Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Beasiswa Luar Negeri


__ADS_3

○○○


Reynald benar- benar sangat emosi dan tidak terima akan kekalahannya dari Bara.


Reynald sedang menunggu seseorang di cafe dekat perusahaannya.


Tidak hanya kalah dari Bara, tapi juga ditipu oleh mereka semua, membuat Reynald seperti dipermainkan oleh rencananya sendiri.


"Maaf tuan saya terlambat," kata seseorang yang baru saja datang dan langsung duduk di hadapan Reynald.


"Kembalikan uang gue," kata Reynald dingin membuat lawan bicaranya tidak percaya sama apa yang dia dengar.


"Apa saya tidak salah dengar? Bukankah saya sudah membantu anda kenapa tuan malah meminta kembali uangnya?" Gabriela marah saat diminta untuk mengembalikan uangnya.


Ya, orang yang sejak tadi Reynald tunggu adalah Gabriela.


Orang suruhannya untuk masuk ke dalam perusahaan Bara memasang beberapa cctv juga merusak busana.


Jangan lupakan saat dia menembaki mobil dari sekelompok tim Clay untuk menuju perusahaan Bara.


"Apa perlu gue ulangi?" tanya Reynald terdengar sinis juga tajam.


Gabriela mendengus sebal lalu melemparkan amplop coklat yang kemarin dia terima dari Reynald yang berisi uang.


Reynald memeriksa jumlah uang di dalam amplop.


Senyum miring tergambar jelas di bibir Reynald.


"Kurang 100 dolar?" kata Reynald sambil mengadahkan tangannya di depan Gabriela.


"Sebenarnya mau tuan apa sih? Saya sudah membantu rencana anda, apa tuan berniat untuk menipu saya?" Reynald tersenyum sumbang lalu melemparkan amplop coklat di atas meja tepat di hadapan Gabriela.


"Lo mau tahu apa kesalahan yang telah lo buat?" Gabriela mengangguk.


"Karena keteledoran lo, semua rencana yang sudah gue susun rapi seketika berantakan cuma karena lo," Gabriela mengernyit bingung apa maksud Reynald.


"Maksud tuan?" tanya Gabriela tanpa berkata Reynald menyodorkan tabletnya ke depan Gabriela.


Di mana masih ada rekaman vidio saat mereka menertawakan kebodohan Reynald memasang cctv di perusahaan Bara.


"Jadi mereka tahu kalau kita memata- matai mereka?" tanya Gabriela terkejut dan juga bingung.


Bagaimana bisa rencana ini nyatanya menyerang balik Reynald sendiri.


Senjata makan tuan.


"Udah tahu apa salah lo?" tanya Reynald judes sambil merebut tabletnya di tangan Gabriela.


"100 dolar besok sudah ada di meja kerja gue," kata Reynald hendak pergi namun Gabriela menahannya.


"Tunggu tuan, saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda," kata Gabriela menahan lengan Reynald.


Reynald melirik sinis tangan Gabriela yang berani- beraninya menyentuhnya.


Dengan cepat Gabriela langsung menarik tangannya dan kembali duduk begitupun Reynald.


"Emm anda kenal Sela bukan?" tanya Gabriela membuat Reynald mengernyit.


"Saya sahabat Sela, saya bisa membantu anda untuk mendapatkan cintanya Sela," Reynald tertawa renyah meremehkan ucapan Gabriela.


"Apa lo yakin? Kerjaan yang gue kasih kemarin aja, lo enggak becus," kata Reynald mengejek Gabriela remeh.


Gabriela beberapa kali menahan diri untuk tidak marah dan emosi.


"Kali ini percaya sama saya," kata Gabriela berusaha untuk menyakinkan Reynald.


"Apa rencana lo?" Gabriela tersenyum saat Reynald percaya padanya.


Gabriela beralih tempat duduk dan membisiki Reynald sesuatu.


"Bagaimana menurut tuan, apa ide saya bagus?" tanya Gabriela setelah memberitahu rencana busuknya.


"Ok, gue setuju," kata Reynald setuju dengan rencana Gabriela.


Reynald meminum kopinya, Gabriela menoleh ke samping menatap wajah Reynald.


Dia lumayan tampan, meski tidak setampan Bara.


Terlihat tegas, dingin juga berwibawa.


Gabriela beberapa saat membayangkan, bagaimana jika dirinya menjadi seperti Sela.


Menjadi perempuan lemah lalu bertemu dengan seorang pangeran kemudian segala kehidupannya berubah secara drastis.


Apa ia bisa seperti Sela? Beruntung seperti Sela.


Jika Bara tidak bisa dia dapatkan mungkin Reynald bisa.


Gabriela bergelayut manja di lengan Reynald membuat Reynald menoleh dan menatapnya tajam.


Namun, yang namanya Gabriela itu tidak ada takutnya.


"Rey," panggil Jessy spontan Reynald mendorong Gabriela agar menjauh darinya.


"Jessy," kaget Reynald lalu menatap bengis Gabriela.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," kata Reynald takut jika Jessy salah paham padanya.


"Memang apa yang kupikirkan?" kata Jessy santai membuat Reynald salah tingkah.


Jessy menatap Gabriela yang melihatnya dengan sinis.


"Apa dia gadismu?" pancing Jessy pada Reynald sambil menatap Gabriela.


"Bukan," jawab Reynald dengan cepat, Jessy hanya tersenyum manis.


"Kalau begitu aku pergi dulu, permisi," kata Jessy lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Reynald langsung menyambar jas hitamnya dan pergi menyusul Jessy tanpa memedulikan Gabriela.


"Ih dasar cewek murahan, gayanya aja sok keren," dengus Gabriela kesal lalu mengambil tas selempangnya dan pergi dari sana.


Sedangkan Reynald menyusul Jessy yang pergi ke kamar mandi.


Reynald menunggunya di depan kamar mandi.


Ceklek


Pintu terbuka dan menampilkan Jessy yang terkejut saat ada Reynald di depannya.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana jika gadismu melihat?" kata Jessy sedikit takut juga was- was dengan sikap Reynald yang agresif seperti ini.


Reynald menatap lekat mata hazel Jessy lalu mendorong Jessy dengan kuat untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi.


♡♡♡

__ADS_1


Sela baru saja selesai bersiap untuk pergi ke kampus.


Sela keluar dari kamarnya lalu langsung turun ke bawah ke lantai 2 untuk sarapan.


Tapi meja makan kosong.


Kemana Bara, apa dia belum bangun?


Sela akan menunggunya di meja makan.


Ada secarik kertas di bawah gelas, Sela mengambilnya.


Jangan lupa sarapan sebelum ke kampus, saya ada meeting mendadak.


Sela tersenyum samar, apa benar ini tulisan Bara.


Buruk sekali seperti rel kereta api, tidak ada jarak di antara tulisannya.


Sela mengambil selembar roti tawar lalu meminum susunya hingga tandas.


Sela langsung turun ke bawah untuk langsung berangkat ke kampus dengan roti tawar di tangannya.


Sela melihat pak Asep sudah menunggunya.


"Selamat pagi non," sapa pak Asep pada Sela.


"Pagi pak Asep. Mulai sekarang pak Asep enggak boleh manggil saya non," kata Sela melarang pak Asep.


"Lalu apa saya harus memanggil dengan sebutan nyonya Bara?" goda pak Asep membuat beberapa bodyguard yang mendengarnya menahan tawa mereka.


"Ih bukan gitu pak Asep. Sela sendiri di sini kan bukan siapa- siapa, cuma numpang doang, jadi jangan panggil saya nona, panggil saja Sela, seperti anak bapak sendiri," kata Sela membuat pak Asep tersenyum ramah.


"Tapi seingat saya tuan Bara pernah berkata jika nona adalah calon tunangannya, jadi kalau bisa saya harus membiasakan diri untuk memanggil nona dengan sebutan nyonya Bara," Sela menutup matanya saat pak Asep mengatakan hal itu dengan keras membuat semua mendengarnya.


"Ah ayo pak Asep anterin saya, nanti keburu telat," kata Sela langsung masuk ke dalam mobil kemudi bagian depan.


Pak Asep menahan tawanya melihat sikap gugup juga malu Sela.


Memang Bara pernah berkata demikian pada pak Asep.


Pak Asep segera mengantar Sela untuk pergi ke kampus.


.


.


.


.


.


Perusahaan ATF


Bara sedang mempersiapkan beberapa berkas untuk rapat ini.


Gara- gara Rendy ngilang jadi Bara riweh sendiri.


Bara langsung membawa berkas- berkasnya ke ruang meeting.


Kring kring kring


Bara merogoh sakunya untuk melihat siapa yang menelpon.


Mr. John


"Bara, apa kamu masih di kantor?"


"Iya Mr. John, apa ada masalah tentang kuliah Sela?"


"Bukan. Apa kita bisa bertemu, aku akan menunggumu di cafe dekat perusahaanmu,"


Bara melihat jam tangannya.


"15 menit lagi saya akan datang, saya melakukan meeting sebentar,"


"Baiklah akan saya tunggu,"


"Terima kasih," Bara langsung menuju ruang rapat agar bisa segera menemui Mr. John.


Kira- kira ada apa Mr. John ingin bertemu dengannya.


Apa sesuatu telah terjadi dengan gadisnya?


Bara sampai di ruang meeting, terlihat beberapa kepala dewan dan pemegang saham sudah menunggu.


"Maaf telah membuat kalian menunggu," kata Bara lalu langsung memberikan beberapa berkas untuk direvisi.


Sekitar 12 menit meeting telah selesai.


Bara melihat jam tangannya, masih ada waktu 3 menit untuk menemui Mr. John.


Bara langsung menaiki lift dan turun ke lantai bawah untuk pergi ke cafe.


Bara memasuki cafe yang berada di sebelah perusahaannya.


Terlihat Mr. John duduk di sudut cafe dekat jendela.


"Mr. John," kata Bara menyapa lalu saling berpelukan.


"Maaf terlambat dan membuatmu menunggu lama," Bara merasa tidak enak saat meminta Mr. John menunggu tapi meeting revisi berkas ini juga sangat penting.


Jadi, mau tidak mau Mr. John harus menunggu.


"Ada apa tuan, apa Sela membuat masalah di kampus?" tanya Bara to the point pada Mr. John.


Mr. John tidak menjawab hanya menyodorkan amplop coklat ke hadapan Bara.


Bara menatap amplop coklat dengan bingung juga ragu.


Bara langsung membuka amplop coklat itu untuk mengetahui apa isinya.


Surat Penerimaan Beasiswa Universitas Hardvard atas nama Sela Gabriela Maxiton


"Satu bulan yang lalu Sela ikut mengajukan beasiswa ini dari 100 mahasiswa lainnya," kata Mr. John menjelaskan pelan- pelan pada Bara saat mengetahui perubahan ekspresi Bara.


"Tapi siapa sangka dari 100 mahasiswa hanya 3 orang yang lolos dan Sela salah satunya," kata Mr. John ada rasa bangga saat mahasiswanya ada yang bisa mendapatkan beasiswa di luar negeri.


"Bara, kamu sangat beruntung sekali mendapatkan Sela, meski dia tertinggal sedikit jauh dari temannya, nilai dia tidak kalah tinggi dari lainnya, karena itu dia bisa lolos beasiswa ini,"


"Juga selama dia kuliah di Universitas kamu, tidak sedikitpun dia memakai biaya yang kamu berikan untuknya," Bara mengernyit bingung.


"Ya, awal dia kuliah, Sela meminta untuk mengembalikan semua biaya yang kamu berikan ke rekening kamu, lalu menggantinya dengan uang dia sendiri," pengungkapan Mr. John membuat Bara tercengang.


Pantas saja terakhir kali memang ada beberapa transfer yang masuk ke dalam rekeningnya.

__ADS_1


Bara pikir itu transfer dari papanya, nyatanya.


Bagaimana mungkin Sela mendapatkan uang sebanyak itu.


Dari mana?


"Bara, kamu mengizinkan atau tidak, itu semua berada di tanganmu, tapi saran saya, biarkan dia meraih impiannya, saya yakin Sela adalah perempuan yang mandiri juga pekerja keras, karena itu pertahankan dengan biarkan dia meraih impiannya," Bara menyandar di kursi dengan tubuh yang lunglai.


Tatapan juga pikirannya mendadak kosong.


"Waktu Sela hanya tinggal satu bulan, kamu terima atau tidak beasiswa ini, saya serahkan lagi sama kamu dan Sela," kata Mr. John mengambil tasnya lalu berdiri sambil menatap Bara yang hanya diam tak merespon sedikitpun.


"Saya mohon pertimbangkan lebih matang lagi untuk mengambil kebijakanmu Bara, waktumu hanya satu bulan, saya permisi dulu," kata Mr. John lalu pergi meninggalkan Bara yang masih diam termenung.


Bara menatap kembali selembar kertas.


Tercetak jelas dan tebal nama Sela sebagai penerima beasiswa Universitas Hardvard.


Di satu sisi ada rasa bangga juga terharu, beberapa kali Bara dibuat kagum oleh Sela.


Ya tuhan, apa yang harus Bara lakukan.


Bara tahu apa yang ada di pikiran Sela.


Dia selalu merasa merepotkan juga membebani Bara karena keadaannya.


Padahal tidak ada rasa sedikitpun terbebani atau merasa direpotkan olehnya.


Bara melakukan perawatan untuk ibunya juga membiayai dirinya untuk melanjutkan kuliah, semua itu tulus.


Dan karna Bara sangat sayang juga mencintai Sela.


Bara menatap jam tangannya, saat ini waktunya Sela pulang.


Bara berdiri dan pergi dari cafe dengan pikiran yang entah tidak karuan.


Dia tidak bisa berpikir jernih.


Bara akan pergi ke rumah mamanya meminta saran yang terbaik untuk calon menantunya.


Hehe


.


.


.


.


.


Sela sepulang dari kampus langsung meminta pak Asep untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Entah kenapa hati Sela seakan merasa sedih juga sedikit ada rasa bersalah.


Entah ini hanya perasaannya atau memang dia sedikit sensitif.


Sela menatap wajah ibunya yang terlihat begitu pucat.


Kapan ibu akan sadar, Sela sangat merindukan ibu.


Sela butuh ibu, cepatlah sadar bu.


"Bu maafkan Sela telah menggadaikan sertifikat rumah peninggalan ayah," gumam Sela lirih sambil menahan tangisnya.


"Sela tidak ingin merepotkan Bara bu, dia sudah membiayai ibu dan merawat di rumah sakit, Sela sudah begitu senang, tapi tidak saat Bara membiayai Sela kuliah bu," Sela menunduk tidak lagi kuat menahan tangisnya.


"Karena itu Sela menggadaikan sertifikat untuk mengembalikan semua biaya yang dia berikan untuk ibu dan Sela mengajukan beasiswa agar meringankan beban Bara bu," gumam Sela lirih sambil menciumi tangan ibunya.


"Doakan Sela ya bu, agar bisa mendapatkan beasiswa itu," kata Sela lalu mencium kening juga kedua mata ibunya tidak lupa kedua pipinya.


Sela meraih ponselnya juga tasnya yang berada di atas nakas.


Ada satu notifikasi dari Gabriela, buru- buru Sela melihatnya.


○○○


Rendy dan Reynald sedang duduk di bangku taman kota menikmati udara malam hari.



"Tuan, apa anda tahu, kita sudah seperti gelandangan yang tidak punya rumah lagi," kata Reno sambil memakan burgernya.


"Gimana kalau kita balik aja ke rumah lo?" tanya Rendy sambil memakan kue mochi di sebelah tangan kanannya dan burger di tangan kirinya.


"Jangan, kemarin aja anda sudah membakar dapur saya, apa jadinya kalau saya mengizinkan tuan tinggal di rumah saya, yang ada nanti tuan akan membakar rumah saya," tolak Reno dengan keras.


Rendy mendorong Reno kesal.


"Kan waktu itu lo yang bakar daging terus lo tinggal nonton tv," kata Rendy tidak mau disalahkan.


"Kan kalau anda tidak memanggil saya untuk menonton siaran langsung sepak bola pasti enggak bakal ke bakar dapur saya," gerutu Reno sambil menyeruput lattenya.


"Terus malam ini kita mau tidur di mana coba?" tanya Rendy saat Reno tidak mau jika mereka kembali ke rumah.


"Kita balik aja ayo ke rumah tuan Bara, terserah deh nanti tuan Bara mau hukum kita apa, yang penting kita enggak kayak gembel gini," kata Reno meminta agar Rendy mau diajak pulang.


Biang keroknya tuh dia, setannya juga dia.


Kalau mau diajak pulang pasti ada 1001 alasan untuk menolak.


"Jangan deh Ren, gimana kalau kita ke hotel aja," tawar Rendy membuat Reno menghela napas berat.


Ini mungkin sudah alasan yang ke 999 nya.


"Kan gue bawa black card, gimana?" kata Rendy dengan semangatnya.


Mungkin dia lupa kalau Bara membekukan kartunya agar mereka berdua cepat pulang.


Kalau enggak gitu pasti dua anak ini bakal keliaran enggak pulang- pulang, kalau dibekukan gitu kan pasti mereka akan pulang kalau uangnya habis.


"Anda lupa, black card anda tadi sore baru saja dibekukan," kata Reno lalu berdiri meninggalkan Rendy yang masih duduk di bangku.


"Oh iya ya, uang gue juga udah habis lagi. Entar kalau dikejar anjing lagi terus gue laper makan apaan dong," gumam Rendy berkata pada dirinya sendiri.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


**Maaf buat kalian menunggu lama dan merasa tidak nyaman.


Saya kemarin ada kendala jadi tidak bisa up🙏


Sekali lagi saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini, semoga kalian semua masih suka sama cerita saya.


Insyaalllah malam ini mungkin saya akan up 2 eps untuk membayar hari kemarin karena membuat kalian menunggu lama😄🙏

__ADS_1


Dari sini konflik utama akan mulai muncul dan bakal tegang- tegangnya, jadi jangan tinggalkan lapak ini ya.


Saya akan berusaha untuk menghibur kalian dengan kerecehan 2R😚**


__ADS_2