Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Balap Motor


__ADS_3

□□□


Rendy dan Reno sudah dua hari ini tidak pulang ke rumah.


Alasan pertama, karena Rendy yang kesal dengan Bara.


Kedua, karena dirinya patah hati Sela udah dilamar Bara.


Alhasil keduanya hanya jalan- jalan dan makan.


Keduanya semalam tidur di apartemen daripada pulang.


Biasa sultan mah bebas.


Kini keduanya sedang duduk di bangku taman sambil melihat orang- orang yang sibuk lalu lalang olahraga atau berangkat kerja.


"Tuan kita ini sebenarnya banyak banget kerjaan tapi kenapa kita kayak pengangguran gini," keluh Reno yang kesal karena dua hari ini mereka tidak juga pulang ke rumah.


Melainkan menghabiskan banyak uang dan jalan kaki untuk menghilangkan rasa patah hati.


"Gue enggak ngerasa pengangguran kok, black card gue masih penuh," jawab Rendy sambil memakan kue mochinya.


"Tuan mah enak tiap hari meski enggak kerja punya black card lah saya tiap hari enggak kerja ya potong gaji," ketus Reno yang menolak perbandingan dirinya dengan Rendy.


"Hidup tuh cuma sekali kita harus menikmati, love your self," kata Rendy yang mendadak menjadi puitis.


"Nah karena kita harus love your self kenapa tuan patah hati kalau Sela udah dilamar tuan Bara, kan banyak wanita lain, kenapa tuan harus menyiksa diri," kata Reno membalikkan ucapan Rendy.


"Gue tuh sebenarnya genius Ren, tapi karena ketemu sama lo gue jadi bego tau enggak," kata Rendy membuat Reno mengernyit bingung.


"Terus kenapa udah 10 tahun baru bilang sekarang?" tanya Reno ketus pada Rendy.


"Ya kan gue enggak enak sama lo," gumam lirih Rendy sambil menatap arah lain.


"Gak enak tapi barusan ngomong," gerutu Reno sambil menatap orang- orang yang lalu lalang.


"Ren tumben mochinya enak, lo beli di mana?" tanya Rendy karena merasa jika kue mochinya tidak seperti biasanya.


"Di toko ada," jawab Reno membuat Rendy berhenti mengunyah.


"Gue tahu di toko ada, lo beli ini di mana?" tanya Rendy setengah kesal sambil terus memakan kue mochinya.


"Di bilang juga di toko ada," jawab Reno yang juga ngotot.


"Ren lo kalau punya masalah hidup sama gue bilang, ditanya juga beli di mana?" Reno menghela napas menahan emosinya.


"Di toko ada noh di sana," kata Reno sambil menunjuk toko kue khusus mochi di seberang jalan.


Rendy mengikuti arah tangan Reno yang menunjukkan toko kue mochi.


"Bilang dong kalau nama tokonya ada," kata Rendy sambil menahan senyumnya karena malu.


Reno melihat Rendy yang sejak tadi menggunting kue mochi menggunakan gunting.


"Tuan apa anda membawa gunting dari apartemen?" tanya Reno penasaran, Rendy menggeleng santai.


"Terus itu gunting dari mana?" tanya Reno.


"Punya toko itu tadi kebawa sama gue," kata Rendy sambil nunjuk toko ada penjual kue mochi.


"Astaga," kata Reno sambil mengusap gusar wajahnya.


"Tuan," teriak dua orang dari kejauhan dengan pakaian serba hitam.


Rendy dan Reno menoleh menatap kedua orang berbaju hitam itu.


Keduanya berlari menghampiri Rendy dan Reno dengan senyum yang tak pudar di bibirnya.


"Tuan kami udah siap kerja," kata preman gempal itu sangat berantusias.


"Saya juga tuan," lanjut preman bertubuh tinggi.


Rendy meletakkan kue mochinya sambil tersenyum tipis dan berdiri di depan keduanya.


"Ok selamat, kalian berdua diterima kerja sama saya," kata Rendy sambil berjabat tangan pada keduaya.


"Terus tugas kita apa tuan?" tanya preman itu.


"Gampang kalian cuma jadi bodyguard saya dan temani saya jalan- jalan," kedua preman itu saling menatap satu sama lain merasa tidak percaya.


"Dengan gaji sebesar itu kerjaan kita cuma gitu doang?" Rendy mengangguk sambil tersenyum samar.


Reno berdiri sambil menatap kedua preman itu.


"Berarti kita bertiga sekarang jadi bodyguard sekaligus teman jalan tuan, ok," kata Reno memberi tahu kedua preman itu. Keduanya mengangguk kompak dan antusias.


"Yaudah nih sekarang kalian sarapan kue mochi saya mau olahraga bentar lari keliling taman," kata Rendy sambil memberikan kue mochi pada kedua preman itu.


Reno dan juga kedua preman itu duduk di bangku taman dengan kue mochi di tangannya.


Rendy sudah pergi berlari- lari kecil seperti orang- orang lainnya.


"Kok saya kayak merasa aneh ya kerja gini," gumam preman gempal itu.


"Iya, kenapa bisa kita kerja dengan gaji besar tapi kerjaannya cuma gini," timpal preman tinggi sambil menggigit kue mochi.


"Jangan salah, meski tuan Rendy kelihatannya udah umur 25 tahun sebenarnya dia adalah bocah yang masih berumur 5 tahun," kata Reno sambil mengawasi Rendy yang sedang berolahraga.


"Kenapa bisa tuan?" tanya mereka penasaran.


"Selain dia ceroboh dan pelupa, dia enggak beda jauh sama anak usia 5 tahun, kalau enggak bikin ulah ya bikin kita kerja dua kali," kata Reno membuat keduanya mengangguk paham.


♡♡♡


Hari ini Sela ada kuliah sedangkan Bara sejak tadi uring- uringan sendiri melarang Sela agar tidak kuliah.


Dengan alasan ingin mengajak Sela jalan- jalan sebelum pergi ke Hardvard.


Bahkan saking possesive dan over protektifnya Bara membuat peraturan jika selama 24 jam Sela harus bersama dirinya.

__ADS_1


Tidak hanya itu Bara tadinya ingin ikut kuliah bersama Sela untuk tidak melewatkan sedikitpun waktu luang Sela.


"Ayo dong sayang boleh ya aku ikut kuliah," kata Bara yang sedang berguling- guling di queen size Sela.


"Enggak," jawab tegas Sela membuat Bara lagi- lagi menghela napas.


"Sekarang tinggal 4 hari lagi, sedangkan kamu di London nanti 2 tahun, lama sayang," keluh Bara sambil berguling- guling.


"Udah ayo berangkat," ajak Sela yang sudah siap pergi ke kampus. Bara bangun dan melihat penampilan Sela.



"Tuhkan kamunya malah dandan tambah cantik jadinya, gimana semua cowok enggak suka coba," gerutu Bara yang mengomentari penampilan Sela.


"Tapi ini kan seragam khusus untuk hari selasa tuan," protes Sela kesal.


"Enggak ganti pokoknya baru aku mau berangkat ke kantor dan enggak ikut kuliah kamu," kata Bara memberi pilihan pada Sela.


Dengan terpaksa dan agar cepat berangkat Sela dengan gontai menuju walk in closet untuk ganti.


Bara tersenyum kesenangan dan kembali berbaring di queen size Sela sambil senyam- senyum.


"Gue aja tahan napas liat dia pakai baju gitu apalagi cowok lain," gumam lirih Bara jika mengingat baju Sela barusan.


"Tapi kan entar di London dia juga bakalan pakai baju yang gue beli, mana semua bajunya yang gue pilih enggak ada akhlak lagi," gumam Bara yang langsung bangun dari baringannya ketika mengingat baju- baju Sela kebanyakan lebih terbuka.


Ya Bara awalnya pikir kan itu baju- baju buat di rumah aja enggak untuk keluar.


"Ayo udah berangkat," kata Sela yang keluar dari walk in closet selesai berganti pakaian.



"Nah malah pakai itu bajunya, ganti- ganti," protes Bara sambil mencak- mencak enggak jelas.


"Ihh kenapa sih emang sama bajunya, hari selasa itu jadwalnya pakai seragam yang tadi sama ini," kata Sela kesal sama Bara.


"Enggak usah kuliah sekalian deh," kata Bara sambil berjalan menuju pintu untuk mengunci kamarnya.


Sela baru ngeh kalau Bara mengunci dirinya di kamar saat Bara keluar dari kamar dan mencabut kunci kamarnya.


"Ehhh tuan tunggu, tuan buka pintunya, tuan saya mau kuliah," teriak Sela sambil memukuli pintu agar Bara mau membukakan pintunya.


"Udah sayang enggak usah kuliah di rumah aja, aku ke kantor dulu ya cari uang buat nikahan kita nanti, dah sayang," kata Bara yang sudah berlalu pergi memasuki lift.


"Hihhhhhh Aldebarannnnn," teriak Sela kesal yang masih bisa didengar oleh Bara membuat dirinya tersenyum.


"Apa dia bilang, cari uang buat nikahan? Nikah aja sana sama uang," kesal Sela sambil menendang pintu lalu berjalan gontai menuju queen sizenya.


Sela merasa bosan berada di dalam kamar.


Padahal hari ini dia ingin sekali kuliah untuk bertemu Sandra.


Sela ingin mengingatkan Sandra dan Dico agar lebih menjaga paspor mereka dari Gabriela.


Ting


Sela melihat pesan dari Bara.


Sayang jangan lupa makan ya, nanti pak Asep yang anterin ke kamar, jangan nakal ya ditinggal suami kerja❤


Sela melempar ponselnya ke sembarang arah.


"Apa dia bilang suami? Halunya kenapa tinggi banget sih," keluh Sela sambil berguling- guling enggak jelas.


Ting


Ponsel Sela kembali berbunyi menandakan ada notifikasi masuk.


Dengan sangat malas Sela meraih ponselnya untuk melihat pesan.


Sandra


Buru- buru Sela melihat pesan yang dikirimkan Sandra.


Sela, paspor gue diambil Gabriela, dia bilang bakal balikin kalau lo dateng ke sirkuit balapan, Sela gue minta tolong sama lo, bantuin gue


Sela bergegas untuk berganti baju sebelum pak Asep datang.


Ternyata benar selang beberapa menit pak Asep mengetuk pintu.


Tok tok tok


"Nona, ini saya mau mengantar sarapan buat nona," kata pak Asep sambil membuka kamar Sela yang dikunci.


Sela akan meminta bantuan pak Asep untuk bisa keluar dari kamar.


Sela keluar dari walk in closet dengan pakaian yang beda.


"Nona ini sarapannya," kata pak Asep sambil meletakkan nampan di atas nakas.


"Pak Asep Sela mau minta tolong boleh enggak?" tanya Sela memelas pada pak Asep.


"Boleh non mau minta tolong apa?" tanya pak Asep.


"Pak bolehin saya keluar ya saya ada urusan sebentar sama temen saya, saya janji kok pak sebelum tuan pulang saya akan pulang terlebih dulu," kata Sela meminta tolong pada pak Asep karena yang megang kuncinya pak Asep.


Terlihat sekali jika pak Asep bingung, antara ingin menolong dan takut dengan Bara.


"Cuma 30 menit kok pak beneran," kata Sela kembali membujuk pak Asep.


"Iyadeh nona, tapi beneran ya cuma 30 menit dan harus pulang sebelum tuan Bara pulang duluan," kata pak Asep mengingatkan Sela, Sela mengangguk antusias.


Pak Asep keluar bersama Sela lalu kembali mengunci kamarnya.


Keduanya turun ke lantai bawah dan berjalan pelan sambil melihat kanan-kiri takut jika Bara pulang.


Keduanya sudah sampai di garasi untuk menaiki mobil tapi Sela menolak dengan keras.


"Pak saya minjem motor ninjanya itu ya?" tanya Sela yang membuat para bodyguard melotot tidak percaya dan menggelengkan kepalanya serempak.

__ADS_1


"Jangan nona nanti kalau ada lecet sedikit sama nona kita yang bakalan kena marah," kata salah satu bodyguard.


"Tenang aja saya bisa kok jaga diri," kata Sela yang langsung mengambil helm di etalase dan kunci motor.


Tanpa ragu dan takut Sela langsung menaiki ninja yang kebetulan ada warna pink.


Sedangkan banyak bodyguard yang sedang was- was dan juga takut jika nanti Sela kenapa- napa.


Bahkan mereka berjalan berdampingan di kanan kiri Sela saat Sela mengendarai motornya keluar dari bagasi.


"Makasih semuanya," kata Sela sambil tersenyum ke semua bodyguard yang sedang berjaga di halaman.



Bahkan beberapa bodyguard dibuat kagum dan takjub akan kecantikan Sela dan kehebatannya dalam mengendarai motor.


Ternyata selain cantik Sela juga mahir dalam mengendarai motor ninja besar ini.


"Ya tuhan itu barusan yang lewat nona Sela?" tanya bodyguard tidak percaya akan Sela yang baru saja lewat.


"Mungkin ini yang dinamakan bidadari di bumi,"


"Andai aja tuan Rendy ada pasti dia udah pingsan di tengah halaman lihat nona Sela naik motor ninja,"


"Bener banget, bisa- bisa bakal ada baku hantam antara tuan Bara dan Rendy,"


itulah kira- kira cuitan para bodyguard saat melihat pesona Sela mengendarai motor besar itu.


Andai aja Bara di sini melihat para bodyguardnya sedang memuji dan menatap dengan leluasa Sela.


Habis mungkin nyawa mereka.


.


.


.


.


.


Sela sudah sampai di sirkuit balapan dan terlihat Gabriela yang sedang menunggu dirinya.


"Wih dateng juga si ratu Sela," kata Gabriela saat Sela berhenti di depannya dan melepaskan helmnya.


"Bisa enggak sih kamu jangan buat ulah," kata Sela yang lama- lama geram dengan sikap Gabriela.


"Kayaknya motornya pinjeman deh kelihatan murah banget," ejek Gabriela sambil menatap motor Sela.


"Iya murah banget kaya harga diri lo," balas Sela membuat Gabriela ingin menampar Sela tapi Sela malah tersenyum miring dengan posisi masih duduk di atas nakas.


"Lo ya bener- bener," kata Gabriela sambil menunjuk tepat di depan wajah Sela.


"Buruan tanding aku enggak punya banyak waktu," kata Sela sambil memasang helmnya membuat Gabriela menganga melihat perubahan sikap Sela.


Sela menatap Gabriela yang masih mematung di tempat sambil menatap dirinya.


"Kenapa, kamu takut atau mau nyerah sebelum balapan dimulai?" kata Sela yang membuat Gabriela terpancing emosinya.


"Kalau kalah malu lho dilihatin anak sekelas," kata Sela sambil menatap teman sekelasnya yang kini sedang menonton mereka berdua untuk melihat siapa pemenangnya.


Tapi kebanyakan dari mereka banyak yang meneriakan nama Sela.


Gabriela memasang helmnya dan sudah bersiap di atas motornya.


Suara deruman motor terdengar begitu keras.


Diiringi teriakan dari teman sekelas membuat suasana menjadi sangat gaduh.


Jenifer yang berada di depan mereka dengan membawa bendera kini sedang menghitung untuk balapan dimulai.


1


2


3


Mulai


□》》》□


Bradsiton sedang di ruangan bawah tanah bersama hacker terkenal.


Bradsiton sedang mencari tahu tentang keberadaan Felix dan keluarganya.


Kemana sebenarnya mereka pergi, tidak mungkin mereka tidak meninggalkan jejak bukan.


Bradsiton tidak kenal lelah untuk terus mencari keberadaan Felix.


Tidak ada alasan tertentu hanya saja Bradsiton ingin melaksanakan wasiat temannya.


Yaitu menjaga putri semata wayangnya.


Karena itu Bradsiton bahkan mengumpulkan semua hacker terkenal di Kanada untuk menemukan keberadaan Felix.


Satu- satunya orang yang sangat berbahaya dan begitu kejam.


Bahaya, kejam dan bengis.


Itulah gambaran untuk Felix.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


**Menurut kalian siapa putri yang dimaksud Bradsiton?


Laura yang yatim piatu atau Sela yang hanya tinggal bersama ibunya?


Yuk tebak😆**

__ADS_1


__ADS_2