Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Baberque Time


__ADS_3

□□□


Semalaman Bara merasa jika ia tidak tidur sama sekali.


Bagaimana tidak, semalaman suntuk dia tidak lagi bertemu Sela setelah terakhir kali di kamar mandi.


Dan kesalnya lagi, Sela tidak datang lagi ke kamarnya.


Entah sekedar minta maaf kek, atau tanya apa gitu atau nawarin makan.


Untung pacar sendiri kalau enggak udah Bara tendang mungkin.


Mana kemarin malem dandanannya menggoda banget lagi.


Gimana si buaya ini enggak bisa tidur coba kalau mangsanya sesempurna Sela.


Bara selesai memasang dasinya meski dengan asal- asalan.


Lihat aja Bara tidak akan menghiraukan Sela.


Bara menyambar jas hitamya dan tas kerja lalu keluar kamar begitu saja.


Bara melihat Sela sedang duduk di ruang tv dengan pakaian tebal.


Apa dia tidak pergi kuliah hari ini?


Kenapa pakaiannya seperti itu?


Bara pura- pura mengambil minum agar dinotice Sela.


"Uhuk uhuk," Bara pura- pura tersedak karena sejak tadi Sela hanya menunduk.


Sela mendongak saat mendengar Bara terbatuk.


"Tuan," panggil Sela menghampiri Bara yang berdiri di depan kulkas.


"Emm tuan hari ini saya izin tidak masuk kuliah," kata Sela pelan sambil menunduk sedangkan Bara menatap Sela cemas.


Bara ingin sekali bertanya kenapa, tapi dia berusaha kuat untuk menahan mulutnya agar tidak terbuka.


"Saya merasa tidak enak badan jadi saya izin untuk istirahat 1 hari," kata Sela yang membuat Bara sontak langsung bertanya.


"Kamu sakit apa? Hah bilang, apa ada yang luka? Bagaimana jika kita ke rumah sakit sekarang?" Sela tersenyum manis saat Bara dengan tanggap mengkhawatirkannya.


Bara baru menyadari kekonyolannya dan menatap Sela yang kini sedang tersenyum ke arahnya.


"Tuan khawatirin saya?" tanya Sela menggoda Bara.


Bara menghela napas dan menatap ke arah lain merasa salah tingkah saat ditatap Sela seperti ini.


"Enggak biasa aja," ketus Bara yang membuat Sela menahan tawanya.


Sela melirik dasi Bara yang sedikit miring.


Tanpa bicara Sela langsung membenahi dasi Bara agar terlihat rapi.


"Enggak perlu saya bisa sendiri," kata Bara melepaskan tangan Sela dari dasinya.


Bara berjalan memasuki lift tanpa memedulikan Sela.


Sebelum pintu lift tertutup tatapan Bara sangat terlihat sekali jika dia mencemaskan Sela.


Sela yang menyadari tatapan Bara padanya langsung memulai aktingnya.


"Uhuk uhuk, ahhh kenapa kepalaku sakit sekali," keluh Sela sambil melirik sekilas Bara dan berjalan menuju kamar.


Sela langsung berlari menuju jendela untuk melihat mobil Bara.


Yaps mobil Bara sudah keluar dari halaman rumah.


Buru- buru Sela keluar kamar dan menaiki lift menuju lantai bawah.


Sela membuka pintu dan mencari sosok paruh baya.


Pak Asep.


"Pak Asep," panggil Sela pada pak Asep yang sedang merapikan tanaman.


Sela berlari ke arah pak Asep dengan senyum merekahnya, membuat beberapa bodyguard yang tanpa sengaja melihat, merasa begitu bahagia.


Bidadari lewat.


"Ada apa nona? Kenapa nona tidak masuk kuliah? Apa ada sesuatu?" tanya pak Asep saat melihat Sela yang masih di rumah sedangkan beberapa menit yang lalu Bara sudah berangkat ke kantor.


"Nanti saya ceritakan pak, sekarang saya minta bantuan pak Asep boleh enggak? Tapi kali ini bukan bantuin buat kabur kok," kata Sela pada pak Asep.


Sedangkan beberapa bodyguard yang tidak jauh dari mereka berdua memberi isyarat pada pak Asep agar mau membantu Sela.


Pak Asep tersenyum samar saat melihat kompaknya para bodyguard yang memberi isyarat padanya agar mau membantu Sela.


"Emang bantu ngapain non?" tanya pak Asep membuat senyum manis di bibir Sela terukir.


"Pak Asep tolong dong kumpulin semua bodyguard, Sela butuh mereka semua," kata Sela membuat pak Asep mengernyit bingung.


"Emang buat apa non?" tanya pak Asep penasaran.


Sela hanya tersenyum lalu mendekat ke arah pak Asep dan membisiki sesuatu.


.


.


.


.


.


Peter saat ini sedang menatap kesal pada seseorang yang sedang uring- uringan di ruangannya.


Aldebaran

__ADS_1


"Bro lo kalau galau jangan di sini, gue enggak fokus kerja gara- gara lo," kesal Peter pada Bara yang sedang guling- guling di sofa.


"Sehari aja enggak sama Sela rasanya kayak setahun gimana nanti kalau pas ditinggal 2 tahun," kata Bara sambil menatap Peter sendu.


"Lo emang kenapa sih tiba- tiba galau gini, lo galau tapi yang susah satu negara," dumel Peter sambil mengerjakan sesuatu.


"Sepele sih tadinya gue mau cuekin Sela biar dia terus bujuk gue tapi enggak tahunya dia malah cuek bebek," Peter yang mendengar ucapan Bara seketika tertawa sangat puas sekali.


"Lo kayak cewek aja, di mana- mana cewek yang biasanya ngambek lah ini enggak kebalik tuh," ejek Peter membuat Bara menatapnya ketus.


"Gue tahu sih lo emang possesive banget sama Sela bukan cuma itu tapi tuan Aldebaran juga sangat over protektif, jadi udah pasti tergila- gila ya kan?" kata Peter semakin meledek Bara.


Bara hanya diam tak menyahuti karena terlalu kesal dengan Peter.


"Kayaknya gue salah dateng ke tempat ini, galau bukannya dihibur yang ada diledekin," gerutu Bara yang masih bisa di dengar Peter.


"Ya lo sih lagian galau datengnya ke tempat hacker, lo kira gue bisa gitu ngrentas hatinya Sela, dateng tuh ke rumah sakit, periksa noh jiwa lo waras enggak," balas Peter tak kalah ketus.


"Gue galau bukan gila," ketus Bara sambil menatap nyalang Peter.


"Ehh bro gimana sama pobia Sela, apa ada perkembangan lanjutannya?" tanya Peter yang salah bertanya.


"Peter gue lagi galau, jangan lo ajak diskusi, otak sama hati gue enggak nyambung," kata Bara yang kembali berguling- guling di sofa.


"Kasian mana masih muda, jiwanya udah tergoncang," gumam lirih Peter sambil kembali menatap laptopnya.


"Ngomong- ngomong kembaran lo kemana?" tanya Peter membuat Bara terbangun dari baringannya.


"Yang mana?"


"Rendy sama Reno,"


Bugh


Bara melempar bantal sofa ke arah Peter lalu menyambar jasnya yang tergeletak di sofa.


"Bodo amat. Gue mau pulang," kata Bara lalu keluar dari ruangan Peter begitu saja.


"Kok perasaan dia kayak jelangkung, dateng enggak diundang pulang enggak dianter, tapi wujudnya manusia," gumam Peter sambil melihat kepergian Bara dengan langkah lunglai.


♡♡♡



"Rendy, gimana menurut kamu, udah pas belum dekorasinya?" tanya Sela sambil mengamati belakang rumah yang mereka jadikan baberque party.


"Okelah udah beres semua, tinggal nunggu daging sama Baranya aja," kata Rendy sambil menganggukan kepalanya senang.


"Oh iya Ren gimana kalau kita tambah satu lagi sentuhan terakhir," kata Sela meminta pendapat Rendy.


"Apaan?" tanya Rendy penasaran.


"Layar monitor buat nonton bioskop bareng nanti," kata Sela membuat mata Rendy seakan berbinar.


"Wih mantep tuh, lo emang paling ngerti deh Sel, gue ambilin bentar di gudang," kata Rendy langsung pergi untuk mengambil layar monitor.


Sela tersenyum senang, semoga aja Bara nanti mau memaafkannya.


Sela menatap sekeliling semua sudah tertata rapi pada tempatnya.


Sela juga sudah berdandan khusus untuk malam ini.



Tepat pukul 6 semua sudah siap begitu juga dengan para bodyguard.


Tin


Suara mobil Bara membuat semuanya terkejut dan heboh.


"Nona pergilah temui tuan, kami akan mematikan lampunya," kata pak Asep pada Sela.


Sela mengangguk dan segera pergi sebelum semua lampu dipadamkan.


Semua bodyguard tahu jika Sela pobia dengan kegelapan dan Bara yang memberitahunya.


Karena itu Bara berpesan agar selalu lebih ketat penjagaan saat Sela sedang di rumah.


Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, pasti kalian bakalan iri sama Sela jika tahu.


Bara bahkan membayar sebesar 100 dolar untuk saluran listrik di rumahnya agar tidak pernah padam dan membeli sebanyak 50 lampu cadangan ketika lampu padam.


Wow keren bukan, kira- kira jika Sela tahu apa dia akan sangat bahagia, jika Bara begitu mencintainya.


Sela buru- buru membuka pintunya karena Bara yang terus mengetuk pintunya dengan menggerutu.


Ceklek


"Kenapa....,"


"Sayang," panggil Sela membuat Bara beberapa detik seakan pingsan berdiri dan tak sadarkan diri.


Bara tertegun karena panggilan Sela dan terpesona dengan penampilan Sela.


Bara tersadar lalu kembali ke ekspresinya yang datar.


"Kenapa kamu yang buka pintunya?" tanya Bara yang terdengar lucu buat Sela.


"Boleh enggak lepasin dasinya?" tanya Sela ragu- ragu berbicara santai seperti ini sama Bara.


Bara mengeryit tapi tetap melakukan apa yang Sela minta, melepaskan dasinya lalu memberikannya pada Sela.


"Nunduk dikit dong," kata Sela karena Bara yang terlihat sangat tinggi membuat Sela kesusahan.


Bara hanya menurut saja dan sedikit merunduk.


Sela menutup kedua mata Bara dengan dasi lalu mengikatnya simpul.


"Kenapa harus tutup mata sih?" tanya Bara terlihat kesal.


"Udah diem entar juga tahu," kata Sela sambil menggandeng tangan Bara dan perlahan berjalan menuju taman belakang rumah.

__ADS_1


"Kita mau kemana sih?" tanya Bara yang sudah tidak sabaran.


Sela hanya diam hingga mereka berdua tiba di taman belakang rumah bersamaan dengan menyalanya lampu.



"Baberque time," teriak mereka serentak membuat senyum manis di bibir Bara terlihat.


Bara menatap belakang rumahnya yang kini disulap menjadi tempat party dan baberque.


Dan ditambah lagi ada panggung di sudut taman.



"Ini kamu semua yang nyiapin?" tanya Bara yang dijawab gelengan kepala oleh Sela.


"Mereka semua yang bantu," kata Sela sambil tersenyum manis pada Bara.


"Tuan maaf atas perbuatan saya kemarin, keluar rumah dan meminjam motor tanpa izin sama tuan," kata Sela mengucapkan permintaan maafnya.


"Kamu mau pakai semua fasilitas di rumah ini tanpa seizin akupun enggak papa, tapi cuma satu jangan pergi tanpa pamit aku enggak suka, terlebih membahayakan dirimu sendiri," kata Bara membuat Sela tersenyum lebar.


"Tinggal 3 hari lagi, ayo kita nikmati malam ini," kata Sela yang membuat Bara mendadak menjadi sendu.


Bara hendak memeluk Sela tapi teriakan para bodyguard yang diawali Rendy membuat Bara mendengus sebal.


"Hehhhhhh," teriak mereka kompak membuat Bara tidak jadi memeluk Sela.


Lalu mereka semua tertawa puas saat melihat wajah kesal Bara.


"Dasar bodyguard laknat, pantesan pimpinannya Rendy, koplak semua," gerutu Bara sambil menatap ke arah lain membuat Sela tersenyum.


"Woi baberque nya kapan, gue udah laper," teriak Rendy membuat Bara menatapnya sinis.


"Makan tuh panggangan," ketus Bara sambil berjalan menuju mereka semua untuk kumpul.


"Tuan mari kita mulai baberquenya, nona Sela sudah menyiapkan semuanya," kata pak Asep yang telah menyiapkan daging untuk siap dipanggang.


"Apa kalian semua berkompromi dengan Sela untuk menyuap saya agar tidak menghukum kalian atas kesalahan kemarin?" tanya Bara menahan tawanya membuat para bodyguard saling tertawa.


"Maaf tuan tapi kata nona Sela untuk memanfaatkan waktu yang ada sebelum dia pergi," kata salah satu bodyguard yang kemarin membantu Sela pergi.


"Oh ya dia bilang gitu?" tanya Bara menggoda Sela yang kini sedang menahan malu.


"Udah- udah ayo kita mulai baberquenya," kata Sela mengalihkan perhatian mereka semua.


Mereka tertawa renyah melihat sikap Sela yang salah tingkah.


Bara mengikuti langkah Sela yang menuju panggangan.


Semua malam ini sedang bersenang- senang dan menikmati party.


Terlihat dari mereka ada yang sedang menyanyi mengiringi mereka yang sedang membakar daging.


Ada yang sedang bercanda, mengobrol atau bermain satu sama lain.


Bara melihat senyum para bodyguardnya begitu puas dan lepas.


Terlihat mereka sangat menikmati sekali dan bersenang- senang.


Belum pernah Bara melihat senyuman tulus itu di bibir mereka.


Rasanya begitu tentram melihat para bodyguard sangat menikmati partynya dan bersenang- senang.


Semua ini berkat gadisnya.


"Sayang makasih ya," kata Bara yang memeluk Sela dari belakang yang kini sedang memanggang daging untuknya.


"Saya hanya berusaha untuk menghibur tuan dan mereka semua, dan juga memanfaatkan waktu yang ada," kata Sela sambil menggenggam erat tangan Bara yang melingkar di perutnya.


Bara menyelusupkan wajahnya di ceruk leher Sela.


"Kenapa harus London yang jadi jarak buat kita," gumam lirih Bara di ceruk leher Sela.


Sela mengusap pipi Bara sayang dan menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Nih udah matang," kata Sela sambil menyajikannya di piring.


Bara masih tidak menggubris ucapan Sela dan tetap dengan posisinya padahal dia tahu Sela kerepotan karenanya.


"Aku suapin mau enggak?" tanya Sela yang sontak membuat Bara langsung membuka mulutnya.


Sela memotongkan untuk Bara lalu menyuapinya.


Bara kembali memeluk Sela dari belakang dan meletakkan dagunya di atas bahu Sela.


"Dagingnya lebih enak saat kamu yang nyuapi," kata Bara sambil mengunyah daging di dalam mulutnya.


"Ayo yang jomblo yang jomblo merapat ke sini, kita pelukan sama- sama untuk menutupi status kita yang masih bujang," teriak Rendy layaknya tukang cangcimen yang lewat di belakang Bara sambil membawa piring berisi daging.


"Uhh sorry jomblo," ejek Bara pada Rendy membuat semua tertawa yang mendengarnya.


Setelah selesai dengan acara menyanyi, memanggang dan makan- makan kini mereka beralih ke kegiatan selanjutnya.


Nonton bioskop outdoor di belakang rumah.



Gimana enggak seru coba kalau partynya kayak gini.


Emang salut banget sama Sela.


Dia paling bisa bikin orang seneng dan bahagia.


Sayangnya di dunia cuma satu adanya.


Karena itu Rendy pilih baku hantam sama Bara buat dapetin Sela.


Tapi tahu kan siapa yang jadi juaranya.


Aldebaran

__ADS_1


"Duh enggak di realita enggak di bioskop, kenapa gue harus lihat keuwuan orang lain, kapan tuhan temuin gue sama kembarannya Sela," semua yang tadinya fokus sama filmnya tertawa mendengar perkataam Rendy.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2