Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Bumil Buat Rusuh


__ADS_3

《♡♡♡》


Jessy baru saja selesai masak untuk sarapan dan juga sudah mandi.


Ia berniat untuk membangunkan Reynald tapi ia tidak tega saat melihat pemandangan indah ini.



"Kalian sweet banget," kata Jessy saat memotret mereka berdua.


Jessy tersenyum penuh haru, siapa yang tahu jika ia akan menjalin hubungan sejauh ini dengan Reynald.


Apalagi sekarang ada buah hati tercinta mereka.


Jessy dengan pelan merangkak ke atas king size agar tidak membangunkan baby boy mereka.


Ia berniat untuk membangunkan Reynald agar sarapan terlebih dahulu.


Cup


Jessy mencium pelipis Reynald pelan, tapi Reynald tidur dengan begitu nyenyak.


Di rasa tidak ada pergerakan Reynald bangun dari tidurnya Jessy kembali mencium pelipis Reynald.


Cup


Jessy menyerah saat Reynald tak juga bangun, ia beranjak dari king size.


"Kamu mau kemana hmm," Jessy terkejut saat Reynald menarik dirinya hingga terbaring di king size dan Reynald memeluknya erat.


"Rey ayo bangun dan sarapan," ajak Jessy pada Reynald yang kembali memejamkan matanya.


Reynald malah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jessy.


"Rey," kata Jessy memperingati agar baby mereka tidak bangun.


"Kenapa kamu pagi- pagi udah bangun hah? Jangan terlalu lelah untuk bangun pagi dan memasak, semalaman kamu pasti lelah menjaga baby kita," kata Reynald membuat Jessy tersenyum lebar.


"Aku bisa menyewakan asisten untukmu sayang, jadi jangan terlalu capek mengurus rumah," kata Reynald membuat Jessy membelai rambut lebat Reynald.


"Aku senang bisa melakukan ini, biarkan aku mengurus rumah tangga ini tanpa ada campur tangan orang lain," kata Jessy membuat Reynald terharu.


Reynald mengangkat kepalanya dan menatap wajah cantik Jessy.


"Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu, jika kamu semanis ini," kata Reynald yang perlahan memiringkan wajahnya membuat Jessy memejamkan kedua matanya.


Dengan lembut Reynald mencium bibir manis istrinya.


"Udah sana sarapan," kata Jessy yang malu saat Reynald terus menatap dirinya.


Reynald tertawa melihat Jessy yang tersipu malu karena ditatap olehnya.


Reynald lalu beralih pada jagoannya.


"Hey boy, lihatlah mamamu, dia selalu menggoda papa saat pagi hari," katanya pada bayi kecil mereka.


Bugh


"Enak aja ngerayu, kamu ya yang selalu tebar pesona kalau pagi," kata Jessy membela diri.


"Oh ya? Lalu kenapa kamu memakai pakaian setipis ini, hah? Apa kamu ingin membuatkan adik buat Mike?" goda Reynald membuat pipi Jessy langsung memerah bak kepiting.


Bugh


"Dasar suami mesum," kata Jessy lalu pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat buat Reynald mandi.


《♡♡♡》


Hari ini Bara akan berangkat ke LA untuk proyek barunya setelah satu tahun ia bekerja sama dengan mereka.


Karena itu ia sedang menunggu istri cantiknya bangun dari tidurnya.


"Tidur aja kamu cantik banget sayang, apalagi bangun," gumamnya sambil membelai pipi chubby Sela yang membuatnya gemas.


Cup


Sela terusik dengan Bara yang terus mengganggunya tidur.


Ia membuka mata dengan sedikit sipit karena sinar mentari.


"Kamu kok enggak bangunin aku," kata Sela dengan suara yang selalu menjadi candu bagi Bara.


"Kenapa emang, kelihatannya kemarin kamu capek banget pulang dari rumah Jessy, jadi aku tidak tega membangunkanmu," kata Bara membuat Sela dengan pelan dan hati- hati merubah posisi menjadi miring untuk memeluk Bara.


"Kamu pagi- pagi gini mau kemana hah? Apa kamu hari ini akan ke kantor?" tanya Sela di sela pelukannya pada Bara.


"Sayang," panggil Bara membuat Sela melepaskan pelukannya.


"Hari ini aku akan pergi ke LA hanya satu hari, nanti malam aku akan pulang, jadi kamu di rumah enggak papa kan?" tanya Bara yang mencemaskan keadaan Sela.


Sela tersenyum manis ke arah Bara dan menganggukkan kepalanya.


"Kamu enggak marah aku tinggal pergi ke LA?" tanya Bara curiga pada Sela.


"Enggak ngapain marah? Lagian aku males banget buat keluar rumah," kata Sela sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Bara dengan manja.


"Beneran kamu enggak papa di rumah?" tanya Bara sekali lagi ingin memastikan.


"Iya Bara sayanggg," jawab Sela geram dengan Bara.


Bara tidak bisa menahan senyumnya saat Sela memanggilnya sayang.


Cup


Cup


Cup


Bara menyerbu wajah Sela dengan ciumannya.


"Nanti pulang dari LA kamu minta apa?" tanya Bara siapa tahu saja Sela ingin dibelikan sesuatu.


"Cukup kamu pulang dengan cepat," jawab Sela membuat jantung Bara tidak bisa berdetak normal dan bergetar hebat.


Bara memeluk Sela erat lalu mencium perut besar istrinya.


"Hey sayang, tolong jaga mamamu ya, papa mau kerja," kata Bara berpesan pada buah hatinya yang masih berada di dalam perut.


"Awasi mamamu, siapa tahu dia genit sama cowok lain," kata Bara membuat Sela mendelik sebal.

__ADS_1


Bugh


"Yang ada kamu di sana genit sama cewek lain," kata Sela ketus membuat Bara tertawa.


"Ngapain genit sama cewek lain kalau udah punya yang sempurna tanpa ada kekurangannya," kata Bara menggoda Sela.


"Sayang, kamu belum pernah mengatakan cemburu padaku saat aku bepergian kemana? Aku jadi curiga sama kamu, jangan- jangan kamu enggak cinta sama aku," Sela melebarkan matanya tak percaya dengan ucapan Bara.


"Apa kamu bilang enggak cinta? Terus 3 tahun di London nempuh S2 dan cepet- cepet pulang ke Kanada buat siapa? Rendy?" kesal Sela dengan sikap Bara yang kekanak- kanakan.


"Cemburu tuh enggak usah diungkapin, harusnya kamu sebagai suami harus peka sikap istri saat cemburu tanpa ditanya," kata Sela membuat Bara benar- benar ingin tertawa keras.


Cup


Cup


"Moodmu gampang sekali berubah- ubah sayang, jangan selalu marah- marah enggak baik buat bayi kita," kata Bara memperingati Sela.


"Lagian kamu mancing pakai tanya gitu segala," Bara tertawa pelan melihat bibir manyun istrinya.


"Iya- iya maaf," kata Bara sambil mencium kening Sela karena waktu sudah sedikit siang.


"Udah ya aku berangkat dulu, kamu harus hati- hati di rumah, kalau perlu apa- apa panggil mama atau Laura yaa, atau kalau enggak panggil bodyguard, terus jangan naik lift atau turun tangga," omel Bara yang nyerocos tanpa henti.


Sela menangkup bibir Bara dan menciumnya gemas.


"Iya sayang," kata Sela lembut dan tulus membuat Bara kembali memeluk erat Sela.


"Udah sana berangkat," kata Sela takut Bara telat jika terus- terusan berada di dalam kamar.


Bara lalu berangkat dengan hati dan langkah yang ragu untuk meninggalkan Sela.


Setelah dirasa Bara sudah pergi, Sela membuka selimutnya dan langsung melompat- lompat di king size.


"Yes- yes, ditinggal keluar kota," sorak Sela pelan agar Rose tidak mendengarnya.


"Ok sayang, hari ini kita harus jalan- jalan tanpa papamu ok, dengan begitu kita bisa bebas," kata Sela sambil mengusap perutnya yang kian semakin membesar.


"Sekarang kita harus mandi dulu," gumam Sela yang langsung pergi ke kamar mandi untuk bersiap.


Selang beberapa menit bumil cantik ini sudah siap dan rapi dengan pakaian cerahnya.


"Ok udah cantik tinggal minta izin sama mama dan papa," gumamnya saat melihat pantulan cermin di depannya.


Ceklek


Pas sekali mereka semua akan memulai sarapan.


"Sela," panggil Laura saat melihat Sela keluar kamar.


"Sayang ayo sini sarapan," ajak Rose yang menghampiri Sela untuk mengajaknya ke meja makan.


Mereka lalu sarapan dengan suasana yang sangat indah di pagi hari.


Selesai sarapan Sela memulai aksinya dengan bergelayut manja di lengan Rose.


"Ada apa sayang? Apa kamu bosan?" Sela langsung mengangguk manja.


"Maaa boleh enggak, Sela ngunjungi perusahaan Bara?" Rose langsung menggelengkan kepalanya.


"Enggak sayang, enggak boleh. Nanti kalau kamu kenapa- napa gimana? Lagian Bara ada di LA sayang, siapa nanti yang jagain kamu," kata Rose membuat Sela mulai memanyunkan bibirnya.


"Enggak mau," tolak tegas Sela membuat semua orang bingung dan panik.


"Sayang, kamu kan enggak boleh naik helikopter sama Bara," kata Bradsiton yang ikut mencegah agar menantu kesayangannya tidak pergi.


"Pa ma pliss boleh ya cuma sekali ini aja ya, nanti Sela di sana enggak ngapa- ngapain kok cuma lihat- lihat doang, boleh ya pa ma?" kata Sela memaksa Rose dan Bradsiton agar setuju dengan wajah andalannya.


Rose dan Bradsiton atau siapapun enggak bakal tahan liat wajah gemas dan cantik Sela seperti ini.


"Hah, tapi dengan satu syarat," kata Rose membuat Sela tersenyum lebar dan memeluk erat Rose.


"Rendy dan Reno tolong jaga kakak ipar kalian ya, papa sama mama di rumah jaga istri kalian, nanti mama juga akan suruh beberapa bodyguard buat ngawal kalian," kata Rose membuat Rendy dan Reno bertatapan.


"Iya ma," kata mereka berdua kompak yang terdengar begitu pasrah dan putus asa.


"Makasih banyak mamaku sayang," kata Sela yang memeluk Rose erat dan menciumi seluruh wajahnya.


Dengan cepat Sela langsung berangkat di antar Rendy dan Reno juga beberapa pengawal suruhan Rose untuk mengantar Sela ke perusahaan Bara, ATF Fashion.


Rose dan Bradsiton sedikit cemas membiarkan menantu mereka pergi tanpa pengawasan ketat.


Ya meski ada Rendy dan Reno, tapi Rose tetap saja khawatir.


Kringgg kringgg


Rose melihat nama Bara tertera di layar ponselnya, ia dan Bradsiton saling bertatapan.


"Halo," kata Rose dengan sedikit gugup takut Bara akan marah.


"Ma Sela mana?" tanya Bara yang langsung menanyakan keberadaan istrinya saat baru beberapa jam ia di LA.


"Hmm gini," kata Rose sambil menghembuskan napas agar lancar berbicara.


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan Sela?" berondong Bara menanyai mamanya.


"Bukan begitu, tadi pagi Sela merengek ingin pergi ke perusahaanmu untuk sekedar mengunjungi," kata Rose langsung membuat Bara yang berada di seberang sana melonggarkan dasinya.


"Terus? Mama izinin?"


"Tadinya mama melarangnya dan membujuknya,"


Tit tit tit


Panggilan berakhir tanpa mendengarkan penjelasan dari Rose.


"Pa gimana ini?" tanya Rose pada suaminya.


"Udah ma tenang aja, mama yang buat salah kita tanggung berdua," kata Bradsiton lalu pergi.


Rose hanya mengangguk pasrah.


"Tunggu apa dia bilang? Ohh jadi dia salahin aku, awas aja kamu," gerutu Rose kesal saat Bradsiton menyindir dirinya.


Sedangkan di LA Bara mondar- mandir cemas memikirkan Sela.


"Astaga, bagaimana bisa mama membiarkan dia naik helikopter," kesal Bara lalu langsung menghubungi resepsionis kantor.


"Halo tuan," sapa resepsionis di seberang telepon.

__ADS_1


"Halo apa istri saya sudah datang?"


"Maaf tuan, nyonya tidak ada kemari,"


"30 menit lagi istri saya akan datang ke kantor, saya minta tolong beri tahu semua staf dan karyawan di kantor untuk menjaga istri saya saat berada di kantor,"


"Baik tuan akan saya umumkan pada seluruh staf juga karyawan,"


"Ohh ya jangan lupa untuk selalu mendampingi istri saya saat naik lift jangan biarkan dia naik tangga, kamu mengerti?"


"Baik tuan akan saya pastikan semua staf akan menjaga nyonya selama berada di kantor,"


"Baik terima kasih, sekitar 2 jam mungkin saya sudah selesai rapat, jadi akan saya hubungi lagi kamu nanti,"


"Baik tuan,"


Panggilan berakhir, Bara menghembuskan napasnya lega.


"Semoga saja dia tidak membuat mereka lelah," gumamnya pelan sembari menatap foto Sela yang ia jadikan wallaper.


"Permisi tuan, apa kita bisa melanjutkan rapatnya?" tanya Sam pada Bara.


"Ya," Bara dan Sam kembali masuk ke dalam ruangan untuk melanjutkan rapatnya.


○●●○


Sela sudah sampai di kantor Bara dan terlihat semua satpam staf juga karyawan berbaris untuk menyambut kedatangan Sela.


"Ayo Sel masuk," kata Rendy saat melihat Sela hanya diam di tempatnya.


"Ren apa kamu kasih tahu mereka kalau kita akan kesini?" tanya Sela pada Rendy.


"Enggak," jawab Rendy tak mengerti.


"Siapa lagi kalau bukan Bara yang kasih tahu," kata Reno yang tahu betul sikap posesif juga protektif Bara selama Sela hamil.


Salah satu staf mendatangi Sela.


"Mari nyonya silahkan masuk," kata resepsionis yang tadi ditelpon oleh Bara.


Semua staf juga karyawan langsung menunduk saat Sela masuk ke dalam perusahaan.


"Ya tuhan gini amat nasib gue," gumam Reno pelan yang bisa di dengar oleh Rendy.


"Laura aja gue suruh di rumah ehh malah suruh jagain bumil satu ini," kata Rendy membuat Reno menahan tawanya.


Sela berjalan di lobi dan melihat seorang OB sedang membersihkan lantai agar terus terlihat bersih.


"Pak," panggil Sela membuat Rendy dan Reno yang berjalan di belakangnya berhenti begitu juga pengawal lainnya.


"Iya nyonya, apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya OB itu dengan sangat sopan.


"Apa menjadi OB itu menyenangkan?" tanya Sela membuat Rendy dan Reno melebarkan kedua matanya.


Rendy dan Reno yang berada di belakang Sela memberikan kode pada OB itu dengan menggelengkan kepalanya.


"Hmm ya gitulah nyonya namanya juga kerja," jawab OB itu membuat Sela menganggukkan kepalanya.


"Pak boleh enggak kalau saya nyoba jadi OB bentar aja?" seketika semua orang dibelakang Sela melebarkan kedua matanya.


OB itu menatap Rendy dan Reno yang menggelengkan kepalanya lalu melihat pengawal yang melambaikan tangannya memberi kode untuk menolak permintaan Sela.


"Maaf nyonya pekerjaan OB sangat berat, anda juga lagi hamil," tolak halus OB itu dengan sangat sopan.


"Nyonya bagaimana jika kita ke cafetaria untuk makan siang?" tawar resepsionis itu untuk mengalihkan perhatian Sela.


"Di sana ada menu baru untuk saat ini nyonya," kata resepsionis itu membuat Sela tersenyum sumringah.


"Benarkah? Ayo ke sana," resepsionis itu langsung mengantar Sela untuk naik lift.


"Wiuhhhh," Rendy dan Reno juga pengawal bernapas lega saat Sela dengan mudah dialihkan.


"Untung enggak jadi main OB- OB an," gumam Rendy yang langsung mengejar Sela yang naik lift.


Ting


Mereka sudah sampai di lantai 15 tepatnya di cafetaria kantor.


"Nyonya ingin pesan apa? Akan saya pesankan?" kata resepsionis itu melayani Sela dengan sangat baik.


"Tunggu," kata Sela membuat semua pengawal juga Rendy dan Reno mendadak berhenti.


Rendy yang melihat ekspresi Sela yang diam saja langsung mengikuti tatapan Sela.


Barista.


"Jangan bilang kalau habis ini dia mau jadi barista," gumam Rendy membuat Reno menganga saat Sela menatap bartender itu.


"Apa boleh aku mencoba membuatkan kalian kopi?" tanya Sela membuat resepsionis itu terkejut.


"Hekmm Sela, gimana kalau kita langsung makan siang aja," kata Rendy yang memotong pembicaraan Sela.


"Enggak mau aku mau jadi barista bentar aja yaa," kata Sela memohon agar Rendy mengizinkannya.


"Jangan Sel entar kalau ada apa- apa gimana?" kata Reno yang juga ikut melarang.


"Paket," semua menoleh saat ada kurir datang dengan membawakan paket.


"Ohh maaf ini paket yang saya pesan," kata resepsionis itu yang langsung mengambil paketnya dan lalu tanda tangan.


"Makasih nona," kurir itu pergi namun terhenti saat Sela memanggilnya kembali.


"Pak boleh enggak saya jadi ojek bentar aja?" tanya Sela membuat Rendy dan Reno melongo.


Semua pengawal memberi kode dengan melambaikan tangan pada kurir itu untuk menolaknya.


"Maaf nona jadi kurir itu sangat berbahaya, apalagi anda sedang hamil," kata kurir itu menolak permintaan Sela.


"Ihhh apa- apa enggak boleh, terus suruh ngapain," kesal Sela saat ia terus dilarang sejak tadi.


"Nyonya bagaimana jika kita main ke dufan?"


Deg


Rendy dan Reno langsung terduduk di lantai membuat semua orang terkejut.


"Tuan anda baik- baik saja?" tanya salah satu pengawal itu.


"Kenapa lo tawarin yang enggak gue ucapin dari tadi," kata Rendy yang merasa sangat- sangat putus asa dan ketakutan.

__ADS_1


"Ayo kita ke sana," kata Sela dengan semangat 45 tanpa rasa ragu sedikitpun membuat Rendy dan Reno seketika langsung pingsan.


__ADS_2