
○○○
Reynald tidak henti- hentinya tersenyum menatap ponselnya.
Akhirnya dia bisa tukar kontak dengan Sela.
Duh senangnya luar dalem.
Reynald berpikir, kira- kira apa nama kontak yang cocok untuk Sela.
Reynald tersenyum senang saat nama yang cocok terlintas di pikirannya.
Calon Istri
Reynald tersenyum lalu berguling- guling di king size.
"Kalau aja Bara tahu pasti tu anak bakal marah- marah," gumam Reynald sambil membayangkan wajah kesal Bara jika saja tahu kalau mereka sudah bertukar nomor.
"Gue kirim pesan apaan ya?" pikir Reynald sambil berpikir kira- kira pesan apa yang pantas buat dikirimkan ke Sela.
"Eh tapi masak gue duluan sih yang kirim pesan,"
"Ok gue jual mahal lah sama Sela, gue tunggu sampai dia dulu yang kirim pesan," kata Reynald lalu beralih ke apk game mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan ke Sela.
Beberapa menit Reynald merasa bosan karena tidak ada notif sama sekali yang masuk.
"Kok dia enggak kirim pesan sih ke gue," gerutu Reynald yang sudah menunggu sejak tadi.
"Ah kelamaan deh nunggu Sela, biar gue ajalah yang kirim pesan duluan," kata Reynald yang sudah tidak sabar menunggu notif dari Sela.
"Kira- kira apa ya?" pikir Reynald keras, dia emang gitu gengsi banget.
Reynald mengetikkan sesuatu di keyboardnya lalu mengirimkan pesannya pada Sela.
Sela sudah membukanya, tapi seketika wajah Reynald kesal.
"Lah gimana sih, udah dibaca kok tiba- tiba diblok aja sama Sela," marah Reynald sambil melemparkan ponselnya ke king size.
Reynald berjalan mondar- mandir sambil berkacak pinggang dan menatap ponselnya.
"Atau jangan- jangan ketahuan lagi sama Bara, terus bukan Bara yang blok, tapi Bara," tebak Reynald.
"Oh awas aja ya lo, rasain aja pembalasan gue besok," ancam Reynald pada Bara lalu kembali menatap ponselnya.
□□□
Gabriela membuka pintu depan dengan sangat perlahan- lahan.
Takut jika ayahnya akan terbangun karenanya.
Gabriela berjalan menuju kamar ayahnya.
Masih tidur.
Gabriela bernapas lega, dia akan membersihkan diri dan menyiapkan makanan untuk ayahnya.
Eh tapi tunggu, Gabriela berjalan mundur dan kembali melihat kamar ayahnya.
Ada banyan bungkus makanan dan juga obat- obatan.
Dari mana memangnya.
Gabriela mengabaikan hal itu, dia bergegas untuk mandi karena bau alkohol di badannya.
Dua hari ini dia tidak pulang ke rumah melainkan tinggal di hotel.
Ada rasa menyesal dalam dirinya, selain menghabiskan uang dia juga menyulitkan dirinya.
Gabriela hanya butuh pelampiasan atas sikap Sela dan Bara padanya.
Sampai kapan pun Gabriela akan mengingatnya.
Percayalah.
Gabriela selesai mandi, buru- buru dia pergi ke dapur untuk memasak.
Selesai masak Gabriela tidak langsung ke kamar ayahnya melainkan kembali ke kamar.
Mengambil ponselnya lalu kembali lagi ke dapur.
Gabriela mendial nomor seseorang yang kini sangat tepat untuk bisa melampiaskan kekesalannya pada Sela.
"Halo,"
"......."
"Saya butuh bantuan tuan,"
"......"
"Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu anda?"
"......"
"Baiklah besok saya akan lakukan tugas yang anda berikan,"
"......."
"Tapi tuan harus ingat untuk membantu saya menghancurkan Sela,"
"......."
"Baik sampai jumpa besok," kata Gabriela lalu menutup telponnya.
"Lihat aja Sela, sampai mana lo akan bertahan di samping Bara," gumam Gabriela dengan senyum smirknya.
Gabriela membawa nampan ke kamar ayahnya.
Gabriela menatap makanan mewah begitu banyak di atas nakas.
Siapa yang membeli ini semua?
Ada banyak juga obat- obatan dan makanan kering.
__ADS_1
Gabriela membangunkan ayahnya pelan untuk sarapan pagi.
"Nak, kamu sudah pulang," kata ayahnya ketika membuka matanya.
"Udah yah," jawab Gabriela dengan senyum merekah lalu duduk di tepi king size dan mengambil semangkok bubur.
"Ayah sarapan dulu ya habis itu minum obat," kata Gabriela menyuapi ayahnya.
"Nak dua hari ini kamu tidak pulang, kamu hanya mengirimkan makanan untuk ayah, apa kamu ada masalah dengan pekerjaan?" tanya ayahnya membuat Gabriela sedikit bingung untuk menjawab.
"Emm Gabriela menginap di rumah temen yah, karena belakangan ini restoran sangat ramai sekali dengan pelanggan," bohong Gabriela pada ayahnya.
"Nak tidak usah mengirimkan begitu banyak makanan, uangnya kamu tabung aja buat kuliah tahun depan," kata ayahnya merasa kasihan pada putri kesayangannya.
"Enggak papa yah, Gabriela bisa kok kuliah tahun depan," kata Gabriela sambil berpikir kira- kira siapa yang mengirimkan begitu banyak makanan dan obat- obatan pada ayahnya.
"Nak sudah lama ayah tidak pernah bertemu Sela, kemana dia pergi? Apa ibunya sudah sembuh?" tanya ayahnya seketika emosi Gabriela menguap.
Pranggggggg
Gabriela membanting mangkok yang berisi bubur di lantai.
"Ayah bisa enggak sih jangan tanyakan Sela?"
"Apa ayah menyayanginya? Hah?" bentak Gabriela pada ayahnya.
Ayahnya sangat terkejut dengan sikap Gabriela yang tiba- tiba berubah menjadi sangat emosional.
"Nak, tenangkan pikiranmu, apa kalian berdua ada masalah?" tanya ayahnya pelan dan baik- baik.
Gabriela menghembuskan napasnya dan menghirup udara dengan pelan.
"Maaf yah Gabriela akhir- akhir ini capek jadi Gabriela cepat sekali marah," kata Gabriela sambil memunguti pecahan mangkok yang berserakan di lantai.
"Hati- hati nak," kata ayahnya yang hanya diangguki oleh Gabriela.
Setelah selesai membersihkan pecahan mangkok di lantai Gabriela pamit kembali ke kamarnya.
Gabriela duduk di lantai dan menundukkan kepalanya di atas lututnya.
Tes
Air matanya turun begitu saja tanpa permisi.
Spontan kenangan masa remajanya mulai terputar di otaknya.
Sela yang sangat senang karena mendapat perhatian ayahnya sedangkan Gabriela bahagia bisa merasakan pelukan dari ibunya.
Mereka satu sama lain seperti saudara yang terpisahkan.
Dan mereka berdua seakan cocok jika menjadi adik kakak.
Tapi sikap Gabriela yang berbanding balik dengan Sela, membuat perbedaan yang kuat di antara mereka berdua.
Sela yang selalu beruntung dan Gabriela yang selalu buntung.
Seperti itulah kehidupan keduanya saat mereka berdua disandingkan.
Ternyata tidak, yang Gabriela kira sebuah kebetulan ternyata sampai detik ini juga Sela selalu lebih beruntung darinya.
Ya salah satunya bisa mendapatkan Aldebaran Bradsiton Arganta.
♡♡♡
Bara menarik tangan Sela pelan untuk kembali ke ruangannya.
Sela sebenarnya tidak ingin menjadi pusat perhatian mereka semua.
Tapi apalah dayanya, kekuatan Bara menggenggam rasanya seperti sedang menggenggam anak TK yang takut hilang.
Kuat dan erat sekali.
Bara membuka ruangannya, syukurlah dia tadi sudah mengusir Laura.
Kalau enggak, singa betina di belakangnya ini, bisa melahapnya habis- habisan.
Bara mengajak Sela duduk di sofa untuk makan siang yang tertunda karena Laura juga Reynald.
"Apa ini Laura yang masak?" tanya Sela sambil menatap lapar makanan di depannya.
"Kalau ini Laura masak, apa kamu mau makan?" tanya Bara memancing agar Sela cemburu padanya.
"Tentu saya sangat lapar sekali," kata Sela langsung mengambil piring yang sudah tersedia di meja.
Bara tertawa kecil melihat Sela yang terlihat lapar.
Bara menatap jam dinding, pukul 17.00 masih ada satu jam bersama Sela.
Nanti pukul 6 dia akan mengadakan briefing untuk menyambut kedatangan Clay besok pagi.
Dan juga untuk mempersiapkan busana yang sudah jadi.
"Ini mama yang masak," kata Bara membuat Sela terkejut.
"Uhuk uhuk uhuk," Bara langsung menuangkan air lalu memberikannya pada Sela.
Bara menepuk pelan tengkuk Sela agar batuknya berhenti.
"Kenapa anda baru bilang," kesal Sela membuat Bara mengangkat sebelah alisnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Bara.
"Tahu gitu kan saya tidak akan memakannya tadi," gumam Sela lirih sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
"Memang kenapa mama masak buat kita berdua," deg hati Sela seakan berhenti mendengar perkataan Bara.
"Masak iya cuma masak buat anaknya doang menantunya enggak," goda Bara sambil menuangkan nasi ke piringnya.
Bugh
"Kenapa? Apa saya salah bicara?" tanya Bara pura- pura tidak tahu.
Sela tidak lagi melanjutkan makannya, dia malah makan roti yang tadi dia beli.
__ADS_1
"Apa roti dari Reynald lebih enak dibandingkan masakan mama?" tanya Bara membuat alis Sela menyatu.
"Maksud tuan?" tanya Sela dengan mulut yang kini dipenuhi roti panggang.
"Apa kamu mencoba menggoda saya dengan roti di mulutmu?" tanya Bara membuat Sela mengernyit bingung.
Bara mendekat pada Sela dan menatap bibir Sela yang masih ada sisa roti.
Sela yang peka akan sikap Bara langsung bertindak.
"Nih makan tuh roti," kata Sela sambil menyumpal mulut Bara dengan roti panggang lalu beralih melanjutkan makannya tadi.
Bara menelan roti yang Sela suapi sambil menahan senyumnya.
"Oh ya malam ini kemungkinan kita tidak akan pulang lagi dan menginap di kantor, jadi selesai makan pergilah ke kamar, saya akan mengadakan beberapa briefing untuk besok," kata Bara memberi tahu Sela.
"Tidak saya akan tidur dengan kak Dea aja lebih aman," kata Sela membuat Bara berhenti mengunyah.
"Saya akan tidur di sofa ini, kamu di dalam kamar, tidak perlu ke Dea," ketus Bara marah saat Sela berniat untuk tidur dengan Dea.
Padahal di mana- mana enakan juga di kamar Bara Sela sayang.
Di ruangan Dea mah banyak banget potongan kain, masak iya kamu mau tidur sama tumpukkan kain itu.
"Tuan bagaimana jika saya pulang ke rumah saja, suruh Rendy jemput?" tawar Sela, Bara langsung menatap intens mata Sela.
"Enggak," jawab Bara penuh dengan penekanan.
Sela merasa tidak nyaman jika tidur di kamar Bara, masak iya yang punya kamar di suruh tidur di sofa.
Tapi kan ya enggak mungkin kalau mereka tidur sekamar.
Mereka selesai makan dan Sela sudah membereskan bekas mereka makan.
"Tidurlah di kamar, saya akan rapat sebentar," pamit Bara pada Sela.
Sela hanya mengangguk lalu Bara mengambil laptopnya membawanya untuk rapat.
Sela menyandarkan punggungnya di sofa.
Apa yang bisa dia lakukan, ponselnya dibawa Bara hanya ada laptop pribadi Bara.
Sela bosan hampir semua drama korea sudah dia tonton, sekarang dia hanya duduk diam di sofa.
Andai aja ada Rendy sama Reno pasti mereka bakal hibur Sela atau mengajaknya keliling.
Sayangnya mereka kabur dari rumah menghindari hukuman dan juga belum kembali sampai sekarang.
Sekitar 2 jam lebih Sela menatap Bara bolak- balik keluar masuk dari ruangannya sambil membawa beberapa berkas.
Sela menatap kasihan Bara, apa dia tidak capek, Sela aja yang cuma lihat dia mondar- mandir sejak tadi sampai merasa ngantuk.
Sela menatap jam dinding, mata Sela seketika melebar dan melotot melihat jam dinding.
Pukul 10 malam.
Ya tuhan perusahaan ini benar- benar gila kerja.
Bosnya aja jam segini masih kerja lalu apa kabar sama karyawannya.
Sela berjalan menuju kamar, matanya sudah tidak kuat lagi dia benar- benar mengantuk.
Mungkin sekitar 3 jam Sela tidur namun karena ac nya terlalu dingin membuatnya terbangun.
Kamarnya tertutup rapat, perasaan Sela tadi, dia tidak menutupnya rapat.
Sela berjalan dan membuka pintu dengan perlahan terlihat Bara sedang tertidur di sofa dengan tidak nyaman.
Sela mengambil selimut di dalam kamar lalu membawanya keluar untuk menutupi tubuh Bara.
Sela mengatur penghangat ruangan lalu membantu Bara untuk berbaring yang nyaman.
Tapi saat kulitnya dengan kulit Bara bersentuhan terasa sangat panas sekali.
Sela kembali memeriksa kening Bara, ternyata dia demam.
Sela buru- buru menuju kamar untuk mengambil air dan mengompres Bara.
"Bukan, aku bukan pembunuh,"
"Bukan bukan,"
"Tolong bukan aku yang membunuhnya tolong,"
Bara terus mengigau seperti itu sejak tadi.
Sela bingung dia harus bagaimana, sepertinya Bara sedang mimpi buruk.
Keringat mengucur di pelipis Bara, Sela mengelapnya pelan.
Bara lalu memegang erat tangan Sela dan racuannya seketika berhenti.
Bara tertidur dengan nyenyak dan tenang dengan posisi tangannya memegang erat tangan Sela.
Sela hanya bisa pasrah dan menemani Bara yang sedang demam.
Sela menatap sekilas wajah Bara, dia bagaikan malaikat tak bersayap juga pahlawan bagi Sela.
Tidak terasa Sela menemani Bara sudah sangat lama.
Sela menatap jam dinding, pukul 1 dini hari.
Sela melepaskan pelan tangan Bara lalu menutup tubuhnya dengan selimut hingga ke leher.
Sela keluar dari ruangan Bara berniat untuk melihat ruangan Dea.
Sela melihat seseorang berbaju serba hitam baru saja keluar dari lift.
Apa dia seorang karyawan di sini?
Lalu kenapa dia berpakaian serba hitam?
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1