Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Kecemasan Bara


__ADS_3

○○○


Bara membawa pesawat pribadinya karena itu dia mengantarkan Sela sampai ke hutan tujuan mereka kemah.


Jarak antara rumah ke hutan berkisar 1 jam jika Bara naik pesawat umum pasti sudah terlambat.


Jadi tiket yang kemarin dia pesan hangus begitu saja.


Sebentar lagi mereka sampai, jarak Kanada ke Amerika Serikat sekitar 1 jam 17 menitan.


Rendy menatap ke samping, terlihat Bara sejak tadi hanya diam tanpa berbicara padanya.


Rendy tahu kecemasan Bara, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membantunya.


"Lo cemasin Sela?" Bara menoleh dan mengangguk lemah.


"Yaudah lompat aja dari sini, susulin Sela sono," kata Rendy membuat Bara menatap sinis Rendy.


"Kenapa enggak lo aja yang lompat," ketus Bara sambil menatap ke depan.


"Gini nih yang gue benci sama si jomblo, sekalinya suka sama cewek bucinnya serasa dunia milik kita berdua," sindir Rendy berusaha menghibur Bara.


"Kenapa? Lo iri gue bisa dapetin Sela?" tanya Bara membuat Rendy menganga mendengar ucapan Bara.


"Omg baru dekat aja udah bangga, gue yang calon suaminya biasa aja," kata Rendy membuat Bara tidak tahan untuk tidak memukul kepalanya.


Bugh


"Sadar, mimpinya kejauhan," kata Bara terlihat dirinya begitu cemburu.


"Terus lo kedekatan gitu mimpinya," balas Rendy memukul bahu Bara tidak kalah kerasnya.


Gitulah kalau mereka berdua di dekatkan, yang awalnya ngobrol bisa berakhir batu hantam.


Tapi Bara sangat menyayangi Rendy, seperti adiknya sendiri, begitu juga papa dan mamanya, mereka juga menganggap Rendy seperti anak sendiri.


.


.


.


.


.


Pesawat landing beberapa menit yang lalu, Bara dan Rendy bergegas menuju kantor besar tuan Clay.


Hanya berkisar 30 menit menuju gedung utama perusahaan tuan Clay, Bara dan Rendy telah sampai.


Terlihat begitu banyak jajaran mobil papan atas yang terparkir di halaman perusahaan tuan Clay.


Bagaimana tidak hampir 10 negara yang mengikuti proyek besar ini dan merupakan daftar dari perusahaan yang cukup berpengaruh di negaranya.


"Tuan Aldebaran Bradsiton Arganta," kata Reynald menghadang Bara ketika mulai memasuki lobi.


Bara menatap datar Reynald yang berdiri tepat di depannya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku.


"Apa kabar?" tanya Reynald membuat Rendy yang berdiri di belakang Bara tersenyum miring.


"Minggir, gue mau lewat," kata Bara pada Reynald namun tidak digubris sama sekali olehnya.


"Kelihatannya lo baik- baik aja dibandingkan gue," Reynald mulai membahas sesuatu yang membuat keduanya sangat sensitif.


"Gue enggak ada urusan sama lo, minggir," tegas Bara dengan nada penuh penekanan.


"Bakal gue inget sampai kapan pun," Reynald berjalan maju mendekati Bara dan berbisik sesuatu pada Bara.


"Kalau lo adalah pembunuh," bisik Reynald membuat Bara menatap tajam mata Reynald.


Reynald pergi begitu saja, Rendy yang mengerti kondisi Bara langsung mengajak untuk segera masuk ke dalam gedung.



Mereka melewati red karpet dan disambut bodyguard yang berjaga di depan pintu.


Tuan Clay sengaja memilih di gedung daripada di perusahaannya, karena mengingat banyaknya tamu yang akan datang.


Bara dan Rendy masuk ke dalam gedung, terlihat begitu luas dan banyak para tamu yang datang, sangat mewah padahal sekedar menyerahkan proposal belum puncak acaranya.



Terlihat Clay sedang berbicara dengan beberapa pejabat tinggi dari berbagai negara.


Clay yang menyadari kedatangan Bara dan Rendy langsung menyambut baik keduanya dan memeluknya bergantian.


"Bara," panggil Clay langsung memeluk Bara seperti putranya sendiri.


"Tuan Clay, bagaimana dengan kabar anda?" tanya Bara tersenyum senang dengan sikap Clay yang sangat rendah hati.


"Tentu saja sehat seperti yang kamu lihat seperti sekarang ini," Clay beralih menatap Rendy dan tersenyum senang memeluk Rendy.


"Oh Rendy, kau juga ikut?" tanya Clay memeluk Rendy sambil menepuk- nepuk bahu Rendy.


"Iya tuan," jawab Rendy sopan dan ramah beda saat dia berdebat dengan Bara di pesawat tadi.


"Oh ya saya tinggal dulu untuk persiapan sebentar lagi, kalian nikmati saja hidangannya dan bersantai," kata Clay pamit untuk bersiap presentasi yang akan dimulai sebentar lagi.


"Wih gila, cuma acara nyerahin proposal aja pakai gedung sebesar ini, gimana nanti sama puncak acaranya," gumam Rendy berdecak kagum melihat mewahnya gedung Clay.


"Nanti gue bakal sewa buat acara pernikahan gue sama Sela," kata Bara membuat Rendy melotot tidak percaya sama ucapan Bara.


"Mimpi aja jangan bangun," kata Rendy lalu pergi mencari tempat duduk. Bara tertawa pelan melihat wajah merah Rendy yang cemburu.


Clay naik ke atas panggung untuk membuka dengan resmi acara tahunan ini.


Acara pembukaan telah selesai kini berlanjut untuk penjelasan tentang peragaan busana, talk show dan juga seminar.


Bara teringat sesuatu, buru- buru mengambil ponselnya dan melihat GPS yang dia hubungkan dengan milik Sela.


GPS yang Bara pasang tanpa sepengetahuan Sela, masih tetap stay di tempat, itu tandanya Sela belum melakukan pos malam.


Bara sudah meminta Mr.John untuk membantu mengawasi Sela, tapi karena banyaknya mahasiswa bukan cuma Sela, jadi Mr. John hanya bisa mengawasi ala kadarnya.

__ADS_1


Bara menatap ke samping, melihat Rendy sedang makan banyak sekali kue.


"Lo kelaperan?" tanya Bara pada Rendy yang sudah menghabiskan 3 piring kecil berisi mochi.


"Sumpah kue ini rasanya enak banget," kata Rendy sambil menunjukkan rasa dari mochi yang dia pegang.


"Gue gaji lo tinggi, gue kasih lo black card, giliran diajak kunjungan besar lo makan kayak orang kelaperan, emang uang lo simpen buat apa?" tanya Bara yang tersenyum melihat Rendy memakan mochi dengan mulut penuh.


"Buat nyewa gedung ini, entar buat nikah gue sama Sela," tawa Bara meledak mendengar ucapan Rendy, untungnya suara Clay begitu keras dan juga tepuk tangan dari para tamu menyamarkan suara tawanya.


Bara kembali menatap ponselnya, GPS Sela mulai berjalan perlahan menjauhi tempat mereka mendirikan kemah.


Bara terus fokus menatap ponselnya, memperhatikan kemana perginya GPS Sela. Jaringan yang ada di hutan membuat GPS suka menghilang atau terputus dengan sendirinya.


Bara sesekali mendengarkan presentasi dari Clay, Bara tahu jika pikirannya akan terpecah jadi dua seperti ini, karena itu, Bara mengajak Rendy.


Tapi berhubung Rendynya lagi asik dengan si mochinya, terpaksa Bara merekamnya dengan ponsel khusus kerjanya.


Bara kembali menatap ponselnya, GPS Sela semakin berjalan jauh dari tempat dia berada semula.


Bara menatap jam tangannya pukul 19.00 (GMT- 5) pasti di sana sudah malam karena mengingat jika tidak ada selisih antara Washington dengan Kanada.


Bara mengingat ketika dia membaca sekilas jadwal kemah Sela, jika sekarang sudah waktunya para mahasiswa untuk melakukan pos malam yang ditugaskan oleh dosen mereka.


Apa Sela baik- baik saja? Apa dia tidak ketakutan berjalan malam- malam begini?


Rendy yang menyadari sejak tadi Bara terus memantau ponselnya, Rendy merasa kasihan pada Bara.


Apa yang bisa dia lakukan untuk membantunya, terlihat Bara sangat mencemaskan Sela.


Rendy tahu sikap posesif dan juga over protektif Bara, jadi Rendy sudah menduga saat Bara memberikan ponsel pada Sela di perjalanan kemah kemarin.


Pasti Bara sudah melengkapi GPS pada ponsel Sela. Tidak mungkin seorang Aldebaran melepaskan miliknya jauh darinya begitu saja tanpa pengawasan ketat darinya, itu mustahil.


Bara menatap ponselnya, sudah 25 menit Bara tidak melepaskan pandangannya dari ponsel yang memperlihatkan GPS Sela, kenapa tiba- tiba hilang begitu saja.


Memang jaringan dalam hutan tidak baik tapi beberapa menit kemudian akan tersambung kembali, kenapa ini tidak lagi muncul setelah terakhir kalinya.


Bara menatap Clay turun dari panggung, ternyata Clay memberikan jeda 15 menit untuk para tamu.


"Bar lo balik aja gih, biar gue yang nyelesain proposalnya," kata Rendy yang sudah tidak tahan melihat kecemasan dalam diri Bara.


"Buruan tunggu apalagi, Sela butuh lo sekarang juga," kata Rendy memaksa agar Bara kembali dengan pesawat pribadinya.


"Terus lo gimana?" tanya Bara tidak tega meninggalkan Rendy sendiri.


"Udah entar gue naik pesawat biasa aja, buruan pergi," kata Rendy menarik tangan Bara agar berdiri dan cepat pergi.


"Makasih son, gue pergi dulu," kata Bara berlari keluar meninggalkan acara sebelum selesai.


Rendy merasa lega setidaknya dia bisa membantu Bara untuk mengatasi rasa cemasnya.


●●●


30 menit sebelum pemberangkatan ke pos [Jurit Malam]


Sela sejak tadi hanya diam dan menunduk memainkan jarinya.


Keringat dingin yang terkadang keluar begitu saja atau ingatan entah apa yang membuat dirinya merasa sakit dan tiba- tiba menangis.


Gabriela menyadari sejak tadi sore Sela hanya diam saja.


Padahal perkemahan ini cukup seru juga dan membuat mahasiswa lain juga merasa rileks melakukan perkemahan malam ini, tidak seperti kemarin saat awal dikasih tahu jika ada kemah 2 hari, mengeluh, menggerutu dan lainnya.


"Sel lo kenapa?" tanya Gabriela memegang tangan Sela yang terasa dingin.


"Aku enggak papa La," jawab Sela menatap wajah Gabriela sekilas.


"La," panggil Sela pelan membuat Gabriela kembali menatap Sela yang kini juga menatapnya sendu.


"Jangan tinggalin aku sendiri ya," kata Sela terdengar lemah dan juga penuh permohonan. Gabriela hanya mengangguk pelan.


Gabriela kembali mendengarkan petunjuk dari dosen untuk jurit malam. Gabriela menatap Laura yang berada di seberang menatap tajam Sela sejak tadi.


"Ok anak- anak jurit malam akan kita mulai, jadi kalian akan berjalan satu- persatu mengikuti anak panah yang telah dibuat sebagai tanda dan ada juga obor di setiap jalan kalian menuju pos, jadi saya rasa tidak akan begitu gelap" kata Mr. John menjelaskan jurit malam.


Keringat dingin mulai mengucur di pelipis Sela, ketakutan, kecemasan semua seakan muncul bersamaan kala mendengar suara atau melihat yang berhubungan dengan gelap.


"Yang namanya saya panggil, maju ke depan dan jangan lupakan clue kalian untuk menemukan petunjuk," kata Mr. John kembali mengingatkan.


"Dewa Putra Wijaya," panggil Mr.John, Dewa berdiri dan memulai untuk berjalan menuju pos. Selang 2 menit Mr. John kembali memanggil mahasiswa lainnya.


"Sandra Cantika Nova,"


"Laura Cassandra Bella,"


"Jenifer Rosania,"


"Gabriela Lusiana," semua sudah terpanggil satu- persatu, hingga kini tiba giliran Sela yang dipanggil.


"Sela," panggil Mr. John karena Sela sejak tadi melamun. Sela terkejut saat Mr. John berdiri di depannya.


"Apa kamu baik- baik saja?" tanya Mr. John melihat keadaan Sela yang sejak tadi hanya diam.


Sela hanya mengangguk, lalu perlahan mengambil senter yang dibawanya, berjalan perlahan menyusul lainnya.


Sela berjalan dengan langkah yang pelan, menatap kanan kiri, siapa tahu Gabriela atau Sandra sedang menunggu dirinya diam- diam.


Sela berjalan pelan terlihat di depan ada obor, Sela berjalan sampai menuju obor, terlihat ada anak panah yang mengarah ke arah kiri jalan.


Sela terus menyusuri jalan tapi anehnya tidak ada obor di setiap jalan dan juga pos yang seperti dibilang Mr. John.


Apa Sela salah jalan, kenapa semakin ke sini jalannya semakin lebat dan gelap. Sela mulai merasakan keringat dingin mulai bercucuran dan kepalanya mulai pusing.


Sela mencoba untuk terus berjalan menyusuri jalan dengan senter yang dibawanya, siapa tahu memang posnya sedikit jauh.


Sedangkan di tempat awal, ditenda tadi mereka semua sudah kembali dan berhasil menyelesaikan misinya.


Namun, Sela belum kunjung sampai juga padahal dia bukan mahasiswa paling akhir, apa dia tersesat.


Itu jelas tidak mungkin karena setiap jalan menuju pos ada obor sebagai tanda untuk menerangi juga sebagai tanda menuju pos.


Mr. John sedikit cemas dengan keadaan Sela, bagaimana ini jika Bara menanyakan tentang keadaannya.

__ADS_1


"Mr. John," semua menoleh dan sedikit terkejut dengan teriakan Bara yang tiba- tiba saja datang.


"Tuan Bara," kata Mr. John merasa gugup kala melihat Bara datang disaat waktu yang tidak tepat.


"Di mana Sela? Apa jurit malam sudah selesai?" tanya Bara dengan napas yang memburu.


"Maaf tuan Bara," Bara langsung menatap tajam Mr. John ketika Mr. John mengatakan maaf padanya.


"Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Bara terdengar dingin dan membuat lawan bicaranya takut.


Bahkan mahasiswa yang melihatnya heran juga terkejut, Mr. John yang mereka kenal sebagai dosen terkiller di kampus, kini menjadi ciut nyalinya ketika berhadapan dengan Bara.


"Sudah hampir 1 jam Sela belum kembali," kata Mr. John membuat mata Bara melotot marah.


"Apa tanggung jawab anda sebagai dosen? Saya tidak akan membiarkan anda jika sampai sesuatu terjadi padanya," kata Bara.


Bara menatap sekilas Laura lalu Gabriela, tanpa menunggu lagi Bara menyahut senter di dekat Mr.John dan berlari ke dalam hutan mencari Sela.


"Tuan Bara," kata Mr. John hendak menghentikan Bara namun terlambat Bara sudah berlari ke dalam hutan.


Bara memeriksa ponselnya, jaringannya begitu sulit menjadi kendala bagi Bara untuk mencari Sela.


Bara menatap panah yang mengarah ke kekanan, lalu Bara menoleh ke kiri, jika setiap jalan menuju pos ada obor yang menerangi dan sebagai tanda, kemungkinan kecil Sela tersesat kecuali


Bara berjalan menuju sisi kiri, dengan senter besar di tangannya. Bara kembali memeriksa ponselnya, belum juga ada tanda- tanda.


Bara berhenti sejenak, lalu melihat jam tangan mahalnya yang merupakan hadiah dari papanya, jam tangan yang disertai hologram, GPS, alarm darurat untuk memanggil bodyguardnya juga sebagai perentas atau bahkan digunakan untuk melacak keberadaan GPS yang terputus dari ponselnya.


Bara berjalan perlahan menyusuri tempat yang diarahkan oleh jam tangannya.


Bara merasa sangat cemas dan khawatir pada Sela, apa dia baik- baik saja?


Bara berharap dia bisa segera menemukan Sela, semoga tidak ada binatang buas atau penjahat yang menemui Sela sebelum Bara.


"Sela," teriak Bara mencoba untuk memanggil Sela agar Bara tahu keberadaannya.


Bara sesekali mengamati jam tangannya, Sela berjalan begitu jauh ke dalam hutan jadi sangat jauh sekali untuk mendeteksinya.


Bara terus berjalan dan meneriakkan nama Sela dengan hati yang tidak bisa tenang.


"Hiks hiks," Bara langsung menyoroti ketika mendengar suara tangisan seseorang.


Di bawah pohon Sela meringkuk dengan senter yang sudah tergeletak di tanah dengan keadaan masih menyala sambil menangis tersedu- sedu.


Bara langsung berlari menghampiri Sela yang menangis di bawah pohon.


"Hey," panggil Bara pelan sambil memegang tangan Sela yang sudah begitu dingin dan berkeringat.


Sela mendongak dan melihat wajah Bara yang terlihat mencemaskannya.


"Tuan," kata Sela langsung memeluk Bara untuk menetralkan rasa takutnya akan kegelapan ini.


Bara membalas pelukan Sela tak kalah eratnya dan mencium puncak kepala Sela menyalurkan kekuatan pada Sela.


"Maaf saya terlambat," gumam Bara lirih di telinga Sela. Sela masih menangis tersedu- sedu di pelukan Bara.


"Saya takut," gumam lirih Sela membuat Bara semakin mengeratkan pelukannya.


Sela melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya, Sela mendongak menatap wajah Bara.


"Bukannya anda sekarang sedang di Amerika?" tanya Sela merasa bersalah pada Bara.


Bara tidak menjawab, Bara lalu melepaskan mantel tebalnya dan memakaikannya pada Sela agar merasa hangat.


"Tuan, kenapa anda meninggalkan acara penting ini?" tanya Sela masih menatap Bara yang hanya diam saja.


Bara menggosokkan kedua telapak tangannya lalu menempelkan pada kedua telapak tangan Sela tanpa berniat menjawab ucapan Sela.


"Kenapa tuan melakukan ini semua?" tanya Sela menatap lekat wajah Bara.


"Apa perlu saya jelaskan?" tanya balik Bara membuat Sela terdiam.


Bara berdiri dan mencari beberapa ranting untuk membuat api unggun agar Sela menjadi lebih hangat.


Bara menggosokkan kedua batu untuk menghasilkan percikan api.


Api sudah menyala, setidaknya ini bisa membuat Sela hangat juga menerangi gelapnya hutan agar Sela tidak merasa begitu ketakutan.


Bara lalu duduk di samping Sela dan menatap Sela yang mengeratkan mantelnya agar tubuhnya hangat.


"Apa masih dingin?" tanya Bara pada Sela, Sela menggelengkan kepalanya.


"Tuan, kapan kita akan kembali?" tanya Sela karena dirinya begitu takut dengan gelapnya hutan ini.


"Besok pagi," jawab Bara sambil menghadapkan tangannya di depan api agar merasa hangat.


Padahal jam tangan Bara adalah jam tangan termahal dan tercanggih yang papanya belikan saat ulang tahunnya.


Di jam tangan itu di lengkapi GPS, alarm untuk memanggil para bodyguardnya dan masih banyak lagi, Bara tinggal pencet aja alarmnya semua bodyguard akan datang.


Tapi karena sekarang dirinya bersama Sela. Jika bisa berdua dengan Sela kenapa harus manggil para bodyguard.


Bara menoleh ke samping terlihat Sela sudah tertidur dengan bersandar di pohon.


Bara duduk lebih dekat di samping Sela, lalu meletakkan kepala Sela untuk bersandar di bahunya.


Bara menatap wajah cantik Sela yang kini sudah tertidur lelap.


Mata sembab dan hidung memerah karena kelamaan menangis membuat Bara tertawa pelan jika melihat wajah Sela.


Perlahan Bara mencium kening Sela dan memeluk erat Sela agar tidak merasa kedinginan.


--------☆☆☆------------


Hehe maaf ya lama up nya.


Oh ya jangan lupa baca juga ceritaku


1. Cupu Becomes Queen


2. Cinta Karena Insiden


Makasih, semoga kalian terhibur dengan ceritaku

__ADS_1


__ADS_2