Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Berubah


__ADS_3

☆•☆•


"Wahh calon istri gue tambah cantik aja nih," kata Rendy sambil berdecak kagum kala melihat Sela untuk kali pertama setelah 3 tahun ini.


"Digampar pawangnya baru rasa lo," kata Reno sambil menoyor kepala Rendy agar sadar.


"Ayo Sel masuk," ajak Rendy sambil membawakan koper bawaan Sela.


"Makasih," kata Sela sambil tersenyum manis. Bahkan beberapa bodyguard dibuat kagum akan perubahan drastis Sela.


Sangat perfect


Cittttt


Mobil sport milik Bara terhenti tepat di depan rumah membuat semuanya menatap sang empu yang baru saja keluar dari mobil.


"Nah itu Bara," kata Rendy sambil menatap Bara yang berjalan menghampiri mereka.


Tapi nyatanya Bara hanya melewati Sela dan Rendy tanpa menyapa sepatah katapun.


Atau bertanya sesuatu pada Sela.


Semua menatap Sela dan Bara bergantian, apa ada masalah dengan keduanya.


"Udah ayo masuk," ajak Rendy pada Sela yang tahu akan sikap keduanya.


Sela sedikit canggung untuk masuk ke dalam rumah Bara.


Rasa bersalah dan menyesal itu terus menghantui dirinya.


"Eh Ren," kata Sela membuat langkah Rendy dan Reno terhenti.


"Boleh enggak aku tidur di kamar aku dulu di lantai 2?" tanya Sela membuat Reno dan Rendy saling menatap satu sama lain.


"Kamar mu kan di lantai 3 Sel, di sana aja entar Bara marahi kita lagi," kata Reno yang diangguki oleh Rendy.


"Enggak papa dah Ren aku di lantai 2 aja, sini aku bawa sendiri kopernya," kata Sela hendak meraih koper miliknya namun Rendy menahannya.


"Ehh iya- iya biar gue aja yang bawa, iyadeh lo tidur di kamar dulu enggak papa," kata Rendy yang masuk ke dalam lift menuju lantai 2.


Rendy mengantar Sela ke kamarnya dulu yang berada di lantai 2.


"Udah lo istirahat aja dulu, entar biar gue yang bicara sama Bara," kata Rendy membuat Sela mengangguk dan tersenyum manis.


"Kita tinggal dulu ya Sel," pamit Reno sambil menarik tangan Rendy yang masih betah berlama- lama dengan Sela.


"Apaan sih tarik- tarik gue," dumel Rendy saat Reno menariknya paksa keluar dari kamar Sela.


"Daripada kita yang diterkam Bara mending kita lanjut masak aja," kata Reno sambil menuruni tangga yang juga diikuti Rendy.


"Oh iya ikan gue masih di tlefon," teriak Rendy membuat Reno langsung berlari ke dapur.


"Kan gue kalau temenan sama Reno pasti sama- sama tololnya, ada lift malah turun pakai tangga, duh senangnya hatiku saat jadi bego," gumam Rendy pada dirinya sendiri sambil berjalan menuju dapur.


Sedangkan di kamar paling atas Bara sedang berbaring di king sizenya sambil berdiam diri.


Ia sedang berpikir mengenai hati dan perasaannya terhadap Sela.


Sayang?


Iya, jangan diragukan lagi, Bara benar- benar sayang sama Sela.


Tapi dia masih tidak bisa kembali dekat dengan Sela untuk saat ini.


Karena itu Bara masih berpikir, apa benar tentang tindakannya ini?


.


.


.


Keesokan paginya Sela kini sedang bergelut di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


Dan kalian tahu apa yang sedang para bodyguard lakukan.


Menonton Sela masak.


Sama seperti halnya pertama kali Sela datang ke rumah Bara.


Sudah pukul 7 tapi Bara tidak juga keluar, apa dia masih tidur atau sakit?


Bukankah hari ini waktunya ia berangkat ke kantor?


"Yeay makanan udah siap," kata Sela sembari membawa mangkuk besar berisi nasi goreng seafood kesukaan Bara membuat mata para bodyguard berbinar.


Terlebih Rendy dan Reno yang sudah ngiler meski hanya menatap nasi goreng dalam mangkuk besar itu.


Ting


Semua mata menatap ke arah lift yang terbuka dan menampilkan Bara yang sudah rapi dengan kemeja kantornya.


"Eh Bar yuk sarapan," ajak Rendy sambil menghampiri Bara dan mengajaknya ke meja makan.


"Enggak perlu gue udah kenyang," jawab Bara dingin membuat hati Sela merasa sakit.


"Kalian semua, ngapain duduk di sini? Apa kalian tidak punya kerjaan?" bentak Bara pada para bodyguard.


Seketika semua tidak jadi sarapan dan langsung turun ke bawah untuk kembali berjaga.


Biasanya jam segini para bodyguard selesai masak lalu makan.


Karena sekarang yang masak Sela jadi mereka tinggal nunggu makan aja.


Tapi karena mood Bara jelek jadi mereka tidak jadi makan.


"Lo kenapa sih, sekarang kan waktunya sarapan. Itu Sela udah masak buat kita semua, sarapan gih," kata Rendy menyuruh agar Bara sarapan.


"Gue enggak laper," katanya lalu kembali masuk ke dalam lift. Sela hanya bisa diam dan menunduk.


Rendy yang merasa kasihan dengan Sela meminta agar Reno memanggil para bodyguard untuk makan.

__ADS_1


"Enggak papa Sel kita bakal makan ini semua kok tenang aja," kata Rendy yang sangat antusias untuk mengambil makanannya.


"Rendy aku berangkat dulu ya ke kantor," kata Sela pamit untuk pergi ke kantor.


"Ehh tapi lo enggak sarapan dulu gitu, kan lo udah masak buat kita," kata Reno merasa kasihan pada Sela.


"Enggak usah deh nanti aja di kantor sama kak Dhea," jawab Sela yang langsung menyambar tasnya dan turun ke lantai bawah.


"Ya tuhan kasian banget calon istri gue," gumam Reno sambil makan nasi gorengnya.


"Lo bilang calon istri sekali lagi, gue panggang lo," ancam Rendy sambil menatap tajam Reno.


Sela pergi ke kantor menggunakan taksi yang sudah ia pesan.


Meksi tadi pak Asep sedikit memaksa untuk mengantarnya ke kantor, tapi Sela menolaknya karena merasa tidak enak dengan Bara.


Mungkin besok Sela akan mencari tempat tinggal sementara, sepulang dari rumah sakit menjenguk ibunya.


Untuk sekarang mungkin ia akan sedikit bertahan untuk menyikapi sikap dingin Bara.


Hal itu terjadi juga karena dirinya.


Jadi, Sela juga yang akan memperbaikinya.


.


.


.


Sesampainya di kantor Sela langsung menuju ruangannya.


Di mana ruangannya satu ruangan dengan Bara.


Ceklek


Sela terdiam saat Laura duduk manis di meja kerjanya.


Tenang Sela.


Sela berjalan pelan menuju meja Bara untuk menanyakannya.


"Tuan kenapa Laura berada di meja kerja saya?" tanya Sela sesekali menatap Laura yang kini sedang tersenyum mengejek ke arahnya.


"Hari ini dia yang akan jadi sekretaris saya, sekarang ruangan kamu bersama Dhea," jawab Bara namun tidak berani menatap mata Sela dan hanya menatap berkas di depannya.


"Lantas apa pekerjaan saya sekarang?" tanya Sela membuat Bara menghembuskan napasnya kasar.


"Tanyalah pada Dhea, kamu akan tahu nanti," jawabnya malas sambil melemparkan bolpoinnya ke meja.


Tok tok tok


"Permisi tuan, model yang anda minta sudah datang," kata Dhea sambil tersenyum ke arah Sela karena ini kali pertamanya mereka bertemu sejak 3 tahun ini.


"Suruh masuk," pinta Bara lalu masuklah seseorang yang akan menjadi model kali ini.


Sela tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat Gabriela masuk dengan senyum manis di bibirnya.


Apa Gabriela modelnya?


"Kalau lo enggak suka pergi aja," kata Bara sambil memainkan kursi putarnya.


Sela tidak habis pikir dengan kelakuan Bara kali ini.


Seakan dia bisa mempermainkan semua wanita.


Langkah Sela menuju meja kerjanya untuk mengambil semua peralatan juga berkas kerjanya, membuat semua orang menatapnya.


Termasuk Bara.


"Udah buruan bawa pergi tuh barang lo," kata Laura sambil mendorong kotak yang berisi peralatan Sela.


Sela hanya diam tak menjawab namun Bara menatap tajam Laura tanpa sepengetahuannya.


"Ayo Sel," ajak Dhea yang sudah mengerti karena tadi Bara memberitahunya.


Bara menatap kepergian Sela tanpa kembali menatapnya.


Sebenarnya dia sangat malas berurusan dengan dua wanita ini.


Tapi? Sudahlah.


"Sel aku kangen banget tahu enggak sih sama kamu," kata Dhea memeluk erat Sela saat mereka tiba di ruangan Dhea.


"Aku juga kak," kata Sela membalas pelukan Dhea.


"Sel kamu ada masalah ya sama tuan Bara?" tanya Dhea penasaran.


"Ceritanya panjang," jawab Sela malas untuk membicarakan hal sensitif itu.


"Dhea buruan dandani dia," pinta Bara di ambang pintu sambil melihat punggung Sela yang tidak berbalik untuk menatapnya.


Dhea melirik Gabriela yang juga sedang menatapnya remeh.


Malas sekali Dhea mendandani wanita ini.


"Baik tuan. Bentar ya," pamit Dhea pada Sela untuk mendandani Gabriela.


Sela menghela napas lalu duduk sambil menunggu Dhea merias Gabriela.


"Gue kira lo di London tambah sukses, ehh enggak tahunya sama aja," sindir Gabriela sambil menatap Sela dari pantulan cermin rias.


Dhea ingin sekali menampol wajah Gabriela tapi ia tahan.


"Sama, kukira 3 tahun ini kamu berubah, nyatanya sama saja," kata Sela tidak dilanjutkan membuat Gabriela menatapnya dari pantulan cermin.


"Selalu merebut milik orang lain," tambah Sela membuat Gabriela menggeram kesal.


"Lo enggak tahu diri banget sih jadi cewek, aww sakit tahu enggak," teriak Gabriela saat Dhea dengan sengaja menginjak kakinya.


"Oh enggak kelihatan," kata Dhea biasa saja tanpa rasa bersalah dan meminta maaf.

__ADS_1


"Lo aja numpang sama orang pakai acara belagu segala," kata Gabriela melanjutkan hinaannya pada Sela.


Sela hanya menanggapinya dengan senyum manis.


"Ya enggak papa sih numpang orang asal harus tahu diri aja," sindir Sela akan kelakuan Gabriela mengingat saat menginap di rumah Bara waktu itu.


Gabriela menggenggam tangannya erat, Sela benar- benar membuatnya marah.


Dia tidaklah Sela yang dulu, bahkan Dhea aja merasa terkejut dengan perubahan Sela.


"Dhea udah selesai belum?" tanya Bara membuat Sela memalingkan wajahnya.


"Sudah tuan," Bara mengangguk lalu meminta Dhea agar membawa Gabriela ke studio.


Dhea keluar lebih dulu bersama Bara, sedangkan Gabriela menghampiri Sela sebentar yang kini sedang duduk di sofa.


"Asal lo tahu, sampai kapanpun gue bakal berusaha buat nyingkirin lo dari tempat Bara," kata Gabriela sambil menggenggam erat lengan Sela.


Sela berdiri lalu memutar tangan Gabriela dan balik menggenggamnya.


"Jangan terlalu bangga, karena kamu hanya sebagai persinggahan semantara, tempat untuk selamanya cuma Sela," kata Sela sambil menekankan namanya di akhir kata.


Sela lalu pergi keluar untuk menyusul Dhea, Sela merasa bosan berada di ruangan terus menerus.


Gabriela mendengus sebal, sikap Sela tidak bisa dibiarkan begitu saja.


Dengan emosi yang memuncak Gabriela berjalan menuju studio foto.


Sesi pemotretan sudah dilakukan, tapi sayangnya pemotretan kali ini berjalan sangat lama.


Jika Sela sebagai modelnya hanya perlu waktu 15 menit semua selesai.


Tapi kali ini fotografer bahkan berkali- kali harus mengulangi.


"Sudah cukup," teriak Bara mengintruksi Dhea dan fotografer untuk istirahat.


"Tuan maaf jika menunggu lama, tapi kita hanya bisa mendapatkan 3 foto terbaik untuk model baju ini," lapor fotografer itu pada Bara.


Bara memandangi foto- foto Gabriela, memang benar hanya sedikit yang terlihat bagus.


Nyatanya sangat berbeda sekali jika Sela yang jadi modelnya.


"Ya sudah kita lanjut saja nanti, sekarang kita istirahat dulu dan makan siang," kata Bara sambil sesekali melirik Sela.


Bahkan hal sekecil itu tak lepas dari pandangan Dhea.


"Baraa," panggil Laura sambil meneneng rantang makanan yang selalu ia bawakan untuk Bara.


"Nih makan siangnya," kata Laura sambil memberikan rantang makanan pada Bara.


"Ehh enggak usah Bara mau makan siang sama gue," kata Gabriela sambil mendorong rantang makanan Laura.


"Sel ayo kita makan siang di kantin," ajak Dhea yang mengerti posisi Sela saat ini.


"Ayo," jawab Sela sangat antusias sambil menggandeng lengan Dhea tanpa melirik Bara sedikitpun.


Bara menatap Sela yang pergi begitu saja dengan Dhea.


"Ayo Bara kita makan siang," ajak Gabriela pada Bara.


"Gue enggak laper," jawabnya ketus lalu pergi kembali ke ruangannya.


"Kan gara- gara lo sih," kata Laura lalu menyusul Bara.


Gabriela mendengus sebal dengan semua orang di kantor ini.


Sangat menyebalkan.


Bara hanya duduk diam di kursi kerjanya sembari menatap ponselnya.


Laura yang melihat aura Bara seperti itu merasa takut, jadi dia hanya bisa diam.


Tok tok tok


"Sela sayang....," Rendy berhenti berteriak saat melihat meja kerja Sela kini di tempati Laura.


"Calon istri gue mana?" tanyanya pada Bara sambil berjalan menghampiri meja kerja Bara.


Bara hanya diam dan menatap Rendy yang seperti tak punya dosa.


"Oh gue lupa kalau lo sakit gigi," gumam Rendy pelan namun Bara masih bisa mendengarnya.


"Kenapa bisa lo yang ada di meja kerja istri gue?" tanyanya mengintimidasi Laura.


"Oh cewek kampungan itu...,"


"Jaga bicaramu," teriak Rendy dan Bara bersamaan hingga membuat Laura terkejut dan terdiam.


Rendy melirik Bara dan menggodanya dengan kerlingan matanya.


"Orang Bara sendiri yang nyuruh bukan kemauan gue," kata Laura membuat Rendy menganga tidak percaya.


Rendy kembali menghampiri Bara ke meja kerjanya.


"Lo waras kan?" tanya Rendy sambil memeriksa kening Bara.


"Lo kira gue gila?" kata Bara sambil menepis tangan Rendy.


"Bisa- bisanya penerus gue kayak mak lampir gini, ini mata lo katarak atau gimana sih?" tanya Rendy heran dengan Bara.


"Enggak usah banyak omong lo, kerjain tuh berkas habis itu salin di file gue," suruh Bara pada Rendy dan keluar begitu saja meninggalkan dua orang tersebut.


"Enak banget tuh orang nyuruh gue," gerutu Rendy yang berniat untuk menggoda Sela malah berujung diperintah Bara.


Rendy langsung duduk di kursi Bara dan menyalakan laptopnya.


Rendy terkejut saat melihat wallpaper laptop Bara.



Kayaknya dia enggak asing sama gambar ini.

__ADS_1


Dia merasa dejavu.


Masak iya ini foto dia?


__ADS_2