
○○○
Dia masuk dengan membawa peralatan untuk memperbaiki lampu.
Untungnya satpam tadi percaya jika dia suruhannya Aldebaran dan percaya saat dia menunjukkan kartu identitas palsu.
Dia menaiki lift lalu melirik ke arah sudut lift, ada cctv.
Dia sedikit menaikkan maskernya dan sedikit serong agar tidak terlihat jelas.
Dia telah sampai di lantai paling atas, melihat kanan kiri, sepi.
Langsung saja dia menjalankan semua misinya lalu juga menempel banyak cctv kecil di tanaman, di sudut- sudut yang sekiranya mereka tidak tahu.
Setelah semua cctv kecil itu sudah tertempel pada tempat yang seharusnya, dia beralih untuk mencari ruang penyimpanan baju yang akan di nilai besok.
Kring kring kring
Dia terkejut dan buru- buru mengangkatnya sebelum ada orang yang datang.
"Halo,"
"Bagaimana, apa kamu sudah menempel semuanya?"
"Sudah kini saya tinggal mencari di mana tempat penyimpanan busana mereka,"
"Cepat, sebelum Bara melihatmu,"
"Baik saya akan segera mencarinya,"
"Ingat, jangan sampai kamu tertangkap cctv,"
"Baik," dia menutup teleponnya lalu melihat kanan kiri depan belakang, masih sepi.
Ok, dia kembali melancarkan aksinya untuk pergi ke ruang desain.
Perlahan dia membuka pintu ruangan desainer, ternyata Dea tertidur di sofa, dia perlahan sekali untuk melangkah mencari ke segala penjuru untuk bisa menemukan busananya.
Hasilnya tidak ada, di mana mereka menyimpannya.
Dia menatap ruangan sekeliling, tidak ada semacam etalase atau tempat khusus untuk menyimpan baju.
Dia melihat seperti ada lorong menuju ruangan, dia mulai masuk ke dalam.
Dia melihat ada 3 etalase untuk menyimpan busana yang dipajang.
Senyum smirk tercetak di bibirnya, buru- buru dia membuka etalase itu.
Ini namanya misi yang sangat mudah, lihatlah bahkan etalasenya tidak di kunci.
Dia mengeluarkan gunting lalu menggunting gaun yang sudah jadi itu menjadi beberapa helai.
Dia beralih ke etalase berikutnya sampai ke etalase ketiga.
Dia menatap busana yang kini sudah compang- camping tidak terlihat seperti baru tadi.
Buru- buru dia keluar sebelum Dea terbangun, dia menutup pintu ruangan Dea lalu tergesa- gesa menuju pintu lift.
Dia berhasil masuk ke dalam lift dengan selamat tanpa ketahuan oleh Bara.
"Akhirnya misi ini telah selesai, siapa sangka jika ini begitu mudah," gumamnya senang telah berhasil menyelesaikan misinya.
Kring kring kring
Teleponnya kembali berdering, ternyata bosnya.
"Halo,"
"Bagaimana apa kamu sudah selesai?"
"Sudah beres semua,"
"Bagus cepatlah pergi, uangmu sudah ku transfer,"
"Senang bekerja sama dengan anda," lalu dia menutup panggilannya.
Ting
Pintu lift terbuka dia bergegas menuju parkiran melihat kanan kiri, karyawan sudah mulai sepi hanya ada beberapa OB dan bodyguard yang berjaga.
Dia telah sampai di parkiran dan hendak masuk ke dalam mobil namun seseorang menyeretnya.
"Awww," teriaknya karena tangannya di tarik dengan tiba- tiba membuat dia terkejut.
□□□
Bara membuka matanya perlahan, lalu melihat tubuhnya yang tertutupi selimut.
Bara bangun dari tidurnya, ada sapu tangan menempel di keningnya.
Bara tersenyum melihatnya, pasti ini perbuatan Sela.
Bara membawa selimutnya menuju kamar.
Bara membuka pintu kamar dengan perlahan takut menganggu tidur Sela.
Kosong.
Bara lalu masuk ke dalam kamar, kemana perginya Sela.
Bara mencarinya di kamar mandi tidak ada, Bara keluar dari kamar.
Menatap sekeliling, tasnya tergeletak di sofa lalu di mana dia.
__ADS_1
Bara mencoba menelpon Sela karena ponselnya tidak ada.
Tidak dijawab.
Bara keluar dari ruangannya, tapi dia heran saat para karyawan berlarian kesana kemari terlihat sangat bingung.
Bara berjalan menuju ruangan Dea untuk memeriksa busananya.
Bara melihat Dea sedang sibuk memotong kain dibantu Reno dan Rendy.
"Dea ada apa ini, kenapa semua karyawan mondar- mandir dan berlarian kesana kemari, tidak ada masalah bukan?" tanya Bara namun Dea tidak menjawab sibuk menggunting kain dengan air mata yang terus keluar.
"Tuan lihat saja ke dalam etalase," kata Reno sambil membantu Dea menggunting kain dan mengambilkan ini itu yang diperintahkan Dea.
Bara buru- buru melihat dan betapa terkejutnya dia saat tahu ketiga busananya yang akan di nilai nanti kini telah berubah compang- camping.
"Dea kenapa bisa begini, apa yang terjadi," teriak Bara dengan nada keras membuat Dea berhenti menggunting dan menunduk.
"Maafkan saya tuan, ini salah saya, saya lalai untuk menjaga busana ini," kata Dea dengan air mata yang turun begitu saja membuat Rendy menyodorkan tisu.
"Saya akan membuatnya tuan, tenanglah saya akan segera menjahitnya, Rendy tolong ambilkan buku rancanganku," kata Dea meminta bantuan Rendy.
"Tapi Dea 45 menit lagi tuan Clay akan datang, kemungkinan mereka sekarang sedang berada di perusahaan Reynald," kata Rendy memberitahu Dea jika usaha mereka pasti akan sia- sia.
"Arghhhh kenapa bisa gini, dimana semua bodyguard?" teriak Bara marah dia benar- benar marah kali ini.
Bara keluar dari ruangan Dea lalu menuju lift untuk mengumpulkan seluruh bodyguardnya.
Kenapa mereka bisa kecolongan seperti ini, bodyguard segitu banyaknya bisa tidak tahu jika ada penyusup.
"Rendy bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan?" tanya Dea panik dia terus saja menangis sejak tadi.
"Tenanglah kamu jangan terus menangis, kita tangani ini semua bersama," kata Reno mencoba menenangkan Dea.
"Tapi tuan Bara begitu sangat marah," kata Dea dengan suara serak dan sesenggukan.
"Tuan Rendy, 30 menit lagi tuan Clay akan datang," kata Reno mengingatkan pada Rendy.
"Udah lo jangan kasih tahu gue, jantung gue rasanya mau copot setiap lo bilang kurang 5 menit tuan Clay datang, kurang 10 menit tuan Clay datang, lo enggak capek apa liatin jam mulu," kata Rendy mencoba menghibur Dea.
Namun, Dea tetap bersedih hati, lihatlah matanya kini begitu sembab.
Sedangkan di lantai bawah Bara sedang menunggu seluruh bodyguardnya berkumpul.
"Jadwal siapa tadi malam untuk berjaga?" tanya Bara sengit dan dengan nada tinggi.
"Saya dan anggota muda," jawab pak Asep karena kemarin malam memang jadwal pak Asep.
"Pak Asep, apa kemarin malam ada seseorang yang mencurigakan masuk ke dalam kantor?" tanya Bara.
"Tidak tuan, terakhir hanya ada petugas keamanan dia bilang itu perintah dari tuan," jawab pak Asep.
"Lalu kenapa pak Asep tidak menelpon saya terlebih dahulu," bentak Bara yang memang benar- benar marah.
"Lalu apa pak Asep tahu kemana Sela pergi?" tanya Bara pada pak Asep.
"Tidak tuan, bukankah nona muda semalam bersama anda," kini pak Asep yang ganti bingung.
"Kalian semua habis ini akan ada tamu dari luar negeri datang, sambutlah dengan baik," perintah Bara lalu kembali ke dalam perusahaan.
"Perhatian semuanya, 10 menit lagi tuan Clay akan datang, persiapkan diri kalian," teriak Bara dengan mikrofon agar di dengar dari segala penjuru.
Bara menaiki lift kembali ke ruangannya untuk memeriksa keadaan Dea yang terus menangis.
Entahlah dia tidak tahu lagi, usaha apa yang harus dia lakukan untuk berbicara pada Clay.
Bara tidak boleh emosi, dia harus bisa menenangkan semua karyawannya.
Sela?
Entahlah itu nanti Bara akan mencarinya, keadaan sekarang lebih gawat dan genting.
.
.
.
Sedangkan di perusahaan lain, lebih tepatnya perusahaan Reynald, mereka sedang tertawa melihat permainan yang telah mereka atur.
"Lihatlah muka mereka, panik dan juga terlihat sangat sedih," kata Reynald sambil menatap monitor yang menampilkan perusahaan Bara.
Ya, Reynald telah meminta seseorang untuk masuk ke dalam perusahaan Bara, memasang cctv juga merusak busana rancangan mereka.
Dan kini mereka sedang menikmati sebuah drama yang telah direncanakan Reynald.
"Ini adalah sejarah yang harus selalu kita ingat," kata Walles merasa sangat senang melihat Bara juga semua karyawannya terlihat panik dan juga sedih secara bersamaan.
"Idemu memang luar biasa Walles, aku percaya padamu," puji Reynald pada Walles.
"Skor busana kita 89, aku yakin tidak ada perusahaan lain yang bisa menandingi skor kita," sombong Reynald dengan percaya diri.
"Tentu, busana kita bahkan terbuat dari kain linen asli dari Italia," kata Walles sambil melihat keadaan di perusahaan Bara.
"Lihatlah mereka, sudah tidak punya busana tapi masih berharap dan menunggu kedatangan Clay," ejek Reynald saat melihat Bara dan karyawannya sedang menunggu kedatangan Clay.
"Clay sudah terlambat 15 menit itu artinya perusahaan kita akan menang dan Clay tidak akan sampai di perusahaan Bara," kata Walles sambil tertawa kegirangan saat rencana dan juga misinya berhasil.
.
.
.
__ADS_1
.
Bara dan juga karyawan yang berada di lantai atas sudah hampir 20 menit menunggu kedatangan Clay.
"Tuan ini bahkan sudah hampir 20 menit, tidak biasanya tuan Clay terlambat," kata Rendy pada Bara.
"Entahlah akupun juga tidak tahu," kata Bara, pikirannya seketika hancur, tidak pernah perusahaannya mengalami hal seperti ini.
Sekarang ini pikiran Bara seakan terbagi menjadi dua, antara memikirkan busana juga Sela.
Ting
Sontak dan secara spontan mata mereka semua menatap lift yang terbuka.
Clay keluar dari lift bersama dengan tim juri, tapi yang lebih mengagetkannya lagi, Sela bersama mereka.
Bara mengernyit bingung namun Clay buru- buru memeluknya.
"Bara, maafkan saya, saya terlambat datang ke perusahaanmu, entah kenapa semua mobilku tiba- tiba mogok dan bannya meletus, untungnya ada nona ini yang membantuku dengan mobil para bodyguardmu," Bara terheran sekaligus terkejut.
Dia tidak bisa mencerna baik ucapan Clay, sedangkan Sela hanya tersenyum ramah.
"Dia bilang rekan kerjamu dan mengantarku kesini hingga selamat, aku berutang budi padamu nak," kata Clay berterima kasih pada Sela.
"Ayo kita mulai penilaian busananya," Bara bingung untuk menjelaskannya pada Clay, pikirannya kalut dan kosong.
"Mari tuan akan saya tunjukkan," kata Dea memandu Clay menuju ruangannya sedangkan Bara melotot tidak percaya.
Bagaimana mungkin Dea akan menunjukkan busana yang kini sudah compang- camping.
Bara hendak meraih tangan Clay untuk menghentikannya namun dengan cepat Sela menariknya.
"Tuan tenanglah semua baik- baik saja," kata Sela sambil menarik pelan tangan Bara menyusul mereka menuju ruangan Dea.
"Bagaimana bisa kamu bilang baik- baik saja, apa kamu tahu keadaan busana kita?" tanya Bara ketus karena Sela belum melihatnya.
Sela menatap wajah Bara sekilas lalu menahan senyumannya melihat wajah panik Bara.
"Ini tuan," kata Dea sambil membuka satu persatu etalase yang berisi gaun rancangannya.
Bara menganga dengan apa yang dia lihat di etalase.
Ketiga gaun yang sangat sempurna dan juga begitu indah.
Bukan seperti tadi saat dia melihatnya, compang- camping tak terlihat seperti busana.
"Wow Bara kau membuat 3 busana sekaligus," puji Clay kagum dengan kinerja perusahaan Bara.
Bara yang masih tertegun dan juga masih syok sama apa yang terjadi sejak tadi sampai tidak sadar jika Clay berbicara padanya lalu Sela menepuk pelan punggung Bara.
"Oh iya tuan, kami membuat tiga busana dengan motif dan ciri khas tertentu," jawab Bara lalu menjelaskan secara detail setiap motif dan ciri khas dari ketiga busana itu.
Penilaian pun dimulai, tim juri mulai melihat dan menilai satu persatu dari ketiga busana.
"Ok, akan saya bacakan skor dari ketiga busana anda," kata Clay sambil menatap hasil dari tim juri.
"Motif dan ciri khas dari ketiga busana sangatlah kuat dan menggambarkan kebudayaan antara AS dan Kanada, juga terlihat sangat elegan juga kain yang dibuat asli dari linen,"
"Maka dari itu tim juri kami memberikan skor pada ketiga busana anda adalah 120," sontak tepuk tangan bergemuruh dan mereka saling berpelukan.
"Memang ini melewati batas dari skor yang telah ditargetkan yaitu 100, tapi melihat ketiga busana ini, tim juri kami memberikan skor tinggi," kata Clay sambil memberikan kembali kertas pada tim juri.
"Bara, kamu boleh memilih salah satu gaun untuk peragaan busana nanti, sisanya akan kami jadikan pameran," kata Clay membuat Bara tersenyum senang dan bahagia.
"Terima kasih banyak tuan," kata Bara lalu mereka saling berjabat tangan.
"Oh ya kalau begitu saya pamit dulu, pesawat kami nanti malam, jadi kita harus cepat kembali ke hotel," pamit Clay pada Bara.
"Oh ya nona muda terima kasih banyak atas bantuanmu hari ini," kata Clay sambil menepuk bahu Sela.
"Sama- sama tuan, oh ya mobil anda sudah selesai diperbaiki oleh para bodyguard dan bisa digunakan kembali," Clay terkagum dengan Sela.
"Wah kamu sangat memudahkan kami nona, terima kasih banyak atas semua bantuanmu," kata Clay lalu pamit untuk undur diri karena mereka harus kembali ke hotel.
Setelah Clay dan rombongannya pergi, semua karyawan, Dea, Rendy dan juga Reno berteriak kesenangan dan saling memeluk satu sama lain.
"Akhirnya kita bisa melewati babak kedua ini," kata Dea senang tapi tidak dengan Bara yang terlihat kebingungan.
"Bentar- bentar, saya bingung dengan kalian semua, sebenernya apa yang terjadi, kenapa hanya saya yang tidak tahu," tanya Bara pada mereka semua membuat Sela menahan senyumnya.
"Tanya aja pak sama Sela, ini semua rencana dia," kata semua karyawan sambil menatap Sela.
Bara menoleh ke belakang menatap Sela untuk meminta jawabannya. Sela mulai menceritakan rencana yang dia buat bersama karyawan.
○○○
Bradsiton dan Rose tersenyum kesenangan saat mendengar telepon dari Clay tentang keberhasilan Bara dan bantuan Sela pada Clay.
"Lihatlah pa Sela belum jadi menantu kita aja udah banyak bantu Bara, gimana nanti kalau jadi menantu mama," kata Rose sangat senang saat Clay menceritakan tentang Sela yang membantunya.
"Mama ini, kalau Bara denger pasti marah," kata Bradsiton pada istrinya.
"Kenapa emang iya kok, kalau Bara enggak mau nikah sama Sela kan masih ada Rendy," kata Rose membuat Bradsiton menggelengkan kepalanya.
"Semoga aja kelak Sela yang menjadi jodohnya Bara," gumam Bradiston yang diangguki oleh Rose.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
**Flashbacknya part selanjutnya aja ya
ini udah kepanjangan takut kalian bosan.
Jangan lupa ya buat kasih hadiahnya sama like dan komen.
__ADS_1
Terima kasih buat semuanya😚💜**