Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Jebakan Gabriela


__ADS_3

○○○


Bara masuk ke dalam rumah papanya, kenapa sepi.


"Hey son," sapa papanya yang ternyata sedang duduk di sofa membaca koran.


"Hey pa, di mana mama?" tanya Bara saat tidak menemukan mamanya.


"Ada di dalam kamar, tumben ke sini ada apa?" tanya Bradsiton karena putranya ini jarang sekali punya waktu main ke rumah.


"Tidak ada," kata Bara langsung menaiki lift menuju lantai atas ke kamar mamanya.


Bara mengetuk pintu kamar mamanya.


"Hey sayang," sapa Rose yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah.


"Ma, apa Bara ganggu?" tanya Bara masuk ke dalam kamar lalu melepaskan jas hitamnya dan menyampirkannya di sofa.


"Tidak, mama hanya sedang bersantai. Apa ada masalah?" tanya Rose melihat ekpresi wajah Bara yang sangat kentara.


"Tidak," jawab Bara lalu berbaring di sofa dengan berbantalan paha mamanya.


Rose mengusap pelan rambut Bara meletakkan buku majalahnya di atas meja.


"Kamu tidak akan kemari saat tidak ada masalah," tebak mamanya.


"Hem," kata Bara sambil memejamkan matanya menikmati belaian tangan mamanya pada rambutnya.


"Apa terjadi sesuatu antara kamu sama Sela?" tebak mamanya membuat Bara membuka matanya.


"Ma, apa Bara harus merelakan dia pergi?" tanya Bara membuat Rose bingung.


"Memang ada apa?" tanya Rose pelan.


"Sela mengajukan beasiswa di Universitas Hardvard dan dia diterima di sana, satu bulan lagi dia akan pergi," jelas Bara membuat Rose tersenyum.


"Bagus dong, kenapa kamu sedih?" goda mamanya membuat Bara menghela napasnya.


"Ma, jangan buat Bara tambah kesal," kata Bara seketika tawa kecil Rose terdengar.


"Kamu ini ya, enggak pernah jatuh cinta apalagi deket sama cewek, sekalinya sayang kamu kayak dimabuk cinta," ejek mamanya membuat Bara memejamkan matanya.


"Kalau emang itu keinginan Sela, kamu harus terima dong, hargai keputusan dia," kata mamanya memberikan saran pada Bara.


"Tapi ma, mama tahu sendiri kan, Bara sangat menyayangi Sela, Bara enggak bisa jauh darinya ma," keluh Bara membuat Rose mencubit pipi Bara.


"Bara melakukan itu semua tulus untuknya, Bara tidak pernah merasa terbebani ataupun direpotkan olehnya, lagian itu Universitas kan juga punya Bara," kata Bara mulai mengungkapkan kekesalannya.


"Sayang mama tahu kamu sangat mencintai Sela, tapi asal kamu tahu dia juga merasa terbebani karena bantuan yang kamu berikan, ok fine kamu memberikan semuanya pada Sela secara cuma- cuma juga tulus karena kamu mencintainya,"


"Tapi sayang, jika saja Sela adalah cewek yang gila harta mungkin dia akan menerima semua apa yang kamu berikan ataupun dia bisa meminta lebih dari itu, tapi kamu sendiri apa yang dilakukan Sela, dia mendaftar beasiswa agar tidak membebani kamu karena Sela tahu membalas budi tidak akan semudah itu," kata mamanya membuat Bara sedikit berpikir.


"Apalagi di antara kalian berdua belum ada hubungan yang jelas, bukan?" tanya Rose membuat Bara melotot tidak percaya.


"Mama sudah tahu semuanya," Bara hanya bisa pasrah, Rose dan Bradsiton tidak mungkin tidak menyelidiki semuanya.


Sudah pasti.


"Bara takut jika Sela akan menjauh saat Bara mengungkapkan perasaan ini," kata Bara pelan.


"Mama tidak ingin kamu mempermainkan cewek sayang, ibaratkan Sela adalah mama, perlakukan dia layaknya kamu memperlakukan mama, jaga dia baik- baik dia adalah seorang ratu, menjalinlah hubungan yang serius," kata Rose membuat Bara terbangun dari baringannya.


"Lalu apa mama akan menyetujuinya?" tanya Bara berbinar- binar. Rose hanya mengangguk dan tersenyum.


"Ada apa ini?" tanya Bradsiton yang baru saja masuk ke dalam kamar dan melihat putranya berjingkrak kesenangan.


"Pa sebentar lagi papa akan punya calon menantu," kata Bara membuat Bradsiton melotot tidak percaya.


"Apa kamu bercanda?" tanya Bradsiton terkejut. Bara hanya mengangguk lalu mereka berdua saling berpelukan dan berputar- putar senang layaknya anak kecil.


"Ya tuhan apa mereka lupa berapa usia mereka saat ini," gumam Rose yang hanya geleng- geleng kepala saat melihat tingkah dua laki- laki di depannya ini.


"Ma pa Bara pulang dulu ya, dahh," teriak Bara bergegas keluar dari kamar mamanya.


"Iya son hati- hati, cepet- cepet buatin cucu ya buat papa sama mama," teriak Bradsiton yang masih bisa didengar oleh Bara.


"Siap komandan," jawab Bara setengah berteriak.


Bugh


Rose melempar bantal sofa pada Bradsiton.


"Hehe, bercanda ma," kata Bradsiton lalu buru- buru keluar sebelum high heels yang melayang.


.


.


.


.


.


.


Bara telah sampai di rumah buru- buru dia naik ke lantai atas untuk menemui Sela.


Bara melihat di lantai 2 kosong, lalu kembali naik ke lantai atas untuk melihatnya di kamar.


Bara beberapa kali mengetuk pintu kamar Sela.


Tapi tidak ada respon sama sekali.


Bara turun ke lantai bawah untuk bertanya pada pak Asep.


Apa mungkin dia belum pulang, ini sudah pukul 8 malam.


"Pak Asep," teriak Bara memanggil pak Asep.


Dengan sedikit berlari pak Asep datang ke hadapan Bara.


"Iya tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Asep.


"Di mana Sela, apa dia belum pulang?" tanya Bara.


"Nona Sela sedang berada di rumah sakit tuan menjenguk ibunya, nona bilang akan menginap di sana menemani ibunya dan menyuruh saya untuk kembali," lapor pak Asep.


Bara masuk ke dalam lift menuju kamarnya.


Dengan tergesa- gesa Bara mandi lalu berganti baju untuk menjemput Sela.


Setelah dirasa sudah selesai, Bara turun lagi ke bawah.


Bara mengeluarkan kembali mobil sportnya dari garasi.


Bara melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit.

__ADS_1


Kring


Satu notifikasi masuk ke dalam ponselnya.


Bara melihat nomor tidak di kenal mengirimkan pesan padanya.


08233576xxxx


Bukankah ini Sela? Kenapa ada di club?



Bara menggenggam erat tangannya pada stir.


Dengan begitu kasar Bara memutar stirnya untuk menuju club.


Kenapa dia bisa berada di clubnya.


Ya untungnya Sela mendatangi clubnya bukan club pada umumnya.


Di Club Bara berbeda, tidak ada kamar untuk menginap, dijaga ketat untuk orang yang masuk ke dalamnya tidak bisa sembarang orang, minimal di usia 22 ke atas, pukul 10 malam sudah tutup.


Bara mendial nomor seseorang.


"Halo,"


"Halo tuan,"


"Tolong jagakan gadisku, dia sedang berada di club, akan aku kirimkan fotonya,"


"Baik tuan, kami akan menjaganya,"


Bara menutup panggilannya lalu mengirimkan foto Sela pada orang yang baru saja dia telpon.


Dengan kecepatan 120 km/ jam Bara mengendarai mobilnya menuju club.


□□□


Sela merasa tidak terbiasa dengan tempat ramai seperti ini.


Tadi Sela menerima pesan dari Gabriela.


Dia bilang untuk meminta bantuannya agar datang ke club karena Gabriela sekarang ini bekerja di club.


Tapi sejak tadi Gabriela belum juga muncul untuk menemuinya, kemana dia, apa masih bekerja.


Sela memakai mantel panjangnya untuk menutupi dress pendeknya.


Sedangkan di sudut club Gabriela sedang memantau Sela yang duduk merasa tidak begitu nyaman dengan situasi club.


Gabriela sedang menunggu Reynald datang.


Gabriela melambaikan tangan pada bartender.


"Tolong kasihkan alkohol ini pada wanita itu," perintah Gabriela sambil menunjuk Sela yang kini sedang duduk di samping beberapa banyak cowok tampan.


Bartender itu langsung saja mengantarkan alkohol yang diberikan Gabriela untuk Sela.


"Nona ini minumanmu," kata bartender itu sambil meletakkan alkohol di depan Sela.


Alvin yang telah diperintahkan oleh Bara untuk menjaga Sela langsung bangkit dari duduknya.


"Jangan kasih dia minum sembarangan," kata Alvin penuh penekanan dan tatapan tajam pada bartender itu sambil mengembalikan alkohol itu di nampan.


Sela menatap laki- laki di depannya ini.


"Terima kasih banyak sudah membantu," kata Sela lalu berjalan menuju sudut ruang yang Alvin tunjuk.


Tapi beberapa cowok menggoda Sela saat akan menuju sudut club membuat senyum Gabriela mengembang.


"Hey cantik, sendiri aja, sini abang temenin,"


"Eh si manis sendiri aja, ayo kita menari,"


"Tidak terima kasih," tolak Sela pelan dan berniat untuk segera pergi ke sudut club.


Alvin yang baru saja kembali untuk mengambil alkohol melihat Sela digoda oleh beberapa cowok muda.


"Heh kalian semua," teriak Alvin dengan sangat keras bahkan semua menatap Alvin terkejut.


Alvin menghampiri Sela lalu menariknya ke belakang punggungnya.


"Jangan sentuh dia, kalau kalian masih sayang sama nyawa kalian," peringati Alvin pada mereka semua.


"Kesanalah, aku akan menjagamu," kata Alvin pada Sela, spontan gerombolan Alvin langsung berbaris di samping kanan kiri Sela untuk menghindari para buaya yang ada.


"Jangan cari masalah bro, dia gadisnya si bos," gumam Alvin pada gerombolan cowok muda yang tadi menggoda Sela.


"Bara," lanjut Alvin membuat mereka semua langsung bubar dan menjauh dari gerombolan Alvin.


"Yuk jagain gadisnya bos," kata Alvin pada gerombolannya.


Sedangkan Gabriela merasa bingung saat Sela berpindah tempat di sudut club yang lebih terang.


Lalu siapa laki- laki yang sedang mengawasi Sela.


Kenapa semua laki- laki malah menjauhi Sela dan sekarang laki- laki itu berkeliling menjaga Sela ketat.


Sepertinya ada yang tidak beres melihat gerombolan cowok tampan tajir itu sedang berjaga untuk Sela.


Bahkan tidak ada satupun cowok yang mendekat ke arah Sela.


"Mana Sela?" tanya Reynald yang baru saja tiba.


Gabriela hingga terkejut karena tatapannya yang fokus pada Sela.


"Di sana. Dia sedang dijaga ketat oleh sekelompok cowok tampan, siapa mereka?" tanya Gabriela penasaran sekali.


"Itu enggak penting, yang penting Sela sudah berada di sini," senyum licik terbit di bibir mereka berdua.


Reynald tersenyum miring pada Gabriela lalu berjalan untuk menghampiri Sela.


"Sela," sapa Reynald lalu hendak duduk bersama Sela namun Alvin menahannya.


"Jangan mendekatinya, tunggu sampai yang punya datang," gumam Alvin tepat di telinga Reynald.


"Saya kenal kok sama dia," kata Sela mau gak mau Alvin membiarkan Reynald duduk bersama Sela.


Alvin mengisyaratkan pada sekelompoknya untuk lebih memperketat penjagaan Sela.


Gabriela tersenyum girang saat Reynald akhirnya bisa duduk bersama Sela.


Kini tinggal menunggu kedatangan Bara dan semua pertunjukkan akan dimulai.


Dan tidak berapa lama Bara datang, senyum sumringah tercetak jelas di bibir Gabriela.


Bara sedang mencari keberadaan Sela.

__ADS_1


Ok semua seakan sudah siap di tempatnya.


Sela duduk sama Reynald dan kini Bara sudah datang.


Bara tidak langsung menghampiri Sela saat tahu dia sedang mengobrol dengan Reynald.


Bara memilih untuk duduk di kejauhan memantau Sela.



Sangat terlihat dia sedang menahan amarahnya saat tahu Sela bersama Reynald.


Gabriela masih memantau dari kejauhan dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.



Entah apa yang sedang Bara pikirkan, tapi jika melihat ekpresi wajahnya, dia tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.


Bara berjalan menghampiri Sela yang duduk bersama Reynald.


"Tuan," sapa Alvin saat tahu Bara sudah datang.


Sela spontan langsung berdiri karena terkejut saat tahu Bara datang ke club.


"Tuan," panggil Sela terdengar sangat lirih.


Bara menatap tajam Reynald yang masih duduk sambil tersenyum miring pada Bara.


Tanpa banyak bicara Bara menarik tangan Sela dengan kasar keluar dari club hingga tanpa diketahui Bara lutut Sela tergores oleh sudut meja kaca.


"Tuan gadis anda terluka," teriak Alvin namun mungkin Bara tidak mendengarnya karena musik juga terdengar sangat keras.


Sela meringis saat lututnya tergores sudut meja kaca tadi.


"Tuan tangan saya sakit," kata Sela namun hal itu tidak membuat Bara melepaskan genggamannya hingga tiba di parkiran.


Bara membukakan pintu mobil untuk Sela lalu memutari mobilnya dan melajukan mobilnya seperti orang kesetanan.


Sela meringis menahan perih di lututnya sambil berpegangan kuat pada sabuk pengaman.


Bara benar- benar marah padanya.


♡♡♡


Setelah sampai di rumah, Bara dengan kasar menarik tangan Sela hingga membuat pak Asep yang sedang berjaga di samping pintu ingin menghentikannya namun urung saat Sela mengisyaratkan untuk tidak berbicara pada Bara.


Bara menaiki lift dengan genggaman tangan yang tak lepas dari tangan Sela.


Bara lagi- lagi menarik dengan kasar tangan Sela keluar dari lift menuju kamarnya.


Brak


Bara membanting pintu dan menguncinya.


Bara menatap tajam dan juga sinis pada Sela.


Bara mendekat ke arah Sela lalu mencium baju Sela ada aroma alkohol.


"Tuan saya bisa jelasin, dengerin dulu penjelasan saya," kata Sela meminta agar Bara mau mendegarkan penjelasannya.


"Kenapa kamu selalu membohongi saya?" Sela menggeleng kuat dia tidak bermaksud untuk membohongi Bara.


"Tidak saya tidak pernah membohongi anda, saya benar- benar di rumah sakit tadi dan Gabriela meminta....,"


"Jangan bohong Sela," bentak Bara dengan nada yang sangat tinggi membuat Sela memejamkan matanya.


"Apa kamu juga minum bersama Reynald? Apa kamu sengaja bertemu dengannya, hah? Jawab," bentak Bara yang saat ini emosinya tidak lagi bisa terkontrol.


"Tidak, saya tidak meminum alkohol...,"


"Lalu kenapa ada aroma alkohol di baju mu?" tanya Bara sambil berjalan maju mendekati Sela.


Sela yang takut saat melihat Bara marah seperti ini mencoba berjalan mundur menghindari Bara.


"Percayalah tuan, saya tidak meminumnya, saya juga tidak tahu kenapa baju saya ada aroma alkohol," kata Sela pelan mencoba menjelaskan pelan- pelan pada Bara.


Bruk


Punggung Sela terbentur dinding karena Bara terus berjalan maju mendekatinya.


Bara mengangkat amplop coklat yang tadi Mr.John berikan padanya di depan Sela.


"Lalu apa ini? Siapa yang memintamu untuk mengikuti progam beasiswa luar negeri?" tanya Bara kini dengan nada seperti seorang mengintrogasi musuhnya.


Sela hanya bisa diam, dia terkejut saat Bara mengetahuinya.


Apa mungkin Mr.John memberitahunya?


Apa mungkin dia mendapatkan beasiswa itu?


"Apa saya mendapatkan beasiswa itu?" tanya Sela dengan senyum manis di sudut bibirnya.


"Apa kamu berniat untuk pergi?" tanya Bara namun Sela hanya diam tak menjawab.


Sela sendiri juga bingung bagaimana harus mengatakannya pada Bara.


"Ya saya akan mengambil beasiswa itu," mata mereka saling beradu, napas terengah- engah membuat suara di antara mereka berdua.


Bara hendak mencium bibir Sela namun dengan cepat Sela memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya.


Bara mengangkat kedua tangan Sela di atas kepalanya dan menggenggamnya kuat.


Bara mulai menciumi leher Sela, namun terhenti saat terdengar Sela terisak.


Bara perlahan melepaskan genggaman tangannya di tangan Sela dan menatap wajah Sela yang meneteskan air mata.


Apa yang baru saja dia lakukan pada Sela?


Apa Bara melupakan apa yang tadi Rose katakan padanya.


Sela mendorong Bara hingga terhuyung ke belakang.


Sela buru- buru membuka pintu kamar yang Bara kunci, namun Bara dengan cepat memeluk Sela dari belakang.


"Saya mohon jangan tinggalkan saya di sini sendiri," gumam Bara lirih di dekat telinga Sela.


Sela memberontak agar bisa lepas dari pelukan Bara, tapi Bara semakin mempereratnya.


"Jangan tinggalkan saya," gumam Bara lirih beralih menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sela.


Tes


Apa Bara menangis, Sela merasakan lehernya sedikit basah.


Sela menunduk menatap bawah, tidak lama air matanya juga turun begitu saja.


Bara semakin mempererat pelukannya dengan wajah yang dia tenggelamkan di ceruk leher Sela.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2