
□□□
Bara menarik pelan tangan Sela masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Sela ketika Bara membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa kamu berpakaian seperti itu?" tanya Bara sambil menatap penampilan Sela.
"Kenapa?" ketus Sela membuat Bara menahan senyumnya.
Apa dia sekarang sedang cemburu padanya.
"Kenapa kemarin kamu pergi tanpa pamit pada saya?" tanya Bara membuat Sela berkacak pinggang.
"Apa anda memberitahu saya kemana anda pergi kemarin? Bukannya anda juga keluar untuk menemui perempuan tadi?"
Fiks, kalau inimah Sela cemburu dengan Jessy.
Bentar- bentar Bara menghembuskan napasnya pelan.
Jangan sampai tersenyum, dia harus kuat menahan senyumnya.
Pipi Sela sudah seperti kepiting rebus. Ingin sekali rasanya Bara menggigit pipi bakpaunya.
"Lalu apa kamu tidak cemburu pada Gabriela?" tanya Bara membuat Sela mengernyit bingung.
Bara mengalihkan tatapannya, dirinya juga bingung bagaimana cara mengatakannya.
"Apa kamu tadi melihat?" tanya Bara terdengar ambigu membuat Sela tidak mengerti.
"Saat Gabriela mencium saya?"
"Bukannya anda yang menciumnya?" Bara langsung melotot tidak percaya saat mendengar ucapan Sela.
"Bagaimana kamu bisa menyimpulkan seperti itu?"
"Itu kenyataannya," kata Sela lalu hendak keluar dari kamar Bara, dia sangat malas berdebat dengan Bara.
Bara menarik tangan Sela hingga terhuyung ke belakang dan menabrak dada bidangnya.
Bahkan jika boleh jujur, Sela bisa merasakan detak jantung Bara yang sangat cepat.
"Apa kamu tidak ingin membersihkan bekasnya?" tanya Bara tepat di dekat telinga Sela.
Sela terdiam, dia tidak mengerti dengan arah pembicaraan Bara.
"Bekas Gabriela," gumam Bara lirih di dekat telinga Sela.
Bugh
"Aww," Sela menyikut perut Bara agar bisa lepas darinya.
"Cuci saja dengan sabun mandi," ketus Sela lalu keluar dari kamar Bara.
Sela menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
Tadi sebenarnya Sela ingin mengambil celana panjangnya di kamar lantai 2.
Tapi siapa sangka kalau Bara ada di bawah bersama Gabriela.
Sela tidak pernah memakai pakaian terbuka seperti itu untuk keluar.
Karena Sela merasa tidak begitu nyaman.
Setelah selesai berganti Sela keluar dari kamar, lalu turun ke lantai bawah untuk segera pergi ke rumah sakit menjenguk ibunya.
Sela menatap kanan kiri, kemana Rendy dan Reno.
"Pak Asep, apa Rendy dan Reno belum pulang?" tanya Sela pada pak Asep yang sedang berjaga.
"Maaf nona mereka belum kembali," jawab pak Asep.
"Pak apa boleh saya meminta untuk diantar ke rumah sakit?" tanya Sela sesopan mungkin dan mampu membuat pak Asep tersenyum mendengar permintaan Sela.
"Tentu nona, tidak perlu sungkan dengan saya, mari saya antar," kata pak Asep membukakan pintu mobil bagian belakang.
"Tidak perlu pak, saya duduk di depan saja," kata Sela lalu masuk ke mobil bagian depan.
Pak Asep tersenyum melihat sifat sopan dan ramah Sela, pak Asep segera memutari mobilnya untuk mengantar Sela ke rumah sakit.
Sedangkan di kamar ada seseorang yang kini sedang merasa kasmaran.
Sejak tadi Bara tidak berhenti berguling- guling di king sizenya.
Bara terus membayangkan wajah kesal Sela saat cemburu pada Jessy.
"Kenapa sih tinggal bilang cemburu aja gengsi banget, pakai acara pakai baju buat goda gue lagi, gue kan juga laki- laki dewasa," gumam Bara sambil tersenyum dan berguling- guling.
"Astaga Sela, kau begitu manis saat cemburu," kata Bara sambil mengingat wajah Sela yang seperti kepiting rebus saat cemburu tadi.
Bara bangun dari baringannya dan teringat tentang Sela yang akan pergi ke rumah sakit.
"Bukannya tadi dia bilang akan pergi ke rumah sakit?" gumam Bara lalu bergegas untuk berganti pakaian.
Setelah selesai Bara langsung bergegas keluar kamar.
"Tapi apa dia sudah berganti pakaian?" tanya Bara sambil masuk ke dalam lift.
"Awas saja jika aku melihatnya masih memakai pakaian itu," Bara keluar dari lift dan mencari Sela di lantai 2.
Tapi tidak ada kemana dia pergi?
Apa dia masih di kamarnya dan berganti pakaian?
Bara hendak kembali menaiki lift untuk ke lantai atas namun tiba- tiba saja ada yang memeluknya dari belakang.
Hap
"Apa kau mencariku?" tanya Gabriela sambil memeluk erat punggung Bara dari belakang.
Bugh
"Dasar jalang," bentak Bara sambil mendorong kuat Gabriela hingga terhuyung ke belakang dan terbentur meja makan.
"Kenapa kau marah?" tanya Gabriela sambil berjalan maju mendekati Bara.
"Cepat kembalilah ke rumah mu, jangan bersikap seolah kau seperti jalang," Gabriela berhenti mendekati Bara dan tersenyum miring mendengar ucapan Bara.
"Kenapa, apa Sela marah karena aku menciummu?" tanya Gabriela.
Bara tersenyum miring dan berjalan mendekati Gabriela.
"Gadisku tidak sama seperti mu," wajah Gabriela berubah menjadi sebal karena perkataan Bara.
"Dia sadar tentang statusnya, jadi jika boleh jujur, di sini akulah yang ingin sekali melihatnya cemburu dengan melihat aku berciuman denganmu,"
"Dan mengatakan padaku jika dia mencintaiku," Gabriela mendengus sebal. Bara berdiri tepat di depan Gabriela.
"Jadi, apa kau mau membantuku agar dia cemburu padaku?" tanya Bara membuat hati Gabriela seakan panas dengan perkataan Bara.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Sela memandang ibunya yang masih setia memejamkan matanya.
Kapan ibunya akan kembali sadar dan menemani Sela.
Sela sangat merindukan sosok ibu di sisinya.
Sela ingin sekali kembali ke rumahnya dan tinggal bersamanya.
Sela menunduk sambil menggenggam erat tangan ibunya.
"Cepatlah bangun bu, Sela merindukan ibu," gumamnya lirih sambil berkali- kali mencium tangan ibunya.
Sela menghapus air matanya dan menatap wajah ibunya.
"Bu, Sela sangat bersyukur bisa bertemu dengannya, dialah yang membiayai semua perawatan rumah sakit ibu, dia juga yang membiayai kuliah Sela,"
"Cepatlah bangun bu agar bisa bertemu dengannya,dia orang yang baik,"
"Dia juga yang menjaga Sela saat ibu sakit," Sela kembali menunduk dan air matanya kembali menetes.
Sela menghapus air matanya lalu berdiri dan menatap wajah ibunya.
Sela mencium pipi dan kening ibunya lalu keluar dari ruang inap ibunya.
"Sela," panggil Dewa membuat Sela sedikit terkejut.
"Kamu?" kata Sela sambil menatap kantong plastik yang dibawa Dewa.
"Lo ngapain di sini?"
"Aku habis jenguk ibu, kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Sela.
"Ambil obat buat kakak," jawab Dewa sambil mengangkat kantong plastik yang berisi obat dari resep dokter.
"Ibu lo dirawat di sini juga?" Sela hanya mengangguk sambil berjalan menuju lift.
Dewa yang melihat wajah Sela sedikit sembab, merasa iba padanya.
Sepertinya hati Sela sedang tidak baik- baik saja, dia terlihat sangat sedih.
"Apa lo punya waktu luang?" tanya Dewa sambil memasuki lift bersama Sela.
Sela menoleh menatap Dewa sekilas.
"Kenapa?" tanya balik Sela.
"Gimana kalau kita pergi ke time zone, ya itung- itung sekedar hiburan aja biar lo enggak murung lagi gitu," kata Dewa membuat Sela tersenyum samar.
"Emang keliatan banget ya kalau lagi sedih?" tanya Sela.
"Keliatan banget kalau lo jelek," Sela memukul bahu Dewa lalu mereka tertawa bersama.
"Gimana, lo mau enggak?" tanya Dewa sekali lagi.
Sela berpikir sejenak, lagian di rumah dia takut menganggu waktu Bara dengan Gabriela.
Seperti momen tadi, Sela tanpa sengaja melihat mereka berdua sedang berciuman.
Mungkin gapapa kali ya, kalau Sela keluar sebentar sama Dewa.
Lagian Bara juga tidak akan mencarinya.
"Yaudah, tunggu apalagi, ayo ke sana," kata Sela bersemangat membuat Dewa tertawa renyah.
"Tapi lo semobil sama gue ya, sopir lo suruh pulang aja," kata Dewa ketika melihat pak Asep yang sudah menunggu Sela di depan lobi rumah sakit.
"Emm, iyadeh, bentar aku pamit sama pak Asep dulu," kata Sela lalu menghampiri pak Asep yang sedang menunggunya.
"Pak Asep saya mau keluar bentar sama temen, bapak pulang saja duluan," kata Sela dengan sangat sopan.
"Baik nona," kata pak Asep lalu menuju mobilnya.
"Ayo Sel," panggil Dewa yang sudah naik ke dalam mobilnya.
Sela lalu masuk ke dalam mobil Dewa dan menuju time zone untuk merilekskan pikiran mereka.
○○○
Rendy dan Reno sedang berada di time zone dan kini mereka sedang menikmati makanan yang mereka pesan.
"Tuan kenapa anda memesan makanan dengan porsi banyak begini?" tanya Reno sambil menatap makanan yang dipesan Rendy.
"Reno, sebelum kita dapet hukuman dari Bara, kita harus ngisi perut sampai penuh, dimarahi juga butuh tenaga untuk mendengarkan," kata Rendy sambil memakan dengan lahap.
"Tapi ya enggak gini juga tuan," protes Reno karena porsi makannya tidak sebanyak Rendy.
"Kenapa, lo enggak mau, sini gue bantu habisin," kata Rendy sengit pada Reno.
"Tidak perlu, saya bisa menghabiskannya sendiri," kata Reno lalu mengambil sumpit untuk segera memakannya.
"Reno kenapa gue ngerasa dari tadi para cewek ngeliatin gue mulu deh, padahal kadar ketampanan gue sama seperti biasanya," gumam Rendy sambil memakan kue mochi kesukaannya.
Reno tidak menggubris ucapan Rendy, dia sedang asyik menyantap makanannya.
"Reno, apa ketampanan gue berkurang?" tanya Rendy sambil menatap Reno. Reno menatap wajah Rendy.
"Sama aja," jawab Reno membuat Rendy meletakkan kue mochinya.
"Apa lo cari masalah sama gue?" tanya Rendy pada Reno.
"Anda bertanya dan saya menjawabnya, kenapa anda marah?" tanya Reno yang heran sama sikap Rendy.
"Setidaknya katakan kalau gue sangat tampan atau kalau perlu katakan gue lebih tampan dari Bara," kata Rendy membuat Reno menyeruput milkshake nya.
"Tuan, apa anda tahu, saat sesama laki- laki saling memuji?" Rendy menggeleng.
"Ihh tuan Rendy makin tampan deh setiap harinya," kata Reno membuat Rendy bergidik ngeri melihat wajah Reno.
"Pasti para cewek ngiranya saya suka sama anda, atau seperti orang gila," kata Reno kembali menyantap kue mochi.
"Tapi para cewek- cewek biasa aja tuh kalau pas ketemu terus pada bilang, ih kamu makin cantik aja, ah enggak masih cantikkan kamu," kata Rendy sambil menirukan gaya perempuan saat saling bertemu.
"Yaudah anda jadi perempuan aja kalau gitu," jawab Reno santai membuat Rendy memukul tangannya.
"Ih abang Reno jahat," kata Rendy sambil berlagak seperti cewek.
"Anda cocok jadi waria," kata Reno memberi penilaian pada Rendy.
"Apa lo bosen hidup?" Reno menggeleng cepat dan memakan kue mochinya.
"Tuan bukankah itu Sela?" tanya Reno sambil menepuk tangan Rendy sata melihat Sela jalan sama cowok.
"Lo bener Ren, bukannya dia adiknya Reynald?" tanya Rendy saat mengamati laki- laki yang sedang jalan sama Sela.
"Tapi tumben banget Bara biarin Sela pergi sendiri," gumam Rendy sambil terus menatap mereka berdua yang kini sedang bermain.
"Coba anda telpon tuan Bara untuk memastikan," kata Reno yang langsung diangguki oleh Rendy.
__ADS_1
Rendy menghubungi Bara dengan video call.
Beberapa menit wajah Bara mulai terpampang di ponsel Rendy.
"Bara, Sela mana?"
"Kenapa?"
"Dia sama lo enggak?"
"Enggak, dia ke rumah sakit jenguk ibunya, ini gue mau ke sana,"
"Lo mending puter balik aja deh ke time zone,"
"Ngapain?"
"Cari janda,"
"Lo telpon gue cuma mau nanya Sela di mana?"
"Bukan, gue cuma mau mastiin kalau Sela sama lo, tapi kayaknya Sela lagi kencan deh sama temennya," kompor mulai menyala.
"Maksud lo?"
Tanpa menjawab Rendy memutar kamera ponselnya agar berganti menjadi kamera belakang.
Bara terlihat sangat marah dan tatapannya berubah menjadi tajam.
"Lo awasi dia, jangan sampi hilang, gue ke sana sekarang,"
"Hati- hati bawa mobilnya, nyawa lo melayang, Sela milik gue,"
"Kalau sampai lo kehilangan jejaknya, gue yang bakal buat nyawa lo melayang,"
Telpon terputus begitu saja membuat Rendy mendengus sebal.
"Gue heran deh, semakin hari perasaan profesi gue semakin bertambah," gerutu Rendy sambil memakan mochinya dan mengawasi Sela.
"Bisa- bisanya gue alih profesi yang awalnya sekretaris sekarang jadi mata- mata," dumel Rendy membuat Reno menatapnya.
"Syukuri aja tuan," kata Reno.
"Coba lo tuker posisi sama gue," kata Rendy ketus pada Reno.
"Sudah saya cukup jadi bodyguard aja, ditambah harus jagain anda yang selalu ceroboh membuat pekerjaan saya semakin numpuk dan lama," kata Reno jika mengingat kalau dia sedang bersama Rendy pasti kerjaannya akan semakin dua kali lipat.
"Rendy," panggil Bara dari arah belakang dengan napas sedikit memburu.
Rendy dan Reno menatap Bara heran dan sedikit terkejut.
"Lo terbang atau gimana cepet banget," tanya Rendy melihat Bara yang datang sangat cepat.
"Mana Sela?" tanya Bara sambil melihat sekeliling.
"Noh," tunjuk Rendy pada Sela dan Dewa yang asyik bermain basket bersama.
Bara mengikuti arah tangan Rendy dan menatap tajam mereka berdua.
Bara menyahut minuman yang berada di meja.
"Kan kan minuman gue yang diembat," kata Rendy mencak- mencak saat minumannya diambil Bara.
"Gue butuh yang dingin, hati gue panas," kata Bara lalu meletakkan minumannya di meja dan berjalan menghampiri Sela dan Dewa.
"Kenapa kesini enggak bawa kulkas aja sekalian," ketus Rendy sambil menatap nanar minuman kesukaanya.
"Tuan ayo susulin tuan Bara," ajak Reno sambil menarik tangan Rendy.
"Enggak usah ngapain ngikuti dia, mending kita beli es lagi, ayo," ajak Rendy ganti menarik tangan Reno untuk kembali membeli es.
"Ya tuhan jangan salahkan saya jika saya bodyguard yang laknat, tuan Rendy yang mengajari," gumam Reno pelan sambil mengikuti Rendy yang antri panjang demi membeli es kesukaannya.
Sedangkan di tempat lain, Bara menghampiri Sela yang sedang bermain bersama Dewa.
Bara langsung menarik tangan Sela hingga membuatnya terkejut.
"Ayo pulang," kata Bara sambil menarik pelan tangan Sela pergi dari sana.
"Tuan?" kaget Sela kenapa Bara bisa ada di sini.
"Sela sampai ketemu besok ya," teriak Dewa sambil melambaikan tangannya kearah Sela.
Sela hanya mengangguk dan mengikuti langkah Bara yang menariknya pulang.
♡♡♡
Bara menarik tangan Sela dan hanya diam saja tanpa membuka suara sejak di perjalanan tadi.
"Sela," panggil Gabriela yang menuruni tangga ketika melihat Sela dan Bara baru saja datang.
Sela tidak menjawab karena Bara berjalan dengan begitu cepat untuk memasuki lift.
Bara memencet tombol lantai 3 dengan tangan Sela yang masih dia genggam erat tanpa melepaskannya.
Ting
Bara keluar dan menarik Sela masuk ke dalam kamarnya.
Lagi.
Kali ini Bara mengunci kamarnya membuat Sela sedikit waspada.
Bara melepaskan genggaman tangannya pada Sela dan menatapnya datar.
"Tadi kamu pamit kemana?" tanya Bara dingin.
"Saya pergi ke rumah sakit," jawab Sela sambil menatap takut Bara.
"Lalu apa rumah sakit saya sekarang pindah ke time zone?" tanya Bara kini suaranya sedikit tinggi.
"Bukan begitu, saya bertemu Dewa di rumah sakit lalu....,"
"Sela kenapa kamu membohongi saya?" bentak Bara membuat Sela memejamkan matanya.
"Kenapa kamu pergi tanpa saya? Bukankah saya sudah mengatakan jika kamu boleh pergi hanya dengan saya," Bara terlihat sangat marah.
Sela hanya diam, disaat Bara emosi seperti ini dia hanya perlu diam agar tidak menambah kemarahan Bara.
Bara berjalan mendekati Sela, sedangkan Sela berjalan mundur untuk menghindari Bara.
"Kenapa kamu jalan dengan cowok lain tanpa saya? Dan sejak kapan kamu berbohong pada saya?" tanya Bara yang kini sudah mengunci tubuh Sela dengan dinding di belakangnya.
Sela tidak lagi bisa menghindar, dirinya berusaha berani untuk menatap mata Bara.
"Kenapa anda marah saat saya keluar dengan cowok lain, bahkan saya tidak pernah marah atau melarang saat anda jalan dengan perempuan lain atau berciuman dengan Gabriela,"
kata Sela, mereka berdua sama- sama terdiam hanya suara napas mereka yang saling memburu memenuhi ruangan kamar Bara.
Bara hendak mencium bibir ranum milik Sela namun dengan cepat Sela memalingkan wajahnya ke samping.
Bara berhenti tepat di telinga Sela lalu melirik Sela yang kini memejamkan matanya dengan kedua tangan yang saling menggenggam.
Bara menempelkan kepalanya dengan kepala Sela.
Bara mengatur napasnya, lalu meraih pinggang Sela dan memeluknya sangat erat.
__ADS_1
"Maafkan saya, saya terlalu cemburu saat melihatmu dengan laki- laki lain," kata Bara sambil membelai rambut Sela dan mencium puncak kepalanya.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎