
□■□■
Bara menuju lantai atas untuk menemui Sela.
Malam ini semua menginap di kediaman Bradsiton.
Mulai dari Bara, Rendy dan Laura begitu juga Reynald dan Jessy.
Dan itu semua paksaan dari Rose.
Awalnya hanya Sela yang di suruh menginap, biasalah calon menantu.
Tapi berhubung si bapak Aldebaran itu enggak bisa jauh apalagi pisah sama Sela, ya dia ikut menginap.
Ceklek
"Sayang," panggil Bara saat membuka pintu dan terlihat Sela sedang di balkon.
Ya tuhan ini manusia bukan sih, cantik banget. Kuatkan imanku ya tuhan agar malam ini aku tidak menerkamnya, batin Bara sambil berjalan menghampiri Sela.
Sabar Bar, tinggal besok dan lo bisa puas miliki Sela, sabar dan tunggu waktunya.
"Ngapain di sini?" tanya Bara sambil memeluk Sela dari belakang dan mencium pipi kanannya.
"Tidak ada hanya melihat kota saat malam hari," jawab Sela dengan tatapan yang tak bisa lepas dari jalanan.
"Besok aku akan ke Jerman," ucap Bara membuat Sela langsung menoleh.
"Ada apa?" tanya Sela dengan mimik wajah yang sangat menggemaskan.
Cup
"Aku ada urusan dengan kakek Pram, jadi besok papa meminta aku agar ke sana," kata Bara memberitahukan alasannya pada Sela.
"Tidak bisakah ditunda dulu?" tawar Sela membuat Bara tersenyum samar.
"Memang kenapa? Apa ada sesuatu besok?" tanya Bara membuat Sela menjadi bingung untuk memberitahunya.
"Tidak ada, aku hanya ingin jalan- jalan bersamamu," jawab Sela lemah membuat Bara menopangkan dagunya di bahu Sela.
"Sepulang dari Jerman aku janji, aku akan mengajakmu keliling dunia, bagaimana?" tanya Bara memberikan tawaran pada Sela.
"Tidak perlu, aku hanya ingin jalan- jalan di sini saja," terdengar jika Sela mulai bete dan malas.
"Kamu marah?" tanya Bara saat Sela hanya diam saja.
"Tidak, besok hati- hati dan cepat pulanglah," kata Sela sambil melepaskan tangan kekar Bara di perutnya dan berjalan hendak masuk kamar.
Tapi Bara menarik tangan Sela hingga menabrak dada bidangnya.
"Apa kamu menangis?" tanya Bara saat melihat kedua mata hazel Sela berkaca- kaca, Sela menggelengkan kepalanya.
Bara meraih pinggang Sela dan mencium bibir manis yang serasa lolipop.
Bara memangut dan mengulum pelan bibir manis yang selalu jadi candu baginya.
Tes
Air mata Sela berlinang membuat Bara menyudahi ciumannya.
Sela langsung memeluk erat Bara dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bara.
"Hei," kata Bara sambil membelai rambut panjang milik Sela.
"Your okay?" Sela tidak menjawab dan hanya terdengar suara sesegukan tangisnya.
Bara langsung membopong tubuh Sela menuju king sizenya.
Dengan pelan ia membaringkan Sela lalu menarik selimut tebal untuk mereka berdua dengan posisi masih sama Sela memeluk Bara.
"Cepat pulang aku merindukanmu," gumam Sela di dada bidang Bara membuat Bara tersenyum lebar dan juga geli.
Ya tuhan berangkat aja belum dia udah rindu aja.
Bara ingin sekali terjun dari lantai 5 ini.
Uhhhhhh rasanya Bara ingin terbang mendengar ucapan Sela.
Tidak ada lagi suara tangisan, Bara menunduk untuk melihatnya.
Ya tuhan bayi kecil Bara ternyata sudah tertidur setelah tadi merengek dan menangis.
Bara lalu menyelimuti tubuh Sela dengan selimut tebal lalu mencium keningnya dengan sangat lembut.
"Aku pergi bentar ya," pamit Bara lirih sambil menatap wajah cantik Sela.
Dengan sangat pelan Bara beranjak dari king size lalu pergi keluar untuk menemui papanya.
Beda sama dua orang yang sedang berada di kamar sebelah.
Rendy dan Laura.
Sejak tadi Rendy tak mengalihkan tatapannya dari aktivitas yang dilakukan Laura.
Laura sedang menghapus make upnya setelah beberapa menit yang lalu pesta di akhiri.
Laura sudah selesai dan hendak mandi tapi Rendy menghampirinya dan memeluk Laura.
__ADS_1
"Rendy," kata Laura saat Rendy menggiringnya ke king size.
"Kamu bohong kan soal ke Jerman?" tanya Rendy sambil menatap wajah cantik Laura.
"Iya aku bohong, itu kan buat kasih kejutan ke kamu," kata Laura sambil menyingkap rambut Rendy ke belakang.
"Kamu enggak tahu gimana tersiksanya aku pas kamu pergi, Bara ngajakin jalan- jalan keliling happy fun cuma buat main boneka capit," adu Rendy membuat Laura tertawa mendengarnya.
"Tapi kamu seneng kan dapet kejutan dari papa sama mama?" tanya Laura membuat Rendy menganggukkan kepalanya.
"Sekarang mana hadiahku?" tanya Rendy membuat Laura menggaruk pelipisnya bingung.
"Bentar aku ambilin," kata Laura sambil berjalan menuju tasnya untuk mengambilkan hadiah Rendy.
"Nih," kata Laura memberikan kotak kecil yang ia bungkus serapi dan seindah mungkin.
"Wih kayaknya bagus banget," gumam Rendy yang sangat antusias untuk membukanya.
Wow, ini adalah jam tangan yang dulu pernah Rendy beli tapi tidak sempat karena uangnya tidak cukup.
"Sorry cuma bisa beliin...,"
Rendy menarik Laura hingga terbaring di king size.
Membuat Laura merasakan detak jantungnya kini berdetak sangat cepat.
Tanpa aba- aba Rendy langsung mencium bibir ranum milik Laura.
Pelan namun Rendy sangat menikmati manisnya bibir Laura.
Rendy semakin melesakkan lidahnya dan bergerilya di dalam mulut Laura.
Bugh
"Enggak bisa napas," kata Laura sebal sambil memukul bahu kekar Rendy. Rendy tertawa melihat wajah merah Laura.
"Malam ini aku tidur sini ya?" tawar Rendy pada Laura.
"Enggak, aku mau nemenin Sela tidur, kamu kan harus bantu Bara buat acara besok," kata Laura sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Rendy.
"Tapi tanganmu yang pancing aku buat tetap di sini sayang," kata Rendy sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Laura.
Laura yang baru sadar langsung melepaskan kedua tangannya di leher Rendy.
"Kamu mulai berani ya, hah," kata Rendy sambil menciumi leher Laura membuatnya merasa geli dan tertawa.
"Hihh Rendy geli," kata Laura sambil memukuli bahu Rendy untuk menghentikan ciuman brutalnya.
□■□■
Sela membuka matanya yang masih terasa sangat lengket.
"Pagi Sela," sambut Laura yang ternyata sedang membuka gordennya.
"Pagi Ra, Bara di mana?" tanya Sela langsung menanyakan keberadaan Bara saat ia tidak melihatnya.
"Kamu lupa, dia kan wakilin papa buat ke Jerman sama Rendy dan Reynald," kata Laura lalu duduk di tepi king size sambil menatap wajah cantik Sela saat baru bangun.
Sela mengikat rambut panjangnya lalu memeluk Laura.
"Mereka bakal lama enggak ya Ra?" tanya Sela membuat Laura tersenyum manis saat mengetahui jika Sela ternyata sangat bucin pada Bara.
"Enggak cuma sebentar kok palingan nanti malem juga udah pulang," kata Laura membuat mata Sela berbinar.
"Beneran?" tanya Sela tak percaya.
"Iya Sela. Udah sekarang lo mandi, hari ini weekend waktunya buat kita para perempuan main keluar, gimana mau enggak?" tanya Laura membuat Sela mengangguk sangat antusias.
"Gue tunggu di bawah ya sama mama buat sarapan," kata Laura lalu pergi keluar kamar.
Sela lalu bergegas untuk mandi dan turun ke bawah untuk sarapan.
Sela turun ke lantai 2 dan benar saja di sana sudah ada Rose dan para perempuan lainnya sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi ma," sapa Sela sedikit kikuk karena dia tidak ikut membantu menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi sayang, ayo kita sarapan," kata Rose sambil memeluk Sela sayang dan lalu duduk berdampingan.
"Maaf ya ma Sela bangunnya kesiangan," kata Sela membuat Rose menggelengkan kepalanya.
"Enggak papa sayang, mama emang seneng masak pagi- pagi gini meski ART banyak kalau urusan masak mama yang turun tangan," kata Rose menjelaskan pada mereka bertiga.
"Makasih ya tan semalem udah dibolehin nginep di sini," kata Jessy membuat Rose melirik tajam Jessy.
"Siapa yang bolehin kamu manggil tante, mulai sekarang kalian bertiga harus panggil mama, titik enggak ada penolakan," kata Rose membuat mereka tergelak tawa.
"Udah yuk kita makan," kata Rose lalu menuangkan nasi pada ketiga putrinya dengan sangat telaten.
Mereka lalu sarapan dengan suasana hening dan khidmat.
Sarapan sudah selesai lalu Laura mengawali untuk membuka obrolan.
"Ma hari ini boleh enggak kita jalan- jalan?" tanya Laura pada Rose yang mengelap bibirnya.
"Boleh sayang, tapi pulangnya jangan malem- malem ya, karena kan suami kalian lagi keluar negeri entar mama lagi yang dimarahi," kata Rose membuat Laura dan Sela langsung menunduk malu mendengar kata 'suami'.
"Cieee suami," goda Jessy membuat Rose langsung tersadar akan perubahan sikap Sela dan Laura.
__ADS_1
"Hehe mama kalau ngomong suka bener kan?" goda Rose semakin membuat Sela dan Laura merona sangat merah.
"Udah ya ma kita bertiga jalan dulu," kata Laura langsung buru- buru beranjak dari duduknya karena tidak tahan dengan godaan Rose.
"Iya ma kita berangkat sekarang aja biar pulangnya enggak malem- malem," kata Sela memberikan alasan yang kuat agar bisa cepat pergi dari hadapan Rose saat ini.
Mereka bertiga lalu mencium pipi Rose bergantian dan cepat- cepat pergi dari hadapan Rose.
"Jangan lupa ya hubungi suami kalian," teriak Rose saat pintu lift akan tertutup membuat Sela dan Laura menutup wajah karena tidak bisa menahan senyumnya.
"Duh enak kali ya dapet tiga menantu terus kasih aku cucu yang banyak," gumam Rose sambil membayangkan ke depannya saat mereka bertiga mempunyai banyak anak.
"Oh ya lupa, aku harus hubungi papa," kata Rose saat teringat sesuatu dan berlari menuju kamarnya.
.
.
.
.
Sedangkan di negara lain keempat pria ini sedang berada di kantor AGEN FBI.
Mau tahu mereka lagi apa?
Masak mau perang lagi, kan Walles udah ditangkep.
Bukan sayang, mereka lagi mau minta izin.
Isih sayang, hehe canda sayang.
"Jadi gimana, boleh enggak kita minjem helikopternya?" tanya Bradsiton pada Robert.
"Emang buat siapa sih sampai harus pakai helikopter FBI segala?" tanya Robert heran dengan keempat laki- laki ini yang sejak tadi ngotot untuk meminjam helikopter FBI.
"Duh ternyata bukan cuma namanya yang Robert, berurusan sama dia juga ribet," dumel Rendy yang sejak tadi merasa geram dengan Robert.
"Ini khusus buat menantuku, jadi gimana boleh kan kita minjem?" tanya Bradsiton masih terus memaksa Robert.
"Kalian ini miliader, punya helikopter masing-masing ngapain masih minjem?" tanya Robert yang tak habis pikir dengan Bradsiton dan keempat putranya ini.
"Tinggal minjemin apa susahnya sih?" kata Reynald yang kesabarannya udah diambang batas.
"Pinjemin atau lo gue sandera?" tanya Rendy sambil menatap Robert tajam.
"Atau gue bakar kantormu?" kali ini Bara yang mengancam Robert.
Bradsiton yang melihat tingkah ketiga putranya hanya menahan tawanya.
"Gue jadi agen FBI serasa enggak ada harga dirinya di depan kalian, bahkan kalian berani ngancem gue dan bakar kantor FBI, didikanmu memang hebat Bradsiton," kata Robert membuat Bradsiton tertawa mendengarnya.
"Jadi gimana, mau kan?" tanya Rendy sekali lagi.
"Ya gimana lagi, udah diancem," kata Robert yang terdengar sangat pasrah dan putus asa.
"Sekarang, ajari kita terjun dari helikopter," kata Rendy sukses membuat Robert melebarkan kedua matanya.
"Kenapa enggak sekalian aja kalian daftar jadi agen FBI?" tanya Robert yang sepertinya sudah sangat geram dengan Rendy.
"Enggak ada waktu buat main tembak- tembakan," jawab Rendy sekenanya membuat Robert menggelengkan kepalanya.
Waktu kurang 4 jam, mereka langsung menuju lapangan untuk berlatih terjun dari helikopter.
Ya meski itu sedikit menguji adrenalin mereka, percaya atau enggak, itu mereka lakukan untuk seseorang yang mereka sayang.
♡♡♡
Ketiga perempuan ini baru saja keluar dari salon dan selesai membeli baju.
Laura dan Jessy kini telah mengubah Sela menjadi seorang putri yang sangat cantik.
Bahkan nanti Bara mungkin akan terpesona melihat kecantikan Sela malam ini.
"Ehh gimana kalau kita ke Shympony Seas mal?" tanya Laura dan diangguki oleh Jessy dengan sangat antusias.
"Udah yuk kita pulang aja, aku udah capek banget lagian kita juga udah seharian penuh jalan- jalan," tolak Sela membuat Laura mencebikkan bibirnya.
"Ayo dong Sel, sekali ini aja, habis itu kita pulang deh ini yang terakhir," kata Laura beralasan berbagai macam agar Sela mau ikut.
"Iya Sel ini yang terakhir pleaseeee mau ya," kata Jessy ikut memohon agar Sela mau ikut.
"Iyadeh," kata Sela pasrah lalu Laura dan Jessy dengan sangat antusias langsung menarik Sela untuk masuk ke dalam mobil dan pergi menuju Shmpony Seas mal.
Bahkan mereka melupakan sesuatu, jika mereka kini sedang memakai gaun dan high heels yang tinggi.
Sesampainya di mal Sela merasa heran dan bingung.
Kemana para pengunjung, kenapa mal sangat sepi sekali.
"Ra Jes, kok sepi sih, malnya tutup ya?" tanya Sela yang bingung.
"Gue juga enggak tahu Sel, perasaan mal ini enggak pernah deh sepi pengunjung.
"Terus ngapain kita kesini, ayo pulang," kata Sela sambil menarik tangan Jessy dan Laura untuk pulang saja.
"Ehh enak aja pulang, udah sampai sini juga, kan enak kalau enggak ada pengunjung, kita bisa leluasa buat jalan- jalan," kata Jessy sambil menarik paksa tangan Sela dan Laura untuk masuk lebih dalam ke mal terbesar yang berada di tengah laut ini.
"Tapi Jes," kata Sela dan Laura bersamaan yang merasa sangat takut karena mal sangat sepi sekali hanya ada para petugas dan karyawan.
__ADS_1
"Ehh kita ke rooftop paling atas yuk, bentar lagi sunset," kata Jessy sangat berantusias sekali dan menarik kedua tangan Sela dan Laura untuk menuju rooftop paling atas.