
□■□■
Walles sedang berada di markasnya dan berkumpul bersama anak buahnya.
Hari ini Walles ingin memberikan siasat yang telah lama ia rencanakan.
"Apa semua sudah kumpul?" tanya Walles sembari menatap anak buahnya.
"Siap sudah semua tuan," jawab mereka serempak.
"Bagus, saya ada pekerjaan buat kalian malam ini," kata Walles kini dengan ekspresi yang sangat serius.
"Malam ini saya berencana untuk menculik putri Maxiton, jadi saya ingin kalian semua ikut berperan," kata Walles membuat wajah mereka seketika shock.
"Apa tuan sudah menemukan putrinya?" Walles hanya mengangguk dan tersenyum manis.
"Wah anda memang luar biasa," puji mereka sembari bertepuk tangan.
"Jadi, apa siasat tuan untuk malam ini?" tanya mereka seakan sudah tidak sabar untuk menjalankan rencana Walles.
"Malam ini saya akan membawa putri Maxiton ke gedung rekontruksi tua yang berada di jalan Gwanchoeng bersama putra Wijaya, jadi kira- kira 15 orang ikut saya,"
"Bawalah 3 mobil, alihkan perhatian mereka jika saja polisi mengejar dan saya akan membawa korban ke gedung rekontruksi tanpa diikuti oleh polisi. Jika kalian melihat mobil Bara hadang sebisa mungkin atau berpura- puralah menuju gedung rekontruksi lama tapi di jalan Tronto untuk mengulur waktunya,"
"Dan kalian bersiap- siap di tempat masing- masing seperti yang sudah saya perintahkan. Dan jangan lupa, beri satu di masing- masing tempat, agar mereka lelah sebelum menyerang kita, kalian paham?" tanya Walles menjelaskan panjang lebar pada anak buahnya.
"Siap paham tuan," jawabnya dengan kompak dan serentak.
"Bagus. Dan satu lagi saat kalian tahu putri saya pulang bawa dia dulu ke balkon gedung rekontruksi, ikat dia baik- baik," mereka seakan terkejut dengan apa yang baru saja Walles katakan.
"Kenapa nyonya dan nona muda ikut tuan?" tanya salah satu dari mereka.
"Lakukan saja perintah saya, jika besok kamu masih ingin melihat dunia ini," kata Walles penuh dengan penekanan dan seketika nyali mereka menciut.
"Jangan lupa berikan saya cadangan senjata dan peluru, jangan sampai saya sampai kehabisan peluru. Dan saya butuh 2 sniper di sisi kanan dan kiri balkon gedung,"
"Agar saya lebih mudah saat memberikan intruksi pada kalian," kata Walles membuat mereka diam dan mencoba memperhatikan dengan seksama perintah Walles.
"Kalian tahu tugas kalian masing- masing?" tanya Walles pada mereka semua.
"Siap tahu tuan,"
"Bagus," kata Walles sembari melirik jam tangannya.
"Oh ya saya lupa, dimana ransel yang dilengkapi bom, saya ingin melihatnya," kata Walles lalu tanpa menunggu lama salah satu dari mereka membawanya ke hadapan Walles.
"Ini tuan," Walles lalu melihat ransel yang sudah dilengkapi dengan bom sesuai permintaannya.
"Tolong buatkan lagi satu, sebelum saya datang pasangkan saja pada Laura nanti saya yang akan menyalakannya sendiri," kata Walles lagi dan lagi membuat anak buahnya melebarkan kedua matanya.
Ayah macam apa Walles ini sebenarnya, bagaimana bisa dia mengorbankan anaknya sendiri demi kepentingannya.
Dasar brengsek.
"Saya pergi dulu, ada tamu yang sedang menunggu," pamit Walles lalu meninggalkan anak buahnya begitu saja.
Walles keluar dari markas dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Tolong antar saya ke hotel VIP dekat sini," perintahnya pada sopir.
"Baik tuan," sopir langsung melajukan mobilnya menuju hotel yang dimaksud Walles.
Walles melihat keluar jendela, senyum di bibirnya tak pernah luntur.
Akhirnya hari yang ia tunggu- tunggu selama ini datang juga.
Rasanya Walles sudah tidak begitu sabar ingin melihat betapa menderitanya Bradsiton dan Bara nanti.
Sepertinya ini adalah permainan yang sangat menyenangkan.
Walles turun dari mobil tapi sebelum itu ia berpesan pada sopirnya.
"Kembalilah, satu jam lagi datanglah kemari, saya masih ada urusan sebentar," kata Walles lalu langsung masuk ke dalam hotel tanpa menunggu lama lagi.
Ting
Walles sudah berada di lantai khusus VIP yang telah ia pesan.
Ceklek
"Robert apa kamu sudah menunggu lama?" tanyanya saat membuka pintu dan melihat seseorang yang sudah menunggunya.
"Tidak tuan, saya baru saja datang," kata Robert sembari berpelukan ala pria.
"Duduklah," kata Walles mempersilahkan Robert.
Di atas meja sudah ada banyak menu dan hidangan yang telah Walles pesan untuk mereka berdua.
"Sebentar saya akan mengambilkan sesuatu yang spesial untuk menemani kita mengobrol," kata Walles yang langsung keluar kamar entah sedang mengambil apa.
"Ini dia," kata Walles sembari mengangkat 2 botol wine dengan sangat senangnya.
"Wah kenapa anda begitu repot tuan," kata Robert merasa sungkan pada Walles.
"Jangan merasa sungkan, mari kita nikmati hari ini," kata Walles sembari menuangkan wine pada gelas Robert dan dirinya.
"Ada apa kamu memintaku datang kemari, apa ada sesuatu?" tanya Walles sangat antusias.
"Iya benar," jawab Robert lalu mengambil selembar kertas dan memberikannya pada Walles.
Walles membaca dengan seksama dan teliti.
Perlahan senyum di bibirnya terlihat dan wajahnya begitu sumringah.
"Apa ini serius? Bagaimana bisa kau mendapatkan tes DNA ini?" tanya Walles tak percaya.
__ADS_1
"Dua hari lalu Sela dan Gabriela bertarung dan aku meminta Gabriela untuk sedikit melukai lengannya, karena itu aku bisa mendapatkan sampel untuk tes DNA," kata Robert membuat Walles begitu senang.
"Kau memang yang terbaik Robert," puji Walles sambil meminum winenya.
"Lantas apa hanya ini yang kau bawa, apa ada yang lain?" tanya Walles membuat Robert kembali merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.
Walles mengernyit lalu Robert menyalakan rekaman dengan suara Bradsiton yang rapat beberapa hari lalu di rumahnya.
Di mana rekaman itu mengatakan jika Sela benar- benar putri Maxiton.
"Luar biasa sungguh bagus kerjamu Robert," kata Walles berkali- kali memuji Robert.
"Mari kita rayakan hari ini," kata Walles sembari mengangkat tinggi gelasnya. Robert tersenyum miring dan meminum habis wine yang Walles tuangkan.
"Ngomong- ngomong, apa yang membuatmu mau membantuku?" tanya Walles penasaran pada Robert.
"Apalagi, seseorang bisa merasa bosan jenuh atau benci pada tatanan negara yang tidak bisa menegakkan keadilan. Menjadikan kami yang kecil sebagai robot mereka tanpa henti," kata Robert mencoba untuk menyakinkan Walles.
"Benar, mereka hanya mengatakan keadilan dalam mulut saja, mereka lemah, terkadang yang benar dihukum yang salah dilepaskan, yang menang karena uang yang kalah karena terus berjuang,"
"Lantas menjadi bisu dan penipu kala mereka diminta untuk menjadi saksi," kata Walles di akhir membuat Robert menatap lekat Walles.
"Apa yang membuat anda segitu bencinya dengan hukum?" tanya Robert pada Walles.
"Kau tahu, hukum itu sadis dan bengis, saat kau melakukan kesalahan kecil kau bahkan akan diberikan hukuman mati, lalu bagaimana dengan mereka yang membunuh dan makan uang jelata," kata Walles memang ada benarnya.
Tapi Robert tak sampai di situ ia kembali memancing Walles.
"Lalu apa anda tidak takut jika dipenjara karena melakukan pembunuhan berencana ini?" tanya Robert membuat Walles tertawa sumbang.
"Percaya padaku, tak akan ada yang bisa menangkapku apalagi memenjarakan diriku, percaya padaku," hal itu hanya ditanggapi senyuman manis oleh Robert.
"Apa malam ini anda akan melakukannya?" tanya Robert sembari menuangkan wine kembali di dalam gelasnya.
"Akhh iya malam ini," jawab Walles sambil meminum tandas winenya.
"Kamu tahu malam ini akan jadi kejutan paling indah untuk Bradsiton, dia akan menyaksikan putri dari sahabatnya meninggal begitu saja di depan matanya,"
"Dan yang ku tunggu- tunggu dari dulu adalah melihat betapa hancurnya Bara nanti saat melihat kekasihnya, karena Bara berkali- kali aku dipermalukan tidak dipublik ataupun di depan umum,"
"Dua orang satu keluarga itu benar- benar membuatku marah dan malu," gumamnya yang disenyumi oleh Robert.
"Oh ya habis ini kamu akan kemana? Apa kembali ke negaramu?" tanya Walles pada Robert.
"Tidak aku ada urusan di Jerman," jawab Robert sembari memainkan gelas yang berisi wine. Walles hanya menganggukkan kepalanya.
Walles sejak tadi melihat Robert terus menggelengkan kepalanya dan memejamkan matanya berkali- kali.
"Oh ya Robert, aku tidak punya banyak waktu lagi, jadi aku harus pergi," pamit Walles pada Robert.
"Oh ya silahkan dan terima kasih untuk kudapannya," kata Robert sembari perlahan berdiri dengan memegangi kepalanya yang terasa berputar- putar.
"Apa kamu sakit?" tanya Walles pada Robert. Robert hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Bugh
Walles tersenyum licik lalu jongkok di depan Robert.
"Sorry kawan, aku sengaja melakukan ini padamu. Siapa yang tahu jika nantinya kamu berkhianat padaku dan berada di pihak Bradsiton," kata Walles sembari menatap wajah Robert.
"Nyatanya kamu seorang agen FBI, tidak mungkin dirimu bisa berkhianat dan berpihak padaku semudah itu," kata Walles sembari menepuk pipi Robert lalu pergi meninggalkannya.
Walles tersenyum miring, dia sengaja memesan wine dan mencampurnya dengan bunga aconite.
Jadi dirinya menang untuk kedua kalinya.
Mendapat info dan menghilangkan satu pengkhianat sepertinya.
Semudah itu.
Walles mengirim pesan pada Gabriela lalu pergi menuju tempat di mana dia harus berada sekarang.
□■□■
Reynald sedang meeting dengan klien dari luar kota.
Entah kenapa Walles sudah dua hari ini cuti.
Hal itu membuat Reynald sedikit kewalahan dan sangat pusing.
"Baik tuan Reynald, terima kasih banyak atas kerjasamanya. Kami pamit undur diri," kata klien setelah meeting berakhir.
"Sama- sama. Saya senang bisa bekerja sama dengan anda," kata Reynald lalu mengantar mereka hingga ke lift.
Ting
Reynald terkejut dengan kedatangan Jessy yang menurutnya terlalu cepat dan mendadak.
Jessy yang menyadari ada klien dari Reynald, tersenyum dan menunduk sopan.
Jessy keluar dari lift sembari menarik koper bawaannya.
"Mari tuan," kata klien sebelum pintu lift tertutup.
"Mari," kata Reynald sembari tersenyum hingga pintu lift tertutup sempurna Reynald kembali menatap Jessy.
Keduanya saling menatap satu sama lain dan hanya diam.
Reynald mengambil alih koper Jessy dan tanpa mengatakan sepatah katapun ia kembali ke ruangannya.
"Semoga semua baik- baik saja," gumam Jessy pelan sembari menghembuskan napasnya.
Dengan langkah sedikit takut Jessy menyusul Reynald ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Ceklek
Reynald langsung menarik Jessy dan menyudutkannya di dinding.
Tanpa mengatakan apapun Reynald mencium bibir Jessy dan meraih pinggang ramping milik Jessy.
Reynald begitu menikmati bibir manis Jessy dan menekan tengkuk Jessy untuk memperdalam ciumannya.
Reynald melepaskan pangutannya dan menatap Jessy yang menunduk sembari mengambil napas.
"Kamu datang disaat aku sangat merindukanmu," gumam lirih Reynald sembari membelai pipi tirus Jessy.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Jessy sambil menatap wajah Reynald yang terlihat begitu lelah dan kantung mata yang sangat hitam di bagian bawah matanya.
Reynald menyandarkan kepalanya di bahu Jessy sembari menghirup aroma dari tubuh Jessy.
Sangat memabukkan.
Jessy membelai kepala Reynald dan mengusap punggungnya sayang.
Reynald mengangkat kepalanya dan menatap Jessy.
"Kenapa kamu tiba- tiba pulang? Aku kan bisa menjemputmu," kata Reynald membuat Jessy tersenyum manis.
"Aku ingin memberimu kejutan," kata Jessy sambil kembali mengalungkan kedua tangannya membuat Reynald tertawa pelan.
Reynald kembali mencium bibir merah Jessy yang menurutnya begitu memabukkan dan membuatnya begitu candu.
"Bagaimana, apa studimu sudah selesai?" tanya Reynald sembari menempelkan keningnya pada kening Jessy.
"Hari selasa aku akan wisuda, apa kamu bisa datang?" tanya Jessy ingin sekali Reynald bisa datang di acara spesialnya.
"Akan aku usahakan," jawab Reynald membuat Jessy begitu girang.
"Aku lapar," adu Jessy membuat Reynald lagi dan lagi tertawa.
"Baiklah aku akan memesankan makanan untukmu," kata Reynald yang langsung memeluk Jessy menuju kursi kerjanya.
Reynald menghubungi sekretarisnya untuk memesankan makanan.
"Sebentar lagi akan datang, istirahatlah pasti kamu sangat capek," kata Reynald pada Jessy.
"Aku ingin menemanimu bekerja," kata Jessy dengan nada yang bisa dibilang sangat imut dan menggemaskan.
"Kenapa lama tidak bertemu kamu begitu menggemaskan sekali, hah?" tanya Reynald sembari menggoda Jessy.
Tok tok tok
"Maaf tuan saya ingin mengantarkan makanan yang anda pesan,"
"Baiklah bawa kemari," kata Reynald.
"Permisi tuan,"
"Ya," jawab Reynald lalu membuka semua makanan yang sudah ia pesankan.
"Sekarang makanlah, aku akan mengerjakan beberapa proposal untuk minggu depan," kata Reynald dan Jessy langsung membuka semua box makanannya.
Entah kenapa dia begitu lapar sekali, mungkin karena beberapa minggu terakhir ini dia selalu diet.
Reynald duduk di kursi kerjanya dan kembali menyelesaikan proposalnya.
Siapa yang tahu jika Jessy tiba- tiba duduk di pangkuan Reynald sambil makan makanannya.
Reynald yang terkejut dengan sikap Jessy hanya diam dan menatap punggung Jessy.
"Sayang, makanlah di sofa akan lebih nyaman," kata Reynald membuat Jessy berputar untuk melihat wajah Reynald.
"Aku ingin menemanimu di sini," kata Jessy dengan wajah yang sangat polos dan menggemaskan.
Sedangkan sedari tadi Reynald memejamkan matanya dan menunduk.
"Kenapa, apa kamu sakit?" tanya Jessy sembari mengangkat dagu Reynald.
"Sayang, makanlah di sana dan duduk di sofa sebelum aku kehilangan kendali," kata Reynald membuat Jessy mengernyitkan keningnya.
Entah sengaja atau bagaimana Jessy malah berputar 90° ke arah Reynald dan membuat Reynald kembali memejamkan matanya.
"Maksud kamu?" tanya Jessy sambil menggigit sumpitnya.
"Makanlah atau aku akan membawamu ke kamar," kata Reynald mengancam Jessy dan memberanikan diri untuk menatap mata cantik Jessy.
Jessy yang tahu maksud dari ucapan Reynald langsung berdiri dan membawa box makanannya menuju meja di sudut ruangan.
Reynald tertawa pelan melihat tingkah menggemaskan Jessy.
"Akhh kenapa dia begitu polos sekali hingga membuat diriku begitu tersiksa karena kepolosannya," gerutu Reynald mengepalkan tangannya dan menatap Jessy yang lahap dengan makanannya.
"Sayang apa ini?" tanya Jessy sembari mengangkat bolpoin warna hitam.
"Lihatlah saking pinternya belajar di luar negeri dia sampai lupa bentukannya bolpoin," gumam Reynald yang tak habis pikir dengan Jessy.
"Itu bolpoin sayang," jawab Reynald dengan sabarnya.
"Tapi ini bukan bolpoin biasa sayang, lihatlah," kata Jessy sembari melambaikan tangannya ke arah Reynald.
"Terus bolpoin ajaib gitu," gumam Reynald pelan dengan langkah lunglai ia berjalan menghampiri Jessy untuk melihat bolpoin yang ia maksud.
Klik
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
*Menurut kalian, siapa dalang di balik ini semua?
Terus yang jadi pengkhianat siapa?
__ADS_1
Robert pada Bradsiton?
Atau Walles pada Robert*?