Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Kehebohan Kampus


__ADS_3

●●●


Gabriela memasang celemeknya, dia selalu berangkat lebih awal dari pegawai lainnya.


"Tuan Roy," panggil Gabriela ketika Roy baru saja datang.


"Ya ada apa?" tanya Roy datar pada Gabriela.


"Hmm, apa Sela beberapa hari ini absen?" tanya Gabriela karena beberapa hari ini dia tidak melihat Sela datang bekerja.


"Udah seminggu dia izin karena ibunya sakit, apa dia tidak memberitahumu?" tanya Roy pada Gabriela.


"Tidak tuan," jawab Gabriela, Roy hanya menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah saya mau ke ruangan saya sebentar," pamit Roy meninggalkan Gabriela seorang diri di dapur.


Karena memang belum banyak pegawai yang datang.


Mungkin ini kesempatan aku buat gantiin posisi Sela, cuci piring sementara, batin Gabriela untuk bersiap bekerja.


●●●


Bara sudah bangun sejak tadi pukul 5, dia tidak bisa tidur dengan tenang.


Bagaimana tidak, semalaman dia bangunin satu- satu bodyguardnya yang tidur di lantai 2 untuk pindah ke lantai 1.


Bara merasa gelisah karena meninggalkan Sela di lantai 2 yang penuh dengan para buaya itu.


Bara telah selesai mandi dan siap dengan kemeja putihnya.


Bara bercermin sambil memasang dasi hitamnya, tiba- tiba terpikir sesuatu di otak Bara.


Buru- buru Bara melepaskan kembali dasinya dan menaiki lift turun ke lantai 2.


Bara tidak melihat Sela di dapur, apa dia masih tidur.


Bara berjalan menuju kamar Sela dan mengetuk pintu kamar Sela.


Tok tok tok


"Masuk," jawab Sela dari dalam dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Dengan pelan dan gugup Bara membuka pintu kamar Sela.


Bara terkejut saat Sela masih duduk di queen sizenya terlihat baru saja bangun.



"Apa tuan?" tanya Sela setengah menahan kantuknya.


Bara bersandar diambang pintu sambil menatap datar Sela.



"Buruan siap- siap, habis itu ke lantai atas," perintah Bara pada Sela.


Sela hanya mengangguk, lalu Bara kembali menutup pintunya dan kembali ke lantai atas.


Bara menatap sekeliling kamarnya, kamarnya harus rapi dan wangi.


Buru- buru Bara langsung merapikan kamarnya.


Lalu menyemprotkan pengharum ruangan pada seluruh ruangan.


"Kira- kira udah wangi belum ya?" gumam Bara bertanya pada dirinya sendiri.


Bara memandang kamarnya, sudah bersih dan sangat harum sekali ruangannya.


Bara duduk di sofa sambil menunggu Sela yang masih bersiap.


Tok tok tok


Bara spontan berdiri lalu bersikap sok cool dan biasa aja.


"Masuk," perintah Bara pada Sela, perlahan Sela membuka kamar Bara.


Wow, sangat indah dan luas, juga rapi dan harumnya sangat memabukkan sekali.


Sela perlahan masuk ke dalam kamar Bara dan memandang sekelilingnya.


Mewah.


"Kenapa kamu berpakaian seperti itu, kamu akan pergi ke pesta atau ke kampus?" tanya Bara ketus membuat Sela menatap Bara jengah.



"Kenapa?" tanya Sela polos sambil menatap penampilannya yang menurut Sela itu sudah sopan untuk bepergian ke kampus.


Bara mendengus sebal pada sikap Sela yang polos ini.


"Kemarilah," suruh Bara membuat Sela berjalan kearahnya.


Bara memberikan dasi hitamnya pada Sela tanpa mengatakan sepatah kata.


"Hekm, kamu bisa pasang dasi kan?" tanya Bara berdeham, sambil menatap kearah lain.


"Kenapa enggak dipasang sendiri aja sih," ketus Sela membuat Bara berkacak pinggang.


"Apa kamu lupa, sebelum kamu kerja jadi sekretaris, kamu kerja sebagai asisten saya ketika di rumah," kata Bara mengingatkan pada Sela.


"Baik tuan Bara yang terhormat," kata Sela membuat Bara menahan senyumnya.


Sela melangkah lebih dekat kearah Bara, memasang dasinya pada kemeja putih Bara.


"Bisakah anda lebih menunduk, anda seperti tiang listrik," sindir Sela pada Bara yang tidak peka saat Sela harus berjinjit untuk memasangkan dasinya.


Bara lebih menunduk agar bisa mensejajarkan tingginya dengan Sela.


Ya tuhan tapi jaraknya ya jangan sedekat ini, ini namanya nguji jantung Sela.


Dengan cepat Sela memasangkan dasi pada Bara agar bisa cepat keluar dari kamarnya.


"Sudah," kata Sela membuat Bara berdiri tegak dan menatap hasil dasi yang Sela pasangkan, sempurna.


"Kamu ambil jas hitam di walk in kloset bagian tengah," pinta Bara membuat Sela terkejut.


"Harus saya?" tanya Sela tidak percaya sama ucapan Bara, Bara hanya mengangguk.


"Ini sebagai latihan awal kamu jadi asisten, besok saya tidak akan mengajari lagi," kata Bara sambil duduk di sofa menunggu Sela mengambil jasnya.


Dengan langkah gontai dan kesal, Sela berjalan menuju walk in closet.


Di mana semua baju mahal dan mewah tersimpan sangat indah dan rapi.


Bahkan walk in closetnya pun terbagi 3 ruang, apa ini bukan mirip seperti toko baju.


Sela masuk ke ruang walk in closet sisi tengah, di sana terlihat hanya kemeja putih dan berbagai macam warna jas.


Pasti ini khusus pakaian untuk pergi ke kantor, Sela mulai mengambil jas hitam yang Bara maksud.

__ADS_1


"Ya tuhan bahkan jas hitamnya begitu banyak, lalu saya harus pilih yang mana," gumam Sela pelan sambil menatap jas hitam yang menggantung.


Sela mengambil dengan random, lalu langsung membawanya pada Bara.


Bara menoleh saat Sela sudah membawakan jas hitam yang dia pinta.


Pilihan Sela sangat bagus, jas hitam kesukaan Bara.


Sela langsung membantu Bara untuk memakaikannya.


"Sudah selesai, apa saya boleh pergi?" tanya Sela ketika dia sudah selesai dengan urusannya.


Bara hanya mengangguk pelan, Sela langsung bergegas pergi, sebelum menutup pintunya, Bara kembali memanggil Sela.


"Tunggu," kata Bara membuat Sela membuka pintunya dan menatap kesal Bara.


"Saya minta kamu buat ganti baju," perintah Bara seenaknya.


Sela tidak menjawab, dia hanya diam dan menutup pintunya.


Bara tertawa pelan melihat wajah kesal Sela yang selalu gemas dimatanya.


Bara bercermin menatap dirinya sendiri, begitu tampan bukan pikirnya.


"Udah cocok belum ya jadi suami istri?" gumam Bara bertanya pada dirinya sendiri sambil tertawa geli saat membayangkannya.


.


.


.


.


.


.



Mobil sport warna hitam berhenti tepat di gedung Universitas of Alberta.


Bara dan Sela turun dari mobil membuat beberapa mahasiswa yang lalu lalang menatap mereka kagum, lebih tepatnya menatap Bara.


Sela memandang gedung mewah ini, tidak disangka Sela bisa menuntut ilmu di sini.


Universitas yang sejak dulu ia impikan dan dijadikan penyemangat untuk mengejar impiannya.


Bara menatap sekeliling, saat banyak mahasiswa laki- laki menatap Sela takjub.


Bara menatap Sela yang masih setia memandangi kampus di depannya ini.



Gimana enggak dilirik banyak cowok coba, kalau pakaiannya kayak gini.


Tapi yang bikin Bara geram, itu bahu kenapa pakai digituin segala.


Bara berjalan menghampiri Sela lalu merapikan baju Sela agar lebih tertutup.


"Bisakan kalau pakaian enggak usah dimodel begituan, mata para buaya pada ngelirik noh," dumel Bara setelah selesai merapikan baju Sela.


"Termasuk anda?" tanya Sela pada Bara, Bara menatap Sela bingung.


"Bukankah sejak dari rumah tadi saya berpakaian seperti ini tanpa berubah sedikit pun hingga sampai di kampus, lalu kenapa tuan baru bilang sekarang," Bara terdiam saat Sela sudah mulai ngerap gini.


Benar bukan, sejak dari rumah tadi emang Sela berpakaian seperti itu, dengan bahu sedikit terlihat.


Berarti sengaja atau tidak, sejak di dalam mobil tadi dia juga tahu dong kalau pakaian Sela sedikit terbuka.


"Udah ngerapnya lanjut di rumah aja, buruan masuk," kata Bara berjalan terlebih dulu meninggalkan Sela.


"Mungkin sabar adalah kunci kesuksesan menghadapi miliader gila ini," ketus Sela lalu menyusul Bara.


Bara berjalan menuju ruang rektorat untuk menyerahkan data diri Sela.


Sebenarnya Bara tidak perlu sampai mengantar bahkan menyerahkan data diri Sela sendiri sampai ke tangan rektor.


Cukup lewat Rendy bisa bukan, tapi karena ini spesial, kalau Bara bisa kenapa enggak.


"Kamu tunggu sini bentar, saya akan menyerahkan data kamu," pesan Bara agar Sela menunggunya di luar.


Sela hanya mengangguk sambil menunggu Bara menyerahkan data dirinya.


Sekitar 5 menit Bara keluar setelah selesai menyerahkan data diri.


"Ayo saya tunjukkan gedung kamu," ajak Bara pada Sela.


Sela hanya bisa mengangguk sambil mengikuti kemana langkah Bara akan membawanya.


Sela heran sekali, kenapa semua mahasiswi berteriak histeris dan keras saat melihat Bara lewat.


Apa dia seorang idol, andai saja mereka tahu sifat mengejutkan Bara, Sela ragu jika mereka akan tetap kagum pada Bara.


"Kenapa mereka terus berteriak saat melihat anda?" tanya Sela pada Bara.


Bara tersenyum mendengar pertanyaan Sela barusan.


"Karena saya dulunya seorang idol kampus ini," jawab Bara percaya diri.


"Pantes pawangnya buaya, pasti punya banyak wanita," sindir Sela pelan.


"Kalau wanita saya banyak lalu apa kamu cemburu?" tanya Bara sambil memencet tombol lift karena mereka sudah berada di depan pintu lift.


"Hah, anda serius bertanya? Kalau saja mereka tahu anda pingsan hanya karena anjing, mungkin mereka akan berpindah hati pada cowok yang lebih tampan dari anda," kata Sela mengejek Bara.


Ting


Pintu lift terbuka, Bara hendak masuk namun langkahnya kembali mundur.


Sela hanya diam dan menatap cewek cantik bak model di depannya ini.


"Bara," panggil Laura sambil tersenyum manis pada Bara tidak Sela.


Bara hanya mengangguk lalu menoleh ke samping menatap Sela.


Bara menggenggam tangan Sela lalu masuk ke dalam lift.


Laura sedikit bergeser, tatapannya kini berubah sinis dan tajam pada Sela.


Sela hanya diam dan mencoba sekuat tenaga memberontak agar bisa lepas dari genggaman tangan Bara.


"Kamu di sini lagi ngapain Bar?" tanya Laura memecahkan suasana yang canggung.


"Mengantar kekasihku kuliah," spontan dengan cepat Sela mendongak untuk memelototi Bara.


Laura hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan Bara.


Bara menunduk untuk melihat wajah kesal Sela yang lebih pendek darinya.

__ADS_1


Sela masih memberontak untuk mencoba melepaskan genggaman Bara.


"Emang Sela masuk fakultas apa?" tanya Laura sekali lagi, dia merasa jika dirinya kini di dalam lift sedang menjadi obat nyamuk untuk mereka berdua.


"Managemen," jawab Bara singkat padat dan dingin.


Ting.


Pintu lift terbuka, buru- buru Bara menarik tangan Sela untuk keluar dari lift tanpa mengatakan sepatah kata pada Laura.


"Hah, bisa- bisanya cewek miskin itu kuliah di kampus Bara, dianter Bara lagi," kata Laura sambil menatap tajam punggung Sela yang berjalan di samping Bara.


"Ok kita liat aja nanti, karena kamu memilih seperti ini, aku akan membuatkan permainan untukmu," gumam Laura pelan lalu berjalan menyusul mereka berdua.


Karena Laura juga kelas managemen yang berarti itu satu fakultas sama Sela.


Tapi entah kita liat aja, apa mereka berdua juga sekelas nantinya.


Sela menghempaskan tangan Bara kasar, membuat Bara memberhentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Bara pada Sela.


"Apa tuan kira tidak sakit, otot anda sudah seperti besi, kuat sekali," gumamnya pelan sambil memeganggi pergelangan tangannya yang sedikit merah.


Bara menatap tangan Sela, ya tuhan mungkin Bara terlalu kuat mengenggam tangan Sela.


"Sini," kata Bara sambil menarik pelan tangan Sela.


Bara meniup pelan pergelangan tangan Sela, karena ulahnya jadi merah begini.


"Udah gapapa," kata Sela menarik pelan tangannya.


Sela merasa risih aja dipandang sinis oleh mereka yang lalu lalang.


"Ini kelasmu," kata Bara sambil menunjuk kelas di depan mereka.


Sela hanya mengangguk pelan, Bara mengedarkan pandangannya ke dalam.


Memeriksa apakah di kelas managemen ini banyak laki- lakinya.


Ternyata hanya beberapa orang saja.


"Apa anda akan tetap di sini?" tanya Sela membuat Bara menatapnya.


"Kenapa ini kampus saya," jawab Bara membuat Sela terdiam.


"Jangan bergaul dengan sembarang orang atau deket- deket sama cowok yang suka modus," peringat Bara pada Sela layaknya bapak menasehati anaknya.


"Apa anda termasuk kategori cowok modus?" tanya Sela serius.


"Kenapa kamu selalu membalikkan semua ucapan saya," kesal Bara pada Sela yang pintar sekali meledek Bara.


"Kenapa anda marah saya hanya bertanya," kata Sela.


"Sana masuk kelas," suruh Bara pada Sela.


"Uang jajan," pinta Sela seperti anak meminta uang pada ayahnya.


Bara mengambil dompetnya lalu memberikan Sela Black Card.


"Apa anda gila, bagaimana bisa saya jajan di kampus sama kartu hitam ini," dumel Sela lalu mengembalikan Black Card Bara.


"Lalu apa kamu akan ngutang di kantin nanti?" tanya Bara jengah.


"Setidaknya kasih saya uang lembaran bukan kartu hitam itu," kata Sela berterus terang.


"Saya tidak pernah merasa menikah, tapi kenapa saya merasa punya anak besar dan menyebalkan seperti mu," dumel Bara sambil mengambilkan uang lembaran untuk Sela.


"Bukankah anda tadi bilang jika wanita anda banyak, jadi jangan kaget kalau di jalan nanti ada anak kecil meminta uang pada anda," ucapan Sela benar- benar membuat kepala Bara seakan menguap.


Bara memberikan uang 50 dolar pada Sela.


50 Dolar\= 555, 100 Rupiah.


"Apa kurang?" tanya Bara pada Sela.


"Tidak bahkan ini bisa membeli kantinnya sekaligus," ketus Sela sambil berjalan masuk ke dalam kelas.


"Heh tunggu," teriak Bara membuat Sela dengan malas berbalik dan menatap Bara.


"Apa kamu tidak berniat untuk mencium tangan saya dan berpamitan?" tanya Bara membuat Sela melotot kesal.


"Apa anda bapak saya?" tanya Sela membuat Bara langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun pada Sela.


Mungkin terlalu malu karena sikapnya.


"Cih, dia memang sudah pantas untuk menjadi bapak," gumam Sela pelan lalu masuk ke dalam kelasnya.


●●●


Sedangkan di bumi yang sama.


Di waktu yang sama.


Di tempat yang berbeda.


Rendy dan Reno sedang memantau dari jauh minimarket dekat rumahnya itu.


Bara meminta pada mereka berdua untuk mengambil sepedanya.


Meskipun harganya tidak sebanding dan Bara bisa membelinya lagi.


Menurut Bara tanggung jawab adalah yang utama.


"Reno, kira- kira kalau kita ngambil sepedanya, mereka bakal gebukin kita enggak ya?" tanya Rendy sambil terus menatap minimarket itu.


"Kalau digebukin sih masih mending tuan, habis digebukin masalah kelar," kata Reno membuat Rendy menoleh menatapnya.


"Tapi buat ngambil sepedanya itu, malunya kemarin malem belum kelar," lanjut Reno.


"Gue nyesel, kenapa juga kemarin gue kayak orang gila gitu, tiba- tiba nanyain mobil padahal berangkat naik sepeda," gerutu Rendy menyesali perbuatannya kemarin.


"Dan bodohnya saya ikut- ikutan panik buat cari mobilnya, tanya sana sini," tambah Reno.


"Apa perlu kita pakai topeng buat ngambil sepedanya?" ide Rendy.


"Yang ada kita bisa digebukin satu RT tuan, karena penampilan kita seperti pencuri," kata Reno menolak ide Rendy.


"Terus gimana solusinya?" kata Rendy sambil mencak- mencak enggak jelas.


"Gimana kalau kita bilang aja kemarin bagian dari akting kita, karena kita mau ngeprank orang," usul Reno membuat Rendy memukul bahu Reno.


"Sekarang bukan jamannya dongeng, cerita ngibul gitu siapa yang percaya," ketus Rendy menolak usulan Reno.


"Terus maunya gimana tuan? Kita berdiri di sini aja sampai nanti malam, itu sepeda enggak bakal jalan sendiri nyamperin kita," kesal Reno karena sudah hampir 30 menit mereka berdiri memantau minimarket itu.


Malu jika mereka akan berpapasan dengan pegawai mininarket kemarin malam.


"Gue juga tahu kalau itu sepeda enggak bisa jalan sendiri, yang ada satu negara bisa geger liat sepeda jalan sendiri," kata Rendy yang sudah kehabisa ide untuk mengambil sepedanya.

__ADS_1


-----------------


__ADS_2