Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Flashback


__ADS_3

□□□


▪︎▪︎FLASHBACK ON▪︎▪︎


Reno dan Rendy sedang berdiri di depan lift selama 2 menit.


Mereka sejak sore tidak berani masuk dalam lift karena takut Bara marah.


Jadi, mereka memutuskan untuk menunggu hingga malam hari di cafe dekat perusahaan.


"Tuan kira- kira tuan Bara udah tidur belum ya?" tanya Reno sambil menatap was- was pintu lift takut jika Bara tiba- tiba datang.


"Percaya sama gue, jam segini pasti tu orang udah tidur, buruan tunggu apalagi, cepet pencet belnya," kata Rendy mendorong Reno agar memencet tombol lift.


Dengan sangat terpaksa Reno memencet tombol lift.


Mereka berdua masuk ke dalam lift pastinya dengan hati yang sangat berdebar.


"Tuan apa liftnya macet?" tanya Reno karena merasa sejak tadi liftnya tidak juga jalan.


"Enggak usah bercanda deh lo Ren, ini udah malem," kata Rendy yang kini pikirannya mulai panaroid.


"Beneran, enggak jalan dari tadi cuma diem doang liftnya," kata Reno sambil menatap sekeliling lift.


"Enggak mungkin hantu ikutan naik lift kan, mereka bisa terbang ngapain naik lift," kata Rendy mencoba melucu.


"Masalahnya sekarang bukan hantu, tapi ini gimana cara agar liftnya kembali jalan," Reno mulai panik mmebuat Rendy ikutan panik.


"Reno, gue punya sesak napas, kalau gue mati gara- gara liftnya macet, gue bakal gentayangin lo," ancam Rendy sambil memegang erat kantong plastik yang berisi butter tart.


"Udah jangan ngomongin hantu, sekarang gimana caranya kita bisa keluar," kata Reno sambil menyandarkan punggungnya di lift.


"Tuan, tiba- tiba saja perut saya mual,rasanya saya pengen muntah," kata Reno membuat Rendy menatap ngeri Reno.


"Gue tonjok sampek lo muntah dalem lift,"


"Nih- nih makan butter tart biar perut lo enggak mual," kata Rendy sambil menyumpal mulut Reno dengan butter tart hingga penuh.


"Bentar deh Ren, butter tart gue kok tinggal satu kantong plastik, yang satunya lagi kemana?" tanya Rendy mulai panik saat butter tartnya hilang satu plastik.


"Ya tuhan di situasi seperti ini kenapa anda masih sempatnya bertanya butter tart," keluh Reno dengan mulut yang masih penuh butter tart.


"Jangan- jangan ketinggalan lagi di bus," kata Rendy menebak keberadaan butter tartnya.


"Biar sudah tuan besok kita beli lagi," kata Reno agar Rendy tidak sibuk memikirkan butter tartnya.


"Hiks hiks, kapan kita bisa keluar Reno, saya udah mulai sesak napas ini," rengek Rendy sambil meringsut ke lantai dan memakan butter tartnya.


"Ya tuhan dia menangis karena sesak napas tapi masih makan butter tart, dia sebenarnya sesak napas atau kelaparan," gumam lirih Reno saat melihat Rendy yang menangis tapi sambil makan.


Reno ikutan duduk di lantai bersama Rendy.


"Hiiiii Reno kalau kita enggak bisa keluar gimana?" Rendy mulai menangis sambil memeluk Reno.


"Berarti kita semaleman bakal tidur di dalem lift tuan, gimana lagi," kata Reno membalas pelukan Rendy.


Mata Rendy menatap tombol lift yang tidak menyala itu tandanya.


"Lo tadi masuk lift belum mencet tombolnya ya Ren," kata Rendy sambil menatap marah Reno.


"Oh ya ya, saya belum mencet tombolnya," Rendy langsung memukul bahu Reno dengan keras.


"Dasar gila," gumam Rendy lalu memencet tombol lift menuju lantai atas.


Mereka saling diam karena lelah sejak tadi sore jalan, makan dan berantem.


Itu rutinitas 2R.


Ting


Pintu lift terbuka, mereka keluar dari lift dan melihat Sela yang sedang berjalan mengendap- endap.


"Sel...,"


"Sttttt jangan berisik," kata Sela langsung membungkam kedua mulut mereka dengan suara sangat lirih.


Keduanya hanya mengangguk dengan mulut yang masih terbungkam.


"Boleh enggak bantuin aku?" tanya Sela pada keduanya sambil terus mengawasi orang berbaju hitam.


"Apaan?" tanya keduanya dengan suara tak kalah pelannya.


"Sepertinya orang itu sangat mencurigakan," kata Sela sambil menunjuk orang berbaju hitam yang menempel entah apa pada setiap sudut ruangan dan juga tanaman.


"Benar juga lo Sel, gerak- geriknya bukan seperti petugas keamanan," kata Rendy tidak melepaskan tatapannya pada orang berbaju hitam itu.


"Ayo kita ikuti dia," ajak Sela sambil berjalan mengendap- endap diikuti oleh keduanya.


2R kalau udah dalam situasi gini mereka mulai serius.


Tapi kalau udah dunia seakan milik mereka berdua, mendadak mereka akan jadi gila bersama- sama.


Kring kring kring


Sela, Rendy dan juga Reno mendadak berhenti dan bersembunyi saat ponsel orang itu berbunyi.


"Halo,"


"......,"


"Saya sudah menempel semua cctv pada tempatnya kini tinggal mencari tempat penyimpanan busana,"


Sela menatap Rendy seakan terkejut mendengar obrolan mereka.


Ternyata yang dia tempel adalah cctv kecil pantas dia juga memasangnya di tanaman yang berada di dalam perusahaan.


"Baik saya akan segera melakukan semua misi,"


Sela membisiki Rendy lalu berganti membisiki Reno.


Mereka bertiga berpencar, Sela ke ruangan Dea, Rendy ke tempat para kepala divisi dan Reno ke tempat para karyawan yang saat ini sedang lembur.


Mereka jalan dengan sangat perlahan memanfaatkan waktu sebaik mungkin disaat orang berbaju hitam sedang menelpon.


"Kalian semua sekarang bersembunyilah di bawah meja dan jangan mengeluarkan suara sedikit pun, tunggu aba- aba saya saat keluar, nanti akan saya beritahu semuanya setelah selesai, cepat," kata Rendy memerintah mereka semua.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara mereka langsung bersembunyi di bawah meja menuruti intruksi Rendy.


Rendy mematikan lampunya lalu bersembunyi di bawah meja bersama karyawan lain.


"Kalian semua sekarang tolong masuklah ke gudang kain, jangan mengeluarkan suara sedikit pun, jalan dengan perlahan, akan saya kasih tahu sesuatu" intruksi Reno yang langsung dijalankan oleh mereka.


Mereka semua berjalan teratur satu persatu dengan melepas high heels dan juga sepatu mereka agar tidak menimbulkan suara.


Setelah semua karyawan masuk, Reno melihat sekeliling lalu mematikan lampunya dan ikut masuk ke dalam gudang kain.


Sedangkan Sela tergesa- gesa masuk ke dalam ruangan Dea.


"Kak Dea, di mana kamu menyimpan busananya?" tanya Sela membuat Dea ikut panik dan menghampiri Sela.


"Memang ada apa Sela, kenapa kamu menanyakan busana?" tanya Dea pada Sela yang mencari ke segala penjuru ruangan Dea untuk menemukan busana rancangannya.


"Nanti akan aku beritahu, sekarang di mana busananya?" tanya Sela pelan lalu Dea menarik Sela menuju lorong masuk ke dalam penyimpanan busana.


Sela menatap ketiga etalase yang berisi busana yang telah selesai Dea buat.


"Kak bantu aku memindahkannya," tanpa bertanya lagi Dea ikut mendorong etalase itu, menyembunyikannya di suatu tempat.


Setelah selesai, Sela menatap beberapa busana yang berada di etalase.


Kira- kira mana busana yang hampir menyerupai busana proyek.


Nah ketemu, Sela langsung mendorong etalase yang berisi gaun warna pink lalu dibantu Dea.


Sela kembali mencari busana yang hampir mirip hingga tiga etalase terkumpul seperti tadi.


"Sela sebenarnya ada apa, kenapa kamu memindahkan busana proyek lalu menggantinya dengan ini?" tanya Dea yang belum mengerti dengan sikap Sela.


Sela langsung membisiki Dea memberitahu rencananya, Dea menatap Sela mengerti lalu kembali ke posisinya.


Sela meminta agar Dea tidur di sofa agar orang berbaju hitam mudah untuk masuk.


Sela mematika ruangan Dea dan menyalakan lampu lorong agar menarik perhatian orang berbaju hitam itu.


Sela cepat- cepat bersembunyi sebelum dia datang.


Krek


Pintu terbuka dengan perlahan, orang berbaju hitam itu mulai mencari ke segala penjuru.


Lalu perhatiannya teralihkan saat melihat sorot lampu pada lorong.


Orang itu langsung membuka etalase dan mengeluarkan gunting.


Dia menggunting busana dalam etalase itu hingga compang- camping dan hampir tidak terlihat seperti busana.


Sela membungkam mulutnya tidak percaya, kenapa dia setega itu.


Setelah selesai menggunting semua gaunnya, dia keluar dari ruangan Dea.


Sela buru- buru mengirim pesan pada Rendy dan Reno agar mengikuti orang berbaju hitam itu.


Dea terbangun lalu menghampiri Sela yang kini sedang menatap etalase yang berisi gaun compang- camping itu.


"Ya tuhan dia mengguntingnya?" Dea terkejut saat menatap gaun di dalam etalase, Sela hanya mengangguk.


"Tapi kak, tuan Bara tidak akan curiga kan kita mengganti gaunnya?" tanya Sela karena dia tidak akan memberitahu rencananya pada Bara karena dia sedang sakit.


"Tuan tidak begitu memperhatikan detailnya, tenanglah besok aku akan berakting sesuai perintahmu," kata Dea sambil tersenyum manis pada Sela.


"Makasih kak, tapi aku harus mengikuti orang itu, aku pamit dulu," kata Sela lalu bergegas keluar sebelum dia kehilangan jejaknya.


Sela menatap Reno dan Rendy sedang berdiri di depan lift.


"Kenapa kalian tidak...,"


"Ssstt," Rendy menutup bibir Sela agar berhenti bicara dan mendengarkan dengan serius percakapan di ponsel Rendy.


Percakapan selesai, mereka saling menatap satu sama lain.


"Kita bagi tugas," kata Rendy lalu diangguki Sela dan Reno.


Mereka bertiga lalu menaiki lift VIP yang biasa Bara pakai, di mana lift itu lebih cepat dibanding yang dinaiki orang berbaju hitam itu.


Kemungkinan mereka akan tiba lebih dulu dari dia.


Sela lalu pergi ke parkiran, Rendy dan Reno pergi untuk mengumpulkan seluruh bodyguard.


Memberitahu mereka akan rencananya besok pagi dan akting yang harus mereka lakukan.


Di parkiran tinggal 5 mobil, Sela lalu bersembunyi di balik mobil Bara untuk melihat orang berbaju hitam itu.


Dia datang.


Sela bersembunyi sambil menatap orang berbaju hitam ternyata mobilnya dekat Bara langsung saja Sela menariknya.


"Awww," teriaknya mungkin karena saking terkejutnya.


Sela berusaha untuk membuka topeng orang itu, tapi Sela kalah kuat dengannya.


Sret


Tangan Sela mengeluarkan darah segar karena orang berbaju hitam itu melukai Sela agar bisa bebas dan kabur.


Sela meringis kesakitan, dia gagal menangkap penjahat itu.


Tidak apa seenggaknya Sela dan Rendy sudah tahu semua rencana dia.


Sela kembali ke perusahaan untuk berbicara pada Rendy dan Reno.


"Sela," panggil Rendy langsung berlari menghampiri Sela yang sedang meringis memegangi lengannya.


"Ya tuhan tangan lo berdarah, lo enggak papa kan? Apa lo dilukai sama dia?" tanya Rendy sambil memeriksa Sela.


"Udah aku enggak papa Ren, tapi aku gagal menangkap dia," kata Sela kecewa karena gagal menangkapnya.


Rendy melepaskan dasinya, lalu membalut lengan Sela yang mengeluarkan darah segar.


"Tidak masalah Sel, setidaknya kita sudah tahu rencana dia, yang penting lo selamat," kata Reno menatap cemas lengan Sela.


"Bener kalau lo enggak selamat kita yang tamat," gumam Rendy lirih dan selesai membalut luka Sela.

__ADS_1


"Sekarang pukul berapa?" tanya Sela Rendy langsung memeriksa jam tangannya.


"Pukul setengah 5 pagi, bagaimana apa kita berangkat sekarang?" tanya Rendy.


"Tunggu sebentar, apa kalian sudah mengirimkan rencana kita pada semua karyawan?" tanya Sela dan diacungi jempol oleh Rendy.


"Udah gue share di we chat tentang rencana kita kecuali Bara," kata Rendy membuat Sela tersenyum senang.


"Tunggu apalagi ayo berangkat," kata Rendy sangat bersemangat.


"Tidak, biar aku yang pergi kalian tetap di sini, agar semua terlihat real di rekaman cctv mereka,"


"Juga kalian bisa menghentikan Bara jika dia bersikap di luar rencana kita," kata Sela membuat Rendy dan Reno tidak lagi bisa melawan perintah Sela.


"Sela lo hati- hati," kata Rendy sambil menepuk bahu Sela lalu berlari masuk bersama Reno untuk memulai drama mereka.


Sela menatap beberapa mobil bodyguard yang sudah siap, sekitar ada 6 mobil.


.


.


.


Kini Sela sedang menunggu Clay selesai melakukan penilaian di perusahaan Reynald.


"Kenapa lama sekali?" tanya Sela cemas karena Clay dan juga tim juri tidak kunjung keluar dari perusahaan Reynald.


"Tunggu sebentar lagi, kita pasti akan bisa membawa tuan Clay ke perusahaan," kata bodyguard mencoba menenangkan Sela yang terlihat khawatir jika rencananya ini akan gagal.


Mata Sela berbinar saat sekelompok dari Clay keluar diantar oleh Reynald.


"Jadi, dia pemilik perusahaan ini?" tanya Sela kaget saat tahu Reynald bersama Clay.


"Ya kenapa? Apa anda pernah bertemu sebelumnya?" tanya bodyguard muda itu pada Sela


"Iya saat dia bilang jika sedang berjalan- jalan di dekat perusahaan," kata Sela membuat bodyguard melotot tidak percaya.


"Apa tuan Bara tahu?" tanya bodyguard penasaran, Sela mengangguk.


"Kami bahkan juga bertukar nomor telepon, tapi tuan Bara langsung memblokirnya," kata Sela terlihat kecewa saat tahu nomor Reynald di blokir oleh Bara.


"Mobil mereka sudah bergerak," kata bodyguard memberitahu.


"Mobil 2 hingga terakhir, kalian lewat jalur berbeda, biar saya mengikuti mobil tuan Clay," intruksi bodyguard muda itu pada para bodyguard lainnya.


Bodyguard melajukan mobilnya mengikuti Clay yang berjalan menuju perusahaan ATF.


Tepat saat di tengah jalan hampir mendekati perusahaan Bara, ban mobil Clay beserta rombongannya meletus begitu saja secara bersamaan.


Untungnya mereka bisa mengendalikannya dengan baik.


Dan tidak ada yang terluka.


Mobil Clay berhenti di tepi jalan, pada waktu yang bersamaan, keenam mobil bodyguard Bara datang tepat pada waktunya.


"Permisi," kata Sela mengetuk jendela mobil Clay.


Clay menurunkan kaca jendelanya dan melihat Sela.


"Maaf tuan, saya melihat jika mobil anda ada kendala, saya bisa memberikan tumpangan untuk anda," kata Sela sopan pada Clay.


Sedangkan para bodyguard Clay berjaga- jaga takut jika Sela mencelakai Clay.


Sela mengeluarkan kartu identitas yang menandakan jika dia karyawan perusahaan ATF.


"Kamu karyawan perusahaan ATF?" tanya Clay terkejut, kenapa bisa kebetulan sekali.


"Iya tuan, bagaimana apa anda bersedia untuk ikut dengan saya," Clay tersenyum ramah pada Sela.


Akhirnya Sela bisa membawa Clay dengan selamat menuju perusahaan ATF.


Dan untungnya Sela juga bisa menjaga baik busana untuk proyek AS ini.


Sela tersenyum bahagia, setidaknya dia bisa membantu Bara.


▪︎▪︎FLASHBACK OFF▪︎▪︎


"Jadi gitu tuan ceritanya," kata Sela selesai bercerita akan rencananya dan juga Rendy.


"Untung ada Sela, kalau enggak mungkin nasib kita sudah berakhir," kata salah satu karyawan memuji Sela.


"Rencana kamu emang the best Sela," puji Dea pada Sela membuat Sela tersenyum malu.


Bara lagi- lagi dibuat kagum oleh Sela, ya tuhan apa yang tidak bisa dia lakukan.


"Karena Sela mau nangkep penjahatnya sampek- sampek itu lengannya kena goresan pisau," kata Reno membuat Rendy membungkam mulutnya.


Sela melotot ke arah Reno kesal kenapa dia mengatakannya.


Bara langsung memeriksa lengan Sela yang dibalut dasi milik Rendy.


Semua terkejut dan merasa cemas akan keadaan Sela.


Bara menatap tajam dan marah pada Sela.


Bara menarik Sela pergi dari kerumunan.


Sela hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga dia tidak lagi marah.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


**Maaf ya buat semuanya udah nunggu lama.


Di sini habis mati lampu jadi saya baru bisa up malam ini🙏


Maaf banget udah buat kalian nunggu.


Oh ya di eps ini cm flashback doang biar kalian enggak bingung bacanya dan mengerti alurnya.


Terima kasih buat kalian semua yang udah dukung saya dan kasih support.


Jangan lupa buat kasih like, komen dan hadiah😚


Besok saya kasih bonus Reno sama Rendy😉**

__ADS_1


__ADS_2