


Bara menghampiri Sela dan duduk di sampingnya, menatap Sela yang kini sedang menyembunyikan tangisnya.


■■■


[30 menit sebelum kebakaran terjadi]


Rendy sedang berada di rumah Reno sejak kemarin malam dari time zone.


Mereka belum pulang sejak pulang dari wahana dufan.


Antara takut mendapat hukuman juga takut amukan Bara.


"Reno, ayo masak gue udah kelaparan dari kemarin malam," kata Rendy sambil memencet tombol TV dan baring di sofa.


"Ya tuhan anda makan sebanyak itu di time zone, malah menambah dua kali, dan anda bilang masih lapar" kata Reno tidak percaya sama Rendy.


"Itu kan udah kemarin malam Reno, sekarang sudah siang, waktunya gue makan," kata Rendy merengek seperti anak kecil.

__ADS_1


"Ayo kalau gitu, buruan masak," kata Reno dengan langkah gontai menuju dapur.


Lalu diikuti Rendy di belakangnya, Reno membuka kulkas untuk melihat persedian bahan makanan.


"Tuan adanya hanya daging dan sayur," kata Reno sambil membawa keluar daging dan sayur dari kulkas.


"Terserah yang penting perut gue ada isinya," kata Rendy sambil celingak- celinguk mencari sesuatu yang mungkin bisa dimakan.


Reno mencuci sayurnya lalu memotongnya.


"Ren ini lo punya mi ramyeon," kata Rendy menemukan mie di laci persediaan bahan makanan.


"Yaudah masak aja buat tambahan menu," kata Reno sambil menyalakan kompornya untuk memasak sayur.


Rendy segera mengambil tlefon untuk memasak mienya.


"Reno, kompor lo kok modelnya ginian sih, ini cara nyalainnya gimana?" tanya Rendy kebingungan saat melihat kompor Reno berbeda dari punya Bara.



"Ditiup," kesal Reno sambil memasukkan sayurannya ke dalam panci.


"Tinggal tekan aja apa susahnya," gumam Reno yang entah di dengar atau tidak sama Rendy.


Rendy meletakkan pancinya di atas kompor sambil menunggu mendidih, Rendy kembali ke ruang tv untuk menyalakannya kembali.


Rendy teringat sepertinya hari ini ada acara sepak bola.


Buru- buru Rendy mencari channel yang sedang menayangkan acara sepak bola.


Ternyata belum dimulai, masih kurang 5 menit lagi.


Rendy kembali ke dapur untuk melihat airnya sudah mendidih atau belum.


Rendy melihat airnya, belum mendidih sama sekali bahkan seperti tidak ada gerakan dari airnya.


"Ren dari tadi gue masak air buat mie, kenapa belum mendidih juga," Reno segera menghampiri Rendy untuk melihatnya.


"Coba deh tangan lo masukkin panas enggak airnya," suruh Rendy dan begonya sama Reno langsung diikuti.


Reno memasukkan tangannya ke dalam panci.


Dingin.


"Tuan, coba deh tuan masukkin juga tangannya kesini," Rendy mengikuti ucapan Reno.


Benar masih dingin. Reno melihat kompornya.


"Gimana mau mendidih, anda belum menyalakan kompornya," kata Reno kesal dengan sikap Rendy.


Rendy hanya senyam- senyum karena malu.


Sesekali dirinya melirik ke arah tv siapa tahu acara favoritnya sudah mulai.


Air sudah mendidih Rendy memasukkan mienya ke dalam panci.


Reno sudah selesai memasak sayur dan membawanya ke ruang tv.


"Mana bumbu mienya?" tanya Reno sambil meminta bumbu mie ramyeonnya.


Rendy mencari di dalam kemasan, di meja di bawah meja semuanya dia cari tapi tidak ada.


"Reno, bumbunya mana ya, kok enggak ada," tanya Rendy panik mencari bumbu mienya.


"Ya tuhan, mau makan aja pakai acara bumbunya hilang segala," gerutu Reno lalu mencari sumpit untuk melihat di panci.


Benar, bumbunya sama Rendy sekalian dimasak sama mienya.


Memang orang genius punya banyak cara untuk memasak mie.


"Ini bumbunya udah ketemu," Rendy langsung tersenyum lega.


"Di mana?"


"Dalam panci," kata Reno sebal, lalu beralih untuk memanggang dagingnya.


Rendy mengangkat mienya yang sudah matang dan ditiriskan di mangkok.


Rendy membawanya ke ruang tv, mata Rendy seketika berbinar saat melihat acara favoritnya telah di mulai.


"Ren Reno, acaranya udah mulai, buruan ke sini," teriak Rendy membuat Reno bergegas menuju ruang tv.


Mereka duduk berdua menunggu acara dimulai.


Acara dimulai senyum merekah di bibir mereka mulai terukir begitu juga mata mereka yang langsung terbuka lebar.


15 menit mereka menonton siaran langsung permainan sepak bola favorit mereka.


Rendy yang sekilas melihat dapur ada asap terkejut.


"Ren kok di dapur ada asap?" tanya Rendy sedangkan Reno masih setia memandangi layar tvnya.


Reno memandang sekilas dapurnya yang jelas- jelas sudah berasap lalu kembali menonton acaranya.


"Ren berarti dapur lo kebakaran dong," teriak Rendy panik.


"Oh kebakaran, tunggu bentar habis ini iklan,"


"Oh iya bener, nanggung habis ini iklan,"


Setelah iklan mereka berdua sontak berdiri bersama dan saling menatap.


"Kebakaran," teriak keduanya berlari menuju dapur.


Daging mereka sudah hitam tak terlihat karena terlalu lama memanggang.


"Tuan cepetan ambil air, keburu apinya kemana- mana," teriak Reno panik sambil mengibaskan tangannya berharap apinya padam.


"Tapi Reno kan sayang dagingnya kalau disiram air, entar enggak makan daging kita," kata Rendy membuat Reno melotot tidak percaya.


"Ya tuhan disaat genting gini anda masih sempat- sempatnya memikirkan daging,"


"Yaudah cari kain kalau gitu terus kasih air," suruh Reno pada Rendy.


Rendy bergegas mencari kain demi dagingnya yang saat ini sudah berubah warna menjadi hitam seperti arang.


"Ini Ren," kata Rendy sambil memberikan baju yang sudah ia basahi pada Reno.


"Kayaknya saya kenal sama baju ini?" tanya Reno sambil mengangkat baju yang sudah dibasahi air.


"Tuan ambil di mana?"


"Di jemuran depan tadi "


"Itu kan baju saya," teriak Reno frustasi.


"Reno buruan keburu habis dapur lo," terpaksa Reno memadamkan apinya dengan bajunya yang sudah dibasahi air.


"Ren gimana dagingnya, masih bisa dimakan enggak?" tanya Rendy bergegas melihat daging yang Reno panggang.


"Udah dan itu mengorbankan kemeja putih saya," gerutu Reno sambil melihat dagingnya.


Reno dan Rendy membawa daging yang kini sudah seperti arang ke ruang tv.


"Reno, coba lo cicipi dagingnya," kata Rendy membuat Reno menggeleng cepat.


"Tidak saya makan sayur ini aja," tolak Reno.


Akhirnya daging yang sejak tadi Rendy inginkan harus terelakan untuk dibuang karena tidak bisa dimakan lagi.


Rendy mengambil mangkok yang berisi mie ramyeon.


Satu suapan telah masuk ke dalam mulut Rendy.


"Reno, lo ngerasa kayak yang aneh enggak sih rasa dari mienya?" tanya Rendy lalu mereka berdua saling tatap lalu melotot.


"Tangan kita berdua masuk dalam panci ya enggak sih?"


seketika mereka berusaha dengan kuat untuk tidak memuntahkan mienya.


"Sama tuan enggak diganti airnya?"


Dengan polosnya Rendy menggeleng, Reno berlari kearah dapur untuk memuntahkan mienya.

__ADS_1


"Kan bukan cuma tangan gue yang tadi masuk ke panci, tangan dia juga masuk ke panci," gumam Rendy dan kembali meneruskan acara makannya dengan menatap intens acara kesukaannya.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2