Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Kabar Duka


__ADS_3

□□□


Hari ini adalah hari di mana persiapan bagi semua perusahaan.


Karena besok acara puncak akan dimulai.


Jadi, kemungkinan mereka yang berasal dari negara jauh akan terbang hari ini ke AS.


Sama seperti Reynald dan Walles.


Mereka berdua sedang bersiap- siap untuk keberangkatan menuju AS.


Tapi masih mempacking busana mereka sebaik mungkin.


"Walles bagaimana menurutmu, apakah permainan kita menyenangkan?" tanya Reynald pada Walles.


"Tentu, aku yakin kali ini kita tidak akan lagi gagal, kita akan menyaksikan air mata Bara mengalir deras disaat semua orang sedang tertawa," gelak tawa mereka terdengar.


"Permainan sudah kita atur sedemikian rapi, jangan sampai kali ini kita yang akan tertipu oleh mereka," kata Reynald sangat percaya diri.


"Menurutmu, apa busana kita nanti bisa masuk babak final?" tanya Walles cemas membuat Reynald melotot marah.


"Apa kau ragu? Bagaimana bisa kamu tidak percaya jika busana kita bisa masuk final," marah Reynald pada Walles.


"Bukan begitu masih ada 8 negara yang akan menjadi saingan kita setelah Bara tereleminasi, itu persaingan yang sangat kuat," kata Walles memperhitungkan beberapa perusahaan yang tidak kalah kuatnya dengan perushaan Bara.


"Kenapa kamu cemas, perusahaan besar milik Bara sudah keluar dari babak final, kita pasti bisa masuk babak final ini dan bekerja sama dengan Clay," kata Reynald sangat percaya diri.


"Menurutmu, apa orang suruhanmu bisa diandalkan?" tanya Walles lagi- lagi meragukan kemampuannya.


"Kali ini aku yakin, tidak akan ada jejak sedikitpun yang menempel," tawa miring tercetak jelas di bibir Reynald.


"Lalu bagaimana, apa kamu juga sudah menghapus semua rekaman cctvnya?" tanya Walles memastikan jika semua langkah Reynald tidak ada yang mencurigakan.


"Tentu, tanpa kau perintah semua sudah kubereskan," kata Reynald sambil menatap Jessy yang sedang melakukan photoshoot untuk terakhir kalinya.


"2 jam lagi kita akan terbang, persiapkan semua berkas dan juga kontrak kerjanya," kata Walles mengingatkan Reynald.


"Bagaimana jika kita sedikit menonton drama di bandara, sepertinya seru?" tanya Reynlad mengajak Walles.


"Oh ya jangan lupa sama rekamannya," kata Walles mengingatkan Reynald.


Walles berpikir sejenak lalu tersenyum senang dan mengangguk.


□□□


Bara sedang menunggu Sela yang sedang berdandan dan juga berkemas.


Entah kenapa rasanya Bara senang sekali bisa keluar negeri bersama Sela.


Ini kali pertamanya dia bekerja ke luar negeri bersama seorang wanita.


Bahkan sejak tadi senyum cerah di bibirnya tak sedikitpun pudar.


Rasanya Bara ingin sekali terbang melayang.


Bara sengaja mengajak Sela berangkat lebih awal, agar dia bisa menghabiskan banyak waktu dengan Sela.


Bahkan jauh hari Bara juga sudah menyiapkan hotel untuk mereka berdua tanpa sepengetahuan Rendy.


Setelah acara puncak nanti selesai Bara ingin mengajak Sela dinner atau keliling AS.


Hanya mereka berdua.


BERDUA.


Catat baik- baik, tanpa penganggu Rendy ataupun Reno.


"Tuan," panggil Sela turun dari lift dengan mengangkat kopernya.


Bara langsung menghampiri Sela dan membantunya membawakan kopernya.


"Apa kamu tidak tahu gunanya lift untuk apa, kenapa harus turun pakai tangga kan ada lift?" marah Bara membuat Sela mengernyit bingung.


Sesaat Bara terpana melihat penampilan Sela namun, tidak saat melihat celana tipis itu.


"Kenapa kamu memakai celana seperti saringan tepung? Apa kamu ingin memperlihatkan pada orang- orang?" tanya Bara dengan mengetatkan giginya.


Yang tandanya dia sangat marah dan kesal.


"Celana jeans saya masih dicuci, lagian nanti saya pakai mantel kok," jawab Sela sambil menggantung kacamatanya.


"Kan saya belikan kamu pakaian banyak Selaaa, apa masih kurang?" tanya Bara jengkel dengan Sela.


"Ihh kenapa sih tuan, anda sudah seperti juri aja, selalu mengomentari pakaian saya," kata Sela yang mulai kesal dengan Bara.


"Yaudah pakai aja celana saya, ambil di kamar," kata Bara membuat Sela melotot tidak percaya.


"Apa anda bercanda, enggak ah ini aja, ayo dah berangkat entar telat lagi," kata Sela sambil mendorong agar Bara masuk lift.


Sela menarik kopernya lalu dengan sigap Bara mengambil alih kopernya.


Pak Asep memasukkan semua koper bawaan mereka.


"Berangkat sekarang tuan?" tanya pak Asep pada Bara dan hanya diangguki dengan senyuman.


"Apa Rendy tidak ikut?" tanya Sela sambil melihat sekeliling untuk menemukan keberadaannya.


"Dia akan nyusul, masih di kantor," kata Bara sambil membukakan pintu mobil untuk Sela.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan melaju menuju bandara.


Tadinya Bara ingin memakai pesawat pribadinya cuma Sela tidak mau dan memilih untuk meminta pesawat umum.


Dasar gadisnya.


Sekitar 25 menit pak Asep menurunkan kedua koper mereka diikuti 10 bodyguard di belakangnya.


Ya mereka telah sampai di bandara, para bodyguard langsung saja membawanya untuk check in.


Bara menatap para lelaki yang melirik Sela dengan tatapan lapar juga senyum buayanya.


Bara mendengus sebal, Sela ini niat mau mancing dia cemburu atau gimana sih.


Bara melepas topi hitamnya lalu memakaikan asal pada Sela.


"Udah enggak usah protes, pakai aja," kata Bara sebelum Sela membuka mulutnya untuk protes.


Setelah selesai check in keduanya menunggu kedatangan Rendy.


Bara melirik ke samping, dia menahan senyumnya saat melihat penampilan Sela.


Mau gimanapun pakaiannya, dia tetep aja cantik.



Sayangnya celana tipis dan enggak ada akhlak itu membuat Bara berkali- kali menahan napas.


Sela yang sadar sedang diperhatikan oleh Bara menoleh ke samping.

__ADS_1


Menatap penampilan Bara yang terlihat sangat santai.


"Orang kenal anda sebagai miliader tapi kenapa anda berpenampilan layaknya preman," Bara melihat penampilannya.



"Kenapa apa saya terlalu tampan dengan penampilan ini?" tanya Bara membuat Sela berlagak seakan ingin muntah.


"Bukan, hanya saja anda terlihat aneh," gumam Sela pelan yang masih bisa di dengar oleh Bara.


Bagaimana bisa dia dibilang aneh, dia berjam- jam menata gaya rambut juga penampilannya agar saat para paparazi memotretnya, dia terlihat cocok dengan Sela.


"Apa kau cemburu para wanita menatap kagum saya?" Sela melotot tidak percaya sama ucapan Bara.


Kring kring kring


Ponsel Bara berbunyi, Bara menatap layar ponselnya.


Rendy.


"Halo,"


"Bar, buruan ke rumah sakit,"


"Kenapa?"


"Udah buruan enggak usah banyak ngomong,"


Bara menatap Sela yang menunduk sambil diam.


"Apa ada sesuatu dengan ibunya Sela?" tanya Bara membuat Sela mendongak menatap cemas Bara.


"Gue enggak bisa jelasinnya?" kata Rendy semakin membuat Bara cemas.


Sela dengan cepat merebut ponsel Bara.


"Halo Rendy, apa terjadi sesuatu dengan ibu?"


"Sel, lo bisa enggak kesini sekarang, gue enggak bisa jelasin,"


Prang


Sela menjatuhkan ponselnya dan berlari dengan cepat untuk kembali ke mobil.


"Sela," teriak Bara mengambil ponselnya lalu menyusul Sela.


Para bodyguard membawa koper keduanya dan ikut kembali menyusul Bara.


Sela sudah pergi dengan mobil bodyguard.


Buru- buru Bara masuk ke dalam mobil dan diantar pak Asep menuju rumah sakit.


Bara sangat mencemaskan keadaan Sela, karena mobil di depannya melaju dengan sangat cepat.


Cittttt


Mobil berhenti di depan rumah sakit, Sela turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.


Tidak berapa lama mobil Bara berhenti di belakangnya.


Bara bergegas turun dari mobil dan berlari untuk menyusul Sela.


Sedangkan Sela yang berada di dalam lift merasa sangat cemas dan berpikiran buruk tentang ibunya.


Sela terus berdoa agar tidak terjadi sesuatu pada ibunya.


Ting pintu lift terbuka, Sela langsung berlari menuju ruangan ibunya.


Sela membuka pintu ruangan ibunya, tatapannya mendadak sendu, kakinya merasa sangat lemas juga pandangannya menjadi kabur karena air mata.


Tubuh Sela hampir saja jatuh ke lantai jika saja Bara tidak datang tepat waktu.


Bara memegangi tubuh Sela, sangat lemas sekali.


"Ren kenapa tubuh ibu ditutup begini?" tanya Sela dengan nada bergetar menuju brankar ibunya.


Rendy tidak menjawab hanya menunduk lemah.


"Rendy, kenapa sama ibu?" bentak Sela pada Rendy. Rendy perlahan mendongak menatap mata Sela, mengumpulkan segala niat juga keberanian ini untuk bicara pada Sela.


"Ibu dinyatakan meninggal Sel," jawab Rendy tak kalah pelan dari Sela.


Bugh


Tubuh Sela terjatuh di lantai, Bara masih setia di belakang Sela.


"Enggak mungkin, kamu pasti berbohong kan?" kata Sela sambil menatap nanar tubuh ibunya yang kini sudah tertutup rapat selimut putih.


"Enggak mungkinnnnn," teriak Sela membuat Bara merengkuh tubuh Sela untuk memeluknya, menyalurkan kekuatan padanya.


"Aku rela kehilangan segalanya, tapi tidak dengan ibu, duniaku akan hancur," gumam lirih Sela di dekapan Bara.


Bara bisa merasakan rasa sedih Sela, karena hanya ibu yang dia punya.


Sela melepaskan pelukan Bara lalu menunduk dengan memeluk kedua lututnya.


Sela begitu terisak membuat siapapun yang mendengarnya merasa pilu.


"Tuan, kita sudah terlambat untuk naik pesawat, apa anda ingin saya menyiapkan pesawat pribadi?" tanya pak Asep pada Bara.


"Terserah," jawab Bara sambil berdiri dan berkacak pinggang.


Bara berjalan mondar- mandir sambil terus memantau jam tangannya.


Sekitar 3 jam acara akan dimulai dengan peragaan busana sebagai pembukaan.


Acara ini berjalan dua hari, untuk hari ini peragaan busana sebagai pembukanya.


Lagi- lagi Bara menatap Sela lalu jam tangannya.


Rendy tahu perasaan Bara antara bingung dan juga cemas pada Sela.


Tapi siapa sangka jika Bara akan bertanya ini pada Sela.


"Sela bagaimana jika kita berangkat sekarang dengan pesawat pribadi, setelah peragaan busana kamu bisa kembali lagi untuk pemakaman ibu," kata Bara dengan pelan.


Sela mendongak mengusap kasar air matanya.


Dia berdiri dan menatap tajam juga nyalang pada Bara.


"Bagaimana bisa anda bertanya hal itu disaat keadaan saya seperti ini, ibu saya meninggal, bagaimana mungkin saya meninggalkannya untuk peragaan busana," kata Sela dengan nada tinggi.


"Saya tahu, jika kamu tidak bisa lalu saya harus menggantikannya dengan siapa, bisakah kamu bersikap profesional?" pertanyaan Bara membuat Sela semakin emosi.


"Apa anda tidak bisa mengerti keadaan saya saat ini, ibu saya meninggal kenapa anda masih memaksa saya untuk bersikap profesional?" kata Sela yang kini tangisnya tak lagi bisa dia tahan.


"Arghhhhhh," teriak Bara sambil membuang semua benda yang ada di atas meja.


Sela memejamkan matanya melihat sikap kalap Bara saat sedang emosi.

__ADS_1


"Bisakah anda keluar dari ruangan ibu saya?" bentak Sela pada Bara.


Bara berjalan maju mendekati Sela, menatap tajam juga sinis sisi yang saat ini terlihat begitu rapuh.


"Lo emang enggak tahu balas budi," bentak Bara pada Sela lalu pergi dari ruangan diikuti para bodyguard dan menyisakan Rendy.


Sela teringsut di lantai menangis tersedu- sedu.


Rendy tidak tega melihat kondisi Sela seperti ini.


Dia juga tidak bisa membiarkan Sela sendiri.


Rendy menghampiri Sela dan berjongkok di depannya.


"Lo harus kuat," gumam Rendy lirih pada Sela.


Sela mendongak menatap wajah Rendy.


"Ren kenapa semua bisa gini? Kenapa semua orang ninggalin aku?" kata Sela parau dengan air mata yang terus turun.


Rasanya Rendy tidak tega melihat Sela seperti ini.


Kring kring kring


Rendy menatap layar ponselnya, terpampang jelas nama Bara.


Sela yang mengerti keadaan Rendy mengusap air matanya lalu menatap Rendy.


"Ren kamu pergi aja, aku bisa urus semuanya kok," kata Sela menyuruh agar Rendy pergi.


Rendy tidak mengangkat telponnya, dia menatap Sela sendu.


Rendy mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.


Black card.


"Sel lo pakai aja kartu gue, passwordnya Bara gila. Lo pakai buat semua kebutuhan pemakaman ibu lo, sorry banget gue enggak bisa bantu lo, sorry banget" kata Rendy tergesa- gesa sambil membuka pintu.


"Oh ya entar gue hubungi temen kelas gue buat bantuin lo, gue pergi dulu ya Sel, sorry banget," kata Rendy yang sudah pergi setelah berpamitan.


Sela menunduk menatap sendu black card di tangannya.


"Ya tuhan, disaat seperti ini tak satupun orang yang berada di sampingku," gumam lirih Sela sambil berdiri pelan berpegangan pada brankar ibunya.


"Ibu, kenapa ibu tega tinggalin Sela, apa ibu tidak kasian sama Sela, Sela sudah enggak punya siapa- siapa lagi selain ibu," tangis Sela kembali turun.


"Lihatlah bu, Sela sudah tidak punya siapapun di samping Sela. Setelah ibu pergi sekarang Sela sendiri bu," Sela memeluk tubuh kaku ibunya.


Bayangkan jika kalian yang berada di posisi Sela.


Bagaimana kalian akan kuat saat kalian sendiri harus menyiapkan segala keperluan untuk pemakaman ibu kalian.


Disaat kalian sedih dan kehilangan seperti ini.


Tak satupun orang di dekat kalian, apa kalian kuat?


Kuat.


Kata itu mungkin hanya pantas untuk Sela.


Karna hanya dia yang mampu melakukan hal itu.


Berusaha kuat dan tegar.


□□□


Bara sudah sampai di gedung puncaknya acara 1 jam yang lalu.


Karena Bara terlambat naik pesawat terpaksa dia naik pesawat pribadi.


Terlihat para model juga CEO lainnya datang satu persatu.



Tapi tidak dengan Bara, yang datang hanya dengan membawa koper bersama Rendy di sampingnya.


Acara peragaan busana akan segera di mulai, jadi Bara dan Rendy langsung mencari duduk di kursi penonton.


Bara duduk di kursi paling depan, dari kejauhan Reynald sedang menertawakan Bara.


Reynald berjalan di kursi penonton, lalu siapa sangka jika Reynald memilih untuk duduk tepat di samping Bara.


"Oh tuan Aldebaran," kata Reynald pura- pura terkejut.


"Oh ada Rendy juga, si anak pungut ya," kata Reynlad sambil menatap Rendy.


Bugh


Bara memukul Reynald hingga terhuyung ke belakang.


Rendy sempat terkejut melihat sikap Bara barusan.


Ada rasa senang dan bangga saat Bara membelanya.


"Jaga ucapan mulut lo," kata Bara sambil menatap tajam Reynald.


Rendy menarik Bara agar kembali duduk karena kini keduanya menjadi pusat perhatian banyak orang.


Terlebih dua presiden dari dua negara berbeda.


"Selamat malam semuanya, apa kabar? Hari ini adalah hari yang paling kita tunggu- tunggu bukan?" kata mc mulai membuka acara puncak ini.


"Ok langsung saja kita buka acara ini dengan sambutan dari tuan Clay, selaku CEO juga pemimpin acara ini," kata mc mempersilahkan Clay untuk memberikan sambutan.


Setelah sambutan selesai kini saatnya untuk peragaan busana bagi para model dari kalangan negara yang berbeda- beda.


Peragaan busana di awali dari model Italia.


Kedua Spanyol.


Hingga pada saat giliran Reynald.


"Apa tuan Aldebaran sedang menunggu sesuatu?" tanya Reynald berniat untuk memancing emosi Bara.


"Bagaimana mahakarya dari seorang Reynald? Bagus bukan?" kata Reynald berbangga hati saat giliran Jessy maju memeragakan busana milik Reynald.


Bara menatap tajam dan sinis Reynald.


Bara masih tahu tempat untuk menahan emosinya dia akan sebisa mungkin untuk mengendalikan.


Hingga kini tiba untuk giliran modelnya Bara yang maju untuk memeragakan busana.


Reynald menatap ke samping melihat wajah Bara yang sudah pucat pasi mendengar mc terus memanggil model dari perusahaan ATF.


1 detik


2 detik


3 detik

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎Bersambung▪︎▪︎▪︎


__ADS_2