Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Mabuk


__ADS_3

□■□■


Brakk


Bara datang bersama Rendy juga Dhea dan Laura di belakangnya.


Bara menghampiri Sela yang masih menangis histeris sembari memeluk ibunya.


"Sayang," panggil Bara pelan membuat Sela mendongak dan langsung berhambur ke pelukan Bara.


Bara memeluk erat Sela dan berkali- kali menciumi puncak kepala Sela.


"Ibu Bara, ibu meninggalkanku," gumam Sela di tengah isak tangisnya.


"Tenang sayang, ada aku di sini," kata Bara sembari mengusap punggung Sela.


Bara menatap papanya, keduanya saling memeluk wanitanya untuk bisa menenangkan mereka berdua.


Keduanya berbicara lewat kode mata tanpa sepengetahuan orang lain.


"Aku pasti akan mencari pelakunya," bisik Bara sambil mendekap Sela erat agar tidak merasa sendirian.


"Hiks hiks, aku rindu ibu," gumam Sela yang semakin membuat hati Bara terasa sangat perih dan sakit.


Bara berjanji dia akan mencari siapa pelaku di balik ini semua.


Beberapa dokter masuk ke dalam untuk mengurus mayat ibu Sela.


Bara membawa Sela untuk duduk di sofa dekat brankar.


Ia membiarkan Sela menumpahkan semua air matanya.


Mungkin hal itu akan membantunya sedikit menghilangkan sesak dalam hatinya.


Hingga tidak ada suara dan pergerakan pada Sela membuat Bara menunduk untuk memeriksa wanitanya.


Sela tertidur dengan mata yang begitu sembab dan memerah.


Bara mencium kening Sela pelan agar tidak membangunkannya.


Dia membiarkan Sela untuk terlelap sebentar dalam dekapannya.


Hanya itu yang bisa Bara lakukan.


Kini gadisnya tinggal sebatang kara dan tidak mempunyai siapapun selain dirinya.


Karena itu Bara berjanji akan menjaganya hingga nanti.


"Bara, papa sama mama pergi dulu," pamit Bradsiton pelan pada Bara.


Bara hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.


Terlihat Laura keluar dari ruangan begitu saja.


"Bro gue pergi dulu bentar," pamit Rendy diikuti Dhea.


Kini tinggal Bara dan Sela di dalam ruangan karena dokter telah memindahkan mayat ibu Sela untuk di pulangkan.


Bara menarik selimut di dekat sofa untuk menutupi tubuh Sela agar tidak kedinginan lalu ikut memejamkan mata menemani wanitanya.


Sedangkan Laura pergi menuju balkon rumah sakit paling atas.


Ia menghubungi papanya untuk menanyakan sesuatu.


"Halo pa,"


"Ada apa?"


"Pa Laura mau tanya. Apa ini ulah papa?" tanya Laura to the point.


"Apa?"


"Pa jangan pura- pura tidak tahu, ini pasti ulah papa kan? Yang membuat ibunya Sela meninggal?"


"Itu bukan papa," jawab Walles dengan santainya.


"Pa, papa tahu kan sudah banyak kejahatan yang papa lakukan. Apa papa tidak takut masuk penjara? Apa papa tidak kasian dengan mama?"


"Tahu apa kamu tentang papa? Jalankan saja perintah papa. Buat dia meminum racikan bunga Aconite,"


"Kenapa papa selalu bersikap egois. Laura selalu menuruti semua perkataan papa,"


"Diam Laura! Kamu hanya boleh melakukan semua perintah papa bukan membantahnya,"


"Laura sudah menuruti semua perkataan papa, pura- pura mendekati Rendy demi bisa mendapatkan file yang papa inginkan dari Bara, ikut masuk dalam perusahaan Bara meski itu bukan skill Laura,"


"Cukup Laura! Papa enggak mau lagi denger bantahan kamu, cepat lakukan apa perintah papa dan jangan berharap kamu bisa pulang ke rumah sebelum melakukan misimu," kata Walles lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Pa, papa," teriak Laura kesal dengan Walles yang selalu bersikap egois dan idealisme.


Laura mengusap air matanya dan berniat balik lagi ke ruangan Sela.


Laura berbalik dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok yang berdiri tak jauh darinya.


"Rendy," gumam Laura berat karena terkejut dengan keberadaan Rendy.


"Gue enggak percaya kalau lo bakal selicik itu," kata Rendy sambil menatap tajam dan benci pada Laura.


"Rendy bukan begitu, dengerin penjelasan gue dulu," kata Laura panik sembari menahan Rendy agar tidak pergi.


"Lepasin," bentak Rendy membuat Laura langsung melepaskan genggamannya.


"Gue bukan tipikal cowok yang cepet naruh hati sama cewek, tapi beberapa hari lalu, gue sempet suka sama lo," percaya atau tidak itu adalah ungkapan dari isi hati Rendy.


Dan asal kalian tahu, detak jantung Laura berpacu begitu cepat membuat dia seakan sulit untuk bernapas.


"Tapi sekarang, gue bakal kubur dalam- dalam perasaan ini," semua seakan gelap dan sesak setelah Rendy mengatakan hal itu.


"Enggak, dengerin penjelasan gue dulu. Gue emang deketi lo karena permintaan papa, tapi gue tulus cinta sama lo Ren," kata Laura membuat Rendy menghempaskan tangan Laura dan tersenyum miring.


"Basi tahu enggak omongan lo," kata Rendy lalu pergi meninggalkan Laura sendiri di balkon.


Laura hanya diam membisu mendengar perkataan Rendy.


"Padahal gue tulus suka sama lo," gumam Laura pelan sembari menunduk dalam.


Sedangkan Rendy pergi dengan segala rasa kekecewaannya.


.

__ADS_1


.


.


.


.


1 jam yang lalu pemakaman sudah selesai dan para tamu yang silih berganti datang dan pergi juga sudah sepi.


Kini Bradsiton dan Rose berada di ruang keluarga, mereka juga merasa terpukul dan bersalah akan Sela.


"Pa, mama merasa bersalah sama Sela, karena dia sedang menjalankan rencana yang kita buat, kita sampai lalai untuk menjaga ibunya," kata Rose lemah membuat Bara menghela napas pelan.


"Tapi ma mau dijaga seketat apapun, pembunuhan ini pasti sudah direncanakan sejak jauh hari, buktinya tak ada sedikitpun bukti atau tanda yang tertinggal," kata Bradsiton pelan membuat Rose berubah pikiran.


"Pa, mama minta tolong cari pelakunya sampai ketemu," kata Rose untuk yang keberapa kalinya.


"Itu pasti ma, papa akan melakukannya," kata Bradsiton lalu beralih menatap putranya.


"Bara, kamu harus awasi Sela selama dia masih terpuruk untuk beberapa hari belakangan ini, papa takut jika Sela melakukan hal yang tidak semestinya," kata Bradsiton lalu diangguki oleh Bara.


Sudah 30 menit yang berlalu, Bara menatap pintu kamar Sela.


Ia terus menangis tanpa henti dan tidak keluar kamar sebentar pun.


Bara semakin merasa khawatir dan cemas akan keadaan Sela.


Bara menatap jam dinding, sudah pukul 7 malam.


Ini waktunya untuk makan malam, tapi Sela belum juga keluar kamar.


Bara bingung, karena Bradsiton dan Rose pamit keluar sebentar untuk beberapa menit yang lalu, kini tinggal Bara sendiri.


Rendy?


Entah kemana perginya laki- laki itu sejak pemakaman ibunya Sela tadi.


Ceklek


Bara langsung menoleh kala mendengar suara pintu terbuka.


Di mana terlihat Sela yang sudah sangat rapi dengan rambut terurai.



"Sela mau kemana kamu malam- malam begini?" tanya Bara mencegah Sela yang akan keluar pergi.


"Hanya keluar sebentar," jawab Sela sembari berjalan menuju lift.


Dengan cepat Bara menghalangi jalan Sela menuju lift.


"Ayo aku temani," kata Bara sembari menatap lekat Sela.


"Tidak perlu," kata Sela dan melanjutkan langkahnya menuju lift.


Sela menekan tombol lift 1 dengan cepat Bara membatalkannya.


Sela menatap tajam Bara dan hal ini kali pertama Bara mendapatkan tatapan tajam dari Sela.


"Kemana kamu akan pergi? Ini sudah larut malam," tanya Bara berusaha untuk mencegah Sela.


Dengan sabar Sela menghela napas, daripada bertengkar Sela memilih menuruni tangga.


"Sela Gabriela Maxiton," panggil Bara dengan nada sangat keras.


Namun, hal itu tidak menghentikan langkah Sela sedikitpun.


Bara bergegas menuruni tangga untuk menyusul Sela.


Di lantai 2 dan 1 tidak ada, kemana Sela pergi.


Bara bergegas keluar rumah dan melihat Sela berjalan menuju garasi.


Sedikit berlari Bara menyusul Sela yang masuk ke dalam garasi.


"Sela tunggu," kata Bara sembari meraih tangan Sela untuk berhenti.


"Lepasin enggak?" bentak Sela dengan sangat keras yang mampu membuat para bodyguard sedikit terkejut.


"Kemana malam- malam begini kamu pergi?" tanya Bara yang kini tersulut api emosi.


"Bukan urusanmu," kata Sela sembari menghempaskan tangan Bara dan berjalan menuju motor milik Rendy.


Sela menaiki motor besar itu tanpa memedulikan ekspresi Bara saat ini.


Brum Brum Brum


Sela melajukan motornya keluar dari garasi tanpa mengatakan sepatah katapun pada Bara.


Tidak tinggal diam, Bara langsung menyusul Sela dengan mobil sport hitamnya.


Bahkan Bara tertinggal jauh dengan jarak motor Sela yang melaju begitu cepat.


Bara memukul stir mobilnya karena tidak dapat mengejar jejak Sela.


Sedangkan di tempat lain, Sela memberhentikan motornya di kedai kecil dekat perumahannya.


Entah apa yang membawanya kemari, yang jelas Sela hanya ingin menjernihkan otaknya.


"Bu, saya pesan wine 5 botol," kata Sela pada pelayan perempuan yang sedikit muda darinya.


Sela melihat perempuan itu tampak sedikit terkejut dengan pesanan Sela, tapi ia mengabaikannya.


Tidak berapa lama pesanan datang, wine 5 botol tanpa makanan ataupun camilan.


Dengan cepat Sela membuka tutup botol wine tersebut.


Tanpa ragu dan takut, Sela langsung menegak wine tersebut langsung dari botolnya.


Dia butuh pelampiasan dan waktu sendiri.


Setidaknya, wine ini sedikit membantunya agar tidak terlalu stres.


Tidak butuh waktu lama Sela untuk menghabiskannya.


Dia sudah menghabiskan dua botol sekaligus, itupun kepala Sela sudah begitu pusing.


Sela menidurkan kepalanya di atas meja karena terasa begitu berat.

__ADS_1


Tiba- tiba Sela menangis tanpa sebab yang jelas.


Cittt


Mobil sport warna hitam berhenti tepat di depan kedai kecil.


Bara melihat motor Sela terparkir epic di sana.


Bara turun dari mobil dan benar saja terlihat Sela yang menidurkan kepalanya di atas meja.


Dengan langkah pelan Bara menghampiri Sela, terlihat 5 botol wine yang sudah kosong.


Bara duduk di samping Sela dan menyingkirkan rambut panjang yang menghalangi wajah cantiknya.


"Hiks hiks, aku merindukannya," gumam Sela pelan membuat Bara tidak tahan melihatnya.


"Aku sangat merindukannya, hingga hiks hiks,"


"Hingga jantungku terasa sakit saat bernafas, kenapa aku tidak bisa bersamanya, hiks hiks," Sela menangis hingga tersedu- sedu membuat Bara ikut meneteskan air matanya.


"Semuanya boleh pergi, semuanya boleh hilang, semuanya boleh meninggalkanku, tapi tidak dengan ibu, hiks hiks,"


"Atau duniaku akan hancur," kini tangisnya semakin menjadi, membuat Bara tidak sanggup lagi untuk mendengarkan racauan Sela.


Setelah melihat tidak ada lagi suara dan pergerakan, Bara membopong Sela untuk masuk ke dalam mobilnya.


Bara tidak boleh membiarkan Sela larut dalam kesedihan ini.


Sesampainya di rumah Bara, ia langsung membopong Sela menuju kamarnya.


Dia tidak mungkin membawa Sela dengan kondisi seperti ini ke rumah papanya, mereka pasti akan mencemaskannya.


Bara membaringkan Sela dengan sangat pelan lalu menutup badannya dengan selimut tebal.


Dengan pelan ia mencium pelan kening Sela sangat lama.


Lalu tidur di sofa dekat king sizenya sembari menatap Sela yang tertidur pulas karena mabuk.


.


.


.


Paginya Sela terbangun dengan kepala yang terasa begitu berat.


Ia melihat sekitar, dia berada di kamar Bara.


Tapi kemana Bara pergi?


Ceklek


Bara masuk dengan nampan di tangannya yang berisi sop panas, terlihat dari uap panas yang masih mengepul dan air madu.


Bara meletakkan nampannya di atas nakas lalu memeriksa kening Sela.


"Apa masih terasa pusing?" tanya Bara pada Sela. Sela hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku akan menyuapimu," kata Bara yang langsung mengambil alih mangkuk yang berisi sop panas yang baru saja ia buat.


Dengan pelan Bara meniup sop panas itu lalu menyuapi Sela dengan sangat telaten.


Setelah selesai, Bara menyodorkan air madu yang ia buat untuk menghilangkan rasa pengarnya.


"Sekarang istirahatlah," kata Bara yang terdengar sedikit dingin hingga membuat Sela merasa sedikit takut.


Sela menahan tangan Bara untuk pergi dan menatapnya dalam.


"Apa kamu marah?" tanya Sela was- was jika melihat gelagat Bara yang tidak seperti biasanya.


Bara menghembuskan napasnya pelan lalu melepaskan genggaman tangan Sela.


"Tidak, sekarang istirahatlah," kata Bara lalu pergi keluar bersama nampan di tangannya.


Sela menunduk dalam, ia tahu, sikapnya kemarin malam memang sudah keterlaluan.


Sela teringat sesuatu, mungkin ini saatnya yang baik untuk menjalankan balas dendamnya.


Sela turun dari king size, lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.


Dengan langkah pelan ia berjalan menuju pintu dan menempelkan telinganya di dekat pintu.


Sepi


Ini kesempatan yang sangat baik, Sela keluar dari kamar dan berjalan mengendap- endap menuju lift.


Dengan mudahnya Sela bisa keluar dari rumah dan menuju garasi.


Syukurlah motor Rendy sudah dibawa pulang, kalau tidak dia akan menaiki apa.


Sela memakai helmnya, lalu dengan kuatnya ia mendorong motor besar itu keluar dari garasi.


"Loh nona Sela, anda mau kemana?" tanya pak Asep yang kebetulan juga akan pergi ke kantor.


"Eh pak Asep, itu apa saya mau pergi ke rumah papa," kata Sela beralasan dengan sangat baik hingga mampu membuat pak Asep percaya begitu saja.


"Oh begitu, kenapa enggak naik mobil saja? Atau kalau enggak saya antar," kata pak Asep membuat Sela langsung menggelengkan kepalanya.


"Eh tidak pak saya naik motor saja enggak papa kok, sekalian jalan- jalan cari angin," alibi Sela lalu dengan cepat ia langsung mendorong motornya untuk keluar dari halaman rumah Bara.


Tapi siapa yang tahu kalau Bara melihat segalanya dari lantai paling atas.


"Astaga, kemana wanita itu akan pergi," gumam Bara heran dengan sikap keras kepala Sela.


Dengan cepat Bara menelpon penjaga gerbang untuk mengunci gerbangnya.


"Halo pak,"


"Tolong kunci gerbangnya, jangan biarkan istri saya keluar,"


Bara lalu mematikan sambungan teleponnya dan melihat gadisnya bersusah payah mendorong motor besar itu menuju gerbang.


"Lah kok dikunci," kaget Sela saat penjaga gerbang menguncinya.


"Maaf nona, ini semua atas perintah tuan Bara," kata penjaga itu sembari melihat ke lantai atas di mana di sana terlihat Bara yang sedang menatapnya dari jendela.


Sela mendongak dan terlihat Bara kini sedang tersenyum senang melihat dirinya.


"Dasar bapak tua," gerutu Sela membuat penjaga itu menahan senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2