
□■□■
"Sialan brengsek," umpat Reynald sembari membuang semua benda yang ada di atas meja.
"Bisa- bisanya dia bawa pergi Sela," katanya sambil melonggarkan dasi.
"Tenangkan dirimu, kini kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan," kata Walles yang hanya duduk santai sembari menatap Reynald yang begitu emosi.
"Apa lo enggak liat, betapa malunya gue saat dihajar di depan orang banyak?" tanya Reynald dengan sangat keras.
Ingin sekali rasanya Walles memukul wajah marah Reynald.
Bisa- bisanya dia begitu kurang ajar dengannya.
Andai saja Walles tidak membutuhkan pelindung seperti Reynald mungkin dia sudah menendangnya jauh hari.
"Sekarang tenangkan dirimu, dan lihat kita sudah mendapatkan apa yang kita mau," kata Walles sambil memainkan flashdisk di tangannya.
"Apa Laura telah menyalinnya?" tanya Reynald sangat antusias dan mendekati Walles.
"Putri siapa dulu," kata Walles berbangga hati saat rencananya berhasil.
"Apa kita akan kaya?" tanya Reynald sambil tersenyum lebar pada Walles.
"Entah mungkin kita akan mandi uang," tawa keduanya meledak karena rencana kali ini berhasil.
"Tunggu, tapi bagaimana bisa Laura mendapatkan ini semudah itu?" tanya Reynald yang penasaran akan cara Laura mendapatkan hal sebesar ini.
"Putriku sudah ahli dalam hal ini dan tak jauh beda dari ayahnya," kata Walles menyombongkan dirinya.
"Terserahmu yang penting kita sekarang bisa menguasai salah satu cabang perusahaan milik keluarga Bradsiton," kata Walles sambil menatap intens flashdisk di tangannya.
"Tapi kamu ingat, Sela harus bersama pihak kita," kata Walles memperingatkan Reynald.
"Tentu saja, aku akan lakukan apapun untuk bisa membawa Sela ke dalam genggaman kita," kata Reynald sambil menatap ke depan.
"Kamu benar, dengan Sela berada di pihak kita disitulah letak kelemahan Bara," kata Walles sambil menatap Reynald.
♡♡♡♡
Bara menghentikan mobilnya di parkiran apartemen miliknya. Lalu turun memutari mobil.
"Tuan apa yang anda lakukan?" tanya Sela sambil terus memberontak saat Bara menariknya keluar.
"Tuan sakit, lepasin," kata Sela saat Bara menariknya keluar dari mobil.
Tanpa pikir panjang Bara membopong Sela ala bridal style masuk ke dalam apartemen.
Sela terus memukul dada bidang Bara agar Bara mau melepaskannya.
"Tuan apa ini tidak bisa dibicarakan baik- baik?" tanya Sela sambil memberanikan diri menatap wajah Bara yang begitu memerah.
Ceklek
Bara membuka pintu apartemen lalu menguncinya.
"Tuan lepasin saya, apa yang akan anda lakukan?" tanya Sela dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Bara mencoba untuk tidak memperdulikan ucapan Sela, dia melepaskan ikatan pada tangan Sela.
"Tuan saya mohon lepasin saya," kata Sela memohon pada Bara namun tidak digubris olehnya.
"Tuan," teriak Sela saat Bara membopongnya layaknya karung beras menuju kamar mandi.
Bara menurunkan Sela tepat di bawah shower dan
Klik
Air dalam shower mengguyur keduanya membuat Sela terkejut.
"Tuan apa yang anda lakukan?" teriak Sela karena air shower yang terus mengguyurnya.
"Siapa yang suruh kamu memakai pakaian ini, hah?" tanya Bara dengan sangat keras sembari menggosok bekas tangan Reynald yang tadi memegang punggung atas Sela yang terekpos.
"Apa pedulinya tuan?" teriak Sela di bawah guyuran sower.
"Kamu ingin tahu apa peduliku?" tanya balik Bara sembari memegang kedua bahu Sela.
"Aku tidak suka saat milikku disentuh orang lain," kata Bara dengan menatap Sela tajam.
"Begitupun aku, aku juga tidak suka saat melihat tuan bersama wanita lain," kata Sela membuat Bara berhenti menggosok lengan Sela dan menatapnya.
Terlihat Sela sudah menggigil kedinginan dan bibirnya yang sudah membiru.
Bara meraih tengkuk Sela dan menciumnya paksa dan sangat bruntal.
Dengan sekuat tenaga Sela mendorong Bara hingga mundur ke belakang.
Plak
"Anda sangat keterlaluan," teriak Sela sambil menampar pipi Bara sangat keras.
Sela teringsut di lantai lalu meringkuk di bawah guyuran sower.
Suara tangisnya tersamarkan oleh guyuran sower.
Bara menatap Sela sendu, apa yang baru saja ia lakukan pada gadisnya.
Bara berjongkok di depan Sela dan menempelkan kepalanya dengan kepala Sela.
"Maafin aku," gumam lirih Bara sembari mematikan guyuran showernya.
Sela masih terisak dengan tangisnya dan meringkuk dengan memeluk erat lututnya.
"Keluar," gumam pelan Sela membuat Bara mengangkat kepalanya untuk memastikan pendengarannya.
"Sela aku...,"
"Aku bilang keluarrr," teriak Sela dengan sangat keras membuat Bara tidak percaya jika ini adalah Sela.
Bara masih menatap Sela yang menunduk tanpa mengangkat kepalanya.
Dengan berat hati Bara keluar dari kamar mandi membiarkan gadisnya sendiri.
Sela mengusap air matanya dan berdiri untuk mengunci kamar mandinya.
Sela kembali teringsut di lantai dan menangis sekeras mungkin karena kamar mandi ini kedap suara.
Setelah lelah menangis Sela melanjutkan untuk mandi dengan air hangat.
Saat melepas gaunnya Sela melihat banyak bercak darah.
Dari mana asal darah ini?
Apa Bara terluka?
Sela kembali melanjutkan mandinya setelah selesai ia memakai jubah mandi dan keluar dari kamar mandi.
Ia terkejut saat melihat Bara masih duduk termenung di tepi king size dengan baju yang masih basah.
__ADS_1
Dengan memberanikan diri Sela berjalan menuju walk in closet untuk meminjam baju Bara yang ada.
Karena kebanyakan hanya ada kemeja dan jas Bara, membuat Sela harus memakai kemeja Bara yang kebesaran.
Sela menatap dirinya di pantulan cermin, salahkah dia memakai baju ini.
Sela keluar dari walk in closet membuat Bara menoleh dan menatapnya.
Kedua mata mereka bertemu satu sama lain, tapi dengan cepat Sela memutuskan kontak mata dengan Bara.
"Aku akan membelikanmu baju baru," kata Bara yang beranjak berdiri namun kembali duduk saat Sela menghentikannya.
"Tidak perlu," kata Sela membuat Bara menatapnya.
Sela berdiri di depan Bara dan menyampirkan handuk tebal di kepalanya untuk mengeringkan rambut Bara yang basah kuyup.
Bara tersenyum senang saat melihat Sela masih perhatian dengannya.
Tanpa ragu dan rasa takut Bara dengan santainya memeluk perut Sela.
Dia tidak boleh menyia- nyiakan kesempatan ini.
"Lepaskan atau aku akan menendangmu," kata Sela ketus membuat Bara tersenyum di pelukannya.
Inilah gadis yang 3 tahun ini ia rindukan dan ia dambakan kedatangannya.
Bara semakin mengeratkan pelukannya membuat Sela sedikit susah untuk mengeringkan rambutnya.
"Sudah selesai, sekarang gantilah baju," suruh Sela membuat Bara mendongak ke atas menatap wajah cantik pujaannya.
"Baik sayang," kata Bara yang bergegas langsung pergi ke walk in closet untuk berganti pakaian.
Sedangkan Sela mengambil kotak P3K dan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
Sela teringat sesuatu, lalu ia pergi ke dapur utama untuk membuat air madu.
"Sayang," teriak Bara dari kamar itu tandanya Bara sudah selesai berganti baju.
Sela membawa air hangat yang ia campur dengan madu itu ke kamar.
"Kukira kamu meninggalkanku lagi," kata Bara sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Sela namun dengan cepat Sela menyodorkan air madu itu.
"Minumlah," kata Sela membuat Bara mengurungkan niatnya untuk memeluk Sela dan meraih air madu yang dibuatkan oleh Sela.
"Duduklah," kata Sela dan langsung dituruti oleh Bara.
Percayalah saat ini Sela ingin keluar dari kamar dan tertawa sangat keras.
Bara seketika jadi sepenurut ini padanya, padahal Bara yang ia kenal sangatlah keras kepala.
Sela lalu mengeringkan rambut Bara sembari menunggu Bara menghabiskan air madunya.
"Kenapa kamu membuatkanku air madu?" tanya Bara sambil menahan bibirnya agar tidak tersenyum lebar.
Sela tidak menjawab dia hanya fokus mengeringkan rambut Bara.
"Bukankah kamu tadi juga meminum wine? Kenapa hanya aku yang minum air madu?" tanya Bara yang kini berubah jadi sangat bawel.
"Gelasnya aja nempel belum udah main tarik aja," ketus Sela membuat Bara tertawa renyah dan reflek mencium perut Sela yang membuatnya terkejut.
Bugh
"Enggak usah nglunjak," kata Sela sambil memukul bahu Bara keras.
"Udah," kata Sela sembari melepaskan pelukan Bara di perutnya tapi dengan jahilnya Bara menarik Sela hingga jarak mereka sangat dekat.
"Apaan sih, lepasin enggak," ketus Sela sembari memukuli bahu Bara.
"3 tahun enggak ketemu, udah jadi wanita dewasa aja tapi sikap juteknya masih ada sama kamu," kata Bara sambil menahan tawanya.
Sela mendelik kesal lalu mendorong Bara yang memeluk pinggangnya.
Bara tertawa renyah melihat sikap manis Sela meski dengan muka juteknya.
Sela kembali, lalu duduk di samping Bara sambil membuka kotak P3K.
Sela meraih tangan kekar Bara, dia begitu ngeri saat melihat tangan Bara robek begitu lebar.
"Aku tidak bisa mengobatinya, akan aku panggilkan dokter," kata Sela yang hendak beranjak pergi namun ditahan oleh Bara.
"Aku tidak butuh dokter," kata Bara membuat keduanya saling menatap.
"Tapi kamu," lanjut Bara membuat Sela mendengus sebal.
Mau tidak mau Sela mengobati luka Bara dengan sangat telaten.
Bara tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Sela.
Setan apa yang kemarin merasuki Bara, sampai- sampai dia bisa melukai hati gadisnya.
Bahkan menurut Bara, mungkin tidak akan ada perempuan yang mau dengannya setelah tahu disakiti seperti itu.
Cup
Sela melototkan matanya saat Bara mencium pipinya.
"Udah," kata Sela sembari menutup kotak P3K nya dan hendak turun dari king sizenya.
"Ahh," teriak Sela terkejut saat Bara menariknya untuk berbaring di king size.
Sela memukuli dada bidang Bara yang kini sedang memeluknya erat.
"Lepasin enggak?" ketus Sela yang membuat Bara semakin tertawa.
"Bagaimana jika sekarang kita buat...,"
Bugh
Sela memukul keras bahu Bara lalu beralih dengan membelakangi Bara.
"Ya tuhan belum jadi suaminya aja tiap hari udah ngerasain kdrt," gumam pelan Bara sambil memeluk erat Sela dari belakang.
Sela tidak menggubris ucapan Bara.
"Sayang, maukah kamu menjelaskan semuanya?" tanya Bara berbisik pelan tapi tidak ada respon dari Sela.
Bara lalu melihat Sela ternyata dia sudah terlelap terlebih dahulu.
Bara tersenyum melihat wajah cantik Sela yang tertidur pulas.
Kemudian Bara mengatur suhu ruangan menjadi hangat lalu menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Sela.
Bara menyelusupkan tangannya di leher Sela dan memeluk erat Sela dari belakang.
Dia benar- benar merindukan sosok ini selama 3 tahun ini.
Bara menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sela dan menghirup aroma yang ada pada Sela.
Sangat candu untuk Bara.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Rendy dan Reno sedang berada di negara Italia.
Mau tahu ngapain mereka ke sana?
Satu, karena Rendy sedang melarikan diri dari Laura, dia tidak mau terjebak untuk yang kedua kalinya.
Kedua, dia ingin menghabiskan waktu bersama Reno setelah seminggu tidak bertemu karena pekerjaan masing- masing.
Ketiga, jelas dia mau membantu Bara untuk menghabiskan uangnya.
Keduanya sedang berada di jalanan untuk mencari jajanan.
"Ren gue udah kenyang gue enggak kuat jalan lagi," keluh Reno sambil mengusap- usap perutnya.
"Tapi kita belum beli semua jajanan di sini," kata Rendy santai sambil memakan jajanannya.
"Lo kalau mau bunuh gue enggak gini juga bego," kata Reno kesal dengan Rendy yang seenaknya sendiri.
"Gue bukan mau bunuh lo," kata Rendy sambil menatap Reno.
"Terus?"
"Ngeracuni lo pelan- pelan," jawab Rendy membuat Reno menendang kaki Rendy.
"Cewek di sini semua cantik- cantik ya," kata Rendy memuji wanita yang sedang lalu lalang.
"Cantikan juga bini gue," kata Reno tidak mau kalah.
"Siapa?" tanya Rendy penasaran.
"Sela lah siapa lagi," jawab Reno dengan santainya membuat Rendy memukul punggung Reno dengan keras.
"Lo bilang sekali lagi, gue tendang lo sampek balik ke rumah," kata Rendy kesal jika itu menyangkut soal Sela.
"Yaudah ayo kita mau ke mana lagi ini?" tanya Reno sambil melihat sekitar.
"Gimana kalau kita nonton bioskop aja?" tanya Rendy pada Reno dengan sangat semangat.
"Iyadeh terserah," kata Reno yang hanya bisa pasrah dan ikut saja pada Rendy.
Keduanya langsung menuju mal besar di Italia untuk menonton bioskop.
Keduanya sudah antri untuk mendapatkan tiket masuk nonton bioskop.
Setelah selesai mengantri keduanya langsung masuk dengan segala jajanan yang mereka beli di pinggir jalan tadi.
"Ren lo tau enggak sih, dari gue jadi mahasiswa sampek sekarang, gue belum pernah nemuin jawaban dari pertanyaan satu ini," kata Rendy membuat Reno menjadi penasaran.
"Emang pertanyaannya apa?" tanya Reno karena merasa penasaran.
Keduanya lalu duduk di bangku paling tengah.
"Kita kan nonton bioskop beli tiket masuk, nah kenapa kita enggak beli tiket keluarnya? Terus gimana kita bisa keluar?" Reno bahkan menganga mendengar pertanyaan Rendy.
Bahkan Reno curiga jika Rendy bisa kuliah di Universitas Alberta.
Bagaimana bisa dia tanya hal sebodoh itu.
Astaga, Reno sepertinya hanya perlu banyak- banyak bersabar menghadapi Rendy yang realitanya berwujud dewasa namun berusia balita.
"Lantas bagaimana dengan tahun- tahun kemarin, bagaimana cara anda bisa keluar setelah menonton bioskop?" tanya Reno sambil menahan kesalnya.
"Entah, lupa gue," kata Rendy menjawab dengan sangat santainya membuat Reno mengusap gusar wajahnya.
"Ini definisi IQ 100% dipakai semua, pertanyaan bodoh aja bisa buat guru bahkan profesor menangis mendengar pertanyaannya," gumam lirih Reno merasa tidak habis pikir pada Rendy.
"Sabar Ren sabar, cari duit emang banyak cobaannya, salah satunya ngasuh balita berwujud dewasa," gumam lirih Reno sambil memakan popcornnya.
□■□■
Bara terusik dengan suara alarm yang terpasang.
Dengan mata masih terpejam Bara meraba ke atas nakas untuk mematikan suara alarm.
Bara kembali menarik selimutnya lalu beberapa detik dia teringat sesuatu.
Bara meraba sampingnya.
Kosong
Seketika dia langsung bangun dan melihat sekeliling.
"Sayang," teriak Bara memanggil Sela lalu melihat jam di atas nakas.
Pukul 10.00 GMT- 5
Bara langsung turun dan mencari Sela ke segela penjuru apartemen.
"Sayang," teriak Bara mencari ke semua tempat tapi tidak juga menemukan keberadaan Sela.
Bara melihat tangannya diperban lalu melihat bajunya yang ganti tadi malam.
Berarti itu nyata bukan.
Bara bergegas keluar kamar dan mencari keberadaan Sela.
Tapi hasilnya nihil.
"Ya tuhan kemana dia pergi," gumam Bara merasa putus asa.
Bara langsung mengambil mobilnya untuk mencari keberadaan Sela.
Bara menuju rumah sakit siapa tahu dia sedang berada di sana.
"Astaga bisakah kamu tidak membuatku khawatir," gumamnya seraya menambah kelajuan mobilnya.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Mohon maaf ya saya belum bisa menepati janji saya untuk up 3- 4 eps / hari.
Alhamdulilah skrng saya dpt kerjaan, jadi klau saya sempat saya buat tpi kadang kalau sudah capek habis shubuh buatnya.
Terima kasih buat saran dari Novi Yulia, maaf ya saya sdh buat kamu kecewa atau nunggu lama🙏smga km msh bertahan smpai akhir cerita nanti.
Dan saya juga mau bilang terima kasih buat semuanya atas doa, semangat dan dukungan dari kalian.
Saya akan berusaha untuk membuat cerita lebih baik lagi🙏
__ADS_1