
Beberapa tahun kemudian.
"Ma koko itu loh," teriak Dante saat El terus menggodanya.
"Ko jangan ganggu adikmu," teriak Sela dari dapur.
"Dek liat ini," kata El sembari membawa lari mainan Dante.
"Dante aduin ke papa nanti ko, bawa sini mobil- mobilannya," rengek Dante sambil terus mengejar El.
"Ya kalian berdua," seketika Dante dan El langsung berhenti saling mengejar saat kokonya datang.
"El balikin mainan Dante," kata Al dengan suara sok dinginnya.
"Bentar ko, nunggu Dante nangis," kata El yang berlari keluar supaya Dante tidak bisa menangkapnya.
"Sayang aku berangkat kerja dulu ya," kata Bara yang baru saja keluar dari lift.
"Papa mau ke kantor?" tanya El saat Bara sudah siap dengan baju kantornya.
"Iya boy, papa mau ke kantor, kenapa kalian mau ikut?" tanya Bara yang langsung mendapat teguran dari Sela.
"Enggak usah ikut di rumah aja," kata Sela galak sambil berkacak pinggang.
"Liat mamamu, dia selalu marah- marah," kata Bara berbisik pada El.
"Bukankah dia juga istrimu tuan Aldebaran?" seketika Bara menganga mendengar ucapan El.
"Wah putra siapa ini, hah?" Bara lalu menggelitiki El hingga ia meminta ampun.
"Udah ya, papa sekarang mau ke kantor," kata Bara sembari berjalan menghampiri Sela.
"Sayang, aku berangkat dulu ya," pamitnya sembari mencium kening istrinya.
"Ya hati- hati dan ini bekalmu," kata Sela sembari menenteng rantang makanan untuk Bara.
"Makasih," kata Bara kembali mencium pipi istrinya.
"Ya tuan Aldebaran cepatlah berangkat helikopter sudah datang," kata Al membuat Bara terkekeh mendengar suara lucu putranya.
"Baik tuan Al saya akan segera berangkat," kata Bara sembari memeluk gemas kedua putranya ini.
"Di mana El?" tanya Bara saat tak melihat satu lagi putranya.
"Koko di sini pa," teriak El yang langsung memeluk Bara.
"Wah putra papa. Udah ya papa mau kerja dulu, jaga mamamu baik- baik di rumah dan jangan membuatnya marah, ok?" kata Bara sambil menatap ketiga putranya.
"Siap pa," teriak mereka bersamaan membuat Sela yang sedang memasak untuk mereka tersenyum geli.
Sedangkan di lantai 2 Laura juga sedang melakukan hal yang sama seperti Sela, yaitu memasak.
Mereka memang tetap tinggal di pulau stella, namun ketiga keluarga ini berada di lantai yang berbeda.
Sela lantai 4, Laura lantai 2 dan Dea lantai 3.
Kalau enggak dipisah gini, pasti satu rumah bakal kayak satu kampung kalau putra mereka kumpul jadi satu.
"Aish bagaimana bisa dia malah bermain- main dengan putranya, sedangkan ia harus ke kantor," gerutu Laura saat Rendy malah bermain bersama kedua putranya.
"Pa koko kan kalah," adu Adam saat Agam sudah kalah beberapa kali.
"Ya Rendy, bukankah kamu harus ke kantor?" tanya Laura pada Rendy.
"Bentar sayang," teriak Rendy dari ruang tamu.
"Kupastikan besok tidak akan ada PS5 di dalam rumah," gumam Laura saat mereka asyik bermain.
Beberapa menit Rendy belum juga beranjak dari duduknya.
Laura hingga kesal menyuruh Rendy untuk berangkat ke kantor.
Dengan cepat Laura mengambil segelas air dan berjalan menuju ruang tamu.
"Yaa kau berangkat kerja atau kusiram PS5 mu dengan air?" tanya Laura sambil berdiri di dekat PS5.
__ADS_1
"Jangan maaa," teriak mereka bertiga bersamaan begitupun Rendy yang ikut memanggil Laura mama.
"Cepet ganti baju dan pergi ke kantor," gertak Laura sembari mengancam akan menyiram PS5 nya dengan air.
Rendy langsung bergegas berganti baju dan berangkat ke kantor sebelum ia ditinggal oleh Bara.
"Sekarang kalian berdua cuci tangan sarapan," kata Laura pada kedua putranya.
"Ok ma," jawab mereka serentak dan langsung pergi untuk mencuci tangan.
Sedangkan Reno sudah berangkat sejak tadi bersama Bara.
.
.
LONDON, Pukul 08.00 pm
"Sayang kamu harus kuat," kata Dewa sembari terus memberikan dukungan pada Sandra.
"Dewa sakitttt," rintih Sandra dengan air mata yang terus mengalir sejak tadi.
"Ayo bu sedikit lagi," kata dokter memberikan intruksi pada Sandra.
Sandra menghembuskan napasnya pelan dan kembali berusaha untuk melahirkan buah hati mereka.
"Arghhhhh," teriak Sandra sambil menggenggam erat tangan Dewa.
Dewa merasa tak tega saat melihat Sandra seperti ini.
Cenger
Buah hati mereka telah lahir di dunia, lihatlah senyum bahagia Dewa yang kini menjadi seorang ayah.
"Sayang, kamu hebat. Terima kasih banyak," kata Dewa sembari menciumi kening Sandra.
"Sebentar ya pak bu, saya akan membersihkan bayinya," kata dokter itu sembari membawa bayinya.
Dewa lalu keluar dari ruangan untuk menunggu Sandra dipindahkan ke ruang inap.
"Wa gimana persalinannya?" tanya Jessy yang langsung menghadang Dewa ketika baru saja keluar dari ruang persalinan.
"Kak, aku resmi jadi ayah," kata Dewa sembari tersenyum lebar.
Reynald menganga tak percaya lalu mereka berpelukan untuk kebahagiaan ini.
"Selamat ya, kamu menjadi seorang ayah saat ini," bisik Reynald sembari memeluk Dewa erat.
"Ma koko punya adik dong sekarang?" tanya Mike tampan pada mamanya.
"Iya sayang, koko punya adik sekarang," Mike tersenyum lebar lalu memeluk Jessy erat.
"Yeee koko punya adik baluu," teriaknya senang membuat semua tertawa.
"Sini putra papa," kata Reynald sembari mengambil alih Mike untuk digendongnya.
"Ayo kita lihat dedek bayinya," kata Reynald sembari menggandeng tangan Jessy.
Mereka lalu menuju ruang rawat inap untuk melihat bayinya.
Terlihat Sandra sedang menyusui buah hati mereka.
"Sayang dia laki- laki," adu Sandra senang membuat Dewa tersenyum begitu bahagia.
Ia mencium kening Sandra lembut atas kebahagiaan yang diberikan padanya.
Sedangkan Reynald dan Jessy terharu melihat momen bahagia ini.
Dengan cepat Reynald langsung mengabadikan momen indah ini.
"Kau akan memberi nama siapa putra pertama kalian?" tanya Reynald pada mereka berdua.
Dewa dan Sandra saling menatap dan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Calvin," kata mereka berdua bersamaan.
.
.
Pengadilan Amerika Serikat
Hari ini, tepatnya 15 tahun, pengadilan Amerika Serikat kembali membuka sidang untuk pembebasan Gabriela dan Jenifer yang menjadi tersangka anggota pembunuhan.
Tok tok tok
Hakim mengetokkan palunya, itu tandanya sidang sudah di tutup.
Melinda dan Peter juga datang untuk melihat keputusan hakim tentang pemberitahuan pembebasan Felix.
Ternyata Felix telah divonis dengan hukuman seumur hidup atau dihukum gantung.
Melinda meneteskan air matanya, meski ia hanya ditahan selama 6 bulan lalu, tapi ia merasa jika ini tak adil.
Ia juga ikut membantu rencana jahat Felix, tapi ia mendapatkan keringanan hukuman berkat bantuan Bradsiton.
"Ma udah, kita pulang ya?" kata Peter sembari memeluk mamanya agar lebih tegar.
"Sayang, mama pengen lihat papamu sebentar saja, kamu mau kan nemani mama?" tanya Melinda pelan takut jika Peter menolaknya.
"Iya Peter temani," katanya lalu pergi meninggalkan ruang sidang tapi terhenti saat Gabriela memanggilnya.
"Peter tunggu," Gabriela berlari ke arah Peter diikuti Jenifer di belakangnya.
"Apa Sela masih tinggal di Kanada?" tanya Gabriela pelan, sedangkan Peter merasa ragu untuk memberitahunya.
"Beritahulah nak," kata Melinda sembari menggenggam tangan Peter untuk mempercayai Gabriela.
Peter lalu memberikan kartu nama kediaman Bara yang baru.
"Makasih," kata Gabriela lalu pergi bersama Jenifer entah kemana.
"Ayo ma," kata Peter mengantar mamanya untuk menjenguk Felix di tahanan.
Tiba di kantor polisi, mereka berdua langsung dibawa untuk menemui Felix di ruangan yang telah ditentukan untuk bertemu.
"Felix," kata Melinda saat mereka bertemu.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Felix yang kini semakin bertambah kurus.
"Kami baik- baik saja. Kini putrimu Laura sudah mempunyai dua orang putra, dia menikah dengan Rendy putra Bradsiton," kata Melinda memberitahukan kabar gembira itu pada Felix.
Felix meneteskan air matanya membuat Melinda juga tidak tahan untuk tidak menangis.
"Ternyata aku sudah mempunyai seorang cucu," katanya dengan mulut bergemetar.
Melinda mengangguk dan memaksakan senyum di bibirnya.
"Waktu kalian kurang 2 menit," kata polisi memberitahu mereka.
"Peter tolong jaga mamamu, meski dia bukan ibumu sendiri, tolong jaga dia dan adikmu," pesan Felix sebelum polisi membawanya kembali ke dalam sel.
"Ya," jawab Peter dengan nada yang masih sama seperti 15 tahun yang lalu.
Dingin dan angkuh saat di depan Felix.
Namun, sayang dan peduli saat Felix membutuhkan bantuan.
Felix menatap Melinda seakan ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya.
"Kelak saat kau kembali menjengukku," Melinda sudah meneteskan air matanya.
Sedangkan Peter hanya diam sembari merangkul bahu mamanya.
"Entah aku masih hidup ataupun tidak. Tolong bawa putri dan cucuku, agar mereka bisa melihat meski untuk yang terakhir," pesan Felix lalu polisi langsung kembali membawanya ke dalam sel karena waktu juga sudah habis.
Melinda terisak dengan cepat Peter langsung mendekap mamanya untuk memberikan kekuatan.
__ADS_1
"Kita pulang ya," gumam Peter pelan dan Melinda hanya menganggukkan kepalanya.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎