Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Ternyata •••


__ADS_3

□■□■


Bara telah tiba di kediaman papanya, tapi sepertinya ada yang aneh.


Kenapa banyak sekali jajaran mobil- mobil mewah di depan rumah papanya.


Bara memarkirkan mobilnya di depan rumah lalu di sambut baik oleh pengawal papanya.


"Tuan muda sudah ditunggu di ruang kerja bapak," kata pengawal memberitahukan sesuai perintah Bradsiton tadi.


"Apa ada tamu?" tanya Bara melihat begitu banyaknya jajaran mobil mewah yang sepertinya bukan mobil khas negara Kanada.


"Lebih baik tuan muda langsung saja masuk agar lebih jelasnya," kata pengawal itu tidak mau mengulur waktu.


Bara langsung masuk ke dalam rumah dan menuju ruang kerja papanya.


Tok tok tok


Bara membuka pintu semua mata sedang menatapnya.



"Permisi," kata Bara lalu masuk ke dalam untuk bergabung bersama mereka.


Bara duduk di samping papanya dan melihat orang- orang asing yang mengelilingi meja kerja papanya.


Siapa mereka semua?


"Perkenalkan ini putra saya, Aldebaran," kata Bradsiton memperkenalkan Bara pada mereka semua.


"Bara mereka semua adalah agen FBI yang diperintahkan oleh Presiden Amerika untuk kemari," kata Bradsiton menjelaskan pada Bara.


"Memang ada apa pa?" tanya Bara tidak mengerti. Bradsiton menatap mereka semua satu persatu.


"Ini kartu kami," kata salah satu agen FBI sembari menyodorkan identitasnya.



Bradsiton berdiri lalu menyalakan hologram yang tidak jauh dari mereka duduk.


Agen bernama Robert yang tadi menyodorkan identitas ikut berdiri di samping Bradsiton untuk menjelaskan detailnya.



"Tuan tahukah anda tentang Felix?" tanya Robert pada Bara dan dijawab hanya dengan anggukan.


"Felix adalah tahanan yang kabur dari penjara pada malam selasa tanggal 18 Mei tepatnya 2013. Di mana saat itu ia akan dipindahkan ke penjara ruang bawah tanah yang berada di Boston, sayang dia kabur begitu saja dan belum ketemu hingga sekarang ini,"


"Kejahatan yang dia lakukan sudah begitu marak dan begitu banyak. Karena itu negara meminta untuk menghukum mati tapi sayang dia kabur dari tahanan," Robert berjalan menghampiri Bara sembari memberikan beberapa lembar foto identifikasi.


"Ini adalah foto pembunuhan istrinya yang dilakukan oleh Felix sendiri kala sang istri tahu jika dia kabur dari tahanan," kata Robert menjelaskan pada Bara.



"Dia mempunyai seorang putra dan berhasil kabur saat tahu ibunya dibunuh, mungkin jika ia masih hidup, dia berusia sepantaran dengan anda," kata Robert membuat Bara berpikir dan menatap foto di tangannya.


Robert kembali berdiri bersama Bradsiton untuk memberitahukan beberapa info lagi pada Bara.


"Sudah banyak orang yang ia bunuh, entah itu saudara, teman, kawan atau istrinya sendiri. Dan di manapun dia berada pasti dia akan memiliki foto orang- orang yang sudah ia bunuh dengan coretan semacam ini," kata Robert sembari memperlihatkan sebuah foto.



"Foto ini cuma bukti satu- satunya untuk memperkuat hukuman Felix dan ini diambil terakhir saat kami menggeledah markas Felix bersama kawanannya,"


"Kami dengar jika Felix setelah kabur dari tahanan ikut kelompok mafia dan belajar psikopat, tapi sayang keberadaannya tidak bisa kita deteksi,"


"Lantas apa sekarang kalian masih bisa mendeteksi di mana dia berada?" tanya Bara setelah sedari tadi diam.


"Itu permasalahannya, terakhir kabar yang kami dengar Felix telah menikah kembali dengan seorang janda yang beranak satu, tapi sampai sekarang kami belum bisa mendeteksi dimana dia tinggal," semua seakan berpikir keras untuk bisa menemukan keberadaan Felix.


Bradsiton dan Robert kembali duduk setelah selesai menjelaskan detail tentang Felix.


"Dan papa anda memberikan sebuah informasi penting jika orang ini kemungkinan besar adalah Felix," kata Robert sembari memperlihatkan sebuah file tentang semua kejahatannya.


"Walles?" tanya Bara sembari menatap papanya.


"Iya Bara, kamu ingat Sela pernah papa minta untuk menyalin semua kejahatan Walles tentang penggelapan barang terlarang, uang perusahaan Reynald dan masih banyak kejahatan lainnya. Tapi siapa yang tahu jika Sela menyalin semua file tanpa terkecuali,"


"Maksud papa?"


"Sela menyalin semua kejahatan Walles pada perusahaan Reynald, tapi setelah papa periksa sekali lagi ternyata ada sesuatu yang menjanggal tentang data akses Amerika dan papa langsung menghubungi mereka semua untuk datang ke sini," kata Bradsiton menjelaskan pada Bara.


"Sebenarnya apa tujuan utama Felix melakukan kejahatan ini?" tanya Bara masih belum paham.



Robert menatap serius Bara dan Bradsiton seakan dia ragu untuk memberitahukan pada mereka berdua.


Bradsiton yang paham akan maksud Robert langsung menyalakan tombol kedap suara 3 lapis dengan menekan tombol di sebelahnya.

__ADS_1


"Ruangan ini sudah kedap suara dengan dinding 3 lapis dan akan berbunyi saat ada seseorang yang melewatinya," Robert tersenyum pada Bradsiton, dengan begini ia bisa cerita dengan leluasa.



"Ini adalah foto bunuh diri kakak Felix saat di penjara, malam itu kami menemukan ia sudah tidak bernyawa saat besok akan dieksekusi untuk di hukum mati. Semenjak kejadian itu membuat Felix balas dendam akan aparat hukum Amerika serikat, dia menunduh jika kami telah membuat kesalahan yang fatal pada kakaknya,"


"Tanpa ia ketahui jika sebenarnya kakaknya meninggal karena bunuh diri. Semenjak itu Felix menjadi liar dan buas, ia melakukan berbagai banyak kejahatan dan selalu berlindung entah di tempat mana,"


"Dan dia berniat untuk menghancurkan negara Amerika dengan meluncurkan Rudal Balistik jarak medium dengan daya jelajah 1.000- 3.000 km. Untuk bisa membuka kunci dari Rudal, kami agen FBI memberi 3 chips yang saling berhubungan satu sama lain,"


"Di mana dalam chips tersebut ada sebuah kode jika Felix bisa menemukan chips Pukguksong no.1 dia akan bisa menemukan chips Pukguksong no.2 dan no.3 karena chips tersebut berisi kode antara chips satu dengan lainnya," jelas Robert membuat Bara berpikir begitupun para agen FBI dan juga Bradsiton.


"Lantas siapa yang memegang semua chips tersebut?" tanya Bara ingin lebih tahu detailnya.


"Pukguksong no.1 di pegang oleh George Chipulonis, Pukguksong no.2 di pegang oleh Maxiton Chipulonis dan Pukguksong no.3 di pegang oleh Wijaya Chipulonis," Bara melebarkan matanya saat mendengar nama yang tidak asing baginya.


"Pa bukankah Maxiton dan Wijaya?" kata Bara pada Bradsiton.


"Iya benar, Maxiton adalah ayah dari Sela dan merupakan sahabat lama papa, begitu juga dengan Wijaya ayah dari Reynald dan Dewa. Karena itu papa saat di London meminta Sela untuk melakukan tes DNA dan ini hasilnya," kata Bradsiton memberikan pada Bara.


"Apa anda tahu keberadaan putri Maxiton dan putra Wijaya?" tanya Robert dengan sangat antusias.


"Putri Maxiton adalah calon menantu saya sedangkan putra dari Wijaya adalah teman dekat anak saya," jelas Bradsiton membuat Robert tersenyum sumringah.


"Boleh saya lihat hasil tes DNA nya?" tanya Robert dan Bara langsung memberikannya.


Robert memeriksa dan mencocokkannya dengan hasil tes DNA dari Maxiton dan Wijaya.


"It's real, good. Ini adalah keajaiban bagi kita semua, dengan kita bisa menyelidiki putra putri mereka, kita akan tahu di mana letak chips itu berada sebelum Felix menemukannya," kata Robert membuat Bara sedikit bingung.


"Maksud tuan?" tanya Bara pada Robert.


"Maxiton meninggal karena dibunuh oleh Felix, dan Felix mengira jika chips tersebut dipegang oleh Maxiton tapi nyatanya tidak ada. Biasanya mereka menyimpannya pada benda yang menempel seperti perhiasan pada putra putri mereka atau bahkan istri mereka,"


"Dan agen FBI yang akan mengambilnya saat tahu jika pemegang chips telah meninggal atau dalam keadaan darurat. Sedangkan Wijaya meninggal karena keracunan bunga aconite dan Felix juga gagal mendapatkan chips nya,"


"Dari situ kita tahu jika kita mempunyai dua sosok yang memegang chips, antara putri Maxiton atau istrinya dan antara dua putra Wijaya atau istrinya," kata Robert membuat Bara seketika berpikir tentang Sela.


"Lantas jika salah satu dari mereka ada yang meninggal entah itu ibu atau anaknya, lalu bagaimana dengan chipsnya?" tanya Bara penasaran.


"Itu akan lebih baik terkubur daripada berada di tangan yang salah seperti Felix," jawab Robert dengan nada sedikit putus asa.


"Lantas apa langkah kita saat ini?" tanya Bradsiton pada Robert.


"Pertama, tolong jaga baik- baik calon istri anda selama kami menunggu surat perintah dari atasan, jangan sampai ia jauh dari pandangan anda,"


"Kedua kita harus bisa mendeteksi di mana Felix sekarang tinggal," kata Robert seakan membuat Bara sedikit berpikir dengan logika.


"Antara dia keluar negara atau," Bara tidak melanjutkan ucapannya membuat semua orang seakan bertanya- tanya.


"Operasi wajah," semua seakan langsung berpikir keras dan menggunakan logika mereka.


"Benar apa yang anda katakan, bisa saja Felix keluar negara atau operasi wajah dengan menggunakan identitas baru," kata Robert membuat Bara berprasangka pada satu orang yang ia takuti.


"Bagaimana jika dia adalah Felix?" semua menatap Bara seakan membenarkan dan bertanya- tanya.


Apakah iya?


□■□■


Sedangkan di lain tempat dengan waktu yang sama.


Ada Sela dan Gabriela yang sedang berada di area ring tinju.



Sela menatap tajam Gabriela yang kini juga menatapnya.


"Buruan lo mau apa kesini?" tanya Gabriela sembari mengunyah permen karetnya.


Sela berjalan mendekati Gabriela lalu memegang kedua bahunya.


"Kali ini aku akan membalaskan dendam ibuku. Nyawa harus dibayar dengan nyawa, kau tahu itu?" kata Sela dengan sangat santai dan pelan.


"Wanita sepertimu memang apa yang lo bisa?" kata Gabriela meremehkan kemampuan Sela.


Sela hanya tersenyum samar lalu menatap Gabriela santai.


"Jangan nilai diriku dengan standar rendahmu," balas Sela membuat Gabriela tersenyum miring.


"Tapi sepertinya terlalu baik jika aku harus membunuh seorang pengkhianat dengan cepat, tapi terlalu lama jika aku harus menunggu karma bekerja," kata Sela sambil melepaskan jaketnya dan bersiap untuk bertarung.


Gabriela meludahkan permen karetnya, lalu maju ke depan untuk mendekati Sela.


"Jika lo emang punya kemampuan, ayo kita adu," ajak Gabriela yang mulai terpancing emosi.


Sela hanya tersenyum manis lalu kembali memegang kedua bahu Gabriela.


"Psikopat memang bertugas membunuh, tapi apa kamu mempunyai kemampuan lain selain membunuh," ejek Sela membuat kedua tangan Gabriela mengepal kuat.

__ADS_1


*Bugh


Bugh*


Gabriela menyerang Sela dengan tiba- tiba, untungnya Sela memiliki respon cepat dalam menangkis semua pukulannya.


Keduanya langsung beradu dalam hal pertarungan ini.


Keduanya terlihat sama- sama kuat dan tidak mau mengalah.


Bahkan Gabriela dibuat takjub karena kemampuan Sela yang sangat lihai dan cepat dalam menangkis semua pukulan yang ia berikan.


Bugh


Sela bahkan membanting Gabriela hingga terjatuh di lantai ring.


"Gue enggak nyangka kalau lo bakal jadi orang jahat," kata Gabriela sambil menahan sakit karena pukulan Sela.


"Aku jahat itu semua karena perbuatanmu," jawab Sela lalu melepaskan genggaman kuat di kedua tangan Gabriela.


"Ingin kuberitahu sesuatu?" tanyanya pada Gabriela yang masih tergeletak di lantai ring sembari menatapnya tajam.


"Anjing selalu dijadikan mainan karena suka menggonggong sedangkan singa ditakuti karena diamnya," perkataan Sela lebih tepat untuk Gabriela, rasanya seperti anak panah yang tepat akan sasarannya.


Gabriela spontan langsung berdiri dan mencengkeram kedua bahu Sela.


"So, tahukan siapa anjing dan singanya?" tanya Sela mengejek Gabriela.


*Bugh


Bugh*


Sela mundur beberapa langkah saat Gabriela dengan tiba- tiba menendang pergelangan kakinya yang masih sakit dan diperban.


Tes


Darah segar membasahi perban dan keluar begitu saja.


"Duh sorry, sakit ya, kasiannya," kini giliran Gabriela yang mengejek Sela.


"Luka ini enggak seberapa dibanding punya sahabat psikopat sepertimu sekaligus seorang pembunuh," kata Sela membuat senyum di bibir Gabriela perlahan memudar.


"Sudah berapa kali gue bilang, bukan gue pembunuhnya," bentak Gabriela dengan nada sangat tinggi. Sela hanya tersenyum miring mendengar pengakuan Gabriela.


"Jangan maling teriak maling, siapa yang akan kamu tuduh disaat kamu sendiri seorang psikopat," kata Sela membuat Gabriela kembali memberikan pukulannya.


*Bugh


Srettt*


"Aww," kata Sela merintih kesakitan saat lenganya tergores oleh pisau kecil di tangan Gabriela.


"Upss kena ya?" tanya Gabriela sembari menatap pisau kecilnya yang terdapat darah segar milik Sela.


"Gabriela," keduanya terkejut saat mendengar suara teriakan itu dengan sangat lantang hingga menggema di ruang ring tinju.


"Bara?" gumam Sela sembari menatap Bara yang berjalan tergesa menghampiri Gabriela dengan kedua tangan yang mengepal kuat.


"Dasar jalang," bentak Bara hendak menampar Gabriela namun dengan cepat Sela memeluk Bara dari belakang.


"Bara aku enggak papa, jangan sakiti dia," kata Sela sembari memeluk erat Bara dari belakang.


Bara menatap tajam dan bengis pada Gabriela yang hanya tersenyum miring.


Bara melihat bajunya ada warna merah dan ternyata lengan Sela mengeluarkan darah segar dan terdapat goresan pisau.


"Apa dia yang menyakitimu?" tanya Bara dengan nada yang tidak bisa dibilang santai.


"Sudah aku tidak apa- apa, ayo pulang," kata Sela sembari menahan rasa pusing di kepalanya.


Bara kembali berbalik untuk menampar wajah polos Gabriela yang sangat menjengkelkan tapi


Bugh


●○●○


Klik


Lampu menyala terlihat begitu rapi ruang bawah tanah yang Walles sembunyikan dari anak dan istrinya.



Ia berjalan menuju jajaran berbagai macam senjata yang ia pajang di dinding.


"Sudah lama aku tidak menggunakannya," gumamnya pelan sembari menyentuh senjata simpanannya.


"Rasanya akan menyenangkan saat bermain- main dengan Bradsiton dan kawanannya," tawa Walles pelan saat membayangkan sesuatu.


"Ok, tunggu waktunya aku akan menggunakan kalian semua," kata sembari mencium senjatanya dan mematikan lampunya.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2