Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Bara Junior


__ADS_3

《■■■》


Bara masuk ke dalam kamar, ia tersenyum lebar saat melihat Sela tertidur sangat pulas.


Dulu Bara hanya bisa memandang Sela kala tidur, menjaga jarak dan hanya bisa menahan hasratnya saat melihat Sela tertidur pulas.


Dulu aja Bara harus berusaha keras agar Sela mau tidur di kamarnya, kalau sekarang mah enggak usah disuruh nyonya Aldebaran udah tidur sendiri bahkan menguasai kamar Bara.


Bara naik ke atas king size dengan sangat pelan agar Sela tidak terbangun.


Dengan sangat pelan Bara menyelusupkan tangannya di bawah leher Sela agar ia bisa memeluknya.


Bara mengusap perut Sela yang kini sudah semakin membesar.


Memang benar kandungan Sela sudah 9 bulan karena itu Bara harus selalu di sampingnya dan selalu siaga.


Tapi istri cantiknya ini selalu saja ceroboh dan suka sekali membuat Bara khawatir.


Bara lalu ikut terlelap bersama Sela.


Entah kenapa tapi jika boleh jujur, Bara tidak mau Sela jauh sedikitpun darinya.


Sela hanya milik Bara seorang.


Keduanya terlelap di malam yang begitu dingin ini.


Nyatanya pulau Stella memang tempat yang indah untuk membuat banyak kenangan.


Dan pulau Stella juga yang menjadi saksi bisu cinta mereka.


.


.


.


Keesokan paginya Bara terbangun saat alarmnya berbunyi.


Bara langsung melihat ke samping, Sela tidak ada di sampingnya.


Dengan cepat Bara melompat dari king size dan langsung mencari Sela di kamar mandi.


"Sayang," teriak Bara mencari di sudut kamar mandi di walk in closet dan penjuru kamar.


Tapi dia tidak ada di manapun.


Bara langsung turun ke lantai 1 untuk mencari istrinya.


Ting


Bara keluar dari lift dan terlihat mamanya sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua.


"Ma Sela di mana?" tanya Bara saat ia tidak melihatnya di meja makan.


"Tadi ngajak papa jalan- jalan sekitar komplek sini sama Rendy dan Reno juga," kata Rose sambil melihat Bara yang terlihat sangat mencemaskan Sela.


"Kok dia enggak bangunin Bara ma? Dia juga naik lift sendirian? Atau manggil mama?" tanya Bara membuat Rose mendelik kesal dengan Bara.


"Emang kenapa sih Baraaa? Tadi dia manggil mama buat turun ke lantai 1 nya? Kenapa?" tanya Rose yang jengkel dengan Bara.


"Ya kan Sela lagi hamil ma, kalau naik lift sendirian gimana kalau liftnya tiba- tiba aja berhenti, gimana kalau sesuatu terjadi dengan Sela?" Rose mengerti Bara begitu overprotektif pada Sela.


Tapi kadang Rose merasa jengkel juga dengan putranya ini, bersikap berlebihan seperti ini kan juga tidak baik.


"Sekarang kamu mandi terus habis itu kita sarapan," kata Rose menyuruh Bara dengan berkacak pinggang.


"Ma jangan marah- marah mulu, nanti cepet tua gimana?" Bara langsung berlari memasuki lift sebelum piring di tangan Rose melayang mengenai kepala Bara.


"Ahhhh putra dan papanya memang sama- sama menyebalkannya," gumam Rose sambil menahan emosinya untuk tidak marah.


Laura dan Dea yang melihatnya tertawa melihat kelakuan ibu dan putranya ini.


"Ma mereka kok belum pulang juga ya," tanya Laura saat Sela dan ketiga laki- laki itu belum juga pulang dari jalan- jalannya.


"Mungkin sebentar lagi sayang. Sini deh duduk aja dulu sambil nunggu mereka," kata Rose pada dua menantu kesayangannya.


"Oh ya sayang, kalian juga harus sesering mungkin ya buat periksa ke dokter, jangan lupa makan- makanan yang sehat juga. Terus kalau kalian tidak sibuk pergilah ke tempat yoga khusus ibu hamil," kata Rose yang memperhatikan dua menantunya ini.


Rose tidak pernah pilih kasih atau membedakan menantu satu dengan yang lainnya.


Mereka tetap sama di mata Rose.


Jadi, mau Sela Laura atau Dea, Rose akan memperlakukan mereka dengan sama.


"Iya ma, makasih banyak atas perhatiannya," kata Dea sambil tersenyum manis ke arah Rose.


"Oh ya sayang, mintalah pada suami kalian untuk cuti kerja beberapa hari saja, keluarlah sayang untuk mencari udara segar dan menjernihkan pikiran jangan di rumah terus," kata Rose membuat Laura dan Dea begitu bahagia sekali diperhatikan seperti itu oleh Rose.


"Pagi ma," teriak Sela diikuti Bradsiton Rendy juga Reno yang berjalan dengan lemas di belakang Sela.


"Pagi Ra kak Dea," sapa Sela pada mereka berdua.


"Pagi sayang,"

__ADS_1


"Pagi Sel,"


"Sayang," teriak Bara saat ia melihat Sela baru saja pulang.


Dengan cepat Bara langsung memeluk Sela erat membuat Rose menahan senyumnya.


"Kamu bangun pagi- pagi kenapa enggak bangunin aku hah? Dibilangin juga jangan naik lift," kata Bara memarahi Sela.


"Aku tadi minta tolong sama mama," kata Sela sambil menatap Rose.


"Papa kamu kenapa? Kalian berdua juga kenapa?" tanya Rose pada suami juga kedua putranya yang duduk lemas di kursi meja makan.


"Tadi niatnya kita cuma jalan- jalan ma karena lagi males banget buat jogging," gumam Bradsiton pelan membuat semua diam agar bisa mendengarnya.


"Terus Sela suruh kita buat jogging, katanya biar sehat," lanjut Reno sambil merebahkan kepalanya di atas meja makan.


"Karena kita nolak, ehh dia malah nglepasin anjingnya tetangga," lanjut Rendy membuat semua orang tertawa kecuali mereka bertiga.


"Terus?" tanya Rose ingin tahu kelanjutannya.


"Apalagi, ya kita larilah keliling komplek," jawab Bradsiton.


"Anjingnya puter balik enggak?" tanya Laura membuat Rendy mendengus sebal.


"Ya enggaklah, dia nungguin kita di bawah pohon sampai kita turun," jawab Rendy ketus membuat Laura cekikikan.


"Terus?"


"Terus Sela dateng sama yang punya anjing, setelah anjingnya dibawa pulang, malah kitanya yang enggak bisa turun dari pohon," kata Rendy membuat semua orang lagi dan lagi tertawa.


"Tapi buktinya lo bisa sampai rumah gini," kata Bara membuat Rendy menatapnya tajam.


"Ya karena kita terpaksa terjun bego biar bisa turun, emang lo mau Sela gue suruh buat ambil tangga?" Rose merasa kram perutnya mendengar cerita mereka bertiga pagi- pagi gini.


"Masak lo gitu aja enggak bisa turun?" ejek Bara membuat Rendy menggaruk pelipisnya.


"Ya gue tahu caranya manjat tapi lupa caranya turun," jawab Rendy pelan dan seketika ruang makan ini diisi oleh tawa mereka semua.


《♡♡♡》


Setelah selesai sarapan mereka melakukan aktivitasnya masing- masing.


Seperti Rendy dan Laura yang sedang berada di kamar saat ini.


"Sayang," panggil Laura pada Rendy yang selesai mandi.


"Apa?" kata Rendy yang menurut Laura terdengar begitu seksi.


"Hibur aku dong, aku bosen banget hari ini," kata Laura merengek pada Rendy.


"Terserah pokok hibur aku," kata Laura memaksa agar Rendy mau menghiburnya.


"Baik tuan ratu, pengawal Rendy akan menghibur anda," kata Rendy sembari menunduk di hadapan Laura.


Rendy langsung pergi ke walk in closet untuk mencari pakaian dan konser dalam kamar.


Tidak berapa lama Rendy keluar kini dengan penampilan yang wahh.



"Sayang gimana penampilan aku, udah perfect belum?" tanya Rendy sembari bergaya layaknya model.


"Sayang kamu mau ngapain?" tanya Laura membuat Rendy menganga tidak percaya.


"Astaga, dia ini enggak buta tapi kenapa harus nanya segala, jelas- jelas gue dandan tampan gini buat hibur dia, masih nanya," gerutu Rendy yang bisa didengar oleh Laura membuatnya tertawa keras.


"Jadi enggak dihiburnya?" tanya Rendy dan Laura mengangguk dengan sangat bersemangat.


Rendy langsung mengambil mic yang berada di sudut ruangan.


Ia mulai menyanyikan sebuah lagu romance untuk istri tercintanya.


Tatapan Laura tidak beralih sedikitpun dari Rendy.


Rendy bener- bener tampan banget woyy hari ini.


Rendy sudah selesai menyanyi dan Laura bertepuk tangan untuknya.


"Saking merdunya dinding setebal ini bisa retak hanya karena nyanyianmu," kata Laura membuat Rendy berkacak pinggang dan menatap kesal Laura.


"Wahh dewan juri, pujian anda sangat menyentuh sekali, sampai- sampai saya merasa tersentuh, terjungkal dan terhempas," Laura tertawa mendengar ocehan Rendy.


"Sini peluk," kata Laura sambil merentangkan kedua tangannya.


"Cih rayuan maut," gumam Rendy yang berjalan malu- malu menghampiri Laura.


Rendy memeluk erat Laura lalu mencium sekilas perut Laura yang kini juga semakin membesar.


"Kamu tampan banget hari ini," kata Laura yang benar- benar memuji penampilan Rendy.


Laura menangkup kedua pipi Rendy lalu mencium bibir seksi suaminya.


Rendy semakin menekan tengkuk Laura untuk memperdalam ciumannya.

__ADS_1


"Kamu mau enggak besok temenin aku?" tanya Rendy pada Laura.


"Kemana?" tanya Laura.


"Lihat aja besok," jawab Rendy membuat Laura memanyunkan bibirnya.


"Laura sayang, ayo kita ke rumah sakit, Sela mau lahiran, Dea ayo sayang kita berangkat," teriak Rose dari luar kamar membuat Laura langsung keluar untuk menemui Rose.


"Wahhh gue enggak nyangka kalau nyanyian gue selain bisa retak nih dinding juga bisa buat Sela lahiran," gumam Rendy sambil menatap dinding tebal di depannya.


"Akhirnya Sela lahiran, dengan begitu enggak akan ada lagi acara ngeprank malaikat, atau lainnya," gumam Rendy yang begitu bahagia.


"Sayang ayo berangkat," teriak Laura membuat Rendy langsung melompat dari king size.


.


.


.


.


RUMAH SAKIT KANADA



Semua orang sedang duduk cemas di lorong untuk menunggu Sela.


Bara memutuskan untuk membawa Sela ke rumah sakit Kanada lebih tepatnya rumah sakit miliknya, ia ingin Sela melahirkan buah hatinya di rumah sakit yang ia dirikan.


Meski tadi Rose sedikit membantah keinginan Bara, tapi akhirnya luluh juga saat Bara mencoba menjelaskan pada mamanya.


Rose dan Bradsiton sibuk menghubungi semua orang juga mempersiapkan semua persiapan untuk Sela selama di rumah sakit nanti.


"Tuan" Bara menoleh dan betapa terkejutnya ia saat semua staf juga karyawannya datang bergerombol datang ramai- ramai ke rumah sakit.


Dan ada beberapa bodyguardnya yang ikut di belakangnya.


"Kalian ngapain kemari semua?" tanya Bara bingung karena perasaan ia tidak memberitahu mereka.


"Kami dengar nyonya Sela akan melahirkan," kata salah satu karyawan.


"Bagaimana tuan, apa nyonya masih pembukaan?" terlihat sekali jika mereka juga mencemaskan Sela.


Bara tersenyum samar melihat wajah cemas semua karyawan juga stafnya.


Terlihat real.


"Istri saya baru saja di periksa karena tekanan darahnya rendah jadi ia perlu beberapa tambahan darah agar persalinannya lancar," jawab Bara agar mereka semua merasa lega dan tidak terlalu cemas.


"Syukurlah," kata mereka kompak.


Lalu mereka menunggu di kursi tunggu bersama Bara juga Dea dan Laura.


"Ra, kok papa sama mama lama banget ya?" tanya Bara pada Laura.


"Tunggu aja Bar mungkin masih beres- beres perlengkapan buat Sela nanti," jawab Laura mencoba untuk menenangkan Bara.


"Bar lo terus doa ya supaya Sela bisa lahiran dengan normal," kata Dea memberi semangat untuk Bara.


"Iya De,"


"Semoga aja Sela sama anak lo bisa selamat dua- duanya," gumam Laura sambil berdoa dengan sangat serius.


Dea langsung memeluk Laura agar tidak merasa cemas berlebihan karena Sela.


"Udah tenang aja, Sela pasti selamat kok sama bayinya, mereka pasti baik- baik aja," kata Dea menenangkan Laura.


Bara tidak bisa tenang begitu saja, ia berjalan mondar- mandir di depan pintu.


Rasa cemas, takut dan gugup bercampur jadi satu di dalam hati Bara.


Bagaimana bisa ia tenang.


"Tuan, minumlah air ini," kata salah satu bodyguard yang memberikan Bara sebotol air mineral.


"Terima kasih," kata Bara lalu langsung menegak setengah air minumnya, ia sedikit lega setelah minum.


"Tuan, duduklah tenang, nyonya Sela pasti akan baik- baik saja," kata salah satu bodyguard mencoba untuk menenangkan Bara.


Lalu salah satu resepsionis ikut menghampiri Bara untuk memberikan dukungan juga semangat.


"Tuan, kami semua di sini sedang mendoakan nyonya Sela, jadi duduklah dengan tenang tanpa rasa takut dan cemas pada nyonya Sela, ia akan baik- baik saja juga bayinya," Bara tersenyum manis lalu merangkul bahu bodyguard juga resepsionis itu.


"Terima kasih, terima kasih banyak atas doa juga dukungan dari kalian semua, kini saya merasa kuat untuk menunggu hasilnya" kata Bara lalu kembali duduk bersama para bodyguardnya.


Dea juga Laura merasa terharu dengan hubungan antara Bara dan bodyguardnya.


Mereka sudah seperti keluarga sendiri, bahkan mereka begitu menyayangi Bara dengan sangat tulus.


"Ra, mereka tulus banget ya sayangnya sama Bara," kata Dea pada Laura sambil melihat banyaknya karyawan juga staf yang duduk di ruang tunggu bahkan di lantai hanya untuk menunggu Sela.


"Iya bahkan mereka cepet banget buat dateng ke sini," kata Laura sambil tersenyum manis melihat pemandangan yang langka ini.

__ADS_1


Semua tidak hentinya merapalkan doa hanya untuk keselamatan Sela juga bayinya.


Inilah kisah mereka yang begitu tulus meski mereka bukan saudara atau keluarga, namun kasih sayang mereka benar- benar nyata adanya.


__ADS_2