Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Ciee Yang Cemburu


__ADS_3

♡♡♡


Sela membuka matanya perlahan, lalu menatap langit- langit kamar, ini bukan kamarnya.


Sela bangun dan melihat sekeliling, terlihat Bara tidur di sofa.


Sela mengusap wajahnya gusar lalu turun dari king size sambil membawa selimut tebal menghampiri Bara.


Sela menyelimuti Bara sampai leher lalu meletakkan bantal agar tidur Bara lebih nyaman.


Namun, siapa yang tahu jika Bara tidak tidur sejak tadi.


Bara menarik Sela hingga terbaring di sampingnya.


Bara menyelimuti tubuh Sela lalu menjadikan lengannya sebagai bantalan kepalanya dan memeluknya erat.


"Apa kamu bisa merasakan?" tanya Bara yang masih memejamkan matanya.


Sela mendongak menatap wajah tampan Bara yang masih setia memejamkan matanya.


"Apa?" tanya Sela tidak mengerti. Bara membuka matanya lalu menunduk menatap lekat wajah Sela.


"Detak jantungku selalu berdebar setiap kamu di dekatku," Sela hanya diam tak merespon.


"Aku akan mengatakan hal ini, meski nanti kamu akan menjauhiku atau tidak, aku takkan peduli," kata Bara tak lagi menggunakan kata formal.


Mata mereka saling beradu, seakan hanya suara detak jantung mereka yang membuat kebisingan.


"Aku sudah lama memendam perasaan ini, bahkan awal kita bertemu aku sudah jatuh hati padamu. Aku tidak pernah percaya cinta pandangan pertama, tapi semua itu terjawab saat kita berdua dipertemukan,"


"Meski aku tidak pernah dekat dengan perempuan manapun, tapi aku tahu semua sikap mereka, tapi tidak dengan sikapmu, aku sulit menebak. Bahkan aku berkali- kali dibuat kagum olehmu," kata Bara mulai mengutarakan perasaannya.


"Jika kamu mengizinkan, aku ingin mencintaimu sepenuh hatiku, menjadikan namamu satu- satunya di dalam sini," kata Bara sambil menggenggam tangan Sela menempelkannya di dada.


Sela tak menjawab, dia hanya diam memperhatikan Bara.


Bara bisa mengerti perasaan Sela, dia tidak akan memaksa.


"Kamu enggak perlu menjawabnya sekarang, meski aku membenci untuk menunggu, akan aku lakukan untukmu," kata Bara sambil membelai rambut Sela.


"Beasiswa saya dicabut," hanya kata itu yang keluar dari mulut Sela.


Bara yang sudah tahu sebelumnya, mencoba memberi dorongan pada Sela dengan memeluknya erat.


Sela menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bara.


Bara merasakan jika bajunya basah, apa Sela sedang menangis.


"Kenapa Gabriela tega melakukan ini," suara serak Sela membuat tangan Bara menggenggam kuat.


Gabriela


Satu nama tapi seribu masalah bagi Sela.


"Saya juga tidak akan tahu jika takdir menorehkan kisah kehidupan saya seperti ini," Bara terus mengusap punggung Sela memberinya kekuatan.


"Andai saya bisa meminta pada tuhan, saya juga ingin membuat takdir tentang kita berdua sebagai saudara," suara Sela semakin parau dan semakin terisak.


"Terkadang sahabat terbaikmu yang selalu ada, adalah musuh terbesar bagi kita. Seperti kehidupan yang tidak bisa ditebak, begitu juga dengan sahabat," kata Bara sambil mencium rambut Sela yang aroma stroberi.


Sela mengusap air matanya lalu bangun dari baringannya.


Bara pun juga ikut bangun dan menatap mata Sela yang sembab.


Tanpa aba- aba Bara langsung merengkuh tubuh Sela dan mendekapnya erat.


"Jangan menangis di depanku, aku membenci air mata itu. Terlebih aku akan membenci diriku saat kamu menangis karenaku," kata Bara sambil membelai rambut panjang Sela.


Sela melepaskan pelukan Bara lalu kembali mengusap air matanya.


"Pasti tuan senang kan, saya enggak jadi ke Hardvard?" kata Sela dengan bibir manyun ke depan.


Bara tertawa renyah melihat ekspresi Sela.


"Emm, kamu mau jawaban jujur apa bohong?" tanya Bara membuat Sela mendelik.


"Tidak perlu menjawab, saya tahu jawabannya," kata Sela sambil berdiri memakai sandalnya hendak kembali ke kamar.


"Mau kemana?" tanya Bara berniat menggoda Sela.


"Mandilah," jawab Sela dengan ketus membuat Bara kembali tertawa.


"Bagaimana jika mandi di kamar mandi saya?"


Bugh


Sandal hello kitty melayang dan mendarat tepat di dada Bara.


"Mandi tuh sama sandal," ketus Sela lalu keluar dari kamar Bara dengan sandal sebelah.


"Untung cuma sendal, coba kalau meja yang diangkat, bonyok muka gue," gumam Bara sambil meraih ponselnya di atas meja.


Bara mendial nomor seseorang untuk meluruskan kesalahpahaman ini.


"Halo pak Deni," Deni adalah kepala senat di kampus.


"Halo Bara,"


"Kembalikan beasiswa atas nama Sela, saya akan segera mengirimkan beberapa bukti untuk penjelasan kesalahpahaman foto yang beredar,"


"Baik Bara, besok beasiswa akan saya berikan kembali untuk Sela,"


"Kalau boleh tahu, berapa bulan lagi, mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Hardvard berangkat?"


"Kurang lebih satu bulan ini mereka akan berangkat,"


"Kalau saya boleh tahu siapa saja mahasiswa itu?"


"Sela Sandra dan juga Dico,"


"Hmm baiklah, saya hanya ingin menyampaikan hal itu. Oh ya satu lagi, jangan beritahu semua ini pada Sela,"


"Baik Bara, saya akan merahasiakannya,"


Bara mematikan sambungan teleponnya lalu beralih mendial nomor Peter.


"Halo,"


"Hey brother,"


"Gue butuh bantuan lo,"


"Ok silahkan, gue selalu ada buat lo," kata Peter diiringi tawanya.

__ADS_1


"Lo retas akun yang gue kirim,"


"Kenapa, apa ada masalah?"


"Tidak, aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku,"


"Oh good brother, gue lupa sikap possesive dan protektif lo, gadis itu sepertinya sudah berhasil mencuri hatimu,"


"Udah kerjain apa yang gue minta,"


"Siap pak bucin," Bara tertawa mendengar ucapan Peter.


Setelah selesai telpon dengan Peter, Bara bergegas untuk mandi.


Hari ini Sela libur kuliah, dia akan mengajaknya ke kantor untuk melupakan masalah tentang Gabriela dan beasiswanya.


"Ya tuhan gadis gue, masalah beasiswa aja ditangisi, gimana nanti kalau gue tinggal, kira- kira nangis enggak ya," gumam Bara bertanya pada dirinya sendiri di pantulan kaca.


"Emang perempuan mahal kayak dia emang beda," gumam Bara sambil menggosok giginya.


.


.


.


.


.


Bara turun dari mobil lamborgininya tepat di depan lobi kantornya.


Begitupun Sela yang turun dari mobil.


Bagaimana dengan mereka, bukankah mereka sudah seperti sepasang kekasih.


Jika orang yang tidak tahu pasti mengira jika mereka sepasang kekasih.


Tapi kenyataannya mereka tom & jerry yang menjalin kasih.


Sela yang berjalan berdampingan di samping Bara juga diikuti bodyguard di belakangnya menatap sekeliling.


Para karyawan perempuan semua memotret penampilan Bara hari ini.


Bahkan mereka ada yang menatap Bara hingga tak kedip.


Sela menatap ke samping, kenapa dia baru menyadari jika pakaian Bara bukanlah jas melainkan santai.



Pantesan para betina pada lapar liatnya.


Orang si buaya nya lagi tebar pesona gini.


"Tuan apa anda tidak salah kostum, kenapa anda memakai pakaian santai ke kantor?" tanya Sela pelan pada Bara.


Bara menatap ke samping dan tersenyum.


"Kenapa, kamu juga pakaiannya santai, terbuka lagi," Sela menatap datar Bara.



"Apa anda tahu para karyawan anda sedang tergila- gila melihat penampilan anda saat ini,"


"Memang kenapa, jomblo kan bebas. Enggak ada yang cemburu, saya juga enggak punya cewek," kata Bara menggoda Sela.


"Sayangnya enggak tuh," kata Sela lalu berjalan lebih dulu menuju lift.


"Tinggal bilang cemburu aja gengsi banget ya tuhan," gumam Bara sambil menunduk menyembunyikan senyumnya.


Bara langsung memasuki ruangannya untuk memeriksa beberapa berkas.


Sedangkan Sela langsung menuju ruangan Dea, dia sangat merindukannya.


Bara sedang mempersiapkan berkas yang akan dia bawa ke AS.


Besok dia akan berangkat ke AS karena puncak acara akan dimulai.


Bara juga mempersiapkan kontrak kerja, meski Bara belum tahu dia menang atau belum, setidaknya dia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang.


Tok tok tok


Pintu terbuka menampilkan Jessy yang tersenyum ramah pada Bara.


"Apa gue ganggu lo?" tanya Jessy.


"Enggak hanya menyiapkan berkas untuk keberangkatan besok, apa ada yang ingin lo sampaikan?" tanya Bara karena dia tahu Jessy datang untuk memberinya info.


"Lo udah tahu jawabannya," kata Jessy lalu mengambil sesuatu di tasnya.


Jessy menyodorkan bolpoin di hadapan Bara membuat Bara mengernyit bingung.


"Buat?" tanya Bara karena tidak mengerti maksud Jessy.


Jessy hanya tersenyum, lalu menekan tombol kecil di bolpoin itu.


Terdengar suara Reynald yang sedang mengobrol dengan Walles.


Setelah selesai mendengarkan rekaman itu, Bara terpukau dengan ide Jessy.


"Lo emang luar biasa," kata Bara memuji kehebatan Jessy.


"Lalu bagaimana tindakan tuan Bara, apa akan mundur begitu saja?" tanya Jessy meremehkan Bara.


"Tentu tidak, mari jadikan ini boomerang buat mereka," kata Bara membuat Jessy bertepuk tangan.


"Gue selalu percaya sama lo, cerdik dan licik," kata Jessy.


"Tapi apa Reynald tidak mencurigai lo?" tanya Bara khawatir jika Jessy ketahuan Reynald.


"Sejauh ini gue selalu berhati- hati, jadi kemungkinan kecil jika Reynald akan curiga," Bara mengangguk tenang.


"Apa sikap dia masih sama?" tanya Bara tentang keadaan Reynald.


"Ya begitulah, minum dan club adalah rutinitas baginya," jawab Jessy dengan ekspresi yang berubah.


"Cuma lo yang bisa rubah dia," ucapan Bara membuat Jessy tersenyum miring.


"Gue enggak ada niatan untuk balik lagi dengannya," kata Jessy kini suara semakin pelan.


"Gue tahu seenggaknya bantu dia untuk menyembuhkan luka yang dulu pernah jadi tawa," kata Bara sambil menyodorkan tisu ke depan Jessy.


"Lo enggak ada niatan gitu buat usap air mata gue, enggak peka banget," ketus Jessy membuat Bara menyandarkan punggungnya di kursi.

__ADS_1


"Sorry, pawang gue lagi pergi jadi gue harus jaga hati," tawa Jessy seketika menggelegar mendengar ucapan Bara.


"Coba ulangi apa kata lo, gue enggak salah denger kan. Aldebaran yang hatinya udah kayak salju dinginnya, bisa leleh juga sama Sela," ejek Jessy membuat Bara tertawa renyah.


"Lo tahu enggak sih, kemarin gue denger sendiri, Sela ngucapin kalau dia jatuh cinta sama gue," kata Bara tidak bisa menyembunyikan kesenangannya ini.


Jessy hanya bisa menganga tidak percaya pada Bara.


"Kenapa lo sekarang mirip ibu- ibu komplek, apa lo enggak bisa jaga rahasia lo sedikitpun, hal seperti ini lo bilang ke gue," kata Jessy tidak percaya sama sikap Bara.


"Tapi Jes kemarin merupakan hari bersejarah bagi gue, lo tahu enggak dia bilang gimana," Bara langsung berdiri dan mempraktekkan Sela saat kemarin mengungkapkan isi hatinya.


"Ya aku jatuh cinta sama tuan Bara," seketika tawa mereka berdua meledak di ruangan Bara.


Bisa- bisanya Bara menirukan gaya bicara Sela.


Tok tok tok


Seketika keduanya berhenti tertawa dan melihat ke arah pintu.


Terlihat Sela dengan kopi di tangannya.


"Maaf menganggu saya hanya ingin mengantarkan ini," kata Sela dengan ragu berjalan menghampiri meja Bara.


Sela melirik sekilas Jessy entah kenapa Jessy tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Ini kopi tuan, saya permisi," kata Sela hendak pergi.


"Tunggu," kata Bara menarik tangan Sela hingga dia duduk di atas pangkuan Bara.


"Di sini aja," kata Bara membuat Jessy memalingkan wajahnya.


"Apa lo berniat untuk menjadikan gue obat nyamuk?" tanya Jessy membuat kedua orang ini menatapnya.


"Udah selesai kan, silahkan pintu keluar sebelah sana," kata Bara sambil menahan senyumnya.


Sedangkan Jessy tersenyum kesal pada Bara.


"Baik kalau begitu saya pamit undur diri tuan Aldebaran," kata Jessy sambil membungkuk di depan Bara dan Sela.


"Dasar psikopat," gumam Jessy lirih sambil melihat sinis Bara.


Bara hanya tersenyum melihat ekspresi Jessy sedangkan Sela hanya memperhatikan keduanya.


Sebelum menutup pintu Jessy kembali menatap Bara dengan tajam.


"Gue bantu buat matiin cctv nya," kata Jessy lalu menutup pintunya dengan kasar.


Bara tertawa renyah membuat Sela yang melihatnya merasa sebal.


Sela berniat untuk turun dari pangkuan Bara namun Bara kembali menariknya untuk duduk di atas pangkuannya.


"Tuan saya sedang ditunggu kak Dea, lepasin," kata Sela dengan ketus membuat Bara tertawa melihatnya.


"Bukannya kamu tadi ingin bertemu dengan saya?" tanya Bara menggoda Sela.


"Saya hanya mengantar kopi ini," jawab Sela sambil menatap arah lain.


"Yaudah di sini aja tungguin saya kerja," kata Bara sambil melihat layar laptopnya.


"Tuan, nanti kalau ada yang lihat bisa- bisa geger satu kantor," kata Sela yang terus memberontak untuk berdiri dari pangkuan Bara.


"Tuan Bar...," Sela langsung melompat dari pangkuan Bara saat terlihat Dea di ambang pintu.


"Maaf- maaf saya lupa mengetuk pintu," kata Dea sambil membungkuk merasa malu dan juga takut Bara marah.


"Saya hanya ingin mengantarkan berkas ini untuk besok," kata Dea dengan pandangan terus menunduk.


"Lain kali ketuk pintu," kata Bara terdengar sangat kesal pada Dea telah menganggu waktunya sama Sela.


Kan jadi kabur Selanya.


"Iya tuan, besok saya akan mengetuknya terlebih dahulu, maafkan saya," kata Dea sedangkan Sela menatap ke arah lain dan terus memejamkan matanya menahan rasa malu saat kepergok oleh Dea.


"Kalau begitu saya permisi tuan," pamit Dea dan Sela memanfaatkan hal ini.


"Kak Dea aku ikut," kata Sela berlari menggandeng tangan Dea.


"Ehh mau kemana kamu?" teriak Bara pada Sela.


"Emm saya mau ambil kopi di ruangan kak Dea, nanti saya balik lagi," kata Sela mencoba mencari alasan.


"Sini," kata Bara sambil menepuk kursi di sebelahnya membuat Sela menatap Dea meminta pertolongannya.


"Sel ada kain yang belum aku potong, bentar ya aku pergi dulu," kata Dea melirik tatapan Bara yang tajam membuat dirinya merinding.


Sela menatap sendu kepergian Dea.


Sela menatap Bara sebal, dia selalu saja memaksa orang lain.


"Tunggu apalagi, sini," kata Bara sambil menepuk kursi di sebelahnya.


"Enggak mendings saya ke kamar aja," kata Sela ketus sambil pergi menuju kamar.


"Ide bagus tuh, yaudah saya ikut," dengan cepat Sela berlari masuk ke dalam kamar dan menguncinya sebelum Bara ikut masuk ke dalam.


□□□


Clay sedang memantau anak buahnya yang sibuk mempersiapkan segalanya untuk acara yang dimulai dua hari lagi.


Clay benar- benar mempersiapkan segalanya dengan sangat matang.


Dia sudah menyiapkan sekitar 900 bodyguard dan 50 tentara untuk acara ini.


Karena acara tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya.


Acara ini akan dihadiri oleh dua orang penting yang merupakan aset negara.


Jadi keamanan mereka sangat di perketat.


"Tuan Clay, semua sudah selesai untuk briefing, lantas apa yang dilakukan selanjutnya?" tanya asistennya.


"Untuk hari ini cukup ini saja, besok saya akan memberitahu mu," jawab Clay membuat asistennya mengangguk paham.


"Semoga semua berjalan lancar," gumam Clay sambil menatap panggung yang sudah setengah jadi.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


***Maaf buat kalian nunggu lama, saya bisanya up cuma malam kalau enggak sibuk ya pagi atau siang.


Saya tidak terlalu fokus sama novel karena saya juga sedang belajar untuk utbk tahun ini🙏🙏


Jadi saya minta maaf kalau buat kalian kesal atau kadang kecewa nunggu up cerita saya🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih buat semuanya


Terima kasih buat dukungan juga supportnya🙏***


__ADS_2