
□■□■
Gabriela sekarang sedang berada di rumah sakit.
Tapi bukan sedang menunggu ayahnya melainkan menjenguk seseorang.
Yang dulu pernah ia anggap sebagai ibu baginya.
Tapi musuh saat ia beranjak dewasa.
Sebenarnya dia tidak salah, hanya sikap putrinya yang membuat Gabriela muak dengan keluarga kecil ini.
Rasa ingin mencaci maki dan menghina seseorang di depannya ini sangat menggelora dalam hatinya.
Sayang dia hanya diam dan tidur.
Entah tidur untuk sementara waktu atau selamanya.
Tinggal lihat saja waktu permainannya.
Benci?
Sebenarnya tidak ada rasa itu dalam dirinya.
Tapi entah kenapa, setiap kali melihat putrinya, rasa itu tiba- tiba saja muncul.
"Enaknya jadi putrimu, dikelilingi banyak orang kaya, bahkan kau gratis meski hanya tidur di sini, sementara aku?" kata Gabriela sembari menatap sekitar ruangan UGD VIP.
"Harus banting tulang, jual rumah, agar ayah bisa ke rumah sakit mewah sepertimu," lanjutnya sambil menatap ibunya Sela.
"Emang sih putrimu bukan pelacur tapi pinter buat deketi orang yang royal akan uang," rasa iri dalam diri Gabriela tak pernah bisa dihentikan.
"Bukannya gue benci sama lo, tapi sikap putrimu yang bikin gue muak sama sikapnya," kata Gabriela menghina Sela di depan ibunya yang masih tak sadarkan diri.
Gabriela menatap alat bantu yang menempel hampir ke seluruh tubuh ibunya Sela.
"Bagaimana jika kita bermain- main sebentar saja?" tanya Gabriela sambil beranjak berdiri dan menatap ibunya Sela dengan lebih dekat.
Tok tok tok
•♡•♡
Bara kini sedang berada di tepi jalan dekat rumah sakit.
Bara lelah memutari hampir semua jalan Kanada ia jelajahi.
Kemana perginya Sela?
Rasa ingin berteriak dan berkata kasar sejak tadi ingin sekali Bara ucapkan.
Di rumah sakit tidak ada.
Hampir semua perumahan yang ada di dekat rumah sakit juga tidak ada.
Apa iya dia kembali terbang ke London.
Rasanya tidak mungkin, karena dia sudah selesai kuliah.
Apa yang bakal ia lakukan di sana.
Kring kring kring
Bara menatap layar ponselnya, tertera nama Dhea.
"Halo,"
"Halo tuan, apa anda sedang sibuk sekarang?" tanya Dhea yang takut mengganggu waktu Bara.
"Tidak, apa ada masalah di kantor?" tanya Bara sambil memijit pelipisnya dan memejamkan mata.
"Maaf tuan tapi sepertinya anda harus kemari," ucapan Dhea membuat Bara seketika membuka matanya.
"Kenapa? Apa ada masalah darurat?" tanya Bara seketika panik.
"Semua karyawan inti mengundurkan diri dengan tiba- tiba tuan dan mereka bahkan langsung pergi begitu saja," kata Dhea mengatakan keadaan perusahaan saat ini.
"Apa? Tunggu, saya akan ke sana sekarang juga," kata Bara langsung mematikan ponselnya dan menancapkan gas menuju kantornya.
"Astaga masalah apalagi ini?" gumam Bara mengeluh karena merasa sangat capek.
Urusan yang satu belum selesai datang lagi masalah baru.
Cittttt
Bara bergegas turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam kantor.
Bara spontan berhenti saat melihat karyawan di lantai bawah membereskan semua barang- barangnya.
"Tunggu, mau kemana kalian semua?" tanya Bara saat melihat beberapa staf membereskan semua peralatannya dan bersiap- siap pergi.
"Maaf tuan tapi kami semua tidak bisa lagi melanjutkan kerja di sini," kata salah satu staf sambil menunduk karena takut.
"Memangnya kenapa?" tanya Bara dengan nada sedikit tinggi membuat para karyawan semakin takut.
Bara berusaha untuk mengontrol emosinya lalu berlari menuju lantai atas untuk melihat keadaannya.
Ting
Pintu lift terbuka, Bara keluar dari lift dan melihat keadaan lantai paling atas.
Kosong
Tidak ada siapapun.
"Tuan," selain Dhea yang masih menunggunya.
"Dhea bisa kamu jelaskan kenapa semua karyawan inti dan juga staf berberes?" tanya Bara terlihat begitu panik.
"Maaf tuan, tadi pagi pemegang saham bilang jika perusahaan tuan Bradsiton telah diambil alih oleh Walles dan Reynald," seketika Bara melebarkan matanya dan mengepalkan tangannya kuat.
"Dan karena Walles lah semua karyawan pindah, karena mereka diancam dan mendapatkan tekanan, jika kita semua masih tetap di sini dan tidak bergegas pindah maka," Dhea tidak berani rasanya untuk melanjutkan perkataannya.
"Perusahaan ini akan dijatuhi bom," Bara benar- benar sangat marah mendengar perkataan Dhea.
"Dan ini catatan semua keuangan perusahaan anda kini semua telah dipindahkan ke perusahaan tuan Bradsiton," kata Dhea sembari menyodorkan berkas catatan keuangan perusahaan.
"Brengsek," umpat Bara dan bergegas untuk turun dari lift.
Dhea memandangi kotak yang ia bawa di mana itu semua peralatan desainernya.
Selama 10 tahun kerja dengan Bara rasanya begitu nyaman.
Hingga pada waktu ini, dia harus pergi dari tempat yang menurutnya begitu nyaman.
Semoga masalah ini cepat berlalu agar ia bisa kembali memijakkan kakinya di sini.
Bara dengan sangat cepat mengambil mobilnya tapi beberapa detik dia berhenti sejenak.
Melihat kanan kiri lobi perusahaannya.
Kemana semua bodyguardnya?
Bagaimana bisa mereka pergi semua dengan tiba- tiba.
Bahkan tak tersisa satupun bodyguard yang menyiapkan mobil untuk Bara.
Kaki Bara merasa sangat lemas sekali.
Sela yang pergi begitu saja.
Dan para karyawan yang meninggalkan dirinya dalam sekejap mata.
Untuk apa dia hidup jika terus begini.
Bara lalu menaiki mobilnya untuk menuju perusahaan papanya.
Bara tidak rela jika perusahaan papanya harus diisi orang- orang yang menjijikkan seperti mereka.
Bara tidak rela.
Dengan kecepatan yang sangat tinggi Bara melajukan mobilnya.
__ADS_1
Benar- benar di luar kendali Bara.
Biasanya dia tidak pernah kalah dari Walles ataupun Reynald.
Tapi apa, hari ini dia dikalahkan oleh mereka berdua.
Andai saja papa dan mamanya masih ada, merekalah yang akan membantunya.
Kring kring kring
Ponsel Bara berdering, dengan cepat ia mengangkatnya.
"Halo, di mana lo nyet?" kesal Bara pada seseorang di seberang telepon.
"Bar lo harus kesini dehh, Sela kayaknya mau nikah...,"
Cittttt
"Lo bilang apa?"
"Ya biasa ajalah monyet enggak usah teriak- teriak, panas telinga gue. Sela mau nikah tapi gue enggak tahu namanya yang jelas dia kayak seumuran," kata Rendy menebak laki- laki yang ia maksud.
"Lo sekarang ada di mana? Kok bisa tahu?"
"Gue habis jalan- jalan sama Reno dari Itali terus mampir deh ke London," kata Rendy dengan santainya.
"Ren lo liat baik- baik itu orang beneran Sela bukan? Enggak mungkin dia nikah kalau suaminya masih di sini," kata Bara mencoba untuk melawak.
"Siapa bilang ini buktinya gue ada di London,"
"Sela nikah sama lo atau sama siapa sih?" bentak Bara kesal dengan Rendy.
"Rencananya kan sama gue tapi udah di ambil duluan sama orang mau gimana lagi,"
"Di mana mereka gelar pernikahannya?"
"Di pantai Watergate Bay,"
Bara langsung mematikan ponselnya lalu putar balik untuk ke rumah.
Hari ini dia akan terbang ke London.
Bagaimana bisa Sela akan menikah?
Apa Bara akan Rela?
Jelas tidak.
Bara akan menggagalkan pernikahan ini apapun caranya.
Tunggu saja.
Bara semakin mempercepat lajunya untuk sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, tidak ada sama sekali bodyguard yang berjaga.
Apa mereka juga pergi?
Lalu bagaimana Bara akan ke London jika mereka pergi.
Tidak ada pilihan lagi selain terbang dengan pesawat umum.
Bara kembali melajukan mobilnya menuju bandara agar bisa mendapatkan tiket.
Itupun jika ada.
♡♡♡♡
Bara kini telah tiba di London dan sedang menuju pantai Watergate Bay.
Perasaan takut cemas dan was- was menjadi satu.
Antara takut status Sela kini sudah menjadi istri orang atau ini hanya akal- akalan dari kutu kupret Rendy.
Karena anak satu itu paling iseng, karena itu terkadang Bara tidak begitu memercayainya selain bekerja.
Apa Sela setega itu melakukannya?
Kemarin malam saja dia masih bercanda dan tertawa bersamanya.
Bagaimana mungkin besoknya dia menikah.
"Gue ini sedang mimpi atau bagaimana?" gumam Bara sembari melihat pemandangan kota London kala malam hari.
Sangat indah.
Tapi hatinya merasa gundah kala mengingat jika Sela akan menikah.
Itu benar atau tidak yang pasti saat ini jantung Bara merasa berdetak tak karuan.
Bara hanya minta satu, semoga ia bisa menggagalkan pernikahan Sela dengan lelaki itu.
"Pak cepetan dikit ya," suruhnya pada sopir taksi yang langsung mempercepat laju mobilnya.
Bara melihat kanan kiri jalan sembari sesekali melihat jam tangannya.
Rasanya Bara ingin sekali cepat sampai, tapi mau bagaimana lagi, jalanan macet karena mereka yang baru saja pulang dari kantor.
"Sudah sampai tuan," kata sopir taksi sambil menoleh ke belakang.
Bara melihat ke luar, ternyata dia sudah sampai.
Tapi tunggu, pantai Watergate Bay biasanya selalu ramai dengan para pengunjung meski di malam hari.
Dan ini kenapa begitu gelap sekali.
"Bagaimana tuan, apa kita kembali?" tanya sopir taksi melihat Bara yang tidak bergegas turun dari mobil.
"Tidak pak saya akan turun di sini saja," kata Bara sambil turun dari mobil dengan perasaan ragu.
Selesai memberi ongkos Bara berjalan menuju pantai untuk melihat seperti yang dibilang oleh Rendy.
"Awas aja sampai lo ngerjain gue, gue panggang hidup- hidup lo," gumam Bara sembari melihat kanan kiri yang sangat sepi dan gelap.
Bara melihat setitik cahaya, dengan was- was ia berjalan untuk mendekatinya.
Satu lilin?
Dengan tulisan 'Buon Compleanno'
Apa maksudnya.
Klik
"Surpriseee," teriak semua orang membuat Bara sangat terkejut.
Bara tersenyum tak percaya saat melihat pantai Watergate Bay disulap sebagus ini.
Bara melihat semua karyawan dan bodyguardnya di sini.
Bara tidak menyangka jika hari ini ulang tahunnya, dia saja sampai lupa.
"Happy birthday to you, happy birthday to you," Bara berbalik saat mendengar nyanyian ulang tahun itu.
Ada Sela yang tersenyum manis ke arahnya dengan kue ulang tahun di tangannya.
Tapi bukan Sela yang kini menjadi sorotan baginya.
Melainkan dua sosok di belakang Sela.
Bara bahkan sampai melebarkan kedua matanya karena terkejut dan tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang ini.
"Bentar- bentar gue kayaknya mimpi deh," kata Bara sembari menepuk kedua pipinya lalu mencubitnya.
"Tapi mimpinya kok rame- rame," gumam Bara membuat semua karyawannya tertawa mendengar ocehannya.
__ADS_1
"Son kemarilah," kata Bradsiton memanggil Bara untuk memeluknya.
Bara hanya menatap lalu dengan langkah pelan ia menghampirinya dan
Hap
"Selamat ya kini kamu sudah semakin dewasa," kata papanya sembari menepuk punggung Bara.
"Ini papa beneran?" tanya Bara masih tak percaya.
Bugh
"Sakit enggak?" tanya Rose yang memukul kepala Bara.
"Sakitlah masa enggak," jawab Bara sembari mengusap kepalanya.
"Pa ma ini beneran kalian kan?" tanya Bara sekali lagi karena tak percaya.
"Kamu tanya sekali lagi mama gampar kamu pakai sepatu," ancam Rose yang kesal dengan Bara.
"Tapi bukannya papa sama mama...,"
"Ayo tiup dulu lilinnya," kata Sela membuat Bara menoleh dan menatapnya.
Bara lalu mendekati Sela dan melupakan tentang pertanyaannya terhadap papa dan mamanya, membuat semua orang tertawa.
"Sayang, kamu enggak marah lagi sama aku?" tanya Bara sembari menangkup kedua pipi Sela gemas.
Sela hanya terkekeh mendengar pertanyaan Bara.
Karena tingkah gemas Sela membuat Bara lupa akan sekitarnya dan mencium bibir Sela dengan tiba- tiba.
Cup
Bugh
"Aww," keluh Bara kesakitan saat ada sepatu melayang tepat di kepalanya.
"Main cium aja, tiup itu lilinnya," marah Rose pada sikap Bara yang bar- bar.
Bara hanya tersenyum ke arah mamanya lalu kembali menatap Sela.
"Ayo make a wish," suruh Sela yang diangguki oleh Bara.
Bara berdoa dengan sangat khidmat dan bersungguh- sungguh.
"Yeayyy," teriak semuanya kala Bara meniup lilinnya.
Sekarang saatnya memotong kue.
Suapan pertama jelas untuk mama dan papanya.
Dan kedua yang pasti adalah Sela.
Semua kini sedang menikmati hidangan yang sudah disiapkan.
Bara masih menatap papa dan mamanya yang asyik mengobrol dengan Sela.
Sebenarnya, apa motif papa dan mama melakukan ini semua?
Fokus Bara teralihkan pada pesona Sela malam ini.
Entah kenapa wanitanya itu begitu mempesona dan mampu memikat jutaan hati para lelaki.
Termasuk dirinya.
Bara berjalan menuju bibir pantai sembari membawa secangkir wine.
Ia begitu menyukai suasana ombak di malam hari.
"Selamat ulang tahun," kata Sela sembari memeluk Bara dari belakang.
Bara tertawa sumbang kala melihat Sela memeluknya dari belakang.
Ia mengusap pelan punggung tangan Sela dengan sayang.
"Apa kamu juga ikut andil dalam permainan papa mama?" tanya Bara membuat Sela tersenyum.
"Heem," gumam Sela membuat Bara tertawa mendengar jawaban gadisnya.
"Mana hadiahku?" tanya Bara membuat Sela melepaskan pelukannya.
Bara berbalik untuk menatap wajah cantik Sela.
"Ada di rumah," kata Sela karena dia terburu- buru jadi hadiah untuk Bara tertinggal.
"Oh jadi kamu sudah siap punya anak denganku?" tanya Bara menggoda Sela membuat pipinya begitu merona.
"Apaan sih, orang emang hadiahnya ketinggalan di rumah," kata Sela menutupi rasa malunya.
"Ugh kenapa kau begitu cantik sih malam ini," kata Bara gemas sembari mencubit pipi Sela pelan.
Sela menatap wine di tangan Bara, sepertinya itu sangat menggoda.
"Bolehkah aku mencobanya?" tanya Sela membuat Bara mengangkat kedua alisnya.
"Ini?" tanya Bara sembari mengangkat gelas yang berisi wine. Sela menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar.
"Enggak boleh," tolak Bara tegas membuat Sela mengerucutkan bibirnya.
"Boleh ya please, sekali aja," kata Sela memohon agar bisa merasakan wine itu.
Bara tidak menjawab, lalu ia meminum wine tersebut dengan sensasi yang sangat menggiurkan dan mampu membuat Sela menelan ludahnya.
Bara melirik Sela yang sekarang menatapnya menikmati wine tersebut.
Terlihat begitu menggemaskan.
Tanpa ragu Bara mencium bibir ranum milik Sela.
Sela melebarkan kedua matanya sembari menepuk- nepuk bahu Bara.
Tapi Sela terdiam kala merasakan wine tersebut masuk ke dalam bibirnya melalui Bara.
Rasanya begitu menggiurkan.
Bara tersenyum di sela- sela ciumannya melihat Sela begitu menikmati wine yang ia berikan.
Wah good.
Surprise yang sangat mengejutkan dan membagongkan.
Luar biasa.
Tapi sekarang yang jadi pertanyaannya, bukankah papa dan mamanya meninggal karena kecelakaan mobil itu.
Lalu siapa yang sewaktu itu dimakamkan?
Dan bagaimana hal ini bisa berjalan hingga 3 tahun lamanya.
Apa semua ini termasuk bagian dari rencana Papa dan mama?
Kenapa Bara tidak mengetahui semuanya?
Ia sangat penasaran dengan hal ini.
Papa dan mamanya begitu cerdik dalam urusan mengatur strategi.
Ini patut dipertanyakan.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
**Flashback enggak?
Flashback enggak?
Flashback enggak?
Maaf ya baru update😄😄**
__ADS_1