Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Semua Kena Imbas


__ADS_3

《♡♡♡》


Resepsionis itu sedikit menjauh dari Sela juga kumpulan pengawal.


Ia menelpon Bara karena tidak bisa menghentikan permintaan Sela.


"Halo tuan,"


"Ada apa? Apa istri saya baik- baik saja?"


"Tuan, nyonya meminta hal- hal yang aneh,"


"Aneh? Apa?"


"Ingin jadi OB, barista, kurir bahkan sekarang mereka ingin pergi ke dufan,"


"Apa?" teriak Bara di seberang telepon membuat resepsionis itu menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Tunggu saya akan segera ke sana, tahan istri saya jangan sampai dia pergi ke dufan," kata Bara lalu mematikan ponselnya.


"Alamak ini namanya suruh jaga singa betina dari harimau ganas," gumam resepsionis itu lalu kembali bersama Sela.


.


.


.


Bara mondar- mandir cemas memikirkan Sela.


Tapi ia juga sedang menunggu Sam untuk mengakhiri rapat dengan CEO LA itu.


Ceklek


Sam keluar dengan kertas kontrak di tangannya.


"Tuan, ini kontraknya," kata Sam memberikan kontrak itu pada Bara.


"Yes, akhirnya kita berhasil, sekarang ayo kita pulang," kata Bara yang langsung berlari meninggalkan Sam.


"Apa sesuatu terjadi pada nyonya," gumam Sam yang mengejar Bara.


"Tuan Sam, kita pulang sekarang, urusan sisanya biar papa yang atasi," kata Bara saat masuk ke dalam helikopter.


"Tapi tuan...,"


"Tuan Sam, istri saya sedang dalam bahaya, kita harus pulang segera," kata Bara membuat Sam langsung bersiap menerbangkan helikopternya.


"Baik tuan, maafkan saya tidak tahu," kata Sam meminta maaf pada Bara karena ia tidak tahu jika Sela dalam bahaya.


Ya bahaya dalam konteks 'Wahana Permainan'.


Sam langsung menerbangkan helikopternya untuk kembali ke rumah.


"Kita ke Kanada tuan Sam, istri saya sedang berada di kantor," kata Bara memberi intruksi pada Sam untuk pergi ke Kanada bukan kembali ke pulau Stella.


"Memang apa yang sedang nyonya lakukan di sana tuan?" kaget Sam karena setahu Sam Bara melarang keras Sela untuk naik helikopter.


"Biasalah, dia suka banget bikin orang khawatir," gumam Bara yang sebenarnya ingin sekali marah pada Sela karena kurang memperhatikan dirinya sendiri juga bayinya.


3 jam penerbangan akhirnya Bara telah sampai di balkon kantornya.


Jarak LA ke Kanada memang memakan waktu 3 jam itupun adalah penerbangan paling cepat meski pakai helikopter ataupun pesawat.


"Tuan Sam tunggu di sini sebentar, saya akan segera kembali," kata Bara yang langsung berlari untuk turun ke lantai bawah.


Bara menaiki lift dengan pikiran juga hati yang sangat was- was.


"Astaga Sela, apa yang bakal kamu lakuin sama mereka," kata Bara sambil mondar- mandir di dalam lift.


Entah kenapa Bara merasa jika liftnya berjalan sangat lama.


Bara tidak bisa tenang di dalam lift, pikirannya terus tertuju pada Sela.


Rasanya tidak mungkin bisa pengawal dan Rendy bisa menahan Sela selama itu sebelum Bara datang.


Apalagi Sela adalah pribadi yang nekat dan keras kepala jika itu menyangkut sesuatu yang mereka janjikan padanya.


Ting


Pintu lift lantai paling bawah terbuka, dengan cepat Bara langsung berlari menyusuri lobi.


Pengawal sudah menyiapkan mobil di depan untuk Bara.


"Silahkan tuan," kata pengawal saat Bara datang.


Saat Bara hendak masuk ke dalam mobil, salah satu pengawal berteriak saat mobil pengawal Sela datang.


"Tuan nyonya sudah kembali," Bara tidak jadi masuk mobil saat lima mobil merchedez hitam datang.


Cittt


Mobil terbuka dan menampilkan para pengawal yang turun dengan sempoyongan.


"Huekk,"


"Hueeek,"


"Hueeek,"


"Di mana istri saya?" tanya Bara pada salah satu pengawal yang sedang mual dan terduduk di lantai.


"Nyonya sedang berada di belakang bersama resepsionis tuan, hueeek," Bara langsung berdiri saat pengawal itu merasa mual.


Ada apa dengan semua pengawalnya, kenapa mereka mual- mual secara bersamaan?


Apa yang dilakukan Sela kepada mereka?


Rendy dan Reno turun dari mobil dengan langkah sempoyongan sambil berpegangan pada mobil seperti kakek- kakek.


"Ren kenapa semua pengawal mual- mual, apa yang Sela lakukan pada mereka?" tanya Bara pada Rendy yang sudah terduduk lemas di lantai.

__ADS_1


"Bar gue enggak pernah berpikir kalau Sela bakal seaktif ini saat hamil," adu Reno yang merasa kepalanya seakan terus berputar- putar.


"Bar lo harus nutup wahana permainan yang ada di Kanada kalau perlu sedunia lo tutup tuh wahana permainan, biar gue enggak jadi sasarannya buat ngeprank malaikat," kata Rendy yang sudah merasa putus asa juga menyerah.


"Apa Sela juga naik wahana itu?" tanya Bara dan dengan kompak Rendy dan Reno menggelengkan kepalanya.


"Lo tahu apa yang dilakuin istri lo waktu di wahana permainan?" tanya Rendy dan Bara menggelengkan kepalanya.


"Dia cuma liat kita dari bawah sambil teriak, Rendy Reno ayo semangat, coba buka mata kamu deh, langitnya bagus banget" kata Rendy yang menirukan gaya Sela tadi saat menyemangati mereka berdua yang sedang naik roll coaster.


Sedangkan Bara berusaha untuk menahan tawanya.


"Tuan Bara, kenapa anda tidak pernah bilang jika nyonya seaktif ini," adu salah satu pengawal yang sudah terbaring di lantai.


"Ya tuhan, harga diri saya turun sebagai pengawal cuma karena nyonya Sela ngajak ke wahana permainan itu," gumam salah satu pengawal yang juga terbaring di lantai.


"Mampus kan lo, salah siapa lo nawari dia ke wahana permainan," kata Rendy yang sangat kesal pada pengawal itu yang tadi menawari Sela ke wahana permainan.


"Meski tuan Bara bayar saya 1 miliar pun buat balik lagi ke sana, mending enggak deh. Lebih baik saya ikut militer aja, atau enggak jadi OB aja asal jangan balik lagi ke sana," kata salah satu pengawal membuat Bara terkekeh geli.


Citt


Mobil lamborgini yang membawa Sela datang dengan cepat Bara langsung membukakan pintu untuk Sela.


"Sayang," panggil Sela yang langsung memeluk Bara dengan manja.


"Kamu baik- baik saja?" tanya Bara sambil memeriksa tubuh Sela dari atas kepala hingga kaki.


"Cihh kita yang naik wahananya hampir sekarat, Sela yang ditanyain keadaannya," gerutu Rendy saat mendengar Bara menanyakan keadaan Sela.


"Di mana resepsionis yang tadi aku minta untuk menjagamu?" tanya Bara pada Sela.


Sela hanya menatap mata Bara dengan diam, ia takut untuk mengatakannya.


"Dia...," Bara penasaran dengan jawaban Sela.


"Dia pingsan sayang," Bara melebarkan kedua matanya lalu dengan cepat langsung memeriksa resepsionis itu yang sudah terbaring di mobil.


"Sayang kamu apain dia?" tanya Bara pada Sela.


"Gimana enggak pingsan orang diajak uji nyali buat ngeprank malaikat," jawab Rendy lirih.


"Aku enggak ngapa- ngapain, dia tadi cuma naik roll coaster dua kali terus pingsan," jawab Sela seperti anak kecil.


"Udah ayo sekarang kita pulang," ajak Sela untuk kembali pulang.


"Oh ya kalian bisa istirahat atau pergi ke rumah sakit, terima kasih banyak sudah menemani istri saya. Saya permisi dulu," kata Bara berpamitan pada semua pengawal yang telah menjaga Sela seharian.


"Makasih semuanya," kata Sela sambil melambaikan tangan ke semua pengawal dan juga tak lupa pada Rendy dan Reno.


"Astaga bisa- bisanya dia dada- dada dengan wajah tanpa dosa sedangkan gue beberapa menit yang lalu hampir sekarat," gumam Rendy yang tak habis pikir dengan Sela.


Rendy berusaha untuk berdiri dan melihat semua pengawal yang kebanyakan terbaring di lantai membuat staf juga karyawan menatap mereka.


"Sekarang kalian harus tahu, menyayangi nyawa kalian itu penting, ok," kata Rendy membuat semua pengawal mengangguk karena tidak lagi kuat untuk menjawabnya.


"Dan mulai sekarang, kalian harus berjanji, jangan sampai dari kalian ada yang nawari atau ngajak Sela ke wahana permainan kayak tadi, kecuali kalau kalian bosen hidup," kata Rendy memberitahu semua pengawal yang sudah tepar itu.


.


.


.


Sedangkan di dalam helikopter Bara terus memeluk erat Sela yang tertidur dalam pelukannya.


"Ya tuhan sayang, hari ini kamu membuat semua pengawal mama malu dan merasa tidak punya harga diri karena naik wahana ekstrim itu," gumam Bara sambil membelai lembut rambut juga pipi Sela.


"Hey baby, kenapa mamamu seaktif ini hah? Apa kamu yang memintanya?" tanya Bara pelan sambil mengusap perut besar Sela.


"Papa udah enggak sabar buat lihat kamu datang di dunia ini," gumamnya lirih lalu mencium kening Sela.


"Aku begitu bahagia sekali saat aku bisa memiliki keturunan darimu. Jika ia laki- laki, aku ingin dia sekuat aku, agar dia bisa melindungimu dan jika dia perempuan, aku ingin dia mempunyai semua sikap baik dan cantiknya hatimu," gumam Bara sambil menatap ke luar jendela.


Bara lalu ikut terlelap bersama Sela di waktu sore yang sangat indah ini.


Rasanya dunia seakan hanya milik mereka berdua.


Yang lain ngontrak kali ya, hehe.


Selang beberapa waktu mereka telah tiba di rumah tepat pukul 6 malam.


Bara sudah membawa Sela ke dalam kamarnya, entah kenapa dia begitu pulas sekali tidurnya.


Kini mereka sedang makan malam tanpa Sela.


"Apa Sela masih tidur?" tanya Rose pada Bara.


"Ya," jawab Bara sambil makan.


"Bar Sela tadi enggak jadi naik wahana permainan kan?" tanya Dea yang mencemaskan Sela sejak pagi tadi.


Bara meletakkan sendok juga garpunya lalu mulai bercerita.


"Mama tahu, semua pengawal mama termasuk Rendy dan Reno, mereka mual- mual dan merasa pusing setelah Sela mengajak mereka untuk naik wahana permainan," seketika semua orang tertawa mendengar cerita Bara.


"Terus- terus?" tanya Bradsiton penasaran dengan keadaan pengawalnya.


"Mereka bilang kalau enggak nyangka aja Sela bakal seaktif itu, bahkan mereka suruh Bara buat nutup wahana permainan yang ada di Kanada," mereka kembali tertawa saat membayangkan bagaimana wajah pucat mereka setelah menaiki wahana itu.


"Terus bagaimana mereka sekarang? Rendy sama Reno juga ke mana?" tanya Rose saat tidak melihat dua putranya itu di rumah.


"Mungkin mereka lagi ke rumah sakit kali ma, Bara suruh mereka buat periksa takutnya mereka trauma gara- gara Sela ajak ke wahana permainan," Bradsiton tidak bisa berhenti tertawa mendengar cerita Bara.


"Jujur saja papa waktu itu baru kali pertamanya naik wahana setinggi langit gitu ma. Papa aja yang di belakang gemeteran ma, ehh Sela yang di depan seneng banget malahan," ungkap Bradsiton jujur tentang kali pertamanya dia naik wahana itu.


"Tapi mama salut sama Sela, meski dia ngidamnya selalu yang aneh dan mainstream, dia berusaha untuk tidak merepotkan orang lain. Kamu tahu Bar, kemarin siang Sela makan salad dan dia buat sendiri padahal mama lagi enggak ada kesibukan waktu itu," kata Rose saat kemarin siang melihat Sela makan salad buatannya sendiri.


"Bener ma, dia selalu berusaha untuk mandiri tanpa mau nyusahain kita, apalagi adik iparnya," kata Bradsiton sambil menatap dua menantu cantik di depannya.


"Palingan yang direpoti sama yang diajak rusuh ya Rendy sama Reno itu," kata Rose membuat semua orang kembali tertawa.

__ADS_1


"Malam- malam gini, di mana mereka sekarang?" gumam Rose saat dua putranya itu belum pulang juga


□■■□


AMERIKA SERIKAT



"Tuan emang sejak kapan pulau Stella ada wahana permainan malem gini?" tanya salah satu pengawal pada Rendy.


"Entah, gue juga enggak tahu," jawab Rendy sambil berjalan menyusuri setiap stand jajanan.


"Kok gue kayak ngerasa enggak asing deh sama tempatnya," gumam Reno saat melihat ada bianglala juga wahana permainan lainnya.


"Semoga aja kita enggak balik lagi ke tempat uji nyali itu, ya kan?" kata pengawal yang sudah setengah mabuk.


Mereka tadi siang naik helikopter untuk pulang ke pulau Stella.


Nah di perjalanan tadi beberapa dari mereka ada yang mabuk jadi yah seperti inilah sekarang, mereka berjalan sempoyongan dan merasa pusing seperti orang mabuk.


Rendy tiba- tiba saja ikut mengantri panjang bersama beberapa remaja lainnya.


"Tuan kita sedang mengantri apa?" tanya salah satu pengawal pada Reno.


"Entahlah, paling Rendy ngantri buat nonton bioskop," jawab Reno sambil mencoba untuk menyadarkan dirinya karena merasa pusing..


"Kok ada ya bioskop tapi gedungnya udah kayak rumah hantu," gumam salah satu pengawal yang diangguki setuju oleh Reno.


"Bener banget, ini persis kayak rumah hantu di Kanada waktu itu ehh bukan di Bahama, kalian inget enggak?" tanya Reno pada pengawal dan diangguki oleh mereka.


"Ayo masuk," teriak Rendy mengintruksi lainnya untuk masuk.


Mereka lalu masuk dan beberapa dari pengunjung lainnya naik ke kereta yang telah disiapkan membuat para pengawal juga Rendy Reno terheran.



"Tuan kok mereka naik kereta segala?" tanya salah sayu pengawal pada Rendy.


"Entah, mungkin bioskopnya di atas gunung kali makanya naik kereta," jawab Rendy asal- asalan dan dipercaya begitu saja oleh pengawal itu.


"Emang ada ya bioskop di atas gunung?" tanya salah satu pengawal yang paling muda di antara mereka semua.


"Udah tunggu apalagi, ayo naik," kata Rendy yang mengawali naik ke kereta.


Lalu diikuti oleh pengawal yang lainnya.


Setelah dirasa semua bangku kereta sudah terisi penuh, perlahan kereta mulai berjalan.


Perlahan kereta berjalan dan memasuki terowongan yang begitu gelap.


"Huaaaaaa," teriak mereka yang duduk di bangku paling depan.


"Haaaaaa," semua berteriak saat lampu temparam menyala dan memperlihatkan banyak zombie di sisi kanan dan kiri kereta yang sedang berjalan.


"Tuan, ini kok ada zombie di gedung bioskop?" tanya salah satu pengawal membuat Rendy berusaha untuk menahan emosinya.


"Yang bilang ini gedung bioskop siapa begoo? Kalau inimah rumah hantu," teriak Rendy saat salah satu zombie berusaha untuk memegang tangan mereka.


Dan entah kenapa keretanya semakin lama semakin melambat hingga para zombie berusaha untuk mengejar juga memegang penumpang keretanya.


"Perasaan tuan sendiri deh yang bilang," gumam pengawal itu sambil berusaha untuk menghindari para zombie.


"Woeeee siapa yang jadi supir keretanya, buruan bego gue mau ditangkep zombie nihhh," teriak Rendy sambil berdiri meneriaki penumpang paling depan.


"Tuan kereta ini berjalan otomatis jadi enggak ada sopirnya," kata pengawal yang duduk di belakang Rendy.


Semua orang menatap Rendy dengan tatapan heran aneh entahlah itu tatapan apa.


Yang pasti itu mampu membuat Rendy malu.


Mungkin sekitar 2 menitan kereta berjalan di dalam terowongan yang gelap juga penuh zombie itu.


Perlahan kereta mulai keluar dari terowongan dan hal itu membuat para pengawal terkejut bukan main.



"Tuan, kenapa ada rel yang begitu panjang?" tanya salah satu pengawal saat kereta masih berhenti dan menunggu gilirannya.


"Entahlah jangan bertanya padaku," kata Rendy yang berusaha untuk menetralkan detak jantungnya.


Perlahan kereta mulai menaiki rel panjang itu dan mampu membuat para pengunjung berteriak histeris.


"Tuan kenapa anda tidak bilang jika ini wahana yang sama seperti tadi siang," teriak pengawal dari belakang.


"Tuan, bukankah permainan tadi siang sudah cukup untuk menguji nyali kita, kenapa anda balik lagi ke sini dan rela mengantri panjang," teriak pengawal yang begitu ketakutan saat kereta naik ke atas.


"Gue enggak tahu, gue asal ikut antri aja tadi," jawab Rendy yang berteriak tak kalah kerasnya.


Sekitar 10 menitan wahana baru berhenti dan semua pengawal juga Rendy Reno keluar dari rumah hantu itu dengan perasaan campur aduk.


Rasa mual, pusing, takut juga gemetaran.


"Siapa yang bawa kita ke sini?" tanya Rendy dengan tatapan kosong depan.


"Bukannya kita istirahat di rumah ini malah cari penyakit dengan dateng lagi kemari," gumam pengawal itu merasa dia paling bodoh.


"Tunggu, kenapa banyak bendera Amerika?" tanya Reno saat ia menyadari jika ada bendera Amerika di atas tempat sirkus, bianglala dan juga tempat lainnya.


Seketika semua ikut memeriksa dan benar ada bendera Amerika di mana- mana.


"Tunggu- tunggu, gue periksa dulu," kata Rendy langsung memeriksa ponselnya.


Dan bener dong mereka ada di Amerika Serikat.


"Siapa yang tadi bawa helikopternya?" salah satu pengawal mengangkat tangannya.


"Lo ngapain bego bawa kita ke Amerika, rumah kita ada di pulau Stella," kata Rendy yang terlihat sangat frustasi dan putus asa dengan anak buahnya.


"Saya juga enggak tahu tuan, tiba- tiba aja sampai sini terus kita jalan kaki nemu nih tempat," jawab pengawal itu tanpa rasa bersalah.


"Terus lo nyupir tuh helikopter sambil merem gitu, masak lo enggak tahu kita mau ke Amerika, astagaaaa bisa- bisanya rumah kita di pulau Stella lo pulangnya ke Amerika," kata Rendy sambil uring- uringan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2