Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Tunda Perasaan


__ADS_3

□□□


Bara benar- benar sibuk karena 3 hari lagi Clay akan melakukan observasi dalam penilaian busana.


Karena itu Bara harus menyiapkan segalanya dengan sangat rapi dan cepat.


Mungkin malam ini Bara akan menginap di kantor, untuk mengurus dan juga mengawasi segala pekerjaan karyawan agar lebih maksimal.


Bara memang pekerja keras dan tidak kenal lelah.


Karena itu semua pekerjaannya selalu berakhir sangat memuaskan.


Bara selesai dari gudang kain setelah memeriksa perpaduan kain yang ia perintahkan pada para desainer untuk di gunakan dalam busana proyek AS.


Bara berniat untuk kembali ke ruangannya menemui Sela.


Kasian sejak tadi dia mencuekkannya, Bara akan mengajaknya keluar untuk makan siang.


Senyum Bara menuju ruangannya tidak luntur sama sekali seakan bibirnya tidak kenal lelah.


"Sela ayo...," Bara berhenti dan menatap tajam seseorang yang sedang duduk di sofa dan tersenyum manis dengannya.


"Bara," panggil Laura menyambut senang Bara.


Dengan langkah gontai dan sangat malas Bara masuk ke dalam ruangan.


"Bara, aku datang untuk mengantarkan masakan mama Rose," kata Laura sambil membuka satu persatu rantang yang berisi masakan Rose.


"Di mana Sela?" tanya ketus Bara sambil mencari ke seluruh penjuru ruangannya.


"Sela? Aku tidak melihatnya, memang di mana dia?" tanya balik Laura bingung saat Bara menanyakan Sela.


"Jangan bohong, tadi ada Sela di sini, di mana dia sekarang?" tanya Bara kini suaranya sedikit meninggi.


"Bara aku datang ke sini tidak ada siapa- siapa apalagi Sela," kini Laura juga meninggikan suaranya.


Dia kesal saat Bara datang dan marah- marah menanyakan Sela.


Bara berkacak pinggang sambil mondar- mandir di dekat jendela.


Tanpa tidak sengaja Bara menatap keluar jendela dan menatap ke jalanan.


Bukan di jalanan lebih tepatnya seseorang yang familiar bagi Bara sedang duduk berdua dengan seseorang di bangku taman.


Bara langsung berlari keluar dari ruangannya meninggalkan Laura sendiri tanpa pamit.


"Ihh gimana sih gue malah di tinggalin," gerutu Laura kesal lalu kembali duduk untuk menunggu Bara kembali.


□□□


Dret dret dret


"Mobil lo kenapa Ren?" tanya Rendy kesal dengan mulut yang masih penuh butter tart.


"Enggak tahu," kata Reno juga bingung disaat genting gini mobilnya mogok.


"Jangan bilang kalau mobil lo kehabisan bahan bakar," kata Rendy membuat Reno menatap sendu Rendy.


"Iya tuan, bahan bakarnya habis," kata Reno dengan lemah dan seperti ingin menangis.


"Kan kan lo sih kenapa tadi enggak diisi penuh sama lo," kata Rendy dengan mencak- mencak enggak jelas.


"Lagian mau beli pakai uang mana, uangnya sama tuan dibuat beli butter tart semua," kata Reno menahan kesal saat uang untuk membeli bahan bakar dibuat beli butter tart semua.


"Yaudah buruan panggil pak Asep buat suruh nganter bahan bakarnya," perintah Rendy yang langsung dilakukan Reno.


"Halo,"


"......."


"Pak Asep tolong anterkan bahan bakar untuk mobil saya,"


"......"


"Di jalan Toronto Wiss,"


"......"


"Apa enggak bisa cepet gitu pak?"


"........


"Iya dah pak enggak papa," kata Reno pasrah sedangkan sejak tadi Rendy mendengarkan baik-baik percakapan mereka berdua.


"Gimana?" tanya Rendy menunggu jawaban Reno.


"Bisanya nanti pukul 12 sekarang pak Asep masih ngawasi penurunan kain di kantor," kata Reno membuat Rendy meringsut dari tempat kemudinya.


"Terus kita harus gimana?" kata Rendy merengek.


"Coba anda tadi enggak beli butter tartnya banyak banget mungkin sisanya masih bisa buat beli bahan bakar," kata Reno menyesali saat uangnya tadi habis dibuat beli butter tart.


"Oh jadi lo enggak rela uang lo gue pakai?" tanya Rendy dengan marah.


"Enggak saya rela kok meski tuan mau jual rumah saya," kata Reno pasrah aja daripada ngajak ribut Rendy.


"Daripada nunggu pak Asep sampek nanti siang dan kita nguap di sini, mending ayo cari bus kota aja, lagian bodyguard pasti repot juga di kantor," kata Rendy mengusulkan untuk naik bus kota.


"Terserah tuan deh mau gimana, ayo kalau gitu," kata Reno langsung turun dari mobil untuk mencari bus kota.


Rendy tidak lupa dengan butter tartnya yang di belakang kemudi lalu turun dari mobil.


Reno berhasil memberhentikan bus kota dan meninggalkan mobilnya di pinggir jalan menunggu pak Asep memperbaiki.


Mereka berdua sudah duduk di dalam bus menuju perusahaan Bara, meski mereka harus jalan kaki 500 meter untuk sampai ke perusahaan seenggaknya mereka sudah berusaha datang.


Reno menatap kearah luar jendela mengamati lalu lalang kendaraan juga pemandangan kota.


"Tuan, apa uang untuk membeli butter tart masih ada sisa?"


"Tidak," Reno langsung melotot terkejut.

__ADS_1


"Lantas siapa yang akan membayar busnya?" Rendy berhenti mengunyah lalu tersenyum kikuk pada Reno.


"Gimana kalau kita jual lagi butter tartnya?"


"Kenapa enggak sekalian aja sopir busnya kasih butter tart sebagai ongkosnya,"


"Gimana kalau lo gue jadiin jaminan biar kita enggak digebukin orang gara- gara enggak bayar ongkos bus, entar gue minta uang dulu sama Bara buat nebus lo, gimana?" tanya Rendy membuat Reno melotot tidak percaya.


"Anda rela jadikan saya jaminan untuk bayar bus ini?"


"Mau gimana lagi, gue juga enggak punya uang, butter tart banyak tapi mana bisa di jual lagi, lagian sopir busnya pasti nolak dikasih butter tart,"


"Selain ktp barang berharga buat dijadiin jaminan, kan ada lo yang berharga bisa dijadiin jaminan, yaudah lo aja," kata Rendy sambil asyik memakan butter tartnya.


"Astaga bisa- bisanya saya dulu ketemu orang seperti ini," gumam lirih Reno.


Bus berhenti di sisi kiri jalan, keduanya saling pandang satu sama lain.


"Udah lo diem aja di sini, gue mau ngomong sama supir busnya," Rendy hendak berdiri untuk berbicara dengan sopir bus.


"Eh tunggu tuan, saya punya ide," seketika mata Rendy berbinar dan kembali duduk.


"Apaan?" Reno membisiki Rendy tentang idenya.


Keduanya saling menatap dan tersenyum jahil.


Keduanya pun langsung menjalankan aksinya.


"Uhuk uhuk uhuk," Rendy terbatuk dengan mulut penuh butter tart.


"Ya ampun bang gimana sih lo bisa keselek roti," kata Reno sambil menuruni tangga turun dari bus dengan tangan yang terus menepuk punggung Rendy.


"Ehh tuan tunggu, anda belum membayar ongkosnya," kata sopir bus.


"Bentar pak cuma turun bentar, abang saya keselek roti," sopir bus terlihat khawatir melihat mereka berdua dan menunggu di luar.


"Reno gimana nih, sopirnya malah nungguin kita lagi. Gimana kalau kita lari aja," Reno menepuk keras punggung Rendy.


"Itu bukan ide yang bagus," tolak Reno.


"Bang kasian penumpang lain nungguin, abang tinggal aja kita enggak papa," sopir bus menatap Rendy cemas.


"Beneran enggak papa?" tanya sopir bus lalu diangguki oleh Reno.


Sopir bus kembali naik dan melajukan busnya kembali ke tujuan penumpang lainnya.


"Akhirnya kita bisa bebas juga," kata Rendy sambil berkacak pinggang dan bernapas lega.


"Kapan- kapan kita bayar double ganti ongkos yang ini," kata Reno sambil menatap bus yang tadi mereka tumpangi.


"Ehh ehh tapi busnya kok mundur Ren,"


"Jangan- jangan sopir busnya baru inget kali kalau belum dikasih uang ongkos,"


"Tunggu apalagi, buruan lari,"


Mereka berlari menuju perusahaan Bara yang sudah dekat dari pemberhentian bus tadi.


"Loh kemana mereka pergi, padahal saya mau ngasih rotinya tadi ketinggalan di bus," gumam sopir bus sambil melihat kanan kiri mencari keberadaan Reno dan Rendy.


♡♡♡


Bara keluar dari lift dengan langkah tergesa- gesa dan wajah garangnya keluar dari perusahaan.


Hatinya semakin memanas saat tahu Sela sedang duduk dengan seseorang.


"Selaaaaaa," teriak Bara hingga membuat Sela terkejut begitupun Reynald.


"Uhuk uhuk," Sela terbatuk karena saking terkejutnya dengan teriakan Bara.


Reynald menepuk pelan punggung Sela dan membukakan air minum untuk Sela.


"Nih minum pelan- pelan," kata Reynald sambil menyodorkan botol minum pada Sela.


Bara langsung menarik Sela ke dekapannya dan menatap tajam Reynald yang masih duduk dan menatap Sela cemas.


Bara menatap Sela yang masih terbatuk.


Bara menepuk pelan punggung Sela dan menatap lekat wajahnya.


"Pelan- pelan," kata Bara saat Sela kembali meminum airnya.


Bara kembali menatap Reynald kini seakan tatapan mereka menimbulkan percikkan api.


"Ngapain lo di sini? Ini bukan daerah lo untuk keliaran," tanya Bara dengan penuh penekanan sambil mempererat pelukannya di pinggang Sela.


Reynald menatap tangan Bara yang sangat posesif terhadap Sela dan tersenyum samar.


"Gue enggak sengaja tadi ketemu sama cewek cantik ini," jawab Reynald semakin membuat Bara emosi.


"Pergi lo dari sini," usir Bara membuat Sela mengernyit bingung.


Sebenarnya di antara dua orang ini kenapa sih.


"Oh ya Sel, senang bertemu denganmu, sampai jumpa lain waktu ya," kata Reynald pada Sela lalu pergi begitu saja.


Bara bahkan kesal saat Reynald tahu nama Sela.


Bara menatap Sela dari atas hingga bawah.


Bara menarik Sela pelan untuk kembali masuk ke perusahaan lagi.


Dari taman hingga naik lift pun Bara tidak mengatakan apapun pada Sela.


Pasti dia marah, batin Sela yang hanya diam dan memegangi sekantong plastik rotinya.


Bara masuk ke dalam ruangannya dan terlihat Laura masih duduk di sofa menunggunya.


Sela mengernyit bingung saat ada Laura yang duduk di sofa.


Sela melepaskan genggaman tangan Bara membuat Bara berbalik dan menatap Sela.

__ADS_1


"Emm saya mau ke kak Dea bentar, buat ngasih kue ini," kata Sela mencari alasan sambil melirik sekilas Laura.


"Enggak usah," tolak Bara tegas sambil menarik tangan Sela untuk duduk di sofa bersamanya.


Mata Laura tak lepas dari itu semua dan juga lirikan sinis untuk Sela.


"Oh iya Bar, ini udah aku siapin kamu makan sekarang apa nanti?" tanya Laura sambil membuka kembali makanan yang tadi dia sajikan.


Bara menatap Sela yang memainkan ponselnya tidak memedulikan dirinya dengan Laura.


Bara merebut ponsel Sela dan melihat dengan siapa dia mengobrol.


Reynald Tampan


Bara melotot saat membaca nama kontak Reynald di ponsel Sela.


"Tuan kenapa sih sebenarnya? Sini ponselnya?" kata Sela meminta ponselnya kembali.


"Siapa yang suruh kamu buat nyimpen nomornya?" tanya Bara marah pada Sela.


Sela langsung pergi begitu saja dari ruangan Bara.


Bara memejamkan matanya, dia terlalu kasar dengan Sela.


"Dasar cewek enggak tahu diri," Bara mendongak menatap nyalang Laura.


"Lo boleh pergi," kata Bara penuh penekanan mengusir Laura dengan halus.


Laura mendengus sebal dengan sikap Bara.


Dengan terpaksa Laura pergi dari ruangan Bara sebelum dirinya menjadi pelampiasan marahnya Bara.


Bara menunduk menenangkan pikirannya.


Jangan sampai dia terlalu cemburu melukai Sela.


Jangan sampai.


Bara menatap kembali ponsel Sela dan melihat isi obrolan mereka.


Cuma sapaan dari Reynald dan Sela belum sempat membalasnya karena Bara mengambilnya paksa.


Sedangkan di luar Sela tadinya dari ruangan Dea untuk berbagi roti dengannya, ternyata masih keluar.


Jadi, di sinilah Sela di rooftop paling atas menikmati angin sepoi- sepoi di sore hari.


Andai ibu sudah sadar, Sela ingin mengajaknya keliling melihat indahnya kota ini.


Selama ibu sakit, Sela sibuk bekerja hingga dia lupa untuk bisa membuat suasana hati ibunya senang.


Ibu Sela paling suka saat berjalan- jalan di sekeliling komplek tidak perlu membawanya ke luar negeri atau sekedar ke kota.


Sela ingin sekali ibunya cepat sembuh dan Sela akan membawanya keliling kota ini.


Menunjukkan jika ada yang lebih indah dari pemandangan komplek di rumahnya.


Happ


Sela terkejut saat tiba- tiba dari belakang ada yang memeluknya dan menoleh ke belakang.


Bara.


Sela mencoba melepaskan lingkaran tangan Bara di pinggangnya, namun Bara memeluknya erat.


"Kamu bisa enggak sehari aja jangan bikin saya cemburu," kata Bara lirih sambil menopangkan dagunya di atas bahu Sela.


Sela hanya diam sambil menetralkan detak jantungnya, beda dengan Bara.


Detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat.


"Kenapa kamu tadi pergi tanpa pamit saya?" tanya Bara pelan berusaha tidak marah.


"Karena anda sibuk jadi saya jalan- jalan untuk sekedar menghilangkan rasa bosan," jawab Sela pelan, jujur dia benar- benar takut jika ada yang melihat mereka berdua dengan seperti ini.


"Dan membelikan anda roti di kedai depan untuk makan siang," Bara tersenyum mendengar ucapan Sela yang memperhatikannya.


Jika saja gedung perusahaannya tidak mencapai 100 lantai, mungkin Bara akan loncat sekarang juga.


Bara mengeratkan pelukannya pada pinggang Sela.


"Lalu bagaimana kamu tadi bisa bertemu Reynald?" tanya Bara penasaran.


"Uang saya tidak cukup untuk membeli roti jadi dia yang membayarnya," kata Sela membuat Bara berpikir sejenak.


Apa Reynald mempunyai maksud tertentu mendekati Sela.


Bara mulai sekarang tidak boleh lengah untuk menjaga Sela.


Sekarang dialah prioritas Bara.


"Apa saya boleh meminta satu hal padamu?" tanya Bara pelan.


"Apa?" tanya Sela ragu- ragu.


"Jangan selalu buat saya cemburu dan khawatir, mulai sekarang kamu prioritas saya, kamu bisa?" tanya Bara membuat Sela mendadak pikiran juga tatapannya kosong.


Sela tidak langsung menjawab, mencerna baik- baik apa yang Bara katakan.


Bara tahu jika ini terburu- buru untuk Sela.


Dan semenjak awal bertemu Bara menyadari akan perasaannya pada Sela.


Bara menyadari jika dirinya sangat over protektif pada Sela.


Bara tidak ingin membuat Sela menjauh darinya dan membuatnya tidak nyaman dengan perasaannya.


"Kamu jangan salah paham, saya mengatakan ini karena mulai sekarang kamu tanggung jawab saya,"


"Ibumu sedang sakit jadi saya yang menggantikannya untuk menjaga dan bertanggung jawab untuk kamu," Sela bernapas lega saat Bara mengatakan apa yang membuat dirinya salah paham.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


__ADS_2