Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Prewed


__ADS_3

《♡♡》


Hari ini semua keluarga sedang berkumpul untuk membahas sesuatu hal yang penting.


Sebelumnya tadi, Reno sedang mengenalkan Dea pada Bradsiton dan Rose.


Lalu disusul Rendy dan Laura.


Setelah semua berkumpul Bradsiton langsung membahas ke inti yang ingin ia sampaikan.


"Karena kalian berdua sudah mempunyai pasangan masing- masing, lantas kapan kalian akan ke jenjang yang lebih serius lagi?" tanya Bradsiton pada kedua putranya.


"Pa Rendy dan Laura sudah siap untuk menikah karena itu kami berdua ingin meminta doa restu dari papa dan mama," kata Rendy membuat Bradsiton tersenyum lebar.


"Lantas kamu son, bagaimana?" tanya Bradsiton pada Reno.


"Reno dan Dea juga ingin segera ke jenjang yang lebih serius pa dan Reno juga ingin meminta doa restu dari papa dan mama," kata Reno membuat Bradsiton merasa bangga oleh mereka berdua.


"Ok sekarang kapan tanggal nikahnya, semua akan papa bantu siapkan?" tanya Bradsiton membuat Reno dan Rendy saling menatap satu sama lain.


Secepat itu?


"Pa apa harus secepat ini?" tanya Rendy merasa jika hal ini begitu mendadak dan sangat cepat sekali.


Padahal Rendy dan Reno aja belum nentuin tanggalnya kapan.


"Lebih cepat lebih baik son, apa kalian tidak ingin cepat menyusul kakak kalian?" tanya Bradsiton membuat Rendy menggaruk tengkuknya.


"Pengin sih pa, apalagi honeymoonnya rame- rame, pasti bakalan seru," kata Reno membuat Bradsiton dan Rose tertawa mendengarnya.


"Karena itu ayo kita cepat laksanakan acara sakral ini," kata Bradsiton mendesak kedua putranya.


"Bagaimana jika pernikahan kalian berlangsung bersama?" usul Rose membuat Rendy dan Reno tersenyum lebar mendapat usulan dari Rose.


"Oh iya, kenapa kita enggak barengan aja acara pernikahannya," kata Rendy yang diangguki oleh Reno.


"Sayang kamu mau kan kalau acara pernikahannya barengan sama Rendy?" tanya Reno pada Dea.


"Sayang kamu mau kan kalau acara pernikahannya barengan sama Reno?" tanya Rendy pada Laura.


Bradsiton tertawa saat melihat kekompakkan kedua putranya ini.


"Iya mau," jawab Dea dan Laura bersamaan membuat keduanya saling menatap lalu tertawa bersama.


"Baik semua sudah setuju sekarang tinggal papa siapin semuanya, kalian berdua siap- siap untuk prewed," kata Bradsiton membuat kedua pasangan ini begitu bersemangat.


"Beneran pa?" tanya Rendy merasa tak enak saat ia merepotkan Bradsiton begitu banyak.


"Iya son," seketika Reno dan Rendy langsung memeluk Bradsiton erat.


"Makasih pa," kata Rendy terlihat begitu bahagia sekali.


"Oh ya kalian mau outdoor atau di gedung kayak kakak kalian?" tanya Bradsiton pada kedua putranya.


Rendy dan Reno saling menatap lalu tersenyum senang saat keduanya memiliki kesamaan.


.


.


.


Sedangkan di pulau yang berbeda di bumi yang sama.


Ada Bara dan Sela yang sedang berberes karena besok Rendy dan Laura akan menikah.


Tapi karena bapak negara sangat menyayangi istrinya, jadi ia yang sedang membereskan semua barangnya.


Dan Sela hanya duduk diam di king size.


"Sayang bagaimana jika sebelum pulang kita jalan- jalan dulu?" tanya Bara pada Sela.


"Iya," jawab Sela lalu kembali memainkan ponselnya saling berbalas pesan pada Laura dan Dea yang kini sedang melakukan foto prewed dia jadi ingin cepat pulang ingin melihat mereka berdua.


"Sayang apa kamu tidak sarapan dulu, aku sudah memasak untukmu," kata Bara saat semua barangnya sudah tertata rapi di dalam koper.


"Tidak nanti saja," jawab Sela cepat membuat Bara yang tadinya melipat baju beralih menatap Sela.


Ternyata istrinya sedang asyik bermain ponsel dan senyam- senyum sendiri.


"Sayang sarapanlah dulu nanti kamu....,"


"Aku belum lapar," sahut Sela lalu kembali tersenyum saat melihat isi pesan yang dikirimkan Laura.


Bara melemparkan baju yang ia lipat tadi ke sembarang arah.


Ia paling tidak suka diabaikan seperti ini.


Bara berjalan menghampiri istrinya yang masih sibuk bermain ponsel.


"Ah Bara," teriak kesal Sela saat Bara dengan seenak jidatnya mengambil ponselnya.


"Siapa suruh kamu mengabaikanku," kata Bara kesal sambil mengangkat tinggi ponsel Sela.


"Siniin enggak," alamak kenapa sekarang jadi Sela yang galak.


"Cium dulu," kata Bara sembari memajukan pipinya di depan wajah Sela.


Sela menatap wajah Bara, kenapa suaminya ini begitu menyebalkan sekali.


Sela hendak mencium pipi kiri Bara namun dengan usilnya Bara menoleh dan alhasil mereka berdua berciuman.


Bara memasukkan ponsel Sela di sakunya lalu menarik Sela hingga terjatuh di king size.


"Kenapa kamu sangat cantik sekali hah?" tanya Bara saat Sela berada di atasnya dengan rambut terurai.


"Enggak usah ngalihin topik deh, siniin enggak ponselnya," kata Sela yang hendak bangun tapi Bara memeluk punggungnya erat.


"Sayang akhir- akhir ini moodmu selalu berubah- ubah, kenapa kamu suka marah- marah hah?" tanya Bara pelan sambil menyingkirkan rambut Sela yang terjuntai.


"Makanya jangan suka ganggu kalau orang lagi asyik," ketus Sela sambil menempelkan kepalanya di atas dada bidang Bara.


Bara tersenyum mendengar perkataan Sela.


"Sekarang gantilah pakaian, kita akan keluar untuk jalan- jalan," kata Bara sambil mengusap pelan punggung Sela.

__ADS_1


Sela tak juga beranjak dari atas tubuh Bara membuat Bara ingin sekali menggodanya.


"Sayang ini masih pagi, apa kau berniat untuk kembali melakukannya? Aku sudah berusaha menahannya sejak tadi," tanya Bara membuat Sela mengangkat kepalanya.


"Mesum banget jadi suami," ketus Sela lalu langsung bangun dari atas tubuh Bara.


Bara tertawa keras mendengar gerutuan Sela.


"Bukankah itu bebas? Aku suamimu," kata Bara pada Sela yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Tidak berlaku untukmu," teriak Sela dalam kamar mandi.


Oh ya, selama mereka bulan madu, mereka berdua belum pernah mandi bersama.


Karena Sela akan sangat marah saat Bara mengajaknya mandi berdua.


Tapi tidak apa, Bara juga tidak akan memaksanya, agar Sela merasa nyaman di dekatnya.


Sedangkan dalam kamar mandi Sela menepuk jidatnya kesal.


"Bego- bego Sela kenapa kamu bego, handuknya kan di luar, masak iya minta tolong Bara buat ambilin," dumel Sela sambil berjalan mondar- mandir di dalam kamar mandi.


"Tapi kalau enggak minta tolong kapan keluarnya dari sini coba," gumam lirih Sela sambil berpikir keras untuk bisa mencari cara lain.


"Sayang apa kamu lupa jubah mandimu?" Sela menutup mukanya saat Bara berteriak dari luar.


"Hmm iya, apa bisa kamu ambilkan?" tanya Sela merutuki mulutnya yang keceplosan.


"Baiklah ini," kata Bara yang ternyata sudah berada di depan pintu kamar mandi.


Dengan pelan Sela membuka pintu kamar mandi dan menjulurkan tangannya keluar pada celah kecil di pintu.


Dengan cepat Sela menarik jubah mandinya lalu menutup pintunya sebelum Bara masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan Bara tertawa geli melihat sikap Sela yang masih malu- malu.


Sela selesai mandi lalu beralih untuk memilih gaun.


Beberapa menit Sela sudah siap dengan make up yang natural.


"Sayang, ayo kita pergi," ajak Sela saat ia sudah rapi sedangkan Bara sedang duduk di sofa menunggunya.



"Ayo tunggu apalagi," kata Sela pada Bara.


Sedangkan Bara susah payah menelan salivanya kala melihat gaun yang dipakai istrinya.


Ia memalingkan wajahnya saat gairahnya terbangkitkan melihat Sela.


Tahan Bar masih pagi, batin Bara menatap arah lain agar tidak tergoda oleh penampilan istrinya, namun sepertinya tidak bisa.



Ia berjalan menghampiri Sela dengan menatap garang saat ia memakai gaun terbuka seperti itu.


Perlahan Sela berjalan mundur saat melihat tatapan Bara yang tidak biasa.


Dug


Cup


Bara mencium sekilas bibir Sela membuat Sela melebarkan kedua matanya.


"Sayang, apa kamu tidak tahu betapa susahnya menahan diri saat melihatmu memakai gaun seperti ini?" tanya Bara sambil mengangkat dagu lancip Sela.


"Memang kenapa sih hmpp,"


Bara langsung membungkam bibir Sela dan menyesap salivanya.


"Aku paling tidak suka milikku dinikmati banyak orang," bisik Bara tepat di telinga Sela membuat Sela merasa geli dan sedikit merinding.


Cup


"Ahh," Sela memejamkan matanya malu saat ia dengan lancarnya mendesah ketika Bara mencium leher jenjangnya.


Bara tersenyum saat Sela tidak bisa menahan desahannya.


"Bara kamu hmpp," Bara kembali membungkam bibir Sela membuat Sela terdiam dan hanya memejamkan kedua matanya menikmati ciuman Bara.


Lalu ciuman itu beralih turun ke leher membuat Sela mencengkeram kuat punggung Bara.


Tidak lupa tangan Bara yang juga ikut aktif bermain untuk menyingkap gaun Sela.


"Ahh Bara," desah Sela saat Bara menyingkap gaunnya dengan jari panjangnya.


Bara sudah tak tahan lagi, ia membimbing Sela menuju king size.


Bara membaringkan Sela di king size dengan perlahan lalu melepaskan jas hitamnya.


"Bara katanya mau jalan kok hmpp," Bara langsung membungkam bibir Sela dengan sedikit brutal dan kasar.


Bara begitu agresif dan begitu bergairah.


Dengan nakalnya jari panjang itu membelai paha Sela dengan sentuhan hangat tanpa melepaskan ciumannya.


Bara meraba sesuatu di dekat Sela lalu menekan remot kontrol itu dan perlahan jendela tertutup rapat.


"Ahh Bara," desah Sela sambil mencakar punggung Bara yang masih terbalut kaos tipis.


Mendengar desahan Sela membuat Bara semakin bersemangat lalu dengan cepat ia membuka kaosnya dan kini tersisa celana panjangnya.


"Aishh, karena gaun ini aku tidak jadi keluar," gerutu Sela di sela- sela permainan Bara.


Bara tidak bisa menahan tawanya mendengar gerutuan sang istri.


"Sekarang kau tahu kan akibat dari memakai gaun kurang bahan itu," gumam Bara sambil menciumi pipi tirus istrinya.


□■■□


Reno dan Dea sedang melakukan foto prewed.


Dea meminta foto prewednya yang simpel dan berbau budaya Korea.


Jadi, Reno melakukan foto prewe dalam gedung saja dengan nuansa Korea.

__ADS_1


Klik


"Selesai," teriak fotografer ketika foto mereka sudah sesuai dengan keinginannya.


"Bagaimana tuan, apa ingin berganti style lagi atau mungkin pindah ke tempat lain?" tanya fotografer itu pada Reno.


"Bagaimana sayang, apa masih kurang fotonya?" tanya Reno pada Dea.


"Sudah itu saja sudah cukup," kata Dea yang sudah lelah karena foto prewed seharian penuh.


"Baik nona, akan kami cetak untuk diperlihatkan pada kalian," kata fotografer itu lalu pergi untuk mencetaknya.


"Pasti kamu capek," kata Reno merengkuh pinggang Dea.


"Tidak juga," jawab Dea merasa jika ia sangat bahagia sekali hari ini.


Reno lalu duduk di sofa dan menarik tangan Dea untuk duduk di atas pangkuannya.


"Setelah menikah nanti kamu harus tinggal bersamaku dan meninggalkan rumah susun itu," kata Reno sambil memegang erat pinggang Dea.


"Tapi....,"


"Tidak ada penolakan, aku sudah membangun apartemen bersama Rendy untuk calon istri kita dan menurutku itu suatu kebanggaan tersendiri bagiku karena hasil jerih payah kita berdua bekerja," kata Reno mengatakan sesuatu yang ia sembunyikan selama ini.


"Dan sekarang kami berdua telah menemukan pasangan masing- masing. Aku yang mendapatkanmu dan Rendy yang mendapatkan Laura," kata Reno membuat Dea tersentuh akan persaudaraan mereka berdua.


"Terima kasih untuk semuanya," kata Dea lalu memeluk leher Reno.


"Setelah menikah nanti, aku sudah tidak mengizinkan kamu untuk bekerja. Sudah cukup kamu menderita selama ini sendirian. Sekarang waktunya kamu menikmati hasilku," kata Reno sambil mencium bahu Dea yang terekpos bebas.


Dea tidak bisa berkata apapun, ia merasa sangat bahagia.


Setelah sekian lama ia sendiri dan selalu susah.


Sekarang ia menemukan teman hidupnya yang akan menemaninya hingga senja nanti.


"Tuan ini hasilnya," kata fotografer itu membuat Dea melepaskan pelukannya dan sangat bersemangat untuk melihat hasilnya.



"Wow ini sangat cantik sekali," kagum Dea saat melihat hasilnya yang sangat perfect seperti keinginannya.


Reno hanya tersenyum melihat tawa bebas dan bahagia Dea.


Tugas Reno hanya membahagiakan Dea karena itu ia harus bisa menjalankan tugas itu.


《♡♡》


Jika Reno dan Dea foto prewed di gedung dengan nuansa Korea.


Beda sama pasangan satu ini.


Rendy dan Laura.


Mereka memilih foto prewed di pantai.


Hal itu atas permintaan dari Laura, dia bilang ia ingin foto prewednya tentang nuansa pantai.


Selain tempatnya sangat indah dan bebas, Laura ingin mengingat momen di mana Rendy melamarnya di pulau Stella.


"Sayang pakai jaketmu, di sini sangat dingin," kata Rendy pada Laura yang masih di make up.


"Iya sayang," jawab Laura yang langsung meraih jaket milik Rendy.


Rendy juga sedang dirias, ini foto yang terakhir dengan gaya santai.


"Mbak tolong belikan americano untuk istri saya, agar dia lebih hangat," perintah Rendy pada perempuan tata rias.


"Baik tuan akan saya pesankan," kata perempuan itu langsung menuju rumah makan dekat pantai.


Rendy sesekali menatap Laura, kenapa calon istrinya begitu cantik sekali.


Ahhh Rendy kau memang hebat dalam memilih pasangan.


"Nona ini americano untukmu," kata perempuan suruhan Rendy tadi.


"Maaf mbak tapi saya tidak memesannya," kata Laura menolak karena merasa tidak memesan.


"Suami anda yang memesannya nona," kata perempuan itu sambil menyodorkan americano pada Laura.


Laura menatap Rendy yang kini sedang tersenyum ke arahnya.


"Ayo tuan kita lanjut untuk sesi pemotretan yang terakhir," kata fotografer itu lalu Rendy langsung bersiap pada tempatnya disusul oleh Laura.


"1 2 3 siap," intruksi fotografer itu pada Rendy dan Laura.


"Ok sekali lagi," kata fotografer itu membuat Rendy dan Laura merubah posisinya.


"Selesai, tunggu sebentar akan saya cetak hasilnya," kata fotogragfer itu langsung memproses foto prewed mereka.


Laura lalu kembali ke tempatnya untuk meminum americano yang Rendy belikan.


Pluk


Rendy menyampirkan mantel tebalnya di tubuh Laura yang begitu terekspos.


Rendy lalu memeluknya dari belakang agar Laura merasa hangat.


"Bagaimana, apa ini sudah hangat?" tanya Rendy pada Laura.


"Sudah," jawab Laura sambil memegang tangan kekar Rendy yang melingkar di perutnya.


"Makasih," kata Laura membuat Rendy tersenyum manis lalu mencium sekilas pipi Laura.


"Pulang dari rumah nanti jangan lupa mandi air hangat lalu minum air hangat dicampur madu, biar besok kamu bisa merasa bugar kembali," kata Rendy mengingatkan pada Laura.


"Iya calon suamiku," jawab Laura manja membuat Rendy merasa salah tingkah sendiri.


Bahkan para perempuan yang melihat mereka berdua merasa iri pada Laura yang bisa menjadi istri Rendy.


"Tuan ini hasilnya," kata fotografer itu sembari menyodorkan lembaran kertas hasil pemotretan tadi.



"It's perfect," kata Rendy yang diangguki oleh Laura merasa puas akan hasilnya.

__ADS_1


__ADS_2