
□■■□
Sela baru saja mandi dan kini sedang bersiap untuk pergi ke rumah Bradsiton.
Entah Rose ingin sekali menemui pengantin baru ini.
Ceklek
"Sayang," panggil Bara saat pintu terbuka.
Sela berbalik dan menatap Bara yang tersenyum lebar melihat penampilan cantik istrinya.
"Kamu cantik banget hari ini, hmm," kata Bara sambil memeluk erat Sela dari belakang.
"Kenapa kamu enggak bangunin aku, kan aku bisa masakin buat kamu," kata Sela sembari memasang anting cantiknya.
"Enggak usah kamu tidur aja pasti kemarin kecapekan banget kan?" kata Bara sembari menciumi punggung Sela yang sedikit terekpos.
Bugh
"Jangan buat ulah di tempat yang enggak bisa ditutupi Baraaaaaa," kesel Sela saat Bara menciumi lehernya, pasti bakal ninggalin jejak di sana.
"Salah siapa kamu cantik banget sihhhh," kata Bara gemas sekali pada Sela.
"Sayang, gimana kalau kita enggak usah pergi ke rumah mama, buat dedek aja," kata Bara membuat Sela melebarkan kedua matanya.
Tidak, semalam aja udah capek banget Sela jangan pagi ini.
"Tidak- tidak, kita berangkat sekarang," kata Sela sembari melepaskan pelukan Bara di perutnya.
"Ayo berangkat sekarang," kata Sela sambil menarik tangan Bara untuk keluar kamar.
Bara sedikit kesal dengan Sela saat ia selalu menolak jika Bara manja dengannya.
"Bara," teriak Sela saat Bara membopong tubuhnya.
"Pasti sakit banget kan kakinya, semaleman buat dedek bayi," kata Bara membuat Sela menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Bara.
Bara tertawa geli saat melihat pipi Sela memerah.
Bara bahkan membopong Sela hingga sampai di garasi.
"Sayang itu mobil lamborginimu," kata Bara sembari menunjuk mobil di halaman yang pagi tadi baru saja datang.
"Dan itu ferari baruku," kata Bara sembari menunjuk mobil dalam garasi.
"Itu serius mobilku?" tanya Sela tidak percaya dengan apa yang diberikan mertuanya itu.
"Iya sayangggg," kata Bara sambil memeluk gemas Sela.
"Hehe mending kita naik motornya Rendy gimana, kan lumayan sayang kita bisa nikmati udara di pagi hari," kata Sela mencoba merayu Bara.
"Tidak dan enggak akan pernah. Apalagi dengan pakaian kamu yang seperti ini bakal buat para lelaki mata keranjang di lampu merah enggak akan kedip," kata Bara kesal jika apa yang menjadi miliknya dinikmati orang lain.
"Aku bisa ganti kok, bentar ya tunggu," kata Sela hendak masuk ke dalam rumah untuk ganti baju namun Bara menariknya.
"Sayang, bagaimana jika kita balapan ke rumah mama dengan mobil baru kita?" tawar Bara membuat Sela melebarkan kedua matanya.
"Hehhee tidak kamu jangan bercanda deh, aku kan enggak bisa naik mobil mana mungkin kita balapan," kata Sela mengelak saat Bara mengajaknya balapan.
Bara lalu menarik pinggang ramping Sela hingga nempel di dada bidangnya.
"Oh ya, lalu siapa waktu itu yang mengendarai mobil hingga kecelakaan untuk menolong Laura?" kata Bara membuat Sela menahan napasnya.
"Napas sayang," kata Bara menyentil kening Sela pelan.
"Papa enggak akan belikan sesuatu buat kamu jika kamu tidak bisa melakukannya," bisik Bara di telinga Sela dan menggigitnya pelan karena begitu gemas sekali.
Bugh
"Sakit tahu," kata Sela kesal saat Bara menggigit telinganya gemas.
"Jadi bagaimana, balapan atau kita tidak usah pergi ke rumah mama?" tawar Bara membuat Sela mendelik kesal.
"Huhh ngeselin banget jadi orang," dumel Sela sembari menyambar kunci lamborgininya.
Bara tertawa melihat wajah kesal Sela yang semakin cantik.
Lihatlah
Begitu cantiknya Sela menaiki mobil lamborgini dengan gaun putihnya.
"Ya tuhan kenapa istri gue cantik banget," gemas Bara lalu masuk ke dalam mobil ferarinya.
Bara mengeluarkan mobilnya dari garasi, dua mobil baru ini membuat perhatian para bodyguardnya.
"Sayang, jangan lupa sabuk pengamannya," teriak Bara pada Sela yang menatapnya tajam dan sinis membuat Bara tertawa geli.
Keduanya saling menatap satu sama lain lalu dalam hitungan ketiga mobil lamborgini kini yang memimpin di depan.
"Ya tuhan apa yang tidak bisa istriku lakukan, bahkan balapan aja dia bisa," puji Bara sambil menginjak pedal gas untuk mengejar istrinya.
.
.
.
.
.
Citttttt
Mobil lamborgini berhenti tepat di depan rumah Bradsiton menyita perhatian para bodyguard lalu disusul mobil ferari di belakangnya.
"Malam ini enggak usah tidur di kamar," kata Sela setelah turun dari mobilnya sambil natap tajam Bara.
"Tapi kan....,"
"Baraaaaaaaa," teriak Rose membuat para bodyguard menutup telinganya.
"Sini kamu," teriak Rose marah pada Bara.
Bara dan Sela berjalan lemah ke arah Rose.
__ADS_1
"Awww sakit maa," teriak Bara saat telinganya ditarik oleh Rose.
"Siapa yang suruh ajak Sela balapan hah? Kalau menantu mama sampai kenapa- napa gimana? Baru juga malem pertama udah bikin onar," seketika ocehan Rose menghibur para bodyguard yang sedang berjaga.
"Sayang tolongin dong," kata Bara mengeluh pada Sela yang kini sedang mengejeknya.
"Kamu mau hah jadi duda nanti?" tanya Rose marah.
"Ya enggak mau ma, baru juga nikah masak udah jadi duda," seketika para bodyguard cekikikan mendengar jawaban tuan muda mereka.
"Awas kamu bakal mama aduin ke papa. Ayo sayang kita masuk," kata Rose sembari memeluk pinggang ramping menantunya.
"Sayang lain kali jangan turuti perkataan bocah nakal itu, nanti kalau kamu sampai kenapa- napa gimana?" marahi Rose pada Sela.
"Iya ma maafin Sela," kata Sela meminta maaf pada Rose.
"Selaaaaaa," teriak Jessy dan Laura bersamaan ketika keluar dari lift.
"Sayang jangan lari- larian, kamu lagi hamil loh," kata Rose pada Jessy yang kini perutnya sudah sedikit membuncit.
"Hehe iya ma maaf, lagian aku kangen banget sama Sela," kata Jessy lalu memeluk Sela erat.
"Sela aku rindu kamuuuuu," kata Laura manja lalu berganti memeluk Sela erat sekali.
Bara baru saja masuk ke dalam rumah dan melihat tawa bahagia keempat perempuan itu.
Ia sangat bahagia saat melihat Sela dikelilingi seseorang yang sangat menyayanginya.
Dan ia juga sangat bersyukur karena mendapatkan istri seperti Sela.
Bara lalu menaiki tangga untuk bermain PS5 nya.
"Ayo sayang kita ngobrol di balkon sambil minum teh," ajak Rose pada mereka bertiga.
Mereka berada di balkon dan di sini adalah surganya bagi siapapun.
"Sela kamu kok tambah cantik sih setelah menikah," puji Laura membuat Rose tersenyum lebar.
"Apaan sih Ra, kamu juga enggak kalah cantiknya," kata Sela menolak asumsi Laura.
"Ehh Sel gimana, rencananya mau honeymoon kemana?" tanya Jessy membuat Sela menunduk malu.
"Ohh iya mama lupa kasih tahu sayang, ini kemarin mama sama papa udah pesenin kalian tiket untuk ke Stella Island Luxury, dan mama sengaja menyewa tempat itu untuk kalian berdua," kata Rose sembari menyodorkan kunci hotel di pulau Stella.
"Astaga mama sewa pulau Stella?" tanya Jessy tak percaya dan diangguki oleh Rose.
"Wah parah lo Sel, pokok lo pulang harus bisa bawa dedek," kata Laura menggoda Sela membuat mereka semua tertawa kecuali Sela yang kini sedang menahan malu.
"Ma enggak perlu menyewa pulau, kita kan bisa liburan di London atau di mana," tolak Sela tak enak hati.
"Hiss siapa bilang honeymoon cuma bisa di London, honeymoon itu harus ditempat yang tenang damai dan yang pasti bikin kalian nyaman," kata Rose sambil memeluk Sela erat.
"Pokok nanti sore kamu harus langsung cus kesana, mama udah enggak sabar mau gendong cucu," kata Rose benar- benar bar- bar membuat ketiga perempuan ini menahan tawanya.
Lalu mereka kembali mengobrol hingga waktu menunjukkan senja hari.
"Sayang semua keperluan kamu sudah disiapkan kalian berdua tinggal berangkat habis ini," kata Rose membuat Sela terkejut.
"Hari ini ma?" tanya Sela tak percaya.
"Iya sayang, emang Bara enggak kasih tahu kamu kalau kalian akan honeymoon?" tanya Rose dan dijawab oleh gelengan kepala Sela.
"Ehh bentar sayang, mama punya sesuatu buat kamu," kata Rose sembari memberikan kotak pada Sela.
"Jangan dibuka kalau belum sampai sana," kata Rose memberitahu Sela.
"Ma udah selesai belum?" teriak Bara ketika helikopternya sudah datang dan mendarat di rooftop rumah.
"Iya- iya enggak sabaran banget jadi laki," dumel Rose sembari mengajak Sela ke rooftop.
"Sel jangan lupa ya buatin gue keponakan yang lucu," goda Laura sambil memeluk Jessy.
"Bener kata Laura, kalau perlu yang banyak," kata Jessy menambahi.
"Apaan sih kalian," kata Sela malu jika terus digoda seperti itu.
"Ayo sayang. Ma kita berangkat dulu ya," kata Bara sambil meraih pinggang ramping Sela untuk masuk ke dalam helikopter.
"Jaga menantu mama baik- baik," peringati Rose ketika Bara hendak masuk ke dalam helikopter.
"Siap ibu negara, dengan sepenuh hati putramu ini akan menjaganya meski Bara seperti anak tiri," sindir Bara ketika Rose lebih menyayangi Sela dibanding dirinya.
Semua tertawa melihat wajah cemburu Bara.
Mereka lalu pergi dengan helikopter untuk pergi honeymoon.
▪︎♡♡♡▪︎
Mereka telah sampai di Stella Island Luxury.
Benar tempatnya sepi dan hanya ada mereka berdua di pulau ini.
"Astaga apa mama serius menyewa ini hanya untuk kita?" tanya Sela ketika baru saja turun.
"Buat menantunya semua apa yang enggak dikasih, bahkan putranya sendiri diabaikan," kata Bara kesal membuat Sela menahan tawanya.
Sela hanya tertawa melihat wajah kesal Bara.
"Yuk kita keliling buat lihat pemandangannya," ajak Sela sembari bergelayut manja di lengan Bara.
Bara tidak bisa menyembunyikan rasa gemasnya pada Sela hingga melupakan rasa kesalnya.
"Astaga, pemandangannya cantik banget," kata Sela saat mereka sampai di mana tempat itu dibilang surganya pulau Stella.
"Kamu suka?" tanya Bara membuat Sela mengangguk senang.
"Enak ya kalau yang lainnya ikut," gumam Sela membuat Bara menggelengkan kepalanya.
Istrinya ini memang sesayang itu sama sahabatnya.
Di manapun dia berada dia tidak akan lupa dengan Jessy dan Laura.
Setelah puas melihat mereka memutuskan untuk mandi karena waktu juga sudah malam.
Dan kalian tahu apa kamar mereka dihias seadanya tapi kesannya begitu elegan sekali.
__ADS_1
Ada vodka yang akan menemani mereka malam ini.
Bara tertawa dalam hatinya, pasti ini ide papanya.
Papa it's good.
"Kamu atau aku dulu yang mandi?" tanya Bara pada Sela yang masih diam membeku menatap dekorasi kamarnya.
"Kamu dulu aja," kata Sela malu- malu jika mengingat saat mereka malam pertama kemarin.
"Gimana kalau mandi berdua?" kata Bara menawarkan lainnya.
"Ok asal kamu tidur di luar," kata Sela membuat Bara langsung masuk kamar mandi.
"Ya tuhan kenapa rasanya begitu gugup sekali saat ini, bukannya malam pertamanya sudah kemarin kenapa di pulau ini lagi," gumam Sela pelan sembari memeluk erat kotak yang tadi Rose berikan.
"Kupikir jika malam ini akan sangat mengerikan mengingat hanya kita berdua di malam ini," gumam lirih Sela sambil menatap kotak di pelukannya.
Dia penasaran dengan isinya lalu membuka kotak itu.
"Lingere lagi?" kaget Sela saat melihat apa yang tadi Rose berikan.
Ada note kecil di dalam kotak itu lalu Sela membacanya.
Mungkin baju rendra yang kemarin udah robek jadi mama beliin yang baru
-mommy
"Astagaaaaa," kata Sela merasa putus asa juga malu membaca isi tulisan dari Rose.
Ceklek
Bara sudah selesai mandi dengan gugup Sela langsung menyembunyikan lingere merahnya.
"Sayang...,"
Brak
Sela langsung masuk ke dalam kamar mandi membuat Bara mengernyitkan keningnya bingung.
"Arghhhh," teriak Sela saat ada kecoa kecil dalam kamar mandi.
Bara langsung bergegas untuk membuka kamar mandinya namun Sela menguncinya.
"Sayang buka pintunya," teriak Bara menggedor pintunya.
"Jangan masuk aku lagi mandi," teriak Sela dari dalam membuat Bara bingung bagaimana cara dia membantu Sela.
"Baraaaa ada kecoa," teriak Sela lagi namun tidak juga membuka pintunya.
"Terus gimana aku masuk kalau pintunya kamu kunci sayang," kata Bara frustasi lalu tidak ada pilihan lain lagi selain mendobrak pintunya.
"Sayang awas aku akan mendobrak pintunya," teriak Bara agar Sela menjauh dari pintu.
"Bara jangan....,"
Brakkkkk
Pintu sudah terbuka Bara lalu melihat Sela yang naik ke atas wastafel dengan hanya memakai bra dan ****** *****.
"Bara buruan ambil kecoanya," teriak Sela saat Bara hanya diam dan menatapnya.
"Ohh iya- iya," kata Bara lalu langsung membunuh kecoa itu lalu membuangnya di tempat sampah.
"Udah mati kecoanya," kata Bara sambil melihat istrinya yang saat ini begitu menggemaskan dan sangat seksi.
"Kenapa lihat- lihat, keluar enggak," marah Sela saat Bara tak juga keluar dari kamar mandi.
"Emang bisa turunnya?" tanya Bara membuat Sela menatap ke bawah dan merinding sendiri jika ternyata itu sangat tinggi.
"Aku bisa turun sendiri, sekarang keluar enggak," kata Sela kesal saat Bara kini sedang menatap dirinya dan siap untuk menerkam.
"Ahhhh kenapa di sini panas sekali," kata Bara sembari melepaskan jubah mandinya.
"Bara keluar enggak aku mau mandi," kata Sela yang pelan- pelan turun dari wastafel untuk meraih handuk di dekat Bara.
Happp
Byurrrr
Bara menarik tubuh Sela hingga mereka terjatuh di bath up besar yang berisi mawar merah.
"Baraaaa," kesal Sela sambil memukuli lengan kekar Bara.
Bara hanya tertawa melihat wajah kesal istrinya.
"Sudah terlanjur tunggu apalagi saatnya mandi berduaa," kata Bara sangat bersemangat sembari memeluk tubuh ramping istrinya.
"Bara aku tidak mau melakukannya," sontak ucapan Sela membuat Bara berhenti tertawa.
Bara hanya menatap wajah cantik istrinya yang sepertinya begitu takut di saat malam hari.
Padahal Bara tidak pernah menuntutnya.
"Sayang, aku tidak pernah menuntutmu untuk selalu melakukannya di saat malam hari. Lagian kemarin kan udah malam pertamanya," kata Bara membuat hati Sela merasa begitu hangat.
Ok Bara kamu lolos dari ujian Sela.
"Tapi sekarang kan honeymoon, pasti pasangan lainnya akan selalu melakukan kewajiban mereka masing- masing," kata Sela kembali menguji Bara.
"Memang kenapa, honeymoon tidak harus selalu diisi dengan melakukan kewajiban itu, honeymoon bisa diisi hal lainnya untuk kita berdua," kata Bara sembari menyingkirkan rambut Sela ke belakang.
Sela tampak tersenyum manis membuat Bara begitu bahagia.
"Aku tidak mau kamu merasa tertekan di saat bersamaku, jadi katakan apa yang tidak kamu sukai agar aku mengetahuinya," kata Bara yang terdengar begitu tulus sekali.
Tanpa sungkan Sela langsung ******* bibir seksi Bara dengan sangat pelan dan manis sekali.
Sela mengalungkan kedua tangannya dan naik ke atas tubuh kekar Bara.
"Kenapa kamu selalu menuruti semua keinginanku?" tanya Sela setelah melepaskan ciumannya.
"Memang kenapa? Kebahagaianmu adalah tujuanku menikahimu," jawab Bara santai sembari membelai bibir merah merona Sela.
Sela menempelkan keningnya dengan kening Bara dan jangan lupakan posisi Sela yang berada di atas tubuh Bara.
"Apa kamu sanggup untuk tahun selanjutnya setelah mengetahui sikap asliku?" tanya Sela pelan membuat Bara mengusap punggung polos istrinya.
"Kenapa?" tanya Bara penasaran.
"Aku lebih posesif dan suka cemburu dibanding dirimu," jawab Sela membuat Bara terkekeh geli.
__ADS_1
Bara lalu mencium leher jenjang Sela dengan tangan yang mulai aktif dengan membuka bra milik Sela.
"Sepertinya kita harus pindah tempat," bisik Bara di telinga Sela lalu langsung membopong tubuh istrinya.