Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Keseruan di Bahama


__ADS_3

□■□■


Walles dan Reynald sedang berada di kantor untuk memeriksa file yang telah Laura dapatkan.


Dengan senyum yang merekah dan jantung yang bergetar hebat.


Mereka tidak sabar untuk melihat berapa banyak uang yang akan mereka dapat.


Tidak hanya itu mungkin mereka juga akan menguasai perusahaan Bradsiton yang sekarang ini sedang kosong.


Sedangkan dua orang ini tidak tahu apa yang akan mereka dapatkan setelah membuka file yang Laura salin.


"Buruan kamu buka," kata Walles pada Reynald sudah tidak sabar.


"Sebentar ini masih membuka," kata Reynald sembari menunggu file terbuka.


Klik


File terbuka, senyum lebar yang tadi menghiasi bibir mereka seketika hilang.


Jantung yang tadi bergetar seakan sekarang berhenti begitu saja.


Wajah yang tadi terlihat sumringah kini mendadak menjadi asam.


Karena file yang mereka buka hanya berisi foto aib Rendy.


"Walles apa- apaan ini, kenapa semua file yang putrimu salin berisi foto- foto Rendy?" kesal Rendy sembari menggebrak meja.


"Coba kamu buka file satunya lagi," kata Walles mencoba tetap tenang meski hatinya berdebar.


Klik


Dengan isi yang sama yaitu foto Rendy.


Brakkk


Walles menggebrak meja dengan sangat keras.


Dia telak kalah lagi.


Lagi lagi dan lagi.


Ia kalah taktik dengan keluarga Bradsiton.


Tunggu, Walles teringat sesuatu pada laptop Reynald.


"Di mana laptopmu?" tanya Walles terlihat begitu panik.


"Memangnya kenapa?" tanya balik Reynald.


"Cepat aku membutuhkannya," Reynald langsung mengambilkan laptop satunya.


Dengan buru- buru Walles duduk di sofa untuk memeriksa file yang ia sembunyikan di laptop Reynald.


"Walles ada apa di laptopku?" tanya Reynald namun tidak digubris oleh Walles.


Dengan perasaan was- was Walles membuka folder yang ia sembunyikan.


Klik


Kosong.


Deg


Walles seakan merasa pusing, penglihatannya mendadak kabur.


"Terakhir kali, Sela kan yang memakai laptopmu?" tanya Walles pada Reynald. Reynald hanya mengangguk.


Apa Sela telah menyalin semuanya?


Sial, perempuan itu ternyata cerdik dan picik.


Ia sama seperti ayahnya.


Ternyata ia ikut andil dalam hal ini.


Ok jika itu maumu aku akan melakukan sedikit permainan untukmu.


Walles melemparkan laptop Reynald ke sembarang arah lalu pergi dari kantor Reynald tanpa mengatakan sepatah katapun pada Reynald.


Walles melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.


Dengan emosi yang sangat panas Walles mengendarai mobilnya sendiri.


Sesampainya di rumah Walles langsung mencari keberadaan putrinya.


"Lauraaa Lauraa," teriak Walles di ruang keluarga membuat Melinda yang tadinya bersantai di dekat kolam menghampiri suaminya.


"Ada apa sih pa teriak- teriak?" tanya Melinda yang merasa terganggu akan kenyamanannya.


"Ma di mana Laura?" tanya Walles pada istrinya.


"Ada apa pa?" kata Laura yang baru saja turun dari tangga.


Walles berjalan menghampiri Laura dan


Plak


"Papa," teriak Belinda terkejut saat Walles menampar Laura untuk kali pertamanya.


Laura masih terdiam sembari memegangi pipinya yang sangat panas.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tidak bisa diandalkan hah?" teriak Walles di depan Laura yang kini berada di dekapan Melinda.


"Pa sebenarnya ada apa sih? Kenapa papa menampar putri kita?" tanya Melinda tenang untuk tidak ikut emosi.


"Tanya putrimu, apa yang bisa diandalkan darinya. Bahkan untuk menyalin file yang berada di laptop Bara aja dia tidak bisa bagaimana nanti dia memimpin perusahaan kita," kata Walles kini dengan nada sangat tinggi.


"Laura sejak dulu tidak pernah mau untuk memimpin perusahaan pa, keinginan Laura bukan di bidang bisnis melainkan model, kenapa papa selalu memaksa Laura," kini Laura ikut tersulut dalam emosi.


Plak

__ADS_1


"Pa udah cukup," teriak Melinda yang tidak kuat lagi untuk melihat pertengkaran ini.


"Beraninya kamu melawan papa hah? Andai aku punya anak lagi, aku tidak akan memintamu, kau tahu itu?" teriak Walles dengan sangat keras membuat Laura menangis di pelukan mamanya.


"Ma buruan racikan minuman bunga aconite," Melinda melebarkan kedua matanya.


"Untuk siapa pa?" tanya Melinda cemas dia takut jika Walles akan melakukan hal yang buruk pada putrinya.


"Cepatan ma, enggak ada waktu lagi," kata Walles membentak Melinda.


Melinda melepaskan pelukan Laura dan menatap wajah cantik putrinya.


"Sebentar ya sayang, mama tinggal dulu," kata Melinda yang bergegas ke bawah tanah untuk meracik bunga aconite yang sangat mematikan tersebut.


Laura menatap kepergian kedua orang tuanya.


Dia terus bertanya- tanya.


Ada apa dengan bunga Aconite?


Kenapa papa meminta mama untuk meracik bunga Aconite?


Sedangkan di bawah tanah Walles kini sedang menatap bengis foto dalam figura yang sudah usang.


*Brak


Brak


Brak*


Walles membanting semua benda yang ada di depannya.


Kemarahannya kali ini tidak lagi bisa ia rendam dan tahan.


Berkali- kali dirinya selalu tertipu dengan siasat dari Bradsiton.


Bisa- bisanya mereka melakukan kebohongan besar dengan meninggal demi bisa membuat dirinya percaya begitu saja.


Kenapa dirinya selalu kalah dari Bradsiton.


Walles berjongkok sembari menatap foto ayahnya Sela.


"Kau tahu, hari ini putrimu telah menipuku, sebagaimana 10 tahun yang lalu seperti kau yang menipuku,"


"Mungkin putrimu selalu lolos dengan taktik dan siasat yang Bradsiton ajarkan, tapi untuk terakhir kalinya, aku yang akan turun tangan untuk menghabisi putri semata wayangmu," kata Walles sembari menginjak foto ayah Sela.


"Kau harus ingat aku mempunyai seribu cara untuk bisa mengalahkanmu dan kawan- kawanmu, termasuk Bradsiton dan putrimu,"


"Dan kau harus ingat, aku mempunyai bunga aconite, jadi aku bisa membunuh tanpa menyentuh," kata Walles sambil memainkan pisau yang ia goreskan pada figura.


Walles merogoh sakunya lalu menghubungi seseorang.


"Halo, dimana kau?"


"...."


"Apa kau butuh uang?"


"....."


"....."


"Malam nanti," Walles mematikan sambungan teleponnya lalu keluar dari ruang bawah tanah.


"Ini pa racikan bunga aconite nya," kata Melinda yang selesai meracik bunga aconite.


Walles menatap botol kecil yang berisi cairan dari bunga aconite.


♡♡♡♡


Pagi tadi semua dihebohkan dengan kabar jika Bradsiton akan mengajak mereka semua liburan.


Dan serunya lagi mereka akan liburan ke Bahama.


Di mana itu adalah pulau terindah sepanjang masa.


Kini mereka semua Bradsiton dan keluarganya lalu semua karyawan dan bodyguard berada dalam satu helikopter menuju Bahama.


Senyum manis dan wajah sumringah tak pernah luntur dari bibir dan wajah mereka.


Sepertinya mereka benar- benar begitu girang dan senang.


Hanya menempuh 2 jam kini mereka sampai di Bahama.


Dengan cepat mereka turun dari helikopter lalu berlarian di pasir putih cococay Bahamas.



"Bahama i' am comingggg," teriak Rendy yang langsung berlarian menuju tepi pantai.


"Pa kok sepi sih, emang enggak ada pengunjungnya ya?" tanya Bara pada papanya sembari membawakan tas milik wanitanya.


"Papa sewa hanya buat kita," kata Bradsiton membuat semua orang yang tadinya berlarian, tertawa, kejar- kejaran seketika terdiam dan menatap ke arah Bradsiton.


"Papa sewa pulau ini buat kita?" tanya Rendy sekali lagi dengan wajah terkejutnya.


"Iya, memang kenapa?" tanya balik Bradsiton pada mereka semua yang kini menatap dirinya.


"Horeeeeeee," Bradsiton terkejut kala mereka semua dengan serentak berteriak dengan sangat senang.


"Papa serius?" kini Bara yang kembali bertanya.


"Anggap aja ini sebagai hadiah untukmu," kata papanya sembari duduk di kursi pantai menikmati hari yang cerah tanpa gangguan kerjaan.


"Wah gila, berapa uang yang papa keluarkan?" tanya Bara tak percaya pasalnya pulau ini begitu indah dan sulit sekali untuk bisa menyewanya.


Bahkan butuh berjuta dolar untuk bisa menyewanya meski itu hanya sekedar beberapa jam atau hari.


"Yah pokok kalau mama tahu papa mungkin bakal diusir dari rumah," kata Bradsiton membuat Bara tertawa dengan sangat keras.


"Oh ya son, papa juga menyewa kapal Bahamas untuk kita bermalam," lagi dan lagi Bara membelalakkan kedua matanya.

__ADS_1


"Papa bercanda?" tanya Bara terkejut, Bradsiton hanya tersenyum melihat wajah lucu Bara.


"Yes bisa berduaan dong sama Sela," sorak Bara senang membuat Bradsiton yang kini tertawa.


"Inget, pawangnya lebih galak dari yang punya," kata Bradsiton mengingatkan jika Sela sekarang dalam jeratan mamanya.


"Oh iya mama kan ngelarang kita buat deketan, pa bantuin Bara kek, emang papa enggak mau apa punya waktu sama mama," bujuk Bara pada papanya.


"Tenang aja nanti papa usahain bantu," jawab papanya sembari menikmati suasana pantainya.


Sedangkan di tempat lain ada Rendy dan Reno yang sibuk menghindar dari Sela.


"Ren kita harus jauh- jauh dari Sela, kalau enggak kita bakal di ajak uji adrenalin kayak 3 tahun yang lalu," kata Reno yang mengompori Rendy.


"Benar juga lo, itu perosotan air mana tinggi banget lagi," kata Rendy sembari menatap perosotan air di depan mereka.



"Makanya kita harus jauh- jauh dari Sela, sebelum dia ajak kita uji nyali mending kita cari wahana sendiri aja gimana?" kata Reno menawarkan hal lain pada Rendy.


"Benar juga lo," kata Rendy sembari menatap sekeliling untuk mencari wahana yang seru tapi tidak begitu menguji detak jantung mereka.


"Rendy Reno," teriak Sela membuat Rendy dan Reno celingukan mencari keberadaannya.


"Lihat ke atas," teriak Sela membuat Rendy dan Reno mendongak ke atas dan melihat Sela yang melambaikan tangannya untuk bersiap meluncur.


"Awas aja lo Ren sampek Sela ngajakin perosotan terus lo jawab iya, gue bunuh lo," bisik Reno yang berdiri di samping Rendy.


"Iya- iya gue tahu, gue juga masih pengin nikah muda tahu," kata Rendy sambil melambaikan tangannya ke arah Sela.


"Kemarilah, di sini sangat seru," teriak Sela agar Rendy bisa mendengarnya.


"Enggak buruan jawab enggak, awas aja lo sampai jawab iya, gue potong tuh mulut lo," bisik Reno yang sangat panik saat Sela mengajaknya main perosotan air.


"Maaf ya Sel, gue mau renang aja ke laut, dadah sayang," jawab Rendy sembari menarik Reno berlari menjauh dari perosotan air sebelum Sela menyeretnya untuk bermain perosotan air.


"Pinter juga lo," kata Reno lega saat Rendy berhasil menolak ajakan Sela yang menantang maut sekaligus menguji adrenalin.


"Terus kita mau kemana?" tanya Rendy saat mereka sudah berlari menjauh dari perosotan air. Reno melihat wahana yang ada, lalu melihat sesuatu yang unik.


"Ehh liat deh ada Zombie House," tunjuk Reno pada rumah yang terlihat horor di dekat pantai.


"Itu semacam rumah hantu bukan sih?" tanya Rendy yang kini hatinya merasa jika ada sesuatu yang akan terjadi.


"Enggaklah namanya aja beda, udah yuk masuk," kata Reno yang langsung menarik tangan Rendy untuk masuk ke dalam zombie house.


"Gue cuman khawatir aja, bisa masuk enggak bisa keluar," gumam Rendy yang mengikuti kemana Reno pergi.



Mereka masuk ke dalam dan ruangan, begitu gelap hanya ada lilin atau lampu kecil.


"Kan apa gue bilang, ini tuh sama kayak rumah hantu tolol," kata Rendy yang merasa menyesal kala mengikuti ucapan Reno.


"Tapi di depan tulisannya zombie house, kan beda," kata Reno mencari alasan.


"Beda tulisannya itu ngab, inimah sama aja kayak rumah hantu," kata Rendy sembari berjalan pelan mengikuti kemana langkah Reno pergi.


"Ternyata beda negara beda nama juga ya," gumam Reno membuat Rendy menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


"Ngindarin Sela buat enggak uji adrenalin ehh malah uji nyali di sini, kan apes kita," kata Rendy yang diangguki Reno namun sayang ruangan gelap jadi Rendy tidak melihatnya.


"Ren lo main jalan aja dari tadi, lo tahu enggak kemana arah keluarnya?" kesal Rendy sambil menghempaskan tangan Reno.


"Ya sabar ini lagi nyari, lo kira gue bisa gitu nerawang jalan keluarnya kemana," kata Reno yang kini mulai emosi karena mereka juga setengah getar- getir di dalam ruangan yang gelap dan sedikit remang- remang.


LAPP


Lampu seketika padam membuat Reno dan Rendy kebingungan dan mencari satu sama lain.


Mereka meraba di tengah gelapnya ruangan agar bisa saling menemukan.


"Ren lo dimana?" tanya Rendy sambil terus meraba sesuatu di sekitarnya.


"Gelap mana bisa liat gue," kata Reno yang juga sedang meraba sesuatu di sekitarnya.


"Nah ketemu," teriak keduanya ketika mereka memegang sesuatu.


"Lah kalau lo di situ terus gue di sini, terus siapa dong yang kita ajak gandengan?" tanya Rendy mulai panik ketika menyadari sesuatu.


"Bentar- bentar jangan panik, gue nyalain senter ponsel dulu," kata Rendy berinisiatif untuk menyalakan ponselnya.


Klik


Rendy menyorot seseorang yang ia ajak gandengan di depannya, lalu mencari keberadaan Reno, dan ketemu.


"Huaaa, kok lo enak sih Ren gandengan sama zombi perempuan lah gue sama zombi laki," kata Rendy merasa frustasi kala melihat siapa yang mereka ajak gandengan.


"Siapa yang peduli gue gandengan sama zombi perempuan, masalahnya ini tangannya enggak mau lepas sama tangan gue," kata Reno yang berada di tempat agak jauh dari Rendy.


"Yaudah lo bawa pulang aja tuh zombi," gumam Rendy yang kesal sama Reno.


"Mending gue tadi perosotan aja sama Sela daripada uji nyali di sini," gerutu Rendy yang nyesel ikut Reno masuk ke dalam rumah zombi ini.


"Kamera mana kamera," kata Reno sembari lihat kanan kiri.


"Ren gue tahu cara lolos dari pegangan mereka," kata Rendy yang mempunyai ide untuk bisa kabur dari pegangan zombi.


"Gimana?"


"Hitungan 3 kita lari ok?" ide Rendy membuat Reno menghela napas berat.


Ide yang paling sering mereka rencanakan tapi gagal ketika dilakukan.


"Awas aja lo sampai salah hitung," ancam Reno karena Rendy paling bodoh berhitung di saat genting- genting seperti ini.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


**Pagi ini udh update buat kalian, nanti malem jangan mnta up lagi ya🤣😄


Aku pulang kerja capek banget jadi cuma bisa up pagi kalau sempet krna klau malem udh capek banget**.

__ADS_1


__ADS_2