
□□□
Sela terbangun saat alarmnya berbunyi.
Tepat pukul 5.00 GMT- 5, buru- buru Sela bergegas menuju kamar mandi.
Tapi sebelumnya Sela teringat sesuatu dan menyingkap sedikit gordennya.
Sela membungkam mulutnya saat tahu Bara terbaring di bangku taman.
Apa dia sejak malam di situ?
Itulah pertanyaan yang timbul di pikiran Sela.
Sela kembali menutup gordennya dia sedikit berpikir.
Antara bimbang dan acuh.
Hatinya mengatakan jika dia kasihan pada Bara tapi otaknya menolak untuk memberikan respon tersebut.
Sela mencoba untuk mengabaikan hal itu dan pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, Sela kini sudah bersiap dengan seragam barunya.
Universitas Hardvard
Sela menatap dirinya di pantulan kaca.
Apa dia terlalu jahat pada Bara?
Namun, jika mengingat hal itu rasa benci muncul dalam benaknya.
Tok tok tok
"Sel udah bangun belum?" teriak Sandra dari luar.
"Iya udah," jawab Sela sambil menyambar tasnya dan menemui Sandra.
"Ayo berangkat udah jam setengah 6," Sela mengangguk dan mereka berdua berjalan bersama untuk pergi ke kampus.
"Sel lo sarapan di asrama apa di kampus?" tanya Sandra sambil menekan tombol lift.
"Di kampus ajalah nanti keburu telat, hari ini jam kuliahnya pagi banget jam 6," Sandra mengangguk lalu keduanya masuk ke dalam lift.
Sela dan Sandra keluar dari lobi asrama dan terlihat Dico yang di seberang juga kini sudah bersiap.
Dico melambaikan tangannya kala melihat Sela dan Sandra.
Dico orangnya sangat humor dan humble banget jadi dia cepat mendapat teman.
Dico kembali melambaikan tangan karena dia berangkat bersama teman barunya.
"Dico cepet banget ya dapet temennya," kata Sela pada Sandra.
"Bener banget, itu anak emang nyaman banget temenan sama siapapun," tambah Sandra sambil melihat kanan kiri jalan untuk menunggu bus.
Mata Sandra terhenti pada seseorang yang sepertinya dia kenal.
Bara?
"Sel itu bukannya tuan Bara?" tunjuk Sandra pada bangku taman.
Sela mengikuti arah tangan Sandra, ada rasa iba pada dirinya.
"Apa semalem dia nemuin lo?" Sela hanya bisa mengangguk, toh berbohong sama Sandra enggak akan ada untungnya.
Yang ada dia akan semakin di introgasi hingga tuntas.
"Sel, emang masalah kalian serius banget ya? Kasihan tuan Bara, meski gue enggak deket sama tu orang, tapi gue bisa rasain, kalau dia cinta banget sama lo," kata Sandra mencoba untuk meluluhkan hati Sela.
"Cowok mana coba yang rela datang sejauh ini cuma buat jelasin semuanya, dia tuh sesayang dan secinta itu sama lo," Sela hanya diam dan mendengarkan ucapan Sandra.
Sela kembali menatap bangku taman, Bara bangun dari baringnya dan tanpa sengaja mata mereka bertemu.
Sela memutuskan kontak mata dengannya dan bertepatan dengan bus yang berhenti di depan mereka.
"Ayo San kita berangkat," kata Sela yang langsung menarik tangan Sandra.
Sandra menoleh sekilas dan melihat Bara kini sedang mengawasi Sela.
Sandra memberikan isyarat pada Bara jika semua akan baik- baik saja.
Tingkah Sandra membuat Bara tersenyum samar.
Bara menatap kepergian bus itu yang perlahan mulai menjauh.
"Seenggaknya perjuangan gue di sini enggak boleh sia- sia, gue harus bisa kembalikan cincin ini di jari manis Sela," gumam Bara sambil merogoh cincin berliannya.
Bara merogoh sakunya dan melihat ponselnya.
Foto Sela yang dia jadikan lockscreen tanpa sepengetahuannya.
Bara mencium layar ponselnya lalu tersenyum samar.
Bara menatap sekeliling, perutnya lapar mungkin dia akan membeli sesuatu untuk dimakan.
.
.
.
.
.
Bradsiton dan kelima bodyguardnya kini sedang berdiri di depan rumah Gabriela.
"Ini tuan rumah nona Gabriela," lapor bodyguardnya.
"Buruan buka pintunya," perintah Bradsiton pada bodyguardnya.
Brak
Pintu terbuka mereka langsung masuk ke dalam mencari tuan rumah.
Sedangkan Gabriela yang sedang makan tersentak kaget dan langsung melihat ke ruang tamu.
"Oh jadi kamu, jalang yang selalu menganggu kesenangan orang lain," kata Bradsiton kala Gabriela muncul dari dapur.
"Siapa kamu?" tanya Gabriela yang memang belum pernah bertemu.
"Bradsiton Arganta CEO JM Fashion One Kanada," kata bodyguardnya membuat Gabriela terkejut.
Namun, ia menutupi keterkejutannya dengan berekspresi biasa saja.
"Apa yang anda inginkan?" tanya Gabriela kala kakinya bergemetar menatap kelima orang berbaju serba hitam dibelakang Bradsiton.
FBI Agent
Gabriela menganga kala membaca tulisan kecil di baju hitam mereka berlima.
"Jangan usik kebahagiaan orang lain? kamu tahu?" tanya Bradsiton dengan nada yang mengintimidasi.
"Saya tidak pernah mengusik siapapun," jawab Gabriela sambil menatap takut Gabriela.
__ADS_1
"Oh ya, bukankah kamu adalah suruhan Reynald dan Walles?" mata Gabriela mendelik kala Bradsiton mengatakan Reynald dan Walles.
"Bukankah kamu yang masuk ke dalam perusahaan putraku untuk menghancurkan busananya? Bukankah kamu yang menjebak putraku semalaman di sini? Dan,"
"Kamu orang yang berniat untuk mencelakai ibunya Sela?" Gabriela tidak percaya kala Bradsiton mengungkapkan segalanya.
"Bagaimana anda tahu?" tanya Gabriela dengan suara yang kini sangat lemah dan lemas.
"Segalanya bisa saya ketahui, termasuk dirimu," kata Bradsiton sambil menatap tajam Gabriela.
Bradsiton maju ke depan untuk mendekati Gabriela lalu mengeluarkan pistol dari sakunya.
"Jangan usik kebahagiaan putraku, apalagi kau memiliki niat buruk untuk mencelakai menantuku," kata Bradsiton sambil menodongkan pistolnya di kepala Gabriela.
"Pergi jauh- jauh dari mereka berdua atau ayahmu...,"
"Jangan saya mohon jangan sakiti ayah saya," kata Gabriela sambil memejamkan matanya takut.
"Kali ini saya bisa menahan untuk tidak memecahkan kepalamu, tapi suatu saat jika kau kembali membuat ulah,"
Bradsiton tidak melanjutkan ucapannya membuat Gabriela membuka matanya perlahan sambil menunggu kelanjutannya.
"Aku akan memecahkan kepalamu," ancam Bradsiton lalu pergi keluar dari rumah Gabriela.
"Masih untung tangan dan kakimu masih utuh, jadi jangan main- main," kata salah satu bodyguard sambil melirik Gabriela tajam.
Gabriela mencoba untuk menghirup udara banyak- banyak.
Rasanya rumah Gabriela begitu sesak tiada oksigen.
"Apa benar mereka adalah agen FBI?" gumam lirih Gabriela yang bertanya pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
Sela baru saja turun dari bus, dia sengaja pulang malam agar bisa menghindari Bara.
Sela seharian ini berada di perpustakaan untuk menghilangkan penat di kepalanya.
Sela melihat Bara yang kini juga sedang menatapnya.
Astaga kenapa dia masih berada di sini, batin Sela kala melihat Bara yang berjalan menghampirinya.
Sela buru- buru berjalan dengan cepat agar bisa masuk ke dalam asrama.
"Sela tunggu," teriak Bara dan sedikit berlari untuk bisa meraih tangan Sela.
Hap
Bara meraih tangan Sela dan menariknya hingga membentur dada bidangnya.
"Kenapa kamu pulang sangat malam? Dan juga sendirian?" tanya Bara yang terlihat begitu marah.
Karena ini sudah sangat malam dan Sela pulang sendirian.
"Apa pedulinya anda?" bentak Sela sambil memberontak agar tangan Bara lepas dari pergelangan tangannya.
"Sela saya tidak suka kamu pulang malam- malam begini, itu bahaya buat kamu. Berangkat dan pulanglah bersama Sandra," kata Bara memberitahu Sela.
Sela menatap arah lain, tidak memedulikan Bara yang sangat mengkhawatirkannya.
"Saya tidak peduli," kata Sela menghempaskan tangan Bara lalu berlari masuk ke dalam asrama.
Bara memang belum pulang, dia akan pulang setelah mengembalikan cincin ini di jari manis Sela.
Bara sejak tadi begitu gelisah dan gundah kala melihat Sandra sejak tadi siang sudah pulang sedangkan Sela belum.
Bara tahu jika Sela melakukan hal itu untuk menghindarinya.
Bara kembali duduk di bangku taman, dia akan menunggu hingga Sela kembali mempercayainya.
Sedangkan Sela yang kini sedang berada di kamar menangis tersedu- sedu.
Perhatian dan juga kekhawatiran Bara memang terlihat sangat tulus.
Tapi sayangnya, perbuatan dia dan Gabriela membuat Sela membencinya.
Sela membenci keadaan seperti ini, dia tidak bisa fokus melakukan apapun.
Sela berjalan menuju ranjangnya, badannya begitu lelah dan juga capek menangis.
Tidak terasa Sela terlelap karena terlalu lama menangis.
Lap
Bara menatap asrama seberang begitu gelap lalu beralih menatap asrama Sela juga gelap.
Bara berlari masuk ke dalam asrama untuk menemui Sela.
Kenapa tiba- tiba saja lampu padam?
Pasti dia kini sedang ketakutan mengingat Sela pobia kegelapan.
Benar saja Sela di dalam kamar tiba- tiba berkeringat dingin dan puing- puing ingatan tentang pembantaian orang tuanya kembali berputar.
Sela berteriak karena merasa sesak, takut dan juga cemas tak tentu.
Sela meraba apapun di sampingnya untuk bisa menemukan pintu keluar.
Pyarrrr
Sela tidak sengaja menjatuhkan gelas di atas nakasnya hingga membuat kakinya terluka.
"Hiks hiks ayah ibu Sela takut," gumam lirih Sela sambil meringkuk di dekat nakas.
"Bara," nama itu yang ia sebut kala dia sedang ketakutan.
Brakkk
Pintu terbuka menampilkan Bara yang kini sedang memegang ponsel untuk mencari keberadaan Sela.
Bara berlari menghampiri Sela yang meringkuk di dekat nakas.
"Hey," kata Bara sambil menggenggam tangan Sela yang kini masih menangis.
Sela mendongak dan langsung memeluk Bara erat.
"Aku takut hiks," Bara meraih Sela dalam pelukannya dan beberapa kali mencium puncak kepalanya.
"Aku di sini," gumam Bara di sela isak tangis Sela.
Klik
Lampu kembali menyala, Bara bisa melihat ada begitu banyak darah memenuhi kaki Sela.
Bara melepaskan pelukannya, ternyata Sela pingsan dalam pelukannya.
Dengan cepat Bara mengangkat Sela ke tempat tidur.
__ADS_1
Bara mencari kotak P3K untuk membersihkan luka di kaki Sela.
Setelah selesai mengobati, Bara duduk di samping Sela.
Mengamati wajah cantik yang selalu menjadi candu baginya.
Bara mencium kening Sela dengan sangat lama lalu membelai pipi tirusnya.
Sebelum Sela bangun, dia akan kembali turun ke bawah.
Dia tidak ingin Sela semakin membencinya.
Bara hanya ingin Sela kembali percaya padanya dan hubungan mereka baik- baik saja.
Bara menutup pintu Sela lalu kembali di bangku taman.
Berbaring di bawah langit malam dengan banyak hiasan bintang kerlap- kerlip.
Di temani beberapa bunga dan juga udara malam yang begitu dingin.
Sedangkan dalam kamar Sela terbangun tepat pada pukul 2.
Dia melihat sekeliling, dia ingat jika tadi lampu padam dan
Kemana Bara?
Apa benar tadi Bara yang datang ke kamarnya.
Sela merasa sakit pada pergelangan kakinya.
Ia ingat tadi tidak sengaja menjatuhkan gelas dan mengenai kakinya.
Lantas, apa ini juga perbuatan Bara?
Apa dia yang mengobati luka di kakinya?
Sela berjalan perlahan menuju jendela untuk melihat Bara.
Ternyata benar Bara masih di sana, terbaring di bangku taman.
Dengan udara yang sangat dingin, Sela melihat langit begitu gelap dan bintang tidak ada satupun.
Apa mungkin malam ini akan turun salju?
Sela mencoba untuk acuh pada Bara.
Namun, tatapannya terhenti kala salju perlahan mulai turun.
Sela baru kali ini melihat kali pertama salju turun.
Sela beralih menatap Bara, masih dengan posisi yang sama.
Berbaring di bangku taman.
Dengan cepat Sela menyambar mantel di dekat pintu lalu turun ke bawah untuk menemui Bara.
Sela berdiri di ambang pintu lobi, menatap Bara yang masih terbaring di bawah turunnya salju.
Tanpa banyak bicara Sela sedikit berlari dengan kaki sakit untuk menghampiri Bara.
"Tuan," panggil Sela sambil menepuk pelan bahu Bara yang sedikit menggigil.
Bara perlahan membuka matanya, badannya begitu dingin seakan membeku.
Dengan pelan Sela membantu Bara untuk bangun dari baringnya.
Sela menatap nanar Bara yang menggigil kedinginan dan juga telinga yang sangat memerah.
"Ngapain kamu turun ke bawah?" tanya Bara sangat lirih.
Tanpa banyak bicara Sela langsung memakaikan mantel pada tubuh Bara.
"Sekarang ayo masuk," kata Sela pelan, sedangkan Bara setengah sadar dan beberapa kali memejamkan matanya karena menahan dinginnya salju hanya bisa mengikuti kemana Sela membawanya.
Sela perlahan memapah Bara untuk dibawa ke asramanya.
Sela membawanya masuk ke dalam kamar lalu membaringkannya di tempat tidur.
Sela menyetel suhu ruangan menjadi hangat.
"Sela," racau Bara pelan dengan badan yang sudah menggigil kedinginan.
Sela menatap Bara lalu menggosokkan kedua telapak tangannya dan meletakkannya di telinga Bara.
Sela terus melakukan hal itu hingga beberapa kali.
Lalu Sela berinisiatif untuk memasakkan soup buntut agar Bara merasa hangat.
Itu adalah makanan kesukaannya.
Tanpa pikir panjang Sela langsung bergelut di dapur memasak sop buntut.
25 menit lamanya Sela memasak dan kini sudah siap.
Sela membawa nampan yang berisi sop buntut itu ke kamarnya.
Perlahan Sela membangunkan Bara agar memakan sop buntut buatannya.
"Tuan, bangunlah saya membuatkan sop buntut untuk anda," kata Sela pelan membuat Bara perlahan bangun dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Apa anda masih merasa dingin?" tanya Sela mencemaskan keadaan Bara yang beberapa saat tadi menggigil kedinginan.
Bara mengangguk pelan dengan menatap Sela sayu.
Sela meraih mangkuk di atas nakas dan berniat untuk menyuapi Bara.
Sela dengan sabar meniup sop buntut yang masih panas.
Sruppp
"Hem enak banget sopnya, mau enggak?" tanya Sela yang mencicipi sop buntutnya membuat Bara gemas dengan tingkahnya, bukannya menyuapi dirinya malah dimakan sendiri.
Bara meraih tengkuk Sela dan mencium bibir ranum miliknya.
Menyesap bibir manis itu di mana masih ada sisa rasa sop buntut buatannya.
Sela tertegun dan diam saja, hingga beberapa detik dia mendorong dada bidang Bara.
Sela menatap kesal pada Bara yang kini sedang tersenyum senang menatapnya.
"Apaan sih cium- cium," ketus Sela membuat Bara tertawa renyah.
"Ternyata sop buntut itu lebih enak saat dinikmat di bibirmu," kata Bara membuat Sela mendelik kesal dengan ucapan Bara yang frontal.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
**Gimana ada yang kesel?
Ada yang baper?
Atau biasa aja?
Hehe maaf ya kalau alurnya enggak sesuai keinginan kalian🙏
__ADS_1
Semoga kalian semua senang dan terhibur🤗**