
□■□■
Reno datang ke balkon apartemen yang diminta Rendy.
Reno melihat Rendy sedang duduk di tepi balkon sembari menatap pemandangan kota.
Jika sudah seperti ini biasanya dia sedang tidak baik- baik saja.
"Heh," kata Reno sembari duduk di samping Rendy.
"Ngapain lo suruh gue kesini? Apa jangan- jangan lo minta bantuan gue buat bunuh diri?" tebak Reno membuat Rendy merasa jengkel.
Bugh
Rendy memukul bahu Reno hingga sang empu merintih kesakitan.
"Gue lagi galau tau enggak, hibur kek atau gimana," kata Rendy dan kembali menatap pemandangan kota dari atas balkon.
"Hilih biasanya lo yang suka ngejek Bara kalau lagi galau, kenapa sekarang lo jadi mellow gini. Pacar aja enggak punya pakai acara galau," dumel Reno membuat Rendy memejamkan matanya.
"Kayaknya gue salah manggil orang," gerutunya pelan membuat Reno tertawa pelan.
"Emang lo kenapa sih, enggak biasanya lo gini. Kadang kan lo yang suka bikin anak orang galau, apalagi lo rajanya ghosting,"
"Oh jangan- jangan lo galau karena ibunya Sela meninggal, terus lo enggak bisa rayu dia buat dapetin hatinya Sela," lagi dan lagi Reno menebak dengan seenak jidatnya.
"Lo tahu enggak rasanya dipukul?" tanya Rendy pada Reno.
"Nah kan baperan, suka deh gue," celetuk Reno membuat Rendy berkali- kali menghela napas.
"Lo tau enggak sih...,"
"Enggak," jawab Reno cepat membuat Rendy menatapnya tajam. Reno yang tahu kondisi dia sekarang langsung nyengir kuda merasa tak bersalah.
Daripada dia di dorong dari lantai 30 ya kan, mending cari jalan amannya aja.
"Beberapa hari lalu gue hampir deket sama Laura," dengan cepat Reno menatap Rendy tak percaya.
"Lo serius deket sama tuh nyai badas?" Rendy hanya menganggukkan kepalanya.
"Lo tahu kan dari dulu gue bukan tipikal cowok yang cepet bilang suka apalagi naruh hati sama cewek," kata Rendy yang langsung mendapat respon ejekan dari Reno.
"Tapi tipikal cowok kang ghosting," sahut Reno pelan.
"Bahkan dua kali first kiss gue berikan buat Laura," Reno langsung melebarkan kedua matanya tak percaya.
"Demi apa?" tanya Reno sangat shock.
"Demi Sela dan seisi dunia," kata Rendy sebal dengan respon cengoh Reno.
"Tapi gue tahu, kalau itu semua bagian dari rencana dia buat hancurin Bara," kata Rendy membuat Reno kini mulai serius.
"Dan kenyataan lainnya lagi yang lebih parah, gue baru tahu kalau Laura adalah putrinya Walles," Reno benar- benar terkejut dengan apa yang diucapkan Rendy.
"Oh jadi Laura deketi lo cuma karena dia pengin hancurin Bara? Terus itu semua bagian dari rencana Walles, gitu?" kata Reno membuat Rendy menunduk dalam.
"Dari tadi kan emang gitu tolol," kata Rendy dengan putus asa.
"Terus sekarang lo galau karena itu?" tanya Reno membuat Rendy menaikkan satu alisnya.
"Yaelah pacaran aja belum udah galau aja lo, baru juga deket udah main perasaan aja," ejek Reno membuat Rendy merasa begitu frustasi bukannya terhibur.
"Gue bukannya terhibur malah tertekan sama ucapan lo," kata Rendy sambil mengusap gusar wajahnya.
"Yaudah lah bro, lo ikuti aja apa isi hati lo. Karena yang bisa lo percaya cuma diri lo sendiri," saran Reno membuat Rendy mengangkat kepalanya.
"Terus lo enggak bisa gue percaya gitu?" tanya Rendy membuat Reno menyugar rambutnya ke belakang.
"Kok lama- lama gue juga merasa tertekan ngobrol sama lo," kata Reno mengikuti perkataan Rendy.
Rendy tertawa melihat wajah Reno yang benar- benar merasa sangat tertekan.
"Semesta emang terkadang suka sebercanda itu, mendatangkan rasa dengan tiba- tiba lalu meninggalkan rasa tanpa aba- aba," gumam Rendy lirih sembari menatap gedung- gedung pencakar langit.
"Giliran galau ngomongnya udah kayak motivator," gumam Reno merasa takjub dengan perkataan Rendy.
"Sudahi galaumu sekarang ikut gue uji nyali," kata Reno beranjak dari duduknya.
"Sok- sok an ngajak uji nyali, kemarin aja enggak bisa keluar dari rumah hantu," gumam Rendy kala mengingat di Bahama kemarin.
.
.
.
.
Sedangkan di satu sisi ada Gabriela yang sedang berada di balkon rumah sembari meminum alkohol kadar rendah.
Antara senang dan tak percaya.
Ibu Sela meninggal secepat itu.
Sedangkan ayahnya masih terbujur di rumah sakit tak sadarkan diri.
Lalu apa langkah Gabriela selanjutnya?
Gabriela hanya berpikir, apa Sela akan bertindak atau hanya diam dan menangis?
Melihat Sela bukan seperti yang dulu membuat Gabriela sedikit waspada.
Bukannya takut, Sela orangnya cerdik.
Tidak banyak kata namun selalu waspada dalam bertindak.
"Mungkin dia sekarang sedang menangis tersedu- sedu," gumam Gabriela sembari tersenyum miring.
"Sayang sekali, gue tidak bisa melihat wajah sedihmu," gumamnya sembari membayangkan wajah sedih Sela.
"Bertahun- tahun gue nunggu waktu ini, dan kemarin semunya sudah terjadi," kata Gabriela sambil menegak habis satu botol kecil alkohol di tangannya.
"Gabriela," teriak seseorang sembari membuka pintu dengan sangat kasar.
Gabriela berbalik dan melihat Laura datang menghampirinya.
"Sini lo," kata Laura sembari menarik tangan Gabriela untuk berdiri.
"Apaan sih," bentak Gabriela sembari menghempaskan tangan Laura dengan kasar.
__ADS_1
"Pasti lo kan yang udah bunuh ibunya Sela?" tanya Laura membuat Gabriela tersenyum mendengarnya.
"Gue enggak salah denger kan? Lo sekarang kawannya Sela?" tanya Gabriela sembari bertepuk tangan dan tertawa keras.
"Kenapa? Lo bosen jadi jahat?" tanya Gabriela membuat Laura muak melihat ejekannya.
"Itu bukan urusan lo. Sekarang jawab, apa lo disuruh papa buat bunuh ibunya Sela?" tanya Laura ingin tahu.
Gabriela kembali duduk di tepi balkon dan kembali menegak alkoholnya.
"Kenapa enggak lo tanya aja sama bokap lo?" kata Gabriela membuat Laura tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Tinggal jawab apa susahnya sih?" teriak Laura karena Gabriela sejak tadi terus menguji kesabarannya.
Gabriela tersenyum miring saat mendengar Laura yang terlihat begitu kesal.
Laura yang aslinya emosian berjongkok di samping Gabriela.
"Awas aja sampai gue tahu lo ikut andil dalam permainan papa ini," ancam Laura sembari menatap tajam mata Gabriela yang sedikit sayu.
"Gue sendiri yang bakal maju paling depan buat bales kelakuan lo," lanjut Laura lalu berdiri dan meninggalkan Gabriela termenung dengan pikirannya.
"Sial, siapa dirinya, berani- beraninya dia ngancam gue," gerutu Gabriela pelan sembari melihat ke bawah, di mana terlihat Laura yang sudah pergi melaju dengan mobil hitamnya.
"Lo yang mulai jadi jangan salahkan gue karena bermain licik,"
"Gue paling benci di tuduh," gumam Gabriela pelan lalu masuk ke dalam kamar.
♡♡♡
Bara sejak kemarin malam tidur di sofa, karena apa?
Dia mengurung Sela di kamarnya.
Bara hanya tidak ingin jika Sela melakukan hal di luar dugaan seperti kemarin malam.
Mabuk tanpa dirinya.
Bagaimana jika Bara terlambat datang untuk menjemputnya.
Apa pria mata keranjang tidak akan membawanya pergi?
Membayangkan saja membuat Bara begitu marah, apalagi jika itu terjadi.
Bara bangun dari baringnya, terlihat sudah pukul setengah 7, saatnya berangkat ke kantor.
Bara meraih kunci kamarnya di atas meja, lalu masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
Terlihat Sela sedang berdiri di dekat jendela dan melamun.
Bara kembali mengunci kamarnya dan menghampiri Sela.
Sela menoleh saat tangan besar Bara memeluk erat dirinya dari belakang.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, hmm?" tanya Bara sembari menopang dagunya di atas bahu Sela.
Sela hanya diam tak menjawab dan tatapannya masih sama yaitu menatap lurus ke depan.
Bara tahu mungkin sikap over protektifnya begitu berlebihan.
Tapi percayalah jika ia melakukannya karena dia sayang dengan Sela.
"Aku akan mandi, jangan kemana- mana," kata Bara sembari menatap wajah cantik Sela.
Bara pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera pergi ke kantor.
Sela masih diam dan termenung dengan pikirannya.
Dia masih tidak percaya jika ibunya akan pergi secepat itu.
Percayalah, dunia Sela itu cuma Ibu ibu dan ibu.
Meski dia ditinggalkan oleh 1000 orang tak masalah asal jangan ibunya.
Di sisi lain Bara sudah siap dan rapi dengan pakaian kantornya.
Tatapannya pun tak lepas dari Sela yang sejak tadi termenung dan hanya diam.
Bara kembali menghampiri Sela untuk pamit ke kantor.
"Sayang aku ke kantor dulu yaa," pamitnya sembari mencium pipi kiri Sela.
Sela menoleh dan menahan tangan Bara.
"Apa?" tanya Bara ketika Sela menahan tangannya.
"Aku ikut ke kantor, di rumah sangat sepi," kata Sela dengan wajah imutnya membuat Bara tidak bisa menolaknya.
"Baiklah, tapi ingat! Jangan jauh- jauh dariku," kata Bara yang langsung diangguki oleh Sela dengan sangat antusias.
Bara meraih pinggang ramping Sela untuk turun ke lantai bawah.
Kasihan juga jika Sela terus- terusan ia kurung di dalam kamar.
Pasti sangat membosankan.
.
.
.
.
Sudah hampir 2 jam lamanya Sela duduk diam baringan atau main laptop di dalam kamar Bara yang ada di ruangan kantornya.
Dia sangat- sangat bosan sekali.
Kenapa Bara begitu sibuk hari ini.
Kalau gini jadinya kan sama aja kayak di rumah, membosankan.
Dhea juga sedang sibuk, jadi tidak ada teman yang bisa Sela ajak ngobrol atau sekedar nonton.
Rendy dan Reno?
Entah kemana perginya dua bujangan itu.
Sela berjalan menuju jendela untuk melihat dari atas.
Siapa tahu ada sesuatu yang bisa ia mainkan atau dia ajak main.
__ADS_1
Gabriela?
Sedang apa dia di kantor Bara?
Sela dengan cepat keluar dari kamar Bara dan hendak menuju lift tapi berhenti saat mendengar obrolan Laura di balik dinding dekat lift.
"Pa, Laura enggak mungkin lakuin itu,"
"Papa enggak mau tahu, gimanapun caranya, kamu harus bisa buat dia minum racikannya,"
Terdengar Laura menghela napas berat kala perkataan papanya tidak bisa dibantah.
Sela berpikir sejenak, kira- kira siapa orang yang dimaksud Walles?
Dia atau Bara?
"Yaudah Laura kerja dulu," kata Laura lalu mematikan sambungan teleponnya dengan sepihak.
Sela kembali masuk ke dalam ruangan Bara dan mengintip Laura dari balik jendela.
Terlihat Laura kembali ke ruang meeting bersama Bara.
Sela baru teringat sesuatu.
Gabriela.
Dengan cepat sedikit terburu, Sela turun ke lantai bawah menaiki lift.
Sedikit berlari Sela menuju parkiran untuk mencari keberadaan Gabriela.
Kemana dia?
Kenapa dia pergi secepat itu?
Tidak mungkin jika Gabriela hanya sekedar lewat atau mampir ke sini, pasti ada sesuatu yang sedang ia lakukan.
Sela harus bisa mencari tahunya, karena mengingat dia yang sekarang bukan lagi seorang manusia melainkan psikopat.
Sela keluar dari parkiran melihat sekeliling kanan dan kiri.
Hap
"Aww," Sela menarik tangan Gabriela saat dia hendak menaiki sebuah taksi.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Sela mengintimidasi Gabriela. Gabriela tersenyum miring melihat tatapan mengerikan Sela.
"Gue kira lo bakal diem aja di dalam kamar sambil nangis, ternyata enggak," sindir Gabriela membuat Sela jengah menghadapi sikap dia yang tidak pernah berubah.
"Gabriela aku tanya sekali lagi, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Sela sekali lagi, dia sangat malas berhadapan denga Gabriela.
"Enggak ada sih cuma main- main aja sama Laura, oh ya kayaknya kalian berdua udah akrab deh satu sama lain," kata Gabriela membuat Sela berjalan maju untuk mendekatinya.
"Cepat katakan, apa yang kamu lakukan pada Laura?" tanya Sela dengan nada penuh penekanan dan tatapan tajam.
Gabriela dan Sela menoleh saat mobil Laura melewati mereka.
"Memotong kabel agar remnya blong," kata Gabriela dengan canda membuat Sela melebarkan matanya.
"Kamu benar- benar keterlaluan Gabriela," kata Sela yang tidak habis pikir dengan kelakuan Gabriela.
"Buruan kejar, keburu mati nanti temen lo," kata Gabriela pada Sela yang sudah berlari menuju parkiran.
Sela tidak punya pilihan lagi selain mengendarai mobil sport hitam milik Bara.
Sela langsung melajukan mobilnya untuk menyusul Laura yang sudah pergi dengan mobil yang remnya blong.
Dengan panik Sela mencoba menghubungi Bara tapi sudah 5 kali tidak ada jawaban.
Sela beralih menelpon Rendy untuk meminta bantuan.
Tut
"Halo Rendy,"
"Ada apa Sel?"
"Ren aku butuh bantuanmu, mobil Laura remnya blong, tolong bantu aku sekarang juga,"
"Apa? Di mana?"
"Di jalan tol menuju arah Tronto,"
"Ok gue kesana sekarang,"
Sela melemparkan ponselnya ke samping kemudi dan menambah kecepatan mobilnya.
Dengan perasaan was- was dan sangat takut, Sela mengkhawatirkan Laura.
Akhirnya Sela bisa mengejar mobil Laura, terlihat di depan sepi, Sela mencoba untuk memberitahu Laura.
Sela melajukan mobilnya agar berada di samping sisi kanan mobil Laura.
"Laura," teriak Sela kala jendela mobil terbuka. Laura menoleh dan mendapati Sela.
"Sela?" tanya Laura.
"Pelankan lajumu, rem mu blong," teriak Sela sekeras mungkin untuk memberitahukan pada Laura.
Laura melotot tak percaya dan mencoba untuk menekan pedal remnya.
Dan ternyata benar, remnya blong.
Terlihat Laura begitu panik dan takut membuat Sela kebingungan.
"Sela bagaimana ini?" teriaknya histeris, Sela melihat spion, belum ada tanda- tanda mobil Rendy untuk datang menyelamatkan.
Tol menuju arah Tronto tidak dilengkapi dengan pasir untuk menghambat mobil yang remnya blong.
Karen hal itu membuat Sela semakin bingung dan cemas akan keselamatan Laura.
"Sela aku mohon tolong aku," teriak Laura memohon pada Sela untuk membantunya.
Sela kembali melihat spion, tidak ada mobil Rendy.
Tanpa pikir panjang dan menunggu lama, Sela melajukan mobilnya dengan kecepatan 100 km/ jam dan nekat untuk menghadang mobil Laura dari depan.
"Sela awas," teriak Laura dengan sangat histeris saat melihat mobil Sela di depannya dan nekat untuk menghadang mobilnya.
*Brakkkkk
Citttttttttt
__ADS_1
Darrrrrrr*