
●●●
Semua urusan tentang kuliah Sela sudah selesai.
Saatnya kini dia pergi ke kantor untuk mengurus proyek AS minggu depan.
"Halo Rendy," sapa Bara sambil membuka pintu mobil.
"Siapkan berkas untuk meeting pagi ini, kita bahas untuk mempersiapkan rancangan bajunya," perintah Bara pada Rendy di seberang sana.
"10 menit saya akan sampai," kata Bara mengakhiri panggilannya.
Bara melajukan mobilnya menuju kantornya, pagi ini lalu lintas tidak begitu padat.
Jadi, Bara bisa mempercepat laju mobilnya.
Hanya butuh waktu 8 menit untuk sampai di kantornya.
Bodyguard yang berjaga di lobi langsung bergegas membukakan pintu ketika mobil Bara datang.
Bara berjalan menuju lift untuk naik ke lantai atas.
Bara langsung menuju ruang meeting, dia tidak ingin mereka menunggu lama.
Tepat 10 menit Bara sudah sampai di kantor dan duduk di ruang meeting.
"Selamat pagi semuanya," sapa Bara pada semua karyawan dan kepala departemen, desainer, fotografer dan kepala direksi.
"Pagi pak," jawab mereka serempak, langsung saja mereka membuka berkas yang telah dibagikan oleh Rendy.
Bara membuka laptop yang sudah terpasang otomatis di mejanya.
"Bagaimana untuk persiapannya? Apa ada yang ingin kalian sampaikan?" tanya Bara langsung saja desainer andalannya berdiri untuk mempresentasikan rancangannya.
"Untuk rancangan saya kemarin, tentu anda semua sudah melihatnya. Tuan Bara menginginkan untuk perpaduan budaya Kanada dan AS menjadi ciri dari rancangan ini," jelasnya sambil memperlihatkan desainnya.
"Tuan Bara juga meminta kita mengeluarkan dua atau tiga rancangan, jadi saya mengusulkan tiga rancangan yang telah dibuat, bagaimana menurut anda semua?" tanya desainer itu mengusulkan tiga rancangan yang akan dikeluarkan untuk proyek AS.
"Maaf saya menyela sebentar, jika kita membuat dua atau tiga rancangan, lalu bagaimana model kita akan melakukan peragaan busana nantinya?" tanya fotografer ittu.
Bara memperhatikan pertanyaan dari fotografernya.
"Sedangkan tuan Clay hanya mengadakan 10 peragaan busana yang terpilih untuk di atas panggung, di mana itu di tonton langsung oleh Presiden AS, lalu bagaimana kita bisa melakukan tiga busana sekaligus?" tanya salah satu kepala direksi.
"Perusahaan kita mengeluarkan dua atau tiga busana bukan untuk diperagakan semuanya, tuan Clay akan melakukan penilaian pada setiap busana sebelum mereka melakukan fashion show di atas panggung, peluang kita semakin besar dengan kita bisa mengeluarkan dua atau tiga busana, dengan salah satu bisa lolos penilaian," jelas Bara panjang lebar.
Semua mengangguk paham maksud bos mereka kekeh untuk mengeluarkan tiga busana.
"Pemikiran yang hebat tuan," puji kepala direksi kagum pada ide Bara.
"Lantas apa ada yang ingin kalian tanyakan lagi?" tanya Bara pada mereka semua.
Sesekali mata Bara menatap kearah laptop, entah apa yang membuat dia tertarik pada layar laptopnya.
"Saya rasa sepertinya semua sudah setuju dan siap untuk memulai proyek ini, lalu apa kalian siap jika besok kita langsung mengerjakannya?" tanya Bara membuat mereka saling menatap dan mengangguk setuju.
"Tuan kalau boleh saya tahu, siapa model kita nanti?" tanya Rendy mewakili pertanyaan semua orang.
"Saya belum menemukan, nanti akan saya pikirkan kembali," kata Bara mencoba menenangkan mereka tentang model.
"Kalau begitu, meeting hari ini sampai di sini, jangan lupa istirahat dan jaga kondisi kalian semua, agar kita semua bisa menyelesaikan proyek tepat waktu," kata Bara memberikan perhatiannya pada semua karyawan.
"Baik tuan," jawab mereka serempak lalu satu persatu keluar dari ruangan meeting.
Rendy membereskan semua berkas di meja, sedangkan Bara melihat jam tangannya.
1 jam lagi waktunya Sela pulang dari kampus.
"Ren, lo pulang aja duluan, gue mau jemput Sela," pamit Bara pada Rendy.
"Siap bos," jawab Rendy lantang sambil mengedipkan sebelah matanya.
Bara sudah keluar dari ruangan meeting, terlihat buru- buru sekali.
"Padahal pulang kuliah masih satu jam lagi, dia mau mangkal atau gimana di kampus, dasar bapak- bapak bucin," gumam Rendy pelan lalu juga meninggalkan ruangan.
.
.
.
.
Di Kampus
Sela duduk di bangku nomor tiga dari depan, dia melihat sekeliling.
Sela tidak mengenal siapa- siapa.
"Hei, lo anak baru ya?" tanya seorang cewek tinggi dan cantik sambil tersenyum manis.
"Oh iya," jawab Sela membalas dengan senyuman manis.
"Kenalin gue Jenifer," katanya memperkenalkan dirinya.
"Jenifer," panggil cewek mungil dari ambang pintu yang baru saja berangkat.
"Sandra," panggil Jenifer melambaikan tangannya.
"Wih punya temen baru nih kita," kata Sandra sambil duduk di bangku depan Sela.
"Kenalin gue Sandra," katanya memperkenalkan diri.
"Sela," ganti Sela menyambut uluran tangan Sandra.
"Kalian kembar?" tanya Sela karena wajah mereka terlihat kembar.
__ADS_1
Mereka saling menatap lalu tersenyum karena banyak orang yang mengira jika mereka kembar.
"Bukan, kita emang udah sahabatan sejak masih kecil, jadi ya gini deh banyak yang bilang kalau kita kembar," katanya pada Sela.
Sela hanya mengangguk pelan dan mencoba membedakan dari dua sosok di depannya ini.
Menurut Sela mereka tidak terlihat begitu mirip, tapi memiliki beberapa kesamaan.
Sebelah kiri tangan kalian, itu Jenifer. Memiliki mata hazel yang indah dan kalung berbentuk bintang.
Sebelah kanan tangan kalian, itu Sandra. Memiliki mata kecokletan dan kalung dengan bandul bulan.
"Gimana udah bisa bedain kan?" tanya Jenifer pada Sela.
"Lumayan lah, nanti juga pasti bisa kalau sering ketemu," jawab Sela membuat mereka tertawa pelan.
"Permisi," Jenifer dan Sandra menoleh ke belakang, di mana ada cowok tampan dan dingin berdiri.
Sela mendongak menatap cowok tinggi yang berdiri di belakang Jenifer dan Sandra.
"Ini bangku gue," katanya sambil menatap Sela.
"Ohh maaf, aku enggak tahu," kata Sela bergegas berdiri.
"Lo anak baru?" tanya Dewa pada Sela.
"Ya karena itu aku enggak tahu kalau ini bangku sudah ada pemiliknya," kata Sela jujur.
"Lo duduk aja, gue diduduk di belakang lo," kata Dewa lalu berjalan melewati Jenifer dan Sandra dan duduk tepat di belakang bangku Sela.
"Eh tapi," kata Sela terpotong saat Dewa sudah menidurkan kepalanya di atas meja.
"Selamat pagi," sapa dosen mereka ketika masuk kelas.
"Pagi pak," jawab mereka serempak, Sela sedikit melirik ke belakang di mana Dewa masih tertidur.
"Permisi," kata seseorang mengetuk pintunya. Tatapan mereka tertuju pada seseorang yang berdiri di ambang pintu.
"Laura?" tanya dosen itu bingung, Laura langsung masuk ke dalam kelas menghampiri dosen.
"Maaf pak saya pindah kekelas bapak, apa boleh?" tanya Laura sambil melirik Sela sinis.
"Memangnya kenapa kamu pindah kelas?" tanya dosen itu.
"Maaf pak saya di kelas sebelah kurang konsentrasi," alibi Laura pada dosen itu.
"Baiklah, sekarang kamu duduk, saya akan memulai materinya," Laura hanya mengangguk lalu berjalan menuju bangku Sela.
"Minggir lo," kata Laura pelan namun tajam, Sandra yang notabenenya duduk di bangku depannya Sela mendengar ucapan Laura.
"Kan lo bisa cari bangku lain, kenapa harus punya Sela?" katanya membuat Laura menatap tajam Sandra.
"Buruan lo pindah," bentak Laura namun dengan nada rendah dan penuh penekanan.
Laura menatap sekilas Dewa yang tertidur sejak tadi, dia bahkan tidak menyadari jika Laura pindah kelas.
Laura mulai duduk untuk mendengarkan penjelasan dari dosen.
Laura sedikit menggeser posisi duduknya agar bisa menutupi Dewa yang tidur.
40 menit telah berlangsung, kini materi yang diberikan oleh dosen telah usai.
Sela membereskan semua peralatannya, lalu melirik ke depan.
Dewa masih tidur sejak awal masuk tadi.
Sela berdiri dan berniat untuk membangunkan Dewa.
Sela menggoyangkan tangan Dewa pelan, berharap dia bangun.
Laura yang sudah selesai beres- beres hendak membangunkan Dewa tapi sayang Sela sudah lebih dulu.
Laura menarik kasar Sela untuk keluar dari kelas.
"Laura tunggu, kita mau ke mana?" tanya Sela sambil mencoba melepaskan genggaman Laura yang sangat kuat dan menyakitkan.
Ternyata Laura membawa Sela ke toilet di mana sepi orang.
Laura menghempaskan tangan Sela kasar lalu menatap bengis Sela.
"Lo jadi cewek kok murahan banget sih," kata Laura sambil menunjuk muka Sela.
"Emang lo masih kurang setelah lo ngambil Bara?" tanya Laura pada Sela.
"Tapi gue enggak merasa merebut apa- apa dari lo," jawab Sela memberanikan dirinya.
"Oh gue kira lo takut kayak cewek- cewek lainnya, ternyata nyali lo kuat juga," ejek Laura pada Sela.
"Lo bisa kan jadi cewek jangan murahan?" tanya Laura sinis pada Sela.
"Maksud lo?" tanya Sela.
"Tampang aja lo sok polos, tapi lo itu sebenarnya murahan tau enggak?" kata Laura sedangkan Sela hanya diam dan menatap Laura.
"Kenapa diem, bener kan? Lo udah ambil posisi gue di keluarga Bradsiton lalu lo juga mau ambil posisi gue di hatinya Dewa juga hah?" tanya Laura dengan nada tinggi.
"Gue bahkan baru kenal dia hari ini dan gue juga enggak tahu siapa nama dia, mau rebut dia aja enggak pernah terpikirkan sama gue," kata Sela membuat Laura diam namun matanya menatap nyalang kearah Sela.
"Tapi gue masih enggak rela lo bisa secepet itu ngambil hatinya keluarga Bradsiton," kata Laura berjalan sangat perlahan mendekati Sela.
"Gue yang seharusnya berada di posisi yang lo tempati sekarang," kata Laura pelan tapi dengan penuh penekanan.
"Apa yang lo mau?" tanya Sela berusaha berani agar rasa gugupnya tertutupi.
__ADS_1
Laura tersenyum sinis mendengar pertanyaan Sela.
"Lo cukup jauhin mereka berdua, hidup lo bakal aman damai, jadi lo bisa kuliah dengan nyaman tanpa ada gangguan dari gue," kata Laura.
"Sorry tapi gue enggak bisa lakuin apa yang lo pinta," kata Sela semakin menyulut emosi Laura.
Laura mengangkat tangannya hendak menampar Sela namun dengan cekatan Sela menangkap tangan Laura.
"Gue emang miskin dan enggak punya apa- apa, tapi buat direndahin sama orang kayak lo, ego gue semakin tinggi," kata Sela lalu menghempaskan kasar tangan Laura.
Laura mendengus sebal dan menganga tidak percaya sama sikap Sela yang sangat berani.
Sela hendak berbalik untuk keluar dari toilet dengan sengaja Laura menendang kaki Sela.
Bruk
Sela terjatuh tapi untungnya hanya lututnya yang terluka.
"Upss sorry, sikap gue juga terlalu kasar sama orang murahan kayak lo," kata Laura berjalan melewati Sela dan keluar dari toilet.
Sela mencoba untuk berdiri dengan benar, ternyata rasa sakit pada lututnya sangat terasa sekali.
Sela berpegangan pada dinding agar tidak kembali terjatuh.
Padahal Sela memakain jeans kenapa bisa lututnya terluka, darah segar menembus lutut Sela yang masih terbalut celana jeansnya.
Sela keluar dari toilet, berusaha untuk jalan dengan biasa agar orang lain tidak curiga.
Sela menaiki lift untuk turun ke lantai bawah, apa Bara menjemputnya? Jika iya akan sulit menjelaskan pada bapak tua itu.
Sela keluar dari lift langsung menuju halaman luas di mana tadi Bara memarkir mobilnya.
Benar saja Bara sudah menunggunya sambil bersandar di mobil.
Sela merapikan pakaiannya dan berusaha tidak terjadi apa- apa dengannya.
"Ok Sela, lo pasti bisa hadepi bapak satu ini," gumamnya pelan sambil berjalan biasa seperti lututnya tidak pernah terluka.
Sela berjalan menghampiri Bara yang menyadari kedatangan Sela.
"Telat 5 menit," kata Bara ketika Sela baru saja sampai menghampirinya.
"Bapak kira kampusnya cuma 2 lantai," ketus Sela sambil ikutan bersandar di mobil karena Sela tidak kuat menahan rasa sakitnya.
"Apa kepala kamu terbentur lagi?" tanya Bara membuat Sela terkejut, apa penampilan Sela berantakan karena perkara di toilet tadi.
"Kenapa?" tanya Sela dengan nada gugup dan sedikit gemetar.
"Kamu kembali memanggil saya bapak bukan tuan," kata Bara dengan ekspresi datar dan menatap Sela lekat.
"Ayo pulang," kata Bara sambil menarik pelan pergelangan tangan Sela.
"Awww," kata Sela keceplosan, Sela merutuki kebodohannya ini.
Bagaimana bisa mulutnya dengan sembarangan berteriak.
"Kenapa?" tanya Bara dan menatap Sela cemas dan khawatir.
Sela bingung dia menarik pelan tangannya dari genggaman Bara.
Bara menatap pergelangan tangan Sela yang tadi dia tarik, karena Bara menariknya pelan bagaimana bisa terasa sakit.
Bara menyingkap baju panjang Sela, terlihat kemerahan pada pergelangan tangan Sela.
"Kenapa?" tanya Bara pada Sela, Sela sudah merasa dirinya kini panas dingin ditatap Bara seperti ini.
Sela masih saja diam tanpa menjawab pertanyaan Bara.
"Kenapa Sela?" teriak Bara dengan keras membuat Sela terkejut dan matanya seakan berkaca- kaca.
Karena nada tinggi Bara bahkan orang yang lalu lalang menatap mereka berdua.
Bara menyadari kesalahannya dan mengusap kasar wajahnya.
Bara membuka pintu mobilnya tanpa berbicara apapun pada Sela.
Bara memberi isyarat pada Sela agar masuk ke dalam mobil.
Dengan mata yang sedang menahan tangis, Sela masuk ke dalam mobil.
Bara memutari mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ini bukan arah jalan pulang, kenapa Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sekali?
Sela memegang erat tasnya karena takut saat Bara mengendarai mobilnya begitu cepat.
●●●
Walles sedang membaca koran dan bersantai karena hari ini dia libur.
Melinda meletakkan kopi panas di meja untuk suaminya.
"Makasih ma," kata Walles lalu kembali melanjutkan membaca korannya.
Melinda meraih vas kecil yang berisi bunga aconite.
Melinda merapikan tangkainya menggunakan gunting.
Lalu setelah selesai Melinda menyemprotkan air dan meletakkan kembali pada tempatnya.
Entah kenapa dengan ruang tamu yang khusus mereka berdua tempati ini.
Dipenuhi dengan bunga Aconite dan Melinda melarang kepada siapapun agar tidak masuk ke dalam ruangan ini sekalipun hanya sekedar duduk.
Dan Melinda setiap harinya juga selalu merapikan tangkainya lalu menyemprotkan air pada bunganya.
__ADS_1
Bahkan hal sekecil ini menjadi rutinitas setiap harinya yang dia lakukan jika ada waktu senggang.
----‐-----------------