
□□□
Pertengkaran masih berlanjut di dalam kamar Sela.
"Sayang kamu jujur sama aku, aku enggak akan marah, apa kamu yang membuat ayah Gabriela hingga masuk rumah sakit?"
tanya Bara yang sudah kedua kalinya dengan jawaban yang sama.
"Apa saya gila, dia sudah seperti ayah saya sendiri, bagaimana mungkin saya melakukan hal sekeji itu," kata Sela yang sudah tidak lagi bisa menjelaskan apapun pada Bara.
"Terserah tuan mau percaya atau enggak, saya akan pergi untuk menjenguknya," kata Sela hendak pergi namun lagi- lagi Bara menahannya.
"Ayo saya antar," kata Bara pelan.
"Tidak perlu saya bersama pak Asep saja," Sela keluar kamar dan bergegas menuju rumah sakit.
Bara berlari untuk menyusul Sela, dia yang akan mengantarnya ke rumah sakit.
Bara keluar dari lift dan berlari keluar rumah untuk menghentikan pak Asep.
"Pak Asep tunggu," teriak Bara saat pak Asep memutari mobil.
"Biar saya aja yang mengantar," kata Bara langsung masuk ke dalam mobil tanpa menunggu jawaban pak Asep.
Sela hanya bisa diam dan pasrah saat Bara ngotot untuk mengantarnya.
Bara melajukan mobilnya dengan sesekali melihat wajah gadisnya.
Bukannya Bara tak percaya pada wanitanya.
Namun, semua bukti mengarah pada Sela.
Hatinya memang percaya jika bukan Sela tapi logikanya percaya pada realita di mana bukti mengarah pada Sela.
Bara sendiri juga bingung, bagaimana dia harus menyelesaikan masalah ini.
Selama perjalanan keduanya hanya diam membisu dengan pikiran masing- masing.
Mereka telah tiba di rumah sakit, keduanya langsung mencari ruangan di mana ayah Gabriela dirawat.
Sela berhenti tepat di depan ruangan di mana ayah Gabriela dirawat.
Bara yang berdiri di belakang Sela menggenggam tangannya dan mengangguk.
Ceklek
Sela membuka pintu membuat Gabriela yang tadinya tidur di sofa seketika bangun.
Tatapan sinis dan nyalang sangat terlihat sekali pada mata Gabriela.
Gabriela berjalan mendekati Sela lalu mendorongnya keluar dari ruangan ayahnya.
"Ngapain lo kesini hah?" bentak Gabriela pada Sela.
"Gabriela aku ingin lihat keadaan ayah," kata Sela membuat Gabriela tersenyum benci.
"Dia bukan ayah lo, jadi mulai sekarang jangan pernah panggil ayah gue dengan sebutan ayah," kata Gabriela sambil menatap benci dan sinis Sela.
"Gabriela biarin aku lihat ayah sekali aja, besok aku sudah pergi ke London, seenggaknya kasih aku kesempatan buat lihat ayah," kata Sela memohon pada Gabriela.
Plak
Gabriela menampar Sela di depan mata Bara membuat dia melotot marah dan tak percaya.
"Gabriela apa yang lo lakuin, hah?" teriak Bara dengan sangat keras membuat beberapa orang menatap mereka.
Bara memegangi bahu Sela dengan sesekali melihat pipi Sela yang sedikit memar.
"Kenapa, lo mau marah?" tanya Gabriela pada Bara.
"Andai lo bukan cewek, gue udah habisin lo," kata Bara yang benar- benar marah pada Gabriela.
"Udah tuan saya enggak papa. Gabriela aku mohon kasih aku waktu 10 menit, setelahnya aku tidak akan menemui ayah, aku mohon Gabriela," kata Sela yang masih memohon pada Gabriela.
"Sela udah ayo kita pulang, orang licik seperti dia, enggak pantes dibaiki," kata Bara sambil menatap Gabriela jijik.
Napas Gabriela naik turun tak beraturan, dia sedang memikirkan hal liciknya.
"Ok gue kasih lo kesempatan 1 kali bertemu sama ayah, setelahnya lo jangan pernah temui ayah gue," kata Gabriela yang membuat Sela langsung berhambur memeluk Gabriela.
"Makasih ya La," kata Sela sambil memeluk Gabriela.
Gabriela merasakan kehangatan tersendiri dalam hatinya saat mendapatkan pelukan tulus dari seseorang yang dia anggap saudara.
Namun sayang, hati dan pikirannya bertolak belakang.
Hatinya memang merindukan pelukan juga perlakuan manis Sela.
Tapi pikirannya selalu benci dengan apa yang Sela dapatkan.
Iri dan egois selalu menguasai diri Gabriela.
Sela melepaskan pelukannya dan langsung masuk ke dalam ruangan ayah Gabriela.
Bara menatap Gabriela dengan penuh benci.
Tadinya Bara hendak ikut masuk menemani Sela tapi Gabriela menahannya.
"Gue bakal kasih waktu 1 jam buat Sela, asal lo mau ikut gue bentar," kata Gabriela yang tangannya langsung dihempaskan oleh Bara.
Bara melirik Sela di dalam ruangan, terlihat sekali Sela begitu merindukan sosok seorang ayah.
Dari sini Bara seakan yakin jika bukan Sela pelakunya.
"Gue bakal kasih tunjuk sesuatu sama lo, kalau Sela adalah pelakunya," Bara sontak langsung menatap Gabriela tajam.
Gabriela pergi begitu saja membuat rasa penasaran dalam diri Bara mencuat.
Bara sekali lagi melirik Sela di dalam ruangan.
Seenggaknya gue bisa kasih Sela waktu untuk bersama ayahnya, selagi gue menyelidiki dibalik tuduhan Gabriela, batin Bara lalu menyusul Gabriela yang sudah masuk ke dalam lift.
Sebelumnya Bara mengirmkan pesan pada pak Asep untuk menjemput Sela 30 menit lagi.
Bara tidak mau Sela menunggu lama, jadi lebih baik biarkan pak Asep yang menunggu Sela.
.
.
.
.
.
Bara menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Gabriela.
Keduanya turun dari mobil, Bara menatap sekitar perumahan Gabriela.
Lebih baik dari perumahan Sela, bersih dan tenang.
"Ayo masuk," kata Gabriela membuat Bara tersadar dari pikirannya.
Bara masuk ke dalam rumah yang terlihat begitu berantakan sekali.
"Maaf berantakan," kata Gabriela yang langsung menyingkirkan beberapa baju berserakan di sofa.
Bara menatap sekeliling, terlihat sangat berantakan sekali.
Dan juga begitu sempit, beda sama rumah milik gadisnya.
Rapi dan juga wangi.
Itupun Bara hanya masuk satu kali.
"Duduklah saya akan membuatkan tuan minum," kata Gabriela yang kini nada bicaranya berubah sedikit sopan.
Bara hanya tersenyum miring melihat perubahan sikap Gabriela.
Palsu.
Bara duduk di sofa sambil mengamati keadaan yang ada di ruang tamu.
Bara melihat foto dua anak kecil sedang tertawa bersama.
Apa itu Sela dan Gabriela.
__ADS_1
Di sampingnya terlihat ada foto ayah dan juga ibu Gabriela.
Mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
Namun sayangnya kini kedua putrinya bertengkar hanya salah satu merasa iri pada satunya.
"Maaf hanya teh hangat yang ada," kata Gabriela sambil menyajikan teh hangat yang dia buat.
Bara tidak menjawab, hanya menatap gelas yang berisi teh di depannya.
"Buruan lo mau tunjukin apa sama gue," kata Bara ketus membuat Gabriela tersenyum manis.
"Jangan buru- buru, minum dulu tehnya, saya akan mengambilkan sesuatu untuk diperlihatkan pada anda," kata Gabriela lalu pergi begitu saja.
Bara memutar kedua bola matanya malas.
Dia membenci perempuan yang selalu berusaha untuk menarik perhatiannya.
Nyatanya di mata Bara hanya ada Sela seorang yang selalu menarik menurutnya.
Bara jadi teringat betapa Sela cuek dan juteknya sama dia.
Bahkan dia aja enggak tahu siapa Bara sebenarnya.
Miliader top di Kanada aja dia enggak tahu.
Bara jadi curiga apa dia juga tidak tahu siapa nama presiden Kanada.
Bara meminum teh hangat di depannya.
Kemana perginya Gabriela kenapa lama sekali.
Bara melirik jam tangannya udah hampir 10 menit dia tidak juga keluar.
Bara meminum teh hangatnya dan berniat untuk kembali saja ke rumah sakit.
Tapi tiba- tiba saja rasa pusing membuat kepalanya begitu berat.
Sial, apa yang Gabriela masukkan dalam minumannya.
Bara kenapa lo bodoh, Gabriela adalah wanita iblis, kenapa lo bisa sepercaya itu.
Bara menatap sekeliling, semua benda seakan berputar.
Gabriela keluar dengan sesuatu di tangannya.
Entahlah Bara tidak bisa melihatnya jelas karena kepalanya begitu pusing.
"Tuan ini obat- obatan yang Sela beli," kata Gabriela masih pura- pura menunjukkan semua obat- obatan yang dia kumpulkan dari kamar ayahnya.
"Tuan anda kenapa?" tanya Gabriela langsung menghampiri Bara saat melihat dia terus saja memegangi kepalanya.
"Sial, lo masukkan apa ke minuman gue," kata Bara yang terus saja mengumpat tapi kepalanya terasa begitu berat.
"Saya tidak memasukkan apapun tuan, memangnya kenapa?" tanya Gabriela dengan senyum manisnya saat obat yang ia campur dalam teh hangat Bara mulai bereaksi.
Bugh
Bara pingsan dan tergeletak di sofa, Gabriela tersenyum kemenangan.
Buru- buru Gabriela memapah Bara menuju kamarnya.
Gabriela membaringkan Bara di tempat tidurnya yang tidak begitu besar.
Lalu melepaskan sepatunya dan juga melonggarkan dasinya.
Gabriela menatap wajah tampan Bara yang kini sedang tertidur.
"Ok Sela tunggu kejutan dari gue besok, malam ini Bara bakal jadi milik gue," kata Gabriela sambil naik ke atas ranjangnya dan tidur di samping Bara.
.
.
.
.
Sedangkan di rumah sakit Sela baru bangun karena dia tertidur.
Astaga, dia sudah begitu lama tidur, lalu kemana Bara dan Gabriela.
Sela buru- buru menyambar tasnya tak lupa mencium kening dan juga pamit pada ayah Gabriela.
Sela keluar dari ruangan, tidak ada siapa- siapa hanya ada
Pak Asep?
Yang sedang tertidur di ruang tunggu.
"Pak Asep," kata Sela membangunkan pak Asep dengan pelan.
"Nona, maaf saya ketiduran, apa sudah selesai?" tanya pak Asep sambil merapikan pakaiannya.
"Kok pak Asep ada di sini, lalu di mana tuan?" tanya Sela sambil melihat lorong rumah sakit.
"Maaf nona, tadi tuan hanya meminta saya untuk menjemput, tuan tidak bilang akan pergi kemana," kata pak Asep membuat Sela langsung merogoh ponselnya.
Sela menelpon Bara, tiga kali panggilannya tidak juga diangkat.
Apa Bara sedang sibuk.
"Mari nona kita pulang, sudah begitu larut malam, besok nona masih harus berangkat ke London," kata pak Asep yang membuat Sela teringat sesuatu, jika dia belum menyiapkan keperluannya.
"Oh iya pak saya lupa, yaudah kita pulang aja," kata Sela yang langsung diangguki oleh pak Asep.
Tanpa menunggu lama pak Asep melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah.
Sedangkan Sela tidak henti- hentinya memikirkan kemana perginya Bara.
Tidak biasanya Bara pergi tanpa pamit padanya.
Lantas, apa dia pergi bersama Gabriela.
Sela senang saat Gabriela tidak menepati janjinya yang hanya memberikannya waktu 10 menit.
Nyatanya tadi hampir 2 jam Sela di dalam ruangan ayah.
Tapi sayangnya, setelah ini Sela tidak akan lagi bisa bertemu dengan beliau.
Tes
Besok dia sudah meninggalkan Kanada.
Memulai hidup baru di London, jauh dari orang- orang yang dia sayang.
Semangat Sela, hanya 2 tahun kamu pasti bisa.
Setelah itu Sela akan kembali cepat ke Kanada.
Sela sudah sampai di rumah buru- buru dia masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan semua keperluannya.
"Pak Asep makasih," teriak Sela yang sudah masuk ke dalam rumah membuat pak Asep tersenyum senang.
Sela mulai menyiapkan segala keperluannya sambil menunggu Bara pulang.
Kira- kira sekitar pukul 11 Sela baru selesai menyiapkan segala keperluannya untuk besok.
Sela keluar kamar untuk memastikan jika Bara sudah pulang atau belum.
Tidak ada tanda- tanda Bara sudah pulang, lalu kemana dia pergi.
Sela kembali menelpon Bara, tapi kini ponselnya malah mati.
Kenapa perasaan Sela semakin tidak karuan.
Sela berjalan menuju ruang tv, dia akan menunggu Bara sambil menonton tv saja.
Karena begitu capek dan malam juga sudah begitu larut Sela tertidur di sofa dengan posisi tidak begitu nyaman.
Dengan perasaan yang masih memikirkan kemana perginya Bara.
.
.
.
__ADS_1
Ting
Ting
Sela terbangun karena suara notifikasi ponselnya.
"Astaga jam 8," teriak Sela yang langsung berlari menuju kamar mandi untuk bersiap- siap.
Karena pukul 11 mereka semua harus sudah berada di bandara.
Beberapa menit Sela sudah selesai dengan pakaiannya yang rapi.
Sela melihat ponselnya, ada pesan masuk dari Gabriela.
Deg
Seakan hati Sela seperti tertimpa ribuan duri saat melihat apa yang Gabriela kirimkan.
Sela teringsut duduk di lantai sambil terus menatap foto mereka berdua.
Foto di mana Bara dan Gabriela tidur bersama dengan leher Gabriela yang penuh dengan kissmark.
Semalaman suntuk Sela merasa jika ia tidak tidur karena pikirannya yang terus memikirkan kemana Bara pergi.
Nyatanya dia
Sela tidak lagi bisa berkata apapun.
Ting
Gabriela kembali mengirimi pesan pada Sela.
Sorry, bukan gue yang minta.
Sela kembali menatap penuh teliti pada foto mereka berdua.
Berharap jika itu hanya editan Gabriela.
Tapi itu nyatanya asli, Gabriela terus mengirimkan begitu banyak foto mereka berdua yang tidur bersama.
Sela mengusap air matanya, inilah alasan dia benci dengan sosok yang bernama
Laki- laki
Sela memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu menarik dua koper yang semalam sudah ia siapkan.
Sela menghapus air matanya, dia tidak boleh terkecoh dengan sesuatu hal sepele seperti ini.
Dia harus mengejar mimpinya, untuk masalah ini, biarlah berlalu.
Biar waktu yang menyembuhkan segalanya.
Sela keluar dari rumah dan melihat mobil sudah siap.
"Nona mari saya antar," kata pak Asep yang langsung mengambil alih koper Sela.
"Pak Asep Rendy mana?" tanya Sela pada pak Asep.
"Oh bentar saya panggilkan," kata pak Asep yang berlari menuju garasi untuk memanggil Rendy.
Rendy berlari keluar dari garasi dan menghampiri Sela.
"Lo cari gue Sel?" tanya Rendy yang hanya diangguki oleh Sela.
"Ren anterin ke bandara yuk," kata Sela pelan dan sedikit serak karena habis menangis.
"Lah Bara kemana?" tanya Rendy heran.
Biasanya itu pawang buaya bakal 24 jam di sisi Sela.
"Kamu mau apa enggak?" tanya Sela sedikit keras membuat Rendy langsung mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
Rendy melajukan mobilnya dengan perasaan bingung dan bertanya- tanya.
Kemana Bara pergi?
Apa ada masalah dengan mereka berdua?
Rendy berusaha untuk fokus menyetir agar bisa sampai ke bandara kalau enggak bisa- bisa dia akan berakhir di rumah sakit.
.
.
.
Sela Sandra dan jug Dico sudah berada di bandara tepat pukul 10.30 GMT.
Mereka sedang menunggu Mr.John dan beberapa dosen lainnya.
Sandra melihat Sela yang sejak tadi terus menatap ponselnya dan hanya menunduk lesu.
"Tuan Bara kemana?" tanya Sandra pelan sambil memegang bahu Sela.
Sela menggelengkan kepalanya pelan sambil mati- matian menahan air matanya.
"Dia lagi sibuk," jawab Sela pelan dengan suara sedikit bergetar.
Sandra tahu, pasti ada sesuatu yang terjadi.
Bara yang Sandra tahu bucin banget sama Sela terlebih begitu possesive dan over protektif.
Gak mungkin kan dia bakal biarin Sela berangkat sendiri ke bandara.
Di mana mereka akan berpisah untuk 2 tahun lamanya.
Rendy yang melihat Sela murung sejak tadi terus menghubungi Bara.
Ingin sekali rasanya Rendy memukul Bara saat ini.
Apa yang sudah ia lakukan pada Sela.
"Anak- anak bagaimana? Apa semuanya sudah siap dan lengkap?" tanya Mr.John yang baru saja selesai mengurus beberapa berkas bersama para dosen lainnya.
"Semua sudah lengkap pak," jawab Dico yang diangguki oleh Sandra.
"Baik kalau begitu kita langsung aja ke pesawat, lebih cepat lebih baik," intruksi Mr.John yang sudah jalan duluan bersama para dosen lainnya.
Sandra melihat Sela yang hanya menunduk sambil menatap ponselnya.
"Sel, ayo kita berangkat sekarang," kata Sandra pada Sela.
"San kamu duluan aja nanti aku nyusul," kata Sela pelan, Dewa yang sejak tadi berada di samping Sandra menarik pelan tangan Sandra.
"Biarin Sela bentar, entar aku yang antar dia kesana," kata Dewa pada Sandra.
Sandra berjalan terlebih dulu bersama Dico dan diikuti oleh Dewa yang membawakan kedua koper milik Sandra.
Kalau kalian tanya Sandra sama Dewa ada hubungan apa enggak? Kita liat aja nanti ya
Sela menatap Rendy dengan tatapan sendu.
Sela melepaskan cincin berlian yang Bara berikan padanya saat malam di mana Bara melamarnya.
"Ren tolong kasihkan ini sama Bara," kata Sela sambil memberikan cincin berlian itu di telapak tangan Rendy.
Rendy hanya diam dan menatap cincin yang begitu indah di tangannya.
Sela menarik napas lalu tersenyum manis pada Rendy.
"Ren makasih ya udah jadi temen aku, sampaiin juga makasih buat Bara," kata Sela sambil menahan tangisnya.
"Sel sebenarnya ada apa sama kalian berdua? Apa lo sama Bara berantem?" tanya Rendy yang memang enggak tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua.
Sela menggeleng pelan dan menghapus air matanya.
"Aku cuma mau bilang, enggak akan ada orang yang kuat menjalin hubungan jarak jauh," kata Sela sambil meraih kedua kopernya.
"Makasih banyak buat semuanya. Aku pamit dulu ya, sampai bertemu tahun nanti," kata Sela pamit pada Rendy.
Seakan langkah Sela begitu berat dan lambat untuk meninggalkan bandara.
Rendy menatap sedih pada kepergian Sela.
"Keparat, kemana bajingan itu pergi?" umpat Rendy yang langsung berbalik untuk mencari di mana Bara berada.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1